Work Text:
Jika kisah hidup Seokjin sejauh ini diibaratkan sebuah buku, maka telah dipastikan tujuh puluh persen lembarnya berisikan nama Min Yoongi minimal pada salah satu paragraf.
Mereka tidak saling mengenal dan berteman sejak kecil, tidak pula memiliki orang tua yang berteman akrab hingga menyebabkan keduanya menghabiskan waktu bersama lebih sering dibandingkan dengan orang lain. Sebagai dua orang lelaki yang menjalin pertemanan sejak SMA, Seokjin pikir, tidak ada yang benar-benar unik dari hubungan mereka.
Mungkin sedikit lebih dekat daripada teman akrab kebanyakan.
Mungkin sedikit lebih banyak dibumbui oleh drama.
Mungkin sedikit lebih intens dalam melibatkan perasaan.
Dirinya yang berakhir mencintai Yoongi sama sekali tidak spesial—banyak orang-orang yang mengalami hal serupa; jatuh hati pada seseorang yang tidak seharusnya, contohnya seperti seorang sahabat.
Tapi pada akhirnya, tidak seperti apa yang kebanyakan orang-orang katakan, mereka kini dapat berdiri bersandingan di sebuah hari sakral; saling merangkul pundak dengan senyum bangga menghiasi masing-masing wajah. Keduanya menggunakan tuksedo hitam yang menjadi dresscode acara (karena warna tersebut adalah favorit Yoongi dan Seokjin terlalu malas untuk mendebat bagaimana warna putih lebih identik dengan pernikahan).
Seokjin kini menyadari bahwa tidak semua kisah cinta dua orang yang berteman akrab berakhir dengan duka, pun tidak semua bahagia memiliki definisi serupa.
“Apakah kau baik-baik saja?” ia bertanya dengan senyum angkuh yang menyiratkan ejekan. “Aku tidak akan merasa simpati apabila kau membasahi celanamu di atas altar karena terlalu gugup.”
Di sampingnya, Yoongi mendengus meremehkan. Tubuhnya sedikit melemas dan ketegangan yang menghantuinya perlahan mulai menguap. “Itu adalah kalimat dukungan yang sangat kubutuhkan saat ini, terima kasih banyak.”
Tertawa mendengar balasan sarkastis itu, Seokjin mengeratkan rangkulannya. “Kau akan baik-baik saja karena aku telah menemanimu menghafal janji suci semalaman,” ucapnya ringan, kali ini dengan serius berniat menenangkan. “You’re going to nail this wedding, Yoongi.”
“Aku tahu.” Yoongi menolehkan kepala, lalu menyuguhkan senyum hangat yang menyebabkan haru membasuh Seokjin dalam sekejap. “Aku akan baik-baik saja karena kau berada di sana bersamaku.”
Tiga tahun lalu, Seokjin tidak dapat membayangkan hari ini akan datang. Kisah romansa yang dialaminya jauh dari kata mulus, penuh liku tajam dan dihadapkan begitu banyak lembah terjal. Namun semua usaha pada akhirnya akan membuahkan hasil yang sepadan; kini ia percaya karena mengalaminya secara nyata.
Dengan lamat melepaskan rangkulan yang telah bertahan nyaris setengah jam lamanya, Seokjin kemudian menatap lurus iris sang lawan bicara dan menarik napas dalam. “Selamat atas pernikahanmu, Yoongi.”
“Apa-apaan,” balas Yoongi seraya mengerlingkan mata, gestur yang Seokjin hafal sebagai bentuk menutupi kenyataan bahwa lelaki itu salah tingkah. “Selamat untukmu juga.”
Berdiri berhadapan, mereka menatap dalam sepasang iris milik satu sama lain dan menyelami ragam emosi yang terpampang jelas. Setelah perjalanan panjang yang memporak-porandakan emosi, menguji batin, juga menguras air mata, kebahagiaan mereka akhirnya menjemput datang.
Seokjin dapat dengan percaya diri mengatakan bahwa ia sama sekali tidak menyesal.
✻
✻
✻
“Siapa yang aku… sukai?”
Jung Hoseok mengangguk semangat, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin sekolah. “Sekolah kita terkenal dengan murid-murid yang memiliki visual di atas sembilan koma lima,” jelas lelaki itu sebelum menyuapkan makan siangnya yang telah mendingin karena terlalu lama diabaikan. “Jadi setidaknya kau pasti memiliki satu orang yang menarik perhatianmu, ‘kan?”
Tersenyum miris, Seokjin menggelengkan kepala. “Nope. Tidak ada yang seperti itu.”
“Kau pasti bercanda,” tandas Hoseok tak percaya. “Ayolah, aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Kau bisa mempercayakan rahasiamu padaku.”
“Bagaimana bisa aku menyukai seseorang di saat aku bahkan belum menghafal seluruh nama teman sekelas?”
Kali ini giliran Jimin yang baru saja kembali dari kamar mandi menimpali, “Apakah syarat menyukai seseorang adalah menghafal nama teman sekelas?”
Satu minggu setelah masa orientasi siswa selesai, Seokjin telah menemukan beberapa orang yang berpotensi menjadi teman akrabnya selama sekolah menengah ke atas. Hoseok dan Jimin memang bukan teman sekelasnya, tapi mereka berada di satu kelompok MOS yang sama dan langsung mengakrabkan diri dengan cepat.
Adaptasi bukanlah hal yang sulit untuk Seokjin lakukan, namun beda halnya dengan merasa nyaman untuk bersikap terbuka. Memiliki kehadiran yang sulit untuk diabaikan oleh orang-orang tidak menyebabkan Seokjin merasa dapat berbaur cepat.
Karenanya, menaruh perhatian lebih pada seseorang dalam waktu yang begitu singkat adalah omong kosong bagi dirinya.
“Memang bukan,” ia membenarkan pertanyaan retorik Jimin setelah bergulat dengan pikirannya selama beberapa saat. “Tapi tidak ada yang menarik perhatianku. Mungkin belum.”
Hoseok mendengus, sama sekali tidak mempercayai apa yang Seokjin katakan dan kembali mendesak, “Kalau begitu tunjuk satu orang di kantin ini yang menyerempet kriteriamu meski hanya sedikiiit saja.”
Menyerah menghadapi kerasnya kepala si teman baru, Seokjin mengedarkan pandangan. Keadaan kantin saat itu cukup ramai dan didominasi oleh wajah-wajah asing-tapi-tak-asing yang ditemuinya selama masa orientasi pekan lalu.
Kebanyakan dari mereka duduk secara berkelompok—tak mengindahkan sekitar dan sibuk mengunyah makan atau berbincang antusias. Seokjin hampir menyerah mencari seseorang yang cukup malang untuk menjadi korbannya demi menjawab rasa penasaran Hoseok, hingga irisnya menangkap satu sosok di meja penghujung ruangan.
Lelaki itu duduk menghadapnya bersama empat orang lain, tertawa dan menunjukkan beragam ekspresi dalam kurun waktu kurang lima menit Seokjin memandanginya. Ia mengingat sosok itu dengan jelas, salah satu murid yang sempat dipanggil untuk berdiri di hadapan seluruh siswa baru karena melanggar peraturan berseragam.
Jika Seokjin diminta untuk memberi pendapat jujur, pada pandangan pertama, pemuda bersurai hitam itu sama sekali tidak mendekati tipenya.
Tapi toh mulutnya berkata, “Dia.” Dengan kepala sedikit mendongak ke arah yang bersangkutan untuk memberi jawaban pada dua temannya yang langsung menolehkan kepala.
“Min Yoongi?” tanya Jimin memastikan. Oh, jadi itu namanya.
“Iya.” Seokjin menelan ludah, berdoa kebohongan kecilnya tidak akan membawa malapetaka. “Min Yoongi.”
Nama itu terdengar aneh ketika dilantunkan oleh suaranya.
“Aku mengenalnya,” ucap Hoseok seraya melirik jahil Seokjin yang lantas terbelalak. Sial, umpatnya dalam hati penuh penyesalan. Ia memilih orang yang salah.
“Jangan macam-macam, Hoseok.”
“Hei, Yoongi!” Sesuai dugaan yang sama sekali tidak ia harapkan untuk terjadi, Hoseok memanggil Yoongi dengan suara keras. Seokjin dapat merasakan telinganya mulai memanas karena banyaknya pasang mata yang kini menjadikan meja mereka pusat perhatian.
Ia melihat Min Yoongi memandang ke arahnya dengan tatapan bingung sebelum tersenyum kecil dan melambaikan tangan—tentunya ditujukan pada Hoseok dan bukan dirinya. Seokjin dapat merasakan jantungnya berdegup kencang, takut Hoseok mengatakan sesuatu yang akan membuatnya mempertimbangkan pindah sekolah dengan segera.
Lantas Seokjin menyikut rusuk Hoseok dalam satu gerakan, menggunakan tenaga seminim mungkin namun mendelikkan mata sebagai ancaman.
Menerima kode tersebut, Hoseok berseru, “Kapan-kapan makan siang bersamaku dan teman-temanku ya!”
Seokjin memberanikan diri untuk melirik, lalu menemukan irisnya bertemu dengan milik Yoongi yang tengah menatapnya lurus seolah berusaha mencari tahu sesuatu dengan teliti. Canggung menghampirinya dalam kurang lima detik, menyebabkan Seokjin memutuskan pandangan dengan senyum bersalah menghiasi bibir.
“Oke, Senin depan aku akan duduk dan makan di mejamu.” Adalah balasan yang indra pendengarannya tangkap, terdengar lantang seolah kantin adalah miliknya seorang.
Seokjin mungkin tidak akan pernah memiliki kepercayaan diri setinggi Hoseok dan Yoongi, berdialog keras di dalam sebuah ruangan besar yang dipenuhi begitu banyak orang asing. Ia hanya menundukkan kepala, mengabaikan Hoseok yang mencolek lengannya demi menarik perhatian.
“Berterimakasihlah padaku. Kalian bisa berkenalan minggu depan.”
Seandainya Hoseok tahu bahwa di dalam benaknya, Seokjin tengah merencanakan seribu satu skenario balas dendam dan memilah yang mana lah yang paling memungkinkan.
“Aku tidak menyukainya,” elak Seokjin seraya menghela napas. “Hanya saja di antara semua orang, wajahnya lah yang cukup familiar.”
Lalu Jimin, Si Malaikat Park Jimin, akhirnya memutuskan menjadi penengah. “Jangan mendesak Seokjin terlalu jauh, Hoseok. Habiskan makan siangmu sebelum bel masuk berbunyi.”
Melemparkan tatapan penuh terima kasih pada sang Park, Seokjin kembali melanjutkan makan siangnya yang tertunda—setelah menyempatkan untuk mencuri pandang ke arah Min Yoongi untuk terakhir kalinya.
Tawa penuh gusi lelaki itu entah mengapa membuatnya ikut tersenyum tanpa sadar.
✻ ✻ ✻
“Namaku Yoongi.”
Dua patah kata itu adalah bagaimana Yoongi memperkenalkan dirinya pada Kim Seokjin, salah satu dari dua orang yang paling sering terlihat berkeliaran dengan Jung Hoseok di penjuru sekolah.
Hoseok dan Jimin sedang memesan makan ketika ia menghampiri meja di mana Seokjin duduk seorang diri, sepenuhnya fokus pada ponsel tanpa mempedulikan sekitar. Yoongi bahkan harus menahan tawa ketika ia mendudukkan diri di hadapan lelaki itu dan menyebabkan Seokjin melonjak kaget di tempatnya.
“Aku sudah mengetahuinya dari Hoseok.” Jawaban Seokjin hanya berartikan satu hal; ia sempat dibicarakan oleh geng trio pemuda di hadapannya, entah dalam konteks apa. “Kim Seokjin. Salam kenal.”
Tersenyum kecil, Yoongi memperhatikan sang Kim dalam diam. Kurang satu menit berlalu dan secara refleks ia bertanya, “Kau sadar, ‘kan, wajahmu tergolong tampan dan menarik perhatian?”
Selama beberapa saat, Seokjin menatapnya dengan kening berkerut samar. Yoongi tahu ekspresi itu—dipastikan Seokjin tengah bertanya-tanya dalam hati apakah Yoongi memiliki gangguan kejiwaan. Pertanyaan itu jelas bukanlah sesuatu yang dilontarkan ketika baru saja berkenalan.
Namun sejurus kemudian, Seokjin tertawa. Yoongi akhirnya dapat bernapas lega dan membatalkan niat untuk merutuki mulutnya yang terlampau blak-blakan, ikut menarik kedua sudut bibir dan menyadari bagaimana telinga Seokjin memerah.
“Dan kau tahu dihukum di hari pertama masa orientasi adalah tindakan yang lebih menarik perhatian, ‘kan?”
Menjawab pertanyaan balasan itu, Yoongi mengangkat bahu ringan. “Cara pintas untuk dikenal seluruh teman seangkatan secara instan.”
Hari itu adalah pertama kali Yoongi berbincang dengan Seokjin dan tidak sedikit pun terbesit dalam benaknya bahwa sosok itu akan menjadi seseorang yang begitu penting dalam hidupnya kelak.
✻ ✻ ✻
“Apa yang membuatmu menyukai Yoongi?”
Pertanyaan itu datang tanpa aba-aba maupun peringatan, menyebabkan Seokjin nyaris tersedak napasnya sendiri akibat tak siap mendengar omong kosong di pagi buta.
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari—waktu yang seharusnya digunakan sebaik mungkin untuk mengistirahatkan organ tubuh, namun Seokjin justru baru saja hendak pulang ke rumahnya setelah menghabiskan waktu bermain di malam Minggu.
Jelas-jelas pertanyaan Jimin tidak perlu ia tanggapi, hanya saja Seokjin berakhir kembali menududukkan diri di atas kursi alih-alih abai dan mendengus pergi.
“Aku…” Seokjin dapat mengecap pahit di penghujung lidah. Ia tidak memiliki jawabannya karena hingga detik ini pun, ia benar-benar hanya menganggap Yoongi sebagai seorang teman. Sampai kapan orang-orang ini akan mempercayai kebohongan yang terus berusaha ia revisi selama setahun belakangan?
Seokjin bahkan harus menghindari berinteraksi dengan Yoongi kini mereka berada di kelas yang sama, takut Hoseok ataupun Jimin menggodanya terang-terangan dan menyebabkan canggung berkepanjangan.
Sepatah kalimat membosankan berakhir lolos dari mulutnya setelah sepuluh menit berlalu di tengah sunyi malam. “Aku tidak tahu.”
Maka di hari Senin ketika jam sekolah kembali aktif secara normal, Seokjin berakhir mendapati dirinya memandangi Yoongi sedikit lebih sering dengan disengaja. Pun hal sama berlaku esok harinya, lalu di keesokan hari lain, dan terus berjalan untuk durasi yang cukup panjang.
Jika aku menyukai Yoongi, hal apa yang akan membuatku jatuh hati padanya?
Yoongi memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil yang luput disadari kebanyakan orang. Ketika gugup, lelaki itu akan tersenyum aneh dan berbicara sedikit lebih banyak untuk menghindari rasa canggung. Jika merasa tertekan, jemarinya akan berpindah posisi ke depan mulut—gigi rapinya selalu berakhir menggerogoti kuku.
Pada beberapa pelajaran tertentu seperti sejarah dan biologi, sepasang matanya tampak berbinar antusias memperhatikan penjelasan di depan kelas. Mungkin dikarenakan guru yang mengajar dapat menyampaikan materi dengan baik, mungkin pula dikarenakan dua pelajaran tersebut menarik minatnya bukan main.
Lalu di beberapa pelajaran lain, terutama yang membutuhkan penggunaan otot melebihi kemampuan berpikir, Yoongi akan menjadi yang terakhir mengganti pakaian dan meninggalkan ruang kelas. Ia akan menghela napas lebih sering, namun tetap tampak sumringah ketika membawa bola di bawah teriknya matahari.
Helai rambut hitamnya selalu dibiarkan berantakan, bahkan sering kali lupa untuk dipotong rapi hingga berakhir ditegur oleh wali kelas. Kebiasaan Yoongi menyelempangkan satu tali ransel di atas pundak dengan resleting jarang tertutup rapat, kadang dengan sukses membuat Seokjin geram dan ingin menawarkan diri mengajari cara mengatup tas dengan benar.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak hal-hal kecil mengenai Yoongi yang berakhir Seokjin hafal luar kepala. Tingkah Yoongi yang tidak jarang konyol membuatnya terhibur tiap tanpa sengaja teringat. Jika seseorang kelak hendak membuat autobiografi mengenai Min Yoongi, maka Seokjin dipastikan menjadi salah satu sumber akurat.
Semuanya baik-baik saja. Mereka tetap berteman, tetap mengabaikan godaan teman-teman lain yang seolah berusaha menciptakan risih alih-alih mencairkan suasana.
Hingga akhirnya Seokjin melihat Yoongi pulang bersama seorang murid dari kelas lain dengan senyum yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
Gawat, aku memperhatikannya terlalu lama, batin Seokjin seraya memandangi dua punggung yang berjalan menjauh menuju pintu perpustakaan.
Denyut menyakitkan yang memenuhi relung dadanya tidak membaik di hari yang sama, terutama dengan adanya pemikiran bodoh seperti, aku juga ingin menjadi seseorang yang dapat membuatnya tersenyum dengan sorot bahagia setara.
Detik itu Seokjin menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan; terjerumus ke dalam lubang yang tanpa sadar terus digali sekian lama.
Menyukai Min Yoongi tidak lagi terdengar seperti omong kosong dimulai dari hari yang sama.
“Jadi? Sudah tau jawabannya, apa yang membuatmu menyukai Yoongi?”
“Semuanya. Aku bahkan tidak tahu apa yang tidak kusukai tentangnya.”
“Lucu. Terakhir kali kita membahas ini, kau masih bersikeras bahwa apa yang terjadi kantin hanyalah salah paham karena Hoseok terus mendesakmu.”
“Perasaan bisa berubah, Jimin. Seperti yang terjadi di antara kau dan Hoseok.”
“Kenapa jadi membawa hubunganku?!”
“Dia pulang bersama orang yang berbeda lagi?”
Seokjin sedang merapikan alat tulis di atas meja ketika mendengar Hoseok melontarkan pertanyaan tersebut. Ia menolehkan kepala, lalu menemukan temannya itu berdiri menghadap jendela kelas—tepatnya ke arah lapangan yang berada di baliknya.
Kini berada di akhir tingkat tiga, Seokjin bersyukur karena hasil pengacakan kelas membawanya berada di kelas yang sama dengan Hoseok. Rasanya beradaptasi berkali lipat lebih mudah dengan keberadaan sang Jung yang ceria. Mereka juga tidak lagi perlu saling menunggui satu sama lain untuk pulang bersama.
Hoseok sudah siap dengan tas ranselnya ketika Seokjin mengalihkan fokus untuk mencari tahu apa yang menarik perhatian temannya. Memandangi apa yang jendela kelas suguhkan, ia menyipitkan mata dan menemukan kejanggalan yang Hoseok maksudkan.
Berjalan menuju gerbang sekolah, hari ini Yoongi didampingi oleh seorang gadis berambut cokelat panjang. Mereka tampak begitu serasi dari belakang; baik dari proporsi tubuh dan dilengkapi dengan gestur akrab.
“Tampaknya begitu,” Seokjin mencoba tak acuh. Tangannya mengatup resleting dalam satu tarikan. “Ayo pulang.”
Tidak perlu menaruh perhatian khusus pada Min Yoongi untuk mengetahui rangkuman perjalanan kisah romansa lelaki itu. Semua orang pun menyadari bahwa bergonta-ganti pasangan bukanlah hal yang tabu baginya, terbukti dari betapa sering pasangannya berubah selama dua setengah tahun menjadi murid SMA. Beragam gosip sering terdengar di penjuru sekolah, tapi Yoongi tidak pernah membuka mulut dan berkomentar.
Sedangkan Seokjin… ia selalu mengamati dalam diam, tanpa pernah ikut membicarakan Yoongi di belakang ataupun menanyakan kebenaran secara langsung pada yang bersangkutan. Mereka tidak sedekat itu dan image Yoongi sama sekali bukanlah urusannya.
Hanya saja terkadang, pada momen-momen tertentu, Seokjin tidak dapat memungkiri perih di dalam dada yang menghampiri datang.
Jimin adalah satu-satunya yang mengetahui rahasia kecil miliknya; bahwa perasaannya pada Yoongi bukan lagi hanya omong kosong yang tercipta semata akibat malas berdebat. Apa yang ia rasakan pada Yoongi, pandangannya mengenai lelaki tersebut—semua terus berkembang tanpa dapat ia hentikan.
Berbeda dengan sebelumnya, ia tidak lagi dengan sengaja memperhatikan Yoongi, melainkan dengan sengaja tidak mengindahkan eksistensi lelaki itu demi kebaikan diri sendiri. Esensi dari jatuh cinta adalah bahagia dan sakit berlebih, katanya.
Esensi dari bertepuk sebelah tangan adalah murni sakit dan sakit lagi, itulah kenyataannya.
Sayangnya ia tidak selalu berhasil mengontrol diri, terutama di saat yang paling diperlukan. Irisnya akan secara otomatis mencari sosok Yoongi tiap berada di tengah keramaian salah satu spot sekolah, berharap dapat melihat sosok itu meski hanya untuk sejenak.
Seokjin tidak pernah belajar dari tiap sesak yang menyapa tiap kali menemukan Yoongi berada di sisi seseorang (yang tidak akan pernah menjadi dirinya)—tersenyum hangat, menatap dalam, atau sekadar memberi sentuhan ringan.
Ia pikir, perasaannya akan berlalu dengan cepat.
Namun satu setengah tahun telah berlalu dan Seokjin menemukan dirinya terpuruk lebih mengenaskan tiap detiknya.
“Hei, Seokjin? Jangan melamun,” ucap Jimin berusaha menyadarkannya yang tengah memandang kosong sembarang arah. Ia bahkan tidak sadar telah berpindah lokasi jauh dari sekolah, juga langit yang kini telah berubah gelap. “Truth or dare?”
Di depan sebuah kedai kopi kecil yang tak jauh dari rumahnya, Seokjin duduk bersama Jimin dan Hoseok, juga beberapa orang lain yang ia anggap sebagai teman tongkrongan. Rutinitas ini telah berjalan sejak mereka masih menjadi murid SMA tingkat pertama; tidak langsung pulang usai sekolah dan justru menghabiskan waktu melakukan hal-hal bodoh hingga larut malam.
“Dare,” ia akhirnya menjawab setelah berpikir panjang. Memilih truth hanya akan membuatnya menciptakan kebohongan baru yang berkemungkinan bersifat layaknya bumerang. “Jangan memberikanku tantangan aneh.”
Hoseok adalah yang paling semangat, mengajukan diri untuk memberikan tantangan pada Seokjin yang lantas merinding hebat. Temannya yang satu itu tidak pernah gagal membuatnya sakit kepala atau malu bukan kepalang.
“Demi Tuhan, Hoseok, jangan—”
“Nyatakan perasaanmu pada orang yang kau sukai,” perintah Hoseok dengan seringai lebar. “Dan jangan coba untuk membohongiku, aku tahu siapa orang yang seharusnya mendapatkan pernyataan darimu.”
Astaga, seharusnya aku membunuhnya sejak kejadian di kantin waktu itu, batin Seokjin di antara panik luar biasa. Ia melirik Jimin yang meringis menatapnya, menggumamkan, maafkan kegilaan kekasihku, tanpa suara.
“Kau tahu aku tidak mungkin melakukannya,” Seokjin berusaha bernegosiasi dan memikirkan seribu satu alasan. “Hubungan kami akan berubah canggung dan kita tidak akan lagi bisa main bersama setelah itu.”
“Aku melakukan ini untuk kebaikanmu, Sobat,” ucap Hoseok sebelum memberinya rangkulan erat. “Once and for all. Aku tidak tega melihatmu memandanginya dengan tatapan sedih setiap hari. Nyatakan perasaanmu, lalu lupakan dia. Toh kalian tidak sedekat itu, belum lagi fakta bahwa kelulusan sudah di depan mata. Kapan lagi?”
Apa yang Hoseok katakan tidak sepenuhnya salah. Dan meski lelaki itu lebih sering bersikap layaknya teman yang memiliki mulut halal untuk dilakban, Seokjin tahu bahwa Hoseok adalah pemerhati yang handal.
Tidak mungkin perasaannya luput dari firasat sang sahabat.
Maka menghela napas keras, Seokjin hanya dapat mengerang pasrah.
✻ ✻ ✻
“Hubunganku dengan Kim Seokjin?”
Pernah satu kali, seorang kakak kelas yang sedang menjalin hubungan dengan Yoongi menanyakan hal tersebut. Yoongi ingat ia mengernyitkan dahi bingung akibat menerima pertanyaan yang begitu tak terduga, membuatnya gagal untuk langsung memberikan jawabsn cepat.
“Dia temanku. Memang tidak terlalu dekat, tapi kami mengenal satu sama lain dan menghabiskan waktu bersama sesekali. Ada apa dengannya?”
Itu adalah kenyataan. Interaksinya dan Seokjin dapat dihitung dengan jari—ia tidak akan menyebut Seokjin sekadar sebagai seorang kenalan, karena Seokjin tetap dapat dikategorikan sebagai temannya meski intensitas kebersamaan mereka tidak terlalu padat.
“Oh, tidak apa-apa. Aku hanya terkejut oleh visualnya,” jawab kekasihnya dengan cengiran. “Juga bertanya-tanya kenapa kau belum mengencaninya. Well, kau tahu track record-mu seperti apa.”
Playboy bukanlah suatu julukan yang tepat disematkan pada Yoongi. Ia hanyalah seseorang yang membenci ketidakpastian. Hubungan tanpa status sama sekali bukanlah tipenya. Karenanya, ia memutuskan untuk menyandang status resmi dengan semua orang yang pergi kencan dengannya—jika ternyata tidak cocok, mereka dapat mengakhiri hubungan dan kembali pada hidup masing-masing tanpa penyesalan.
Hal itulah yang menyebabkan pasangannya terus silih berganti dan menciptakan kesalahpahaman tentang sikapnya, terutama dikarenakan ia tidak pernah ragu untuk menunjukkan kedekatan dengan kekasihnya di sekolah. Yoongi tidak pernah peduli, baginya semua orang berhak menggunakan mulut mereka untuk berprasangka.
Sedangkan pikiran ataupun niat untuk mendekati Kim Seokjin?
Sama sekali tidak ada. Ia mengakui bahwa Seokjin memiliki wajah tampan dan sifat yang menyenangkan, namun baginya, teman adalah teman. Yoongi benci merusak hubungan baik yang dimilikinya untuk sesuatu yang begitu sementara—terbukti dari durasinya menjalin hubungan dengan para mantan kekasih yang hanya memiliki empat bulan sebagai rekor paling lama.
Oleh karena itu, ketika suatu hari Seokjin mengajaknya makan siang bersama di salah satu malam Minggu, hanya berdua tanpa mengajak teman lainnya, ia sama sekali tidak menyangka Seokjin akan berkata,
“Aku menyukaimu.”
Pernyataan itu menyebabkan Yoongi tersedak memalukan.
Seokjin tampak terkejut dan segera memanggil pelayan, meminta segelas air putih dan sekotak tisu untuk Yoongi yang bergulat dengan perih di tenggorokan. Butuh beberapa menit hingga akhirnya tragedi tersebut berlalu dan dilupakan, membawa kembali permasalahan utama yang sempat tertunda.
“Kau pasti bercanda,” tandas Yoongi seraya berusaha menilik raut wajah lelaki di hadapannya. Ia dapat melihat Seokjin gugup—memanipulasi ekspresi bukanlah sesuatu yang menjadi spesialisasi si pemilik surai cokelat gelap. “Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Apakah ini dare?”
Menemukan sepasang mata Seokjin membulat, Yoongi akhirnya dapat merasakan setitik lega. Ia tidak dapat menepis kesal yang menguasai karena Seokjin dengan tega mempermainkan perasaannya, namun setidaknya ia tidak perlu merasa takut kehilangan seorang teman.
“Sampaikan pada siapa pun yang memberikan dare padamu, menyatakan perasaan bukanlah sesuatu yang pantas untuk dijadikan bahan candaan.”
Yoongi dapat melihat Seokjin membeku di tempatnya, mungkin dikarenakan rasa bersalah. Butuh beberapa detik hingga Seokjin tersenyum kecil, menggunakan jari telunjuk untuk menggaruk pipi dan mengalihkan pandangan ke sudut lain ruangan.
“Kau benar.” Bisikan itu terdengar lemah, seolah mengandung duka yang tidak dapat Yoongi pahami alasannya. “Aku minta maaf.”
Di balik meja, ia tidak dapat melihat bagaimana Seokjin mencengkram sweter yang digunakannya sekuat tenaga—berusaha melampiaskan emosi yang begitu berantakan akibat kecewa; pada diri sendiri yang tidak cukup berani untuk menghadapi kenyataan.
✻ ✻ ✻
Usai hari kelulusan, Seokjin pikir perjuangannya dalam menghadapi patah hati akan berakhir di hari yang sama.
Tentu, perasaan tidak dapat lenyap semudah itu. Mungkin butuh waktu hingga berbulan-bulan, tapi Seokjin yakin dengan keberadaan Yoongi yang tidak akan ditemuinya begitu sering seperti di sekolah dulu, ia akan berhasil melupakan sosok itu lebih mudah.
Sayangnya takdir berpendapat berbeda. Harapannya sirna di saat menerima pesan dari sang Min yang menanyakan di universitas mana ia akan melanjutkan jenjang kuliah.
Usut punya usut, mereka diterima di universitas yang sama, begitu pula dengan fakultas—sebuah penderitaan yang dapat Seokjin bayangkan bahkan sebelum menjalani hari pertama.
Akibat hanya merekalah yang berada di fakultas yang sama dari seluruh alumni seangkatan SMA, tak ayal keduanya berakhir semakin dekat. Seokjin tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menolak ajakan Yoongi di tiap waktu luang, menyebabkan waktu yang mereka habiskan bersama semakin intens tiap harinya.
Hasil akhirnya, tidak banyak yang berubah sejak apa yang terjadi semasa SMA—Seokjin tetaplah seorang pecinta yang memendam dengan payah, hanya saja kali ini dapat memperhatikan dari dekat. Dan Yoongi masihlah Yoongi yang gemar berpetualang mencari pasangan, sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang menunggunya sekian lama.
Tapi Seokjin terus belajar untuk merasa cukup, juga memaafkan diri sendiri dan menerima kenyataan bahwa perasaan adalah sesuatu yang berada di luar kehendak siapa pun. Jika memang inilah yang harus ia hadapi ke depannya, setidaknya ia dapat merasa sedikit beruntung karena dapat mengeskalasi hubungan sekadar teman menjadi sahabat.
Entah sahabat adalah status yang lebih tepat untuknya agar dapat merasa lebih baik, ia tidak tahu jawabannya.
Terutama ketika Yoongi kerap kali membuatnya disinggahi harap; yang kemungkinan besar adalah tanpa disengaja.
“Untukku?”
Duduk di bawah sebuah pohon rindang yang merupakan spot andalan dirinya dan Yoongi untuk menghabiskan jeda kosong antar mata pelajaran, Seokjin menerima sebuah kotak kecil yang Yoongi sodorkan. Ia membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah anting gantung yang tampak indah.
“Aku baru sadar kau memiliki lubang tindik di telinga kirimu,” ucap Yoongi sebelum ikut mendudukkan diri di samping yang beberapa bulan lebih tua, menyandarkan punggung pada pohon dan melemparkan senyuman. “Dan aku belum memberikan kado ulang tahunmu di bulan Desember lalu.”
Seokjin mengerjapkan mata, lalu menemukan ketulusan nyata di sepasang iris Yoongi yang tengah memandangnya. Ia kembali menatap kado yang baru saja Yoongi berikan, bertanya-tanya apakah boleh sedikit saja menganggap hal ini sebagai kemungkinan peluang.
“Terima kasih,” akhirnya ia membalas. “Seharusnya kau tidak perlu repot.”
Si pemilik surai hitam mendengus, meregangkan tubuh sesaat sebelum berkata, “Sama sekali tidak repot. Bahkan aku tidak akan keberatan direpotkan jika itu olehmu.”
Jantung Seokjin mulai berdetak dengan kecepatan berlebihan, diikuti oleh dorongan untuk menampar diri sendiri agar tidak berekspektasi hanya untuk jatuh terjerembab pada akhirnya.
“Sebagai gantinya, biarkan aku meminjam pundakmu untuk tidur sejenak,” pinta Yoongi sebelum mengambil posisi dengan cekatan, menyamankan kepala di atas pundak lebar Seokjin dan mulai memejamkan mata.
Harapan Seokjin hanyalah satu—semoga Yoongi tidak mendengar suara jantungnya yang kini berkekuatan tidak masuk akal. Atau mungkin dua, ditambah dengan harapan agar Yoongi tidak menyadari bagaimana tubuhnya menegang kaku dan sulit untuk dilemaskan.
Kebaikan Yoongi, sikapnya yang terkadang membuatnya salah menafsirkan arti; sering kali membuat Seokjin merasa menjadi orang paling beruntung juga menyedihkan di saat bersamaan.
Karena sedekat apapun mereka berada, seakrab apapun gestur tubuh yang saling ditunjukkan ketika tengah berbincang, seintens apapun jumlah pertemuan mereka…
… Seokjin tetap hanya sekadar dapat menjadi pemendam yang setia.
✻ ✻ ✻
Apabila Yoongi tidak menyadari perasaan Seokjin, maka dipastikan ia adalah orang paling bodoh di dunia.
Dari cara Seokjin menatapnya, Yoongi tahu ada sesuatu yang berbeda. Terdapat sorot yang membuatnya merasa mendapat perhatian dengan jumlah yang tidak seharusnya, seolah ia adalah semesta di mana Seokjin memutuskan untuk berada dengan suka rela.
Seokjin tidak dapat mempertahankan kontak mata lebih lima detik lamanya. Telinga lelaki itu akan memerah tiap kali mereka secara tidak sengaja bersentuhan. Juga tiap kali mereka menghabiskan waktu bersama hanya berdua, Yoongi dapat merasakan betapa sering Seokjin mencuri pandang.
Sejak kapan adalah pertanyaan yang menghantui Yoongi dari pertama kali ia menyadarinya.
Apakah pernyataan Seokjin semasa SMA dahulu bukanlah bahan tantangan murahan dari teman-temannya?
Apakah Seokjin telah memiliki perasaan padaku bertahun-tahun dan aku baru menyadarinya?
Atau apakah perasaan itu baru mulai tumbuh akibat persahabatan yang dimulai pada saat memasuki universitas?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah mendapatkan jawaban dan Yoongi diam-diam bersyukur karena Seokjin memilih untuk memendam, sadar bahwa menyatakan perasaan hanya akan merusak apa mereka miliki sekarang.
Sebut dirinya egois, tapi Seokjin adalah seseorang yang begitu penting baginya bahkan melebihi seorang kekasih. Tapi cinta… cinta adalah sesuatu yang tidak dapat Yoongi beri.
Ia mencintai Seokjin, hanya saja dalam bentuk yang lain.
Maka Yoongi memutuskan untuk bungkam, berharap apa yang Seokjin rasakan terhadapnya segera berlalu tanpa meninggalkan sisa. Bersikap normal seolah ia adalah manusia paling tidak peka di dunia, dan merasa bersalah tiap sepasang netra Seokjin tampak sendu ketika menemukannya bersanding dengan seseorang.
Cinta adalah sesuatu yang fana; ia telah memutuskan sejak lama.
Persahabatannya dengan Seokjin tidak pantas dirusak oleh sesuatu yang begitu ringkih dan bersifat sementara.
✻ ✻ ✻
Setahun belakangan, frekuensinya bertemu dengan Yoongi menurun drastis dikarenakan lelaki itu memiliki seorang kekasih—kali ini untuk kurun waktu yang cukup lama dibanding jejeran mantan kekasihnya yang lain.
Seokjin ingat bagaimana ia sempat menggoda lelaki tersebut, mendapati wajah Yoongi bersemu dan menyebabkan hatinya seketika hancur. Tampaknya kali ini Yoongi telah menemukan seseorang yang pantas untuk mengubah pandangannya mengenai status dan Seokjin disadarkan kembali bahwa ia tidak akan pernah menjadi orang yang dimaksud.
Memanfaatkan waktu di mana Yoongi tidak selalu muncul menghiasi hari-harinya, Seokjin berusaha memaksimalkan usahanya untuk melupakan perasaan yang sudah seharusnya ia relakan sejak lama.
Setidaknya hingga suatu hari Yoongi mengetuk pintu kamar indekosnya, sebelah tangan menenteng plastik berisikan minuman beralkohol, juga wajah muram yang tidak pernah Seokjin temui bertahun-tahun mereka saling mengenal.
“Aku putus dengannya.”
Menelan ludah dan berusaha meredam gejolak antusias yang tidak seharusnya datang, Seokjin dipastikan adalah sahabat terburuk sepanjang sejarah. Ia berakhir bergumam, “Oh.” Lalu mempersilakan Yoongi untuk masuk ke dalam kamar. “Aku turut… prihatin.”
Usai malam di mana ia melihat sisi lain Yoongi yang tampak begitu rapuh, Seokjin mendapati Yoongi tidak memiliki kekasih baru terlepas dari beberapa bulan telah berlalu.
Semua kembali ke sedia kala. Mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari tanpa absen, juga langsung mencari keberadaan satu sama lain tepat tiap seluruh kelas telah usai. Mendapati Yoongi kembali menjadi bagian paling penting dalam hari-harinya menyebabkan Seokjin lagi-lagi bergelut dengan harap, berdoa akan kesempatan meski menyadari betapa kecil kemungkinan yang ada.
Murni untuk memuaskan rasa penasaran, suatu hari ia bertanya, “Kenapa kau belum mencari kekasih baru? Tumben sekali.”
Kini tengah berada di spot favorit mereka pada halaman belakang fakultas, Yoongi yang tengah berbaring di atas rumput menolehkan kepala. Salah satu sudut bibirnya terangkat naik ketika bertanya, “Memangnya kenapa? Kau mau mendaftar?”
Sepersekian detik setelahnya, Seokjin dapat melihat Yoongi terbelalak—seolah terkejut oleh pertanyaan jahil yang secara refleks keluar dari mulutnya. Tidak butuh satu menit sebelum lelaki itu meralat, “Aku bercanda.”
“Aku tahu.” Dan pada kenyataannya, Seokjin memang tahu. Kisah romansanya tidak akan sepahit yang dijalaninya sekarang jika saja ia sedikit lebih pemberani dalam menghadapi candaan Yoongi yang tidak jarang menjurus.
“Entahlah, kurasa aku belum siap untuk kembali memiliki hubungan serius,” Yoongi menatap Seokjin lurus, tampak seperti menahan diri untuk mengatakan sesuatu. Namun kemudian sosok itu melanjutkan, “Kau tahu. Setalah… dia.”
Paham siapa dia yang dimaksud; tak lain adalah mantan kekasih Yoongi yang terakhir, juga pemegang rekor kekasih terlama yang pernah Yoongi miliki, Seokjin mengangguk paham.
Rasanya seperti ditolak secara halus tanpa perlu menyatakan perasaan.
Seokjin menambahkan percakapan hari ini ke dalam daftar sakit hatinya, lalu menghabiskan sisa sore memandangi awan yang berarak di balik ranting dan dedaunan pohon, berbaring di sisi Yoongi dengan jarak satu jangkauan tangan—
Dan menyadari bagaimana berusaha untuk meraih seseorang tidak pernah terasa begitu melelahkan sebelumnya.
✻ ✻ ✻
Di hari wisuda jenjang sarjana yang pertama juga terakhir dalam hidupnya, Yoongi memastikan ia mengambil cukup banyak foto bersama Seokjin sebagai kenang-kenangan. Ia tahu mereka akan tetap berteman akrab setelahnya, namun ia pun mengerti bagaimana kesibukan dunia kerja sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kuliah.
Tidak akan ada lagi Seokjin yang menggedor pintu kamarnya agar tidak terlambat menghadiri kelas.
Tidak akan ada lagi makan siang di bawah pohon rindang halaman fakultas.
Tidak akan ada lagi saling memberikan tumpangan pada satu sama lainnya di saat memiliki jadwal kelas serupa.
Yoongi tidak akan pernah memungkiri bahwa Seokjin adalah seseorang yang begitu ia hargai eksistensinya, menjadi tempatnya berbagi suka dan mengeluhkan duka. Seseorang yang selalu berada di sisinya selama empat tahun menjadi mahasiswa dan tak pernah letih menghadapi sikapnya yang terkadang menguji kesabaran.
Meski di samping itu ia harus menekan rasa bersalah dan tak enak hati akibat menyadari bagaimana Seokjin selalu melihatnya lebih dari sekadar teman, Yoongi bersyukur mereka dapat melewati masa-masa itu dan mencapai titik sekarang.
Perasaan Seokjin padaku saat ini pasti telah lenyap tanpa bekas, pikirnya.
Dugaannya salah besar.
“Aku akan melanjutkan S2 di luar negeri,” ucap Seokjin tiba-tiba ketika mereka tengah mengepak barang-barang di indekos untuk dibawa pulang ke rumah.
Lelaki lebih tinggi darinya itu tidak menolehkan kepala untuk menatapnya, kedua tangan sibuk merapikan buku-buku di atas meja. Di tempatnya berdiri, Yoongi hanya dapat menahan napas akan sebuah kabar yang begitu mendadak.
“Kenapa? Kapan kau akan berangkat?”
“Bulan depan.” Kali ini Seokjin mengalihkan fokus dari kegiatannya. Seraya tertawa kecil sang Kim melanjutkan, “Kau serius bertanya kenapa? Tentu saja untuk melanjutkan jenjang edukasi.”
Iris mereka bertemu dan di detik itu Yoongi menyadari sorot letih bercampur sedih yang begitu kentara. Tak lama, ia pun menyadari bahwa dirinya lah penyebab dari hilangnya garis bahagia di wajah Seokjin selama beberapa tahun belakangan.
“Seokjin—” Bibirnya secara refleks memanggil pelan. Maaf adalah apa yang ingin ia ucapkan, namun Yoongi takut apabila perihal ini dibicarakan secara langsung, semua akan berubah dan menyebabkan mereka tak dapat kembali bersikap seperti sedia kala.
Lantas ia menarik napas dalam, berusaha berkomunikasi melalui tatapan mata. Mengucapkan, “Maaf karena aku terus bersikap egois dan menyakitimu dengan dalih ingin mempertahankan pertemanan kita, di saat kenyataanya aku bersikap pengecut karena merasa takut kehilangan.” Di dalam hati tanpa keberanian untuk disuarakan.
Jika emang jeda adalah apa yang mereka butuhkan, maka Yoongi akan memberikannya meski mengaku begitu berat untuk merelakan. Setidaknya nanti, di saat Seokjin pulang suatu hari, ia akan mendapatkan sahabatnya kembali—tanpa rasa sakit hati dan perasaan lain yang seharusnya tidak pernah muncul sejak awal.
Dan maaf karena aku tidak bisa membalas perasaanmu.
“Kau akan mengantarku ke bandara, ‘kan?” tanya Seokjin dengan seulas senyum yang Yoongi tahu kelak akan ia rindukan.
Mengangguk sebagai tanggapan, Yoongi hanya dapat bergeming memandangi Seokjin yang kembali sibuk merapikan barang-barang yang tersisa.
✻
✻
✻
Acara utama telah berlalu satu jam lalu; janji suci diucapkan oleh kedua mempelai pria, buket bunga dilempar secara acak, juga ucapan selamat yang terus datang bergantian. Memandangi bagaimana para tamu undangan sibuk berbincang seraya menikmati hidangan penutup, Seokjin meneguk sampanye yang tersisa di dalam gelasnya.
“Hei,” panggil Yoongi seraya menghampirinya. “Jangan mabuk di acara pernikahanku.”
Seokjin mencibir sebagai tanggapan, meletakkan gelas dengan cekatan di atas nampan yang dibawa oleh seorang pelayan. Ia kemudian bertanya, “Di mana Jungkook?”
Jeon Jungkook adalah orang yang sama dengan sosok yang sempat menjalani hubungan dengan Yoongi selama setahun lamanya di masa kuliah. Seseorang yang sempat menimbulkan rasa cemburu juga iri di dalam diri Seokjin pada masanya—sebelum ia dapat berdamai dengan perasaannya sendiri selama menyelesaikan jenjang pascasarjana.
“Meladeni teman-temannya,” Yoongi menjawab singkat. “Namjoon?”
Selama menjalani studi di luar negeri, Seokjin akhirnya berhasil melalui masa-masa sulit bergelut dengan duka patah hati yang berkepanjangan. Menjaga jarak dan mengurangi komunikasi dengan Yoongi terbukti ampuh karena meski harus berjuang secara mandiri di negara asing, satu masalah hidupnya berhasil menemukan akhir yang selalu dinantikan.
Merelakan Yoongi dan menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak ditakdirkan untuk satu sama lain adalah jalan mencintai yang Seokjin pilih.
Dulu, di awal masa kuliah, ia sering kali mendengar peringatan Jimin untuk tidak terlibat dengan Yoongi lebih jauh. Sahabat jadi cinta dan menemukan akhir bahagia bersama adalah mustahil, katanya. Jangan menyakiti dirimu lebih jauh dengan terus berada di dekatnya, ia ingat.
Tapi apa yang sang Park ucapkan terbukti salah mengingat bagaimana kini Seokjin dapat mengenang masa-masa kuliahnya bersama Yoongi, juga segala proses mengarungi patah hati dengan senyuman lebar; bahkan menganggapnya sebagai memori berharga yang tidak akan rela ia lupakan.
Seokjin dan Yoongi menemukan akhir bahagia bersama, meski kebahagiaan tersebut tidak berasal dari satu sama lainnya.
Pada akhirnya, Seokjin memutuskan bahwa bahagia adalah bahagia—terlepas dari sumber juga alasan di baliknya.
“Di kamar mandi.”
Menyentuh cincin yang melingkar di jari manisnya, Seokjin tersenyum mengingat bagaimana Namjoon menyematkan perhiasan tersebut kemarin malam; dengan wajah pucat akibat gugup luar biasa mengajaknya menyusul Yoongi dan Jungkook yang hari ini resmi menikah.
Seokjin menerima ajakan itu dengan haru bercampur antusias, kemudian langsung memamerkan kabar baik tersebut pada Yoongi yang berkomentar, “Kau bertunangan di H-1 acara pernikahanku? Kebetulan yang luar biasa.”
Hal lain yang Seokjin pahami tentang bahagia adalah bagaimana perasaan tersebut dapat membuatnya melupakan semua perih yang sempat mendera—mendorongnya berpikir bahwa mengalami apa yang dilaluinya adalah kewajiban agar dapat menghargai semua yang sekarang dimilikinya.
Ke depannya, jika kisah hidup Seokjin diibaratkan sebuah buku, maka telah dipastikan nama Kim Namjoon akan mengisi tiap paragraf dan mengalahkan jumlah nama Min Yoongi seiring waktu berjalan.
Begitu pun, Yoongi tetap akan menjadi kasus spesial dalam hidupnya.
—Sebagai sebuah pengalaman cinta paling membekas, juga sahabat terbaik yang pernah ia miliki selama masih diberi kesempatan untuk bernapas.
