Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
New World Fic Fest: Anniversary Special
Stats:
Published:
2021-07-07
Words:
8,982
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
38
Hits:
269

La Famille

Summary:

Hanya berisikan Seungwoo, Byungchan dan sepenggal kisah mengenai keluarga kecil mereka.

Work Text:

“Papa! aku berhasil membuat Tuan Harold menggunakan baju!” Suara penuh semangat itu berasal dari gadis berusia lima tahun dalam balutan gaun sebatas lutut dengan motif polkadot kuning senada dengan dua pita rambut di kepalanya, menggenggam Paddington yang ia beri nama Tuan Harold dengan senyum menunjukan deret gigi susunya yang tumbuh berjarak.

Biasanya, suara itu selalu menjadi favorit Byungchan dan sang suami.

Namun untuk malam ini Byungchan tak merasakan hal itu, suara nyaring putrinya berubah seperti rentetan peluru yang menusuk otaknya. Jelas hal itu sangat tidak tepat dengan layar putih yang memuat barisan paragraf yang berulang kali ia otak-atik namun berujung menghapus segala sesuatu yang ia tulis karena merasa aneh sendiri.

Byungchan mengusap wajahnya kasar saat Jiha—sang gadis cilik—meletakkan boneka beruang itu di atas laptop, “Papa, lihat! Bukankah Tuan Harold sangat menggemaskan?” Gadis itu masih menuntut perhatian saat Byungchan berusaha menyingkirkan bonekanya perlahan.

“Tidak sekarang, Jiha. Papa sedang bekerja.” Jelasnya tak peduli—atau bahkan tidak sadar—sudah berapa lama ia berada di depan layar laptop.

Mendengarnya, Jiha menunduk, memeluk bonekanya dan bersuara pelan. “Tapi Papa belum bermain denganku.”

“Nanti bermainnya. Saat pekerjaan Papa sudah selesai. Sekarang main sama Ayah dulu, ya?” Byungchan berusaha tetap bersikap lembut walau kepalanya sudah ingin pecah. Tetapi, nampaknya Jiha tak memiliki keinginan yang sama, ia tetap berdiri di sana saat Byungchan berdiri dan hendak mengajaknya keluar ruangan.

“Jiha mau sama Papa.”

Oh, Tuhan. Byungchan mengusak rambutnya frustasi.

Tak memiliki pilihan lain, pria dengan tinggi melebihi rata-rata pria Korea itu merendahkan tubuhnya. “Jiha, anak baik.” Mensejajarkan pandangannya pada mata sang gadis cilik dan memasang wajah selembut mungkin. “Jika Jiha seperti ini, Papa tidak bisa bekerja. Tunggu sebentar, ya? Nanti kita bersama-sama memberikan topi pada Tuan Harold.”

Jiha tak mau mendongak, atau lebih tepatnya tak ingin memandang Byungchan. “Papa selalu sibuk. Kemarin juga bicara seperti itu tetapi sampai sekarang belum bermain.”

Byungchan menghela nafas, “Jiha harus mengerti, Papa bekerja untuk membuat Jiha senang, untuk bisa beli lebih banyak Tuan Harold lagi. Jiha mau, ‘kan?”

Sayangnya, bujukan itu mendapat gelengan dari si gadis penyuka warna kuning tersebut. “Jiha mau Papa.”

Byungchan menggigit bibir dalamnya ragu, menimbang apa yang harus ia bicarakan agar tak menyakiti hati sang anak. Berulang kali ia menoleh pada meja kerjanya dan kembali menatap Jiha yang masih menunduk sedih.

Pria itu termenung beberapa detik sembari memandang tempat tidurnya tanpa makna. “Jiha, tunggu sebentar lagi, ya? Papa janji tidak akan lama.”

Jiha kali ini mengangkat kepalanya, memandang sang Papa dengan dua bola matanya yang bulat lucu. “Janji?”

Byungchan mengangguk dan mengangkat kelingkingnya. “Janji.” Lalu ditutup dengan kedua jari kelingking mereka yang melilit dengan senyum pada masing-masing bibir.

“Sekarang main sama Ayah dulu, ya, Cantik?” Byungchan melirik pada jam digital di mejanya, memperhatikan bahwa waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.

Lantas Byungchan kembali berdiri lagi, memastikan putri kecilnya sudah keluar ruangan sepenuhnya dan menuju kursi dengan busa murahan yang mereka temukan di pusat obral. Meregangkan otot sebentar dengan kedua tangan yang diangkat ke atas lalu menarik laptonya mendekat, “Mari kita selesaikan secepatnya.”

 

.

.

.

 

Jiha menutup pintu dengan kesulitan, ia tak paham mengapa Ayah dan Papanya membuat gagang setinggi ini hingga ia mati-matian harus berjinjit dan menariknya susah payah.

Kegiatan penuh perjuangan itu ternyata dilihat oleh manusia lain dari arah ruang keluarga. Kepalanya menoleh saat mendengar pintu terbuka kembali dan segera mengabaikan perhatiannya yang tadi terfokus pada lembaran-lembaran naskah yang harus ia kaji ulang.

“Jiha?” Ia bersuara pelan, membuat gadis cilik yang baru berhasil menutu pintu itu reflek mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang sangat jauh.

“Ayah!” sosok dengan rambut panjangnya yang diikat di kedua sisi itu berlari mendekat, memeluk kaki pria itu karena faktor pelipisnya yang hanya mencapai sebatas paha si ayah.

Sentuhan tersebut membuat Seungwoo; sang ayah tersenyum, mengusak gemas surai putrinya dengan sedikit menunduk sebelum mengangkat tubuh kecil itu untuk duduk di atas lengannya, lalu ia merapikan poni Jiha yang berantakan. “Jiha tadi bilang mau main sama Papa?” Seungwoo mencium gemas pipi yang menggembung tersebut, “kenapa keluar lagi?”

 Jiha memainkan dasi Tuan Harold dengan bibir yang berucap senyum. “Sekarang Papa masih sibuk. Kata Papa, Jiha harus tunggu sebentar lagi lalu setelah itu main!” sebelah tangan Jiha memeluk bonekanya dengan erat, lalu tangan kanannya meraih pundak Seungwoo yang bertuliskan deret angka romawi dengan lembut, “sekarang Jiha mau main sama Ayah! Boleh?”

Seungwoo menghela nafas, “Papa bilang seperti itu?” Jiha mengangguk sebagai jawaban. Membuat Seungwoo memandang pintu yang tertutup tersebut dengan pandangan seribu makna.

Byungchan, ia bersuara lirih. Namun tak berlama-lama dengan pikiran yang berkecamuk, Seungwoo lebih memilih mengurus Jiha terlebih dahulu.

“Ayah mau main sama Jiha?” Tanya putri kecilnya lagi dengan mata bulat yang mengerjap beberapa kali.

Memilih memprioritaskan sang putri, Seungwoo cepat-cepat memusatkan atensinya pada Jiha kembali. “Seharian ini kita sudah main banyak, Jiha.” Seungwoo menaikkan lagi gendongannya yang terasa menurun. “Bagaimana jika Jiha membantu Ayah memasak? Kue panekuk.” ia menoleh pada jam dinding yang bersuara teratur, “sebentar lagi waktunya makan malam!”

Mendengar usulan sang Ayah, Jiha mengangguk senang. Menunjukkan deret giginya yang tumbuh tak terlalu rapat dengan cekikikan lucu. “Jiha suka memasak!”

“Kalau begitu, ayo kita ke dapur!”

Ucap Seungwoo tetap memasang topeng ceria, memastikan sang anak tak merasa khawatir walau kini otaknya sudah memikirkan seribu satu solusi untuk sebuah pikiran yang menggelayuti.

 

.

.

.

 

“Ini, cara mengaduknya seperti ini.” Seungwoo menggenggam kedua tangan putrinya dari belakang. Mengarahkan jari-jari mungil tersebut untuk memutar adonan berwarna kuning pucat searah jarum jam. “Pelan-pelan. Jangan sampai tumpah.”

Setelah memastikan gerak tangan putrinya tak berantakan, Seungwoo melepaskan genggaman tersebut. “Pintar, Putri Cantik.” Seungwoo menepuk gemas puncak kepala Jiha. “aduk terus sampai Ayah bilang berhenti, ya.”

Jiha mengangguk, menyingkirkan beberapa rambutnya sendiri yang hampir tercelup ke dalam mangkuk dan kembali mengaduk adonan tadi sesuai perintah sang ayah.

Setelah memastikan Jiha memiliki kesibukannya sendiri, Seungwoo beralih pada kesibukan lain. Ia menggulung lengan kemeja abu-abunya sebatas siku, menyalakan kompor pada sekali gerakan dan memasang api terkecil yang bisa diciptakan tungku pembakarannya.

Seungwoo berjalan sedikit mendekati salah satu lemari yang menempel di dinding dan mengambil penggorengan. Memasukkan dua sendok margarin yang selanjutnya ia letakkan di atas kompor. Digerak-gerakkan kecil hingga margarin tersebut mencair dan menyebar di seluruh permukaan dengan bunyi desis dan aroma gurih yang menyeruak.

“Jiha,” Seungwoo mematikan kompornya untuk menghindari resiko Jiha akan menjangkaunya. Ia berbalik badan, menoleh pada putrinya yang hanya setinggi pahanya masih sibuk mengaduk adonan dengan serius.

Diam-diam Seungwoo menahan gemas. Melihat bagaimana tubuh kecil itu berdiri pada kursi agar ia bisa mencapai ketinggian meja, ia menggunakan perut dan kirinya untuk menjaga keseimbangan mangkuk dan tangan kanan yang bergerak mengaduk. Sesekali Jiha meletakkan sendoknya demi menyingkirkan rambutnya yang terus terjatuh ke dalam mangkuk.

“Jiha,” Seungwoo meendekat, mendekap lembut Jiha yang masih menggunakan celemek dan mencium pipinya lembut. “Cukup mengaduknya.” Lalu jemari kecil itu melepaskan diri, menoleh pada sang Ayah dengan gigi yang dipamerkan lebar-lebar.

Seungwoo mengambil mangkok tersebut, tak lupa memberikan apresiasi pada kerja keras si kecil, Seungwoo kembali mengusak surai lembut Jiha. “Terimakasih, Cantik.” Mengetahui bagaimana kebiasaan mereka selama di dapur, Jiha meraih sebelah tangan Seungwoo yang berhiaskan tato bunga berwarna ungu, berpegangan kuat dan melompat turun dari kursi.

Sekali lagi, Seungwoo merasakan dadanya menghangat—atau mungkin setiap kali itu tentang tingkah laku Jiha hatinya pasti menghangat—gadis cilik itu tak perlu diperintah lagi. Jiha keluar dari dapur saat Seungwoo berjalan ke arah kompor.

Sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang ia dan Byungchan tanamkan, bahwa setiap para orang dewasa berkutat dengan kompor, Jiha harus menjauh sejauh mungkin.

Selesai Seungwoo menuangkan margarin cair tersebut ke dalam mangkuk, Jiha kembali masuk lagi ke dapur, kali ini karena tingginya yang tidak terbantu oleh kursi Jiha harus berjinjit. Susah payah mengintip sang Ayah yang mengaduk adonan menjadi satu.

“Wah,” Seungwoo bisa melihat binar-binar kagum di mata anaknya, “Ayah cepat sekali mengaduknya.”

Mendengar pujian remeh seperti itu Seungwoo tertawa kecil, “Nanti kalau Jiha sudah besar, bisa seperti ini.” lalu ia meletakkan mangkok tersebut dan melapkan jemarinya yang terkena cipratan adonan pada celemek kotak-kotak yang ia kenakan.

“Jiha,” Seungwoo kini berjongkok, menopangkan salah satu tangan di atas celana hangatnya yang berwarna hitam, “Sekarang coba panggil Papa, bilang kita akan makan malam.” Ucap si pria Han pada gadis tersebut.

Melihat pada jam tangannya bahwa ini sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam dan Byungchan tadi berjanji untuk segera menyelesaikan tugasnya.

“Baik, Ayah!” lalu tubuh kecil itu menghilang dari area dapur, berlari dengan suara derap berisik membuat Seungwoo merasa was-was.

“Jangan berlari, Jiha.”

Seungwoo menggeleng dengan senyum kecil. Lalu ia beralih menuju adonan tersebut dan menyalakan kompor.

 

.

.

.

 

Tiga ketukan dari balik pintu terdengar, tak berselang lama penghalang kayu tersebut terbuka menampilkan sosok cilik yang beberapa menit lalu menyambangi ruangan Byungchan.

“Papa! Ayah sudah masak makan malam.” Jiha berlari mendekat dengan celemek coklat susu yang masih ia kenakan. Gadis cilik itu berusaha mengintip dengan lagi-lagi berjinjit untuk menengok apa yang ada di layar laptop Byungchan.

Byungchan mengusap pelan kepala ingin tahu tersebut, “Sebentar, Sayang.” Lalu jari-jarinya kembali mengetik di atas keyboard, “Jiha membantu Papa memasak?” tanya Byungchan yang menoleh sedikit dan melihat celemek Jiha yang terpasang, lalu matanya kembali sibuk memindai berbagai deret kalimat yang sudah berkali-kali ia baca untuk memastikan tak ada kesalahan lagi.

Jiha mengangguk, menyentuh paha sang papa dan membanggakan diri, “Tadi Jiha yang mengaduk kue panekuknya.” Byungchan mengangguk, sedikit tak memperhatikan antusiasme gadis kecil itu.

Byungchan kembali terfokus pada pekerjaannya, mengetikkan barisan kalimat yang menurutnya harus diperbaiki dan terjebak oleh dunianya sendiri. Mengabaikan putrinya yang kini tengah menarik-narik celana rumah Byungchan untuk menarik atensi pria itu.

“Papa.” Jiha masih tak menyerah untuk menarik celana kotak-kotak tersebut.

Byungchan masih tak mau melepaskan pandangannya, “Sebentar, Jiha. Sedikit lagi.” Melontarkan kembali alasan yang berkali-kali Jiha dengar.

“Jiha! Byungchan! Ayo makan.”

Itu Seungwoo yang berteriak tak terlalu keras. Menebak mungkin pria pemilik tato bunga dan bulan yang sedikit mendekati warna magenta tersebut sudah menyajikan tumpukan panekuk di meja makan.

“Papa! Ayo makan.” Jiha melompat kecil, membuat pipinya yang sudah seperti kantong teh bergerak lucu. “Makan! Panekuk. Ayo … ayo … ayo.” Jiha berseru semangat. Membuat Byungchan menoleh sekilas walau sedetik kemudian ia kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya kembali.

“Iya, bau panekuknya juga sudah tercium,” Byungchan yang malam ini mengenakan kaus putih itu tak bergerak. “Jiha makan dulu sama Ayah, ya. Nanti Papa menyusul.”

Sayangnya, sebaris kalimat tersebut berhasil membuat Jiha berhenti melompat. Mata bulatnya memandang Byungchan dengan tatapan bertanya dan sudut mata yang turun.

“Papa janji akan menyelesaikan pekerjaannya.” Jiha menghadirkan pandangan sedih.

Byungchan melembut. Kali ini ia benar-benar melepas pandangannya dari laptop saat mendengar nada sedih sang putri. “Jiha, sebentar lagi selesai. Sabar, ya?”

Jiha memandang Byungchan selam beberapa detik, ia tak mengucapkan apapun. “Jiha, sayang.” Byungchan mengusap lembut pipi itu dan merapikan baju Jiha yang sedikit berantakan. “Papa janji akan—”

Jiha tak menunggu kalimat Byungchan selesai. Gadis cilik itu berlari keluar meninggalkan Byungchan yang sedikit terkejut akan pergerakan tiba-tiba putrinya.

Namun, alih-alih mengejar atau memanggil, Byungchan kembali berkutat dengan laptopnya. Bertekad menyelesaikan banyak halaman yang belum ia tinjau. Berpikiran bahwa nanti, setelah selesai ia akan menghabiskan waktunya bersama Jiha.

 

.

.

.

 

Rasanya sampai sekarang Seungwoo tak bisa berhenti berterimakasih pada Jung Subin, juniornya semasa sekolah yang bekerja di perusahaan developer terkenal dan membantunya mencarikan rumah minimalis ini.

Sebuah rumah yang diisi tiga kamar tidur dan memiliki perapian tradisional ala peradabaan Eropa modern juga seluruh desain interiornya yang berwarna putih dan kuning pucat yang menghasilkan suasana mewah yang abadi.

Terlebih dapur dan ruang makan yang menggunakan perabot dari balok kayu besar, menjadikan hobi baru Seungwoo setelah menikah jauh lebih nikmat, yaitu membaca berita online dengan segelas kopi dan panekuk sembari menunggu keluarganya datang.

Walau kini hanya langkah kecil Jiha yang terlihat tanpa Byungchan yang menyusulnya.

Seungwoo melongok ke belakang Jiha, masih berharap pria tinggi itu akan muncul dengan senyumnya yang Seungwoo pikir terlalu lebar.

“Papa kemana?” tanya Seungwoo segera saat lima detik menunggu dan suaminya tak kunjung muncul. Ia yang awalnya sedang menyeruput kopi hitam pekat tersebut meletakkannya di atas meja diiriingi dengan dentingan kecil.

Jiha tak menjawab, gadis kecil itu naik ke atas kursi dengan susah payah sehingga membuat Seungwoo ingin membantunya namun tak sempat karena Jiha yang ternyata sudah bisa sendiri.

Dengan aksesori serba warna kuning, sesungguhnya Jiha tampil lucu dengan kesan ceria. Namun entah mengapa ekspresi Jiha berkata sebaliknya.

“Jiha, mana Papa?”

Jiha tak menjawab, gadis itu mengambil garpu dan menusukkannya pada panekuk yang sudah Seungwoo potong kecil-kecil agar putrinya tidak tersedak. Ia makan dalam diam, tak mendongak pada Seungwoo dan terus menatap lekat piringnya.

Segera menjelaskan pada Seungwoo, gelagat aneh Jiha hanya merujuk pada satu suasana hati.

Pertama kali Seungwoo melihat Jiha adalah beberapa tahun lalu saat ia masih sangat kecil, hingga akhirnya ia menjadi saksi hidup mengenai tumbuh kembang Jiha, juga untuk kegemaran, kebiasaan hingga sesuatu yang tak ia suka.

Bahwa sikap diam tanpa mau memandang mata orang dewasa adalah penunjuk, jika sesuatu telah mengecewakannya, dan Seungwoo tahu betul apa itu.

Karena dia sendiri, sudah menduganya selama satu minggu terakhir.

Ini tidak bisa ditunda lagi.

 

.

.

.

 

Selain detik jam yang mengiringi, rasanya suara di dalam kepala Seungwoo jauh lebih berisik dari apapun di ruangan ini. Pria yang sudah memasuki umur awal tiga puluhan tersebut duduk diam di sebuah set sofa berwarna putih tulang yang senada dengan warna rumah mereka.

Tak melakukan apa-apa walau ia sudah memikirkan banyak penyelesaian sembari memandangi Jiha yang duduk di atas karpet. Gadis itu sedang mogok bicara sejak mereka selesai makan tiga puluh menit yang lalu, atau mungkin sejak keluar dari menemui Byungchan.

Masih duduk membelakangi Seungwoo, dengan bibir yang mengerucut seperti kebiasaannya dan memandangi Tuan Harold yang juga tak merespon.

Menghela nafas sembari menyandarkan kepala pada sandaran sofa, Seungwoo memandang langit-langit, sedikit bimbang dengan beberapa pilihan di kepalanya sebelum kembali terduduk.

Sejujurnya, masalah ini sudah berlangsung sekitar hampir satu minggu lamanya. Kala itu Byungchan bersorak senang karena sudah dipercaya menjadi kepala editor untuk bagian berita mingguan, yang sesungguhnya Seungwoo juga turut memberikan selamat atas satu lagi mimpi sang suami yang tercapai.

Sama sekali tak menduga jika kenaikan jabatan tersebut membuat masalah baru. Byungchan menjadi super sibuk.

Tak keluar kamar, selalu makan dan tidur yang tak teratur, dan yang paling krusial; Byungchan mulai abai dengan Jiha.

Maka dari itu, Seungwoo yang sudah mati-matian memutar otaknya kini berdiri. Meninggalkan sebentar putrinya dan masuk tanpa ketukan ke dalam kamar mereka. melihat Byungchan yang masih setia memandang laptopnya dengan dahi yang berkerut serta mata panda yang menyatakan lelah dengan jelas.

Seungwoo menghela nafas lelah. Bahkan Byungchan tak menyadari langkah kakinya yang cukup keras hingga pria itu duduk di atas kasur dan memperhatikan Byungchan yang berada di balik meja.

Desain kamar tidur utama ini adalah yang paling hangat dari seluruh penjuru rumah. Dengan Byungchan sendiri yang meminta kasur king size sebagai perabot inti dan disusul meja kerja yang tak terlalu besar yang diletakkan tepat di samping tempat tidur.

Jarak mereka sangat dekat, tetapi Byungchan masih tetap terfokus pada layar laptopnya. Hingga akhirnya Seungwoo dengan balutan kemeja yang satu kancing teratasnya terbuka itu memulai percakapan, “Byungchan.”

Dua detik menunggu, suaminya masih tak menjawab. Maka sekali lagi Seungwoo berujar, kali ini tangannya maju dan diayukan pelan di depan laptop Byungchan.

Byungchan tersadar, sedikit terkejut dengan gerakan tiba-tiba dihadapannya namun segera kembali normal saat mengetahui itu Seungwoo.

“Ah,” ia mengelus dadanya sebagai pereda rasa terkejut. “Aku tidak tahu kapan kau masuk.” Byungchan mengusak rambutnya menjadi berantakan. Memberikan senyum pada Seungwoo dan hendak menatap laptopnya lagi.

“Pekerjaanmu belum selesai?” tanya Seungwoo akhirnya. Langsung menuju poin inti karena ia tak pintar berbasa-basi.

“Sebentar lagi.” Ucap Byungchan tanpa menoleh, menggerakkan kursor pada sebuah barisan dan hendak melakukan perubahan sebelum kalimat Seungwoo membuatnya terpaku.

“Kau juga mengatakan itu sejak satu jam yang lalu, Byungchan.”

Reflek Byungchan melihat pada jam digital disampingnya dan tak bisa menahan keterkejutan sesungguhnya saat melihat ia sudah melewati enam puluh menit. “Astaga,” Byungchan menepuk dahinya pelan, lalu turun untuk mengusap wajahnya kasar dan menopangkan tangan di atas meja. “Aku tidak sadar.” Ia berhenti sebentar sebelum akhirnya kembali menatap Seungwoo dengan panik. “Janjiku dengan Jiha.”

Seungwoo sudah menduga hal itu. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap Byungchan prihatin. “Kau nampak kelelahan, Byungchan.” Seungwoo bersedekap di depan dada. Membuat Byungchan berpikiran bahwa sang suami sedang marah, walau nyatanya tidak.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri. Sudah satu minggu kau tak berpaling dari pekerjaanmu.” Singgung Seungwoo pada tabiat Byungchan akhir-akhir ini. Dari pertama membuka mata hingga menuju tidur, pria itu memang tak bisa lepas dari laptopnya.

Byungchan mengangguk paham, ia menggigit bibir dalamnya dan bertopang dagu di atas meja. “Itu … pekerjaanku sedang menumpuk.” Byungchan menghela nafas lelah dan melempar pandangan pada rak kecil di sisi lain tempat tidur tempat bingkai-bingkai foto dipajang. “Timnya Hanse mendadak harus pergi meliput berita di Busan. Lalu ketua redaksi meminta timku untuk mengerjakan pekerjaan mereka.”

Tanpa bermaksud berlebihan, baru kali ini Byungchan membicarakan duduk perkara kesibukannya selama satu minggu ini. Membuat Seungwoo mengangguk paham walau ada rasa terkejut yang kentara. “Ini pekerjaan Tim?”

Byungchan mengangguk.

“Lalu bagaimana dengan anggotamu yang lain?” tanya Seungwoo dengan nada selembut mungkin tanpa mengintimidasi. Tak ingin membuat konflik baru karena beradu argumen dengan Byungchan yang lelah juga tidak akan menghasilkan apa-apa.

Maka Seungwoo hanya bisa terus mengorek informasi. Berusaha mengetahui segala fakta yang ada sebelum menentukan penyelesaian.

“Mereka sudah melakukan tugasnya.” Byungchan memeluk dirinya sendiri, mengusap lengannya tanpa makna dan mengambil jeda dengan memandang sang suami. Memperhatikan bahwa Seungwoo malam ini terlihat tampan dengan balutan kemeja santai dan kacamata yang bertengger di tulang hidungnya. “Hanya saja, aku merasa ada yang ….”

Selama sedetik mencerna kalimat Byungchan yang tersendat, Seungwoo segera menyadari sesuatu.

Ia tersenyum lembut, “terasa ada yang kurang, Byungchan?”

Pria itu menjentikkan jari. “Benar.” Ia memandang lagi laptopnya untuk menatap lekat dokumen yang sudah ia otak-atik seharian ini. “Aku merasa ada yang kurang.”

Baik, jika begini Seungwoo sudah mengerti duduk perkaranya.

Maka ia mengangguk pelan, kembali berusaha memastikan dugaan dalam kepalanya dengan sebuah kalimat yang murni diucapkan tulus untuk membantu, “Perlu bantuan?”

Sesuai yang Seungwoo duga, Byungchan menggeleng. “Tidak perlu, Sayang.” Ia turut memberikan senyum lembut pada Seungwoo. Menghadirkan dua ceruk dalam pipinya dan memandang sang suami sebagai pengalih penat yang paling membahagiakan.

“Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ini.” ia beralih memandang laptopnya lagi dan melihat pada tombol gulir halaman dan mengetahui tinggal sepuluh lembar tersisa untuk ditinjau ulang. “Lalu aku akan keluar dan bermain bersama Jiha.”

Seungwoo berusaha meyakinkan lagi. “Yakin? aku bisa membantumu jika kau mau.”

Byungchan kembali memberikan penolakan lewat gelengan kepala dan senyum manis, “Sepuluh menit lagi aku selesai.” lalu ia memasang wajah memelas yang Byungchan bisa, melebarkan mata dan menekuk bibirnya berpura-pura, “tolong hibur Jiha, ya, Sayang?”

Maka Seungwoo mengangguk, “Sepuluh menit, Byungchan.”

Suaminya mengangguk bersemangat, Seungwoo telah memberi toleransi lagi dan berdiri. Berniat segera pergi karena tak ingin menganggu Byungchan. Namun pria dengan mata sebulat kuning telur itu memanggilnya yang sudah sampai di muka pintu.

“Kenapa, Byungchan?”

Dengan sinar laptop yang membuat bias bayang-bayang wajah Byungchan terlihat semakin menggemaskan, ia menunjuk pipinya sendiri, “Satu ciuman agar pekerjaanku cepat selesai?”

Hal itu membuat Seungwoo tertawa kecil. Berkacak pinggang sebagai ekspresi melihat raut gemas, lalu ia berjalan lagi mendekat. Meraih pundak Byungchan dengan usapan lembut dan memberi satu kecupan pada setiap pipi dengan ceruk dalam tersebut.

“Semangat bekerja, Sayang.”

“Terimakasih,” Byungchan mengulas senyum hingga matanya terpejam. Tak mengetahui bahwa rangkaian kemungkinan dan solusi sudah terangkai matang di kepala Seungwoo.

 

.

.

.

 

Seungwoo menghela nafas kecil, selepas ia menutup pintu. Diam selama beberapa detik di hadapan kayu lebar tersebut sebelum kepalanya yang sejak tadi bekerja sudah menemukan penyelesaian. Semoga saja berhasil.

Tangannya terulur meraih ponsel di dalam saku celana. Seungwoo menggerakkan jarinya untuk membuka salah satu kontak yang terakhir kali ia hubungi satu minggu yang lalu untuk menanyai kabar pria tua itu.

Beberapa lama menunggu, ada nada sambung yang menemani. Hingga pada detik kesekian, telepon diangkat dan seseorang dengan suara serak menyambut.

Halo, Seungwoo.”

Seungwoo tersenyum, suara tua ayahnya masih sama saja sejak dahulu. “Halo, Ayah.” Mengingatkannya pada banyak nasehat yang membantu Seungwoo sampai pada titik ini; kenangan lama yang manis. Tetapi sayangnya, Seungwoo tak punya waktu untuk berbasa-basi. Maka ia segera menuju pada inti permasalahan. “Ayah, boleh aku minta bantuan?”

Ayah Han menjawab cepat, “Apa yang bisa pria tua ini bantu, putraku?”

“Jika ini tak terlalu malam, apa boleh Jiha bersama dengan Ayah dan Ibu dahulu sementara waktu?” Seungwoo menjeda sebentar kalimatnya. “Ada yang harus aku urus dengan Byungchan.”

Diseberang sana, Tuan Han tertawa. “Sudah lama aku tidak bertemu cucuku, kau tinggalkan selama satu minggu juga bukan masalah.”

Sejujurnya, masih ada rasa tak enak hati masih merepotkan ayahnya, apalagi mengurus bocah cilik itu bukan urusan yang mudah, Seungwoo tahu sendiri. “Tetapi jika Ayah tidak bisa, atau punggung Ayah sakit lagi … tidak apa-apa untuk menolak.”

Lagi-lagi, Ayah Han terkekeh keras, “Jangan meremehkan Ayahmu. Rasanya aku masih bisa menggendongmu dengan punggung ini, Han Seungwoo.”

Seungwoo ikut tertawa, “Tetapi aku serius, Ayah.”

Aku juga serius, anak muda.” Ayah Han kembali menjeda, “Lagi pula, di dekat rumahmu aku lihat ada pusat trampolin. Jadi mungkin Jiha mau diajak ke sana.”

Seungwoo mengehela nafas lega, satu rencananya sudah terlaksana, “Baiklah, aku akan berbicara dengan Jiha dahulu. Sampai jumpa, Ayah.”

Lalu telepon terputus. Membuat Seungwoo segera bergegas menuju langkah selanjutnya.

Kaki panjangnya menjauh dari pintu kamar, memasuki kembali ruang keluarga untuk melihat Jiha yang masih memasang raut sendu bersama boneka beruang kesayangannya.

“Halo, putri kecil Ayah.” Menjadi kata sambutan penuh senyum lebar yang Seungwoo ucapkan saat kakinya memasuki ruang keluarga. Berhadapan kembali dengan sunyi dari suasana hati Jiha.

Rupanya pemilik pipi bertumpuk itu masih nampak lesu, enggan mendongak hingga Seungwoo yang masih berdiri tak bisa menahan gemas oleh pose lucu putrinya—mati-matian ia menahan diri untuk tidak menggigit pipi itu.

“Jiha,” Seungwoo duduk bergabung bersama gadis dengan gaun kuning cerah itu di atas karpet, menekuk dua kaki panjangnya dan merentangkan tangan dengan senyum lebar. “Yakin tidak mau peluk Ayah?”

Mendengar tawaran tersebut, Jiha nampaknya tertarik. Ia mendongakkan kepala dengan tangan masih memilin dasi bermotif milik Tuan Harold sebelum akhirnya menyerah dan beranjak, berlari kecil menabrak dada sang ayah dengan kepalanya yang ia sandarkan pada pundak Seungwoo.

Posisi mereka berpelukan, Jiha yang duduk di atas pangkuan Seungwoo dan Seungwoo yang kini mengelus rambut panjang putrinya. Menikmati aroma sampo bayi beraroma apel.

“Jiha menunggu Papa, ya?” tanya Seungwoo langsung. Pria Han itu mengubah posisinya sebentar, mundur beberapa langkah dengan tubuh masih memeluk Jiha yang setia menempel hingga punggungnya bersentuhan dengan kaki sofa untuk bersandar.

“Papa janji akan main setelah ini.” lirih kecil bibir si gadis. Ia tak melepaskan pegangan pada bonekanya dan enggan bangkit dari dada sang ayah.

Hal itu membuat Seungwoo menghela nafas tak tega. Byungchan janji akan keluar dalam sepuluh menit lagi, ia menoleh pada jam dinding yang dipasang di atas televisi. Namun berani bertaruh, Byungchan kali ini tidak akan tepat waktu.

Satu tahun sebagai sepasang kekasih dan lima tahun lebih dalam pernikahan membuat Seungwoo hafal dengan benar kebiasaan pria dengan senyum manis yang selalu mengiringi tersebut.

Maka dari itu Seungwoo akan menyelesaikan masalah yang ada sebelum semakin terlambat.

“Jiha rindu kakek dan nenek, tidak?”

Mendengar dua orang yang selalu memberinya uang saku itu, Jiha menengadahkan kepalanya dengan mengerjap lucu. “Rindu. Sudah lama tidak bertemu.”

“Jika begitu,” Seungwoo mengusap lagi surai legam yang ternyata sudah sepanjang pinggang putrinya, dilanjut dengan gerak tangan yang menangkup pipi Jiha hingga membuat bibir anak itu terhimpit. Gemas. “Bagaimana jika kakek berkunjung hari ini?”

Seketika, tak ada lagi sayup lesu dari gadis cilik tersebut. Ia bertepuk tangan kecil penuh semangat. “Sungguh?”

Seungwoo mengangguk, “Untuk malam ini, Jiha sama kakek dan nenek dulu, ya?” Seungwoo berpura-pura berpikir, mengetukkan jemarinya pada dagunya sendiri dan melanjutkan, “Kata kakek, ada permainan trampolin baru di dekat sini.”

Jiha semakin mengangguk bersemangat melebarkan matanya, membuat retina itu semakin bersinar terang karena mendapat pantulan cahaya. “Mau.”

“Baiklah, sekarang Jiha ambil mantel.”

Tak perlu menunggu waktu lama lagi, gadis cilik itu meninggalkan bonekanya di pangkuan Seungwoo dan berlari semangat menuju kamarnya.

Memberi Seungwoo kesempatan untuk meraih ponselnya dan menghubungi nomor yang tertera di riwayat panggilan paling atas. Mengabari dalam pesan teks bahwa cucu mereka sedang bersiap dan tak sampai beberapa detik Kepala keluarga Han itu membalas mereka sedang dalam perjalanan.

Langkah satu lagi telah selesai, dan kali ini Seungwoo akan bergerak menyelesaikan tahap terakhir.

 


 

Terhitung, ini sudah ke sepuluh kalinya Byungchan terus berkutat dengan kalimat penutup. Jemarinya tak kunjung berhenti mengganti setiap diksi yang ada seiring dengan kepalanya yang mengatakan bahwa kalimat itu tidak tepat.

Tetapi, setidaknya sudah enam artikel yang minggu ini ia selesaikan. Tersisa empat lagi yang mungkin akan ia pikirkan besok.

Byungchan mengambil nafas sebentar, memijat tulang hidungnya dan menengadah ke atas, berusaha memberi jeda pada kedua matanya dari radiasi sinar laptop yang melelahkan.

Jika bisa jujur, Byungchan akan dengan lantang mengatakan bahwa kenaikan jabatannya di minggu pertama ini sudah sangat melelahkan. Walau sebenarnya bukan salah siapa-siapa juga karena Byungchan juga tidak protes saat ketua redaksi memberikannya pekerjaan dua kali lipat.

Sebut saja Byungchan aneh, tetapi ia benar-benar menikmati pekerjaannya ini.

Hingga membuatnya tak sadar bahwa jam digital di mejanya baru saja berkedip dengan bunyi bip yang cukup nyaring. Seketika, bunyi itu membuat Byungchan terkejut, ia yang sedang menyandarkan punggung di kursi segera duduk tegap terburu-buru.

Menyadari bahwa bunyi bip itu hanya terjadi tiap tiga waktu. Jam dua belas siang, jam enam sore dan jam sembilan malam, seperti sekarang.

“Astaga,” Byungchan berlari panik. Tak mempedulikan laptopnya yang masih menyala, ia keluar dari kamar tidur sekaligus ruang kerjanya, membuat harap-harap cemas dan rasa tidak enak karena ia baru saja melanggar janji dengan putri dan suaminya.

Byungchan janji akan keluar dalam sepuluh menit, yang kacaunya Byungchan baru menyadari itu setelah satu jam berlalu.

Ia keluar kamar dengan tatapan gelisah, Jiha sudah mengalami suasana hati yang buruk tadi. Maka matanya menjelajah seisi rumah, melihat lampu ruang makan dan dapur yang sudah mati sesuai kebiasaan, menyisakan satu penerangan utama di ruang televisi.

Byungchan sedikit berlari, menggunakan celana kotak-kotak rumahannya dan semakin terkejut saat hanya melihat Seungwoo yang sedang duduk di atas sofa bersama dengan lembaran kertas yang sedang dibaca, tanpa ada tanda-tanda Jiha dimanapun.

Byungchan mengusak rambutnya kasar, “Jiha di mana?”

 Seungwoo meletakkan kertasnya di atas meja kaca yang memiliki motif bunga pojok seperti pada sofa. Ia melepaskan kacamata minusnya dan mendongak memandang Byungchan yang masih panik mencari putri mereka.

“Jiha sedang bersama dengan ayah dan ibuku.”

Mendengarnya, Byungchan terperangah selama beberapa detik, aku mengacaukan segalanya.

Pria itu jatuh terduduk di samping Seungwoo, bertopang kedua siku diatas paha dan mengusap wajahnya kasar. “Oh tidak ….”

Berlawanan dengan ekspresi Byungchan, Seungwoo diam-diam tersenyum. Ia menggeser duduknya dan meraih tangan Byungchan yang masih menangkup wajahnya sendiri. “Byungchan,” pria itu bersuara lembut.

Membuat sang pemilik nama yang nampak murung mendongak, melihat suaminya dengan tatapan bertanya karena pria itu tak nampak marah. Harusnya ia marah, Byungchan sudah mengacaukan segalanya.

Namun mendadak perasaan bersalah itu secepat kilat menjadi perasaan cemas. Byungchan reflek berdiri kembali, “Jiha pasti kedinginan. Bagaimana dengan bajunya? Anak itu mudah sekali pilek dicuaca malam. Sial, aku belum—,”

Seungwoo menyela ujaran panik suaminya, “Byungchan, duduk.”

Namun pria jangkung itu menolak, “Tidak, bagaimana jika ia sakit atau—,”

“Jiha sudah menggunakan mantel, aku juga berpesan pada ibu dan ayah bahwa dia tidak bisa kena angin malam, mereka tidak mengajaknya ke area outdoor. Aku juga sudah menitipkan kotak pertolongan pertama seperti yang biasa kau lakukan jika kita pergi bersama.” Seungwoo masih tersenyum lembut, menepuk kembali tempat Byungchan duduk sebagai isyarat, “sekarang duduk, aku ingin bicara.”

Byungchan kehilangan kata-katanya, ia tak mengetahui jika suaminya sudah siaga seperti itu untuk keperluan Jiha, “Kau yakin tidak ada yang tertinggal mengenai Jiha?”

Seungwoo mengangguk, “Sepenuhnya yakin. Biarkan gadis kita bersenang-senang dengan kakek dan neneknya.”

Tak sampai di sana, Seungwoo mengambil sesuatu dari balik tubuhnya. Sesuatu berbahan lembut dan berwarna coklat tua, bersamaan dengan kain panjang berwarna hitam dengan motif kotak-kotak putih—itu mantel dan syal Byungchan.

“Cuaca diluar sedang tak terlalu dingin, mari kita pergi sebentar.”

Ajakan tersebut segera mendapat gelengan pasti dari Byungchan, walau pria itu sudah memegang pakaian hangatnya, ia menutup matanya dengan helaan nafas berat. “Tidak bisa, Sayang.” Byungchan meletakkan pakaiannya lagi di atas meja. “Pekerjaanku belum selesai. aku harus menyelesaikannya.”

“Byungchan, tenang.” Seungwoo meraih lagi ruas-ruas jari suaminya yang panjang, menggenggamnya hangat dengan senyum lembut dan dua mata yang menatap lekat. “Langit tak akan runtuh jika kau meninggalkan pekerjaanmu sejenak saja.”

“Tapi, aku—”

“Tak akan lama, aku berjanji.” Seungwoo memohon, “Satu jam saja, berjalan bersamaku. Kita sudah lama juga tak menghabiskan waktu berdua.”

Byungchan tak segera menjawab, ia menimbang banyak hal di kepalanya. Satu sisi pekerjaannya nyaris sedikit lagi selesai, namun di sisi lain suatu suara di dalam kepalanya berkata ia harus menuruti Seungwoo.

Ia sendiri juga merindukan suaminya.

Maka dari itu Byungchan mengangguk ragu, “satu jam saja.”

“Tentu, suamiku.”

 

.

.

.

 

Byungchan berpikir, jika bukan kawasan sentimental seperti tower Namsan, mungkin Seungwoo akan mengajaknya makan malam. Sederhananya, kencan malam sesuai kebiasaan mereka.

Tetapi ia sama sekali tak mengetahui apa yang dipikirkan Seungwoo saat pria itu memarkirkan mobil Mazda putih milik mereka di salah satu bahu jalan di distrik Jung-gu yang tak terlalu jauh dari kediaman mereka.

Seungwoo hanya tersenyum kecil, melepaskan sabuknya dan mengajak Byungchan turun.

“Kita akan kemana?” tanya Byungchan masih tak mengerti, berulang kali memandangi gedung sekeliling yang hanya berisikan pusat perbelanjaan dan beberapa kedai kopi kecil. “Jika kau mengajakkku berbelanja, isi dapur masih penuh, Seungwoo.” Tutur Byungchan menjelaskan.

Namun Seungwoo yang baru saja mengunci mobil mengambil tangan Byungchan dan menggenggamnya lembut. Mengalirkan rasa hangat untuk berbagi panas tubuh pada suhu di bawah tujuh belas derajat selsius.

Sebuah pikiran ajaib memang keluar di awal-awal musim dingin seperti ini.

“Ikut saja, ya?” Seungwoo menjawab singkat, “sejak menikah kita sudah tak pernah berjalan bersama seperti ini.”

Keduanya memiliki perbedaan tinggi yang tak jauh berbeda, yang jika tidak diamati dengan baik orang-orang tak akan sadar jika Byungchan sedikit lebih tinggi. Hal itu membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian para pejalan kaki lain.

Byungchan dengan kaus putih polos rumahannya yang dipadu manis oleh mantel coklat sebatas lutut dan syal hitam senada dengan celananya. Berdiri bergandengan tangan dengan Han Seungwoo, yang tampil memukau walau ia hanya mengenakan kemeja rumahan dan mantel marun.

Atau mungkin sebenarnya Seungwoo yang mendapat pusat perhatian.

“Seharusnya aku menggunakan masker tadi.” Keluh Byungchan yang kini menyadari berapa banyak tatapan yang mereka dapatkan. Terlebih dari banyaknya gadis yang berpapasan dengan mereka, tak jarang menunjuk-nunjuk Seungwoo dengan decak kagum yang sengaja disuarakan.

“Aku lupa jika kau tengah mengerjakan film barumu.” Byungchan menyembunyikan mulutnya dibalik Syal, “Sutradara Han Seungwoo yang sedang naik daun. Jelas sekali akan menjadi pusat perhatian.”

Sebenarnya, Seungwoo sendiri juga menyadari hal itu. Dirinya sudah berkiprah di dunia balik layar sejak 2014 dengan sebuah film drama-romansa yang berhasil menduduki peringkat pertama dalam bar pencarian Naver. Lalu disusul dengan film-filmnya lain yang tak pernah luput dari penghargaan, hal itu membuat Seungwoo cukup di kenal di beberapa kalangan masyarakat.

Apalagi kabar mengenai filmnya mendatang telah tersebar. Hampir semua portal berita berisikan ‘Sutradara Han sang jenius film telah mengumumkan kerja sama dengan produser terkenal!’

Namun seolah itu bukan masalah, Seungwoo mengembangkan senyumnya dan menarik Byungchan mendekat. “Entah aku sutradara, pemain film, pengisi suara atau tim efek khusus. Apa itu menjadi masalah untukmu?”

Byungchan mengangguk tak bersemangat, “Bukan kau masalahnya. Tetapi mereka.” Byungchan ingin sekali menyembunyikan suaminya atau memasang tulisan besar-besar bahwa kami sudah menikah, lagi pula ia benci menjadi pusat perhatian, menjelaskan bahwa dirinya lebih nyaman menjadi pegawa kantoran biasa.

“Ayolah, Byungchan. Seharusnya ini menjadi kencan dadakan yang menyenangkan.” Seungwoo mengajak Byungchan berbelok pada sudut yang tak terlalu ramai. Menuju ruas pejalan kaki yang lebih luas penuh dengan pohon-pohon kecil disetiap beberapa meter. “Lagipula mereka hanya bisa memandangiku, sedangkan kau di sini menggenggam tanganku.”

Memang, bukan Seungwoo jika tidak bisa mendapati kelemahan Byungchan.

Pria itu semakin sibuk menyembunyikan wajahnya dibalik lilitan kain penghangat tersebut, masih merasakan udara yang cukup dingin walau kini ia merasa pipinya begitu panas.

Lima tahun pernikahan, bukan berarti ia bisa mengatasi sisi manis Seungwoo begitu saja.

Byungchan berdeham, “Jadi, kita hanya berencana terus jalan seperti ini?” yang sesungguhnya hanya pengalihan dari ia yang sibuk merasa malu. Namun walau begitu ia tetap merapatkan tubuh pada sang suami.

“Sebentar, Byungchan.” Seungwoo mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Memperhatikan sekeliling sebelum matanya memandang fokus pada satu titik.

Byungchan mengikuti arah pandanganya. Pada satu objek bangunan kubus dengan corak garis-garis vertikal di bahu jalan bersamaan dengan kendaraan-kendaraan kuning yang terparkir. Beruntung karena ini sudah cukup larut dan terhitung memasuki musim dingin sehingga tak terlalu banyak orang yang memperlambat jalan mereka.

“Nah, sampai.” Ujar Seungwoo dengan bangga menunjukkan kubus tersebut. Membuat Byungchan membaca huruf yang ditempel besar-besar bertuliskan ‘Seoul City Tour Bus’.

Berbeda dengan Seungwoo yang menunjukkannya dengan antusias, Byungchan masih menatap bingung berulang kali bangunan tersebut dan menatap Seungwoo.

“Kita akan naik bis ini dan keliling kota.” Seungwoo meremas genggaman tangan mereka berdua menyalurkan rasa antusias.

“Tapi, Seungwoo.” Byungchan memandangi bangunan unik itu lagi, melihat pada jendela terbuka sebagai loket dan beberapa lembaran putih ditempel yang ia duga adalah daftar harga. “Jika kau lupa kita sudah mendiami kota ini dari masih menyandang marga masing-masing hingga Jiha sudah sebesar itu.” Byungchan kembali melanjutkan, “sudut kota mana lagi yang harus kita lihat?”

Seungwoo tak terkejut dengan jawaban suaminya. Alih-alih memasang wajah heran, Seungwoo tertawa keras. Suaminya masih saja sama, tuntutan kesempurnaan dan kerja logikanya yang tak pernah berhenti, selalu membuat Seungwoo tertawa.

“Byungchan,” Suara Seungwoo tak terdengar terlalu jelas karena deru kendaraan yang lewat, “Malam ini kita akan kencan dengan caraku, oke?”

 Dengan alasan itu, Byungchan kalah telak, ia tak bisa menolak. “Baiklah.” Ia masih menggenggam telapak Seungwoo. “Kita akan melakukannya dengan caramu.” Ucapnya pasrah mengikuti Seungwoo berjalan menuju loket.

Melepas genggaman mereka karena Seungwoo yang mengeluarkan dompetnya menyodorkan dua puluh empat ribu won dan ditukarkan dengan dua tiket. Seungwoo nampak gembira sekali, terlihat dari jemarinya yang mengepal erat dan senyum yang tak kunjung luntur, “Kita tidak terlambat, bis terakhir akan berangkat sepuluh menit lagi.”

Keduanya lantas segera naik. Memilih bus kedua dari total lima yang berjejer, Byungchan sempat memperhatikan bahwa warna kuning bus itu ternyata jauh lebih cerah dari yang biasa ia perhatikan di jalan—sejujurnya, ini pertama kalinya Byungchan menaiki bis wisata ini, karena toh pikirnya buat apa. Ia sudah seperti warga lokal, maka Byungchan tidak ingin menghabiskan uang pada perusahaan pariwisata yang terhitung masih baru ini.

Bis itu dari luar nampak memiliki dua tingkat seperti bis merah London, namun di dalam hanya ada satu tingkat yang hanya bisa diakses dengan menaiki tujuh anak tangga. Sehingga saat mereka sampai di deret tempat duduk, ia seolah berada di lantai dua.

“Kita duduk di luar saja ya?” ucap Seungwoo yang segera diiyakan oleh Byungchan. Pria itu tak masalah merasakan dingin sedikit, lagi pula suhu seperti ini bukan suhu terburuk yang akan ia benci.

 Deret tempat duduk tersebut memiliki dua bagian. Bagian depan diisi oleh tempat duduk dengan atap yang menaungi, lalu setelah lima baris kursi ada pintu kecil pemisah menuju deret tempat duduk lain tanpa atap yang menghalangi.

Seungwoo ingin yang tanpa atap.

Mereka akhirnya berjalan keluar dari bagian beratap tersebut, bersamaan dengan satu keluarga kecil lain, Seungwoo dan Byungchan mengambil deret kedua dari paling belakang. Duduk bersama dengan pinggul yang sengaja berdempetan.

Dari titik yang cukup tinggi ini, Byungchan melihat ke bawah, ke arah lalu lintas yang tak terlalu padat dan barisan gedung-gedung tinggi lain yang menghiasi langit malam. Tempat duduk lainnya kosong, sehingga membuat suasana tenang semakin ia rasakan.

“Seharusnya kita juga mengajak Jiha ke sini.” Tutur Byungchan memperhatikan anak dari keluarga kecil itu nampak duduk dengan senang, berulang kali menepuk tangannya dan menyuarakan kapan bis ini akan berangkat.

“Sesekali mengembalikan waktu romantis tidak ada salahnya, Byungchan.” Seungwoo bersandar manja pada bahu suaminya, “Aku selalu membagi kau untuk Jiha dan pekerjaanmu. Malam ini aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Satu lagi kalimat manis dari Seungwoo yang selalu memiliki efek tersendiri untuk Byungchan. Menikahi seorang pria manis ternyata tidak pernah mudah.

“Baiklah,” Byungchan menolehkan kepalanya memandang ke arah jalanan. Menikmati semilir angin yang menyapa wajahnya dengan hati yang menghangat berlawanan dengan cuaca yang dingin.

Ia menikmati kepala Seungwoo yang masih bersandar nyaman di bahunya. Bagaimanapun, apa yang Seungwoo katakan tadi memang benar. Kehidupan dewasa memang bukan hal yang menyenangkan. Namun bukan berarti Byungchan tidak bahagia.

 Walau lelah, ia bisa menjamin seratus persen jika bisa menukar alur kehidupan pun, Byungchan akan dengan bangga mempertahankan kehidupan rumah tangganya ini. Seungwoo adalah sosok yang tak kalah sibuk sebenarnya, ia bisa tak pulang berminggu-minggu karena lokasi syuting diluar kota atau luar negeri, ia yang terkadang harus menerima banjiran telepon dalam hari-hari dirumah karena staff properti yang mengalami masalah, dan dengan segala hiruk pikuk kehidupan tersebut, Seungwoo masih bisa menjadi suami dan ayah yang baik.

Tidak, Byungchan bukan dalam fase mabuk cinta yang akan membicarakan segala hal baik tentang pasangannya. Tetapi memang benar begitu adanya. Seungwoo itu terlewat sempurna.

Seungwoo yang tak pernah mau membangunkan Byungchan saat ia lapar tengah malam, Seungwoo yang memilih menjernihkan kepalanya setiap mereka terlibat adu emosi, Seungwoo yang selalu bisa menjadi pendengar dan teman cerita yang baik, Seungwoo yang tak pernah menampilkan masalahnya di depan ia dan Jiha.

Seungwoo sungguh pria sempurna.

Seungwoo yang sempurna, menjadi suami dari ia yang memiliki banyak kekurangan.

Terlalu hanyut dengan pikirannya, Byungchan sampai tak memberi perhatian pada bunyi pintu bis yang mulai tertutup di bawah. Sehingga saat bis ini mulai melaju, tubuhnya hampir tersentak ke belakang.

Setelah mobil panjang tersebut sudah melaju dengan kecepatan stabil pada sisi jalan yang sepi, Byungchan memejamkan mata sebentar, menikmati tiupan angin yang lebih ramah pada kulitnya yang sudah cukup lama tak terkena udara luar—semua tolong salahkan pekerjaannya yang seolah tak pernah habis.

Memang, rasanya membahagiakan saat Byungchan berjuang sedemikan panjangnya untuk meraih posisinya yang sekarang. Dimulai oleh ia beberapa tahun yang lalu datang ke kantor itu dengan semangat secerah matahari—kata sang personalia—lalu kini Byungchan yang berhasil menjadi ketua tim, semua itu terasa memuaskan. Ia berhasil berjuang dengan usahanya sendiri.

Ia tak akan melupakan banjiran ucapan selamat yang ia terima saat baru mendapati jabatan tersebut. Dari Hanse yang datang membawakannya kopi dan memberikan salam hangat untuk bekerja sama lalu beberapa atasan yang Byungchan kenal dengan baik datang ke ruangannya sendiri untuk memberi selamat.

Byungchan tak akan pernah melupakannya.

‘Kau adalah aset perusahaan. Tetap pertahankan seluruh pekerjaanmu yang sempurna dan mungkin aku akan mempertimbangkan kau menjadi karyawan terbaik sepanjang tahun’ ujar kepala Jang kala itu.

Perhatian Byungchan jatuh pada bangunan apartemen yang berjejer membentu pola garis-garis dengan lebar yang sama. Yang setiap sisinya diisi oleh barisan pohon lebat hingga membuat pola teratur yang sangat ia sukai.

Byungchan sangat menyukai pekerjaannya, sesuatu yang ia impikan sejak di bangku sekolah memang. Apalagi dengan mengingat-ingatnya pada malam tanpa bintang ini menjadikannya dua kali lebih melankolis.

Tak menyangka bahwa dirinya bisa sampai di titik ini. bersamaan dengan membuka mata dan menikmati jalanan kota yang lainnya. Sebuah jembatan yang berdiri di atas sungai dengan segala sisi yang memiliki penerangan warna merah.

Jembatan Hanggang.

Seberkas memori akhirnya menyambangi kepalanya, jembatan ini ia ingat sekali.

“Seungwoo, bagaimana jika nanti anak-anak tidak ada yang menyukaiku?” ujar Byungchan menggigit bibir dalamnya gugup, meremas lengan baju suaminya yang masih sibuk menyetir, tak mengetahui jika pria Han itu memasang senyum memperhatikan Byungchan yang masih panik.

“Memangnya kenapa nanti anak-anak di sana harus tidak menyukaimu?” Seungwoo membuat kecepatan stabil pada angka enam puluh kilo meter per jam untuk menyusuri jembatan tersebut.

“Itu mungkin saja. Mereka pasti tahu jika niat orang dewasa seperti kita ke sana adalah satu. Menjadi orang tua mereka. Bagaimana jika mereka tak menyukaiku? Melihatku sebagai calon Papa yang jahat?”

Seungwoo melepaskan satu genggamannya pada setir kemudi. Mengusak surai pria yang sudah menyandang status sebagai pasangannya selama setahun terakhir. “Seingatku yang berprofesi sebagai sutradara di sini adalah aku, Byungchan. Kenapa kepalamu yang dipenuhi oleh skenario dramatis itu?”

Seungwoo memasang lampu sennya ke arah kiri saat ujung jembatan telah terlihat. “Intinya yakin saja, kau berniat baik dan mereka pasti akan melihat hal itu.” Seungwoo membelokkan mobilnya pada sebuah rumah bertingkat dua yang tak terlalu besar, memarkirkan mobil pada bahu jalan sebelum memasang rem tangan dan mengusap tangan Byungchan yang masih nampak gugup.

“Niatmu untuk menjadi orang tua sudah sangat baik Byungchan, yakin itu.”

Lalu mereka berdua keluar. Sama-sama menghirup udara musim gugur yang sedikit berdebu sebelum kaki panjang Byungchan melangkah naik pada anak tangga. Meremas tangan suaminya hingga mereka berdua sudah berada di depan pintu.

Membaca sedikit tulisan di depan pintu dengan cat yang sudah terkelupas, mengiringi Byungchan untuk menelan salivanya berat, “Yayasan panti asuhan Gyeonghamun.”

Seungwoo mengetuk pelan, masih mendampingi suaminya yang tak berhenti gemetar dan menunggu pintu terbuka. Menampilkan seorang wanita di akhir tiga puluhan yang tersenyum manis ke arah mereka.

“Ah Tuan Han, silahkan masuk.” Ujarnya menyapa Seungwoo selaku pembuat janji temu hari ini. Mengajak keduanya masuk pada interior yang menunjukkan unsur hangat seperti pemilihan beberapa ornamen berbentuk hewan laut di ujung ruangan, terdengar gemuruh tawa dan suara berisik lain dari dalam ruangan, membuat Byungchan semakin bisa melihat potret apa yang tengah dilakukan anak-anak itu.

Byungchan sudah bersiap, ia akan menampilkan senyum seramah mungkin pada anak-anak nanti. Ia harus membuat kesan yang baik walau jantungnya berdegup cepat.

Detak jantung itu semakin tak karuan saat derap langkah terburu-buru terdengar dari dalam ruangan, menghadirkan sosok gadis cilik yang berlari dengan memeluk boneka beruangnya, memeluk sang wanita dengan dekapan erat sebelum matanya mengintip untuk melihat pada Seungwoo dan Byungchan.

Ia memiliki mata yang bulat seperti milik Byungchan, alisnya terlihat jauh lebih lebat dari orang Korea umumnya dan rambut panjangnya yang diikat di kanan-kiri, memandang keduanya dengan penasaran.

Lalu tak lama ia tersenyum, menyapa tamu dengan membukkukan badan Sembilan puluh derajat dan tertawa melalui suaranya yang nyaring. “Paman baunya seperti Tuan Harold. Bau apel.”

Itu pertama kalinya Byungchan melihat Jiha.

“Aku tidak tahu jika bis ini akan melewati panti asuhan.”

Byungchan berujar lirih, merapatkan syalnya karena udara yang menjadi sedikit lebih dingin. “Tak terasa sudah hampir lima tahun, ya?” Byungchan menatap dalam pada bangunan yang sama sekali tak berubah tersebut. Tak terlalu luas, dengan cat putih mendominasi dan anak tangga dari batu-batu alami.

Sekelebat potret itu membangkitkan masa lalu untuk Byungchan.

“Dulu Jiha kecil sekali, hanya mencapai lututku.” Byungchan terkekeh kecil, “Sekarang sudah bertambah besar lagi. Walau jika membuka pintu anak itu harus berjinjit.” Byungchan mengingat sekilas bagaimana tadi Jiha saat keluar dari kamarnya.

Ia bersusah payah berjinjit. Membuat kaki-kaki mungilnya terlihat bekerja ekstra dengan pipinya yang sudah seperti tumpukan pancake.

“Tadi Jiha bilang padaku, dia membantumu memasak?” Byungchan menoleh, menghadap Seungwoo yang saat ini mengangguk dengan senyum yang terbentuk.

“Hanya tugas sederhana. Mengaduk adonan. Sampai pipinya juga tercoreng oleh cairan kuning itu.” Sepertinya malam kali ini memiliki temanya sendiri. Sengaja menghadirkan atmosfer melankolis yang Seungwoo nikmati juga.

“Nanti saat pulang, jangan lupa coba kue panekuknya, ya?” Seungwoo mengamit telapak Byungchan. Sengaja ingin berbagi suhu tubuh untuk meredakan dingin yang semakin menjadi-jadi. “Biar Jiha senang.”

Rupanya, kalimat baru saja menjadi aliran listrik yang menyengat Byungchan. Mengingatkannya pada kejadian beberapa jam yang lalu saat pekerjaan yang ia senangi membuatnya tenggelam hingga melibatkan Jiha yang tak tahu apa-apa.

Byungchan tidak bisa mengehentikan bayangan Jiha yang saat itu tidak mau menatapnya, tak berkata apa-apa dan berlari keluar kamar. Total memberi tahu dirinya bahwa apa yang ia lakukan tidaklah benar.

“Seungwoo.” Byungchan berujar kecil, “apa aku harus berhenti dari pekerjaanku, ya?”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak ingin Jiha yang menjadi korban.”

 

.

.

.

 

Saat masih di bangku sekolah, Seungwoo memiliki gelar tetap dari teman-temannya. ‘Si pencair suasana’. Yang sebenarnya bukan tumbuh tanpa alasan, Seungwoo sendiri menyadari hal itu.

Karena entah bagaimana, dirinya selalu bisa membuat orang-orang menemukan jawaban dari pikiran mereka sendiri. Maka sama seperti sekarang, Seungwoo akan menggunakan kemampuannya itu untuk membantu suaminya.

“Kau sudah memperjuangkan segalanya untuk dapat duduk di posisi itu, Byungchan.” Seungwoo meraih bagian depan mantel suaminya, merapikan pakaian hangat itu untuk tertutup rapat menghindari angin malam. “Keluarga bukan alasanmu untuk mengubur semua mimpimu.”

Byungchan nampak merenungi segala perkataan Seungwoo baru saja. Matanya menatap kosong pada bagian depan bis lalu ia mengangguk, “Tetapi aku merasa bersalah pada Jiha. Minggu pertama menjalankan jabatan ini saja aku sudah mengacau.”

“Kau mau mendengar nasihat ‘pria tua’ ini atau tidak?” Seungwoo terkekeh, sengaja menekankan pada bagian pria tua sesuai kebiasaan Byungchan setiap kali ia tengah memberi saran.

“Sebenarnya di setiap masalahku itu aku butuh nasihat pria tua, tahu.”

Mendengarnya, Seungwoo merubah posisi. Duduk menyerong agar bisa menatap mata yang lebih muda. “Hidupmu adalah pilihanmu, Byungchan.”

Byungchan ingin berterimakasih pada banyaknya lampu jalan yang menerangi perjalanan malam mereka berdua. Karena bayang-bayang Seungwoo yang terus bergerak tersebut membuat senyumnya jauh terlihat lebih manis.

“Tetapi pada setiap pilihan terdapat konsekuensi yang nyata.” Seungwoo kembali melanjutkan, “Kau yang meminta Jiha hadir di hidupmu. Kau juga yang memilih mengejar jabatan itu hingga berhasil. Maka kau juga bertanggung jawab untuk memberikan porsi waktu dan pikiran yang adil dengan keduanya.”

Kata-kata itu berhasil masuk ke dalam kepala Byungchan, “Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, ya?” tanyanya yang hanya butuh afirmasi lebih pasti karena ia sendiri sudah tahu jawabannya.

“Jiha butuh Papanya. Tetapi Papanya juga butuh mengejar kebahagiaan. Semua itu bisa diraih, dengan porsi yang tepat tanpa mengorbankan salah satu.”

Sudah Byungchan bilang, bahwa meski akhir-akhir ini merasa lelah, ia berani bilang bahwa ini adalah kehidupan bahagia yang ia impikan. Terutama bagaimana berutungnya ia memiliki suami seperti Seungwoo yang selalu bisa meraih dirinya.

“Aku tahu, sejak tadi pekerjaanmu telah selesai. Hanya saja kau merasa harus menghadirkan kesempurnaan pada setiap kalimat yang kau kerjakan. Kau juga tahu jika mencapai kata sempurna adalah mustahil untuk setiap manusia.” Byungchan penasaran, dari mana pria ini bisa mendapatkan kata-kata puitis seperti itu.

“Benar,” Byungchan kembali mengangguk, “Jadinya aku hanya berputar-putar pada lingkaran yang tak pernah selesai.”

Seungwoo kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menoleh pada deret toko kecil dan beberapa tenda makanan pedas di depannya, “Kau bisa meraih keduanya jika kau mau, Byungchan.”

Jika ada orang lain yang mendengar percakapan mereka, mungkin ucapan Seungwoo hanya akan dianggap sebagai kata-kata motivasi tanpa spesial. Tetapi tidak untuk Byungchan, karena ia yakin sekali, Seungwoo menempatkan seluruh kepercayaan itu lewat kedua matanya.

“Apa aku bisa?”

“Tentu, aku menikahi orang hebat. Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan.” Seungwoo mengakhiri kalimatnya dengan tawa, “apa kau masih meragukan perkataan sutradara hebat ini?”

Seharusnya, Byungchan mengucapkan terimakasih sejak awal oleh pengemudi bis ini. karena kini dibawah langit tanpa bintang dan bis yang melaju stabil, Byungchan menyadari sesempurna apa hidupnya. Bodoh jika ia tidak menyadari hal itu.

“Nanti setelah sampai, kita langsung jemput Jiha, ya?” Byungchan merapatkan tubuhnya pada bahu sang suami. Mencium dalam-dalam aroma Seungwoo yang selalu manis seperti permen dan kuat dengan aroma karamel.

“Juga, terimakasih.” Ucap Byungchan bertopang dagu diatas bahunya, memandang Seungwoo dengan tatapan seribu arti dan senyum lebar menampakkan lubang pipinya

Byungchan mendekat, mengecupkan bibirnya sebentar pada belah bibir Seungwoo yang terlihat sedikit pucat malam ini, “terimakasih karena telah menjadi suamiku, Han Seungwoo.” ucapnya menyuarakan syukur, bahwa Seungwoo adalah sebaik-baiknya sayap pelindung saat ia melangkah terlalu jauh.

 


 

Seungwoo sudah menelepon ayahnya saat mereka memasuki kembali mobil mazda putih tersebut. Mendapat kabar bahwa orangtuanya dan Jiha memilih kembali ke rumah karena cuaca dingin yang semakin tidak bisa ditoleransi.

Maka saat kendaraan roda empat itu telah terparkir dengan rapi, Byungchan menarik Seungwoo tak sabar untuk masuk ke rumah ayah dan ibu mertuanya.

“Seungwoo, Byungchan.” Sapa sebuah suara serak dari dalam rumah—itu Ayah Han. Pria dengan rambut putih yang mulai menipis itu memeluk keduanya dengan senyum terkembang sempurna.

“Masuklah, di luar pasti dingin sekali.” seperti biasa, Tuan Han menyapa anak dan menantunya dengan ramah tamah. Menunggu dengan sabar Byungchan dan Seungwoo yang sedang melepaskan baju hangat mereka dan bersama-sama masuk ke dalam rumah.

“Ayah apa kabar?” tanya Byungchan saat keduanya sampai di ruang tengah. Memperhatikan jika rumah ini tak pernah berubah, dipenuhi oleh kenangan-kenangan sentimental. Seperti foto kecil Seungwoo, foto pernikahan mereka berdua hingga foto beberapa pernikahan dari kakak-kakak Seungwoo.

“Aku baik, Byungchan. Bagaimana dengan kau sendiri?”

Byungchan tersenyum lembut, “Aku baik, Ayah.”

“Lalu bagaimana, apa kalian sudah menyelesaikan ‘apapun yang harus diselesaikan’ tadi?”

Byungchan memandang sebentar suaminya, mendapati dari anggukan kecil itu bahwa sang ayah mertua tahu mengapa Jiha dititipkan padanya. “Sudah, Ayah.” Byungchan tersipu malu, “semua itu karena Seungwoo.”

“Jangan bilang jika anak ini menceramahimu seperti orang tua?” kekeh Ayah Han menepuk bahu Seungwoo. “Baiklah, jika begitu. Jiha ada di kamar. Gadis cantik itu gembira sekali saat sampai di pusat permainan tadi.”

Tak menunggu lama, Byungchan mengangguk berterimakasih dan berlalu meninggalkan mereka berdua.

Menyisakan dua pria dari keluarga Han dengan percakapan yang belum selesai.

“Kau sudah menjadi kepala rumah tangga yang hebat, Seungwoo.”

Seungwoo tertawa kecil, memandang punggung Byungchan yang saat ini telah menghilang di balik pintu. “Tanpa Byungchan, aku bukan apa-apa.”

 

.

.

.

 

Hal pertama yang menyambut Byungchan saat masuk ke kamar itu adalah aroma pinus yang kuat—sesuai kesenangan Ayah Han yang menggilai pepohonan. Kamar itu memiliki warna abu-abu muda pada setiap dinding dengan perpaduan langit-langit yang dicat putih. Lalu matanya di sambut oleh Ibu mertuanya yang sedang memeluk Jiha di atas tempat tidur.

“Halo, Ibu.” Ucapnya tersenyum ramah. Membuat wanita dengan rambut hitam dan beberapa helai berwarna putih itu tersenyum lembut, “Halo, Byungchan.”

Seperti telah mendapat komando khusus, ibu mertuanya turun dari tempat tidur, mengecup puncak kepala Jiha dan berpamitan, “Nenek keluar dulu ya, manis.”

Ibu Han mengedipkan satu matanya sebagai ucapan ‘semoga sukses’ sebelum beranjak keluar ruangan. Meninggalkan Byungchan dan Jiha yang masih enggan mengangkat kepala dan sibuk menatap bukunya yang memuat berbagai gambar.

“Jiha,” Byungchan perlahan mendekati gadis ciliknya, walau masih tak mendapatkan respon, Byungchan tak akan menyerah. “Sedang membaca apa?”

Sesampainya Byungchan di atas kasur, Jiha membalikkan badannya. Menyajikan punggung sebagai tanda jika ia masih marah dengan Byungchan.

Tanpa sedikitpun protes, Byungchan paham sekali mengenai hal itu, ia memang pantas ditegur.

Tetapi usaha Byungchan tidak sampai di situ saja. Ia kini berganti mendekati lagi untuk menengok apa yang sedang putrinya baca. Susah memang dengan dirinya yang berusaha tak terlalu banyak membuat pergerakan di atas kasur dan punggung Jiha yang menutupi. Namun ia berterimakasih pada tingginya yang melebihi seratus delapan puluh senti meter itu hingga sedikit melongok membuatnya bisa melihat jika buku itu mengenai tutorial melipat origami.

“Jiha tidak ingin berbicara dengan Papa?” mohon Byungchan sekali lagi. Berharap punggung kecil tersebut akan berbalik dan memperlihatkannya pipi pancake favoritnya itu.

Kepalanya sibuk memutar mencari solusi. Memikirkan sebaiknya cara seperti apa yang harus ia gunakan untuk setidaknya membuat si gadis kecil mau menolehkan kepala padanya.

Jarinya terus mengetuk seiring dengan kepalanya yang bekerja, memperhatikan tempat tidur tinggi ini memiliki kualitas kasur yang sangat nyaman—direkomendasikan untuk tulang punggung lansia yang sering bermasalah memang.

Hingga akhirnya sebuah ide membuat Byungchan menemukan jalan terang.

“Baiklah, jika Jiha tidak mau berbicara dengan Papa, Papa akan berbicara dengan burung saja.”

Tampaknya, usaha Byungchan sedikit membuahkan hasil. Jiha menoleh, tak sepenuhnya menghadap Byungchan tetapi matanya mengintip pada apa yang pria itu lakukan, “Mana burungnya?” lirihnya kecil dengan tatapan penasaran.

Gemas sekali, “Burungnya harus dibuat dulu.” Byungchan menengadahkan telapak tangannya, “Boleh minta satu kertas origami-nya?”

Tak peduli jika Byungchan sudah membesarkan Jiha selama beberapa tahun terakhir, ia akan selalu tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengigit pipi bertumpuk itu—tetapi untuk sekarang, ia harus menahannya.

Jiha mengangguk, membuat rambut panjangnya yang diikat di kanan kiri berayun sesuai dengan jemari kecil itu yang menyodorkan selembar origami kuning pada Byungchan.

Mengingat-ingat sebentar barisan cara melipat yang terakhir ia buat saat di bangku sekolah menengah, Byungchan segera melipat pada cara pertama, sembari ekor matanya memperhatikan si gadis cilik yang masih duduk di ujung kasur dan meletakkan atensi pada apa yang ia lakukan.

“Nanti kalau sudah jadi, burungnya mau dinamakan siapa?”

Jiha menoleh sebentar pada bukunya dan Tuan Harold yang berada di sampingnya. “Sepupu Harold.”

Byungchan nyaris tak bisa menahan rasa gemasnya, “Kenapa semuanya dinamakan Harold?” tanyanya mengisi percakapan sebagai jembatan baru meraih Jiha yang marah padanya. Mengingatkan kembali pada setiap barang yang akan diberi nama, Jiha selalu menyebutkan dengan embel-embel Harold yang lain.

“Biar Jiha tidak lupa.” Ujarnya kecil dengan kali ini merangkak mendekati Byungchan. Memperhatikan dengan tertarik pada kertas lipat yang mengecil dan Byungchan yang nampak mengobrol dengan objek kertas tersebut.

“Itu burung apa?” tanyanya lagi dengan mata yang terfokus pada tangan Byungchan.

“Burung apa yang lucu, ya?” Byungchan menarik dua ujung yang berfungsi sebagai ekornya, “Burung merpati? Atau burung kolibri?” ucapnya mengingat mungkin hanya dua jenis burung itu yang familiar untuk putrinya.

Namun sebuah ide kembali membuat Byungchan menyambung percakapan, “Ah ini burung bangau.”

“Kenapa burung bangau?” tanya Jiha yang saat ini tak sadar telah berpindah posisi. Menjadi duduk tanpa jarak di samping Byugchan dan tangannya yang berpegangan pada paha sang Papa.

“Karena burung bangau bisa mengabulkan harapan.” Byungchan menyelesaikan origaminya dengan melipat ujung lancip kertas sebagai paruhnya. “Katanya seratus bangau bisa mengabulkan harapan.”

Sepertinya, Jiha telah melupakan konflik mereka baru saja. Karena gadis cilik dengan mata bulat itu berganti menatap Byungchan lagi, “Itu benar, Papa? Jiha juga ingin buat seratus!”

Senang rasanya gadis ciliknya mau mengucapkan panggilan itu lagi.

“Untuk benar atau tidak, harapan akan selalu terkabul jika itu memang maksudnya baik.” Byungchan memberikan burung itu pada Jiha. “Memangnya apa harapan Jiha?”

 Gadis itu menerima burungnya dengan mata yang menatap lekat, mengamati setiap jengkal hasil lipatan jemari papanya dan tanpa sadar sudah dipangku oleh Byungchan. Menyandarkan dagunya gemas pada puncak kepala sang putri.

“Jiha ingin melihat beruang bersama Ayah dan Papa.”

Jantung Byungchan terasa seperti berhenti selama beberapa detik. Seolah disadarkan bahwa putri ciliknya sudah seputus asa itu untuk sebuah harapan sederhana. Semua memang salah Byungchan.

“Jiha, Papa minta maaf, ya? sudah membuat Jiha menunggu dan tidak menepati janji.” Byungchan memeluk erat tubuh berbalut gaun kuning kecil tersebut. “Maafkan Papa terlalu sibuk sehingga tidak bermain bersama Jiha. Papa janji, Papa akan terus meluangkan waktu bersama Jiha.”

Mendengar ucapan tulus tersebut, Jiha masih memegang sayap kertas Sepupu Harold. “Sungguh? Bermain bersama? Memakaikan baju pada Tuan Harold?” Kepalanya mendongak menatap Byungchan.

Byungchan mengangguk, “Tentu, apa saja. Kita juga akan memasak bersama, menonton televisi, menggambar dan—”

Pintu terbuka, menghadirkan sosok manusia tinggi lain dengan tato tulisan tegak bersambung di dadanya yang mengintip. Memberikan senyum paling hangat yang ia bisa dan bersandar di pintu menatap mereka berdua.”

“—dan pergi ke kebun binatang besok?” Seungwoo mencetuskan ide. “Tak perlu menunggu sampai bangaunya membentuk pasukan. Kita bisa pergi besok.”

Mendengarnya, Jiha kembali memandang Byungchan. “Itu benar? Papa juga ikut?” Byungchan mengangguk penuh senyum.

Membuat gadis cilik itu melepaskan diri dari pangkuan Byungchan dan melompat di atas kasur, “Besok akan bertemu Tuan Harold besar!” ujarnya meneriakkan sorak kegirangan.

Sibuk merayakan kesenangan sendiri tak menyadari jika sang Papa tengah memandang lembut sang Ayah. Mengucapkan kata terimakasih melalui pandangan mata yang tercetak jelas dan bibir yang tersenyum manis.

Memberikan Seungwoo gambaran paling membahagiakan pada hidupnya saat loncatan gembira putrinya selesai dan gadis ciliknya berlari memeluk Byungchan.

“Jiha sayang Papa dan Ayah!”

 

.

.

.

END