Work Text:
Bagian pertama;
[Aku ingin berjalan bersamamu]
Aku ingat September tujuh tahun lalu, saat kamu berjalan dengan cerianya melewati kelasku. Langkahmu kala itu penuh semangat. Sambil saling mendorong dengan handaimu, kamu tertawa riang. Temanmu yang sedikit lebih tinggi postur tubuhnya dibanding kamu merangkulmu akrab, mengajakmu pergi menuju arah kantin sebab telah masuk waktu istirahat.
Aku mengekor langkahmu dari kejauhan. Entah, daya tarikmu yang begitu kuat mampu membuatku terbius sejenak dan lupa tentang kemalasanku untuk mengunjungi tempat ramai itu. Beberapa meter dari tempatmu duduk, aku diam-diam sedang mengagumi pesonamu dan mengumpat dibalik minuman teh dinginku. Sesekali aku mencuri pandang disamping kepura-puraanku menghisap rokok agar tak terlalu jelas jika aku sedang memperhatikanmu.
Ini bukan pertama kalinya aku terpesona olehmu.
Malah sebelumnya, ketika aku tengah menjalankan hukumanku, kamu berbaik hati mau menolongku dan membuatku lantas jatuh hati. Ini aneh, pikirku. Bagaimana bisa hanya karena sebuah pertolongan kecil yang terbilang tak cukup berarti bisa memikat hati? Tapi itu adalah kamu, orang yang sangat disukai hampir seantero sekolah, menghampiriku, dan membantuku ketika bak sampah besar yang menjadi tempat pembuangan terakhir limbah kertas dan plastik itu terjatuh.
Kamu tersenyum hangat untuk kali pertama ke arahku, menjadikan pria pendiam sepertiku ini seakan bukan hanya dianggap keberadaannya, namun juga berhasil membuatku merasa seperti memiliki seorang teman. Jelas sangat bisa berbeda kisahnya jika siapapun sudah berinteraksi langsung denganmu, termasuk aku. Jadi tidak salah, kan, kenapa aku malah serta merta menjatuhkan hatiku saat itu? Apalagi setelahnya, kamu lekas mengajakku berkenalan. Rasanya seperti ada sebuah keajaiban yang baru saja menghampiri celah kehidupanku.
“Hoseok,” katamu memperkenalkan diri.
Aku tersenyum sekilas.
Aku menjabat tanganmu tanpa ragu juga memperkenalkan diriku, “Taehyung.” Dan sejak itulah, aku menjadi semakin ingin mengetahui lebih dekat segalanya tentang kamu. Selain coba mencari segala hal tentang kamu dari media sosial yang aku punya atau sekadar menguping pembicaran para gadis yang tergila-gila padamu tentang kamu, aku juga senantiasa menikmati indah parasmu meski dari kejauhan. Seperti yang aku lakukan sekarang ini, tersenyum konyol sambil tersipu ketika kamu menyibakkan rambutmu ke belakang menggunakan kedua tanganmu. Kantin terbilang ramai, maka dari itu aku memilih tempat duduk di ujung sudutnya demi melihatmu tertawa lepas. Demi bisa menyusuri tiap lekuk ekspresi yang kamu luapkan kala berinteraksi dengan teman-temanmu.
Benar ternyata kata orang, jatuh cinta memang seindah yang mereka bicarakan. Kalau kalian tidak setuju, aku tidak peduli. Karena nyatanya, mencintai seorang bisa membuat diriku begitu merasa bahagia. Namun sayangnya, aku sungguh pria pemalu, dan aku yakin kamu tahu hal itu, membuatku hanya bisa memusatkan atensiku padamu dari jarak yang panjang.
Jangankan untuk mengawali pembicaraan, menyapa pun aku malu. Aku hanya bisa diam-diam memperhatikanmu, merindukan senyummu dengan lancang di setiap malamku. Berharap pada Tuhan semoga apa yang aku rasakan, kamu juga bisa merasakannya. Atau jika tidak, semoga Tuhan mau berbaik hati menyampaikan perasaanku padamu.
Maka ketika Tuhan benar-benar mengabulkan permintaanku, di situ lah aku menjumpai rasa familiar dalam lubuk hatiku. Aku begitu berterimakasih pada-Nya, sebab rencana-Nya tidak pernah meleset untuk terus mempertemukan dan mendekatkanku padamu.
Aku milikmu. Di bawah indahnya sinar rembulan kala itu, kamu memintaku untuk menjadi kekasihmu.
Terdengar aneh memang, bagaimana manusia popular sepertimu mau memilihku sebagai pelengkap harimu? Bagaimana bisa manusia indah sepertimu mau melirik ke arahku lantas memintaku untuk mengisi hatimu?
Aku seperti bermimpi. Siapapun, tolong bangunkan aku.
Namun perasaan bahagia ini terlalu nyata, aku tidak bisa menyangkal tiap senang yang membuncah di hatiku. Aku tidak bisa menahan gelinya ketika beribu kupu-kupu merangsek keluar dari dalam perutku, menjalarkan gelenyar asing yang sepertinya belum pernah aku rasakan selama tujuh belas tahun aku hidup di bumi.
Apalagi beberapa waktu setelah aku resmi menyandang status “kekasih”mu, aku rasa, aku adalah pria paling bahagia di dunia kala kamu meraih rahangku kemudian menciumku tepat di birai. Sorot matamu menatapku dalam, seakan menyalurkan berjuta cinta yang hadir diantara kita. Kemudian kamu memelukku di tengah padangnya rumput hijau tergoyang angin menunggu mentari tenggelam sempurna.
Sungguh, kamu telah berhasil membuatku jatuh berkali-kali.
