Work Text:
Sejujurnya, kemacetan bukanlah sesuatu yang akan dinikmati oleh siapapun pada era kehidupan dewasa seperti ini. Lagi pula, siapa yang mau terus duduk berjam-jam di kursi kemudi, tak bisa berbuat apa-apa dan tak henti-hentinya mendengar kendaraan lain beradu klakson.
Tetapi beruntung, untuk kasus si pemuda berumur dua puluh empat tahun kali ini, ia bisa terjebak di dalam mobil SUV-nya yang nyaman. Menikmati semilir angin sejuk dari hembusan air conditioner.
Ia tak beerkeringat, tak kelelahan dan hanya duduk bersamaan dengan sebelah kaki yang siaga di pedal gas. Jadi Hanse—si pengemudi SUV yang siang ini mengenakan kaus putih polos dan celana hitam tanpa motif—memiliki waktu lebih untuk sekedar merenung dan berpikir.
Hanse menginjak sedikit pedal gas. Melihat antrian mobil di depan yang telah maju dan kembali menyandarkan kepala saat melihat kemacetan ini kembali tersendat. Bukan masalah besar, ia melirik pada jam tangannya, Surabaya memang berkawan baik dengan kemacetan.
Jika dilihat dari padat merayapnya antrian saat ini, tak heran ia baru akan sampai sekitar satu jam lagi. Walau memang jarak tempuh dari restorannya dan gedung bertingkat tujuannya kali ini tak terlalu jauh … tetap saja kemacetan memberi tambahan durasi waktu.
Maka setelah memastikan tuas perseneling sudah di posisi yang tepat, Hanse memandang kosong pada mobil biru di hadapannya. Membiarkan pikirannya berlabuh pada hal yang sejak tadi menggelayuti.
Magnet.
Benar, magnet. Adalah kata yang jika Hanse buatkan daftar untuk siapapun yang menjulukinya dengan kata benda itu … sudah pasti ia akan membuat dafatar nama dua halaman penuh.
Hanse menginjak lagi pedal gasnya pelan, kali ini sedikit menggenggam setir karena rupanya kemacetan sedang berkurang. Ia bisa menambah kecepatan mobilnya. Berkendara hati-hati dengan memastikan Rush hitamnya ini masih memiliki jarak aman pada setiap kendaraan yang ada; walau memang untuk jajaran sepeda motor yang terus menyalip, mereka tak memasang jarak aman.
Sama seperti sebuah motor matic yang menyalip di sebelahnya. Sang pengemudi dan sosok yang dibonceng nampak tak berhati-hati. Mencari celah sana-sini seolah yang dipikirkan hanya ‘agar cepat sampai’ tipikal pemikiran remaja yang sembrono. Terlihat dari seragam putih abu-abu yang mereka kenakan … memberikan gambaran dari remaja yang lebih suka bersenang-senang dari pada bersikap realistis.
Sama seperti dirinya dan Sejun, dulu.
Dua pria yang selalu dijuluki sebagai magnet.
Barisan kendaraan mulai maju. Kali ini Hanse mengubah tuas perseneling karena tanjakan dari jembatan layang yang akan ia lalui. Memasang rem tangan saat kendaraan kembali berhenti dan sibuk kembali oleh pikirannya sendiri.
Tentang Sejun.
Mulai dari kalangan guru-guru, orang tua mereka, Hanbi—adiknya—hingga kini teman-teman kerja masing-masing dari mereka tak pernah lepas untuk menjuluki keduanya sebagai magnet.
Hanse sebagai kutub negatif dan Sejun sebagai kutub positif.
Jelas sekali mereka berdua sepenuhnya berlawanan. Mulai dari kepribadian, kegemaran, kebiasaan hingga pemikiran, Sejun dan Hanse selalu diceritakan sebagai antonim. Tetapi selayaknya hukum magnet, mereka selalu bersama.
Atau mungkin Sejun yang lebih tepatnya tidak mau ‘lepas’ hingga Hanse yang selalu memiliki sifat acuh tak ambil pusing hingga membiarkan bocah yang berumur satu tahun lebih tua darinya itu menempel kemanapun ia pergi.
Kendaraan hitam metalik itu semakin naik, kali ini sudah berada di ketinggian yang stabil hingga Hanse tak perlu memasang rem tangan lagi. Ia bisa menormalkan tuas persenelingnya dan kembali menyetir normal—tangannya bergerak leluasa menggenggam bagian bawah setir mobil. Mulai memasang kecepatan normal dan bersyukur pada kemacetan yang berhasil dilalui.
Sejujurnya, Hanse sendiri juga tak paham tentang bagaimana mereka bisa bersama. Hal itu sudah terlalu lama untuk diingat. Tetapi yang jelas, Hanse tak akan pernah bisa lupa mengenai rumah tempat ia menghabiskan masa kecil yang ada di dekat pelabuhan.
Tempat itu begitu panas, seolah-olah segala matahari di Surabaya sengaja memberikan sinar lebih di sana. Hingga membuat Hanse cilik yang benci berkeringat juga enggan sekedar keluar rumah, hal itu membuat Sejun—satu-satunya bocah cilik yang bisa keluar masuk kamarnya—selalu menghabiskan hari untuk sekedar berbaring atau tidak melakukan apapun di kamarnya.
Hanse tak pernah mengusir. Ia membiarkan apapun yang dilakukan bocah itu. Sampai tahap membiarkan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
Hanse mengikutinya juga.
“Tidak, Sejun. Mataharinya panas.” Hanse mengeluh marah. Berusaha menutup telinga dari antusiasme si bocah Lim walau kini ia tengah melompat-lompat di atas kasur Hanse.
“Aku bersumpah, di pantai melihat putri duyung.” Sejun kembali menarik tangan yang lebih muda. “Ayo. Tidak akan lama aku janji. Ayo ikut aku!”
“Aku tidak mau. Pantai jauh.” Hanse kembali menolak. Memang umurnya baru genap sepuluh tahun. Tapi ia juga paham untuk tidak bersepeda jauh-jauh jika tak ingin terkena amukan sang ayah.
Tetapi Sejun, si bocah matahari dengan segala semangatnya tak pernah kehabisan cara. “Aku yang menyetir. Kau berdiri saja di belakangku. Kita lihat putri duyung ya? ya?” Sejun kembali memohon, “Nanti pulangnya kita beli es kelapa.”
Mendengar kalimat yang terakhir, Hanse menoleh untuk meyakinkan dirinya sendiri. “Aku hanya perlu berdiri di belakangmu?”
Sejun mengangguk bersemangat. “Tentu. Ayo, sebelum gelap.”
Sepenggal ingatan masa kecil menyambangi kepalanya. Kejadian itu sudah berlangsung hampir belasan tahun yang lalu. Namun tak pernah sekalipun lepas dari ingatan Hanse.
Ia tertawa kecil. Menggelengkan kepala sembari menikmati semilir angin pendingin karena tak habis pikir bisa-bisanya ia kala itu menuruti Sejun. Mau melihat putri duyung di pantai hingga tak sadar langit mulai gelap.
Memang tingkah bocah tak pernah bisa diprediksi. Mereka berdua bersepeda seperti orang gila. Menembus berbagai macam gang-gang kecil demi mencari jalan alternatif. Bersepeda gelisah karena bayangan ayah Hanse yang mungkin sudah berkacak pinggang marah.
Hanse dewasa bahkan masih bisa mengingat saat Sejun cilik kehabisan nafasnya namun tetap semangat mengayuh pedal. Tak bosan-bosan bilang pada Hanse yang berdiri di belakangnya untuk jangan melepas pegangan. Bocah Lim itu juga takut dengan kemarahan Ayah Do. Hingga ia mengabaikan kerja paru-parunya yang dipompa menggila.
Hingga kayuhan sepeda merah itu sampai di rumah sang sahabat tepat sebelum jam delapan malam untuk menemukan semua penduduk kampung tengah berkumpul di rumah Hanse.
Ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana banyaknya orang keluar masuk dari dalam rumah tingkat dua tersebut. Semua terlihat panik dan bahkan kedua orang tua Sejun juga berada di dalam sana.
Belum lagi mobil-mobil oranye yang berjejer, memuat banyak orang dengan pakaian warna serupa. Membuat kehebohan bahkan hiruk pikuk yang tak terkendali; Basarnas.
Ternyata, orang-orang mengira Hanse dan Sejun diculik ‘makhluk halus’ atas laporan salah satu warga yang melihat mereka sedang bersepeda di sekitar pohon tua di sana.
Tak ada yang mampu Hanse lakukan selain tertawa saat ini. Bagaimana bisa mereka selugu itu. Membuat kehebohan kampung hingga berujung dengan sepedanya sendiri yang disita sang Ayah dan hukuman untuk tak boleh bertemu Sejun selama satu bulan.
Benar saja, selama satu bulan lamanya ia sama sekali tak boleh keluar rumah. Harus selalu berada di pengawasan sang ibu dan tak ada pilihan lain selain menemani adik perempuannya bermain masak-masakan.
Namun bukan Sejun jika anak itu tak memiliki seribu satu akal cerdik untuk menghindar dari hukuman tersebut.
Hanse ingat, bagaimana pada satu malam itu jendela kamarnya begitu berisik, yang ternyata setelah dibuka anak itu ada di sana.
Sejun memanjat pohon mangga di halaman rumahnya. Dengan menggigit CD Power Ranger untuk mereka habiskan semalaman.
Sejun adalah sepenuhnya teman yang Hanse butuhkan. Kepribadiannya yang seperti matahari bisa memenuhi Hanse yang selalu diam tertutup seperti bulan. Sejun yang selalu berisik seolah tak pernah mati topik untuk mengobrol dengan Hanse yang pemikir.
Menjadikan mereka saling melengkapi satu sama lain hingga akhirnya tumbuh bersama sebagai kutub magnet yang saling menarik.
Sayangnya, bayangan melankolis itu berhenti karena sebuah dering telepon yang menghentikan musik pada audio mobil.
Panini head is calling.
“Demi Tuhan, jam istirahat siangku sudah hampir habis! Di mana makananku?”
Tak ada salam pembuka, tak ada basa-basi. Yang pria itu lakukan di detik pertama telepon di angkat adalah berteriak.
Hanse menyentuh telinganya yang berdenging keras. Melihat pada panggilan yang berlangsung sebelum matanya kembali memandang jalanan untuk menyetir. “Sabar. Surabaya selalu macet. Kau pikir mudah menyetir di tempat ramai seperti ini?”
Terdengar gemuruh sebentar, entah apa yang dilakukan pria itu. “Jam makan siangku tinggal tiga puluh menit lagi.”
Pria Do itu melirik pada jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, menggelengkan kepala sebagai respon wajib setiap berbicara dengan Sejun. “Kau tidak akan mati hanya karena terlambat makan. Tunggu, ini sudah dekat.”
Sejun membuat suara terkejut, “Kau mengantarkannya sendiri lagi?” lalu ia kembali melanjutkan, membuat nada berisik sekeras mungkin seolah sengaja mengerjai gendang telinga Hanse. “Kau mendadak bangkrut atau apa sih? Kurir menganggur sebanyak itu kenapa kau berangkat sendiri?”
Yang ditanya berdeham. Hanse hanya memandang jalanan berpura-pura tak melihat audio mobil walau sang lawan bicara tak berada di sini. Matanya bergerak gelisah namun bibirnya mengukir senyum. “Kau harusnya bersyukur. Kapan lagi si bos yang mengantarkan makanan.” Hanse memasang lampu seinnya untuk berbelok memasuki lobi gedung perusahaan tersebut, “aku sudah sampai di lobi. Kau tidak keluar dalam sepuluh menit, ucapkan selamat tinggal pada sop igamu, Lim Sejun.”
Lalu telepon terputus.
Menyisakan Hanse yang memandang ponselnya tersenyum. Menggelengkan kepala dan meraih kotak bekal yang ia pasangi sabuk rapi di kursi sebelahnya.
Kenapa kau berangkat sendiri? Pertanyaan pria itu kembali terulang pada otak Hanse yang tengah berpikir. Memberikan banyak bayang-bayang semu untuk memancing senyum yang lebih lebar.
“Karena aku ingin melihatmu, Bodoh.” Ucapnya bermonolog pada setir kemudi.
Lantas ia turun dari mobil SUV tersebut, merasakan udara Surabaya yang kata Sejun sengaja mengambil jatah kebocoran neraka paling banyak dan berjalan mengerutkan dahi menuju lobi gedung.
Benar, Hanse mau datang sendiri … berkecimpung dengan macetnya Surabaya karena sebuah kisah yang telah berubah.
Katakan saja Hanse pintar—ia akan mengakuinya tentu saja. Hanse pantas mendapatkan pujian itu. Karena beberapa tahun ke belakang, ia lebih dari sadar untuk menyadari bahwa kisah pertemanannya sudah berubah.
Menjadi kisah cinta yang unik.
Hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit untuk Hanse berjibaku dengan panasnya udara, setelah menapaki beberapa anak tangga dan melemparkan senyum kepada pihak security, tubuhnya kembali dilingkupi sejuknya pendingin ruangan.
Memandang lobi dengan perasaan takjub yang sama dan memilih duduk di salah satu set sofa yang tersedia di ruang tunggu. Matanya lantas kembali melihat ke interior gedung yang didominasi oleh warna putih gading, lalu dengan beberapa sentuhan garis merah pada setiap perabot tersebut di meja informasi.
Sosok di balik meja tersebut memberi senyum, gadis dengan rambut sebahu yang selalu berada di garis terdepan untuk menyambut tamu-tamu yang hadir; Sarah—melempar senyum pada Hanse dengan wajah ramah.
Hanse bukan karyawan di sini, namun orang-orang yang terbiasa di lobi pasti selalu melempar senyum padanya—mungkin mereka semua sudah terbiasa untuk melihat sosok penuh tato itu selalu berkunjung pada jam makan siang.
Tak lama, lift di sisi ruangan terbuka menimbulkan denting yang nyaring. Sejun keluar dari sana dengan tampilan bekerjanya yang biasa, kemeja biru laut dan celana hitam kain serta ditambah ID card yang dikalungkan.
Pria berumur dua puluh lima tahun tersebut berlari tergopoh-gopoh. Mengabaikan beberapa pasang mata yang memperhatikannya dengan pandangan heran sekaligus bertanya. Namun memilih abai kala sosok yang ditemui adalah Hanse.
Kata mereka, sudah biasa.
“Tujuh menit,” Sejun membanting punggungya di sofa hadapan Hanse. “Aku sampai dalam tujuh menit.” Pria Lim itu menutup matanya dan merebahkan diri di atas sofa, berusaha menarik nafas panjang-panjang masih tak peduli dengan teman kantornya yang memperhatikan.
Sedangkan sosok pria di hadapannya hanya tertawa kecil, memperhatikan dengan tertarik bagaimana wajah sahabatnya yang masih sibuk mencari oksigen. Terlihat setengah panik dan sepenuhnya terengah-engah.
“Gila.” Sejun nampak sedikit lebih tenang. Ia kembali duduk dan menumpukan kedua sikunya di atas paha. “Sepuluh menit. Ruanganku ada di lantai sepuluh kau tahu.” Ia melancarkan protes. Tak terima bagaimana pria pemilik tato duyung ini seenaknya memasang waktu.
Tetapi Hanse kembali memasang wajah datarnya, “Aku tahu.”
Ia mengeluarkan kotak bekal berwarna hitam dari arah sampingnya. Menyodorkan pada Sejun sop iga dan nasi yang telah dikemas rapi—Hanse sendiri yang mengemasnya dengan meminta bantuan sous chef, Kang Seungsik si penggerutu.
“Kau sengaja,” Sejun protes. “Setelah bosku memintaku membenahi printer, sekarang datang kau juga mengerjai. Memang aku hanya badut.” Sedikit intermezzo tak penting sebenarnya, tapi Hanse tetap senang mendengarkan.
Hanse menaikkan bahu, “Lalu kenapa kau mau-mau saja.”
Sejun nampak ingin melangsungkan protes kembali, namun segala perkataan itu akhirnya ia tahan di ujung tenggorokannya. “Baiklah, terserah.” Sejun mengambil kotak bekalnya. “Tetapi terima kasih. Kau mau repot-repot mengantarkannya sendiri.”
Hanse tak tersenyum, ia kembali memasang wajah datar seolah tak peduli. “Tidak sedikit penjual makanan yang berjajar di depan.” Tunjuk Hanse pada area depan kantor Sejun yang memuat banyak restoran ternama lainnya. Bahkan Hanse juga berpikiran jika seandainya ia pegawai di kantor ini, sudah pasti akan menghabiskan gajinya untuk merasakan ayam betutu yang terkenal di depan sana. “Kau pasti kurang kerjaan sekali sampai pesan di tempatku yang jaraknya dua jam karena macet.”
Sejun hendak membuka kotak bekalnya, namun pria yang tadinya kesal setengah mati itu mendongak. Membuat rambutnya yang ditata sedemikian rapi dengan minyak rambut sedikit bergoyang mengikuti gerak kepalanya, “Tidak ada yang menjual sop iga sesempurna milikmu.” Sejun tersenyum, “dan, kapan lagi pemiliknya sendiri yang mengantarkan.”
Hanse berani bersumpah, sepertinya jantungnya sudah berpindah bersanding bersama lambung.
Namun ia tetap menjaga ekspresi. “Dasar.” Komentarnya berlawanan dengan degup jantung.
Sejun tertawa. tak mengambil pusing dengan ekspresi datar Hanse dan memeluk kotak bekal itu kuat-kuat. “Baiklah, aku akan makan sekarang. Tinggal dua puluh menit.” Ia menoleh pada jam tangannya, “Terima kasih, nanti malam aku kembalikan kotak bekalnya.” Ia nampak menjeda sebentar kalimatnya, “ada yang ingin aku bicarakan juga.”
Kalimat itu … Hanse merasakan euforia yang lain. Sebuah kalimat tersirat yang selalu ia gunakan untuk mengunjungi kediaman Do Hanse malamnya.
“Terserah.” Hanse lantas beranjak. Ingin cepat-cepat keluar dan menghindar namun tertahan saat Sejun menarik lagi lengan tangannya.
Membuat mereka berdiri berhadapan dan Hanse yang harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang lumayan jauh. “Tetapi sungguh, terima kasih.” Pria Lim itu memberi tatapan lekat. “Terima kasih sudah repot-repot mengantarkannya sendiri.”
Entah sengaja atau tidak, namun Sejun tersenyum begitu dalam. Seolah bangga memamerkan ceruk pipinya yang dalam dan garis-garis bibirnya yang memutih karena gerak senyum yang terlalu lebar. “Sampai bertemu nanti malam, Hanse.”
Lalu pria itu berjalan menjauh, melambai kecil dan berlari menuju lift.
Meninggalkan Hanse yang masih terpaku, sibuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan tak melepas pandangan dari punggung lebar pria itu yang masih menjauh.
Senyum itu … Hanse menelan salivanya berat. “Sial, aku lupa.” Ia kembali melanjutkan pada monolog yang percuma, “bocah itu juga suka padaku ….”
Sudah Hanse bilang, julukan mereka berdua adalah magnet. Dua kepala yang selalu ditemukan bersama bahkan di umur mereka yang sudah bukan remaja labil lagi.
Saat di bangku akhir SMA juga begitu. Dalam belasan tahun mereka hidup, baru kala itu mereka tidak satu kelas; Hanse di IPA satu dan Sejun kelas IPS tiga—salah satu kebetulan lain karena mereka berada di tingkat yang sama walau terpaut satu tahun, Sejun terlambat masuk sekolah dasar katanya.
Jarak kelas mereka juga sangat jauh. Area IPA di lantai satu, Bahasa di lantai dua dan IPS di lantai tiga. Cukup menjadi alasan jika saja dua remaja ini menjadi renggang. Belum lagi bagaimana Sejun selalu menjadi ‘matahari’ tak akan heran jika ia memiliki teman baru.
Namun lagi-lagi, matahari selalu memiliki cara untuk menemui bulan.
Selama 1095 hari, enam semester dan tiga tahun bersekolah, Sejun tak pernah kehilangan hari untuk mendatangi Hanse. Sekedar mengantarkan siomay, meminjam buku—walau jelas subjek yang mereka pelajari berbeda, datang tanpa tujuan atau membagi bekal yang ibu Sejun bawakan.
Jujur, walau Hanse tak pernah berkomentar atau protes, Sejun yang seperti itu cukup membantunya. Hanse tak banyak memiliki teman, mungkin hanya ada beberapa satu-dua anak kelas yang selalu menjadi pilihannya untuk bertanya mengenai hapalan table periodik, selebihnya mereka hanya teman.
Terkadang, hal itu membuat Hanse sedikit merasa ‘tersisihkan’ tetapi lagi-lagi setiap bel istirahat berbunyi, si pemilik teriakan itu ada di sana.
“Hanse!” Pemuda Lim itu berlari semangat dengan seragam putih abu-abu miliknya, rautnya nampak panik dan tergesa-gesa mendekati Hanse yang berada di bangku belakang. Penampilannya berantakan, seragam keluar di sana-sini, tanpa sabuk dan tanpa dasi, belum lagi rambutnya yang melewati garis alis.
Hanse sudah pasti paham mengenai apa kali ini.
“Pinjam—” sesaat setelah Pemuda Lim itu sampai di meja sang teman, ia urung melanjutkan kalimatnya. Di atas meja sudah ada apa yang ia butuhkan.
Hanse melepaskan sabuk dan dasi miliknya sendiri.
“Oh Tuhan, terima kasih kau telah memberikan aku teman yang baik hati.” Sejun bermonolog sembari tangannya cepat-cepat memasukkan seragam, “Aku pinjam, sepuluh menit saja. Pak Yudi sedang berpartroli di kelas.”
Hanse memasang raut tak tertarik, mengambil jaketnya sendiri untuk menutupi ia yang tak mengenakan atribut seragam. “Bodoh, mau sampai kapan kau terus berlari-lari seperti ini?” matanya yang tanpa ekspresi memperhatikan bagaimana Sejun secara sembarangan mengenakan dasi hingga talinya yang melingkar terlihat tak rapi. “Lagi pula, apa susahnya pakai atribut dengan tertib? Dasi ini tidak akan mencekikmu—Hei, sebentar.”
Hanse menghentikan Sejun yang hampir lari lagi, “Kau habis kena rampok atau bagaimana.” Omelnya sembari bergerak merapikan dasi yang Sejun kenakan.
Sejun seperti biasa memberikan senyum terlebar yang ia punya, menepuk-nepuk dasinya sendiri dan mengukir senyum lebar hingga matanya nyaris tertutup, “Jadi bagaimana? Apa aku sudah terlihat tampan?”
Hanse memberikan satu pukulan di kepala yang lebih tua.
“PAK YU—”
Sejun membekap mulut Pemuda Do tersebut. “Hehe, janji setelah ini akan aku belikan somay. Pinjam dulu, ya.” lalu punggung itu berlari keluar kelas. Bergerak terburu untuk naik ke lantai tiga di mana sang guru BK tengah berkacak pinggang dengan pemukul rotannya sebagai senjata.
Meninggalkan Hanse diam di kelas dengan senyum kecil dan gelengan kepala sebagai ekspresi wajib untuk melihat tingkah laku Sejun.
Memang, cerita mereka selalu berwarna. Seolah Tuhan sengaja memberikan krayon Sejun untuk si kertas kosong Hanse agar mereka berdua bisa memiliki kehidupan yang indah.
Hanse tersenyum, jemarinya mengambil sebuah foto yang dikemas manis di dalam pigura kayu putih. Mengabaikan langit yang berangsur-angsur menggelap untuk memandangi sebuah potret kecil dari ia dan Sejun yang berpose bersama di depan gerbang SMA.
Sejun dengan toga hitamnya, menarik Hanse mendekat dan mendekap pria itu erat. Sedangkan Hanse hanya berdiri di sana, tak protes saat pemuda raksasa itu menghalangi kerja paru-parunya, Hanse tidak tersenyum, wajahnya datar seperti biasa namun ia ingat dengan benar bagaimana ia menyukai momen itu hingga bilang pada pihak peminjam toga … bahwa ia akan membeli toga yang ia dan Sejun kenakan.
Kenang-kenangan alibinya, walau sesungguhnya itu adalah bentuk euforia senang karena untuk pertama kali dalam pertemanan itu … mereka berpelukan.
Tentu saja hingga saat ini Sejun tak mengetahuinya. Mau diletakkan di mana wajah Hanse jika pria berisik itu tahu dia se-budak cinta ini.
Hanse sudah menyadari sejak lama perasaan ini sebenarnya, dan ia sama sekali tak keberatan untuk jatuh cinta dengan sahabatnya yang paling menyenangkan.
Tetapi ia merasa keberatan dengan fakta bahwa pria berisik itu sepertinya juga merasakan sesuatu yang sama padanya.
Beberapa hari yang lalu.
“Sekalian saja kau bergabung dengan kartu keluarga Ayahku.” Hanse yang siang itu berencana menikmati harinya yang santai tanpa bekerja, tiba-tiba harus menerima sebuah serangan mendadak.
Siapa lagi jika bukan si Lim pengganggu Sejun yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamarnya. Memasang senyum tak berdosa dengan kedua tangan yang penuh dengan jajanan mini market.
“Kau tahu, aku tidak punya saudara. Ayah dan Ibu sedang pulang ke Bandung dan aku sendirian.” Hanse masih belum memberikan undangan untuk masuk., tetapi pria itu sudah berada di depan laci mejanya, membuka secara tidak tahu diri untuk mencari gunting yang biasa Hanse simpang di laci nomor dua.
“Dan aku tidak melihat itu sebagai masalahku, Lim Sejun.” Hanse protes. “Aku ingin bermalas-malasan. Keluar.”
Jangan percaya, sejujurnya Hanse tersenyum dalam hati.
“Siapa yang melarang? Jika kau ingin bermalas-malasan maka lakukanlah.” Setelah pria itu mendapatkan gunting, ia duduk bersila di atas karpet. “Aku akan diam di sini menikmati keripik kentang.”
Hanse tak memiliki kuasa untuk menjawab lagi. Ia memilih masa bodoh dan berbalik badan untuk memunggungi sang teman. Hendak menutup mata sekedar tidak melakukan apa-apa namun harus gagal saat bibir berisik itu kembali berkata.
“Eh tapi dengar-dengar restoranmu memiliki menu baru? Sop iga, ya?” Hanse masih tak menjawab. “Kalau gitu aku besok mau sop iga. Jangan pakai keripik emping. Aku maunya pakai kerupuk udang. Lalu kuahnya pakai kentang atau hanya to—”
“Kau bisa diam tidak?” Hanse memberi tatapan horor. “Tidak ada yang menyuruhmu berbicara di sini.”
Namun tetap saja, Sejun berpura-pura tidak peduli. “Besok aku pesan, ya. diantar ke kantor untuk makan siang.” Lalu senyum itu kembali dipasang seperti biasa. Seolah tak berdosa mengukir bibir dari telinga ke telinga hingga matanya nyaris terpejam.
Memberi Hanse debaran yang sama sebagai ganti dari euforia jatuh cinta yang tak pernah hilang.
“Sehari saja, kau tak mengusikku. Bisa?”
Sejun menggeleng, “Hanya kau yang bisa aku ganggu jadi jangan harap.”
Hanse hendak kembali protes. Ingin lebih meledakkan amarah sebagai penutup respon segala bunga-bunga gembira dalam tubuhnya yang mekar. Memberikan segala jenis umpatan khas Surabaya pada sang tersangka yang tangannya dipenuhi bumbu keripik kentang dan sekali lagi dengan tanpa dosa mengotori karpetnya yang baru ia bersihkan kemarin malam.
“Demi Tuhan, karpetku—”
Sejun tetaplah Sejun. Ia tak menganggap serius apapun yang sejak tadi Hanse berusaha buat dalam amarah dan pergi ke kamar mandi. Melangkahkan kakinya yang berbalut celana pendek rumah dan bersikap jika rumah ini seperti rumahnya sendiri.
Tak menoleh sedikit pun pada Hanse yang sudah memeluk gulingnya dengan tatapan seolah ingin membunuh siapapun yang lewat.
“Anak itu—” Hanse menarik nafas untuk upaya menenangkan diri. “Akan ku bu—”
Bahkan dalam ketidak adaan Sejun pun, ponsel Pria Lim itu turut menganggu Hanse.
Benda persegi panjang itu berdering berisik dan dengan kesal membuat Hanse harus turun dari kasurnya dan mengangkatnya.
“Apa maumu?” tanpa melihat siapa si penelfon, Hanse memberikan hardikan kesal.
“Oh Selamat Siang Bapak Lim. Kami dari International Insurance hendak—” Hanse mematikan ponselnya.
Tawaran asuransi.
“Dasar.” Ia memandang kesal benda mati tak bersalah tersebut. “Tidak orangnya, tidak barangnya sama saja pengganggu.” Masih dalam mode mood-nya yang hancur Hanse kembali menggerutu. Hendak meletakkan lagi benda itu bersama jajaran makanan ringan yang lain sebelum sensor layarnya kembali nyala karena wajah yang terdeteksi.
Menampilkan aplikasi yang terakhir Pria Lim itu buka dan memberikan Hanse serangan jantung mendadak.
Aplikasi pesan singkat itu tampil cerah di sana. Menampilkan salah satu ruang obrolan yang di pin paling atas dengan nama kontak ‘calon pacar’.
Dan ‘calon pacar’ itu adalah dirinya sendiri.
“Selamat malam, bestie.” Pintu mahoni tersebut terjerembab keras. Tak peduli langit malam menyerukan perintah untuk para manusia agar cepat beristirahat, Sejun datang dengan satu tangan diangkat ke atas. Merasa tak berdosa sama sekali melihat Hanse yang menyentuh dadanya karena terkejut.
“Ini rumah, bukan hutan, Lim Sejun.” Protes Hanse melihat pada Sejun yang masih mengenakan kaus kaki kerjanya membanting diri di atas kasurnya sendiri. Nampaknya, ia langsung ke sini sepulang dari kantor.
“Rumah sahabatku adalah hutanku.” Sejun menjawab tanpa menoleh.
Mendengarnya, Hanse mati-matian menahan tawa. Tak ada yang lucu jika dipikir, tetapi jika Sejun yang mengatakannya itu terlihat seperti materi lelucon.
“Tapi benar,” Sejun menyambung pembicaraan, “Kamarmu seperti hutan.” Sejun menunjuk pada beberapa koleksi tanaman dalam ruangan milik Hanse yang diletakkan dibawah pendingin ruangan, “Orang waras mana yang meletakkan tanaman di kamar mereka.” Lalu matanya menatap pada jendela kotak yang tak terlalu besar, “Itu juga astaga kenapa tanamannya tidak punya akar.”
Rupanya Sejun menunjuk pada tanaman janggut musa yang menggantung di jendela. Salah satu tanaman favorit Hanse karena bentuknya yang sangat asri namun tak pernah diharuskan menyiram. Karena bentuknya yang seperti tidak memiliki akar dan memang saat dulu ia memutuskan membeli tanaman ini, penjualnya bilang tak perlu dipupuk. Jadi tanaman itu hanya makan lewat udara entah bagaimana caranya.
“Kau lebih baik kembali ke habitatmu daripada terus berkomentar.” Seperti biasa, Hanse si pria dingin sebagai topeng.
“Oke, oke. Maaf.” Sejun duduk di tempatnya, memperhatikan Hanse yang kini mendekat dan meletakkan pigura yang tadi ia genggam untuk duduk di atas kasur bersama dengan Sejun.
Memperhatikan si Pria Lim yang kantung matanya seolah menjeritkan kata lelah. “Kau akhir-akhir ini banyak lembur lagi, ya?”
Sejun mengusap kasar wajahnya, segala sifat matahari berisik tadi telah hilang digantikan Sejun yang kini memerosotkan bahunya dan bersandar malas di headboard kasur milik Pria Do tersebut.
“Sebentar lagi akhir tahun. Jadi Tim audit harus bekerja gila-gilaan untuk memberikan laporan buku tahunan.” Sejun melepaskan jam tangan yang ia kenakan dan mengusak rambutnya berantakan.
Jelas sengaja memberikan Hanse pemandangan yang tidak sehat untuk jantungnya.
“Jadi ya, lemburku sedang tidak sehat.” Sejun mengeluh. Ia menarik kasar salah satu bantal dengan seprai kuning pucat polos dan menariknya untuk dijadikan guling. “Belum lagi mereka yang suka sekali memintaku membenahi mesin printer. Seolah-olah mereka tidak punya uang untuk memanggil teknisi.” Sejun membenamkan kepalanya di atas bantal, “Rasanya aku ingin resign saja.”
Hanse menatap prihatian pada punggung lelah tersebut, “Dan itu yang kau katakan setiap hari. Ingin resign tetapi sudah berapa tahun kerja di sana?”
Sejun tertawa kecil, “Tiga tahun. Benar juga, salut untuk aku bertahan selama itu di sana.” Sejun berubah posisi. Kali ini ia menggeser bantal itu sebagai bantalan kepalanya dan memandangi langit-langit kamar sang teman. “Sebenarnya aku tak masalah dengan double jobdesk seperti itu. Tetapi terkadang juga rasanya tidak nyaman saat kau sibuk dengan pekerjaanmu sendiri, dan orang-orang terus berdatangan meminta pertolonganmu.” Sejun menjeda sebentar. “Sejun tolong mesin fotokopi rusak, Sejun tolong mesin printer macet, Sejun tolong printerku kenapa. Kalimat itu seolah terus menghantuiku sepanjang hari, padahal pekerjaanku sendiri tidak kunjung selesai.”
Memang mereka tidak berada di satu pekerjaan yang sama. Bahkan dunia mereka bisa dibilang lagi-lagi berbanding terbalik seperti magnet. Hanse dengan kesibukan mengelola restorannya, sibuk melancarkan protes pada pihak supplier karena seringnya ikan yang datang tidak segar. Sedangkan Sejun si pekerja kantoran yang selalu mengirim chat kepadanya tentang keluhan mengapa kerja kantoran selelah itu.
Tetapi, melihat bagaimana raut lelah pria itu … Hanse seolah bisa turut merasakan.
“Lalu kenapa kau tidak berkata ‘tidak’?” Hanse yang malam ini mengenakan kaus rumahan bergambar robot dan celana pendeknya tersebut menekuk lutut, “Menolong memang baik. Tetapi jika mereka yang meminta tolong malah menjadi beban untukmu, tidak ada salahnya untuk menolak.”
Sejun tertawa miris, “Aku … tidak enak rasanya untuk bilang tidak.” Pria Lim itu menaikkan tangan sebagai tambahan bantalan kepalanya, “Aku pikir tidak akan menjadi masalah besar sekedar datang ke ruangan mereka. Memberi sedikit bantuan dengan aku yang kebetulan sedikit tahu langkah-langkah sederhana seperti itu. Tapi benar, ujung-ujungnya terus menuruti mereka, aku kehilangan waktu untuk diriku sendiri.”
Tak perlu diberi tahu lebih lanjut, Hanse bisa membayangkan visualisasi kejadian tersebut dengan jelas. Ia mengenal baik karakter Sejun si matahari baik hati. Selalu memberi senyum pada siapa pun yang meminta pertolongan dan tak pernah absen membantu. Jujur, hal itu terkadang nampak seperti perbuatan baik di matanya.
Namun bagaimana pria ini tidak bisa menolak, juga sering membuat Hanse kesal.
“Itu masalahmu. Kau tidak bisa bilang ‘tidak’.” Hanse membuang pandangannya ke segala arah. “Kau bisa membantu orang lain tanpa harus mengorbankan dirimu sendiri, kau tahu itu.”
Sejun menoleh. Kali ini benar-benar memandang Hanse yang nampak kecil karena posisinya yang memeluk lututnya sendiri, sedikit mencuri lihat pada lengannya yang berhiaskan tato duyung yang apik. Ibu jari kaki pria itu bermain saling menindih satu sama lain, salah satu kebiasaan Hanse yang sudah ada sejak mereka kecil.
“Benar. Itu masalahku.” Lalu Sejun mengukir senyum. “Kau jika mengomel bisa lucu juga, ya.” Sejun mendadak bangun dari posisinya, mengabaikan baju kerjanya yang sudah berantakan terlipat sana-sini untuk menarik tas kerjanya.
Daripada fakta bahwa jeruk kupas aslinya bernama tangerine—Hanse baru tahu itu saat ia berburu produsen untuk restorannya. Lebih jauh mengejutkan saat ini. Entah angin dari mana, Sejun duduk di sana. Memperhatikannya secara terang-terangan dan menyebutnya ‘lucu’.
“Kau tidak ke pohon beringin waktu kita kecil itu ‘kan?” Hanse berpura-pura datar, “Gila.” Lalu ia kembali melanjutkan, kali ini mengusak rambutnya sendiri sebagai pengalihan dari pipinya yang memerah. “Kau tadi bilang ada yang ingin dibicarakan. Apa?” satu lagi distraksi sebagai penutup.
“Oh soal itu,” Sejun bergerak mendadak. Mengambil tasnya sendiri dan tersenyum sumringah. “Tadi waktu pulang aku bertemu ini.” ia mengeluarkan bungkusan plastik dengan aroma mentega yang kental. “Pukis laba-laba. Kesukaanmu waktu SD.”
Kue itu. Kue pukis laba-laba yang selalu Hanse beli dengan wadah kertas yang dibentuk kerucut segitiga. “Kau masih ingat kue ini? Sudah lama sekali.” Hanse menyambutnya dengan pandangan berbinar. Mungkin terakhir kali ia merasakannya sekitar belasan tahun lalu saat masih kecil.
“Tentu saja aku masih ingat. Kau sering berdiri di belakang. Berpegangan dengan aku yang bersepeda seperti orang gila. Lalu mendadak minta berhenti saat pedagang pukis lewat.” Sejun turut melipat kakinya. Memperhatikan diam-diam bagaimana Pria Do itu memakan jajan lawas tersebut dengan antusias.
Hanse melahapnya, kembali merasakan rasa nostalgia saat rasa manis bertemu di lidahnya. “Tetapi sebentar.” Ia kembali memberikan perhatian pada sosok di hadapannya. “Kau ke sini hanya untuk memberiku pukis?”
Walau memang Sejun sulit dipahami, tetap saja Hanse terlihat kurang percaya.
Namun nyatanya Pria Lim itu menggeleng. “Itu hanya oleh-oleh. Aku ke sini karena butuh sesuatu.”
Hanse mengernyit, “Apa?”
Sejun tertawa ringan. “Cium.”
Lalu mereka berdua terdiam, atau lebih tepatnya Hanse yang terdiam. Yang bisa ia lakukan hanya mengerjap. Urung mengunyah jajanan masa kecil untuk memandangi Sejun yang berkata tanpa beban.
Benar-benar tak ada suara. Hanya detik jam dan dengung dari AC yang menyumbang suara. Memberikan Hanse waktu untuk ternganga dan Sejun yang sibuk tersenyum misterius.
Sampai akhirnya Hanse buka suara. “Otakmu tertinggal di mesin printer?”
Rasanya jika punya mulut, mungkin janggut musa itu akan tertawa keras-keras.
“Tidak.” Sejun merubah arah duduknya. Yang tadi sekedar duduk, kini menghadap Hanse dan mendekat. “Aku sudah lama suka padamu. Aku juga berencana mengajakmu kencan akhir bulan ini. Tetapi karena hari ini aku super lelah, jadi aku butuh peluk dan cium.”
Matahari-nya terlalu panas, harus diberi paracetamol.
“Gila—”
“Aku juga tahu kau memiliki perasaan yang sama padaku.” Sejun memberi senyum kemenangan. “Mana ada orang yang mau repot-repot berkendara dengan macetnya Surabaya hanya untuk mengantarkan sop iga. Jadi kenapa kita tidak langsung ciuman saja?”
Satu pukulan benar-benar mendarat di kepala Sejun.
Hanse sudah tak meletakkan minat pada kue pukisnya. Ia meletakkan jajanan berwadah kerucut tersebut dan memandang Sejun lekat-lekat. “Kau tidak bisa romantis sedikit? Atau setidaknya waras sedikit?” protesnya mengenai bagaimana bisa pria ini mengatakan masih dengan kaus kaki kerjanya yang bau keringat.
“Bodoh.”
Hanse melakukan pukulan kedua kalinya.
“Sakit!” Sejun berseru.
“Memang sengaja!” Hanse mati-matian untuk tak menenendang pria ini menuju pohon mengganya di luar.
“Kau tahu, aku lelah! Aku lelah kita hanya disini-sini saja padahal saling suka! Entah apa yang kau pikirkan sedangkan aku setiap hari menahan rasa untuk tidak memelukmu. Aku menyukaimu, Do Hanse.” Sejun mengusak rambutnya, “Sungguh, tidak bisakah kita langsung ke bagian ciuman saja?”
Satu lagi pukulan Hanse berikan.
“Kau jika punya otak jangan dibuat sop iga. Gunakan otakmu. Kau tak pernah berpikir jika kita berkencan, aku akan kehilangan satu-satunya teman yang aku punya? Memang benar kita bisa berciuman, berpelukan dan berkencan tapi aku tidak akan punya teman lagi. Kau pikir itu mudah? aku sendiri juga ingin ciuman, berpelukan sampai tertidur, siapa yang tidak mau, aku juga ingin memenuhi feed instagramku dengan wajahmu dan memberi tahu seluruh dunia bahwa kau pacarku. Tetapi aku juga tidak ingin kehilangan kau sebagai teman, Bodoh.”
Kali ini giliran Sejun yang terdiam. Hanse adalah sepenuhnya sosok penghemat bicara. Seolah-olah setiap kata yang akan ia keluarkan berharga sangat mahal. Jadi saat Pria Do itu berbicara tanpa rem seperti tadi, Sejun merasakan tulang punggungnya berubah menjadi iga sapi.
Ia menelan salivanya berat. Sejun memandang Hanse yang masih berwajah marah dan memutar otak untuk mencari perkataan yang tepat.
“Jadi itu yang kau pikirkan selama ini?”
“IYA!”
Sejun beringsut mundur. Nampaknya kucing Hanse sudah berubah menjadi Harimau Hanse.
“Jika kau lupa, aku terbiasa mendapatkan double jobdesk. Jadi aku rasa bukan masalah besar menjadi teman sekaligus pacarmu.”
Kali ini tendangan yang Hanse berikan pada sang Pria Lim.
“Kau samakan aku dengan mesin fotokopi, hah?”
.
.
.
END
