Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-07-11
Words:
2,744
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
38
Bookmarks:
3
Hits:
261

Morning Sketch

Summary:

Bagi Atsumu, paginya selalu sederhana dan Ia menikmati setiap detiknya.
Harum tanah basah, hangat cangkir kopi di genggaman, celoteh ibu-ibu di jalan raya, dan bagian favoritnya: interaksi kecil dengan penghuni kost seberang yang setiap pagi menemaninya, lengkap dengan pensil dan buku sketsa di pangkuan.
Rutinitas janggal yang membuat Atsumu terus-terusan berharap agar pagi tiba lebih cepat dari biasanya.

Notes:

Written for #SakuatsuLokalWeek. Day 7, Tier 1: Tetanggaan.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Atsumu menyibak tirai, membuka pintu balkon dan merasakan terpaan suhu dingin pagi hari dan harum tanah basah melingkupinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, menyesap kopi hangat dari cangkir di genggaman, merasakan kantuknya seketika hilang. Suasana yang menyenangkan.

Dari lantai dua, matanya asyik melihat pemandangan yang sudah Ia hapal di luar kepala: ibu-ibu berkumpul di sekeliling gerobak tukang sayur (yang entah mengapa hari ini tidak menjajakan segepok berondong jagung manis kesukaannya, padahal Atsumu sudah berencana membelinya hari ini), sekumpulan anak-anak berseragam putih-merah dan putih-biru yang berjalan ceria sambil bercanda atau biasanya membicarakan episode sinetron kesukaan mereka ("Joko pingsan lagi coba tadi malem pas olahraga! Sakitnya kambuh lagi, kasian Wulan huhu" ), dan yang terakhir... pemandangan favoritnya.

Lelaki yang Atsumu tidak tahu siapa namanya selalu ada di jarak pandangnya; duduk di kursi yang diletakkan di bagian atap beton kost seberang dengan pensil dan buku sketsa di pangkuan. Rambut ikalnya selalu berantakan, jatuh menutupi sebagian wajahnya. Bibirnya selalu mengkerut; entah sedang konsentrasi atau frustasi. Tangannya terlihat bergerak lincah menggambar entah apa.

Dan ini bagian favoritnya. Satu, dua, tiga.

Kepala lelaki itu mendongak, memperlihatkan raut wajah tampan dengan tahi lalat semikolon di atas alis yang kini terlihat seluruhnya. Matanya menatap Atsumu langsung tanpa basa-basi, seperti ingin berkata-kata tapi bukan dengan suara.

Hanya dengan sudut bibirnya yang menyungging sebelah, membentuk senyum kecil yang—jika diperhatikan benar-benar—menampakkan lesung dangkal di pipi. Ia mengangguk. Menyapa.

Atsumu tersenyum lebar lalu balas mengangguk. Menatap. Menikmati jeda.

Hingga lelaki itu pun kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya. Atsumu pun kembali mengalihkan pandangan, sesekali menyesap kopi dan menyapa tetangga yang lewat hingga mentari mulai terik dan Ia kembali ke kamar, bersiap-siap untuk bekerja.

Bagi Atsumu, paginya selalu sederhana.

Tapi rutinitas janggal yang Ia dan lelaki itu lakukan selama enam bulan terakhir membuatnya terus-terusan berharap agar pagi datang lebih cepat dari biasanya.

 

***

 

Atsumu melepas helm dan mengusap peluh yang mengalir di pelipis dengan punggung tangan seraya mengerang lirih. Cuaca memang sedang panas gila-gilanya.

Ia turun dari motor dan memerhatikan pekarangan depan bangunan kost yang Ia tempati. Beberapa motor terparkir rapi, dan daun-daun kering yang jatuh dari pohon jambu besar berserakan sana-sini. Ia meletakkan tas kerja dan helm-nya di bangku teras, menggulung lengan kemeja, mengambil sapu lidi, dan mulai menyapu.

Angin sore hari berhembus pelan, menelusuk masuk ke celah-celah kemeja dan menyejukkan tubuhnya. Ia bersiul, menyanyikan melodi yang selalu muncul di kepala.

Sampai Atsumu menyadari sesuatu yang tidak biasa.

Mobil sedan hitam sedang terparkir di depan kosan seberang. Dilihat dari jauh saja tetap kelihatan bahwa jelas itu model mewah; mulus dan mengkilap. Wajar jika Ia merasa sedikit heran, karena daerah tempat tinggalnya terletak di pinggiran kota di lingkungan yang biasa-biasa saja. Jangankan mobil mewah, mobil biasa saja jarang melewati jalan ini.

Lampunya pun menyala, menandakan bahwa ada orang di dalam situ. Apa jangan-jangan kesasar? pikirnya.

Atsumu meletakkan sapu lidi, dan mulai menghampiri mobil tersebut, bermaksud untuk membantu jika pemiliknya butuh petunjuk jalan. Tapi belum sampai Ia, mobilnya sudah tancap gas duluan. Mesinnya berdesir halus dan pergi meninggalkan Atsumu yang terdiam kebingungan. Alis tebalnya mengkerut, nyaris menyatu.

Ia mengedikkan bahu dan kembali menyapu.

 

***

 

"Mas Atsumu, barusan ada yang ngasih paketan," sapa Mbak penjaga kost saat Atsumu baru hendak memasuki kamar.

Ia mengangkat sebelah alis, mengingat-ngingat. "Tapi perasaan saya nggak mesen apa-apa deh, Mbak?" 

Si Mbak hanya mengangkat bahu. "Saya juga nggak tahu tuh, Mas. Coba dicek aja tuh di meja," ujarnya sambil berlalu.

Atsumu menghampiri meja dan melihat kotak kardus berwarna cokelat dengan simpul tali rami terikat rapi di atasnya. Ia mengangkatnya; ringan, mungkin pas atau kurang dari satu kilo. Tak ada nama pengirim, hanya ada tulisan namanya ditulis tangan dengan tinta hitam: Miya Atsumu.

Ia bawa kotak itu ke kamarnya dan diletakkan di atas meja belajar. Duduk di kursi, tangannya membuka pelan simpul tali itu dan dibukanya kotak itu perlahan.

Atsumu terkesiap.

Kardus kecil tersebut berisi setumpukan rapi kertas-kertas yang sudah dirobek dari jilidnya, bergambar sketsa pensil sosok lelaki dalam berbagai pose berbeda; meminum kopi seraya menghampirkan lengannya di railing balkon, duduk di kursi sambil membaca buku, berdiri bersandar di kusen pintu dan menelpon dengan satu tangan dimasukkan ke kantong, atau bahkan melambaikan tangan dengan senyuman lebar.

Jumlahnya 27 lembar. Semuanya adalah sketsanya, dan semuanya indah luar biasa.

Atsumu mengambil tumpukan kertas tersebut lalu menghambur ke luar kamar. Dengan cepat Ia menuruni tangga, memakai sendal asal saja dan berlari. Ke bangunan kost seberang, di mana segala tanya dan rasanya bermuara.

Ia mengetuk pintu. Jantungnya berdetak kencang, entah karena sehabis berlari atau karena antisipasi. Ia menghela napas, menghitung detik demi detik yang terasa amat lambat.

Pintu membuka, menampilkan sosok perempuan paruh baya, sang empu kost.

"Cari siapa, Mas?" tanya Ibu itu ramah. "Ini Masnya yang nge-kost di seberang, kan?"

"Iya, Bu. Saya mencari...," Atsumu terdiam lalu memaki pelan di dalam hati, baru ingat bahwa Ia bahkan tidak tahu nama lelaki itu. "Laki-laki, dia tinggal di sini. Perawakannya sepertinya tinggi, Bu, rambutnya hitam ikal dan... oya, ada tahi lalat di dahinya."

"Oh, Mas Sakusa?" tanya Ibu itu memastikan. 

Sakusa. Atsumu mengulang-ulang nama tersebut di hatinya layaknya mantra.

Atsumu hanya mengangguk, seolah kenal padahal tak tahu-menahu. Tapi Ia ragu akan ada orang lain yang mempunyai wajah yang sama tampan, tahi lalat yang sama indah, dan senyum yang sama memukaunya dengan lelaki yang selalu menemani pagi harinya.

"Wah, Mas Sakusa-nya barusan tadi udah pergi, Mas."

Senyumnya seketika hilang. "Pergi ke mana, Bu?"

"Ya, udah pindah. Barusan aja. Emang Mas Sakusa bilangnya kost-nya cuma sebentar sih. Dulu dia bilang butuh tempat buat istirahat gitu, trus bayar kost enam bulan di muka. Nah hari ini kost-nya habis. Padahal Ibu mau nawarin supaya dia perpanjang sewa, eh tapi ternyata pamit tadi pagi sama Ibu. Tadi udah boyongan juga, dijemput pakai mobil hitam," jelas sang Ibu panjang lebar.

Atsumu tertegun, genggaman di kertasnya mengeras tanpa sadar, menyisakan sedikit kerutan dan garis-garis di sketsa dirinya.

"Ada apa, Mas? Jangan-jangan Mas Sakusa buat ulah ya? Apa ada utang yang belum dibayar? Duh, saya ndak ada kontaknya lagi," seloroh sang Ibu kost khawatir.

Sesuatu mengusik Atsumu. "Dia nge-kost di sini nggak ngasih kontak, Bu? Sama sekali?"

Ibu kost menggelengkan kepalanya. "Ndak, Mas. Soalnya kan sudah bayar di muka. Saya ngasih nomor saya sih tapi saya juga baru sadar bahwa selama ngekost dia ndak pernah ngehubungi saya jadi saya ndak tahu kontaknya. Duh, utangnya besar kah, Mas?"

Mau tak mau Atsumu tersenyum. Kecil saja. Hampa di dadanya tidak mengizinkannya untuk tersenyum lebih dari itu.

"Nggak kok, Bu, dia nggak ada utang sama saya. Saya cuma mau..."

Benar juga. Atsumu mau apa dengan Sakusa? Mereka memang memiliki rutinitas janggal selama enam bulan, tapi itu tidak berarti apa-apa, bukan?

Genggamannya semakin mengencang.

"Mau nawarin barang, Bu. Tapi kalau sudah pergi ya sudah tidak apa-apa, saya nawarin yang lain saja. Terima kasih banyak, Bu," pamit Atsumu seraya melangkah pergi.

Langkahnya gontai. Sampai kamar, Ia letakkan tumpukan kertas itu di atas meja. Hatinya terasa sesak. Sesal menggerogotinya, berkali-kali menyodorkan berbagai kemungkinan yang mungkin saja terjadi jika saja Atsumu lebih berani.

Ia mengambil satu helai sketsa, sosoknya yang sedang tersenyum terlukis dengan guratan pensil. Begitu detail, begitu indah, seperti bukan dirinya. Apakah Ia terlihat seperti itu di mata lelaki itu?

Malam itu, Atsumu enggan memejamkan mata, berharap bangun saat matahari sudah terik di tengah kepala.

Tidak lagi menantikan pagi tiba.

 

***

 

Atsumu menatap bayangannya di cermin seraya merapikan kerutan di kemejanya. Rambut platinumnya yang biasanya berantakan kini tertata rapi di atas kepala, menampakkan dahi yang terlihat mengkilat karena lapisan keringat tipis.

Ia gugup. Hari ini adalah hari interview-nya di salah satu biro arsitek yang berlokasi di tengah kota.

Tadi pagi, Atsumu panik karena bangun sedikit kesiangan, ditambah lokasi kost-nya yang memang jauh dari kantor mengakibatkan Ia terjebak macet di beberapa titik. Untung saja Ia tidak terlambat, dan masih sempat untuk melipir ke toilet dan merapikan penampilannya.

Atsumu menatap nanar bayangan hitam yang tampak di bawah mata, hasil begadangnya selama beberapa hari terakhir yang berakhir dengan bangun gelagapan karena telat. Sengaja, agar otaknya tak punya waktu untuk sekedar mengingat ikal rambut berwarna hitam atau tahi lalat semi kolon yang sialnya tetap saja sukses menghantui mimpinya.

Tapi terkadang matanya membuka sesaat sebelum matahari terbit, seakan sudah diprogram otomatis. Terkadang kakinya melangkah tanpa instruksi pemiliknya, menyibakkan tirai sedikit, hanya untuk disambut pemandangan atap beton yang kosong. Sekosong hatinya.

Empat belas hari terakhir rasanya begitu hampa.

Ia menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghalau nyeri yang selalu datang di saat-saat tak terduga. Ia menyunggingkan senyum, melemaskan otot. Sudah lupakan saja, ucapnya kepada dirinya sendiri. Bagaimana pun interview ini jauh lebih penting daripada eksistensi lelaki yang dengan kurangajarnya pergi begitu saja setelah meninggalkan sketsa yang entah apa maksudnya.

Seakan ada apa-apa, seakan apa yang mereka punya sama berartinya.

Atsumu mengerang, menepukkan kedua tangan ke pipi. Harusnya Ia terima saja tawaran adik kembarnya yang bermaksud mengatur kencan buta untuknya.

Sambil menggerutu Ia melangkah keluar. Sol sepatu pantofelnya membunyikan ketukan yang menggema sepanjang lorong yang tampak sepi. Sepertinya kantor ini memang biro kecil dengan jumlah pekerja yang tidak seberapa.

Pintu membuka dan kepala terjulur. “Miya Atsumu? QS?”

Atsumu mempercepat langkah. “Iya, Pak,” jawabnya.

“Sudah siap?”

“Sudah,” jawabnya mantap.

“Mantap. Yuk, masuk,” ajaknya.

Atsumu memasuki ruangan dan tiba-tiba de javu menghentaknya tiba-tiba, menahannya di tempat.

Di sana lah lelaki itu berada, menatap Atsumu tepat di bola mata.

… sinar matahari kuning keemasan di sela-sela tirai, terpaan suhu dingin pagi hari dan harum tanah basah, suara ibu-ibu dan anak sekolah, rambut ikal hitam dan sepasang mata yang menatapnya langsung tanpa basa-basi…

Atsumu baru sadar, hampa yang selama ini Ia rasa ternyata rindu namanya.

Dan di hadapan lelaki itu, hatinya yang kosong kini terasa penuh, dan gumpalan yang menyiksanya seakan luruh tak bersisa.

 

***

 

Senyum lelaki itu masih sama, masih menampakkan lesung pipi yang kini terlihat di kedua pipi. Rambutnya terlihat lebih rapi sekarang, serapi kemeja dan jas hitam yang Ia kenakan.

Sebentar.

Dia kerja di sini? Dan akan mewawancarainya sebentar lagi?

Atsumu tiba-tiba panik dan malu, memaki takdir di dalam hati karena tidak menyangka bahwa lelaki yang mengunjungi mimpinya hampir tiap hari kini juga menjadi penentu kelancaran pemasukannya.

“Silakan duduk, Miya Atsumu,” sapa laki-laki yang tadi mengajaknya ke dalam ruangan. Atsumu duduk segera. “Perkenalkan, saya Komori Motoya, manajer internal. Di ujung sana ada Kuroo Tetsurou, kepala studio perencanaan dan konstruksi. Dan di samping saya Sakusa Kiyoomi, pemilik Biro Itachiyama sekaligus arsitek utama.”

Pemilik!? Betapa Atsumu ingin bumi menelannya bulat-bulat saat ini juga.

“Mungkin saya jelaskan sedikit ya latar belakang perekrutan ini. Jadi awalnya Biro Itachiyama bergerak di bidang konsultasi desain bangunan, tetapi semakin lama proyek yang kami ambil semakin beragam dan cukup besar lingkupnya... Atsumu, kamu tidak apa-apa? Santai saja, tidak usah tegang begitu,” ucap Komori.

Atsumu tersadar, lalu memfokuskan pandangan. “Tidak apa-apa, Pak,” jawabnya.

“Komori aja, nggak usah pakai Pak, saya masih muda kok,” sergahnya seraya mengibaskan tangan, yang hanya bisa Atsumu balas dengan senyum meringis dan anggukan kepala.

Punggung tangan Atsumu refleks mengusap lapisan keringat dingin di pelipis. Fokus, Atsumu! teriaknya dalam hati.

“Okay, saya lanjutkan ya. Akhirnya setelah lama menggunakan pihak ketiga sebagai konsultan RAB, kami memutuskan bahwa sudah saatnya Itachiyama merekrut tenaga ahli untuk memudahkan kami mengerjakan proyek dari tahap perencanaan hingga konstruksi. Nah, pengalaman kamu sebagai quantity surveyor sudah berapa lama, Atsumu?”

“Tiga tahun, Pak,” jawabnya singkat.

“Okay, kalau begitu tolong jelaskan pengalamanmu selama ini dan juga mungkin gambaran mengenai beberapa proyek yang pernah kamu handle,” instruksi Komori seraya melambaikan tangan, mempersilakan.

Atsumu menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Hatinya sibuk merapal doa.

Ia lalu menjelaskan panjang lebar tentang karir yang Ia tekuni sejak lulus dengan gelar sarjana teknik sipil tiga tahun lalu. Sesekali Komori dan Kuroo menanyakan detail-detail tertentu yang untungnya bisa Ia jawab dengan lancar. Waktu seakan mengalir, walaupun Atsumu masih belum bisa tenang karena Ia bisa merasakan tatapan intens Sakusa Kiyoomi—yang ngomong-ngomong sampai sekarang belum juga menanyakan apa-apa—membakarnya.

“Kayaknya saya cukup sih. Kur, lo gimana?” tanya Komori kepada Kuroo, yang langsung dibalas dengan ancungan jempol. “Lo nggak mau nanya, Ki? Tumben, biasanya kalau interview gini lo yang paling bawel,” candanya. Sepertinya mereka teman dekat.

Atsumu memberanikan diri untuk menatap langsung sang pemilik biro.

Sakusa Kiyoomi masih menatapnya, begitu lekat hingga Ia bisa merasakan pipinya mengangat.

“Miya Atsumu.”

Entah mana yang lebih membuat Atsumu terhenyak; suara bariton yang entah mengapa membuat darahnya berdesir atau kenyataan bahwa selama enam bulan mereka bertukar sapa ini pertama kalinya Atsumu mendengar suara lelaki itu.

“Iya, Pak,” jawabnya terbata. Mempersiapkan diri.

“Tadi kamu ke sini macet nggak?”

Hah?

“Hah?” seru Komori dan Kuroo bersamaan. Menatap Sakusa heran. Tapi tatapan Sakusa hanya lurus menghadap Atsumu, menunggu jawaban.

“Ma-macet di beberapa titik, Pak, tapi tidak terlalu panjang," jawabnya sebisanya, dahinya mengerut karena bingung.

Sakusa hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya tersenyum… lega? Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu. “Hujan nggak tadi? Atau gerimis?” 

Kerutan di dahi Atsumu makin dalam. “Euh… Tidak, Pak.”

Lesung pipi itu nampak lagi, makin dalam sekarang. “Bagus. Kalau begitu kamu mulai besok, ya,” tandas Sakusa.

Tiga pasang mata melebar karena terkejut. Komori memiringkan badannya sekarang, menarik jas Sakusa, “Err… Tapi, Ki, kita masih ada dua orang yang belum di-interview.”

Sakusa menggeleng pelan. “Udah, yang ini aja,” jawab Sakusa, tapi matanya tak lepas dari Atsumu. Membuat wajahnya yang tadinya menghangat kini mulai panas, menyebar ke seluruh tubuh. Jantungnya pun berdegup kencang sekali, entah karena senang bisa diterima atau karena antisipasi.

“Err… Okay,” ujar Komori dengan tanggap mengambil alih. “Tadi Atsumu sudah dengar sendiri, kan? Kalau begitu, selamat bergabung! Nanti setelah ini ikut ke ruangan saya ya, kita akan ngomongin beberapa hal-hal teknis dan juga tanda tangan kontrak," jelas Komori sambil tersenyum ceria. Kuroo masih menatap Sakusa tidak percaya, lalu terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala.

Walaupun otaknya masih berusaha keras memahami apa yang terjadi barusan, tetapi Ia rasakan tubuhnya bergerak secara autopilot. Ia bangkit dan menghampiri meja interviewer. Menyalami mereka satu-persatu. Saat Atsumu menyalami Sakusa, Atsumu memberanikan diri menatap langsung wajah tampan lelaki itu.

Sebentar saja, dinding-dinding kantor seakan runtuh, digantikan dengan suasana jalanan pinggiran kota di pagi hari, dunia milik mereka sendiri.

Sakusa menatapnya sambil menyunggingkan senyum. Mengangguk. Menyapa.

Atsumu balas tersenyum. Mengangguk. Menikmati jeda.

Hanya saja kali ini tidak ada jarak di antara mereka.

 

***

 

"Belum pulang?" tanya pemilik suara bariton yang efeknya masih sama, seketika langsung membuat darah Atsumu berdesir. Ia melihat Sakusa sedang berjalan ke arahnya.

"Belum, masih nunggu hujan agak reda," jawabnya.

Sakusa duduk di sampingnya. Lama mereka hanya terdiam, menikmati suara rintik hujan yang begitu ritmik, begitu kaya, layaknya orkestra spesial gubahan semesta.

"Terima kasih... untuk sketsanya," ucap Atsumu. "Indah banget, kayak bukan aku."

Satu detik, dua, tiga.

"Justru karena itu kamu makanya hasilnya jadi indah begitu."

Atsumu menoleh cepat, memandang Sakusa yang masih asyik melihat hujan. Ekspresinya datar seperti sedang mengomentari cuaca saja, alih-alih mengatakan kalimat yang sukses membuat Ia gila.

"Aku malah pengen minta maaf," lanjut Sakusa.

"Untuk apa?"

"Karena udah ngegambar kamu tanpa izin. Aku ngerasa agak bersalah karena udah ngegambar kamu seenaknya, makanya aku kasihkan semua sketsaku ke kamu."

Atsumu diam saja, bingung ingin menjawab apa.

Sakusa meraih kantong celana, mengeluarkan lipatan kertas dan menyodorkannya kepada Atsumu. Atsumu mengambilnya lalu membukanya perlahan.

Ia tercekat.

Sketsa dirinya, tetapi tidak lagi berlatar balkon lantai dua. Pekarangan, sapu lidi, lengan kemeja yang tergulung. Daun-daun kecil terlihat berterbangan di sekitar tubuhnya.

"Tapi di hari terakhir itu, aku nggak tahan pengen gambar kamu."

Ia mengangkat kepala, menatap Sakusa langsung. "Terus waktu aku samperin kok kamu pergi gitu aja?"

"Karena aku tahu aku bakal ngerasa bersalah dan ngasih gambar ini juga ke kamu, dan aku nggak mau," jawab Sakusa seraya menoleh menghadap Atsumu. Tatapan Sakusa mengurungnya, tidak membiarkannya pergi ke mana-mana. "Aku pengen nyimpen satu aja gambar kamu... untuk diriku sendiri."

Degup jantung Atsumu sudah tak karuan sekarang. Wajahnya panas, merah-semerahnya.

"Kenapa?"

Pertanyaan yang sudah lama Ia ingin tanyakan, pertanyaan untuk sepersil harapan yang Ia pendam diam-diam, pertanyaan atas segala kemungkinan.

"Karena rasanya salah... Bangun tidur di pagi hari lalu nggak ngelihat kamu," ucap Sakusa.

Atsumu merasakan kulitnya meremang karena bahagia.

"Kamu curang," gerutu Atsumu. "Kamu punya gambarku, tapi aku nggak punya apa-apa yang bisa ngingetin aku sama kamu."

Mata hitam itu melebar, menatap Atsumu tidak percaya.

"Pagiku juga... hampa kalau nggak ngelihat kamu. Entah, kayak empat belas hari terakhir rasanya aneh aja," akunya malu-malu. "Kangen kali ya?"

Semburat merah menyebar di wajah Sakusa, membias cantik di kulitnya yang pucat. Ia menunduk malu, lalu tersenyum lebar. Atsumu mematri baik-baik pemandangan itu dalam ingatannya.

Tangan Sakusa menyentuh miliknya, menggenggamnya erat. Atsumu memejamkan mata, menikmati apa yang selama enam bulan terakhir hanya bisa Ia nikmati apa adanya dengan jarak yang membentang di antara mereka.

Ternyata apa yang mereka punya, sama berartinya bagi Sakusa.

Dan kali ini Atsumu tidak akan membiarkannya pergi ke mana-mana.

Notes:

Thank you for reading! I'm screaming daily about skts here