Work Text:
“Gawat, sepertinya aku sedang heat...”
“Eeh, pantas aromamu jadi begini kentaranya! Buruan pulang saja, sebelum ada Alpha yang keburu mencium baumu!”
“Umm—tapi sepertinya aku juga mulai mengeluarkan slick... Apa yang harus kulakukan?”
“Kau tidak bawa persiapan, apapun? Slick pad, scent blocker atau apapun?! Jimin—yang benar saja?!”
Omega bertubuh kecil yang diajak berbicara menggeleng keras—menyatakan tidak, ia sama sekali tidak membawa apapun sebagai bentuk antisipasi kedatangan heatnya—dan kembali mengacak-acak isi tasnya dengan panik. “Aduh, bagaimana ini—”
“Pakai saja punyaku, mau tidak? Kebetulan aku belum pernah menggunakannya.”
Dua orang Omega yang sedari tadi terlibat percakapan dengan satu sama lain, akhirnya menoleh ke arah presensi orang ketiga yang mengajak mereka berbicara.
Orang ketiga tersebut adalah Namjoon—yang tengah mengulurkan satu kantong berwarna biru tua pada Omega bertubuh mungil di hadapannya.
“Ah! Namjoonie-hyung!” Omega mungil bernama Jimin memekik riuh mendapati uluran bantuan dari Namjoon. Diraihnya kantong biru tua di tangan Omega yang lebih tua tersebut seraya berkata, “Terima kasih, terima kasih! Kau memang penyelamatku!” Sebagai bentuk rasa terima kasihnya, tanpa pikir panjang lagi ia berlari ke meja Namjoon dan memeluk Omega itu erat-erat. “Aku lupa kalau kau juga seorang Omega sampai kau memberikan ini.”
Dan yang dipeluk hanya tertawa rikuh, “Tumben sekali kau bisa pelupa seperti ini. Seharusnya aku 'kan yang slebor di sini?”
“Soalnya kemarin dia baru saja menginap di rumah kekasihnya, makanya kelupaan membawa perlengkapan untuk hari ini. Beruntung dia tidak kelupaan membawa flashdisk berisi keperluan meeting tadi siang!”
Mendengar hal tersebut, lekas Jimin mencubit pinggang koleganya guna mendiamkannya, “Tae... Kau bilang kau mau merahasiakannya, kan!”
Ah, benar juga, sejak Jimin menjalin kasih dengan seorang Alpha dari sebuah kantor konsultan lighting, Namjoon-lah satu-satunya yang tersisa melajang di bagian Interior.
“Sudah, sudah, buruan pulang sana dan pakai slick pad yang kuberikan! Di dalamnya ada scent blocker, habiskan saja isinya!”
Yang disuruh pulang langsung saja melesat mengemasi barang-barang di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak butuh waktu lama bagi Jimin mengucapkan salam perpisahan kepada mereka sebelum menghilang di balik pintu belakang.
Tinggalah Namjoon berduaan di bilik divisi Interior bersama Taehyung—yang juga seorang juniornya. Masing-masing sibuk dengan pekerjaan masing-masing di layar komputer—tidak punya waktu memulai percakapan.
Tapi tidak berselang lama, Taehyung sudah menyusul mengemasi barang dan berkata, “Hyung, aku duluan juga, ya! Pacarku sudah menjemput di lobi!” dan tanpa menunggu sahutan dari Namjoon, dia melesat keluar dari dalam kantor.
Akhirnya tersisa Namjoon sendirian di kantor—beserta dua orang pesuruh dan tiga orang drafter. Biasanya orang Arsitek akan lembur di hari-hari seperti ini, tapi entah ke mana mereka sekarang.
Memang asyik, ya, kalau punya kehidupan di luar kantor. Punya kegiatan baru atau kekasih, misalnya, batin Namjoon sambil merutuki nasibnya. Beberapa kali ia melihat ke layar komputer, lama-kelamaan ia bosan juga memandangi working drawing yang harus segera ia cek sebelum diserahkan kembali pada drafter yang membantunya.
Orang-orang bilang hidupmu baru dimulai di umur 25 tahun. Tapi sudah dua tahun berlalu sejak ia menginjak umur 25 dan Namjoon masih merasakan kehidupannya tidaklah istimewa seperti yang diucapkan kebanyakan orang. Benar ia bekerja di sebuah Konsultan Arsitektur dan Interior ternama di Korea, namun bukan berarti kehidupannya berjalan seperti yang diidam-idamkan orang-orang kebanyakan.
Setiap minggunya ia berkutat pada pekerjaan yang seolah-olah tidak ada akhirnya. Pergi keluar bersama teman pun hanya opsi yang bisa ia jalankan beberapa minggu, sisanya ia tidak bisa mangkir dari tugasnya sebagai seorang Design Specialist.
Dan setiap kali ia membuka halaman media sosial, ia hanya akan merasa iri melihat foto-foto rekan kantor atau teman-temannya yang asyik jalan-jalan ke tempat hits di Seoul, entah itu taman atau kafe-kafe baru—bersama pasangan mereka.
Hobi bersepeda santai yang rutin ia jalankan selama beberapa tahun lalu, sekarang sama sekali belum dilakukannya lagi. Ia memang masih sering berkendara sepeda ke kantor, tapi hal itu sama sekali tidak membuatnya merasa rileks. Pernah ia mencoba bergabung ke kelab sepeda—apapun yang berhubungan dengan hobinya—tapi tidak ada satupun yang berhasil diikutinya. Dunia kerja terlanjur memisahkan Namjoon dari hal-hal yang ia sukai.
Mungkin ia butuh sesuatu yang baru—
Tapi apa?
Maka diputuskanlah oleh Namjoon untuk mengakhiri jadwal monotonnya hari itu di kantor.
Ia pun menghampiri para drafter di bilik mereka dan menyuruh ketiganya pulang. Tidak terlupa olehnya mengosongkan meja dan mematikan monitor komputer, meninggalkan beberapa file penting dalam tumpukan tertata, lalu berangsur ke lift dan pulang.
Sesampainya di lobi ia melihat hujan mulai turun di luar, membasahi jalanan beraspal dan juga sedikit kerumunan pekerja yang terlambat berlindung di bawah naungan kanopi lobi.
Hatinya sedikit bersyukur tidak jadi mengendarai sepeda ke kantor hari itu, karena hujan kian deras dalam hitungan menit.
Berbekal payung yang ia bawa akhir-akhir ini, Namjoon bergegas menuju halte bis yang terletak tepat beberapa meter di sisi kiri gerbang masuk kendaraan bermobil.
Halte itu kosong melompong, beberapa orang penumpang terakhir baru saja menaiki bis yang barusan lewat di hadapannya.
Namjoon duduk pada salah satu ruas kursi, sambil mendengarkan bunyi rintik hujan yang menghujani sekelilingnya.
Saat orang-orang membenci hujan, Namjoon justru menyukai hujan.
Entah bagaimana, hujan selalu menentramkan pikirannya—mengalihkan perhatiannya akan suara yang mengingatkannya kembali pada alam sekalipun ia tinggal di sebuah kota metropolis. Bunyi hujan meredam bising kendaraan bermobil dan hiruk pikuk manusia, mengaburkan aroma orang-orang, dan yang terpenting—membantu Namjoon merasa rileks.
Selagi Namjoon tenggelam dalam pikirannya, seorang pria melenggang masuk ke dalam halte tanpa selubung yang melindungi kepalanya. Namjoon tersentak dari lamunannya dan fokusnya serta merta teralih pada pria asing yang baru saja menapaki bangunan halte.
Perhatiannya sudah pasti tidak teralihkan dari pria itu jika ia tidak keburu memperhatikan setelan jasnya yang terlihat mahal (dari pattern yang tercetak di kainnya Namjoon menebak pria itu mengenakan Burberry) dan juga suaranya yang lantang di bawah sergapan hujan.
Kalau Namjoon tidak melihat satu airpod tercolok di telinga pria itu, ia akan mengiranya sebagai orang gila yang sedang mengomel-ngomel tak karuan di tempat umum.
“Tapi kita sudah merencanakan makan malam hari ini, kan? Kenapa tiba-tiba?” pria itu berseru pada sosok yang tak dapat ditangkap Namjoon. Salah satu tangannya terpancang di pinggang, berkecak tak senang. “Apa gara-gara obrolan kita malam itu? Atau gara-gara teman-temanmu?”
Biasanya Namjoon tidak suka mengurusi urusan orang lain, namun begitu ia melihat ekspresi putus asa di wajah pria itu, ia jadi tidak bisa memalingkan pandangannya.
Pria itu tampan sekaligus cantik—setara model dan artis yang biasa ia lihat di internet. Alisnya tegas dan rahangnya tajam. Bibirnya tebal dan memiliki rona natural. Dari gerak-geriknya yang elegan, ia memberi kesan jika ia adalah orang berada dan berkelas. Jam tangan stainless bermerek Patek Philippe melingkar di pergelangan kiri pria itu dan Namjoon langsung berpikir—Wah, sepertinya orang ini eksekutif muda, pantas saja pakaiannya dan aksesorisnya begitu.
Orang asing tersebut masih berdebat dengan lawan bicaranya yang tak kasat mata—sampai Namjoon menyaksikan sorot matanya berubah tak fokus dan dihiasi titik-titik air. Bibirnya mengatup dan rahangnya bergetar saat berucap, “Apa kekuranganku? Apa yang aku berikan padamu selama ini tidak pernah cukup?”
Melihat perubahan emosi di wajah pria itu melahirkan perasaan iba pada Namjoon.
Sekali mata pria itu bertumbukan pada Namjoon—yang cuma disambut dengan senyuman gugup sebelum si pria asing beralih kembali pada percakapan di telepon.
Merasa tidak enak sudah menguping dan memperhatikan si pria asing seenaknya, Namjoon pun pura-pura ikut melihat ponselnya sebagai pengalih.
“Padahal saat heat, aku mencarimu pertama kali. Aku sudah absen dari beberapa meeting dan menitipkan pekerjaanku pada orang lain demi dirimu. Apa itu tidak cukup? Memangnya teman-temanmu rela mengorbankan waktunya lebih daripada aku?”
Sekalipun Namjoon berusaha fokus ke ponselnya, ia tetap tidak bisa berhenti menangkap semua ucapan si pria asing.
Bisa jadi pria ini adalah seorang Omega—atau Beta yang sedang bermasalah dengan pasangan Alphanya. Mungkin pasangan Alphanya senang mengumbar janji dan melanggarnya, atau apalah—sampai mereka bertengkar sehabat ini. Mungkin pasangannya mendadak membatalkan janji mereka hari ini dan membuat kesal pria itu.
Aduh, Namjoon, berhentilah berpikiran macam-macam. Ini bukan urusanmu...
“Terserah saja! Terserah! Pergi saja sesukamu kalau sudah tidak tahan denganku!” teriak pria itu. “Bawa sekalian barang-barangmu! Kalau aku masih mencium baumu di apartemen, aku akan membakar semuanya! Brengsek!”
Pria itu membanting airpodnya ke lantai dan tergesa duduk di atas salah satu ruas kursi dalam hentakan keras. Kedua tangannya tertangkup ke wajah, meremas wajahnya dengan gemas. Tidak lama kemudian pundaknya mulai bergetar hebat diikuti isakan tangis.
Namjoon salah tingkah—tidak tahu harus berbuat apa. Ia menunggu sampai tangisan pria itu reda dengan sendirinya dan berharap akan ada penumpang bis lain yang menunggu di halte. Atau setidaknya bis yang ia tunggu akan segera datang.
Sudah 15 menit berlalu tapi bis yang ia tunggu tidak juga datang.
Dan di halte itu tetap terisi mereka berdua.
Namjoon kembali melirik pria di sebelahnya dan dengan ragu merogoh sapu tangan yang ia simpan di tas selempangnya.
“Mungkin kau tidak butuh ini, tapi setidaknya kau bisa mengelap wajahmu kalau tidak ingin orang lain melihatmu menangis.”
Pria di sebelahnya menelan ludah, sesenggukan, namun diambilnya sapu tangan Namjoon tanpa berpikir dua kali.
Tangisannya menyisakan senggukan kecil saat sapu tangan Namjoon mengusap wajahnya.
“Kau Omega, ya?” tanya pria itu pada Namjoon.
“Eh, ya. Bauku di sapu tangan itu kentara sekali, ya?”
Pria itu tidak menjawab dan malah berkata, “Memalukan sekali. Aku menangis begini di hadapan orang lain. Kuharap tidak ada orang di kantorku yang melihatku begini, atau mereka akan menjadikanku bulan-bulanan di kantor.”
“Ngomong-ngomong, aku juga bekerja di gedung ini.”
“Tapi kita berbeda kantor. Setidaknya kemungkinan aku bertemu denganmu sangat kecil,” pria itu meniupkan ingusnya ke sapu tangan Namjoon dan mengembalikannya pada sang pemilik.
Yap, impresi akan eksekutif muda yang berkelas dan berada sirnalah sudah.
“Tidak apa-apa, kau tidak perlu mengembalikannya padaku. Aku punya sapu tangan lain.”
“Kau tidak mau ini? Ingusku lumayan mahal,” saat leluconnya mengubah suasana menjadi canggung, pria itu kembali melanjutkan, “Bercanda. Aku masih merasa kikuk gara-gara kau sedari tadi menyaksikanku bertengkar. Ini benar-benar memalukan—sekaligus menyakitkan.”
Jika ditilik dari dekat, makin jelaslah ketampanan pria itu di wajah Namjoon. Bulu matanya yang lentik sudah kuyup oleh air mata dan hampir seluruh wajahnya terbungkus warna merah. Bibirnya yang ranum terpagut maju, merajuk.
Dalam pikiran Namjoon, sudah pasti Alpha atau Beta yang membuang Omega ini tidak tahu harta karun yang sudah mereka sia-siakan. Tapi bisa jadi karena ia belum mengenal pria asing ini, pikirannya jadi tertuju pada hal itu.
“Aku juga tidak akan membicarakan kejadian ini pada orang lain.”
“Ya, ya. Kalau sampai ada rumor menyebar tentangku menangis di halte, kaulah orang yang kuburu pertama kali.”
Namjoon tidak menggubris lebih lanjut pernyataan pria itu. Ia malah berjalan ke tempat di mana airpod pria tadi dibuang dan memberikannya lagi pada si empunya.
“Barang mahal begini jangan disia-siakan. Aku tahu kau kaya, tapi bukan berarti kau bisa membuang-buang uangmu dengan cara ini.”
Ucapan Namjoon membuat pria itu terpegun—alisnya bertautan, berpikir keras. Pada akhirnya ia pun juga menerima airpod tersebut.
“Kekasihku ini—kami sudah berpacaran selama sepuluh tahun—sejak kami masih berkuliah.” Tanpa ada basa basi, pria itu mulai berbicara. “Dua tahun lalu aku mengobrolkan topik ingin memperdalam ikatan di antara kami lewat ritual perkawinan, tapi dia menolak. Dia bilang dia masih ingin bebas, maka aku memberinya waktu. Lalu lama kelamaan dia mulai menghilang dari kehidupanku dan semakin sering pergi bersama teman-temannya. Aku cemburu—itu wajar karena aku kekasihnya, kami sudah menandai satu sama lain—tapi kenapa dia lebih memilih teman-temannya?”
Namjoon hanya bisa diam saja.
Hmm?
Sepertinya pria ini adalah tipe orang yang posesif dalam menjalin hubungan.
Pikirannya keburu dibantah oleh ucapan si pria berikutnya, “Bukannya aku posesif, tapi bayangkan, dalam seminggu ia bisa enam hari pergi bersama teman-temannya. Dia juga jarang membalas chatku, sekalipun aku menahan diri untuk tidak mengganggu waktunya bersama teman-temannya. Dan saat ia punya waktu luang, aku membuang semua jadwalku supaya bisa bersama dengannya! Sudah pasti dia tidak punya keinginan menghabiskan hidup denganku.”
Namjoon jadi memikirkan Jimin dan Taehyung, juga teman-temannya yang sudah memiliki pasangan. Apakah ada dari mereka yang berlaku seperti kekasih pria ini?
“Bisa jadi dia memang belum bisa berkomitmen dalam hubungan. Mungkin ada banyak hal yang ingin dia lakukan. Apalagi setelah kalian kawin nanti, dia akan jarang menemui teman-temannya,” itu yang mampu ia lontarkan sebagai tanggapan.
“Entahlah, apalagi yang ingin ia lakukan. Dia memegang saham yang diwariskan dari keluarganya. Selama ini aku membebaskannya pergi ke mana saja bersama teman-temannya, melakukan hal yang dia sukai—walaupun aku dongkol setiap menemukan dia sudah pergi ke mana-mana tanpa sepengetahuanku. Padahal aku ini kekasihnya, tapi kenapa dia berbuat begitu terhadapku? Sampai-sampai para sahabatnya rungsing dan mendatangiku, bilang supaya aku berhenti bersikap posesif dan otoriter padanya! Entah apa yang dikatakan olehnya hingga mereka berpikiran seperti itu padaku.”
“Kalau begitu, bukankah bagus kau bisa keluar dari hubungan seperti itu? Maksudku, setelah kau lihat kau tidak punya harapan untuk melanjutkan hubungan dengannya.”
Pria itu kembali tercenung mendengar perkataan Namjoon. Netranya yang masih sembab berotasi, berpikir. “Tapi—aku masih belum bisa melepaskannya.”
“Aku tidak pernah berpacaran, hanya saja—bukankah lebih baik kau mengakhiri sebuah hubungan sebelum hal itu berlanjut ke hal yang lebih toxic lagi? Kau mengorbankan banyak hal untuk orang ini, sedangkan dia hanya mengeluarkan sedikit keringat untukmu. Rasanya jahat dia tidak mau mengerti saat kau juga punya tanggung jawab yang harus dipikul dan mengabaikannya,” tanpa sadar tangan Namjoon bergerak-gerak—seakan-akan ia sedang membicarakan topik yang menarik dengan orang yang sudah cukup lama ia kenal. Pandangan pria itu juga sama sekali tidak bergerak darinya, terus memandanginya serius. “Seharusnya dia juga bisa memahamimu dan sama-sama berusaha untuk mengimbangi hubungan kalian. Sayangnya tidak, dia malah terdengar egois.”
“Aku juga berpikir dia egois, hanya saja—astaga, bagaimana aku menjalani hidup tanpa dia? Aku sudah 10 tahun hidup bersamanya, dan sekarang—tahu-tahu dia pergi dari kehidupanku. Aku harus apa setelah ini?”
“Melepaskan itu sulit, tapi pertama-tama kau harus menerima jika dia tidak cocok untukmu. Masih banyak orang lain di luar sana yang lebih baik. Jika kau ingin menangisinya, tangisi saja. Karena dia memang pernah menjadi orang yang paling kau cintai, kan?”
Seusai berkata begitu, pria itu sama sekali tidak merespon apa-apa. Namjoon yang diliputi perasaan bersalah—merasa dirinya sudah melalui batas, berkata, “Maaf. Aku bukan bermaksud menggurui. Aku cuma menyampaikan apa yang ada di kepalaku.”
“Apa benar kau memang lajang?” pertanyaan itu refleks dilontarkan oleh si pria asing pada Namjoon, “Ucapanmu seperti diucapkan oleh orang yang punya pengalaman pacaran. Tapi biasanya orang yang lajang memang lebih pintar menggurui karena mereka belum merasakan pengalaman pahit orang berpacaran, sih.”
Tanpa disangka ucapan blak-blakannya tersebut membuat Namjoon tertawa, “Begitulah kenyataannya. Aku belum pernah pacaran tapi aku mahir membuat konsultasi hubungan.”
“Tapi kau serius sedang melajang?” pria itu kembali bertanya. “Maksudku, kau tampan. Apa para Alpha di dunia ini buta—atau anosmia?”
“Karena ada banyak Omega dan Beta menawan lainnya,” sahut Namjoon—tidak peduli. “Aku juga terlalu sibuk dengan pekerjaan, tidak punya waktu untuk menjalin hubungan. Dan sejauh ini—belum ada orang yang mendekatiku dan membuatku tertarik.”
Pria itu kembali merenung, seolah-olah semua perkataan Namjoon adalah petuah yang harus ia pikirkan matang-matang.
Keduanya tidak sempat melanjutkan percakapan karena bis yang ditunggu-tunggu oleh Namjoon pada akhirnya tiba.
“Ini bismu?”
Ada nada kecewa tersirat dari ucapan pria itu, tapi Namjoon tidak mau menganggapnya serius.
“Ya. Aku duluan. Semoga beruntung untuk hubunganmu selanjutnya, masih ada Alpha, Beta, atau siapapun yang lebih baik dari kekasihmu itu!”
Seandainya Namjoon mau menunggu sampai bis melaju, ia akan memperhatikan pria itu berlari ke tepi halte—hingga nyaris terguyur air hujan—dan mendapatinya hendak mengejar bis.
Sayangnya Namjoon tidak terlanjur melihat dan memilih duduk di kursi paling depan yang masih kosong.
Dalam pikirannya paling-paling pria itu hanya berpapasan dengannya beberapa kali di gedung kantor dan mereka akan bersikap sama-sama tidak mengenal. Tidak ada yang istimewa dengan percakapannya bersama orang asing itu. Mereka berbeda kelas, berbeda dunia.
Dengan begitu, Namjoon kembali menikmati bunyi rintik hujan disertai desing halus mesin bis.
Hari itu adalah hari Senin dan Namjoon tergesa melewati barisan mesin face detector.
Ia sedang tertimpa sial, semalam harus menghadiri online meeting dengan kliennya di luar negeri dan pagi ini ia hampir melewatkan meeting internal dengan tim kontraktor di kantor. Tepat ia melalui mesin face detector, Taehyung memanggilnya.
“Aku kelupaan hari ini harus meeting dengan orang Daelim!”
“Aku juga kelupaan gara-gara harus menghadiri meeting semalam! Kau bawa semua berkas yang kuminta, kan?” seru Namjoon, berusaha untuk tetap tenang walau kakinya tidak bisa berhenti menggelinjang waswas.
Pintu lift terakhir yang masih terbuka sudah menunggu mereka.
Namjoon yang masih berkutat dengan berkas yang dibawa oleh Taehyung, baru menyadari ada dua orang lain di dalam lift bersama mereka. Baru saja ia menawarkan senyuman, dirinya terkejut mendapati sesosok tak asing yang berdiri di tengah-tengah lift.
Pria itu tak lain adalah pria asing yang ditemuinya di halte beberapa minggu lalu—lengkap dalam setelan resminya yang mahal dan bermerek. Di belakangnya, ada seorang pria yang merangkul sebuah tas laptop—sedang mengajaknya berbicara.
Perhatian pria itu beralih pada Namjoon. Raut mukanya yang beberapa minggu lalu terlihat pias sehabis menangis, digantikan oleh rona cerah berseri. “Oh. Kau rupanya!”
“Oh, kau juga!”
Taehyung dan pria lain di dalam lift sama-sama memasang ekspresi terkejut menyaksikan interaksi mereka—tidak tahu menahu jika keduanya saling mengenal.
Tanpa basa basi, si pria asing melangkah ke sisi Namjoon.
Saat mereka berhadap-hadapan, barulah Namjoon menyadari pria itu bertubuh pendek beberapa senti darinya.
Dan meskipun ia masih berdiri beberapa langkah dari Namjoon, samar-samar Namjoon bisa menangkap aroma kuat pohon cedar bercampur sitrus jeruk—aroma memikat yang sontak membuat jantungnya berdebar. Umumnya Omega beraroma seperti bunga dan buah-buahan manis, Beta beraroma cenderung netral, dan Alpha—
Ya Tuhan, pria ini adalah seorang Alpha!
Dilihatnya pria itu merogoh salah satu kantong celana dan menyerahkan sebuah sapu tangan pada Namjoon.
“Ini, aku mengembalikannya padamu.”
Sebuah senyuman terhias di wajah tampannya dan Namjoon bisa merasakan dadanya berdegup kencang. Entah karena aroma pria itu atau karena parasnya yang mempesona.
“Oh—kau tidak perlu repot-repot—”
“Bukan masalah, lagipula aku sudah mencucinya.” Ia memasukkan sapu tangan tersebut ke kantong kemeja Namjoon tanpa seiizinnya. “Aku sudah menunggu saat-saat supaya bisa bertemu denganmu lagi dan mengembalikan ini padamu.”
Namjoon kehilangan kata-kata, merasa terlalu gugup menghadapi situasi yang tidak terduga ini. Ia pun hanya sanggup melontarkan desisan kecil terima kasih sewaktu pintu lift terbuka lebar disertai dentingan—mengingatkan Namjoon jika ia sudah tiba di lantai yang ia tuju.
Apabila Taehyung tidak menyeretnya keluar, Namjoon akan terus terpaku di dalam lift bersama pria asing itu.
Dilihatnya si pria asing berdiri dengan dagu terangkat dan ekspresi penuh kepercayaan diri—menyeringai jumawa pada Namjoon.
“Sampai berjumpa lagi, Namjoon-ah.”
Pintu lift tertutup dan Namjoon segera bersandar ke dinding untuk menghilangkan rasa paniknya.
Apa dia pernah menyebutkan namanya pada pria itu? Dia sama sekali tidak bisa ingat—
“Hyung? Kau kenal dengan Kim Seokjin?! Yang tadi itu Kim Seokjin, kan?!” Taehyung langsung mencecarnya.
Namjoon yang masih belum bisa memproses pertemuannya barusan dengan pria asing yang ia temui di halte menoleh pada Taehyung—terheran-heran. “Hah? Siapa?”
“Kim Seokjin! Masa kau tidak tahu, sih?!”
“Aku tidak tahu—aku baru bertemu dengannya di—” buru-buru ia mengatupkan mulut, takut akan membocorkan pertemuannya dengan pria tadi di halte.
Taehyung mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan pada Namjoon hasil pencarian di internet, “Ini Kim Seokjin!” Sebuah gambar logo perusahaan dan beberapa gambar gedung tinggi terpampang di halaman pencarian. Pada salah satunya ada gambar Seokjin—pria asing yang ia ajak bicara di halte—sedang bersalaman bersama konglomerat Warren Buffet.
“Dia pemilik saham dan eksekutif muda Jinsung Corporation! Dia selalu menjadi obrolan semenjak berhasil merintis ulang saham ayahnya yang bangkrut dan sekarang menjadi perusahaan berbasis teknologi terbesar kedua setelah Samsung! Dia juga sering menjadi model di media masa gara-gara wajah tampannya itu! Gosipnya dia juga berpacaran dengan anak konglomerat Samsung!”
“HAH?! Tapi kenapa dia ada di sini, bukan di gedung—”
“Ini kan gedung perkantoran yang disewakan oleh perusahaan Jinsung sendiri, kau lupa ya?”
“Lalu kenapa dia ada di sini?! Ini kan bukan headquarters dari Jinsung!”
“Mana aku tahu?!”
Masih berusaha memproses berita yang ia peroleh dari Taehyung, Namjoon mengelap tangannya yang mulai basah oleh keringat dingin dengan sapu tangan yang telah dikembalikan oleh Seokjin.
Tangannya hendak membuka lipatan sapu tangan sewaktu dilihatnya sebuah tulisan tangan berisikan pesan dan nomor ponsel tertera pada ujung kain.
Hello, this is Kim Seokjin
I'm looking forward to hearing from you
So, call me maybe?
(+82 XX XXXX YYYY)
end
