Actions

Work Header

The Tale of the Rock Giant and the Shadowless Sorcerer

Summary:

Gempa tak tahu lagi harus bagaimana mempromosikan seni lukis pasir yang sangat ingin ia kenalkan kepada dunia. Pada suatu sore yang melelahkan selepas festival seni, ia memaksakan diri mengembalikan sebuah tas pinguin imut yang tertinggal di kursi halte, meskipun itu artinya ia harus salah naik bus yang seharusnya mengantarkannya pulang.

!UP Ch 15 Final & Bonus Story!
BoiFang; GemFang.

Notes:

Perhatian! Fiksi penggemar ini mengandung poin-poin di bawah ini.
※ Shounen-ai/Boy Love.
※ Pair yang muncul adalah GemFang.
※ Elemental Brothers adalah saudara kandung.
※ Alternate universe: all human, tidak ada unsur fantasi seperti Power Sphera, jam kuasa, dan semacamnya.
※ Perubahan usia karakter.
Bagi Anda yang merasa tidak keberatan dengan poin-poin di atas, silakan lanjutkan membaca.

Chapter 1: A Left-Behind Penguin

Chapter Text

"Baiklah." Taufan berdiri di atas sofa kain tepat di samping Halilintar yang sewot karena tempat duduknya jadi miring. "Sebagai bentuk syukuran atas pernikahan Kak Gempa dan Kak Fang, mari kita bersulang!"

"Bersuling!"

"Bersulang, Duri!"

"Oh, iya! Bersulang!"

"Bersulang!" 

Sebuah sore menuju malam yang indah di sebuah rumah bercat putih yang terletak di jajaran rumah lainnya. Lampu teras mulai dinyalakan, menggantikan cahaya mentari yang membuat kulit terasa terbakar siang tadi. Lambat laun, angin mengantarkan suhu dingin yang menyejukkan perumahan itu.

Di dalam, tepatnya di ruang keluarga yang luas dengan beberapa sofa empuk dan meja bundar di tengah, tujuh bersaudara dan seorang anggota keluarga baru tengah menggelar pesta kecil yang dihiasi berbagai camilan. Si sulung menatap adiknya bergiliran. Ada yang sibuk ngemil, ada yang terlalu malas bergerak sehingga diam saja, ada juga yang sibuk mengerjai satu sama lain. Sang kakak tertua berdeham, mengalihkan perhatian adik-adiknya.

"Ehm, jadi ...."

Kak Gempa menarik napas, semuanya menunggu dengan antisipasi. Kontras dengan semua itu, seorang pemuda berambut raven biru indigo tersenyum percaya diri.

"Kenapa kalian gaya-gayaan pakai bersulang segala? Kalian ini masih kecil!"

Kini mereka tengah mengadakan sebuah pesta kecil khusus untuk si pasangan muda dan adik-adik mereka yang dicetuskan oleh Taufan. Gempa dan Fang dengan senang hati menerima ide itu dan memperbolehkan mereka menginap di rumah baru mereka. Walau sudah diperingati bahwa rumah tersebut tak seluas rumah sebelumnya, para adik tidak banyak mempermasalahkannya setelah menyutujui keputusan tidur bersama di ruang keluarga.

"Mana ada, Kak! Adik Kakak yang paling muda saja sudah delapan tahun!" Blaze tiba-tiba berdiri di belakang Solar dan iseng mengacak-acak rambutnya. Hal itu menyulut lidah pedas si sulung untuk beraksi.

"Itu ... masih terhitung anak-anak, kan." Halilintar menceletuk tanpa mau banyak gerak. Matanya memandang monoton pada segerombolan anak super riang yang tidak lain dan tidak bukan adalah adik-adiknya.

"Solar bukan anak kecil lagi!" sanggah anak berkacamata jenis visor .

Dari samping, sebuah jari telunjuk menyentuh pipinya yang masih gembil. Anak yang merupakan pelaku nyengir kepada adiknya. "Hehe, tapi Solar tetap yang paling muda~ ✧"

"Oi, usia kita cuma selisih 90 detik." Tangan Duri lantas ditepis oleh kembarannya yang menggembungkan pipi.

"Tetap saja Duri lebih tua!"

Sepertinya mereka akan baik-baik saja, pikir Gempa sambil mengangguk. Bersyukur bahwa tidak ada yang berubah dari kebiasaan adik-adiknya mau di rumah lama maupun rumah barunya.

Setelah Solar, kini Blaze menargetkan kembarannya, Ice, yang sedang menahan diri untuk tak ketiduran di sofa yang empuk. "Hey, Ice~ jangan mengantuk dulu. Kita sedang ada perayaan, tahu."

"Hngg, tapi bukannya dari kemarin kita sudah ngadain perayaan?" Ice mengucek mata dengan tangan kiri. Tangan kanannya memegang gelas berisi jus jeruk.

"Oh, aku jadi ingat. Kalian tunggu sebentar," ujar Fang yang bangkit dari duduknya di samping Gempa.

Ia mengambil dua set kotak kardus berhiaskan kue bergaya kartun dari kulkas. Setelah itu, ia kembali ke ruang keluarga untuk membagikannya kepada seluruh penghuni ruangan itu.

"Kami punya ini untuk kalian."

"Itu apa, Kak? Spageti?" tanya Taufan.

"Sembarangan. Ini namanya kue mont blanc." Tak jadi keren, pikir Fang. Tapi tidak salah sih, kalau bentuk kue itu mirip spageti yang ditumpuk di atas mangkuk.

Mata Ice yang tinggal 5 watt tiba-tiba terbuka bagai habis di-recharge. "Mo-mont blanc? Itu kue yang sering kulihat di game." Ia menahan air liurnya tumpah dari sudut bibir.

Blaze menyeringai, mengambil kue milik Ice. Dengan sengaja, ia menerbangkan kue itu di depan mulut saudaranya bagai pesawat. Tidak lupa mengalungkan lengan di lehernya supaya ia tidak ke mana-mana. "Ayo makan dong, Ice!"

"E-enggak, deh! Ini sudah malam. Nanti beratku naik—" Ice menutup mata. Ia jadi ingat kalau makan manisan saat hari sudah gelap itu tidak baik.

"Hehehe, sekali-sekali saja tidak masalah, kan?" Blaze tanpa henti menggoda Ice dengan potongan kue yang dingin dan lembut itu. Yang digoda lama-lama makin lemah iman. Saat ia lengah, Blaze langsung mendorong kuenya.

"TIDAKKK!"

Plop. Sepotong kue itu masuk ke mulut Ice.

"Gimana rasanya?"

"Bagai surga." Ice (pura-pura) pingsan di atas sofa, tapi mulutnya bergerak menikmati kue itu.

"Kak Gempa! Kakak masih ingat janji Kakak kemarin, kan?" Taufan mengesot ke samping sofa tempat kakaknya duduk dan menatapnya dengan alis naik-turun.

"Hm, janji yang mana?"

Taufan berbisik, "Itu loh, janji yang Kakak bilang sebelum akad nikah."

"Ohh, yang itu." Gempa ingat. Ia meneguk sekali lagi jus jeruk di gelas.

"Boleh. Berhubung kalian semua di sini, sekalian saja Kakak ceritakan." Pemuda itu tersenyum sambil mengingat-ingat kepingan memori dari sekitar setahun yang lalu.

"Ceritakan apa, Gempa?" Mendengar pembicaraan keduanya yang misterius, tumbuh rasa penasaran dalam benak suaminya.

"Sejarah kita bertemu, Fang."

"Ah," Fang memandangnya penuh arti. Ia langsung paham dengan yang pasangannya maksud. "Boleh. Kalian duduk yang manis kalau mau dengar."

"Nah, dengerin, tuh, Hali!" Taufan menunjuk Halilintar yang rebahan di sofa bagai orang mabuk jus jeruk.

"Kenapa aku?" Alis Halilintar mengernyit.

"Kau memangnya tidak penasaran?"

Adik pertama Gempa terdiam. Beberapa waktu yang lalu ia memang sempat dibuat heran dengan bagaimana bisa kakaknya jatuh cinta dengan sosok emo di sampingnya yang kini telah menjadi kakak iparnya. Halilintar hanya menanggapi dengan, "Hmh."

"Silakan bercerita!"

Gempa dan Fang saling tatap, mengirim sinyal untuk memulai kisah mereka. Pipi keduanya jadi menghangat mengingat pertemuan tak disangka di suatu malam yang mengantarkan mereka ke pelaminan tempo hari.

"Semuanya berawal dari Kakak yang salah naik bus …."

 

┌───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┐


The Tale of the Rock Giant and the Shadowless Sorcerer

"Even though I tried to live closed off, I ended up meeting you, didn't I?"

BoBoiBoy © Monsta

A BoiFang; GemFang fanfiction by akaori.


└───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┘

 

"Permisi, apa Anda berminat menonton pertunjukan seni lukis pasir?"

"Bu, Ibu berminat nonton pertunjukan saya? Gratis, loh!"

"Eh, Mas! Tunggu bentar! Gak mau nonton? Kursinya masih banyak yang belum diisi, loh!"

Di sebuah booth yang terletak di sebuah lorong gedung, Gempa bin Amato tengah mondar-mandir. Tangannya melambaikan lembaran pamflet sederhana dengan gambar lukisan pasir yang dipertegas dengan teks "Lukisan Pasir Gempa" yang tampak terlalu tebal. Entah pilihan font Comic Sans yang ia gunakan membantu atau tidak. "Yang penting bisa dibaca" adalah motto yang Gempa terapkan pada setiap pekerjaan yang bersangkutan dengan tipografi.

Pemuda setinggi 180 sentimeter itu menurunkan topi formal yang tidak biasa ia kenakan. Kalau ia boleh jujur, penampilannya tampak asing sebab yang biasa bertengger di kepalanya adalah topi dinosaurus warna coklat yang entah sudah sejak zaman kapan ia miliki. Namun, atas saran adik-adiknya, ia mengganti topi dinosaurus dengan topi formal yang biasa anggota-anggota mafia kenakan di film. Sekarang, topi itu diturunkan dan malah menjadi kipas tangan bagi dirinya yang gerah dalam balutan setelan hitam.

"Oyyy, Gempa!" Seruan jamaah dari tiga sosok berbeda mengalihkan perhatiannya.

"Gopal! Yaya! Ying!" Gempa mengabsen satu per satu pemilik nama orang yang memanggilnya.

Seorang gadis berkacamata bundar dengan rambut dikucir dua, seorang gadis berkerudung merah muda, dan seorang pemuda bertubuh besar yang tingginya melampaui tinggi Gempa yang bahkan nyaris menyentuh bingkai pintu studio, hadir di hadapannya. Mereka menyapanya dengan senyum lima jari. Melihat tibanya mereka, rasa gerah di sekitar Gempa langsung menjadi sejuk.

"Maaf, apa sudah mulai?" tanya Ying sembari memperbaiki posisi tas ranselnya.

"Belum, kok. Aku juga masih bagi-bagi pamflet," jawab Gempa menenangkannya.

"Fyuh, syukurlah. Kami kira kami telat. Salahkan Gopal yang mampir ngemil di jalan!" Yaya menyenggol lengan sosok tinggi besar di sampingnya.

"Dey, kenapa salahkan aku? Aku belum sarapan tadi!" Yang disenggol hanya mengeluh sebagai bentuk bela diri.

Gempa tertawa melihat tiga sahabatnya dari masa SMA masih akrab hingga sekarang. Mereka memang sudah bekerja di tempat yang berbeda-beda, tetapi sesekali akan bertemu jika ada acara perayaan atau acara pertunjukan seperti yang sedang Gempa selenggarakan. Kali ini, mereka telah membuat janji untuk menonton pertunjukan lukis pasir Gempa di sebuah festival seni.

Pemuda bersetelan hitam mengecek waktu di arlojinya. Jarum jam telah menunjuk pukul sebelas kurang lima menit. Sebentar lagi adalah waktu yang ditentukan untuk memulai pertunjukan lukisan pasir di booth yang ia tempati. Sebelum jarum panjang arloji menunjuk ke angka 12, ia sudah mengundang teman-teman—penontonnya—untuk masuk.

"Mari masuk. Sebentar lagi akan mulai."

Gempa mendapat anggukan dari Gopal, Yaya, dan Ying. Mereka memasuki sebuah panggung teater kecil yang merupakan bagian dari booth . Masing-masing peserta festival mendapatkan satu booth berupa ruangan yang serupa. Bisa digunakan untuk pameran lukisan, patung, atau bahkan drama. Hanya saja, pengaturan ruang pameran diatur oleh masing-masing peserta.

"Uuh~ tidak sabar, ma! Seperti apa ya, pertunjukan kali ini?" Ying menerobos masuk ruangan tak sabar. Suara langkah kakinya sampai terdengar menggebu.

"Gempa selalu kreatif. Aku yakin banyak yang akan menonton," komentar Yaya yang menyusul dengan gaya yang lebih elegan.

"Benar, tuh! Apalagi festival ini kan ramai. Pasti langsung melejit kepopuleran anak it—"

Belum sempat Gopal menyelesaikan kata-katanya, ia mematung. Ying dan Yaya yang tadinya tak sabaran hendak mencari kursi menghentikan langkah mereka untuk sekejap mengedipkan mata—siapa tahu mereka salah lihat. Akan tetapi, tidak salah lagi kalau ruangan itu ….

"Hah …."

"Kosong?"

Gempa telah mengenakan kembali topinya. Sebuah mikrofon di tangan, ia mengetuknya beberapa kali untuk mengetes apakah alat itu berguna. Speaker yang terhubung dengan alat itu membuat ketukannya jadi menggema di ruangan yang tak terlalu luas tapi juga tak sempit itu.

"Selamat datang di pertunjukan seni lukis! Nama saya Gempa. Kali ini, saya akan membawakan cerita tentang—"

"Ying, Yaya, coba sini sebentar."

Tanpa menghiraukan sahabat mereka yang tengah memberi sambutan di depan, Gopal mengajak Ying dan Yaya membuat sebuah lingkaran. Bak tim sepak bola sebelum mereka bergabung ke pertandingan.

"AKU TIDAK PERCAYA SAHABATKU JADI BEGINI!" Gopal mengusap air mata buaya yang ia berlagak tengah cucurkan.

"A-apa maksudmu? Aiyah, apa Gempa jadi delusional?!" Mata Ying jadi ikut berkaca-kaca melihat akting si pemuda tinggi itu.

"Sudah pasti! Lihat dia sekarang! Dia berhalusinasi kalau dia punya penonton!" balas Gopal, satu lengan menutupi matanya yang jelas-jelas tidak kenapa-kenapa.

"Hush, Gopal! Jangan mengada-ada!" Di antara ketiganya, hanya satu yang berusaha menyadarkan mereka dari akting tidak penting barusan.

Dari sekitar tiga puluh kursi yang telah ditata rapi menjadi dua bagian dengan sebuah jalan untuk lewat di antara keduanya, belum ada seorangpun penonton lain selain tiga sahabat Gempa yang hadir di sana. Semuanya bersih, nyaris tanpa debu, sebab yang menyentuh saja tidak ada.

“Oi, aku bisa dengar kalian.” Reaksi berlebihan ketiganya mengakibatkan Gempa merengut sambil geleng-geleng.

Tanpa menghiraukan mereka, ia menyalakan proyektor yang terhubung ke kamera di atas meja lukis. Beruntung Gempa sudah hafal cara mengaktifkannya. Kalau tidak, ia akan heboh sendiri sebab tak bisa memulai pertunjukan.

“Kenapa kalian bilang begitu? Meskipun kalian teman baikku, kalian tetap penontonku, kan. Maka dari itu aku harus profesional.”

Gempa lantas menyalakan lampu bercahaya kekuningan yang memperjelas kecerahan kanvas kaca di atasnya. Kedua lengan kemeja disingsingkan agar pasir itu tidak masuk ke setelannya yang akan jadi merepotkan untuk dibersihkan.

“Duduklah, duduk. Pertunjukan akan dimulai,” ujar Gempa dengan lembut. Entah karena sifat ke-kakak-an yang ia dapatkan dengan menjadi anak sulung dari tujuh bersaudara atau memang dari pabriknya sudah begitu, senyum Gempa tampak begitu benderang dari panggung. 

Senyuman malaikat Gempa membuat dada ketiga temannya terenyuh. Gopal, Yaya, dan Ying saling tatap sebelum akhirnya mendudukkan diri mereka di kursi bagian tengah. Posisi yang sempurna sebab tak terlalu jauh ataupun terlalu dekat dengan layar.

“Pertunjukan kali ini berjudul “Pangeran Bayangan dan Tujuh Pengawal”.”

Gempa melukis tujuh macam wajah yang terbentuk melalui cahaya dan satu yang gelap, terbentuk dari pasir.

“Seorang pangeran luar angkasa datang ke bumi untuk mencari ketujuh pengawalnya. Baiklah, dari mana harus kuceritakan?”

 

┌───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┐


TTOTRGATSS


└───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┘

 

“HUWAAA! BISA-BISANYA KAU MEMBUATKU MENANGIS, GEMPA!” Gopal mengusap air matanya (yang kali ini nyata) dengan lengan kemejanya. Suaranya melengking patah-patah akibat tangis yang tak terkendali.

“Ke-keren! Kau tak pernah gagal membuat orang terharu, uhh …!” Ying menyandarkan kepala di bahu Yaya yang menepuk-nepuk kepalanya.

“Kau keren sekali, Gempa!” Yaya mengusap setitik air mata di pelupuk mata sembari menyodorkan sehelai tisu untuk Ying.

“Ehehe, sungguh? Aku senang kalau kalian suka!” Mata emas Gempa berbinar-binar mendengar pendapat teman-temannya. Pemuda itu menggaruk kepalanya seusai menyapu pasir yang ia gunakan ke tepi kanvas. 

Tepuk tangan Gopal, Yaya, dan Ying memenuhi ruangan sebelum ketiganya menghampiri sang maestro pasir yang barusan tampil. Sekali lagi, pujian-pujian mereka membuat si pemuda berambut coklat terkekeh. Meskipun senang mendengarnya, Gempa memilih untuk merendah.

Ketika mengecek sebuah notifikasi yang bertengger di bagian atas layar ponselnya, Yaya menyadari bahwa jam nyaris menunjukkan pukul 11.20. Ia pun berinisiatif mengajak tiga temannya untuk mengisi perut.

“Ini sudah jam makan siang. Gempa, kau bawa bekal tidak?” tanya gadis berkerudung itu.

“Oh, aku bawa, kok. Sebentar, ya. Biar aku ambil dulu ….” Gempa merogoh isi tasnya yang lumayan besar.

Tangannya menyelip ke sela peralatan yang bertumpuk-tumpuk di dalam, tetapi ia tak juga menemukannya. Pemuda itu sampai membongkar isi tasnya yang berupa alat-alat gambar yang ia sengaja persiapkan apabila ada waktu senggang untuk membuat sketsa. Namun, hingga semua barang itu dibongkar sekalipun, Gempa tak juga menemukan kotak bekal berwadah kuning nyaris transparan itu.

Dengan wajah pucat dan mata nyaris keluar dari relungnya, Gempa menatap horor teman-temannya.

“Tidak ada ….”

Dengan satu frase itu, semuanya paham. Mereka menghela napas gemas. Mungkin sahabat lulusan sekolah seni mereka terlalu bersemangat menjalani hari ini sampai tidak sadar ia lupa membawa bekalnya.

“Ya sudah, sini kami traktir. Hari ini kan hari pertunjukanmu, jadi anggaplah ini sebagai hadiah!” Yaya berkacak pinggang sambil tersenyum.

“Ehh, tidak bisa begitu! Duh—” Topinya diacak-acak Gopal sebelum selesai menyelesaikan kalimatnya.

“Sudahlah, Gempa! Yang namanya traktiran sayang kalau ditolak. Hari ini kita minta Yaya bayar semuanya.” Gopal cekikikan sudah terlanjur membayangkan makan siang hari ini. Padahal beberapa jam yang lalu ia baru saja ngemil di warung kaki lima yang tak jauh dari lokasi festival.

“Apa?! Aku hanya mentraktir Gempa, tahu! Lagipula, bukannya kau masih banyak hutang padaku, Gopal?” Mata Yaya berkilat mensinyalkan tanda bahaya.

Gopal bergidik dan langsung ambil posisi berlindung di balik punggung Gempa. “A-ampuni aku, Kanjeng! Aku janji akan bayar lain kali!”

“Hilih, saat tiba 'lain waktu' itu, kau mau bilang 'lain waktu' lagi, ya, kan?

“Sudah, sudah! Kalian jangan ribut di sini. Kasihan Gempa sudah kelaparan. Mari kita cari restoran di dekat sini!” Ying menarik tangan Yaya sebelum ia sempat memutilasi si tukang hutang.

“Hahaha, terbaik!”

Di jalan menuju restoran untuk mencari makan siang, Gempa mengalihkan topik tentang pekerjaan yang mereka jalani belakangan ini. Gopal bersyukur nyawanya masih berhasil diselamatkan kali ini.

 

┌───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┐


TTOTRGATSS


└───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┘

 

“Fuhh, terima kasih sudah mentraktirku. Padahal kalian tidak perlu repot-repot begitu.” Gempa meneguk tetesan terakhir jus jeruknya. Sesungguhnya ia bisa saja beli makan siang sendiri, tetapi dalam hati ia bersyukur teman-temannya datang mendampingi.

Gopal menepuk bahu Gempa dan tersenyum bersahaja. “Jangan khawatir, Gempa. Itulah gunanya teman. Kau bisa minta tolong kapan saja~” Senyum itu langsung lenyap ketika Yaya melempar tatapan mautnya.

“Uhh, omong-omong—kau masih ada pertunjukan hari ini?” Sebelum ia meleleh akibat tatapan super Yaya, Gopal buru-buru mengalihkan topik.

“Ah, iya. Aku masih buka sesi kedua pukul dua siang, selepas itu aku harus ikut upacara penutupan. Kalian bisa jalan-jalan duluan kalau mau.” Gempa mengingat-ingat jadwal yang tertulis di kepalanya. 

Ying tersenyum kepada pemuda yang setahun lebih tua darinya. “Pertunjukanmu keren kok, Gempa. Jangan mudah patah semangat, ya!”

“Ying benar. Tidak mudah mendapatkan audience kalau kita baru memulai sesuatu. Tapi mengenal dirimu, aku yakin kau pasti bisa.” Yaya menambahi.

“Nah, dengar itu, Gempa. Kalau kau merasa susah, ingatlah kami yang akan selalu jadi pendukungmu!”

Yang terakhir, kata-kata dari Gopal membuat Gempa kembali membulatkan tekat. Alisnya menajam, serasi dengan senyum yang terlukis di bibirnya.

“Terima kasih, kalian semua.”

 

┌───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┐


TTOTRGATSS


└───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┘

 

“Kami duluan, ya!” Gopal, Ying, dan Yaya berseru sembari melambaikan tangan.

“Hati-hati di jalan!”

Senyumnya masih tercetak di wajah hingga punggung ketiga temannya tak lagi terlihat, menyatu dengan kerumunan pengunjung yang mengisi bagian luar gedung tempat festival di adakan. Tempat ini begitu ramai, tetapi hatinya terasa sepi.

Betapa bagusnya kalau karyaku sebagus yang mereka ucapkan.

Gempa membalikkan langkahnya hendak kembali ke booth -nya. Sekali lagi, ia berusaha mempromosikan pertunjukan lukisan pasirnya yang mana sesi keduanya akan mulai pukul dua siang.

Orang-orang berlalu-lalang di koridor. Sesekali, beberapa akan menerima pamflet yang Gempa tawarkan kepada mereka. Namun, kebanyakan dari mereka hanya melalui pemuda itu di depan sebuah booth tanpa hiasan.

Ketika tiba sesi kedua, jumlah penonton pun bisa dihitung jari. Meskipun demikian, Gempa tetap menjalani pertunjukannya dengan senyum seperti biasa. Ia menutup pertunjukan terakhir hari itu dengan ucapan terima kasih kepada para penonton yang telah hadir.

Festival seni berakhir tanpa kendala dan diakhiri dengan upacara penutupan. Para seniman yang lain sibuk bercakap-cakap dengan perusahaan yang menawarkan hubungan bisnis kepada mereka. Satu demi satu booth dirapikan. Termasuk booth tempat Gempa berada yang semakin sore semakin pengap udaranya.

Pemuda itu mengemas seluruh barangnya, menyisakan ruang pameran yang kosong.

Hanya tersisa Gempa dengan kedua bahu yang terasa lebih berat dari biasanya.

 

┌───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┐


TTOTRGATSS


└───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┘

 

Matahari nyaris tertidur ketika Gempa tiba di halte bus. Ini adalah kebiasaannya sejak kecil. Kalau memungkinkan baginya naik kendaraan umum, maka Gempa akan mengutamakannya daripada naik mobil sendiri. Ia memang punya satu untuk mengantar adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar sekaligus mengantarnya ke tempat kerja. Berbeda lagi dengan adik-adiknya yang sudah SMP, mereka naik sepeda bersama karena letak sekolah tak jauh dari rumah. Terakhir, dua adiknya yang paling tua akan berboncengan naik motor ke SMA tempat mereka bersekolah.

Hari yang melelahkan, padahal ia tak membawa terlalu banyak barang. Hey, alat gambar seisi tas ransel ditambah kanvas kaca itu tak banyak, kan? Apalagi Gempa termasuk pemuda yang tangguh soal angkut-mengangkut barang. Di balik setelan hitamnya yang tebal, otot bisep dan trisepnya terbentuk sempurna setelah bertahun-tahun bekerja di bidang seni. Jangan anggap remeh seni, sebab Gempa pernah ditugaskan mengangkut tanah liat bolak-balik untuk seluruh kelas selama beberapa minggu.

Bukan, bukan karena dihukum. Justru sebaliknya, Gempa siswa yang nilai akademiknya bagus sehingga ia dijadikan favorit banyak guru. Akibat basa-basi dengan guru-guru tersebut, Gempa malah menawarkan berbagai macam bantuan yang berujung pada pekerjaan fisik. Meskipun ia lemah kalau soal lari, beda halnya kalau soal angkat barbel puluhan kilogram.

Ia melirik ke kanan. Rupanya ramai juga penghuni halte sore itu. Namanya juga jam pulang sih, wajar kalau banyak yang ingin cepat-cepat pulang, termasuk dirinya. Ia menengok ke kiri dan tatapannya terpaku pada satu titik.

Sosok seseorang yang wajahnya tertutup kepala hoodie. Kedua tangannya sibuk menggulir layar ponsel pintarnya. Salah satu kaki mengetuk-ngetuk lantai besi seakan mengikuti irama musik. Namun, ada yang lebih menyita perhatiannya.

Sebuah tas kecil berbentuk pinguin.

I-imutnya ….

Ada jarak yang cukup antara tas itu dengan calon penumpang lain yang duduk di samping sosok ber-hoodie sehingga Gempa menyimpulkan bahwa pemilik tas pinguin adalah sosok yang sedang asyik memainkan ponsel tersebut. Begitu kontras penampilan tas yang menggemaskan itu dengan aura gelap yang pemiliknya pancarkan.

Suara bel elektronik berbunyi menandakan bus selanjutnya sudah tiba. Saat itu juga, sang sosok ber-hoodie mengangkat wajah lalu berdiri. Ia berbaur ke dalam kerumunan calon penumpang lain yang hendak naik ke bus tersebut.

Gempa tersentak saat menyadari bahwa tas pinguin itu ditinggal sang pemilik. Tanpa basa basi, ia mengambil benda mungil itu, berniat mengantarkannya kepada sang pemilik yang sepertinya tidak sadar telah meninggalkan tas imutnya di bangku halte.

"Tunggu! Kak! Yang pakai hoodie ungu! Ueghh—" Terlanjur berdiri, ia terhimpit barisan calon penumpang yang terburu-buru ingin masuk ke bus. Gempa nyaris kehilangan keseimbangan akibat terus diseret ke arah yang bukan jadi tujuannya.

Oh, tidak! Aku akan salah masuk bus! Gempa tambah berkeringat ketika ia berdesak-desakan dengan calon penumpang yang lain.

Tapi kalau tidak diantarkan, barang ini bisa hilang …

Ada dua pilihan. Ia bisa saja mengikuti arus penumpang dan berpasrah diri mengendarai bus yang salah atau menunggu bus incarannya yang akan membawanya ke daerah rumah. Ingin sekali ia segera pulang, tetapi akan sulit melacak pemilik tas ini apalagi jika tidak ada identitas sang pemilik. Ia didesak oleh penumpang lain sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjalankan pilihan pertama. Siapa tahu ia masih cukup waktu untuk kembali ke halte setelah mengembalikan tas pinguin itu.

Akhirnya, Gempa masuk ke bus, mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum ia memastikan tas itu tidak jatuh.

"Fang" adalah teks yang tercetak di sana. Sontak, Gempa menggigit bibir untuk menahan senyumnya. Apa ini nama sang pemilik tas? Kalau iya, maka Gempa ingin minta izin mencubit pipinya.

Husyah, berhenti menghayal, Gempa! Setelah yakin tas pinguin masih aman, ia lanjut mengedarkan pandangan ke seisi bus, mencari sosok yang ia cari. Beruntung bagi Gempa, sosok itu duduk tak jauh dari barisan depan tempat ia berada. Secepat mungkin ia berlari ke kursi di sampingnya sebelum ditempati penumpang lain.

"Permisi, Kak?" Gempa menyapa, sedikit melirik ke sosok ber-hoodie ungu yang tak sedikitpun bersuara.

Tak ada jawaban.

"Um, halo?" Gempa mengeraskan suaranya, berharap ia didengar. Nihil, sosok itu tidak juga menoleh.

Mengingat waktu yang mepet, pemuda itu terpaksa mengetuk pelan pundak sosok yang sejak tadi diam. Akhirnya, ia mengangkat wajah.

Gempa bergeming begitu melihat wajah yang ia lihat. Wajah seorang pemuda berkulit tan dengan kontur yang masih belia. Kedua alisnya tampak serius. Poni berantakan cenderung mengarah ke kiri mempertegas kesan misterius dari sepasang mata magenta yang menatap amber miliknya. Untuk sesaat, Gempa kehilangan kata-kata.

"Apa?" tanyanya singkat sembari melepaskan earphone yang menggantung di telinga.

Beberapa detik kemudian Gempa baru tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru menyerahkan tas pinguin dengan cetakan nama "Fang" yang bertengger manis di punggung sang pinguin.

"Ini ketinggalan tadi. Ini milikmu?"

Mata magenta terbelalak melihat tas pinguin ada di tangan Gempa. Ia segera mengambilnya lalu mengecek isinya. Tak lama, helaan napas lega menyusul dari bibir tipis pemuda itu. "Ah, iya. Ini milikku. Makasih."

Pemuda bertopi tersenyum sebagai balasan. Misi penyelamatan tas pinguin kembali ke pemiliknya telah sukses. Sekarang, ia hanya tinggal berdiri dari sana dan berjalan keluar pintu.

Ting tong! Belum sempat ia melangkahkan kaki, pintu sudah ditutup. Saat itu juga, Gempa ingin berteriak. Tangannya mengarah ke pintu yang otomatis tertutup. Tertutup jugalah harapan si anak sulung untuk pulang awal di sore yang melelahkan.

Alamak .... Gempa menangis dalam hati ketika melihat suasana halte di depan jendela telah berganti ke jalanan yang dipenuhi kendaraan lain.

"Kenapa?" Melihat kelakarnya yang bagai bintang sinetron malam, pemuda di samping memandang Gempa dengan dahi yang mengkerut.

"Eh, bukan apa-apa, kok!"

Tak ingin membuat pemuda di sampingnya merasa bersalah, Gempa harus menutupi fakta bahwa ia salah naik bus. Setidaknya ia masih bisa turun ke pemberhentian terdekat dari sini lalu mungkin menunggu bus selanjutnya. Sayang, pemberhentian terdekat itu rupanya jauh.

"Tujuanmu lewat sini?"

"Iyuuup." Gempa hanya tersenyum—meringis, lebih tepatnya.

Bohong sekali. Arah rumahnya harusnya belok ke kanan, bukan lurus terus.

"Hm." Sosok itu membalas singkat, tak banyak mempermasalahkan sikap Gempa yang bukan urusannya, selama ia tidak mengganggu.

Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Suasana berlangsung hening di dalam bus, termasuk di kursi yang mereka berdua tempati. Setidaknya ia tidak dikira mau mencopet oleh siapapun, itu saja sudah membuat Gempa lega.

Di pemberhentian selanjutnya, Gempa buru-buru berdiri, takut kelewatan lagi. Ia merapikan barang-barangnya.

"Aku turun di sini, ya. Hati-hati, jangan sampai ada yang tertinggal." Gempa sedikit menyinggung masalah tadi. Barangkali isi tas pinguin adalah hal penting—pemuda itu mengingatkan pemiliknya agar lebih berhati-hati.

"Aku tahu, kok." Walaupun samar, pipi pemuda itu tampak sedikit menggembung.

Tanpa menunggu apapun lagi, Gempa turun dari bus. Sepertinya ia telah lumayan jauh dari halte sebelumnya. Itu pun tidak berarti ia lebih dekat ke rumah. Menunggu bus selanjutnya mungkin akan memakan waktu cukup lama.

Sang seniman muda menghela napas. Terpaksa, ia mengotak-atik ponselnya untuk membuka sebuah aplikasi ojek online . Padahal ia sudah sengaja ingin naik bus, akhir-akhirnya naik ojol juga.

Sambil menunggu jemputannya datang, ia menatap ke bulan yang malam itu bersinar terang menggantikan matahari.

Sosok itu misterius sekali. Seperti bulan yang dikalungi kabut malam. Akan tetapi, Gempa tidak bisa melupakan sinarnya yang membuat waktu seakan berhenti sesaat.

 

┌───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┐

 

The Tale of the Rock Giant and the Shadowless Sorcerer

 

└───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┘

 

Gempa bekerja sebagai seorang pelajar di Pusat Seni Budaya Pulau Rintis yang biasa disingkat PSBPR. Sebenarnya, disebut pelajar tidak begitu tepat sih, sebab ia umumnya belajar autodidak di tempat yang menyediakan berbagai macam perangkat seni yang ia butuhkan. Tidak selalu lengkap, tetapi cukup bagi Gempa untuk menyediakan materi serta ide yang bisa ia tuangkan ke dalam kurikulum tempat ia mengajar.

Selain belajar, ia juga mengajar. Tepatnya, ia bekerja sebagai seorang guru seni di Akademi Pulau Rintis, sebuah akademi yang terdiri dari gabungan SD, SMP, dan SMA sekaligus. Bahan-bahan yang ia butuhkan, baik secara materi maupun teori, bisa ia dapatkan dari PSBPR dengan saran dari mentor-mentornya.

Di sebuah shared-studio tempat ia biasa berkutat dengan karyanya, Gempa tengah mencocokkan lukisan pasirnya dengan sketsa yang telah ia siapkan terlebih dulu di secarik kertas.

Itu adalah lukisan pemuda yang kemarin ia temui.

"Kalau tidak salah, bentuk matanya seperti ini …."

Ia bergumam, mendeskripsikan ingatannya tentang pemuda yang ditemuinya kemarin. Dengan hati-hati mengoreksi bentuk garis yang dirasa melenceng. Kedua wajah saling hadap. Kedua mata saling tatap. Terhalang dimensi imajinasi yang terekam di kepala Gempa.

Entah kenapa dari segala hal yang terjadi, termasuk pertunjukan seninya (yang sayangnya tak menarik perhatian banyak orang) di festival kemarin, justru sosok ini yang terekam paling jelas di ingatannya. Seperti tinta permanen yang tumpah ke kain putih. Sulit dihilangkan—atau malah, mustahil?

Gempa masih melanjutkan lukisan itu ketika dari samping, sebuah suara berbisik ke gendang telinganya.

"Bagus."

"Iya, kan? Menurutku juga wajahnya—WAHH!"

Gempa tak bisa menahan dirinya jatuh dari kursi yang ia duduki. Pantatnya memang sakit, tetapi lebih dari itu, bulu kuduknya berdiri ketika merasakan kehadiran yang rasanya tidak ada di sana hingga barusan saja. Belum lagi suara itu dinginnya bagai suara Malaikat Munkar-Nakir yang bertanya, " Man rabbuka? " di alam kubur.

Di hadapannya berdiri seorang pria yang tak sedikitpun berniat membantunya bangkit dari jatuh. Malahan, ia diberi tatapan menusuk yang membuatnya susah menelan liur. Inikah yang dirasakan Gopal tiap kali Yaya bernapsu mengakhiri hidupnya?

"Ehm, maaf, boleh tahu Mas siapa?"

Bukannya menjawab, pria berjas rapi nuansa biru tua malah menepuk meja lukis Gempa hingga pasirnya belepotan menutupi wajah yang telah susah payah ia kerjakan. Si empu ingin menjerit melihat hasil karyanya jadi berantakan, tetapi ia masih sayang nyawa sehingga memilih diam.

"Kau stalker , ya?"

"Haah?!" Gempa langsung berdiri tegak. Dengan alasan macam apa klaim itu datang? "Ma-maksudnya?"

"Ini. Ini wajah Fang, kan."

Oh, Fang? Ia ingat nama itu. Itu nama yang tercetak di tas pinguin yang kemarin ia kembalikan ke pemiliknya. Jadi Fang memang nama sang pemilik tas yang belum jadi berkenalan dengannya.

Lantas bagaimana orang ini tahu?

"Uhh, hehe, sepertinya begitu. Bagaimana Mas bisa tahu—"

"Saya kakaknya."

Mampus. Gempa merasa nyawanya barusan menyelip keluar.

Dunia memang sempit. Tempo hari bertemu sang adik, hari ini bertemu sang kakak yang tampak tidak ramah. Tidak, tidak, berhentilah berpikir begitu, Gempa! Sebab rasanya orang ini bisa menebak apa saja yang ada di pikirannya sekarang juga.

"Cepat jelaskan sekarang juga!"

"Ba-baiklah!"

 

┌───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┐


TTOTRGATSS


└───── · 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ─────┘

 

"Jadi begitu …. Aku mohon maaf atas ketidaksopananku."

Setelah mendengarkan penjelasan lengkap langsung dari Gempa, pria itu membungkukkan badan sedalam 45 derajat sambil menatap ke bawah. Pemuda di depannya jadi salah tingkah melihat cara minta maaf yang tampak formal dan tak biasa ia lihat.

"Ah, tidak apa-apa, kok. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan kakak beradik dalam dua hari berturut-turut." Dalam hati, Gempa berpikir bahwa sepertinya orang ini tidak semenakutkan yang ia kira.

"Tidak, aku harus minta maaf juga atas nama adikku. Anak itu, bisa-bisanya nyaris kehilangan proyek penting di tempat umum!" Mata magenta pria itu menutup penuh sesal sekaligus rasa jengkel yang bisa dilihat dari urat-urat wajahnya yang menonjol.

"Semua orang pasti ada masa begitu, kok! Mungkin adik Anda sedang lelah waktu itu, jadi ia kelupaan," bela Gempa.

Padahal jelas-jelas ia melihat Fang begitu fokus pada ponselnya dengan sepasang earphone menutup telinga. Ia juga pemuda yang sama yang membuatnya salah naik bus. Akan tetapi, Gempa tak bisa begitu saja membiarkan kakaknya memarahi Fang akibat ketidaksengajaan yang ia lakukan. Gempa sih, jarang marah pada adiknya, jadi masalah seperti ini masih ia anggap kecil.

"Kau terlalu baik." Pria berjas biru kembali berdiri tegak, menyodorkan tangannya. "Perkenalkan, aku Kaizo."

"Saya Gempa." Mereka berjabat tangan dengan suasana hati yang kembali sejuk.

"Saya baru pertama kali melihat Anda di sini. Apa Anda mentor baru?"

"Bukan. Aku adalah CEO Institut Seni GogoBugi—sering disingkat ISGB—yang sedang scouting bakat-bakat terpendam. Saat aku berbicara dengan para mentor di sini, mereka merekomendasikan dirimu. Dan di sinilah aku sekarang."

"Oh, CEO ISGB. Eh, tunggu … CEO ISGB?!" Keterkejutan Gempa agak terlambat, tetapi itu terlukis jelas dengan mulutnya yang menganga lebar. "Ma-maksudnya, institut seni terbesar se-Malaysia?!"

ISGB (Institut Seni GogoBugi) adalah institut seni dengan cabang terbanyak di Malaysia. Gempa tidak jarang mendengar tentang prestasi para staf dan murid-murid mereka yang sering tampil di kancah internasional. Dari yang ia dengar, ISGB menerima murid dari berbagai usia sehingga jangkauan peminat mereka begitu luas.

Kaizo tersenyum bangga. Ia menjelaskan, "Kau tahu, rupanya. Sebenarnya, kami belum lama membuka cabang di Pulau Rintis."

"Eh, di sini?!" Itu berarti cabangnya berkemungkinan berlokasi dekat dari sini.

"Benar. Dan sebentar lagi kami akan mengadakan MNAF—Malaysia National Art Festival, di mana cabang Pulai Rintis ini akan menjadi pusatnya."

Belum habis rasa kagum Gempa terhadap CEO institut seni terbesar yang berdiri tepat di hadapannya, ia sudah dikejutkan oleh kabar besar lain. Ia juga tahu mengenai MNAF. Festival seni tahunan yang menerima entry secara daring dan bisa diikuti siapa saja tanpa terbatas usia. Gempa pernah beberapa kali mempertimbangkan untuk berpartisipasi, tetapi ia tidak melakukannya dengan alasan skill -nya tak sebegitu hebat untuk bersanding dengan peserta lainnya.

"Setelah kuperhatikan, kau memiliki bakat yang unik. Lukisan pasir seperti ini belum banyak yang mempopulerkan. Selain itu, kau bisa melukiskan orang dengan begitu nyata melalui medium yang tidak umum," puji Kaizo yang menatap kembali ke lukisan pasir Gempa. Wajah adiknya di sana tertutup sedikit pasir yang penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah dirinya sendiri. Akan tetapi, serbuk pasir itu tidak menghilangkan pesona lukisannya. 

"Tidak, kok, Kak Kaizo. Lukisan saya biasa-biasa saja. Tapi karena Anda bilang begitu, saya senang." Seperti yang biasa ia lakukan, Gempa hanya menggaruk kepala yang ditutupi topi dinosaurus yang telah kembali ke tempat biasa ia bertengger.

"Akan sia-sia jika kau tidak mengembangkan bakatmu. Ini." Menggelengkan kepala, Kaizo lantas menyerahkan kertas yang dilapisi amplop rapi dengan cap resmi ISGB.

"Ini adalah …?" Gempa membaca kata-kata pembuka yang tertera di amplop itu.

"Undangan untuk bekerja di ISGB Cabang Pulau Rintis," jawab Kaizo tanpa menghapus senyum di wajahnya.

"Eh?"

 

Butuh beberapa detik bagi Gempa untuk memproses kalimat barusan. Dirinya, seorang seniman biasa, diundang untuk bekerja di institut seni terbesar senegara?

 

"EHHH?!"

 

"Aku sangat berharap kau bersedia menerima undangan ini. Sampai jumpa nanti." Kaizo menepuk pundak pemuda itu sebelum ia melangkah keluar studio.




Gempa merasa semuanya berputar. Kali ini, isi kepalanya yang berputar, nyaris meledak seperti botol soda yang kelamaan dikocok.

 

Gempa hanya belum tahu bahwa dunianya akan ikut berputar mulai saat itu juga.

.

.

.

.

.

.


"A-apa-apaan itu, seram …" Wajah Taufan tampak masam mendengar penjelasan Gempa mengenai pengalaman mencekamnya di tempat lama ia bekerja.

"Phew, Kakak sendiri masih sangat ingat. Rasanya seperti adegan dari film-film horor." Wajah Gempa tak beda jauh. Alisnya nyaris bertaut tegang tiap kali wajah garang Kaizo di hari itu menghantui pikirannya.

"Mungkin kerjaan sampingan Kak Kaizo jadi ninja." Adik kedua Gempa memasang pose berpikir.

"Lebih baik kalian jangan bicarakan kakakku." Fang menyedot jus wortel yang datang dari sebuah bungkus minuman kotak. Matanya menyipit, menambah kesan serius pada kalimat yang selanjutnya ia ucapkan, "Dikatakan bahwa Kapten Kaizo bisa muncul tiba-tiba di belakang kalian kalau ia tahu sedang dibicarakan."

Whusss! Tiba-tiba, ruang keluarga terasa dingin. Hal itu membuat pemuda berpakaian marun yang sejak tadi berbaring di sofa otomatis duduk tegak. Seperti ada yang meniup tengkuk lehernya.

"Su-sudah, cepat lewati bagian itu! Dan Blaze, berhenti membuka-tutup jendela." Halilintar memandang sengit adik keduanya yang sengaja memanfaatkan keadaan ini.

"Hehe, ketahuan, ya." Blaze cengar-cengir.

"Selanjutnya adalah cerita di mana Kakak dan Kak Fang berkenalan secara resmi. Haha, dari titik ini, Kakak mulai belajar banyak."


.

.

.

.

.

.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk "BeCek" yang menceritakan reaksi Halilintar ketika sang kakak mengumumkan bahwa ia akan menikah dengan Fang yang narsisnya sampai keluar galaksi. Ini adalah kisah yang menceritakan bagaimana Gempa dan Fang yang bagai kutub utara dan selatan bertemu dan menumbuhkan perasaan terhadap satu sama lain.

Saya akan sangat menghargai jika pembaca berkenan membagi pendapat pembaca mengenai tulisan saya. Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa di chapter berikutnya.

【】Kaori