Work Text:
"Sorry, boleh pinjem pulpen nggak?"
Pertanyaan tersebut disusul dengan suara ketukan jari di atas meja Jeonghan.
Secara refleks Jeonghan menolehkan kepala ke arah kanannya, melihat sosok yang baru saja berbicara ke arahnya dan juga pelaku pengetukan meja. Jeonghan masih diam, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi beberapa detik lalu. Sedangkan lelaki di sebelahnya masih tersenyum ramah.
'Oh, jadi tadi dia beneran ngomong sama gue ya?' pikir Jeonghan lagi, masih tanpa reaksi apa-apa.
"Sorry, sorry banget kalo ganggu, gue boleh pinjem pulpen nggak?" tanya sosok itu lagi karena Jeonghan hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
Pulpen!
Iya, pulpen. Dengan terburu-buru Jeonghan membuka tempat pensil yang berada di pangkuannya. Mencari pulpen yang setidaknya masih berfungsi baik dan tidak bocor.
"Sebentar ya," Jeonghan masih sibuk mencari dan tidak lama ia mengeluarkan satu pulpen yang terlihat masih baik untuk dipinjamkan pada cowok ramah di sampingnya. "Nih, yang ini masih bisa kayaknya."
"Makasih! Pinjem dulu ya pulpennya."
Jeonghan yang tidak tahu harus berkata apa lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan singkat. Pandangannya kembali ke halaman kosong binder miliknya yang terbuka lebar sejak tadi.
Jeonghan kira orang di sebelahnya ini berbicara pada orang lain dan bukan dirinya. Ini adalah kelas pengganti dan berisi dari gabungan dua kelas dengan pengajar yang sama. Kelas umum yang berisikan tidak hanya satu, tetapi dua atau bahkan lebih mahasiswa dari berbagai angkatan. Tidak ada yang ia kenal dalam kelas ini—atau setidaknya belum, makanya dia tidak merespon sama sekali ketika mendengar pertanyaan pertama.
(Bayangkan saja, baru juga minggu-minggu awal pertemuan tetapi sudah ada kelas pengganti!)
Ponselnya masih di-charge dengan powerbank di dalam tasnya. Jadi yang bisa Jeonghan lakukan hanyalah melirik ke arah jam dinding yang ada di atas papan tulis. Masih ada lima menit lagi sebelum kelas penggantinya ini akan dimulai.
Alias, masih ada cukup waktu untuk melirik ke arah cowok yang duduk di sebelahnya.
Dari ujung matanya—walau sebutannya panjang tapi sebut saja cowok ini sebagai si peminjam pulpen—sedang sibuk melihat-lihat isi catatannya. Catatannya cukup rapih jika dibandingkan dengan mahasiswa kebanyakan (walau tidak serapih milik Jeonghan, ia yakin sekali akan itu). Tidak lupa pulpen pinjaman dari Jeonghan yang bertengger manis di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Mahasiswa rajin tapi lupa membawa pulpen? Aneh.
(Padahal bisa saja dia sedang tidak beruntung dan melupakan tempat pensilnya di rumah.)
Sedari tadi si peminjam pulpen ini masih menundukkan kepalanya, membuat Jeonghan menjadi sulit untuk kembali melihat wajahnya dengan jelas. Yang bisa dia lihat hanya sepasang mata dengan bulu mata yang panjang dari samping. Juga alisnya yang tebal dan garis hidung yang tajam. Rambutnya yang berwarna hitam kelam juga sedikit berantakan karena sudah cukup panjang–
Tunggu.
Sepertinya Jeonghan sudah mulai hilang fokus dengan observasi singkatnya. Niat awalnya adalah berusaha menebak apakah sosok di sebelahnya ini masih satu angkatan dengan dia atau bukan. Kenapa dia malah jadi memperhatikan detail wajahnya?
Belum sempat ia berpikir dengan lebih keras lagi, dosen dari mata kuliah yang bersangkutan sudah masuk ke dalam ruangan dan langsung memulai pelajaran hari itu.
Kelas berjalan dengan sangat lancar. Jeonghan mencatat hal yang perlu dicatat dan mendengarkan juga mengingat hal yang perlu didengar. Selain itu tidak ada kegiatan lain lagi. Yang mengganggunya hanya getaran dari ponselnya yang tidak berhenti untuk beberapa saat. Jeonghan yakin itu berisi rentetan chat dari Jun yang menyuruhnya untuk datang cepat ke kantin seusainya kelas ini.
Mau tidak mau Jeonghan mulai merapihkan barang bawaannya saat dirasa kelas sudah hampir selesai. Jadi saat dosennya sudah keluar dari ruangan dia juga sudah rapih dan bisa meninggalkan ruangan kelas dengan cepat. Jeonghan bahkan sudah tidak ingat lagi dengan pulpennya, yang masih dipinjam mahasiswa di sebelahnya—yang masih sibuk dengan menulis catatan miliknya.
Lagipula, pulpen hilang karena dipinjam atau karena lupa itu sudah terlalu biasa, kan?
Yang tidak biasa itu, ketika di minggu selanjutnya ada yang menunggu Jeonghan di depan ruang kelas mata kuliah yang sama.
Iya, yang menunggu Jeonghan adalah si peminjam pulpen minggu lalu. Sepertinya dia sudah selesai dengan mata kuliah ini, alias dia berada dalam kelas dengan jadwal sebelum Jeonghan. Awalnya Jeonghan kira si mahasiswa ini sedang menunggu orang lain, tapi dia langsung memanggil Jeonghan saat jarak di antara mereka sudah dekat.
"Eh, maaf,"
"Iya? Kenapa ya?" tanya Jeonghan dengan kebingungan, diikuti dengan dirinya yang berjalan mundur dan tidak jadi memasuki ruangan.
"Pulpennya. Ini, maaf ya kemaren gue lupa balikin."
"Eh gapapa, udah biasa kok." jawab Jeonghan, yang kali ini masih setengah melamun saat menjawab dan menerima pulpen dari tangan orang di hadapannya.
Satu detik kemudian, Jeonghan baru tersadar kalau kalimatnya bisa terdengar sangat sinis, apalagi ia mengucapkannya dengan nada yang datar. Alhasil dengan panik ia kembali meralat ucapannya.
"EH BUKAN—bukan gimana gimana, cuma pulpen aja maksudnya, seriusan. Beneran gapapa kok baru dibalikin!"
Anehnya, si peminjam pulpen ini malah menertawakan Jeonghan yang berusaha menjelaskan dengan panik. Kurang ajar.
Jeonghan hanya bisa melihatnya dengan pasrah sambil menunggu cowok tersebut berhenti dari tawanya. Tidak sampai di situ saja, setelah berhenti tertawa cowok ini malah senyum-senyum sendiri tanpa alasan. Aneh.
"Makasih ya sekali lagi." ucapnya sambil tersenyum dengan lebih lebar, memperlihatkan barisan giginya yang rapih dan kedua lesung pipinya yang sempat membuat Jeonghan terpana karenanya.
"Ugh, makasih juga udah dibalikin? Gue masuk kelas dulu ya kalo gitu."
"Eh, bentar." sergahnya dengan cepat sambil bergeser menghalangi jalan Jeonghan, membuat dia kembali mundur dan gagal masuk ke dalam kelas untuk kedua kalinya.
"Gue boleh minta kertas dikit ngga?"
Ya ampun.
Jeonghan sedikit menggerutu di dalam hati. Sepertinya cowok ini selalu masuk tanpa persiapan atau bagaimana? Maksudnya kertas sedikit juga apa? Post-it?
Tidak mau ambil pusing, Jeonghan langsung merogoh kantung bagian depan tas selempang yang ia kenakan. Kalau beruntung akan ada selipan lembaran kertas, nota bekas, atau post-it.
Dan untungnya benar-benar ada post-it di dalam situ.
"Adanya post-it gimana?"
Cowok itu kemudian mengambil post-it warna biru dari tangan Jeonghan tanpa omongan lagi. Tetapi masih dengan senyuman menawan di wajahnya.
(He is a good looking man, Jeonghan cannot deny the fact.)
Jeonghan tarik kata-katanya lagi. Cowok ini baru saja meraih pulpen yang ia kembalikan untuk menulis di atas post-it miliknya. Aneh. Untuk kesekian kalinya.
'Nggak modal banget?' pikir Jeonghan dengan gemas.
Tapi yang paling tidak Jeonghan sangka dari segala kemungkinan yang ada, cowok tersebut mengembalikan semua barang yang ia pinjam dengan post-it yang dia pakai untuk...menulis nomor teleponnya?
Sebentar, ini nomor si peminjam pulpen atau nomor orang lain? Apakah Jeonghan sedang dijahili? Atau cowok ini sedang kena dare dari temennya?
Atau ada apa sih dengan hari ini untuk Jeonghan?
"Simpen ya. Kalo nggak butuh juga gak apa, siapa tau kapan-kapan butuh. Jangan dibuang, apalagi dikasih ke orang."
Jeonghan yang tentunya masih kebingungan, hanya bisa melihat ke arah post-it di tangannya dan wajah si cowok tersebut bergantian. Kedua alisnya mengerut keras berusaha memahami apa arti semua ini. Raut wajah cowok di hadapannya menunjukkan kalau dia tidak sedang bercanda—dan besar kemungkinan ini adalah nomor teleponnya sendiri.
Akan tetapi untuk apa? Kalau ternyata dia benar orang aneh bagaimana?
"Buat apaan...kan pulpennya udah dibalikin?" lanjut Jeonghan lagi sambil menunjukkan kedua barang yang berada di tangannya.
"Siapa tau sewaktu-waktu butuh? Gue juga bisa kasih contekan kuis, kalo lo mau."
Setelah dia bilang begitu, sosoknya langsung pergi begitu saja meninggalkan Jeonghan yang masih terpaku di tempatnya.
Jeonghan tidak sempat melakukan protes atau menolak nomor telepon yang berada di tangannya. Cowok itu sudah menghilang dari pandangannya dengan sangat cepat. Bahkan si peminjam pulpen ini tidak menyebutkan namanya sama sekali, ataupun sebaliknya.
Mereka masih sama-sama orang asing bagi satu sama lain.
Demi Tuhan, baru tiga minggu semester baru berjalan, bisa-bisanya Jeonghan sudah bertemu dengan manusia aneh macam si peminjam pulpen ini.
