Work Text:
Kapan terakhir kali kaulihat langit biru?
Bagi Geto Suguru, ingatan tentang permadani biru yang terhampar luas tanpa ujung di atas kepala tidak pernah eksis. Sebuah angan-angan. Sebuah cerita pengantar tidur yang dikisahkan ibunya kala ia terbangun dari mimpi buruk di tengah malam. Tentang kota dengan awan putih menggantung yang berarak malas. Tentang busur pelangi tujuh warna sehabis hujan.
Kota itu selalu kelabu dan mendung sepanjang hari—sepanjang tahun dalam dua dekade terakhir. Tidak ada yang tahu alasan pasti mengapa tiba-tiba langit retak dan runtuh di suatu hari yang cerah. Berjatuhan dari atas seperti kepingan pecahan kaca. Orang-orang berlarian menyelamatkan nyawa masing-masing. Mereka pikir kiamat sudah tiba. Namun malaikat kematian tidak datang menjemput. Mereka melanjutkan beraktifitas seperti biasa. Sebagai ganti, hujan menghantam tanah hampir setiap hari, alih-alih pelukan hangat mentari. Musim semi tak kunjung mekar. Warna abu-abu mencoreng kemurnian salju yang turun, terlihat layaknya bumbungan asap residu perang.
Dua bulan setelah peristiwa tersebut, Suguru keluar dari rahim ibu.
Seorang pria tak dikenal mendatangi mimpi Suguru manakala ia baru menginjak 12 tahun. Hanya sekali. Serupa adegan acak film yang dipotong lalu digabung menjadi satu. Suguru tidak bisa ingat wajahnya dengan jelas. Yang Suguru tangkap, rambut pria itu seputih kapas dan di bola matanya ada kepingan angkasa terperangkap. Ketika tersentak bangun, Suguru dapati air mata basahi pipi dan rindu yang ganjil membuncah dalam dada. Tangannya menggapai udara kosong.
Figur dalam mimpi ia bawa dalam benak sampai dewasa. Suguru memproyeksikan sosok itu dalam patung tanah liat polimer. Waktu dan tenaga dicurahkan. Sekian purnama dihabiskan mengurung diri di workshop pribadi. Mengukir kontur wajah dalam rasio yang pas. Cat akrilik dipulas sebagai sentuhan akhir. Sosok itu kini abadi.
Suguru mendekati mahakarya. Bibirnya bertemu dengan milik sang objek dalam satu helaan napas. Dingin dan tanpa nyawa.
Cinta yang tidak rasional.
Gemerincing lonceng pintu mengejutkan Suguru.
“Maaf, kami sudah tutup.”
Suguru menoleh, mencari tahu siapa yang membuka pintu.
Lelaki dengan kepingan angkasa di matanya memasuki semesta monokrom Suguru.
