Actions

Work Header

kisah klasik untuk masa depan

Summary:

Fragmen kisah masa muda Satoru, Shoko, dan Suguru yang terangkum dalam 26 kata.

(Kompilasi drabble dari A-Z)

Notes:

Disclaimer: Jujutsu Kaisen milik Akutami Gege. No profit gained from this fic. Judul fanfic diambil dari lirik lagu "Sebuah Kisah Klasik" dari Sheila on 7

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

  • Accusation

“Kalian pacaran, ya?”

Celutuk Shoko santai seperti sedang menanyakan cuaca hari ini. Suguru tersedak liur sendiri. Kacamata hitam bundar Satoru melorot. Secara bersamaan, mereka angkat kepala menatap Shoko.

Satoru kala itu tengah mengalungkan lengannya di pundak Suguru sembari menonton sahabatnya itu main game. Sesekali berkomentar, sesekali tertawa. Wajah mereka terlalu dekat, pipi hampir bersentuhan.

“Apaan deh, Shoko.”

Perlahan, Satoru menarik lengan dan beri jarak antara dia dan Suguru.

“Memang kelihatannya begitu?” Tanya Satoru. Sedangkan Suguru kembali menekuri konsol game-nya seakan tidak acuh.

“Barangkali.” Shoko memberikan jawaban ambigu.

Sebenarnya, rumor “Duo Terkuat Gojo Satoru dan Geto Suguru pacaran” sudah beredar sejak mereka menginjak tahun kedua di akademi Jujutsu. Jika menilik kedekatan mereka rasanya memang wajar jika muncul rumor seperti itu. Dan gosip menyebar secepat virus. Bahkan sampai ke telinga para staf di balik layar akademi. Masalah siapa yang memulai gosip ini duluan itu urusan belakangan. Tapi siapa juga yang tidak tertarik mendengar desas-desus pewaris Six Eyes punya hubungan spesial dengan pemilik teknik manipulasi kutukan. Terdengar seperti pasangan serasi terakbar era modern shaman, bukan?

“Jawab saja, iya atau tidak?” Desak Shoko lagi.

“Ah, tidak, kok.” Meskipun bilang begitu, nampak sejumput kebingungan di raut muka Satoru.

“Oh?” Alis Shoko naik satu. “Bagaimana denganmu, Geto?”

“Cuma teman,” jawab Suguru kalem, tanpa mengalihkan pandangan dari layar konsol.

Sudut bibir Shoko terangkat.

“Oke.”

Tetapi tentu saja Shoko tidak semudah itu menelan mentah-mentah. Dia cukup peka menangkap sinyal gestur serta sorot mata Suguru kepada Satoru yang menyiratkan afeksi lebih dari sekadar teman biasa.

.


.

  • Break

“Selamat datang!” Ada yang perlu saya bantu?”

Seorang nona SPG bersetelan rapi menyambut ramah kedatangan Suguru di sebuah gerai merek makeup mewah. Sebagai bukan pengguna dandanan rias, ini adalah pengalaman pertama bagi Suguru. Harum pewangi ruangan semerbak hampiri hidung.  Bahkan wanginya pun seperti parfum mahal. Suguru tunjukan lip balm dengan merek yang sama. Si karyawan mengantar Suguru ke konter produk bibir.

“Silahkan.”

Di antara aneka varian lipstik yang berderet rapi, perempuan muda itu mengambil satu lip balm yang diminta Suguru. Dia menjelaskan secara terperinci fungsi dan kelebihan produk tersebut (yang tidak dimengerti Suguru). Suguru hampir muntah darah begitu melihat harga yang tertera. Orang kelebihan uang mana yang habiskan 4.750 yen hanya untuk pelembab bibir. Bisa jadi ini alasan kenapa bibir Satoru selalu terlihat berkilau sehat dan terawat. Suguru tahu barang-barang milik Satoru walau nampak biasa dari luar, tapi harganya luar binasa. Suguru menghitung dalam kepala berapa banyak porsi zaru soba yang bisa dibeli dengan uang segitu.

Mungkin inilah yang dinamakan kesenjangan sosial. Bagi Satoru, mengeluarkan 4.750 yen hanya perkara sepele. Sementara bagi Suguru, itu bisa buat uang makan beberapa hari jika dia berhemat. Penghasilan Suguru sebagai shaman tingkat spesial tentu sangat menjanjikan. Tapi Suguru adalah anak berbakti yang mengirim uang bulanan untuk kedua orang tua. Belum lagi menyiapkan tabungan masa tua, memikirkan cicilan rumah masa depan, dan pelbagai kebutuhan lainnya. Nasib kaum proletar.

Semua ini berawal ketika suguru tanpa sengaja mematahkan pelembab bibir Satoru. Menurut perhitungan hemat Suguru, meskipun patah tapi masih ada sisa yang masih bisa digunakan. Akan tetapi Satoru membuangnya begitu saja di tempat sampah kemudian berkata enteng, “Tidak apa, aku bisa beli lagi.” Jadi tidak salah jikalau Suguru kira harganya murah. Walau dibilang demikian, Suguru tetap merasa bersalah dan terus kepikiran sampai tidak bisa tidur nyenyak.

“Beli buat pacarnya, ya?”

Pertanyaan nona SPG membuyarkan lamunan Suguru.

Hah? Apa tadi katanya? Pacar?

“Bukan.” Suguru tertawa canggung.

Dia pun akhirnya putukan membeli.

Esok hari, sebuah bungkusan berpita cantik Suguru sodorkan di depan hidung Satoru.

“Apa nih?”

“Lihat sendiri.”

Satoru buka dengan tidak sabar dan menemukan lip balm baru yang masih tersegel. Sama persis dengan yang dipatahkan Suguru beberapa hari lalu.

“Loh? Aku ‘kan bilang tidak usah.”

“Kalau tidak mau ya sudah, nanti aku kasih ke Shoko.”

Suguru hendak ambil pemberiannya sebelum ditahan Satoru.

“Peraturan nomor satu: Barang yang sudah diberi tidak bisa diambil kembali.” Satoru bersedekap. “Ngomong-ngomong, terima kasih.”

Selang beberapa hari kemudian, Suguru perhatikan pelembab bibir yang dipoles Satoru berbeda dengan yang pernah dia berikan. Karena penasaran, Suguru putuskan untuk bertanya.

“Kamu tidak pakai hadiah dariku?”

“Ah, itu. Aku menyimpannya. Soalnya aku takut hilang kalau dibawa ke mana-mana.”

Suguru tidak bisa menahan senyum. Satoru yang seperti ini memang minta disayang.

.


.

  • Cigarette

“Kau punya korek?”

Suguru keluarkan pemantik dari saku celana. Shoko dekatkan rokok yang terselip di bibir. Asap meliuk bebas di udara. Shoko pergunakan waktu istirahat untuk merokok di halaman. Suguru mencari angin segar.

“Kau masih punya rokok?” Pinta Suguru tiba-tiba.

“Sejak kapan kau mulai merokok?”

“Hanya ingin coba.”

Shoko beri satu batang. Ujung lentingan tembakau tersulut api pemantik. Suguru menghisap terlalu banyak. Dia terbatuk.

“Heh. Amatir.” Shoko terkekeh.

Sensasi pahit nikotin tertinggal samar di indra perasa. Suguru tidak (belum) terbiasa dengan itu. Tapi setidaknya ini jauh lebih baik daripada menelan roh kutukan.

.


.

  • Dragonfly

 “Satoru, berhenti!”

Tersentak, Satoru hentikan langkah.

“Apa?”

Telunjuk Suguru mengarah dekat kaki Satoru. Satu koloni semut mengerubungi bangkai capung.

“Terus kenapa?”

“Kamu hampir menginjaknya.”

Bola mata Satoru berputar dramatis. “Capung itu sudah mati, Suguru. Kamu berlebihan.”

Satoru melanjutkan jalan di depan. Suguru masih terpaku menatap bangkai capung tersebut. Sebelah sayapnya putus. Terlihat lemah dan tanpa daya. Mati dan terlupakan.

.


.

  • Embarassment

Shoko telat lima belas menit dari jam janjian bertemu dengan dua rekan setimnya di sebuah maid cafe karena ada urusan mendadak. Jangan tanya kenapa tempatnya harus di situ. Seumur hidup, Shoko tidak pernah melihat maid cafe disesaki pengunjung seperti saat ini. Terlebih semuanya perempuan, bukan laki-laki dengan fetish tertentu.

Mata Shoko membulat horor manakala menyadari yang menjadi salah satu pelayan adalah Satoru. Iya, Gojo Satoru sang shaman super terkenal itu. Dia mengenakan kostum maid merah jambu berenda lengkap dengan apron putih dan tak lupa aksesoris bando kuping kucing bertengger di kepala. Tinggi badan Satoru yang di atas rata-rata remaja seusianya membuat rok naik beberapa senti di atas lutut.

“Ini kubuatkan spesial untuk nona cantik. Moe Moe Kyuun~”

Satoru menggambar hati dengan saos tomat di atas nasi omelet. Tidak ketinggalan “mantra” di akhir dengan suara yang diimut-imutkan. Satoru terlihat sangat menghayati peran. Sang konsumen tersipu malu saat Satoru melemparkan senyuman manis. Dia memegangi pipi yang terasa panas dan merah sempurna layaknya tomat matang. Pengunjung yang lain ikut menjerit gemas. Tidak sabar menunggu giliran mereka dilayani.

Shoko salah jika mengira Suguru bisa sedikit lebih waras dari Satoru. Sebab yang bersangkutan sedang terpingkal sambil merekam kelakuan centil temannya itu lewat kamera ponsel.

Tidak cukup sampai di situ, Satoru mendadak berlenggok ke arah Suguru. Ponsel Suguru dia ambil, diletakkan di meja. Suguru terkesiap dengan aksi spontan Satoru. Sekonyong-konyong, Satoru duduk di pangkuan Suguru. Rok sedikit tersibak, memamerkan paha putih mulus dan sedikit berotot. Tangan melingkar di bahu Suguru. Ada yang tegak tapi bukan keadilan.

“Cowok ganteng yang ini mau pesan apa? Parfait, wafel, atau aku?” Satoru berkedip genit.

“KYAAAAAAAAAAA!”

Jeritan para gadis-gadis belia semakin heboh setelah fanservice disajikan. Pelayan lain yang ikut menyaksikan pun tak kalah histeris. Shoko berusaha meyakinkan dirinya tidak salah masuk kafe. Ini masih maid cafe dan belum ganti jadi BL cafe, ‘kan?

Satoru akhirnya sadar kehadiran Shoko. Suguru yang malang masih membatu, otak sedang memproses kejadian yang berlangsung begitu cepat.

“Hei, Shoko!” Satoru melambaikan tangan. Masih di pangkuan Suguru.

Shoko pura-pura tidak kenal. Mendadak malu punya teman macam mereka.

(Dan di hari itu, omset maid cafe tersebut naik 400%. Satoru dan Suguru dapat kartu anggota VIP. Terima kasih kepada ide iseng Satoru yang ingin mencoba kostum maid.)

.


.

  • Fight

Bukan berita baru jika Suguru dan Satoru cukup sering bertengkar. Entah itu karena cara pandang mereka yang pada dasarnya berbeda, atau masalah prinsip, atau bahkan untuk urusan sepele sekalipun. Misalnya mendebatkan bubur diaduk atau tidak.

Satoru bersikukuh bahwa bubur tidak boleh diaduk agar tetap terlihat estetik. Suguru berpendapat yang mana pun sama saja. Toh ujung-ujungnya masuk perut. Tapi jelas bubur diaduk punya cita rasa yang berbeda karena bumbu tercampur rata.

Dan jika sudah begitu, Shoko segera melipir jauh. Tidak ingin terlibat dalam argumentasi mereka.

Namun, ketika mereka terpisah jarak saat ditugaskan dalam misi berbeda, Satoru lah yang paling sering dilanda gejala rindu. Satoru akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelepon Suguru. Menceritakan berbagahai hal yang dia lewati hari itu, mulai dari hal serius sampai yang receh sekalipun. Ada daya magis dalam suara Suguru yang selalu berhasil menenangkan hati Satoru.

.


.

  • Gate

Satoru mengendap-endap, kaki diseret seringan mungkin tanpa menimbulkan suara. Suguru mengekor dari belakang. Mata tetap sigap mengawasi sekeliling.

Seperti yang bisa ditebak, mereka keasyikan main sampai lupa waktu pulang. Gerbang asrama tertutup rapat. Mereka telat lima menit. Tentu itu akan jadi masalah andai saja Satoru dan Suguru bukan murid dengan teknik kutukan tinggi. Cuma sekadar gerbang sih bukan halangan besar.

Suguru memanggil salah satu koleksi roh kutukan miliknya yang berbentuk seperti ikan pari, lalu ulurkan tangan untuk membantu Satoru. Tangan itu disambut Satoru, melompat kecil dan duduk di belakang Suguru. Roh kutukan melayang tinggi melewati gerbang dengan mudah. Mereka mendarat dengan sempurna.

“Ahem!”

Suara bass seorang pria mengejutkan kedua murid itu. Roh kutukan menguap dan lenyap tertiup angin. Mereka serentak menoleh ke arah pemilik suara.

“Ehehe, ada Yaga-sensei.”

“Jangan ber-hehe kepadaku, Satoru. Dan kau, Suguru,” Masamichi beralih mendelik kepada oknum yang dimaksud, “Jangan sembarangan memanggil roh kutukan di dalam area sekolah, mengerti?”

“Maaf, Sensei.”

“Kalian berdua ikut aku.”

Mereka berdua tahu ini artinya detensi menanti.

Dari kejauhan, Shoko mengintip dari kamar lewat teropong.

“Dasar bodoh.”

.


.

  • Headache

Ada tiga sumber utama penyebab Shoko migrain:

1.) Gojo Satoru

2.) Geto Suguru

3.) Gabungan 1 dan 2

Ada masa di mana terlintas dalam kepala shoko untuk minta pindah tim (yah walaupun itu tidak mungkin mengingat jumlah murid shaman yang terbatas). Terjebak dengan mereka rasanya seperti siksa kubur, apalagi jika dua temannya itu (Shoko bahkan tidak yakin bisa kategorikan mereka sebagai “teman”) mulai bertingkah di luar nalar manusia normal. Shoko berpikir mungkin ini adalah karma di kehidupan sebelumnya yang dia bayar hingga harus mengurusi dua bocah.

Ada pula masa di mana Shoko menemukan Satoru dan Suguru terkapar kelelahan seusai misi berat—yang seharusnya dikerjakan shaman dewasa. Shoko gunakan teknik kutukan terbalik guna sembuhkan luka dan mengambil selimut kemudian lilitkan pada tubuh mereka. Seberapa pun menyebalkannya mereka, Shoko tidak menampik Satoru dan Suguru adalah bagian dari lembar kisah hidupnya.

.


.

  • Imagination

Iman Suguru tengah diuji.

Bagaimana tidak. Semestinya Suguru persiapkan diri buat hadapi ujian minggi mendatang. Tidak seperti Satoru yang bisa berleha-leha lalu muncul dengan nilai sempurna. Jenius dari lahir, begitu orang-orang menyebut Satoru. Suguru harus belajar giat untuk bisa menyamai skor Satoru. Skenario yang dirancang dalam kepala Suguru harusnya berjalan dengan baik, sebelum akhirnya dia sukses terdistraksi.

Satoru berada di kamarnya sambil makan es krim. Lidah kemerahan terjulur jilati es krim dengan gerak naik-turun. Sesekali dia mengulum pucuk es krim, bawa ke dalam mulut, mata terpejam. Barangkali ini hanya permainan cahaya lampu kamar atau imajinasi Suguru terlanjur kelayapan ke mana-mana, tetapi pemandangan ini terlihat lebih... sensual?

“Bisa tidak sih, kamu makan es krim dengan normal?” Suguru yang tidak tahan putuskan buka suara.

“Hah? Normal bagaimana?” Satoru hentikan aktivitasnya dan menatap Suguru.

“Uh... yah... normal.” Suguru menggaruk tengkuk.

Satu ujung bibir Satoru terangkat. Badan dicondongkan ke depan. Dagu bertopang pada punggung tangan.

“Aku tidak paham. Jelaskan.”

Ingin rasanya Suguru menampol wajah tampan dan cengiran menyebalkan di depannya itu. Suguru tahu benar Satoru hanya berlagak pilon. Sudah jelas Satoru mengerti maksudnya.

“Digigit.” Suguru asal bunyi.

Tawa renyah meluncur dari bibir ranum Satoru. Detik berikutnya, Satoru dengan sengaja menumpahkan sisa es krim yang mulai mencair ke tangan Suguru. Buku pelajaran pun ikut kena imbas.

“Ups!”

Satoru lalu meraih tangan Suguru yang berlumuran es krim, dijilat sama persis dengan yang dia praktekan sebelumnya. Suguru menelan ludah. Seolah daya kejut listrik berdesir dalam darah Suguru, ketika lidah basa Satoru menyentuh kulitnya. Satu tangan Suguru yang masih bebas terkepal erat di bawah meja. Satoru akhiri aksinya dengan menggigit pelan jari tengah Suguru.

“Digigit seperti ini?” Satoru naikan alis seduktif.

Otak Suguru korslet.

Demi dewa-dewi di langit, berilah petunjuk apa yang harus Suguru lakukan sekarang?

.


.

  • Joker

Mata memicing.  Alis bertaut.  Keringat membasahi dahi.

Satoru memusatkan seluruh konsentrasinya pada momen ini.  Shoko tengah pegang dua kartu di tangannya. Salah satu di antaranya terdapat kartu bergambar Joker.

“Cepat ambil,” ujar Shoko tidak sabar.

Tangan Satoru bergerak ke arah kartu di sebelah kiri. Berselang beberapa detik, tangan berpindah di kartu kanan. Dia kemudian melirik Shoko kemudian bergantian pada Suguru yang berdiri di belakang. Satoru mencoba menelisik jika ada perubahan ekspresi di wajah mereka. Tetapi keduanya sama-sama memasang raut datar. Dengan mengandalkan insting, Satoru memutuskan mengambil yang sebelah kiri.

“Hore! Kau kalah lagi!” Shoko melempar tangan ke udara. Tawa membahana seisi kelas. Suguru pun ikut tergelak.

Satoru mendecih kesal. Ini sudah yang ketiga kalinya dia berjodoh dengan joker. Bahkan Six Eyes tidak dapat menolongnya untuk gagal menjadi babu seharian penuh.

.


.

  • Kids

“Siapa di antara kalian yang memecahkan kaca kantorku?” Masamichi menyita bola voli sebagai barang bukti. Pecahan beling berserakan di lantai.

Ketiga muridnya saling menuding satu sama lain.

“Ini gara-gara Gojo yang ajak duluan. Aku dipaksa ikut.”

“Tapi Suguru melempar bola terlalu tinggi!”

“Yang smash terlalu keras sampai bolanya mental ‘kan kamu, Satoru.”

Buang napas panjang, Masamichi melanjutkan, “Kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua kena hukuman dan kutambah tiga kali lipat.”

Serentak, trio murid kelas satu itu acungkan tangan masing-masing.

Masamichi memijat pelipis. Dia bisa melihat Satoru, Shoko, dan Suguru punya potensi yang masif akan teknik kutukan mereka. Tetapi bagaimanapun juga, di matanya mereka tetaplah anak-anak berusia 16 tahun.

.


.

  • Lost

“Mana si Gojo?”

“Ponselnya tidak aktif. Mungkin habis batrei.”

Suguru berhenti menghubungi nomor Satoru, setelah tiga kali percobaan yang menyambutnya adalah suara operator di seberang telepon. Andai saja dia punya Six Eyes, proses pencarian akan jadi lebih ringkas.

“Aduh....” Shoko semakin gelisah, ia menggigit ujung kuku sembari mondar-mandir.  Panggilan dari pengeras suara berkumandang.

/Perhatian bagi penumpang dengan nomor penerbangan NRT723 diharapkan untuk segera memasuki pesawat./

Bohlam imajiner kedap-kedip di atas kepala Suguru.

“Aku punya ide.”

Bergegas, Suguru menuju tempat informasi. Tak lama berselang, terdengar pengumuman dari pengeras suara lagi. Kali ini bukan soal penerbangan.

/Kepada adik Gojo Satoru, ada orang tua menunggu di terminal 3. Sekali lagi kepada adik Gojo Satoru, ada orang tua menunggu di terminal 3./

Tidak butuh waktu lama bagi sesosok kepala putih menyembul, terlihat menyolok di antara kerumunan. Satoru berlari tergopoh-gopoh. Kedua tangannya sibuk menenteng berbagai tas. Dia bisa melihat Suguru melambaikan tangan padanya. Di samping Suguru, Shoko menyilangkan tangan. Aura gelap menyelimuti sekeliling Shoko.

“Pengumuman macam apa tadi? Memangnya aku bocah hilang?” Satoru melayangkan protes.

“Ya salah sendiri! Kami sudah menunggu dari, tahu!” Shoko menyemprot balik.

“Sudah, sudah! Berantemnya lanjut nanti. Ayo buruan!” Lerai Suguru.

Salahkan Satoru yang mudah salah fokus dengan jajanan manis yang ia temukan di bandara saat mereka hendak pulang ke Tokyo setelah selesai misi di luar kota. Membuat mereka hampir ketinggalan pesawat.

.


.

  • Mother

Secara (tidak) mengejutkan, Shoko bukanlah sosok “ibu” dalam tim. Sekalipun dia satu-satunya perempuan. Justru Suguru lah yang insting keibuannya lebih kentara—atau setidaknya mereka sebut demikian. Suguru sering memberi petuah untuk Satoru (“Iya, iya! Kamu lebih bawel dari ibuku, tahu.”) dan mengingatkan Shoko agar mengontrol konsumsi nikotin dalam tubuh (Shoko jadi teringat akan ibu di rumah yang juga berkata hal yang sama).

Maka, di minggu kedua bulan Mei, Suguru dikejutkan dengan kiriman sebuah kue tart bertuliskan “Selamat hari ibu! —Satoru, Shoko”

Suguru benar-benar ingin melempar kue ini ke wajah mereka.

.


.

  • Name

Satoru. Shoko. Suguru.

Secara kebetulan nama mereka sama-sama dimulai dengan alfabet yang sama. Secara kebetulan pula mereka lahir dalam satu siklus musim dingin berdasarkan 24 tatanan surya tradisional; Shoko lahir tatkala bulir salju pertama jatuh ke tanah. Satoru lahir ketika tumpukan salju membentang luas sepanjang pandang . Dan hari terakhir salju kembali menjadi air adalah saatnya Suguru tiba ke dunia.

Mungkin semua itu hanya kebetulan semata atau memang pertalian takdir yang mengikat mereka di masa lalu, hari ini, dan di masa depan.

.


.

  • Option

“Shoko, seandainya aku dan Suguru tenggelam, kau mau selamatkan yang mana?”

“Kalian tidak bisa berenang?”

“Cuma tanya saja. Jadi, pilih selamatkan siapa?”

“Waktu dan tenagaku. Aku tidak peduli apa yang terjadi dengan kalian.”

“...”

.


.

  • Pretend

“Suguru, pacaran yuk!”

Jus jeruk menyembur dari hidung Suguru.

“A-a-apa?” Suguru gelagapan, salah tingkah.

“Pura-pura maksudnya.” Satoru menunjukan pamflet diskon kreps 50% khusus untuk pasangan di hari valentine.

“Oh...”

Setitik rasa kecewa menyeruak di sudut hati terdalam Suguru.

.


.

  • Queen

“Gojo atau Geto, yang mana pun di antara kalian, ada yang bisa belikan aku rokok?”

“Ogah.”

“Malas.”

“...Oh, begitu. Baik.” Shoko membuka buku memo berisikan catatan dosa-dosa Satoru dan Suguru.

“Gojo, kau tiga minggu yang lalu mematahkan kacamata kesayangan Yaga-sensei dan disembunyikan di bawah kolong tempat tidur, ‘kan?”

Punggung Satoru menegak.

“Geto, sewaktu kau dihukum membersihkan daun kering di halaman, kau memakai bantuan roh kutukan biar cepat selesai, benar?”

Tengkuk Suguru bergidik.

Masih menjadi misteri dari mana Shoko tahu itu semua. Barangkali Shoko punya bakat cenayang alami. Dalam hitungan detik, keduanya bersimpuh di kaki Shoko.

“Ampun, Yang Mulia! Kami siap menerima perintah Paduka Ratu!”

.


.

  • Room

Suguru menemukan Satoru tidur siang di ranjangnya. Gorden menari tertiup angin semilir dari jendela yang terbuka. Pintu ditutup perlahan agar tidak membangunkan Satoru. Suguru mendekat. Dia duduk bersila di tepi tempat tidur, pandangi lekat temannya lebih jelas. Punggung Satoru melengkung ke dalam. Kakinya yang panjang ditekuk, lengan memeluk lutut. Suguru ingat, dulu sekali dia pernah punya kucing berbulu putih. Pose tidur Satoru yang sekarang mengingatkan Suguru akan kucingnya.

Rambut Satoru yang senada dengan sprei putih terserak. Suguru selalu berandai apakah rambut Satoru selembut kelihatannya. Selama ini, dia tidak pernah mencoba menyentuh. Dan Satoru sendiri juga bukan tipe orang yang dengan mudah membiarkan disentuh orang lain. Tanpa sadar, tangan Suguru terjulur dekati kepala Satoru. Tiba-tiba tangannya terhenti di udara. Bukan. Bukan karena Suguru sengaja, tapi—

Mata Satoru tahu-tahu terbuka, menampilkan iris biru cemerlang.

—Satoru mengaktifkan Mugen.

“Aku mau diapakan selagi tidur, hayo?” Satoru nyengir.

Suguru tersentak. Rona muka sedikit tersapu warna merah samar. Kata-kata Satoru membuatnya merasa seperti akan melakukan hal yang tidak senonoh saja.

“Tidak ada.”

“Bohong.”

Suguru membuang napas. Tidak ada gunanya berkilah.

“Boleh aku sentuh rambutmu?”

“Cuma itu? Ya ampun. Bilang dong daritadi.” Satoru turun dari ranjang, duduk di lantai bersama Suguru. “Nih.” Dia menyodorkan kepalanya.

Di usianya yang ke-16, Suguru pertama kali merasakan lembut rambut Satoru di antara sela-sela jemarinya. Halus layaknya kain sutra dengan kualitas terbaik. Persis seperti yang ada dalam bayangannya selama ini. Belaian Suguru membuat Satoru kembali mengantuk. Kepalanya bersender di pundak Suguru. Rambut satoru menggelitik hidung, tatkala Suguru menghirup aroma manis shampo.

“Geto, aku mau pinjam—“

Pintu menjeblak terbuka.

“—bukumu...”

Kaget, Suguru secara reflek mendorong tubuh Satoru hingga yang bersangkutan sukses mencium lantai dengan cantik.

“Oi, Suguru!” Satoru mengaduh.

“Shoko, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Suguru coba jelaskan.

Shoko memutar badan, memekik dari lorong, “Yaga-sensei, Geto sama Gojo berbuat mesum di kamar!”

“JANGAN SEMBARANGAN!”

.


.

  • Summer

“WOOOOHOOO!”

Satoru berseru kencang sebelum melompat ke dalam kolam. Shoko, yang duduk di pinggir kolam, berusaha menghindari cipratan air. Hanya berselang satu menit, Suguru mengikuti jejak aksi Satoru. Kali ini dia tidak bisa menghindar, Shoko terkena lebih banyak cipratan.

Karena tidak bisa ke pantai layaknya anak SMA biasa menghabiskan sisa liburan musim panas mereka, ketiga murid Jujutsu itu memberdayakan kolam renang di halaman belakang sekolah. Dinginnya air kolam cukup mampu meredakan suhu tubuh yang terpapar matahari. Suguru dan Satoru berlomba siapa yang duluan berenang sampai ke ujung.

“Shoko, ayo ikut!” Ajak Satoru.

“Tidak.”

Shoko tidak ingin membuang tenaganya di tengah cuaca terik begini. Dua orang itu saja yang kelebihan energi. Tiba-tiba, Satoru dan Suguru saling bertatapan. Ada seringai melengkung di bibir mereka. Shoko punya firasat buruk.

“Tu-tunggu! Kalian mau apa?!”

Mereka keluar dari kolam. Belum sempat kabur, Suguru menahan kedua tangan Shoko. Sementara Satoru mengangkat kakinya. Dalam tempo bersamaan, Shoko diceburkan ke kolam. Satoru dan Suguru terbahak.

Kepala Shoko mencuat dari dalam air. Meraup oksigen sebanyak mungkin.

“Akan kubalas kalian!”

.


.

  • Teamwork

Ieiri Shoko bisa dibilang tulang punggung sistem medis dunia Jujutsu. Meski tidak unggul dalam hal ofensif, tetapi Shoko menguasai teknik kutukan terbalik. Sangat berguna untuk pemulihan luka. Tidak banyak shaman yang bisa melakukan itu. Yang mana artinya aset besar yang harus dijaga. Untuk itulah dalam sebuah misi, menjaga keselamatan Shoko adalah prioritas utama.

Shoko menunggu di luar pabrik kosong. Duduk santai sambil memangku satu kaki. Shoko mengaitkan earphone yang tersambung dengan ponsel ke telinga, memutar lagu. Rokok dinyalakan. Suguru menempatkan dua roh kutukan jinak tingkat satu untuk melindungi Shoko jika terjadi sesuatu, sementara dia dan Satoru berada di garda terdepan berjibaku dengan roh kutukan.

Terkadang Shoko merasa ada gunanya juga satu tim dengan mereka.

.


.

  • Umbrella

Rinai hujan lebat membasahi aspal. Tidak ada satu pun dari ketiga murid sekolah Jujutsu cabang Tokyo itu yang membawa payung. Mereka terjebak di minimarket, tidak bisa pulang ke asrama.

“Satoru, kamu bisa aktifkan Mugen secara parsial, ‘kan?”

“Ya bisa sih. Kenapa?”

“Oke, bagus.”

Tanpa diduga, Suguru langsung angkat tubuh Satoru, dipanggul di bahunya seperti karung beras. Satoru yang tadinya mencak-mencak akhirnya menyerah juga. Mugen dipasang agar melindungi badan mereka. Tubuh mungil Shoko berlindung di belakang punggung Suguru. Bertiga, mereka terobos hujan.

Sedia payung sebelum hujan. Kalau tidak ada payung, seorang Gojo Satoru pun jadi.

.


.

  • Vision

Suguru yakin dua temannya salah makan. Atau mungkin pertanda kiamat. Pasalnya, mereka bertingkah tidak seperti biasanya. Seharian itu, Satoru tidak mengganggunya atau setidaknya memancing urat kesal. Sedangkan Shoko bersikap lebih toleran.

Saat ditelusuri, Satoru menjawab, “Aku bermimpi kamu meninggalkan kita.”

Suguru hanya tertawa. “Itu hanya mimpi. Kamu percaya yang begituan?”

“Sebenarnya tidak. Tapi masalahnya, Shoko juga bermimpi hal yang sama.”

“Tenang saja. Mana mungkin itu terjadi.”

Satoru berharap Suguru benar.

.


.

  • Warm

Bagi orang belum pernah kenal, Geto Suguru sekilas memberikan impresi pertama yang mengintimidasi dengan tindikan di kedua telinga, tatapan mata tajam, dan rambut gondrongnya. Bagi para generasi tua, mudah bagi mereka untuk menghakimi Suguru sebagai anak berandalan lewat penampilan luar. Jelas  hal tersebut ditampik oleh orang-orang yang dekat dengannya seperti Satoru dan Shoko. Mereka tahu, Suguru justru kebalikan dari semua praduga buruk tersebut. Suguru penuh perhatian, berbudi luhur dan rajin menabung serta punya sopan santun yang bagus. Kurang apalagi sebagai calon menantu idaman?  Dan tentu saja, Suguru adalah orang paling hangat yang pernah hinggap dalam hidup mereka. Sehangat tatkala alat pemanas ruangan mendadak malfungsi di awal musim dingin dan Satoru serta Shoko berbondong ke kamar Suguru. Mereka memeluk Suguru  di antara lilitan selimut tebal.

“Hei, kalian, aku tidak bisa bergerak.”

Tidak ada yang mengindahkan perkataan Suguru. Keduanya tetap pada posisi masing-masing dan yang dipeluk hanya bisa mendesah pasrah.

.


.

  • Xenophobe

Misi tidak selalu berjalan dengan mulus. Jatuhnya korban jiwa adalah hal lumrah. Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang, ialah prinsip yang perlu diingat setiap shaman. Meski begitu, tak jarang para shaman tetap mendapatkan cemooh dari warga biasa baik secara eksplisit maupun bisik-bisik di belakang. Perihal mereka yang tidak becus jalankan peran sebagai pelindung masyarakat.

Satoru tidak pernah ambil pusing tentang itu. Toh bagi dia melindungi yang lemah adalah sesuatu yang merepotkan. Shoko pun sama tidak pedulinya. Namun tidak demikian bagi Suguru. Cibiran negatif itu merangsek masuk ke telinga, mengendap dalam sel-sel kelabu otak.

Suguru mulai memikirkan ulang idealismenya.

.


.

  • Yearning

Sama seperti SMA di Jepang pada umumnya, upacara kelulusan sekolah Jujutsu digelar pada bulan Maret. Satoru melewati kelulusannya tanpa taburan konfeti atau tradisi melepas kancing yang mengiringi. Begitu lulus, dia langsung dipersiapkan dengan misi yang baru sebagai seorang shaman resmi profesional.

Satoru masuk ke ruang kelas tempat di mana dia habiskan empat tahun masa muda. Sekelebat kenangan berputar cepat. Segenggam perasaan nostalgia menyergap dirinya. Tempat itu masih sama. Posisi meja dan kursi tidak ada yang berubah. Satoru sedang memandang ke luar jendela, ketika sebuah suara mengejutkannya.

“Hei, Satoru!”

 Satoru berbalik. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Yang dia temui hanyalah keheningan dan bangku Suguru yang kosong.

.


.

  • Zero

Kamar Suguru selalu menjadi tempat ideal bagi mereka untuk berkumpul bersama. Spidol merah melingkari tanggal 31 Desember. Tahun ini mereka tidak merayakannya di tengah kerumunan seperti tahun yang lalu. Mereka habiskan menunggu malam pergantian tahun sambil main game dan makan hotpot.

“Sudah mulai!” Shoko nyalakan televisi. Detik berhitung mundur.

3!

2!

1!

“Selamat tahun baru!”

Mereka bertiga bersulang. Gelas berisikan bir dan soda berdenting. Mereka punya satu harapan sederhana yang sama.

Semoga tahun-tahun berikutnya masih bisa mereka rayakan bersama.

.

.

.

.

.

the end

Notes:

credit:
1) Prompt “option” saya sadur dari tweet @/incorrectsatosugu
2) Prompt “name” soal musim dingin itu berdasarkan tumblr user sashisu

mabok juga bikin 26 drabble _(:3_

terima kasih sudah membaca! kira-kira ada prompt yang paling kalian suka? silahkan kasih tau saya ehe.