Work Text:
Seolah sudah memiliki matanya sendiri, pria dengan kaca mata yang ia letakkan di atas kepalanya tersebut berjalan menyusuri lorong dengan siulan senang. Melihat-lihat pada dinding lorong yang didominasi oleh tumpukan batu bata sebagai hiasan dinding.
Sesekali pandangannya yang terhalang oleh bahan makanan yang menggunung dalam kantong kertas yang dibawanya—masih merutuki mengapa Amerika tak membuat gagang kantong kertas hingga tak harus membuatnya memeluk belanjaan kuat-kuat—menangkap pemandangan besi-besi ventilasi yang mengeluarkan aura panas.
San Francisco di bulan Agustus memang selalu membuat keringatnya keluar, ditambah pendingin di lorong juga tak terlalu bagus, cukup menjadi alasan mengenai punggung Lim Sejun yang siang ini mengenakan kaus hitam bergambar logo tim Lakers sedikit tercetak basah.
Wajarnya, itu akan terasa menyebalkan terlebih untuk darah Asia yang kurang suka berkeringat, namun Sejun sama sekali tak terganggu. Siulannya semakin terdengar nyaring kala bibirnya yang mengerucut juga membentuk senyum.
Menekan digit angka sebagai kunci pada pintu bertuliskan 1104, kembali bersenandung melodi lagu Nirvana saat pintu terbuka.
Menampilkan interior ala Amerika modern di mana lorong kecil tersebut memiliki warna putih gading yang menimbulkan kesan cerah pada petak kecil tempat tinggal ini.
Sejun tak melepaskan sepatu ketsnya, melangkah masuk begitu saja sebagai bentuk pengaruh gaya hidup Amerika yang kerap menggunakan alas kaki di dalam rumah—sekalipun yang ini bukan rumahnya.
Sejun meletakkan belanjaannya pada meja dapur yang tak terlalu besar, beralih menuju lemari pendingin yang memiliki tinggi setara pelipis dan mencari jus jeruk sebagai penyegar tenggorokan; sekali lagi, matahari San Francisco sudah membakar bagian dalam tubuhnya walau ia berlindung di balik pendingin mobil.
Pria Lim tersebut membuka karton dan menuangkannya dalam gelas, menyeruput sedikit untuk meredakanpanas tenggorokannya yang membakar. Melanjutkan langkah menuju ruang tengah yang sangat kecil namun nyaman dengan alas meja yang diberi bulu sintesis, duduk bersantai sembari mengambil ponselnya dan menuju room chat yang paling membahagiakan.
To: Seungsik
Sedang di mana?
Sejun tak bisa menahan senyumnya kala seseorang dibalik sana segera mengetik, menempelkan mulut gelas pada bibirnya dan iseng menyentuh foto profil Seungsik. Menampilkan seorang pria dengan rambut putih dan akar hitam yang mulai terlihat, tersenyum manis menggunakan kemeja putih, belum lagi matanya yang seperti bulan sabit—dengan bangga mengucapkan, kekasihku.
From: Seungsik
Pekerjaan gila, masih di kantor.
Sejun tersenyum semakin puas, meletakkan gelasnya dan melanjutkan mengetik.
To: Seungsik
Pulang seperti biasa? Baiklah, sampai nanti^^
Sejun mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Satu rencana sudah berhasil; memastikan Seungsik tidak akan pulang dalam waktu dekat. Maka Sejun yang tinggal melakukan dua langkah terakhir tak terlalu terburu, memasak dan menyiapkan meja makan malam tidak akan memakan waktu lama.
Ia di sini dalam rangka kejutan kecil. Memanfaatkan kebiasaannya yang bisa melenggang keluar-masuk apartemen Seungsik setiap hari. Sejun berpikiran, bagaimana reaksi Seungsik saat pulang dan mendapati dirinya sudah memasak makan malam? Apakah pria manis itu akan tertawa, terkejut atau tetap lapar?
Pria Lim itu menggunakan kaca matanya, merasakan rabunnya yang mulai bereaksi kembali menggangu. Mengambil gelas jusnya dan meregangkan otot punggungnya yang lelah. Berpikir bahan-bahan makanan sudah siap, ingin memasak namun ia tunda sebentar.
Sudah tiga minggu sejak terakhir kali ia berkunjung—salahkan kantornya yang mengirim Sejun ke Miami untuk meliput berita tentang rangkaian sidang pejabat lokal yang korup. Sangat membuat kepala panas, lebih dari matahari San Francisco.
Tetapi saat memikirkan kembali mengenai Seungsik yang masih tak mengetahui kepulangan Sejun ke San Francisco sejak kemarin malam, membuat suasana hatinya baik kembali.
Kejutan yang manis, dan melihat Seungsik adalah kegemaran yang candu. Terdengar hiperbolis untuk ungkapan pria dewasa memang. Namun selama itu untuk Seungsik, Sejun merasa cinta kekanak-kanakan adalah cara terbaik.
Seungsik yang selalu tertawa saat ia melakukan tingkah konyol, Seungsik yang dengan sabar menjadi penenang untuk suasana hati Sejun yang kerap berubah-ubah, Seungsik yang batas kesabarannya melebihi siapapun. Maka dari itu, Sejun berencana untuk mencintainya secara murni, seperti kasih sayang Seungsik.
Pria dengan lesung pipit sebelah itu mulai berjalan, melihat-lihat unit apartemen yang selalu terlihat rapi, sesuai dengan kepribadian Seungsik yang sangat dewasa. Dari bagaimana barang ditata memanfaatkan segala ruang hingga pajangan keramik-keramik kecil disusun apik pada rak dinding televisi; ada beberapa patung wanita dengan rambut gelombang yang ia tebak adalah Aphrodite, lalu pria berjanggut sebagai zeus dan pembawa trisula sebagai poseidon—Seungsik memang menggilai cerita-cerita Yunani semenjak dahulu, lalu berlanjut dengan deret foto yang berjajar rapi berisi potret mereka berdua.
Foto pertama berisi Sejun yang merangkul Seungsik di sebuah rumah makan Perancis; hari dimana ia menyatakan perasaan pada pria Kang itu. Lalu sebuah potret dengan pigura coklat menampilkan ia yang memegang tangan Seungsik di atas kapal yang tengah memancing ke arah Alaska, liburan dua minggu yang menyenangkan.
Memang, segala sesuatu tentang Seungsik selalu indah.
Penjelajahan mata pria itu berlanjut kembali, menyusuri meja laci yang tak terlalu besar di sampingnya, tempat dimana Seungsik selalu melakukan hobinya. Menggunting, menempel dan menulis di buku jurnalnya yang berwarna coklat kopi.
Gambaran Seungsik yang sibuk mulai terbayang, bagaimana pria yang selalu mengerucutkan bibirnya kala tekun itu selalu terlihat menggemaskan—ia rindu Seungsik, semakin tak sabar untuk bertemu dan memeluk punggungnya yang lebar.
Maka Sejun akhirnya memilih menyudahi kegiatan mengamatinya. Menghabiskan jus dalam sekali teguk dan hendak beralih. Memutar badan kembali ke dapur sebelum sikunya menjatuhkan jurnal coklat kopi di atas meja tersebut. Tak ingin bermaksud lancang sebenarnya, namun Sejun juga tak bisa menampik rasa penasaran kala membaca judul yang tersingkap di halaman pertama.
29 Agustus 2019, Sejun menyatakan perasaannya padaku; melalui dua lilin dan tiram mentah di piring kami masing-masing.
.
.
.
Seungsik menggerakkan lelah lehernya, tak bisa menahan rasa letih karena beberapa janji temu dengan kolega yang membombardirnya hari ini. Delapan jam dengan wajah ramah tamah pada berbagai karakter orang, jelas siapapun bakal mengeluh.
Pria Kang itu menyentuh digit angka kunci apartemennya, semakin tak sabar untuk merasakan aliran air hangat pada tubuhnya yang letih dan lengket, lalu berlanjut menghabiskan malam pada hobinya yang seperti obat; membayangkan sampul jurnalnya yang senada dengan warna kayu dan kopi dan menuangkan perasaan di sana—beruntung setidaknya Seungsik tidak perlu makan malam, ia berterimakasih pada Senior Margaret atas traktiran roti lapis.
Seungsik melepas sepatu kerjanya asal, meletakkannya pada rak dan menangkap sepasang alas kaki lain yang bukan miliknya.
Milik Lim Sejun.
Ia membelalak terkejut, seingatnya Sejun masih di Miami berkutat pada alur persidangan yang katanya membuat kepala pria itu botak. Seungsik berlari sedikit, menghabiskan lorong pada beberapa detik dan berlanjut mendapati punggung lebar si Pria Lim tengah berkutat pada sesuatu di dapur.
“Sejun, kau sudah pulang?” menjadi kalimat penyuara keterkejutannya. “Kenapa tidak bilang? Aku bisa menjemputmu ke bandara.” Seungsik mendekat, memasuki dapurnya untuk menghirup aroma sup jagung yang gurih.
Sejun berbalik, membawa dua buah mangkok berisi cairan putih dengan senyum tampan seperti biasa. Mata kecilnya yang serupa benih kopi itu memandang Seungsik, “Kejutan?” Ia meletakkan mangkok di atas meja makan, “Aku berpikir mungkin akan terlihat manis jika memberikan kejutan kecil pada kekasihku yang lelah ini.”
Sejun menarik kursi dan meminta Seungsik duduk, “Kapan lagi aku akan bersikap manis dan membuat masakan seperti ini?” Sejun duduk di salah satu kursi, “Makan ya?”
Seungsik sempat memandang porsi besar makan malam di hadapannya, perutnya seolah menolak karena sudah kehabisan tempat akibat roti lapis jumbo tadi, tetapi saat netranya melihat Sejun yang bersemangat menunggu Seungsik mengangkat sendok, ia menjadi tak tega.
Seungsik mengangguk, menampilkan dua gigi depannya yang menonjolkan kesan manis, mengangkat sendok dengan senyum lebar. “Terimakasih, Sejun. Aku memang lapar sekali,” Seungsik mengambil suapan pertama, “Pekerjaan gila membuat kepalaku meledak.”
Seungsik mengecap sup krim itu perlahan, merasakan sedikit tekstur lembut hingga disambut rasa manis dari sari jagung yang khas. “Lalu bagaimana denganmu? Aku masih ingat kau berkata bahwa serial persidangan itu membuat kepalamu botak?” Seungsik memasang senyum; membawa gurauan yang selalu bisa mencairkan suasana.
“Drama persidangan dengan ratusan saksi, ribuan bukti dan beberapa penyangkalan dari pengacara, hal itu membuatnya terlihat seperti drama yang berat.” Sejun mengunah mekanannya lambat.
“Tetapi aku yakin kau berhasil mengubahnya menjadi deret tulisan yang mengagumkan.” Seungsik berujar.
Hal itu membuat jantung Sejun menghangat, memang tak ada yang bisa memberinya sensasi ini selain pria dengan kemeja biru di hadapannya ini. “Kau selalu bisa mengambil hatiku, Kang Seungsik.”
Mereka berdua lantas tertawa, menghiasi meja makan dengan ukiran bibir yang indah seolah menutupi segala kelelahan pada masing-masing manusia ini. Membuat Sejun bisa leluasa memandangi wajah yang tak pernah absen menghiasi kepalanya selama dua tahun terakhir.
Ia rindu, dan melihat Seungsik lahap adalah kebahagiaannya. Berdialog dengan kepalanya sendiri, jurnal itu sudah pasti bohong, Seungsik bukan orang seperti itu. Sayangnya, sisi lain kepala Sejun masih merasa ragu. Maka, ia memutuskan untuk menyelesaikan perkaranya.
“Memangnya Seungsik belum makan malam?”
Seungsik menggeleng, “Kau tahu sendiri, bisa istirahat saja sebuah peruntungan.” Seungsik melanjutkan, “tapi beruntung aku pulang menemukan sup jagung buatan pria Lim ini.” terlihat nada bercanda dari suaranya yang sedikit berat, walau Sejun masih bisa melihat raut mengapresiasi dari Seungsik.
Sejun tersenyum kecut selama beberapa detik, lalu cepat-cepat menyembunyikannya melalui ekspresi lucu yang dibuat-buat. Masih mengondisikan rasa terkejut dan jantung yang meloncat-loncat; karena ini pertama kalinya ia harus berhadapan pada sebuah rasa cemas yang terbuktikan.
“Syukurlah, Seungsik makan yang lahap, ya.” Ujarnya memberi tanggapan palsu, masih bingung harus bersikap bagaimana.
Karena jurnal Seungsik benar, jurnal yang ia pikir hanya fiksi ternyata salah.
Seungsik melakukannya, yang sebenarnya tak sengaja terbukti.
Dua jam yang lalu, Sejun melihat sendiri pada instastory Margaret Scott—senior Seungsik yang sudah menjadi bagian teman instagramnya selama beberapa bulan—bahwa kekasihnya sudah makan malam.
Walau terasa manis, Seungsik tetap membuktikan bahwa jurnalnya memang fakta.
Sejun membuka lagi ponselnya, melihat pada balasan pesan singkat yang kemarin ia dapatkan setelah membuat janji temu dengan seorang pria yang wajahnya terpampang akrab untuk iklan merk-merk terkenal.
Lantai empat, studio satu. Sejun melihat pada lorong bercabang-cabang yang didominasi oleh warna coklat susu senada dengan Excelsior yang klasik.
Sejun berucap syukur saat papan studio itu terlihat pada pintu pertama yang ia temui, membuatnya tak harus berlama-lama mencari dan segera memasukinya.
Melihat pada ruangan sibuk berlalu lalang orang namun membuat perhatian siapa saja terfokus pada cahaya putih yang berasal dari latar belakang dan pantulan kilat kamera—itu pasti bilik pemotretannya.
Sejun tak ingin melangkah lebih dalam, itu akan menganggu pekerjaan orang-orang di sana dan memilih untuk mengetikkan pesan pada pemberi alamat gedung ini bahwa ia sudah sampai.
Lantas tak menunggu lama, Sejun bisa melihat seorang pria yang berlari kecil sembari mengancingkan kemeja pantainya, nampak seperti kostum pemotretan.
Pria itu tersenyum; Han Seungwoo tersenyum.
Menampilkan wajah kecil yang selalu berbanding terbalik dengan otot yang terbentuk secara sengaja. Masih menampilkan ekspresi menyenangkan yang sama hingga membuat Sejun juga suka untuk menjadikannya teman.
Seungwoo membuat salaman dan tos pundak ala lelaki pada Sejun, “Lama tak bertemu, Bro.” Seungwoo berujar ramah, merangkul pundak Sejun yang hampir setara dengan tingginya dan memberi sapaan lagi, “Maaf aku hanya bisa bertemu di sini, jadwalku sangat padat.” Ucapnya dengan gaya pemuda Amerika, sebuah kebiasaan yang mengimbangi jiwa hidupnya yang hidup bebas.
Sejun mengangkat bahu seolah itu bukan masalah. “Maaf juga mendesak untuk sebuah pertemuan. Aku tak tahu lagi harus meminta bantuan siapa.”
Mendengar itu, Seungwoo mengangkat alisnya tertarik, “Memangnya ada apa?”
“Mengenai Seungsik, sebentar lagi perayaan dua tahun hubungan kami. Ada yang ingin ku tanyakan.” Rujuk Sejun pada beberapa fakta yang mungkin Seungwoo ketahui karena pertemanan mereka berdua yang sudah berlangsung lama.
Seungwoo mengangguk, “Aku punya waktu bebas selama dua puluh menit. Mari berbincang di cafetaria.”
.
.
.
Mereka berdua duduk dengan gelas kopi masing-masing di tangan. Memilih salah satu set meja yang menghadap langsung pada jendela, menghantarkan pemandangan Excelsior yang di dominasi oleh bangunan tua khas Eropa.
Sejun masih melempar atensi pada pemandangan di luar sana. Membuat Seungwoo yang merasa sedikit canggung segera memecah keheningan. “Aku dengar kau menghabiskan musim panas ini di Miami?”
Mendengar percakapan yang berusaha dibangun, Sejun menyudahi atensinya dan berfokus pada Seungwoo yang kini melipat kedua tangannya, “Ya, drama persidangan yang menyebalkan. Juga mataharinya, membuat aspalnya terasa seperti pemanggang roti.”
“Hal itu menjelaskan ruam merah di pipimu. Kau tak mengenakan tabir surya?” lanjut Seungwoo basa-basi. Melihat wajah Sejun yang kemerahan tanda terbakar.
Pria Lim itu tertawa kecil, menampilkan lubang pipinya yang manis dan berkata, “Selain berlari-lari mengejar narasumber, aku sibuk menjadi budak notulen saat sidang. Tabir surya sudah bukan prioritasku.”
“Seharusnya kau ikut aku, setidaknya kau tak akan berkeringat dengan berpose di depan kamera. Kehidupan jurnalis ini pasti memeras keringatmu.”
Sejun menaikkan alisnya, memandangi lagi pakaian Seungwoo yang tengah mengenakan kemeja pantai yang dua kancing atasnya terbuka, juga helaian rambut pria Han itu yang terlihat basah; membuat Sejun menebak-nebak mungkin konsep tropis yang tengah dilakoni pria ini.
“Sayangnya perutku lebih suka membulat daripada menunjukkan garis-garis pesona seperti itu.” Tunjuk Sejun melalui dagu pada otot yang pasti akan tercetak jelas pada setiap pakaian yang Seungwoo kenakan.
Lelucon itu mendapat tawa dari Seungwoo. Membuatnya terbahak selama beberapa detik dan segera menyudahinya kala tenggorokannya yang kering melayangkan protes. Seungwoo meraih kopinya, meneguk sedikit sebelum kembali memasang ekspresi normal.
“Jadi,” Seungwoo mengubah duduknya dengan tidak bersandar. “Apa yang bisa ku bantu, Lim Sejun?”
Mendengar inti pembicaraan sudah mulai di bahas, Sejun menaikkan kacamatanya di atas kepala, sekaligus menjadi penghalau untuk helaian rambut yang tadi seperti pagar untuk mata.
Ia melipat tangannya di atas meja, “Jika aku tak salah ingat, kau sudah berteman lama dengan Seungsik?”
Seungwooo mengangguk, “Kami memulai bangku sekolah dasar bersama-sama.” Sejun mengonfirmasi fakta tersebut dengan ingatannya. Ia mengetahui dari cerita Seungsik bahwa bersama Seungwoo, teman masa kecilnya ia mengadu nasib dengan datang ke Amerika.
Walau memang berbeda jalur, Seungwoo dengan dunia hiburan dan Seungsik yang menekuni bidang perkantoran, tetap saja untuk Sejun mereka pasti saling mengenal lebih dalam.
Maka ia menarik nafasnya, merasa berat karena apa yang ia hendak tanyakan sesungguhnya bukan hal yang Sejun kehendaki.
“Mungkin kau tahu, apa impian terdalam Seungsik? Seperti cita-cita masa kecil atau keinginan mimpi yang pernah ia ucapkan?” Sejun menggantung kalimatnya, berpikiran bahwa mungkin pertanyaannya terdengar aneh. “Maaf jika tiba-tiba memberikan pertanyaan seperti ini,” sedikit merasa sungkan karena sebenarnya ia dan Seungwoo bukan benar-benar ‘teman’—hanya karena fakta Seungwoo dan Seungsik berteman, hal itu membuat Sejun berusaha mengakrabkan diri hingga sekarang.
Beruntungnya, Seungwoo tak menganggap pertemuan dan pertanyaan ini sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan. Ia mengambil kopinya yang masih mengepul hangat, merasakan cairan pekat itu terasa pahit di tenggorokannya.
“Tidak perlu sungkan, orang-orang Seungsik akan menjadi orang-orangku juga,” Seungwoo berujar lembut, “Jadi tidak perlu bersikap segan, santai saja.”
Sejun memberikan senyum sebagai pengalihan rasa canggung. Sedikit berterimakasih dalam hati dan membiarkan Seungwoo berlanjut memberikan jawaban.
“Aku tak pernah benar-benar paham apa cita-cita Seungsik sebenarnya. Meski kami tumbuh bersama, Seungsik lebih sering terpaku pada masa kini dari pada memikirkan sesuatu di masa depan.” Sejun mengakui hal itu, meski cukup perfeksionis, Seungsik bukan orang yang terencana.
Seungwoo kembali melanjutkan, dahinya berkerut tengah mengingat beberapa kenangan bangku sekolah mereka. “Tetapi saat kami di bangku sekolah akhir, Seungsik sering menghilang ke perpustakaan pada jam istirahat. Menulis hal-hal yang menurutku tidak berguna, lalu menuju rak paling ujung.” Rujuknya pada ingatan akan Seungsik yang kutu buku.
“Menghabiskan waktu pada buku yang sama berulang-ulang. Panduan singkat tentang Yunani dan sekali waktu berbicara padaku, bahwa suatu saat ia akan pergi ke Kota Athena.” Seungwoo mengangkat bahu, “Kau tahu sendiri bukan jika Seungsik memang tertarik pada Zeus, Poseidon dan kawan-kawannya. Ia seperti ingin mendalami hal-hal itu lebih jauh.”
Sejun menerima fakta-fakta baru tersebut, “Lalu, ia tak berusaha pergi ke Athena?”
Seungwoo balas menatap Sejun, “Seungsik lulus di bidang sastra, ‘kan? Dia juga punya banyak miniatur makhluk cerita ini kan di rumahnya? Bukti lain ia terobsesi pada deret dewa-dewi olimpus.” Seungwoo mengambil gelas kopinya, “Beberapa tahun yang lalu ia juga berniat bekerja di kantornya yang sekarang untuk mengumpulkan dana ke Athena. Tetapi entah mengapa akhir-akhir ini ia tak pernah membicarakan hal itu lagi.” Seungwoo berusaha mengingat sesuatu. “Jika aku tak salah, ia sudah tak memikirkan hal itu lagi saat kalian mulai bersama. Mungkin, ia lebih ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
Penjelasan cukup ringkas tersebut Seungwoo ucapkan dengan obrolan santai antar pria. Membuatnya tak berpikiran apapun dan menghabiskan kopinya yang mulai dingin dengan tegukan panjang.
Tak menyadari bahwa Sejun kini mulai tercekat oleh fakta yang berusaha ia korek sendiri. Sekali lagi, jurnal itu mengatakan kebenaran, dan Sejun membenci detak sakit yang tiba-tiba muncul.
“Memangnya kapan perayaan hubungan kalian?” basa-basi lain dari Seungwoo.
Sejun menampilkan senyum, “29 agustus nanti.” Sejun mengenakan lagi kacamatanya. “Terimakasih, Seungwoo. Informasimu sangat berguna.”
Seungwoo mengangguk, “Senang bisa membantu.” Mereka berdua berdiri, menjabat tangan tanda menyelesaikan pertemuan dan mengucapkan perpisahan. “Baik-baik untuk hubungan kalian berdua, ya.”
Sejun mengangguk berterimakasih. Memasang topeng senyumnya dengan kepalanya yang berbisik lirih. Semoga, semoga segala sesuatunya akan baik-baik saja.
Tak peduli harus mengeluh berapa kali, Seungsik tetap akan melakukannya seperti rutinitas, tiga kali sehari. Merutuki pekerjaannya dalam hati, tak pernah absen untuk Seungsik lakukan.
Menggerakkan lehernya lelah, Seungsik melangkah malas keluar lift. Tak bisa menahan tatapan sayu tanda kurang istirahat. Maka ia cepat-cepat melangkah keluar gedung, kembali merutuki tas kerjanya yang berisi dua laptop yang ternyata sangat berat pada penghujung hari seperti ini.
Sepatunya yang selalu dipoles mengkilap setiap pagi sudah kehilangan ronanya, membuat Seungsik yang sedikit maniak kerapian harus mendecih semakin sebal.
Pria Kang ini hanya butuh tempat tidurnya, segera.
Maka ia mengeluarkan ponselnya, melihat jadwal kereta yang akan datang. Melipir pada salah satu pohon yang tak terlalu rimbun untuk menghindari sinar matahari yang kali ini juga terasa menyebalkan.
Namun jemarinya yang hendak menyentuh simbol jadwal itu mendadak terhenti kala sebuah panggilan menyeruak ke layar ponselnya—Lim Sejun.
Ia mengangkat cepat, menempelkan ponsel di telinga dan berdeham pelan. “Halo, Sejun.”
“Naiklah.”
Seungsik termangu beberapa saat, berpikir sebentar mencerna maksud Sejun. “Aku tak paham.”
“Mendongak, Kang Seungsik. Apa mobilku masih terlalu kecil?”
Seungsik bisa mendengar tawa yang tertahan di balik sana, mengikuti instruksi Pria Lim itu untuk menemukan sebuah Ford double cabin berwarna silver terang tengah terparkir beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Mobil itu menurunkan kacanya, memperlihatkan Sejun yang sore ini tampil menawan dengan kaus putih polos dan kacamata di atas kepala seperti biasa.
Seungsik berlari kecil, memberikan senyuman saat tangannya sudah menyentuh gagang pintu yang dibalas Sejun dengan senyum singkatnya juga.
“Apa hari ini kau banyak pekerjaan?” tanya Sejun yang kini melirik pada spion mobilnya, memastikan tak ada kendaraan yang akan melintas dan ia yang bergabung bersama jajaran kendaran lain yang memadati jalanan San Francisco.
Seungsik menyandarkan kepalanya merasakan kursi mobil yang nyaman. “Seperti biasa, rutinitas yang memuakkan. Bekerja tak pernah menyenangkan.”
“Sayang sekali.”
Seungsik menoleh pada sosok pria yang masih fokus pada setir kemudi. “Kenapa begitu?”
“Ingat toko bunga Barbyns?” Sejun kembali melanjutkan, “Di Potrero Hills.”
Penjelasan terakhir membangkitkan ingatan Seungsik, walau sebenarnya ia tak paham korelasi antara ucapan Sejun dengan toko bunga itu, Seungsik masih mengangguk.
“Satu-satunya tempat yang menjual kaktus di banyak distrik sini. Bagaimana aku tidak ingat, memangnya ada apa?”
Sejun menoleh sebentar pada Seungsik, kembali mengumbar senyum hingga Seungsik rasanya sudah kelewat hafal bagian mana saja dari wajah pria itu yang mendukung garis bibirnya. “Temanku baru meliput sudut-sudut Potrero Hills. Dia bilang menemukan tempat yang bagus. Toko barang antik.” Sejun menjentikkan jarinya berusaha menampilkan bahwa ini adalah ide yang cemerlang.
Menutupi fakta bahwa sesungguhnya Sejun ingin Seungsik menolak permintaannya kali ini.
Fakta bahwa mereka berdua memang kerap berburu barang antik, seperti jam pendulum yang berderit kekurangan minyak atau sekedar pigura besi dari awal 90-an, sering menjadi agenda rutin yang akhir-akhir ini jarang mereka lakukan—walau sebenarnya Sejun yang menyukai hal ini dan Seungsik yang lembut akan mengikutinya kemana saja, entah suka atau tidak tetap menampilkan ekspresi terkendali hingga membuat lawan bicaranya tak bisa menerka apa perasaan Seungsik sesungguhnya.
Karena hanya jurnal Seungsik yang tahu segalanya.
“Tetapi kau nampak begitu kepayahan. Jadi aku rasa kita menunda perjalanan ini besok-besok saja, ya?” satu lagi skenario Sejun jalankan. Sangat mengharapkan Seungsik akan menolak hal ini, selain ia tahu Seungsik lelah, juga ini bukan kegiatan penting yang mendesak.
Diam-diam Sejun menggenggam setirnya penuh harap untuk penolakan. Sekali lagi skenario ia jalankan untuk mengonfirmasi beberapa tulisan di jurnal kopi itu. Masih berharap jika itu fiksi walau setelahnya Seungsik kembali memberikan pembenaran secara tersirat.
“Aku kelewat bersemangat untuk toko antik ini, jadi ayo sekarang saja.”
Sejun tak langsung menoleh, ia menarik nafas dalam dengan cengkraman pada setir yang semakin erat. Seungsik masih memakai topeng, seperti apa kata jurnal.
Sejun memasang senyum rendahnya yang tak bersemangat, walau begitu karena ia yang memang selalu tersenyum, membuatnya tak kentara.
Sejun melepas satu pegangannya pada setir, meraih telapak tangan Seungsik yang seukuran genggamannya dengan erat. “Jangan memaksa jika kau lelah, Seungsik.”
Namun sekali lagi, Seungsik menggunakan senyum malaikat itu. “Selama itu membuat Sejun senang, aku tidak kenal kata lelah.”
Yang sekali lagi mengonfirmasi bahwa jurnal kopi adalah kebenaran. Membuktikan dengan gamblang bahwa Sejun memang jahat, parahnya lagi, ia tak sadar akan semua itu.
Sejun tersenyum pahit, menahan matanya yang terasa sendu untuk menoleh pada Seungsik, memanfaatkan cahaya senja yang samar-samar memasuki mobil dan mempertegas potret samping Seungsik yang manis.
“Kenapa kau selalu baik, Seungsik?”
Terdengar melankolis memang untuk Seungsik yang tak memahami konteks pria ini, dan menjadikannya hal wajar kala Seungsik menganggapnya sebagai ungkapan afeksi biasa. “Sejun senang, aku juga senang.”
Walau manis, Seungsik sekali lagi berbohong.
Setelah ini, Seungsik rasanya harus mengganti nada dering ponselnya menjadi sesuatu yang lebih berisik lagi, karena demi Tuhan, ini adalah apartemen studio tanpa sekat yang terbilang kecil. Sehingga jarak antara ruang televisi dengan kamar juga bukan suatu penghalang yang berarti untuk membuatnya mengabaikan lima panggilan yang akhirnya masuk ke kotak suara.
Salah Seungsik memang bagaimana bisa dia terlalu berfokus pada pekerjaan yang kini bertebaran di meja ruang televisi dan nada dering ponselnya yang terlalu halus.
Menggigit bibir dalamnya, Seungsik menekan tombol panggil pada nomor tersebut, memilih tak membuka kotak suaranya terlebih dahulu karena yakin seseorang di seberang sana pasti masih memegang ponselnya.
Pria Kang itu mendesah tenang setelah nada sambung ketiga terdengar, panggilan itu dijawab.
“Sejun, maaf.” Seungsik mengusak kasar rambutnya, memandang pantulan dirinya pada kaca yang berhadapan langsung dengan kasur yang ia duduki. “Aku tak mendengar panggilanmu. Ponselku ada di kamar.”
Selama beberapa saat, hening yang menyapa. Hingga hitungan detik menjadi puluhan juga Seungsik tak mendengar suara apapun. Mencoba peruntungannya sekali lagi, Seungsik kembali bersuara, kali ini dengan harap-harap cemas takut Sejun marah.
“Sejun? Kau masih di sana?”
Terdengar helaan nafas berat di seberang sana, semakin membuat konfirmasi pada otak Seungsik yang berpikiran bahwa Sejun sedang marah.
“Aku pikir kau sudah tidur.”
Seungsik menepuk dadanya sendiri kala mendapati kembalinya nada ceria di ujung sana. Tak memikirkan panjang maksud helaan nafas yang mengawali dan mengulas senyum untuk membangun percakapan yang hangat.
“Tidak, aku membawa pulang pekerjaanku hari ini.” Seungsik menatap pantulan dirinya lagi di cermin, melihat pada kantong mata yang terlihat menyedihkan akibat jam tidurnya yang berantakan akibat urusan kantor. Namun pria dengan senyum selebar tupai—kata sejun—itu melanjutkan, “kau sendiri kenapa belum tidur? ini sudah larut, ‘kan?”
“Aku merindukanmu.”
Seungsik melempar pandangannya pada lantai kamar, mencerna lagi maksud Sejun sebelum bisa menjaga ekspresinya kembali. “Kemarin kita sudah menghabiskan sore bersama. Ingat? Mengelilingi toko barang antik sampai kakimu yang katanya menjerit sakit?” alibi Seungsik meredakan kecemasan pria di ujung telepon.
Seungsik beralih menyentuh ujung kaus putihnya, menunggu penasaran balasan pria di ujung sana.
“Aku tahu ini terdengar gila.” Sejun melanjutkan, “tapi rasanya hari-hariku di Miami membuatku dua kali lebih merindukanmu. Jika kau tidak keberatan, mau jalan-jalan malam?”
Seungsik menoleh pada jam digital yang berada di raknya, “Pada tengah malam seperti ini?”
Walau tak bisa melihatnya, Seungsik tahu Sejun tengah mengangguk di ujung sana. “Sudah lama kita tak menghabiskan larut malam berdua.” Terdengar suara gaduh seperti barang berpindah, “Tolong, Seungsik. Sekali ini saja, aku berjanji akan membantu pekerjaanmu.”
Seungsik sempat menimbang selama beberapa saat, kembali melihat kantong matanya yang masih menjerit lelah meminta waktu istirahat yang rasional. Namun pria Kang itu kembali membuang pandangannya pada lantai yang memiliki motif kayu yang di poles rapi.
“Jemput aku sepuluh menit lagi. Jangan lupa gunakan jaket, Lim Sejun.”
Lalu panggilan mati. Meninggalkan Seungsik yang termenung beberapa saat memikirkan sesuatu yang baru ia sadari.
“Sebentar, Sejun ‘kan benci udara malam?”
.
.
.
“Jemput aku sepuluh menit lagi. Jangan lupa gunakan jaket, Lim Sejun.”
Sejun masih menempelkan ponsel pada telinganya, menopang siku menggunakan dua lutut yang ia rapatkan, nyaris berjongkok walau bokongnya masih duduk di atas kursi kerjanya dengan sedikit pegal.
Maniknya yang terasa memburam pada cahaya apartemennya yang sengaja dibuat remang-remang terfokus pada satu objek. Selembar kertas.
Selembar kertas yang ia sobek berantakan dan rematan di segala sisi yang saat itu menjadi pelampiasan Sejun.
Berbeda dengan apartemen pria manis itu, petak tempat tinggal Sejun yang berada di kawasan Bernal Heights sekitar beberapa blok dari tempat Seungsik memang terlihat berantakan. Bukan, bukan Sejun adalah sosok yang tidak rapi, hanya saja memang pekerjaannya yang selalu menuntut otak untuk bekerja setiap ide terlintas membuatnya tak memiliki waktu lagi untuk mengorganisir barang-barangnya hingga tertata rapi seperti milik Seungsik.
Setidaknya, seperti itu gambaran terbaik yang bisa menggambarkan kediaman Sejun beberapa hari yang lalu. Nyatanya, tempat itu jauh lebih buruk lagi sekarang.
Laptop yang sudah dua hari tak ia charge, tumpukan kertas dan salinan hasil sidang yang memenuhi meja dan beberapa kertas kosong lain yang Sejun remat kasar—menandakan bahwa ia sendiri juga belum menyelesaikan tulisannya mengenai persidangan Miami.
Sejun menurunkan kakinya, berganti menumpukan siku pada meja dengan telapak tangan yang kini mengusak kasar rambutnya yang kaku. Ia menghela nafas berat memandangi ponsel yang kini ia letakkan kasar di atas meja dan bergantian memandang kertas kusut di sampingnya.
“Kenapa kau melakukan ini, Kang Seungsik?”
Dada Sejun berdenyut sakit saat nama itu ia lirihkan secara menyedihkan. Memukul dadanya beberapa kali berupaya mengusir rasa sakit walau nyatanya ia memberikan memar merah samar lagi yang baru.
“Di sini,” Sejun bereskpresi keras, ia mengatupkan giginya menahan segala emosi campur aduk yang ditahannya sejak kedatangannya ke apartemen Seungsik untuk kejutan yang malah dirinya sendiri yang dikejutkan. “Kenapa jadi aku yang jahat?”
Sejun memandang kertas sobekan itu lagi. Masih dengan judul yang ia benci mati-matian karena mengalirkan rasa sakit yang luar biasa.
29 Agustus 2019, Sejun menyatakan perasaannya padaku; melalui dua lilin dan tiram mentah di piring kami masing-masing.
“Sial!” Sejun meremat kertas itu penuh amarah. Membuangnya bersama beberapa kertas pekerjaannya yang bernasib sama. Menghantarkan paru-parunya yang menahan sakit untuk memompa oksigen lebih keras lagi.
“Kang Seungsik.” Sejun mengepalkan tangannya di atas meja, kali ini merubah ekspresi dengan begitu cepat.
Membuat amarah yang terkumpul menjadi gurat-gurat kesedihan yang dalam.
Garis matanya terlihat turun, melihat lagi pada kertas yang ia remat kasar tadi dan menghela nafas panjang. Perasaannya campur aduk, bergulat hebat antara amarah dan kesedihan hingga membuat rasa sakit yang sama seperti tikaman pisau.
Sakit, Sejun sakit.
Tapi, Sejun harus memakai topengnya lagi.
Karena sebesar apapun pergulatan emosi itu ia rasakan, ia tetap butuh Kang Seungsik.
Kang Seungsik yang selama beberapa tahun terakhir menjadi hal yang terbaik dalam hidup Sejun, membuatnya bisa merasakan banyak kupu-kupu hidup lagi pada perutnya yang ia kira sudah lama mati.
Mengukir banyak kenangan manis pada setiap penjuru San Francisco yang menjadi saksi kehangatan mereka. Tentang Seungsik yang selalu tertawa kala melihat tingkah Sejun, Seungsik yang tidak suka nanas pada pizza dan Seungsik yang selalu memeluknya saat ia ingin menyerah.
Adalah sosok yang sama dengan Seungsik yang kini menikamnya dengan pisau yang tak terlihat.
Seungsik menyembunyikan semuanya.
Sesuatu yang sangat fatal hingga Sejun tak memiliki reaksi lain selain memegang dadanya yang berdenyut sakit saat pertama kali membaca jurnal tersebut.
Namun sekali lagi, Sejun tak bisa membenci Seungsik, ia lebih membenci dirinya sendiri untuk ini.
Sejun bangkit dari duduknya yang menyedihkan. Meraih kunci mobil yang kata Seungsik lebih seperti truk dari pada mobil. Mengusap kasar wajahnya dan meraih asal jaketnya.
Mengabaikan rasa sakit yang masih ia rasakan dan mengenakan topengnya kembali.
Setidaknya, biarkan ia memakai topengnya kembali, hingga tanggal 29 yang akan segera tiba memberikan semua penyelesaiannya.
.
.
.
Meski sudah bersama selama hampir dua tahun di hubungan romantis ini, rasanya Seungsik tak pernah bisa menahan keterkejutannya pada senyum Sejun.
Segera setelah mendengar ketukan pada pintu apartemennya, Seungsik membuka pintu dan terkejut melihat Sejun yang berdiri di hadapannya dengan senyum dari telinga ke telinga, begitu lebar hingga beberapa kerutan disekitar bibirnya terlihat manis sesuai dengan kepribadiannya.
“Bisa kita jalan sekarang?”
Seungsik mengangguk, segera menutup pintu apartemennya dan mendengarkan bip kecil tanda terkunci otomatis. Lalu mereka berdua berjalan bersama menyusuri lorong apartemen yang tak memiliki pencahayaan selain deret lampu yang beberapa kali berkedip, kebiasaan si pemelihara gedung yang memang sering tak awas dengan perawatan fasilitas bersama.
Namun hal itu tak terlalu mengganggu keduanya, Sejun dan Seungsik berhasil keluar dari gedung apartemen kurang dari lima menit. Bersama-sama mulai merasakan semilir angin hangat khas San Francisco yang sedikit memiliki aroma perkotaan.
“Kita mau ke mana?” tanya Seungsik yang kini baru saja melihat mobil double cabin—truk—milik Sejun yang dibiarkan terparkir bersama tiga mobil lain.
Sejun memasukkan kedua tangannya pada saku hoodie hitam miliknya, “berkeliling Noe Valley.” Ia melanjutkan dengan tawa, “Selama tahun-tahun aku hidup di sini, hanya lingkungan tempat tinggalmu yang belum pernah aku susuri.”
Seungsik memandang sebagian gedung yang mulai redup, bersamaan dengan beberapa orang yang bersiap-siap menutup toko mereka, seperti bibi dengan rambut seterang selai jeruk yang biasa menjual lobak terenak di distrik ini.
“Noe valley tak seistimewa itu, Sejun.” Ujarnya memberi opini, menoleh pada pria yang masih mengimbangi jalan di sampingnya. Memperhatikan potret wajah Sejun yang terlihat misterius pada bayang-bayang lampu jalan. “Aku juga tahu jika kau benci udara malam, berjalan jauh dan juga Noe Valley yang memiliki begitu banyak jalanan naik turun,” Seungsik menarik nafas sebentar, “jadi katakan, kenapa kau tiba-tiba meminta kencan tengah malam seperti ini?”
Sejun masih memandang lurus ke depan. “Sudah aku bilang, aku merindukanmu, Kang Seungsik.”
Pria Lim itu memperhatikan dengan atensi kosong pada beberapa bangunan klasik khas Noe Valley yang selalu menjadi daya tarik. Terletak di tengah-tengah San Francisco yang selalu padat, tetapi ajaibnya distrik ini seolah memiliki zamannya sendiri dengan arsitektur yang hampir seragam.
Seungsik sempat ragu selama beberapa saat, “Kau yakin? Bukan karena ada masalah?”
Mendengarnya, Sejun tertawa kecil. Memamerkan lubang kecil di pipinya sebelum menoleh menghadap Seungsik yang menatapnya dengan kerutan alis.
“Kenapa memangnya?” Sejun menarik lengan sweater rajut Seungsik dan menahannya untuk berdiri berhadapan. Saling bertatapan dengan kedipan mata lambat. Sejun kembali tersenyum, “kau mengkhawatirkanku?”
Seungsik spontan mengangguk, “Aku tahu benar kebiasaanmu. Aku merasa ada yang salah.”
Kita memang kesalahannya, Kang Seungsik.
Sejun meraih bahu kekasihnya, memberi beberapa tepukan pelan dan berujar, “Hari-hari di Miami tanpamu bukan hal yang menyenangkan.” telapak Sejun berganti menyusuri lengan penuh otot yang tersembunyi di balik baju hangat tersebut, “jika kau tak keberatan, malam ini saja ya? Menyusuri Noe Valley bersamaku?” hanya hari ini, terakhir kali.
“Aku juga melihat di perbatasan The Castro ada taman yang baru saja di dekorasi. Mari kita melihatnya.”
Seungsik masih memandangi pria di hadapannya ragu-ragu, menimbang suatu kebohongan walau akhirnya ia menyerah setelah melihat mata Sejun yang membulat merengek.
“Baiklah.” Ia mengangguk pasrah.
Sejun berseru senang, tertawa lebar hingga matanya hampir tak terlihat dan menautkan genggamannya pada jemari Seungsik. Berlanjut menyusuri jalanan yang mulai kehilangan semua manusia karena memang sudah larut malam.
Sejun tak kunjung melepaskan genggamannya, malah kini gerakannya bertambah dengan mengayunkan tautan tangan seperti bocah cilik.
Seolah mendukung malam indah mereka, entah mengapa langit malam mau menujukkan bintang-bintangnya, yang biasanya bahkan tak mau terlihat di antara sibuknya negara bagian ini.
Membuat Seungsik mendongak dan memberikan senyumnya tanda mengagumi, “Bintangnya sedang terlihat.”
Sejun turut mendongak, masih berjalan pelan dan mendapati maksud kekasihnya akan tebaran berlian-berlian kecil yang menghiasi langit. Sangat indah, sama seperti senyum si pria Kang di sampingnya.
“Kau suka bintang?” salah satu pertanyaan tanpa makna dari Sejun sebenarnya, namun Seungsik menanggapinya dengan senyum dalam dan pandangan yang menewarang jauh sesuatu.
“Bintang itu misterius. Bisa meledak sekali waktu dan berkumpul lagi untuk membuat bintang baru.” Seungsik menghindari sebuah papan toko yang di pajang tengah jalan, membuat ia melebarkan pegangannya dan melewati papan tersebut seolah-olah rintangan.
“Bintang yang kau maksud itu bukan bintang dengan lima sudut, ‘kan?”
Seungsik tertawa lepas, menoleh berulang kali untuk melihat Sejun yang memasang wajah pura-pura polos dan kembali memperhatikan jalanan yang saat ini lebih terang. Penerangan kali ini menemani mereka yang berasal dari toserba dua puluh empat jam yang sepi.
Berisikan banyak makanan pokok dan seorang kasir yang hampir setiap waktu selalu mengikir kukunya.
Namun bukan itu yang Sejun perhatikan saat ini.
“Jangan bilang kau masih percaya bintang itu lima sudut seperti di buku anak-anak?” Seungsik menahan air mata akibat tawa yang terlalu kencang di pelupuk matanya.
Tawa itu yang Sejun perhatikan, tawa yang terakhir kali Sejun terakhir lihat sekitar dua tahun lalu, saat pertemuan pertama mereka.
“Seungsik.” Sejun berujar kecil, membuat pria dalam genggaman tangannya itu menghentikan tawanya dengan susah payah dan menoleh pada Sejun, “kenapa?”
Sejun tak langsung mengutarakan maksudnya, ia menghentikan jalannya sebentar untuk menikmati beberapa kali kedipan mata memandangi Seungsik. “Mau es krim?”
Seungsik menghentikan tawanya, mengangkat kedua alisnya tanda mempertanyakan lagi maksud Sejun. “Ini hampir pukul satu dini hari, Sejun.”
Sejun menaikkan dua bahunya, “Mau jam berapa saja, Agustus di San Francisco selalu panas. Jadi, mau?”
Entah harus berapa kali Seungsik memandang heran kekasihnya; Sejun yang kekanak-kanakan dengan tawa lebarnya.
Akhirnya, Seungsik mengangguk setuju. Membuat Sejun menariknya lagi menuju toserba terang tersebut.
Menghirup aroma minimarket yang khas dan segera menuju kotak pendingin, memilih sebentar diantara banyak pilihan dan berujung dengan Sejun yang mengambil satu es krim susu vanilla dan satu coklat mint.
Mereka berdua masih tak melepas genggaman, hingga Seungsik yang sejak tadi terpaksa mengikuti baru bisa mengutarakan kata-katanya di depan kasir. “Kau tahu aku suka coklat mint?”
Sejun menyodorkan beberapa dolar pada sang kasir yang terlihat berwajah masam karena harus meletakkan alat pengikirnya. Pria Lim itu menoleh pada Seungsik dan tersenyum, “Ini menu wajibmu setiap kita berkunjung ke Baskin Robbins.”
Setelah menerima beberapa koin sen sebagai kembalian, kaki mereka berdua menapaki trotoar kembali. Beradu langkah pada jalanan yang ditata apik dengan pohon peneduh memayungi, serta membuat bayang semu pada para pejalan kaki yang melintas saat malam.
Seungsik membuka bungkus esnya dengan sekali tarikan dan membuangnya pada salah satu tempat sampah yang tersebar di setiap sudut-sudut jalan, sesekali mencuri lihat pada Sejun yang menjilati es krim vanilla putihnya dengan tautan tangan yang terayun.
Sadar bahwa dirinya sejak tadi diperhatikan, Sejun melihat pada Seungsik. Menyetujui bahwa sudut mata Seungsik yang terlihat tegas bisa melembut pada suasana santai seperti ini.
Lama mereka berdua bertatapan dengan kaki yang berbelok pada perempatan sepi, hingga akhirnya Sejun meberikan kalimat-kalimat aneh lainnya.
“Sudah lihatnya? Aku tahu aku tampan.”
Seungsik berpura-pura batuk tanda menampik fakta yang diucapkan Sejun. “Rasa percaya dirimu rasanya sudah menembus langit.”
Sejun tertawa, menarik genggamannya dan membuat bahu Seungsik merapat padanya. “Akui saja, aku memang tampan.” Sejun yang merasa mulutnya sudah beradaptasi dengan dinginnya es krim memilih menggigit dengan potongan besar. “Itu juga yang membuat kau membantuku di pusat kedatangan saat itu, bukan?”
Seungsik semakin tertawa mendengar kepercayaan diri Sejun. Beranggapan bahwa pertemuan mereka dua tahun yang lalu adalah kekagumannya pada fisik Sejun—yang memang sangat bisa dikagumi.
Faktanya, Seungsik dua tahun lalu yang menjadi warga Amerika tak sengaja melihat Sejun yang mengisi dokumen di pusat kedatangan dengan gelagat aneh, yang ternyata setelah ia dekati, pria tampan itu lupa membawa kacamatanya dan rabunnya menyulitkan ia membaca dokumen dengan tulisan berukuran sekitar 11-12 itu.
Jadi, Seungsik hanya membantu membacakan, memberi tahu kolom-kolom mana saja yang perlu dicentang dan menunjukkan pada Sejun papan imigrasi dan membantu pria itu mencari taksi untuk menuju penginapan terdekat.
“Percaya dirimu itu, Sejun.” Seungsik yang sudah menghabiskan es krimnya dan membuang stik pada tempat sampah kecil di sisi jalan memukul pelan kepala Sejun. “Tahu begitu aku tidak membantumu saat itu.”
Mengusap kepalanya dengan bibir mengerucut, Sejun membalas, “Tapi sungguh,” Sejun mengurungkan wajah masamnya, “jika tidak ada kau saat itu entah bagaimana aku di negara besar ini.”
Sejun menarik Seungsik saat melihat sebuah lubang galian proyek yang bisa mencelakai mereka berdua. Melanjutkan perjalanan yang sudah menghabiskan tiga puluh menit dan sedikit menggumam senang kala dekorasi lampu taman yang tadi ia bicarakan mulai terlihat.
“Aku juga ingin marah dengan kantorku. Bagaimana bisa menjalani pertukaran sementara secara tiba-tiba seperti itu.” Sejun mengingat kembali masa-masanya pada kantor pusat yang ada di Korea. “Bayangkan saja, aku dikabari untuk meliput berita di sini tiga hari sebelum keberangkatan. Aku terlalu panik mempersiapkan segala sesuatunya hingga barang sepenting itu aku tinggalkan.”
Tak langsung menjawab, Seungsik tersenyum dengan matanya yang memperhatikan eksterior gedung dengan jendela setinggi tiga meter dan bendera Amerika yang di pajang di pintu masuk. “Aku juga ingin marah padamu. Bagaimana bisa terus-terusan menghubungiku saat itu.”
Seungsik tertawa kecil, memberikan lengkungan bibir pada ingatan kecil yang menyapa dirinya. Mengingat kembali saat awal Sejun menginjakkan kaki di Amerika, ia terus menghubungi Seungsik untuk sekedar pertanyaan ‘aku harus beli sampo di mana?’
“Tetapi aku tetap akan memujimu, bagaimana bisa kau seagresif itu saat tertarik padaku?”
Menahan jawabannya, Sejun menunggu mobil kabel yang serupa dengan kereta bantet yang selalu menjadi maskot San Francisco untuk lewat, tak ingin suaranya tenggelam oleh suara bising kereta bantet yang bergesekan dengan rel.
“Walau nyatanya cara itu berhasil membuatmu juga tertarik padaku, ‘kan?”
Taman tak terlalu besar tersebut mulai terlihat. Seungsik memperhatikan dengan seksama bagaimana bohlam-bohlam lampu digantung pada keseluruhan pohon yang meneduhkan taman itu.
Berisikan banyak bangku-bangku kayu yang beralaskan rumput hijau dan air mancur pada beberapa titik yang strategis dan terletak di ujung persimpangan jalan, Seungsik merasa jalan kaki membelah udara malam cukup sepadan untuk pemandangan indah ini.
Mereka menyeberang pada jalur khusus tanpa hambatan, bersama-sama mendatangi sepetak hijau tersebut dan menghirup senang udara yang bercampur aroma rumput basah yang menyegarkan.
“Bagaimana? Kau suka?”
Seungsik mengangguk, “Lebih baik dari pada berhadapan dengan laptop dan segala kertas menyebalkan itu.”
Mereka berdua mengambil duduk di bawah pohon apel yang rindang, memilih mendengarkan gemericik air mancur yang berada tepat di samping dan pemandangan tenang jalanan sepi sebagai sajian mata.
Sejun melepaskan tautan tangannya, mengangkat dua tangannya ke atas tanda peregangan otot sebelum kembali menoleh pada Seungsik yang memejamkan mata menikmati udara malam yang segar.
“Kang Seungsik.”
Sejun berujar dengan suara rendah, membuat sang pemilik nama menoleh dengan segera.
“Aku belum sempat mengucapkan ini kepadamu.” Sejun membuang pandangannya pada berbagai macam cat putih sebagai simbol-simbol jalan raya. “Terimakasih karena sudah meraihku waktu itu. Terimakasih karena telah menunjukkan diri padaku.”
Sejun merasakan semilir angin sedang menggoyangkan rambutnya yang membingkai dahi, “Entah jadi apa aku di kota besar ini jika tidak ada kau.” Sejun menjeda sebentar kalimatnya yang terakhir.
“Terimakasih karena sudah membuatku jatuh cinta juga.” Bergerak sendiri, Sejun menoleh pada Seungsik dan membuat netra keduanya bertatapan.
Bertatapan dengan begitu hangatnya hingga rasanya daun-daun di sekitar akan merasakan juga. Memberi waktu pada Sejun untuk melihat lagi potret wajah pria yang sudah memberi jutaan warna pada hari-harinya.
Tubuh mereka mendekat, tergerak oleh suasana yang hening, membuat kepala mereka tanpa sadar mendekat, menyuarakan sentuhan bibir hingga menyisakan jarak kurang dari lima senti.
Seharusnya, ini prolog dari sebuah ciuman. Tetapi alih-alih menempelkan bibirnya yang masih memiliki rasa vanilla, Sejun mengalihkannya pada gerakan lain. Terlalu menyakitkan untuk mendaratkan ciuman yang dulu selalu menjadi favoritnya.
Sebagai gantinya, ia menarik tubuh itu, mendekap sepenuh hati dengan dagunya yang bertumpu pada bahu kokoh Seungsik. Menumpahkan segala perasaan dan pikiran campur aduknya untuk merasakan aroma Seungsik.
“Terimakasih sudah membantuku selama ini. Aku menyayangimu.”
Seungsik membalas pelukan tersebut, mengusap pelan punggung lebar Sejun dan berlanjut mengelus surai-surai Sejun yang terawat baik.
“Aku juga menyayangimu. Kau sudah seperti adik ku sendiri, Lim Sejun.”
Sejun menggangguk. Memasang topeng sekokoh mungkin walau ia tahu makna kalimat itu sebenarnya.
Adik, Seungsik. Tidak ada ranah kekasih. Kenapa aku baru tahu itu?
.
.
.
Awalnya Seungsik tak mau untuk diajak pulang. Pria Kang tersebut terlanjur suka dengan hidden gem yang Sejun temukan larut itu. Hingga membuat Sejun harus memutar otak dan berhasil mengajak Seungsik pulang setelah ia memperlihatkan pada arloji yang ia kenakan bahwa jarum telah menunjukkan angka hampir pukul dua dini hari.
Menempuh perjalanan dengan lebih cepat dari sebelumnya, Sejun berhasil sampai di gedung San Sunset—apartemen Seungsik—dengan kekasihnya yang kini telah mengerjap beberapa kali tanda mengantuk.
Pria itu bahkan sudah menguap kesekian kalinya di lorong tanpa manusia tersebut, menahan mata nyaris tak bertahan dan merasa sedikit senang kala pintu unitnya sudah terlihat.
Seungsik cepat-cepat berjalan dengan pikiran ingin segera menempelkan diri di tempat tidur. Mengetikkan sandi pintu dengan usaha keras karena matanya yang buram lalu berbalik untuk melihat Sejun yang masih berdiri di depan pintu—padahal Seungsik sudah bilang pada Sejun bahwa tak perlu untuk mengantarnya sampai ke depan pintu seperti ini, namun Sejun tetaplah Sejun dengan keras kepalanya.
“Terimakasih untuk malam yang indah ini.” Sejun memainkan ujung jarinya dengan menunduk, membuat Seungsik yang setengah sadar bisa melihat hidung runcing pria itu. “Jadi tentang pekerjaanmu, apa aku lakukan sekarang?”
Seungsik ingat dengan janji Sejun di panggilan mereka tadi, ia tersenyum menggeleng dengan kepala yang bersandar pada pintu. “Sejujurnya saat aku menghubungimu lagi, aku sudah menyelesaikan semuanya. Tak perlu khawatir.” Seungsik mengusak berantakan surai lembut Sejun. Tertawa gemas karena Sejun yang kini berekspresi kesal karena rambutnya yang berantakan. “Aku juga berterimakasih untuk malam ini.”
Merapikan rambutnya kembali, Sejun membalas. “Kau besok ada pekerjaan lagi?”
Seungsik berpikir dengan sisa kesadarannya yang ada. “Tidak, besok akhir pekan? Minggu, ya?” ia terdengar tak begitu yakin dengan kalimatnya sendiri.
“Jika begitu, bersiaplah besok. Kita akan makan malam.”
Seungsik mendadak kehilangan kantuknya, masih bersandar di daun pintu namun mengangkat alisnya tanda terkejut, “tiba-tiba?”
“Besok 29 Agustus, Kang Seungsik.”
Mendengar hal tersebut Seungsik memejamkan matanya dengan gertakan gigi kecil, “Maaf, aku pasti terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”
Sejun tertawa ringan, membuat satu langkah maju dan balik mengusak surai lebat Seungsik, “Tidak apa-apa, aku akan menjemputmu pukul enam. Sekarang, pergi tidur,” Sejun melihat pada arloji yang tersembunyi di balik jaketnya. “bahkan ini hampir pagi.”
Sosok yang sudah merasakan kantuknya lagi itu mengangguk, meletakkan tangan pada gagang pintu dan tertawa manis, “Selamat malam, Lim Sejun.”
“Selamat malam, Kang Seungsik.”
Lalu pintu tertutup sepenuhnya, menyisakan Sejun yang masih menatap pintu dengan helaan nafas berat. Ia menunduk kembali memandang sepatunya sebelum mendongak tanpa makna dengan hembusan nafas lainnya.
“Semoga tidurmu nyenyak, Seungsik.” Bisik Sejun kecil pada pintu yang tertutup dan berbalik untuk menyusuri lorong dengan pikiran yang berkecamuk berat.
Ia berjalan tanpa semangat, besok 29 Agustus …. Suatu rasa sakit menyerang dadanya, memberi tahu fakta tak terelakkan yang besok pasti datang.
Namun alih-alih berfokus pada rasa sakitnya, Sejun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Berpikiran mengenai sebuah hadiah yang sejak tadi telah ia pikirkan saat melihat senyum Seungsik pada bintang-bintang.
Memesannya dalam sekali tekan dan kembali memasukkan ponselnya untuk melanjutkan langkah menuruni tangga.
Sejun berhasil keluar setelah anak tangga kesekian, merasakan lagi angin malam yang memeluk dan berbalik untuk memandang gedung apartemen dominasi warna oranye terang dan putih gading yang mencolok.
Benar-benar meneliti sekali lagi setiap sudut gedung yang selama dua tahun ini selalu menjadi destinasi wajib pada GPS di mobilnya. Mengingat lagi setiap sudut gedung untuk disatukan dengan kenangan Kang Seungsik di kepalanya. Tak melewatkan seinci detail pun walau waktu terus berjalan menuju pagi hari.
Karena mungkin saja, ini kali terakhirnya ia berkunjung ke gedung penuh cerita ini.
Sebenarnya tak ada yang spesial dari perayaan hari jadi mereka yang terjadi setiap tahun ini. Seungsik dan Sejun setuju bahwa tak perlu ada kejutan, sesuatu yang spesial atau hingar-bingar ala pasangan muda seperti itu.
Mereka lebih sepakat untuk sesuatu yang lebih sederhana. Bukan kewajiban, tetapi selama masing-masing dari mereka punya waktu luang, keduanya memutuskan akan bertemu setiap hari jadi. Setidaknya makan malam atau sekedar berbincang-bincang santai membicarakan satu tahun kebelakang.
Seperti sekarang, Sejun yang sudah mengabari Seungsik bahwa truknya sudah berada di depan apartemen, lalu sekitar tiga menit kemudian, netra Sejun yang awalnya tak fokus menangkap seorang pria dengan tampilan celana kain berwarna hitam senada dengan jas informal yang ia kenakan, lalu dipadukan dengan kaus putih polos yang menjadikannya sebagai Kang Seungsik yang rapi.
Pria itu tersenyum segera setelah memasuki mobil, mengusak beberapa surai yang menutupi dahinya dan memasang sabuk pengaman.
“Jadi, kita mau kemana kali ini?” tanya Seungsik mengeluarkan ponselnya sekedar mengecek mungkin ada surat elektronik yang masuk terkait laporannya kemarin, sebelum menoleh pada sang pengemudi dan melihat Sejun tampil dengan kemeja putih yang dua kancing atasnya dibuka dan celana denim biru muda sebagai pelengkap.
Sejun juga menggulung lengannya hingga sebatas siku. Belum lagi rambutnya yang sepertinya diolesi gel rambut dan membuatnya tertata rapi ke arah samping.
“Sebentar, kau juga terlihat rapi sekali.” Seungsik mengomentari.
Memastikan tak ada kendaraan yang akan memotong jalannya, Sejun mengarahkan mobilnya untuk menuju sisi kanan jalan—arah Bernal Heights—tanpa kepadatan kendaraan yang mengiringi.
“Pertama, kita akan pergi makan malam.” Sejun memelankan laju mobilnya, “Kedua, karena tempat makan malamnya spesial, jadi aku berpenampilan rapi.” Anggap saja, kepercayaan diri Sejun tengah berada di puncaknya kali ini.
Seungsik tertarik, “Memangnya makan di mana?”
“Di Hunters, restoran tiram Perancis dengan pemandangan laut malam dan deburan ombak.” Sejun menjabarkan jawabannya dengan bangga.
Sedangkan Seunsik yang mendengar makanan yang disebutkan memasang ekspresi kembali bertanya. “Apa kau sedang ingin bernostalgia dengan memakan makanan itu lagi?”
Sejun menggeleng, sesekali menoleh pada Seungsik. “Tidak,” ia berdeham pelan. “Jika nostalgia, aku sudah pasti akan mengajakmu ke restoran super mahal itu lagi.” Rujuknya pada restoran mewah yang menjual tiram mentah dan mematok harga setara dengan jam tangan berkelas, yang Sejun akui enak akan rasanya walau tetap tak bisa menerima untuk harga selangit seperti itu.
Juga, ia tak ingin menodai tempat bersejarah baik itu dengan kenangan menyakitkan. Karena restoran mahal itu tempat Sejun menyatakan cintanya.
“Ini rekomendasi temanku. Dia bilang di daerah Hunters ada restoran Perancis dengan tiram-tiram mentah yang seenak milik lokal Perancis. Harganya juga masuk akal dan aku berpikiran untuk mengajakmu ke sana.” Sejun tersenyum, menaikkan alisnya memperhatikan Seungsik yang masih fokus padanya. “Juga, karena aku punya kejutan. Aku ingin membuatnya tetap spesial.”
Seolah ada antena yang menangkap sesuatu yang menarik, Seungsik kembali bertanya, “Dan kau tidak akan memberitahuku sekarang?”
Memastikan mobilnya sudah melaju dengan kecepatan yang lebih rendah pada jalanan turun kali ini, Sejun menggeleng, membuat beberapa surainya yang dibentuk kaku menjadi bergoyang mengikuti. “Tunggu, Kang Seungsik. Noe Valley ke Hunters bukan jarak yang jauh, sebentar lagi kita sampai.
Memilih untuk menurut, Seungsik mengangguk. Tetap merasa penasaran tapi ia akan mengikuti kemauan Lim Sejun.
.
.
.
Menempuh sekitar lima belas menit dengan mobil legendaris Pria Lim itu, mereka berdua sampai pada suatu ujung dari San Francisco. Daerah Hunters memang terkenal karena letakknya yang di pucuk selatan San Francisco yang berhadapan langsung dengan lautan lepas. Menjadikannya tetap memiliki citra metropolitan ala San Francisco dan memiliki udara panas ala pantai karena hamparan lautan yang kini membentang di hadapan mereka berdua.
Seungsik masih belum mengetahui di mana mereka akan makan, karena Sejun memarkirkan mobilnya tepat pada barisan pantai dekat dermaga yang terdiri dari batu-batuan besar sebagai penyongsong, hingga pria yang sore itu terlihat begitu tampan dalam balutan hitam-putih menarik lengan Seungsik dan berjalan.
Menyusuri jalanan setapak yang tak terlalu jauh hingga pandangan mereka menangkap sebuah bangunan kayu yang dicat putih tak terlalu besar. Memiliki papan kayu sebagai jalan masuk menutupi pasir pantai dan segera setelah itu mereka disambut dengan interior klasik ala bangunan tropis-Hawaii namun tetap dengan unsur elegan yang dibentuk sedemikian rupa.
Set-set meja yang ditutupi taplak putih dan lilin yang menari kecil, tempat ini tak terlalu ramai hingga mereka berdua memilih tempat duduk di dekat jendela yang cukup besar dan berhadapan langsung dengan pemadangan matahari yang mulai tenggelam dibalik riak laut yang tenang.
“Ini tempat yang luar biasa.” Seungsik masih tak habis-habisnya memperhatikan setiap jengkal gedung ini yang unik. Mulai dari warna putih pada kayu dan beberapa hiasan foto dan lukisan mengenai kehidupan bawah laut yang memiliki identik nuansa putih abu-abu.
Sejun yang tadinya sudah membuat janji dengan tempat ini hanya menggumamkan ‘Reservasi atas nama Lim Sejun’ Pada sang pramusaji lalu wanita itu segera mengangguk meninggalkan mereka.
“Bagaimana? Kau suka?”
Seungsik mengagguk bersemangat. Bagaimana bisa ia yang lebih lama tinggal di tempat ini tak mengetahui sesuatu seindah ini.
“Aku senang jika kau senang seperti ini,” dan selain senang, kau juga harus bahagia.
Sejun tersenyum, kali ini bukan senyum bersemangat hingga matanya menghilang, melainkan menaikkan sudut bibirnya dan meraih tangan Seungsik yang berada di atas meja. Ia menggenggamnya longgar, memperhatikan ruas jari itu selama beberapa saat sebelum menjawab.
Memperhatikan Sejun yang masih menggenggam jari-jarinya, Seungsik melembut. “Ah tentang kejutan itu, apa aku boleh tahu sekarang?”
Sejun mengangkat kepalanya, kembali memberi senyum lagi namun dengan gelengan dan mata yang terlihat teduh. “Makan dulu, ya? Setelah itu aku akan memberimu kejutannya.”
Seolah bertepatan dengan hal itu, seorang pramusaji datang dengan kereta makanan yang ia bawa. Berisikan sepiring tiram mentah dengan bumbu tradisional dan sesuatu yang lunak pada rak bawah kereta makanannya.
Makanan telah disajikan. Membuat mereka memakannya dengan lahap, Seungsik sibuk menjelajahi lempengan keramik tersebut untuk mulai memikirkan tiram mana yang harus ia lahap, sejauh ini tiram memang menjadi favorit Seungsik.
Namun sayangnya antusiasme yang sama tidak terjadi pada Sejun. Pria itu nampak sedikit enggan dengan makanannya dan tetap menggenggam jemari Seungsik yang tak digunakan untuk makan.
Beberapa kali mencuri lihat sesering mungkin dengan helaan nafas berat. Berusaha memanfaatkan segala sesuatu sebaik mungkin, karena sekali lagi, ini adalah kali terakhirnya.
.
.
.
Tiram mentah untuk sebagian orang adalah momok yang tak akan bisa dihubungkan sebagai hidangan yang nikmat. Sejujurnya, Seungsik juga berpikir begitu, awalnya, ia tak akan cocok dengan kuliner Perancis satu ini.
Namun karena dulu dalam masa pendekatan mereka, Sejun yang sering sekali pergi ke berbagai negara untuk meliput berita—termasuk Perancis—memaksa Seungsik untuk mencobanya.
Seungsik tentu enggan, hingga akhirnya paksaan itu berhasil membuatnya menghabiskan enam tiram sendirian.
Sama seperti sekarang, Sejun memesan dua tiram mentah dan Seungsik menghabiskannya dalam kurun dua puluh menit. Sejauh ini, tiram mentah adalah makanan terbaik selain makanan Korea.
Sedikit rasa asam masih tersisa di rongga mulutnya akibat perasaan lemon pada tiram, pria Kang itu lantas mengambil gelas anggurnya dan meneguk sedikit.
“Tiram memang terbaik,” Seungsik menyandarkan punggungnya kasual, “juga karena kualitasnya yang bagus, hidangan ini menakjubkan.”
Mendengar komentar positif tersebut, Sejun tersenyum. Ia yang juga sudah menghabiskan makanannya memanggil sang pramusaji, mempersilahkan wanita muda itu untuk mengambil piring-piring kosong dengan kata ‘terimakasih’ sebagai penutup.
Menyisakan keduanya pada masing-masing gelas anggur—milik Sejun lebih rendah alkohol karena ia harus menyetir tentu saja—sama-sama menghadap keluar jendela memperhatikan langit jingga telah berganti dengan samar-samar biru gelap yang mendominasi.
“Syukurlah jika kau menyukai hidangannya.” Sejun menggoyangkan sebentar gelas berkakinya dan meminum anggur putih itu untuk mengalirkan cairan manis dan sedikit sensasi panas pada tenggorokannya.
Entah bagaimana, pengaruh interior yang hangat atau memang karena dirinya sendiri, kini suasana santai tersebut berubah sedikit melankolis, yang sebenarnya hanya dirasakan oleh Sejun.
Ia meletakkan gelasnya, memperhatikan Seungsik yang ada di hadapannya, pria itu tersenyum samar. Mata dengan netra coklat gelap itu memantulkan gerak ombak-ombak kecil yang sedang ia pandangi, diiringi dengan angin pantai yang beberapa kali mengubah tatanan rambut Seungsik.
Dada Sejun berdebar seperti biasa memperhatikan pemandangan itu, memang Seungsik selalu bisa membuat jantungnya hidup. Namun selang beberapa detik pada pengamatan diam-diam itu, sebuah gelayar sakit kembali menyambangi Sejun. Pria itu merasa jantungnya berdebar lebih keras, namun tetap ia akan menyembunyikannya.
Sejun tak ingin menghancurkan momennya bersama Seungsik.
Sayangnya, pengamatan itu disadari oleh sang empunya mata. Ia mengalihkan pandangannya dari ribuan ombak yang menari-nari dan memandang Sejun lurus. Merapikan kembali beberapa anak rambutnya yang berantakan.
“Apa penampilanku aneh?”
Tertawa kecil, Sejun bersyukur bisa mengalihkan dirinya dari tikaman tak kasat mata di dadanya. Ia memandang Seungsik lekat, lantas menarik jemari pria itu untuk ia genggam di atas meja.
“Kau terlihat tampan malam ini.” ujarnya memberi pujian tulus. Seungsik tersipu.
Memfokuskan diri pada genggaman itu, Sejun mengusapnya perlahan. Merasakan permukaan hangat kulit Seungsik yang selama ini selalu menjadi candunya saat mereka bersama, sekedar menggenggam, mengusap atau berakhir dengan kecupan-kecupan kecil pada ruas jari Seungsik.
“Sejun.” Sang pemilik nama mendongak, melihat Seungsik yang kini tersenyum lembut kepadanya. “Terimakasih sudah begitu baik padaku, ya.”
Seperti biasa, Seungsik selalu memberikannya perkataan yang manis. Tetapi sekali lagi, dada Sejun kembali berdenyut sakit untuk yang kesekian kalinya.
Namun, alih-alih terbuka, Sejun lagi-lagi menutupinya, untuk sebentar lagi.
“Aku belum mengucapkan ini secara resmi padamu.” Sejun menarik nafasnya berat. “Selamat hari jadi ke-dua tahun, Kang Seungsik.” Sejun memajukan tubuhnya, memperhatikan lebih dekat lagi lekuk wajah Seungsik secara detail.
Sejun menahan kalimatnya di ujung lidah, terasa begitu berat walau akhirnya ia menyuarakannya.
“Terimakasih karena sudah menjadi orang yang baik, rasanya seluruh dunia tak akan pantas mendapatkan kebaikanmu. Kau harus mendapatkan yang terbaik, Seungsik.” Kata-kata yang tulus, tetapi Sejun tak bisa tersenyum.
Ia menundukkan pandangannya selama beberapa saat, sebelum kembali mendongak untuk melihat Seungsik yang menyadari kegundahannya.
“Sejun, ada ap—,”
“Aku ingin kita menyudahi hubungan ini.”
Selama beberapa detik, tak ada yang membuat suara diantara mereka.
Bagai disambar petir, Seungsik hanya mampu membuka mulutnya dan mengerjap cepat memperhatikan Sejun dengan tatapan tidak percaya. Ia masih terdiam meminta penjelasan lebih walau pria Lim itu nampak yakin dengan kata-katanya.
Sedangkan Sejun, tercetak jelas pandangan sendu yang selama ini ia sembunyikan. Siapapun pasti akan menyadari adanya guratan luka pada mata yang kini mulai berair tersebut.
“Kau mabuk pasti—,”
Sejun meremas pelan tangan Seungsik, “Hentikan, Seungsik. Hentikan semua kebohongan ini.”
Jika mampu digambarkan, Seungsik berani bersumpah senja itu adalah saat di mana ia melihat sesuatu yang hampir tak pernah ia bayangkan selama mereka bersama, duka di mata Sejun.
Sejun menyunggingkan senyumnya, “Aku sudah tahu semuanya,” ia menjeda dengan nafas berat, “cinta satu sisi ini.”
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Ujar Seungsik dengan dahi yang berkerut.
Sesungguhnya, timbul sedikit rasa senang bagi Sejun karena Seungsik yang berusaha menampik satu fakta yang ia benci ini. Namun, sudah terlalu lama kebohongan ini tumbuh, dan ia berniat memangkasnya sekarang, demi Seungsik juga.
Sejun tertawa kecil, memandang sebentar keluar jendela memperhatikan langit yang saat ini sudah benar-benar gelap. Lantas matanya kembali memperhatikan Seungsik.
“29 Agustus 2019, Sejun menyatakan perasaannya padaku; melalui dua lilin dan tiram mentah di piring kami masing-masing. Sejun tampil sangat tampan, ia menyisir rambutnya rapi dan terus tersenyum padaku.” Sejun mengucapkannya dengan pandangan nyaris kosong, membuat Seungsik yang awalnya tak mengerti menjadi tercekat oleh salivanya sendiri.
Kalimat itu, kalimat yang sangat Seungsik kenali.
“Sejun, pemuda polos dan berjiwa bebas yang aku kenali di pusat kedatangan. Ia baik, ia sangat ekspresif dan hangat. Sejun lucu. Entah bagaimana dia bisa memiliki semua kesempurnaan itu. Tak jarang beberapa teman-temanku meminta nomornya.” Sejun menarik nafasnya, menyembunyikan suaranya yang bergetar namun masih tak ingin melepaskan tangannya.
“Aku senang menghabiskan waktu bersemanya. Dia punya obrolan yang hangat, selalu mengerti segala keluh kesahku dan selalu siap membantuku.” Sejun memberi jeda, “Dan malam tadi, setelah menghabiskan tiram, ia menyatakan perasaannya padaku. Jujur, aku bingung.”
Seungsik menggoyangkan genggaman tangan mereka. Mencoba menghentikan barisan kalimat yang telah menjadi halaman pertama pada jurnal kopinya.
“Sejun, tolong dengarkan—”
“Aku tak memiliki perasaan yang sama sepertinya. Aku hanya menyukai Sejun sebagai adik.” Seungsik yang masih mencerna runtut kejadian tersebut, diam. Ia tak mampu melakukan apapun saat matanya bersirobok dengan kedua iris Sejun yang nampak terluka. “Tetapi tidak apa. Mungkin selama aku mencoba terbiasa, aku akan jatuh cinta pada Sejun.”
Jantung Seungsik rasanya seperti terjun bebas dari ketinggian. Ia menggenggam erat jemari Sejun yang kini telah longgar. Pikirannya berkecamuk berisik, namun lebih payahnya lagi, Seungsik tak bisa mengucapkan apapun.
Sejun sudah tahu semuanya.
Tangan Sejun bergerak pelan, atau lebih tepatnya segala gerak pria itu menjadi lebih lambat di mata Seungsik, karena atensinya yang kini terpaku pada luka yang menganga lebar di mata pria itu.
“Sejak awal, hanya aku yang merasakan perasaan ini, Seungsik.” Sejun bersuara dengan kesedihan yang kentara, namun pria itu tetap berupaya tegar. “Kau tak pernah mencintaiku, bukan?”
Pria Lim itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sobekan dari jurnalnya, yang sudah berapa hari tak ia periksa dan kini muncul sebuah penyesalan, seharusnya ia tak pernah menulis di buku itu. “Sejun, aku-aku minta—”
Sejun tersenyum kecil, masih dengan tautan tangan mereka ia menyela menghentikan ucapan tulusnya. “Tak apa-apa, Seungsik. Seharusnya di sini aku yang minta maaf.”
Seungsik menunggu, ia membiarkan Sejun terus melanjutkan perkataannya. “Aku sempat berpikiran bahwa kau hanya menulis cerita fiksi di jurnalmu, bahkan aku juga sudah berencana untuk berpura-pura tak tahu, kembali bersikap biasa saja, karena sekali lagi aku terlalu mencintaimu. Aku ingin kau tetap berada di sisiku.”
Sejun tak pernah merencanakan pidato sedih ini. Ia tak pernah merencakanan apapun sejak mengetahui semuanya, ia terlalu takut untuk menghadapi situasi seperti ini. Tetapi siapa sangka, Sejun berhasil mengutarakan segalanya.
“Hingga akhirnya aku sadar, setiap pandanganmu padaku, setiap kata-kata manis dan penenangmu untukku, segalanya dibangun dengan mengubur mimpi dan kebahagiaanmu sendiri, Kang Seungsik.” Sejun tak bisa menghentikan kilas balik kenangan beberapa hari ini bersama Seungsik, bagaimana pria ini selalu mengutamakan dirinya dan berupaya baik-baik saja demi menyenangkan Sejun.
“Maafkan aku telah begitu impulsif terhadap semuanya. Maafkan aku yang selalu menganggap senyummu adalah senyum cinta.” Sejun memajukan tubuhnya, ia mengambil tangan Seungsik yang lain dan menggenggamnya dalam. “Maafkan aku telah menahanmu di sini demi perasaanku. Maafkan aku, maafkan aku karena baru berani mengambil keputusan sekarang.”
Jantung Seungsik berdetak sakit, ia menunduk tak sanggup memandang netra tulus yang menatapnya. “Maafkan aku, Lim Sejun.” Seungsik mendengarkan deru nafasnya yang terasa berat. “Aku sudah mencobanya.” Seungsik menggigit dalam bibirnya, sesungguhnya perasaannya kali ini sedikit campur aduk, tetapi yang jelas ia tak suka melihat duka di mata Sejun.
“Hei, tak apa.” Sejun mengusap telapak itu lembut, “Bukan salahmu jika sampai akhir kau juga tak bisa mencintaiku.” Sejun membawa naik tangan itu dan mengecupnya lambat, “Terimakasih sudah mau mencoba, terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk merasa dicintai oleh orang sebaik kau, Seungsik.”
Seungsik menggeleng, “Tidak, aku tidak baik. Aku jahat. Aku menya—”
Sejun menyela, “Kau orang baik, Kang Seungsik. Kau orang yang sangat baik.” Sejun bisa merasakan tikaman tak kasat mata itu terasa semakin dalam. Tetapi, untuk kali ini ia bisa tersenyum lapang.
“Aku ingin kau bahagia juga.” Sejun melanjutkan, “Aku ingin kau mengejar impianmu yang tertunda.”
Sejun melepas sebentar tautan tangan mereka. merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar kertas panjang; tiket pesawat dengan tujuan bandara internasional Eleftherios Venizelos, Athena.
“Pergilah ke kota impianmu ini. Aku tahu kau sangat mencintai rasi bintang dan segala sesuatu mengenai cerita kuno. Pergilah Seungsik, sudah waktunya kau bahagia.”
Seungsik termangu, bagaimana Sejun mengetahui semua ini? mimpi yang telah lama ia kubur saat memutuskan untuk menemani Sejun di sini….
“Kau, bagaimana kau bisa tahu mengenai ini semua?”
Sejun tertawa kecil, “Itu tidak penting, Kang Seungsik. Sekarang ambilah.” Sejun menyodorkan selembar tiket pesawat itu pada sosok yang paling ia cintai. “Berbahagialah.”
“Lalu bagiamana dengan kau, Lim Sejun.”
“Aku?” Sejun memandang sebentar keluar jendela, “Aku akan terus berdoa agar kau bahagia, Kang Seungsik.” Ia kembali menatap Seungsik, sekali lagi memperhatikan wajah yang sebentar lagi akan menjadi sebuah ingatan terindah, Sejun mengusap jemari lembut itu lagi.
“Pergilah, kejar kebahagiaanmu.”
.
.
.
END
