Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 4 of Malam Minggu Maso
Stats:
Published:
2021-07-04
Words:
433
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
53

kosong

Summary:

Kenapa dari sekian tahun masa hidupnya, baru sekarang ia merasa teramat gundah?

Notes:

Disclaimer: Joker Game milik Koji Yanagi (saya tidak mengambil keuntungan komersil apapun dari penulisan fanfiksi ini)
Ditulis untuk: #MalamMingguMaso

Work Text:

Salah satu hal baik dari menjadi mata-mata dalam sudut pandang Miyoshi adalah: tidak banyak kekhawatiran yang dia pikirkan dalam keadaan seperti sekarang. Jika dia tidak pernah menempuh jalan ini, mungkin mulai dari akademik sampai hubungan sosial lain masih jadi pertimbangannya untuk hidup sedikit lebih lama. Atau untuk membuat suasana tampak lebih normal, eksistensi kekasih dan orang-orang tersayang yang ditinggalkan dapat membuatnya bertahan mati-matian agar tidak perlu bertemu ajal. Kalaupun versi dirinya yang ‘biasa saja’ mampu tidak cemas akan hal-hal duniawi, masih ada kemungkinan bahwa dia akan ketakutan dan jadi pengecut di hadapan malaikat maut.

Intinya, walau aib, dia tidak akan sekosong sekarang. Sesuatu yang ada dalam benaknya hanya warna hitam pekat yang entah kelewat sempit atau tak berujung. Mengundangnya untuk masuk lebih dalam, namun pada saat yang sama mampu membuatnya tetap di luar agar tidak tenggelam terlalu jauh.

Walau begitu, Miyoshi tetap pada pendiriannya dan enggan menggambarkan situasi saat ini sebagai hal buruk. Dia sudah tahu sejak detik awal dia memutuskan untuk bergabung dengan D-Agency, bahwa hidupnya akan berakhir pada kekosongan mutlak. Hal ini membantunya untuk lebih siap. Bukan berarti dia membuat skenario wajar untuk kematiannya, tentu. Lagipula dia dididik untuk tidak mampus dan tidak membuat orang lain mampus. Bentuk kesiapan Miyoshi itu lain dan sudah terlihat jelas saat ini: sikap luar biasa tenang walau beberapa bagian tubuhnya mulai mati rasa (atau sakit yang tidak masuk akal, salah satu dari itu).

Meski julukan ‘monster’ melekat erat, bagaimanapun, dia manusia yang memiliki batas.

Tidak hanya itu, dia tahu ada sesuatu yang mengganjal dan dia benci ketidaktuntasan.

Pria ini sudah menyelesaikan kewajiban sebagai mata-mata dengan sempurna, tanpa cacat cela. Bahkan dia ragu ada langkah yang lebih besar daripada yang dia ciptakan. Harusnya itu cukup. Dia telah memastikan bahwa sampai dia duduk di kereta, tidak ada seorangpun yang curiga. Harusnya itu cukup. Tujuannya kini juga bukan suatu tempat yang dapat dengan enteng dia sebut ‘rumah’. Harusnya itu cukup. Harusnya itu cukup untuk mendorongnya pada suatu kesimpulan bahwa dia tidak perlu lagi cemas akan hal yang tidak diketahuinya (bisa jadi hanya perasaan kosong akibat kepekaannya selama jadi mata-mata, tapi dia ragu).

Di detik-detik akhir ini, dia sempat terpikir bahwa slogan agensi adalah apa yang membuatnya cemas sampai jadi sekonyol ini. Semacam pemahaman bahwa dia—mungkin—jadi orang pertama yang melanggar kalimat itu. Namun, karena paham betul bahwa waktu tidak tersedia dalam jumlah banyak untuknya, sepersekian detik kemudian Miyoshi langsung tahu bukan di sana letak permasalahannya. Berbekal kemampuan nalar yang sangat baik, dia juga langsung tahu apa masalahnya.

Kecil, sederhana, dan wajar terlupakan karena Miyoshi membuangnya jauh-jauh.

Dia tetap manusia.

(Dia terkekeh ketika sampai pada kesimpulan macam itu).

Series this work belongs to: