Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-07-13
Words:
1,584
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Bookmarks:
1
Hits:
55

Keajaiban Felix

Summary:

Felix tidak mengenal konsep waktu, dan dia pernah menghilang.

Work Text:

Biar kuberi tahu padamu, aku dan Felix sama-sama sudah tua.

Aku dengan rambut silver keperakan alami yang menjuntai melewati pundak, dan helai rambut Felix yang sengaja diwarnai sepertiku. Wajah lebih mudah menipu, aku melewati rangkaian perawatan agar kulitku tetap kencang; tetapi, lain halnya dengan tanganku yang berkeriput—pembuluh darah kebiruan terlihat jelas di kulitku yang pucat dan sepertinya akan lepas dari tulang dan daging dalam hitungan tahun. Sementara Felix, tetap dapat mempertahankan rupa kekanakan yang sama seperti puluhan tahun lalu, tatkala kami berdua masih bertetangga di pinggiran kota kecil.

Aliran waktu bergerak di sekitar kami, aku pergi ke pusat kota begitu lulus SMA; cita-citaku ingin menjadi perawat, dan aku berakhir menjadi penjawab telepon di klinik kecantikan selama sekitar enam tahun dan di tahun ketujuh aku menikah dengan pemilik bar kecil yang juga teman masa kanak-kanakku, Christopher. Sementara Felix … tidak berubah. Tidak pernah.

Felix tidak mengenal konsep waktu, dan dia pernah menghilang.

Di kota kecil yang kami tinggali, kabar burung mudah menyebar—bukan hal yang aneh jika terjadi pertengkaran di rumahmu, keesokan harinya orang yang tinggal terpisah belasan blok darimu akan menatapmu dengan iba seolah berucap, ‘Ayahmu memang brengsek, kuharap ibumu bisa lebih tabah.’ Sehingga, kabar menghilangnya anak delapan belas tahun jelas akan membuat kegemparan besar.

Aku mendengar kabarnya dari ibuku yang panik. Felix lenyap begitu saja—tidak kunjung pulang setelah pamit akan mampir ke perpustakaan; sampai malam Felix tak jua terlihat. Masalahnya, Felix nyaris tidak pernah pergi sendirian lewat dari senja. Ibu Felix menginap di rumah kami selama seminggu. Selembaran sudah disebarkan hingga ke penjuru kota dan kota tetangga yang bisa dijangkau setiap sudutnya, iklan pun dipasang, di radio, surat kabar, hingga saluran televisi lokal. Regu pencarian dibentuk untuk menyusuri hutan di belakang. Felix belum juga ditemukan.

Hingga akhirnya, Felix kembali begitu saja dengan keadaan sekujur tubuh yang terkotori tanah (tidak sekotor itu, kau tahu seperti saat kami pulang bersepeda—terlalu sering jatuh, serta membelah ilalang tinggi).

“Kenapa di rumah kosong—dan mengapa Mum ada di sini?” Itu yang pertama Felix tanyakan begitu ibuku membukakan pintu setelah ada ketukan pelan di tengah hari.

Sampai sekarang, petualangan Felix yang sampai membuat satu kota geger masih diselimuti misteri. ‘Felix si anak ajaib’ menjadi headline berita lokal berbulan-bulan, Felix tidak dapat menceritakan banyak meskipun sudah berulang-ulang diwawancarai. Sampai para jurnalis akhirnya bosan dan karier Felix-yang-mendadak-jadi-selebriti pun meredup.

“Kau tidak akan percaya itu!” Felix berseru padaku dengan sepasang matanya yang berbinar, mengingatkanku pada bintang-bintang di majalah astronomi milik Chris.

Waktu itu, pertama kali kami bertemu sejak Felix menghilang. Aku jarang pulang ke rumah di masa-masa perantauanku, tetapi demi berjumpa dengan Felix (aku sangat penasaran!), di akhir pekan aku ‘berkunjung’ hanya dengan membawa ransel kecil dan dua pasang pakaian di dalamnya.

“Sebenarnya kau kemana sih?” Tanganku tidak berhenti mencubit kecil pai apel buatan ibuku yang tersaji di meja makan.

Felix tidak bisa diam dan terlalu bersemangat, awalnya dia duduk di hadapanku, lantas melompat turun dan berpindah di samping. Di bawah sana kakinya berayun ringan. Kalau tiba-tiba muncul ekor di bokong Felix aku tidak akan heran. Terlalu banyak keajaiban yang ditampung anak muda satu ini.

“Itu dia! Aku tidak kemana-mana, aku hanya memberanikan diri masuk ke gua yang dulu menjadi tempat pencarian harta karun kita dan ternyata begitu aku keluar, hari sudah siang padahal aku yakin sekali aku berada di dalam hanya lima menit!”

“Tapi, kau berlumur tanah.”

“Well, maaf karena punya dua kaki kiri—aku terjatuh.”

“Tapi, kau menghilang seminggu lebih.”

“Itu yang membuatku penasaran.”

“Dan kau jadi terkenal karena pernah hilang.”

“Entahlah, sepertinya ini bisa menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan setelah aku memenangkan olimpiade matematika di tingkat junior dulu.”

“Aneh.” Aku bertopang dagu, menyanggakan siku di meja. Sudah berapa lama, ya, sejak terakhir kali aku bertemu Felix sebelumnya? Rambut kecokelatan Felix sudah lumayan gondrong, diikat separuh oleh karet yang telah menghitam. Dibiarkan berantakan membingkai wajah. “Aku penasaran, kalau aku masuk ke sana, apa mungkin bisa terjebak lama juga?”

Felix meniru gerakanku, kami saling menatap. Melupakan pai apel yang sebenarnya enak. “Aku pernah masuk ke sana lagi, tapi tidak ada perubahan. Mum panik waktu tahu aku ke sana lagi.” Dia mengendikkan bahu. “Sekarang, kau tahu sendiri, aku nyaris tidak boleh pergi kemana-mana sendirian!”

“Begitulah ibu-ibu.”

Beberapa tahun setelahnya, aku menjelma menjadi sesosok wanita yang seperti ibu Felix dan ibuku sendiri, setelah aku punya anak: terlalu banyak ketakutan, juga mudah marah. Maafkan aku, Mom, karena pernah kesal setiap kau menegurku—aku sudah tahu bagaimana rasanya melihat anakku terlalu asyik bermain hingga melupakan makan siang.

Felix memilih hidup sendirian—maksudku, tidak menikah; memilih tinggal dengan orangtua dan akhirnya mewarisi bisnis toko kelontong. Awalnya, semua orang yang mengenalnya—termasuk dia sendiri—dibuat bingung oleh Felix yang selalu terlihat 18.

Kalau yang mengalami kejadian ini aku atau Chris, mungkin orang-orang akan memandang kami aneh seolah-olah kami memiliki empat kaki dan tanduk di kepala kami—beruntung kalau kami tidak dijauhi. Tetapi, ini Felix. Seorang Felix. Sejak awal pun, presensinya sudah seperti kombinasi bubuk peri, pelangi, dan segala keindahan di muka bumi ini bila digabungkan (aku tidak melebih-lebihkan!), seiring berjalannya waktu, kehadiran Felix yang tidak menua seakan hal paling normal yang bisa kau jumpai di kota kecil kami yang tercinta.

Aku menyadari ‘keunikan’ Felix ketika aku sudah menginjak usia kepala tiga, kuutarakan pada Chris, dan dia sama takjubnya denganku.
“Felix, apa kau tidak sedih?” Chris merangkulku, sementara Felix duduk di lantai—dekat kakinya. Aku dan Chris menempati sofa. Dulu kami bertiga sering menghabiskan waktu bersama, dimulai sejak aku dan Chris sama-sama tak lagi mengingkari perasaan yang kami bagi.

“Kita sedang menonton film horror.” Tanpa menoleh, Felix memeluk mangkuk yang berisi berondong jagung. Tak henti mengunyah. “Bagian mana yang menyedihkan dari perempuan ketakutan dikejar makhluk tak kasat mata?”

“Dikejar hantu itu menyedihkan,” aku menanggapi sekenanya. Aku mengantuk, bergelung dalam pelukan Chris masih terasa nyaman bahkan setelah tahun demi tahun terlewati.

“Selalu remaja, maksudku.” Nada bicara Chris menenangkan sungguh seperti nina bobo, aku yang memang sudah mengantuk bisa terlelap kapan saja. Ditambah telapak tangannya yang mengusap rambutku dengan lembut. “Tidak menua, selalu begini.”

“Hmm … kalau tidak salah hitung, kau sudah menanyakan ini sekitar … tiga ratus kali?” Felix tertawa kecil. “Dan jawabanku masih tetap sama, Chris. Tidak begitu menyedihkan. Walaupun tidak juga menyenangkan. Biasa saja, sih? Lagipula—” Dia memutar duduknya, menghadap ke arah aku dan Chris. “Di sini.” Menujuk pelipis. “Lalu, di sini.” Kini ibu jarinya mengarah pada dada. “Aku juga sama seperti kalian, berkembang.”

Kali ini, aku yang terkekeh, “Bagiku, kau masih seperti adik kecil, Felix.”

“Kalau kau lupa, aku hanya beberapa bulan lebih muda darimu, dasar Taurus!”

Ah, adik kecilku yang manis.

Felix selalu ada nyaris di setiap momen tak terlupakan yang kulewati dalam hidup. Pernikahanku dengan Chris, pemakaman ibuku, ayah kandungku yang kembali pulang hanya demi mengacak-acak rumah (benci, aku sangat benci), sampai kelahiran putra pertamaku—betul, yang kumaksud itu kau, Sam.

Chris dan Felix yang menyarankan nama ‘Sam’, aku setuju.

Waktu umurmu lima tahun, kau merengek ingin dibelikan sepeda. Keadaan ekonomi keluarga kita sedang menyedihkan, membeli sepeda kecil sama saja harus memangkas uang makan untuk dua bulan. Bar yang dikelola Chris sepi pengunjung, entah mengapa, dan aku sudah berhenti bekerja untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh.

Kejutan, keesokan harinya Felix membawakan sepeda miliknya dulu yang masih terlihat bagus.

Kau tertawa, dan aku menangis. Terharu. Chris memeluk Felix sebelum Felix menemanimu bermain sepeda keliling taman.

Apa kau juga ingat? Kau berteriak, “Paman Felix terbaik! Mom menyebalkan!” Sambil bersusah payah mengayuh sepeda.

Felix memberikan tatapan peringatan padamu, aku di teras rumah berkacak pinggang. Tapi, aku setuju denganmu. Paman Felix memang terbaik. Di waktu aku memutuskan bekerja paruh waktu di minimarket sekaligus membersihkan satu rumah ke rumah lainnya, ada Felix yang menemanimu bermain.

Paman Felix itu paman kesukaanmu, ‘kan, Sam?

Aku tahu, besok setelah membaca surat ini, kau akan menikah. Aku akan kembali menekankan, kau tidak perlu khawatir. Ada Paman Felix yang menemaniku, kau tahu sendiri ‘kan? Seperti yang sudah kubilang, dia selalu ada, bahkan saat aku menangisi kepergian Chris yang terlalu cepat—dia tidak dapat menghadiri pernikahanmu; maafkan aku, harusnya aku memastikan Chris meminum obatnya dengan teratur, guna menghindari terkena serangan jantung tiba-tiba di kamar mandi, jatuh lalu tiada.

Jujur, mengingatnya saja sudah membuat hatiku sakit. Chris sudah seperti belahan jiwaku—ditinggal olehnya sama dengan kehilangan separuh diriku, kau akan mengerti setelah melewati tahun-tahun panjang sebagai pasangan suami-istri.

Felix menggenggam tanganku yang bergetar menahan tangis di malam-malam panjang tanpa Chris di sisiku, juga kau yang kuliah di luar kota. Aku tidak menyalahkanmu karena ini, karena ‘kan aku sendiri yang mengirimmu keluar rumah? Jadi, berhenti menyesal, OK?

Aku mencoba memandang dunia lewat sudut pandang Felix. Di sampingku yang duduk di kursi goyang, Felix yang masih berjiwa muda memandang langit malam dari balik jendela. Katanya, “Mari kita menikmati hidup seolah kita akan mati besok!” Sehingga kau akan mulai menghargai setiap waktu yang terlewati di saat ini.

Dan aku percaya itu, mengingat kalimat tersebut diutarakan oleh seseorang yang tak pernah menua.

Aku menyayangimu, Sam. Berhentilah mengkhawatirkan aku, dan mulai hidupmu sendiri.

Tertanda,
Mom.

P.S. Aku merindukan teman-temanmu yang berisik. Mereka akan mampir ‘kan sebelum resepsi? Terutama dia yang vokalis band rock itu, Peter ya, namanya? Chris sangat menyukai anak itu.

~~~***~~~

“Justru ini yang membuatku semakin khawatir, Mom. Kapan kau bisa menerima kenyataan jika Paman Felix-ku itu tidak pernah ada? Paman Felix hanya kisah karanganmu yang kau ceritakan di malam-malam sebelum aku tidur. Ingatanmu semakin bercampur. Felix teman masa kecilmu ditemukan di gua dalam keadaan tidak bernyawa. Sepeda milikku juga itu dibelikan oleh Dad yang meminjam uang. Tolong, jangan suruh aku membawamu ke panti jompo. Lebih baik kita mengunjungi makam Dad dan Paman Felix lalu mendoakan mereka berdua.”