Work Text:
Sejak awal, Louis tahu bahwa Sebastian Moran akan menghilang.
He said :
"Let's get out of this town. Drive out of the city, away from the crowds."
Louis membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang saat ini memeluknya. Elusan Moran di kepalanya membuat Louis sejenak melupakan ketakutan terbesarnya. Guru mereka memilih mengatasi amukan warga London seorang diri sehingga setelah mengamati kericuhan dari jendela, dia menerima undangan Moran ke kamar pria itu.
Hanya ada keheningan. Louis menghirup aroma Moran yang sudah begitu familier di indranya, menenangkannya walau sejenak. Dia tidak ingin bersuara, perubahan rencana secara mendadak dari sang Kakak masih membuatnya merasa sakit. Hingga suara Moran menginterupsi.
"Aku akan pergi setelah semuanya berakhir."
Louis membeku. Pergi?
"Louis." Panggilnya, Louis mendongak, menatap netra hitam pria yang lebih tua itu dalam diam. Otaknya masih memproses ucapan Moran.
Awalnya sang kakak. Sekarang Moran. Lalu apa?
Mendadak dia membenci siapa saja yang sudah menuliskan garis takdirnya di dunia. "You're the only one who know about this. Let's get out of this town. Together."
I thought heaven can't help me now
Dia mengenal Moran karena gurunya yang menceritakan pria itu pada mereka. Dan William menemukannya di tengah keterpurukannya dan memberinya tujuan. Moran bergabung dengan rencana kakaknya. Sejak itu, jika dirinya ada di tempat yang sama, seringkali dia mengajak Moran latih tanding jika pria itu memiliki waktu luang--walau Moran lebih memilih memakai senjata api, skill bertarung jarak dekat pria itu cukup hebat untuk membantunya.
Louis tahu bahwa Moran mengabdikan dirinya pada sang kakak, sama seperti yang lain. Dan karena itu Louis dapat menghargainya, hanya orang-orang yang bersikap baik dan sopan pada sang kakak yang bisa dia terima. Walau seringkali pria itu membuatnya kesal karena sering mengabaikan tugas yang Louis berikan dan memilih menghabiskan waktunya bersama para gadis.
Dia tidak tahu sejak kapan? Tapi dibanding dengan yang lain, dia lebih terbuka dengan pria yang super jankung itu--sungguh jangkung, bahkan walau Louis telah memakai topinya dia masih tidak dapat menyamai tingginya.
"You know Louis, you're killing your own feelings way to much." Ucapnya setelah mendengar bahwa dia mengerti perasaan Fred yang merasa jauh dari William. Dia satu-satunya yang tidak pernah diikutkan dalam misi, dan hal itu membuatnya merasa terasingkan, seakan, semakin banyak misi yang dijalankan, jarak antara dirinya dan sang kakak semakin besar.
Louis membenci perasaan ini. Dia seringkali kecewa saat melihat yang lain menjalankan aksinya, hanya dia. Hanya dia yang tertinggal, sekeras apapun dia berusaha meningkatkan kemampuannya, William selalu meninggalkannya di belakang, sendirian. Dia takut, dan tak ada yang dapat membantunya.
Apa selamanya dia akan hidup dalam perasaan terasingkan itu?
"You aren't like Fred, aren't you." Louis menatapnya tidak mengerti. "You're brothers." Moran tersenyum padanya. "Where's the need to hide your true feelings? You're better of saying what you want to say."
Louis tertegun saat mata hitam itu menatapnya lembut. Suatu realisasi muncul, Moran benar. Maka, setelah itu dia mengalihkan pandangan dari netra hitam pekat itu, hanya satu respon yang dia dapat berikan. "I see...."
Jantungnya berdetak cepat saat Moran mengacak puncak kepalanya sebelum pamit. Dan dia hanya menatap punggung Moran dari belakang dalam diam saat pria itu berucap santai sambil melambaikan tangannya. "Yeah! See ya later!"
Louis lupa kapan terakhir kali dia benar-benar tersenyum pada orang selain saudaranya, tapi dia yakin malam itu bibirnya melengkung naik--walau sedikit--melihat kepergian sang sniper.
Dia bahkan lupa bahwa Moran sudah menelantarkan tugas bersih-bersih yang diberikannya hari itu.
Nothing lasts forever.
Berkat percakapan itu, dia berani mengungkapkan perasaannya pada sang kakak. Hal itu membuatnya tahu alasan William selalu meninggalkannya, dan pada akhirnya sang kakak menuruti kehendaknya.
Perasaan terasingkan itu akhirnya hilang.
Dan cara Louis memandang Sebastian Moran berubah sejak malam itu.
This is gonna take me down
He's so tall and handsome as hell
He's so bad but he does it so well
Louis tidak akan menyangkal jika orang-orang mengatakan pesona Moran mematikan. Dia cukup mewajarkan jika para gadis akan bertekuk lutut padanya dengan mudah. Moran memang memiliki wajah dan sifat yang memikat. Hanya saja, dia tidak pernah membayangkan akan menjadi pihak yang terpikat.
Saat Louis berbeda pendapat dengan Fred--yang ingin menyelamatkan semua anak sementara dia tidak--Moran menjadi penengah yang baik. Dia tidak menyalahkan atau menganggap sikap Louis yang tidak berperasaan sebagai hal yang salah. Moran memahaminya, tetapi juga tidak mengabaikan perasaan Fred. Dan caranya menenangkan Louis setelah mereka berpisah dari William.... Louis tersenyum kecil setiap kali mengingatnya. Lagi-lagi tangan besar itu menyentuh kepalanya--dan Fred. Tangan pria itu begitu besar.
Dia jadi lebih sering mengamati pria itu diam-diam, sesekali wajahnya akan merona saat memasuki ruang ganti dan Moran sedang melepas pakaiannya--walau tentu saja, sebisa mungkin rona itu disembunyikan. Louis tidak ingin membawa perasaannya ke arah yang lebih jauh, hal semacam itu tidak akan membantu rencana sang kakak.
Hanya saja saat semua orang pergi meninggalkannya dan sosok Sebastian Moran seorang diri selama beberapa hari, dia sadar bahwa Moran memperhatikannya lebih intens dan perlakuannya agak ... berbeda. Tadi malam bahkan sosok itu bahkan tidak pergi mencari wanita seperti biasa membuat Louis sedikit heran.
Dan kalau dipikir-pikir, sebenarnya akhir-akhir ini Moran jarang kelayapan jika tidak bertugas.
Saat Louis sedang mengamati langit malam dari jendela, panggilan seseorang mengagetkannya, dia bahkan tidak mendengar langkah kaki--seperti yang diharapkan dari seorang prajurit terbaik--di sana dia melihat Moran berjalan ke arahnya tanpa baju atasan, hanya ada handuk yang menggantung di dadanya.
Louis merona sebelum kembali menatap ke jendela. Jantungnya berdetak kencang. Sialan.
Dia beruntung seluruh pencahayaan sudah dimatikan, kecuali lampu minyak yang dia bawa untuk menemaninya.
"Sedang apa?"
Dia berusaha meredam detakan jantungnya. "Hanya mengamati langit, hari ini sangat cerah sehingga bintangnya banyak. Pemandangan yang cukup jarang mengingat cuaca di London lebih sering mendung atau hujan." Ucapnya sekasual mungkin. "Mandi di malam hari kurang baik untuk kesehatan, Mr. Moran."
"Aku tau." Moran mengeringkan rambutnya, Louis sebisa mungkin tidak melirik tetesan air yang turun ke wajah dan tubuh pria itu. "Hanya saja cuacanya cukup panas."
"Ada baiknya tidak sering dilakukan."
"Kau khawatir padaku, Louis?" Tanyanya. Dia ikut berdiri di samping Louis, dan dapat dia ketahui pria itu menatapnya intens--alih-alih langit malam yang begitu cantik.
"Ekhm." Mendadak, tenggorokannya tercekat. "Tentu saja. Mengingat Anda adalah orang terpercaya kakak dan sniper terbaik di kelompok ini."
"Menghindar seperti biasa." Moran tertawa kecil, "walau penerangan di sini hanya lampu yang kau bawa, wajahmu yang merona masih tampak jelas, Louis."
Sialan. Louis reflek mengumpat dalam hati. Dia tidak bersuara, tidak bisa menyangkal karena pria yang masih saja menatapnya intens ini memang memiliki mata yang sangat tajam.
"Aku selalu menangkap tingkahmu akhir-akhir ini. You like me, don't you?"
Louis tersenyum kecil mendengarnya.
"Is that even matter, Mr. Moran?" Karena perasaannya pada anggota timnya sendiri mungkin akan merepotkan rencana sang kakak. Tidak ada waktu untuk hal berbau romansa, terlebih saat Louis sendiri tidak tahu perasaan pria itu.
"It is." Suaranya melembut. "Look at me, Louis."
Ragu, dia menatap netra hitam itu.
"Kau mungkin tidak sadar, tapi aku menyukaimu sejak dulu."
"Dulu? Apa saat kita pertama bertemu dan aku masih seorang anak kecil? Anda terdengar menyeramkan sekarang." Louis tersenyum menantang.
"Sejak usiamu 20 tahun." Moran tersenyum kecil, "aku menyukaimu sejak itu. Semakin kuperhatikan, kau semakin menawan."
Selama itu? Tiga tahun yang lalu. Louis bahkan tidak menyadarinya. Wajahnya semakin memerah, tapi dia tidak ingin kalah dan langsung bertekuk lutut. Setidaknya dia tidak ingin sama seperti gadis-gadis yang ditiduri pria itu.
"Anda cukup hebat menyembunyikannya."
"Dan aku mulai menggodamu sejak aku tau kau memiliki ketertarikan padaku." Moran menyeringai, "sayangnya tingkat kepekaanmu cukup buruk."
"Sungguh? Anda hanya membuatku semakin marah akhir-akhir ini."
"Karenanya aku bilang kau tidak peka." Tangan Moran menyentuh wajahnya. Louis menahan napas. "You're always mad."
"Do it better, then. Don't make me."
Tidak ada siapapun di mansion ini, tapi Louis baru sadar suara mereka begitu pelan, seakan berbisik.
"You're gorgeous." Ucapnya sembari menyampirkan poni Louis ke telinga.
"Since my face looks like my brother? Of course, Mr. Moran." Seringaian Moran semakin lebar, sementara Louis masih berusaha keras mempertahankan harga dirinya di hadapan pria itu saat jantungnya sendiri berdetak cepat.
"I like your sarcasm." Moran memiringkan wajahnya, mengamati Louis lamat. "And you look cute."
"Really?"
"Always."
"Bahkan walau aku membunuh sambil tersenyum?"
"Nope." Wajah Moran mendekat, berbisik di telinganya, "You're hot as hell when killing our enemies."
Louis benar-benar terdiam saat suara rendah Moran berbisik demikian, wajahnya panas, terlebih saat napas hangat pria yang lebih tua itu berhembus di kulitnya.
"Can I kiss you, Louis?"
Dan Louis kehilangan pertahanan dirinya. Sebastian Moran begitu pandai menggoda, tapi begitu sopan di saat bersamaan.
"....yes."
Saat dia memejam dan merasakan bibir Moran bertemu dengannya, Louis tahu dia telah jatuh sepenuhnya pada pesona pria itu.
I can see the end as it begins
"You're a terrible kisser." Ucap Moran sambil menyeringai saat Louis terengah.
"In my defense, that was my first."
"That's my honour." Napas hangat itu berembus di wajahnya, suara Moran begitu rendah, berbisik. "What do you want, Louis? Tell me, call my name."
"I...." Louis dihadapkan pada dilema, dia ragu hal ini akan berdampak pada kelompok mereka. Tapi Louis tahu keinginannya, dan dengan situasi langka seperti sekarang--hanya berdua dengan Sebastian Moran--yang begitu menggoda, maka.... bahkan walau hanya sekali.... "I want you, Sebastian."
Manik hitam Moran melebar, sesaat sebelum berbisik. "My pleasure." Dan pria itu menautkan bibir mereka kembali. Louis hanya pasrah membalas sebisanya.
Dia tahu, ini akan menjadi malam yang panjang.
My one condition is :
Say you'll remember me standing in a nice dress, staring at the sunset, Babe.
Louis akhirnya bangun dari tempat tidurnya setelah seharian berbaring akibat kegiatan yang dia lakukan kemarin malam. Selesai mandi dan memeriksa pekerjaan yang dia pindah tugaskan--pria itu menawarkan dirinya sendiri--dia menemukan Moran menghisap rokok di dekat jendela.
"Terima kasih telah merawat dan menggantikan pekerjaanku hari ini."
"Kau masih seformal itu setelah kegiatan semalam?" Moran menatapnya heran.
Kegiatan semalam.
Wajahnya sedikit panas saat mendengar hal itu.
"Apa yang An--kau harapkan? Kita memang tidur bersama, tapi yang aku tau, itu bukan sesuatu yang spesial untukmu."
Terdengar helaan napas. "Aku sudah bilang, aku menyukaimu sejak lama." Moran mematikan rokoknya, "Come here."
Louis menatap bingung, hanya ada satu kursi di dekat jendela itu. Saat Moran menariknya, dia berusaha meredam detakan jantungnya karena terduduk di pangkuan pria jangkung itu. "Relaks, Louis."
"A-apa yang kau lakukan?!"
"Di sini pemandangan matahari terbenamnya cukup cantik."
"...huh?" Dia terjengit saat Moran memeluk tubuhnya.
"Kau belum pernah melihatnya?" Moran dengan seenaknya menyandarkan dagunya di bahu Louis, membuat wajah mereka begitu dekat. "Mari kita lihat bersama. Aku sering merokok di sini saat senja."
Red lips and rosy cheeks, say you'll see me again
Even if it's just in your wildest dreams
Louis mulai merasa sedikit santai dan membiarkannya bersandar di pangkuan itu, menyamankan diri. Moran benar, matahari terbenam dari sini tampak indah. Mereka hanya diam walau Louis tahu bahwa alih-alih menatap pemandangan di luar jendela, pria yang memangkunya itu justru hanya menatap wajahnya. Louis bahkan tidak peduli lagi semerah apa wajahnya sekarang.
"Apa ada yang salah di wajahku?" Tanyanya setelah tidak tahan diperhatikan. Terlebih dengan posisi mereka sekarang....
"Bibirmu cukup merah untuk ukuran seorang pria."
"H-huh?"
"Dan warna matamu cantik terkena cahaya senja."
Louis mengerjap, ".....are you flirting right now?" Dia bahkan tidak yakin bisa lebih memerah dibanding sekarang, tapi tawa Moran membuatnya ingin meleleh....
"Just being honest. And you looks so cute, Lou." Moran mengecup pipinya cepat, "Your cheeks are like roses."
"Ca-can you stop calling me cute, Mr. Moran?"
"And don't call me Mr. Moran, Louis."
"I always call you like that."
"Oh?" Louis tidak suka mendengar nada jahil saat Moran mengatakannya, "what about last night?"
"You--"
Bastard.
I said :
"No one has to know what we do"
His hands are in my hair, his clothes are in my room
Pada akhirnya itu bukan pertama dan terakhir kalinya mereka ... bercinta?--Menyebutnya demikian terasa memalukan--Hanya saja Louis memilih untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Dia tidak ingin perasaan pribadinya berpengaruh pada rencana sang kakak yang begitu menyayanginya. Tidak di saat Louis diperbolehkan berpartisipasi dalam misi mereka. Louis sudah tahu sepenting apa dirinya bagi sang kakak sejak malam itu.
Dia tidak ingin bertaruh.
Dan Sebastian Moran menyetujuinya. Pada akhirnya mereka bersikap seolah tidak pernah ada yang terjadi saat ada orang lain di sekitar. Moran masih jadi orang yang sama, begitu hangat, pengertian dan senang menggoda. Dan Louis seringkali dibuat kesal saat pria itu lagi-lagi mengabaikan tugasnya.
Hubungan mereka masih sama.
Tapi saat tidak ada siapapun di sekitar, Moran seringkali mencuri ciuman darinya. Atau menggodanya. Apa saja yang membuat Louis dibuat tidak karuan dan seringkali ingin menusuk pria itu dengan belati--andai dia tega.
Oh, dia juga lebih suka menggoda pria itu. Louis tiada hentinya menyinggung saat Bond meng-kabedon Moran ke dinding dengan kakinya, dan pria itu justru bersembunyi di belakangnya, baginya itu pengalaman yang lucu--sungguh, dia berusaha keras mempertahankan tawanya saat pria itu memegang pundaknya untuk bersembunyi--Sebastian Moran, sosok yang paling besar di antara mereka, bisa ketakutan karena dikabedon oleh seorang James Bond.
Bagi Louis, keberadaan Moran yang membuat kelompok ini jauh lebih berwarna. Sosok yang dewasa, tapi kekanakan. Hangat, tapi berbahaya. Sosok yang mengabdikan hidupnya untuk sang kakak.
"Aku selalu bertanya-tanya." Louis mengangkat wajahnya dari dada bidang Moran, "are you in love with my brother?"
"Kau benar-benar serius menanyakannya ... sekarang?" Tangannya berhenti mengelusi puncak kepala Louis. Mereka sedang berpelukan di atas tempat tidur, berbalut selimut.
Louis mengangguk, dia hanya ingin memastikannya. Kesetiaan Moran pada kakaknya itu tidak perlu diragukan, pria itu selalu memandang William dengan pandangan memuja, penuh kekaguman dan keyakinan yang membuat Louis seringkali mempertanyakan perasaannya, mengingat pria itu pernah bilang dia menyukai dirinya.
Bukan berarti mereka telah menjalin hubungan. Louis tidak ingin mengikat pria itu saat dirinya sendiri begitu egois tidak ingin ketahuan. Sejujurnya dia tidak pernah melarang Moran mendekati wanita, tapi pria itu tidak pernah melakukannya lagi--pria itu begitu menghargainya. Dan jika Moran sesungguhnya mencintai sang kakak? Jujur saja dia tidak keberatan.
"It's ... complicated." Manik hitam Moran menatap langit-langit, menerawang. "Cinta ya?" Louis memperhatikan dalam diam. "Aku mencintainya, itu benar."
Napas Louis tertahan.
Walau dia tidak keberatan, rasanya tetap saja menyakitkan.
"Tapi aku tidak berbohong saat berkata aku menyukaimu sejak lama."
Bagaimana bisa?
"William, dia memberikan diriku yang putus asa sebuah tujuan hidup. Dia penyelamatku, dan saat mendengar visinya ... aku memilih mengabdikan hidupku padanya, Louis. Bagiku ucapannya mutlak. Aku mencintainya, tapi bukan cinta semacam romansa, hanya saja ... aku menganggapnya seperti dewa." Moran menatapnya teduh, "Karenanya aku sangat memahami alasanmu menyembunyikan ini semua. Di atas perasaan kita berdua, mencapai tujuan William adalah yang utama."
Dewa.
Louis terpana, dan di saat bersamaan memahami perasaan Moran. Bagaimana pria itu menggambarkan sang kakak--yang masih menjadi sosok terpenting di hidup Louis--begitu menakjubkan. Dia paham, di atas perasaannya sendiri, rencana William adalah yang utama. Jika diminta memilih menjadi berguna untuk sang kakak atau hidup tenang bersama Moran, sejujurnya tanpa pikir panjang dia akan memilih opsi pertama--dan dia tahu William akan memaksanya memilih opsi kedua, hal itu yang membuat sang kakak begitu istimewa.
"Dan dia alasanku bertemu denganmu. Karenanya," Moran menyentuh pipinya, tersenyum lembut, "Maukah kau menemaniku melayani sang dewa mencapai tujuannya?"
Louis membalas senyuman itu, mengangguk dan menautkan bibirnya pada Moran lembut.
"And Louis James Moriarty." Kedua tangan itu menyentuh wajahnya, mengelus pipinya dan mata hitamnya begitu lembut bertemu merah miliknya. "I love you."
Love.
Jantung Louis berdetak kencang, bibirnya kelu, pernyataan dia ingin membalas hanya saja.....
Louis menenggelamkan wajahnya kembali ke dada Moran. Seluruh tubuhnya terasa panas, dia benar-benar malu dan senang di saat bersamaan. Moran tertawa sambil penepuki kepalanya, membuat Louis semakin mati gaya.
"...Sebastian."
Louis akan memanggilnya demikian hanya jika tidak ada siapapun di antara mereka.
"Ya?" Tanyanya, suaranya begitu menenangkan.
"....jangan lagi meninggalkan jasmu si sembarang tempat di kamarku. Hampir saja ketahuan."
Saat Moran tertawa lepas, Louis memejamkan matanya, menenangkan detak jantungnya. Dia beruntung, semua kamar di kediaman ini kedap suara.
(Yang mereka tidak tahu, William sadar sejak awal, hanya saja dia menghargai keputusan keduanya.)
And his voice is a familiar sound
Louis?
"....Louis? Hey? Are you okay? Lou!"
Dia tersentak saat suara itu memanggilnya agak keras. Ingatannya tiba-tiba saja tenggelam pada masa lampau setelah mendengar ajakan pria itu untuk pergi meninggalkan kota.
"Ajakanku mengejutkanmu? Kau masih marah padaku karena kemarin aku menentangmu?"
Keputusan William itu mutlak.
Dewa.
Benar. Bagi Moran, William sudah seperti dewa yang sosoknya tidak dapat ditentang, sementara Louis menganggapnya sebagai sosok yang paling berharga, saudaranya, kakaknya. Orang yang paling menghargai eksistensinya di dunia.
Dia baru sadar bahwa cara mereka memandang orang itu begitu berbeda. Jika Louis ingin menyelamatkannya, maka Moran hanya ingin mengabdi dan mengikuti perintahnya--dan Moran memilih pergi setelah semua ini berakhir, karena sosok yang dia anggap sebagai dewa telah pergi, dan dialah yang harus membantu pengorbanan diri sang dewa.
".....Louis?" Suara Moran masih terus masuk ke indra pendengarannya. Terdengar penuh kekhawatiran. Tapi lidahnya benar-benar kelu. "....I'm sorry."
Nothing lasts forever
"Maaf, karena aku tidak bisa menentang keputusannya." Bisikan Moran yang penuh dengan rasa sakit membuat Louis ingin menjawab, tapi fakta bahwa sang kakak berniat mati seorang diri, dan Moran yang ingin pergi ... dia benar-benar tidak tahu harus bereaksi apa.
Terlalu menyakitkan.
Sakit karena dia juga memahami perasaan Sebastian Moran.
"Aku ... setelah selesai, hanya ingin pergi dari ini semua. Dari kota ini. Bersamamu."
Louis tidak tahu dengan pasti apa yang membuatnya begitu tertekan sehingga tidak bisa bicara, begitu merasakan sakit saat tahu rencana pria ini, kenapa dia tidak bisa mengiyakan ajakan Moran untuk pergi?
Mereka saling mencintai, kan?
Ah ... Louis bahkan belum pernah membalas ucapan cintanya.
"Mr. Mo--"
"Don't call me like that."
"Sebastian." Louis tersenyum sendu, dia memainkan jemarinya ke luka di bahu pria itu, "Aku tidak pernah marah saat kau mengatakan bahwa ucapan kakakku mutlak hari itu. Jika aku marah, aku tidak akan menerima undanganmu kemari malam ini.
"Hanya saja ... aku tidak bisa menjawabnya. Aku sangat paham bahwa kau menganggapnya sebagai dewa yang ucapannya mutlak, sungguh. Tapi bagiku? Dia kakakku, sosok yang mencintai dan menghargai keberadaanku bahkan saat aku sendiri tidak begitu peduli akan hidup.
"Aku sakit, dia yang terus berada di sampingku. Sosok yang melindungiku, bahkan berniat menjauhkanku dari setiap rencananya. Dia bisa menggunakan siapa saja selain diriku, jika saja aku tidak memintanya, dia akan terus menjauhkanku dari semua itu. Dia selalu ingin keselamatanku....
"Karenanya, aku tidak bisa. Tidak di saat aku masih ingin menyelamatkannya...."
Senyuman Louis melembut, "Aku menghargai keputusanmu melaksanakan tugas dari kakak. Tugasmu ... mungkin yang paling berat."
Dia bisa merasakan tubuh Moran bergetar.
Dia tersiksa. Sama sepertinya. Terlebih ... dengan tugas pria itu--
"Karenanya aku tidak akan melarangmu untuk pergi."
"Louis...."
"Sejak awal aku memang tidak ingin mengikatmu." Louis mengecup bibir pria itu lembut, "Maka apapun keputusanmu, aku tidak akan melarangnya."
You'll see me in hindsight
Tangled up with you all night
Burnin' it down
Pada akhirnya dia memilih pergi malam itu. Andai keadaannya tidak semenyakitkan sekarang mungkin mereka akan 'bermain' sepanjang malam, terbakar oleh gairah. Tapi ... Louis tidak bisa tenang, tidak setelah percakapan itu. Dia tidak tahu jika--jika saja--William benar-benar mati--Louis membenci perandaian ini. Sakit.
Jika ... itu benar--hentikan, dia tidak ingin memikirkannya--apa dia ... akan bersedia mengikuti ajakan Moran?
Louis menemukan Fred sedang menulis surat untuk Sherlock di rumah kaca, pemuda itu baru pulang dari misinya, tampak panik saat Louis memergokinya. Louis mendengarkan alasan Fred, mengangguk paham. Fred benar.
Dan dia lega karena bukan hanya dia yang ingin menyelamatkan sang kakak dari pengorbanan dirinya.
Fred menyarankan Louis untuk mengajak yang lain, ragu, dia tetap mengiyakan. Pagi itu Moran ada di sana, di gang sempit itu menatap keduanya dengan wajah ... tegas?
Bagaimana bisa dia memasang wajah itu padahal tadi malam masih gemetaran sambil memeluknya.
"Louis aside....I'm asking you, Fred." Louis tidak kaget saat fokusnya Moran hanya Fred, mereka sudah membicaran hal ini tadi malam. "are you being serious right now?"
"OF COURSE I'M SERIOUS! ARE YOU SOMEHOW SAYING THAT YOU'RE NOT?! I WANT TO HEAR YOU TELL ME WHY! WHY MORAN?! WHY DIDN'T YOU TELL ME ABOUT THIS FINAL OPERATION?!"
Sekilas, dia bisa melihat mata hitam itu membelalak, Louis tahu jawabannya. Alasannya. Dia ingin menenangkannya, hanya saja Moran langsung mengembalikan ketenangannya sambil mendengarkan ucapan Fred--yang lebih banyak bicara dibanding biasanya. Melihat itu dia memilih untuk menonton, mendengarkan.
Dan perkataan Moran yang ini membuatnya tertegun.
"William feels as thought dying is what it take for him to redeem himself. And so I just wan to do whatever I can to fulfill that final wish of his."
I just wan to do whatever I can to fulfill that final wish of his.
Louis jadi bertanya-tanya, apa yang sang kakak inginkan darinya? Apa yang sebenarnya sang kakak harapkan dari dirinya?
Dia termenung memikirkan itu, sambil sesekali melirik inreraksi mereka--dia tahu jawaban Moran, dia hanya ingin membiarkan Fred melakukan apa yang diinginkannya, lalu Bond datang, setuju dengan pria yang paling tua di antara mereka itu.
Louis tetap membisu. Dia masih memikirkan keputusannya, apa yang akan dia lakukan jika, jika--
'But Louis ... You ... only you. You who isn't stained can still live in the world i will create.'
Suara sang kakak tiba-tiba terdengar di benak. Ingatannya kembali pada malam di mana dia jujur tentang perasaannya.
'I wanted you to live in that world while you could ... my ego wanted, Louis....'
Dia mendapati netra hitam Moran menatapnya.
Ah ... Louis tahu jawabannya.
Saat Moran dan Bond pergi untuk melaksanakan misi mereka, dia masih saja diam, hanya menatap punggung Moran dari belakang dengan senyum pahit.
Dia jadi bertanya-tanya, apa Moran akan mengingatnya, dan malam-malam panas yang mereka lewati ketika kelak ... jika saja ... pria itu pergi?
Someday when you leave me
I bet these memories
Follow you around
"Sudah dimulai." Ucapnya saat Louis baru saja menghampiri pria yang duduk di atas atap bangunan itu.
"...Louis, Is this really okay? You're here."
Louis bahkan belum bicara, pria bersurai hitam itu membelakanginya, tapi seakan karena begitu mengenalnya, dia tahu begitu saja bahwa sosok yang menghampirinnya adalah Louis.
Ah ... bagaimana perasaannya? Harus menembak granat agar jembatan itu rusak, membuat sang dewa terjatuh dengan kedua tangannya sendiri?
Dan keputusan Louis mungkin menambah lukanya. Tapi--
"Yeah..." dia menarik napas, mulai bicara. Louis menyadari pria itu memperhatikannya, tapi sedikitpun Louis tidak berani menatapnya.
Sakit.
"For that reason, no matter what ending lies ahead, I've decided to live on and watch as this world unfolds with my own eyes."
Dan Moran tersenyum, saat Louis meliriknya, pria itu tersenyum kecil dan hanya satu respon yang dia berikan.
".....right....."
Hanya itu, dan Louis tahu Moran memahami keputusannya.
Lalu pria itu melaksanakan tugasnya. Menembak jembatan yang membuat William--sang dewa, dewanya--terjatuh. Sherlock menahannya, beberapa saat, sebelum keduanya akhirnya jatuh ke kedalaman Sungai Thames.
Kakak--
Badannya membeku.
"Louis...." terdengar panggilaan dengan nada yang begitu menyakitkan, menyadarkannya. Louis berbalik, menemukan Moran gemetar memegang senjatanya, "Aku membunuhnya...."
Tidak. Belum pasti.
Louis mencoba mensejajarkan diri dengan Moran, memeluknya, dan pria itu terisak pelan, badan mereka berdua gemetar.
"Maafkan aku...."
Louis ingin menenangkannya, dia tahu hal ini akan menghantui Moran.
Tapi, karena dirinya sendiri masih terlalu shock akan jatuhnya William, suaranya tak dapat keluar.
Pagi itu, mereka hanya berpelukan sambil menangis dalam diam, sebelum Sebastian Moran menghilang di tengah kerumunan.
Meninggalkannya.
Sendirian.
Say you'll remember me
Standing in a nice dress, staring at the sunset, Babe
Tubuh William tidak pernah ditemukan. Dan Sebastian Moran dinyatakan menghilang.
Sudah satu minggu, setelah menghilangnya William dan penyerahan diri Albert, Louis mencoba menguatkan dirinya sambil mengurus banyak hal. Setelahnya, jika sempat, dia akan mengunjungi tempat yang diberitahukan Moran di sebuah kertas sebelum pria itu pergi.
Dan tempatnya selalu berpindah.
Satu minggu. Hanya Louis yang mengetahui keberadaannya sebelum mereka benar-benar berpisah.
Satu minggu, Louis mencoba meyakinkan bahwa kepergian William bukan salah pria itu. Dia hanya melaksanakan peranannya. Dan Louis tidak pernah membencinya.
Tidak sedikitpun.
"You're really good at hiding, Sebastian." Ucapnya akhirnya.
"Pangkatku dalam militer bukan tanpa alasan, Louis."
Matanya memperhatikan Moran yang berkemas dihiasi cahaya senja, saat dirinya sendiri merapikan pakaian setelah seharian menghabiskan waktu bersamanya. Hanya ada sebuah tas dan senapan. Ini hari terakhir kebersamaan mereka yang dihabiskan diam-diam.
Ini saatnya.
"Don't you dare to forget me, Sebastian Moran."
Moran terdiam. Berbalik, menatap Louis lembut. "I'll remember you." Senyumnya sendu. "Always. Every day, every night, even in my dreams."
Louis menggigit bibirnya, balik menatap netra hitam itu setegar mungkin, "Are you seriously flirting, like, now?"
"Oh c'mon, you're gonna miss that things."
Red lips and rosy cheeks
'Bibirmu cukup merah untuk ukuran seorang pria.'
'H-huh?'
'Dan warna matamu cantik terkena cahaya senja.'
'.....Are you flirting right now?'
'Just being honest. And you looks so cute, Lou. Your cheeks are like roses.'
Louis tersenyum kecil mengingatnya, benar, dia pasti akan merindukan gombalan-gombalan--atau kejujuran--Sebastian Moran saat pria itu pergi. Moran yang menggodanya, Moran yang selalu menghidupkan suasana dengan tingkah konyolnya, Moran yang seringkali marah saat dipanggil 'Mr. Moran' olehnya jika mereka hanya berdua....
"Louis." Dia merasakan sentuhan di pundaknya, mata pria itu berkaca-kaca, tangan Moran gemetar, nada bicara penuh luka. "Maaf...."
Kepergian William sama-sama melukai mereka. Dan keduanya memiliki cara berbeda untuk menghadapinya.
"Aku mengerti." Louis mendekat, membiarkan Moran memeluknya. "Kau hanya melaksanakan peranmu. Aku tidak pernah marah. Tidak sedikitpun." Louis berbisik, menenangkan. Pelukan itu terlepas. Dia mendongakkan kepalanya, saat Moran sedikit membungkuk.
Tangan besar itu menyentuh pipinya, mengelus luka di pipinya, sebelum dia rasakan jemari itu turun ke bibirnya. Louis dapat melihat tatapan Moran meminta persetujuan, dan Louis memejam. Menahan rasa sakit yang tiada hentinya menghantam dada. Bibir mereka bertaut, lembut, menyalurkan sedikit penenang atas rasa sakit karena sosok yang paling penting bagi mereka telah hilang setelah melaksanakan rencana terakhirnya. Dapat dia rasakan Moran menghapus air matanya.
"I love you." bisik Moran saat tautan mereka terlepas, Louis mengigit bibirnya, sebelum berucap lemah.
"I know."
Kenapa mereka harus memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi rasa sakit?
Say you'll see me again
Even if it's just in pretend
"Sebastian Moran." Louis menarik napas, "I ... All this time, I am deeply in love with you."
Moran tampak terkejut. Itu adalah ungkapan pertamanya setelah sekian lama. Dapat dia lihat manik sosok di hadapannya membola sampai akhirnya tersenyum.
"I know."
Mereka tertawa karena reaksi itu.
Louis ingin menangis lagi.
Moran memeluknya kembali. "Senang akhirnya bisa mendengarnya."
"Ironic." Louis baru bisa mengatakannya sesaat sebelum mereka berpisah.
".....yeah." Dia merasakan kecupan di puncak kepalanya, "that's enough."
"Hmm." Dia menghirup napasnya dalam, menikmati aroma Moran sebisa mungkin dalam benaknya.
"I'll really miss you, Louis James Moriarty."
"And I'll do too." Bisiknya pelan. "Aku harap bisa bertemu denganmu lagi...."
"Hmm." Dia merasakan pelukan Moran menguat, "mungkin ... aku akan menemuimu di dalam mimpi."
Ah.... masih saja.
Kenapa di saat seperti ini pria ini masih sempat-sempatnya menggodanya?
"What kind of dream, Sebastian Moran?" Tanyanya, penasaran.
Louis masih mati-matian menahan air matanya yang lagi-lagi ingin menetes.
Matahari sudah sepenuhnya terbenam, dan hanya ada keheningan, sebelum dia merasakan napas Moran di telinganya, berbisik rendah, "how about ... in your wildest dream?"
Badannya seketika bergetar menahan tawa. Dia benar-benar akan merindukan pria ini. Ya tuhan....
Air matanya menetes bersamaan dengan tawanya yang akhirnya keluar.
Masih saja.
"Louis?" Moran melepas pelukan mereka, tampak bingung
"Maaf." Louis terkekeh, perasaannya begitu campur aduk sekarang, "hanya saja ... lucu."
Sakit.
Moran ikut tertawa, menepuki kepalanya, "Setidaknya aku bisa melihatmu tertawa sebelum pergi.... aku selalu menyukainya."
"Uhm...." Louis mengangguk, sudah saatnya. "Sebastian."
"Hmm?"
"Even ... in your wildest dreams, as long as you remember me.... I'm fine with that."
"Lou...."
"Just--don't forget me, okay?"
"Louis--"
"Selain Kakak, kau salah satu orang yang mengakui eksistensiku. Orang yang membuatku bisa jujur pada Kakak di malam itu. Sosok yang menganggapku penting hingga kau ingin mengajakku pergi bersamamu--andai aku menerimanya."
Ah ... dia menangis lagi.
"Tapi aku ... aku tidak bisa meninggalkan dunia yang kakak ciptakan, aku harus menjaganya. Maaf...."
"Louis, kita sudah saling memahami--"
"Karenanya! Jangan...." suara Louis bergetar, "jangan pernah melupakan eksistensiku, okay...? Bahkan ... walau kau hanya mengingat malam-malam yang kita habiskan bersama.... tidak masala--"
Louis terdiam saat Moran memotong perkataannya dengan ciuman. Tidak ada lumatan, hanya menyatukan bibir mereka sebagai penenang.
"Tidak akan." Bisik Moran saat ciuman itu terlepas seraya menghapus air matanya, "I promise you, I won't."
Dia memejam saat Moran mengecup kedua matanya, lalu keningnya, puncak kepalanya, "Jangan menangis lagi...." bisiknya. "Aku lebih senang saat kau tersenyum. Perbanyaklah tersenyum di masa depan...."
Tanpa kedua kakaknya dan seorang Sebastian Moran, bagaimana bisa dia melakukannya?
"Hidup, lakukan apa yang kau ingin demi menjaga dunia yang William perjuangkan."
Memang itu yang dia inginkan. Hanya saja--
"Kami semua akan mengawasimu, di mana saja, aku akan tetap mengawasimu, bahkan kakakmu di manapun mereka berada."
Lalu kenapa kau dan mereka harus tetap pergi?! Dan kenapa aku tidak bisa mencegahnya--
"I'll see you again, Louis James Moriarty, I promise you."
Ah....
".....Kapan?" Tanyanya, dan dapat dia dengar suaranya menjadi serak.
Sebastian Moran hanya menatap manik delimanya dalam penuh rasa bersalah, memberikan Louis suatu kesimpulan bahwa pria itu sendiri tidak tahu jawabannya.
"Sudah waktunya. Tumpanganmu akan meninggalkanmu jika kau tidak segera pergi dari sini." Louis memilih Moran tidak menjawabnya, dan pria itu tersenyum dengan penuh rasa bersalah. Dia mengabaikannya. Berjingkit, memberikan ciuman terakhir di pipi pria itu.
"Selamat tinggal."
"...yeah." Terdengar helaan napas, "Selamat tinggal, Louis." Moran mengecup keningnya, lalu mengambil barang-barangnya dan pergi. Louis hanya menatap punggung pria itu dalam diam, sebelum ikut pergi dari tempat ini dan berjalan ke arah yang berlawanan dari pria itu, sambil menguatkan tekad untuk tetap hidup dan menjaga dunia ini.
Tanpa berbalik.
Dan suara Sebastian Moran terus hinggap di kepalanya.
Menyakitkan.
Say you'll remember me
"I'll remember you. Always. Every day, every night, even in my dreams."
Louis yakin dia juga akan terus mengingat sosoknya.
Standing in the nice dress staring at the sunset, Babe
'Di sini pemandangan matahari terbenamnya cukup cantik.'
'Kau belum pernah melihatnya?'
'Mari kita lihat bersama. Aku sering merokok di sini saat senja.'
Langit sudah mulai malam sekarang, tapi ... perpisahan mereka tadi juga di kala senja, kan?
Red lips and rosey cheeks
'You looks so cute, Lou. Your cheeks are like roses.'
Kenapa dia harus selalu merona dengan gombalan pria itu?
Say you'll see me again even if it's just in your...
'Mungkin ... aku akan menemuimu di dalam mimpi.'
'How about ... in your wildest dream?'
Louis tersenyum, dia benar-benar tidak masalah jika pria itu hanya memimpikannya dalam sebuah pergulatan panas, selama eksistensinya tidak dilupakan....
I'll see you again, Louis James Moriarty, I promise you.
Sungguh, tidak masalah jika Moran hanya menemuinya dalam mimpi-mimpi terliarnya, di malam-malam panas yang mereka habiskan bersama.
Wildest dreams.
Ah~ha.
