Actions

Work Header

An Angel in Restaurant

Summary:

Siang itu, Sebastian Moran terpesona.

Work Text:

"Mor, lo gaada niatan serius sama orang gitu? Umur udah mulai lapuk, juga, masih aja main-main sama cewek."

"Sembarangan ngomongnya ya, Bond!" Ucapnya jengkel mendengar suara dari earphone bluetooth-nya. Sementara matanya sibuk membaca berkas-berkas yang dia bawa ke cafe tempatnya makan siang. "Masih ganteng gini."

"Dih narsis. Der, temenmu narsis banget nih di telepon."

"Mantanmu juga kan?"

"Kan udah putus. Aku heran dulu mau sama dia. Udah nikah sama kamu sekarang."

"Mohon maaf nih pengantin baru teleponnya masih nyala." Moran semakin jengkel. Terdengar gelak tawa dari keduanya.

"Pesanannya tuan?" Suara asing yang begitu halus menginterupsi.

"Yang biasa ya." Balasnya, berkas-berkas ini terlalu banyak, kalau Albert tau dia belum mempelajarinya sampai pukul lima nanti nyawanya bisa melayang.

"Mohon maaf tuan, saya pelayan baru di sini."

"Oh, maaf." Moran mendongak dan ya tuhan ... manis banget.

Matanya menangkap manik delima yang begitu cantik di balik frame kacamata yang menambah kesan manis wajahnya. Rambut pirang yang lembut, wajah halus dengan bibir kecil yang kemerahan, dan hidung yang terpahat dengan baik.... Moran seakan melihat sosok malaikat di depannya.

"Tuan?"

"....ya?" Otaknya masih sibuk mengamati wajah manis itu. Saat alisnya bertaut, tampak bingung, bahkan tidak mengurangi pesonanya.

"Pesanannya?"

"Oh iya maaf!"

Bentar gue biasa mesan apa?!

Dia mengambil buku menu cepat, mencari menu yang biasanya dia pesan.

KOK GUE BISA LUPA?! SOK SOK-AN NGOMONG KAYAK BIASA PULA KE INI MALAIKAT. Oh ini nemu.

Moran menyebutkan pesanannya sambil terus mengamati gerak-gerik sosok menawan itu, dan saat suaranya mengulang pesanan Moran sambil menatapnya, Moran seakan tenggelam.

"Mohon ditunggu, akan segera kami sajikan." Ucapnya dengan senyum sopan.

Pas senyum makin manis, ya tuhan....

"I-iya, santai aja."

Kenapa gue malah grogi gini?!

Sosok menawan itu pergi untuk menyampaikan pesanan Moran ke jendela mengarah dapur, lalu kembali melayani pelanggan lain dengan gestur sopan yang sama. Dengan pesona yang sama. Moran mengabaikan berkas di mejanya, terlalu asik mengamati pelayan baru itu.

"MORON! Gue tutup ya! Katanya tadi minta temenin makan siang, kitanya malah dikacangin."

"Bond, Der." Ucapnya lemah, dia sempat lupa sedang menelpon tadi, senyumnya masih terpatri di wajah, "gue ketemu malaikat, manis banget."

"Hah?"

Series this work belongs to: