Work Text:
GLOSARIUM
Andosol : Tanah vulkanis berwarna hitam yang terdapat di area pegunungan berapi.
pH : Derajat kemasaman/kebasaan.
from: Namjoon Kim <[email protected]>
subject: Daily Report, 1 November 2019
Selamat malam, Yoongi.
Hari ini aku bantu penelitian Seokjin. Sampel tanah andosol dari Jeju baru datang tadi siang. Seokjin minta tolong Jeongguk untuk mengecek kandungan pH. Kau ingat Jeongguk, kan? Anak magang yang waktu itu membantumu memesan makan siang. Rencananya besok aku mau bantu Seokjin untuk uji kandungan. Kami masih harus menunggu selesai periode inkubasi, tapi pekerjaanku masih banyak yang belum selesai jadi aku anggap saja semesta sedang memberiku waktu untuk istirahat di sela-sela jeda kegiatan yang tidak pernah berhenti.
Bagaimana kabarmu? Email terakhir yang kubaca darimu kemarin malam, kau bilang kau sedang menginap di dekat rumah Anggota Dewan Park Jungmoo, kan? Semoga kau segera dapat keterangan orang itu, ya, Yoongi. Kasihan betul pacarku harus capek-capek menyewa motel. (Tolong protes ke Sejin- hyung untuk menaikkan gajimu kalau kau masih harus menginap menggunakan uangmu sendiri).
Jeongguk datang lagi padaku hari ini. Niatnya anak itu hendak meminta saran perihal agenda kencannya dengan Kim Taehyung di akhir pekan. Seokjin- hyung lagi-lagi membuat keributan yang tidak perlu dan meminta Jeongguk untuk menjauhi Taehyung sebab katanya:
“Adikku terlalu bagus untuk orang macam kau, Jeon . ”
Aku sudah memarahinya karena kalimatnya terdengar kasar, tapi kau tahu sendiri bagaimana Seokjin- hyung . Dia selalu menemukan cara untuk mendramatisir segala sesuatu. Mungkin kalau kau pulang nanti, kau bisa coba marahi dia. Aku akan menantikan hal itu dengan sabar.
Jadi, bagaimana harimu, Yoongs? Aku tunggu balasan e-mailnya.
Dengan penuh cinta,
Kim Namjoon.
P.S. Seokjin- hyung bilang kalau bertukar e-mail dan mengirim daily report membuat kita terlihat seperti atasan dan bawahan. Tapi Jeongguk bersikeras bahwa kebiasaan ini terdengar romantis.
P.S.S. Aku setuju dengan Jeongguk.
from: Min Yoongi <[email protected]>
subject: Daily Report, 2 November 2019
Hai, Namjoon!
(Tolong bayangkan wajahku yang berseri-seri meskipun aku menulis ini dengan rasa lelah luar biasa.)
Aku mau mengawali e-mail ini dengan bilang kalau aku rindu sekali padamu. Aku juga setuju dengan Jeongguk. Menulis e-mail untukmu selalu jadi pelepas lelahku yang paling ampuh, Joon. Aku senang menghabiskan hari sambil menunggu balasan. Komunikasi di antara kita seakan punya makna yang lebih dari sekadar tukar sapa. Meski tentu saja, tidak ada yang dapat mengalahkan pertemuan.
Aku rindu sekali padamu.
Seokjin- hyung selalu punya alasan untuk menjadi bitter dalam menanggapi segala sesuatu. Jadi kita anggap saja kebiasaannya merecoki kencan Taehyung dan Jeongguk, juga sikap menyebalkannya terhadap kebiasaan kita, sebagai bentuk rasa iri. Bilang padanya kalau ia perlu mendapat pacar segera. Jung Hoseok tetangga apartemen kita yang bekerja sebagai polisi itu sepertinya pilihan yang bagus. (Tolong bilang pada Seokjin- hyung untuk berhenti menjadi pengecut dan terobos saja).
Seperti yang kukabarkan padamu lewat e-mail dan telepon, aku masih di depan rumah Park Jungmoo. Ia menolak segala jenis wawancara dan menunggu di depan rumahnya terdengar seperti hal yang sia-sia karena lelaki itu tidak kunjung menampakkan batang hidung. Asupan makananku masih aman. Sesekali Jimin akan datang dan mengantar beberapa lauk-pauk. Pesanan makanan darimu siang tadi sudah kumakan tanpa sisa. Makanan-makanan itu berasal dari kantong Sejin- hyung , jadi kau bisa tenang dan berhenti mendesakku untuk menyerahkan surat resign .
Mengisi waktu luang, aku membantu Sejin- hyung mengoreksi berita-berita yang akan naik. Sewa kamarku selesai besok siang, dan aku akan kembali ke apartemen kalau Park Jungmoo masih belum mau menerima permintaan wawancara. Jurnalis-jurnalis dari hampir semua media di Seoul masih memadati kediamannya. Kupikir sia-sia saja kalau aku terus bersikeras. Lagi pula dua hari lagi sudah jadwal sidang kedua. Kami bisa melakukan in-depth reporting setelah sidang kedua selesai. Harus kuakui, kasus ini sedikit rumit. Para pihak yang terlibat pun, seperti yang kau lihat di televisi, tidak bisa diremehkan. Untuk menunggu selama ini rasanya bukan hal yang mengejutkan lagi.
Bilang pada Seokjin- hyung , kudoakan yang terbaik untuk penelitiannya kali ini. Tolong ingatkan untuk tidak mencampurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan, (agar dia berhenti menyuruh Jeongguk melakukan ini dan itu dengan dalih bekerja padahal kita semua tahu ia hanya sedikit overprotective terhadap Taehyung). Sampaikan juga salamku pada Hoseok. Maaf belum sempat menepati janji untuk minum bersama sampai kini.
Semoga aku bisa pulang segera.
Dari yang mati-matian rindu padamu,
Min Yoongi.
from: Kim Namjoon <[email protected]>
subject: Daily Report, 4 November 2019
Untuk Min Yoongi yang aku cintai.
Uji kandungan selesai sekitar jam 7 malam. Aku duduk di salah satu kamar asrama sekarang, sehabis mandi, menulis untukmu. Maaf karena tidak sempat menulis kemarin karena ada banyak sekali hal yang harus kulakukan di kampus. Semoga kau mengerti sebab aku hanya sempat menelepon sebentar sebelum makan malam.
Kalau tidak salah ingat dari percakapan kita kemarin, mungkin sekarang kau sudah kembali ke apartemen dan sedang beristirahat. Bukankah hari ini adalah jadwal sidang korupsi Park Jungmoo? Atau besok? Aku kehilangan hitungan hari, maafkan aku kalau pesanku terbaca tidak masuk akal sewaktu kau membukanya nanti.
Aku membawa hoodie hitam milikmu. Aku yakin kau kesulitan menebak yang mana karena hampir semua hoodie milikmu berwarna hitam. Aku membawanya karena wanginya hampir sama denganmu. Tidur sambil memakai hoodie milikmu membuatku merasa bahwa kau sungguh-sungguh ada di sini. Sebab kalau boleh jujur, Yoongi, aku betul-betul rindu padamu sampai rasanya hampir gila. Tapi menilik dari kesibukanmu yang tidak juga selesai, aku sangsi kau bisa pulang dalam waktu dekat.
Ibu mengirimkan japchae tadi sore. Seokjin dan Jeongguk makan seolah mereka belum pernah makan selama sebulan. Sepertinya tinggal terlalu lama di dalam laboratorium dan melakukan hampir segala uji kandungan hanya bertiga membuat kami sedikit kewalahan.
Aku harap kau pulang segera. Sehat selalu, Yoongi.
Dari yang mencintaimu,
Kim Namjoon.
from: Kim Namjoon <[email protected]>
subject: Daily Report, 7 November 2019
Kepada Min Yoongi.
Halo, Yoongi? Sudah tiga hari sejak e-mailku tidak kau balas. Ku asumsikan kalau kau tidak punya waktu untuk sekadar mengecek. Tapi ketimbang marah lantaran aku tidak kunjung dapat jawaban, sejujurnya aku lebih merasa cemas. Kau selalu lupa memenuhi kebutuhan primer manusia (seperti makan, minum, dan mandi) sewaktu kesibukan memerangkapmu. Dan percayalah, seandainya pekerjaanku tidak menumpuk saat ini, aku sudah berada di dalam kereta menuju Seoul untuk menarik pantatmu pulang dan membiarkan kau beristirahat.
Pekerjaanku berjalan dengan lancar. Profesor Bang memintaku untuk merevisi jurnal, lagi, dan aku harus lembur dua hari lantaran ada beberapa data yang harus kuambil ulang. Pekerjaanku melelahkan, tapi aku masih bisa bertahan. Seokjin- hyung memasak bibimmyeon kemarin siang. Taehyung datang pukul tiga, dan kau bisa bayangkan betapa berisik tempat ini tanpa perlu aku jabarkan, bukan?
Baumu di hoodie-hoodie yang kau tinggalkan terlipat rapi di dalam lemari sudah memudar. Jeongguk bertanya padaku bagaimana caranya baju-baju itu muat, mengingat perbedaan ukuran kita. Aku enggan menjelaskan padanya bahwa kau selalu membeli pakaian dengan ukuran tubuhku karena kau menyukai pakaian-pakaian longgar. Jadi aku hanya tertawa.
Aku tidak tahu apakah kau akan ingat, tapi lima hari lagi sudah anniversary kita yang ketujuh. Aku akan lihat apakah aku bisa mengunjungimu hari itu, berjaga kalau-kalau kau tak bisa pulang dalam waktu dekat.
Aku merindukanmu.
Salam sayang,
Kim Namjoon.
from: Kim Namjoon <[email protected]>
subject: Daily Report, 9 November 2019
Kepada yang kurindukan, Min Yoongi.
Aku asumsikan bahwa kau masih sangat sibuk, karena setelah berkali-kali kucek kotak masuk di e-mailku, tidak ada satupun balasan darimu. Aku tidak masalah, Yoongi, sungguh. Ini bukan pertama kalinya kau tidak memberiku kabar lantaran pekerjaan yang menumpuk. Bukan juga berarti aku tidak pernah hilang kabar. Percayalah bahwa aku betul-betul tidak masalah. Aku hanya sedang merindukanmu saja.
Dua hari lalu, aku membeli parfum yang kau pakai. Wangi bergamot, lemon dan pinus. Aku menyemprotkan pengharum pakaian itu pada hampir seluruh sweater dan hoodie yang kau punya; yang tersimpan dalam lemari. Tapi entah mengapa wanginya berbeda. Mungkin karena wangi itu tidak datang darimu, aku tidak tahu pasti. Hanya saja alih-alih mengobati rindu, aku justru malah makin merindukanmu.
Seokjin- hyung sedang bersiap-siap untuk melakukan pengamatan pada tanah yang sudah selesai masa 7 hari inkubasi. Aku tidak sempat membantunya karena rupanya jurnalku masih harus banyak mendapat revisi. Profesor Bang bersikeras bahwa pembahasan yang kuberikan masih terlalu bertele-tele dan kurang ringkas. Aku tidak keberatan lembur bekerja, hanya saja belakangan ini pulang ke rumah seperti sebuah kewajiban bagiku. Tubuhku rasanya lelah sekali, meski aku tidak merasa bahwa pekerjaanku berperan banyak dalam hal ini. Pekerjaanku tidak terlalu menumpuk, kok. Hanya saja lelahku rasanya tidak juga enyah. Kalau kau ada di sini, mungkin kau akan mengomel soal jam istirahatku yang terpangkas habis. Ah, Yoongi, tidak kusangka akan ada waktu dimana aku amat sangat merindukan omelan-omelanmu.
Aku mengirim e-mail hari ini untuk bilang bahwa aku tidak bisa ke Seoul di tanggal 12. Kau tentu saja sudah tahu karena kita sempat beberapa kali bertukar pesan di tengah kesibukanmu liputan. Aku hanya sedang ingin meratapi nasib saja, Yoongs. Sedih sekali tidak bisa menghabiskan anniversary bersamamu. Aku harus segera menyelesaikan jurnal kalau mau mengambil cuti. Kurasa aku akan menjadikan hal itu motivasi selama bekerja. Tidak ada yang kuinginkan lebih dari bertemu denganmu sekarang.
Tolong jangan jadikan rinduku sebagai beban, ya, Yoongi? Istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi.
Yang mencintaimu,
Kim Namjoon.
Sewaktu Yoongi pulang, lampu tengah berada dalam keadaan mati. Rasanya sudah lama sekali sejak Namjoon menyambutnya pulang. Biasanya laki-laki itu akan duduk di sofa ruang tengah, menonton saluran televisi seperti Grey’s Anatomy atau Good Doctor sambil memeluk semangkuk berondong jagung rasa karamel. Tidak ada Namjoon di ruang tengah sewaktu Yoongi membuka kunci. Tidak ada tawa dan ucapan selamat datang, serta pelukan menyambutnya setelah ia mengucap salam. Hanya ada ruang tengah yang dingin dan sepi, serta samar-samar suara musik datang dari dalam kamar. Just My Imagination dari The Cranberries.
Namjoon berbaring di atas ranjang dengan hoodie Yoongi melekat pada tubuhnya. Ia memeluk guling dan sembunyi di balik selimut, tidur dengan tenang. Yoongi terkekeh pelan, lantas meraba speaker untuk mematikan musik. Kamar itu masih seperti terakhir kali Yoongi bisa mengingat. Masih menyimpan begitu banyak memori, masih hangat, masih dipenuhi wangi vanili, teh hijau dan lemon--wangi yang menggambarkan Kim Namjoon dengan sempurna.
Ranjang sedikit bergoyang sewaktu Yoongi mengambil posisi duduk di sisi. Tetes-tetes air yang menggantung di ujung rambutnya jatuh ke permukaan seprai. Namjoon masih bergeming, masih hanyut dalam mimpi malam harinya yang tidak bisa Yoongi baca. Tangannya terangkat mengusap helai-helai rambut lelaki itu yang jatuh di atas bantal. Ah, hangat betul. Barangkali begini lah rasanya memiliki rumah; memiliki Namjoon. Bukan berarti ia tidak pernah memiliki laki-laki itu sebelum malam ini, sebelum hidungnya penuh oleh baru vanili, teh hijau dan lemon. Namun jarak memburamkan segala rasa memiliki yang Yoongi pegang erat-erat.
“Yoongi?” suara serak Namjoon terdengar sedikit bergema di kamar yang hening. Laki-laki itu menarik tangan Yoongi mendekat, menghujani telapak tangannya dengan kecupan kupu-kupu. “Kau pulang?”
Yoongi terkekeh kegelian. Meski tetap tak ia tarik tangannya sebab kecupan Namjoon tak pernah gagal meluruhkan rasa penat dan lelahnya. “Tentu saja pulang. Mana mungkin aku tidak pulang kalau kau rindu berat begini?”
“Kau membaca semuanya?” Namjoon bertanya lagi. Ia pejamkan mata, menghirup kembali wangi bergamot, lemon, dan pinus yang tidak ia temukan sekalipun berkali-kali ia semprotkan parfum dengan wangi hampir serupa. Wangi Yoongi, kata Namjoon sewaktu diminta mengklasifikasikan. Wangi itu eksklusif hanya datang dari kulit Min Yoongi seorang.
“Selalu,” jawab Yoongi. Ia bawa tubuhnya membungkuk, lantas menghujani Namjoon dengan ciuman-ciuman ringan di sekitar pelipis dan dahi. “Maaf ya, aku tidak bisa balas. In-depth reporting langsung dimulai setelah sidang kedua selesai, dan Sejin- hyung memintaku untuk benar-benar fokus kalau aku mau mengambil cuti.”
“Serius?” Namjoon bangkit tiba-tiba. Tangannya menggenggam jemari Yoongi dengan erat. “Tidak bohong, kan?”
Yoongi terkekeh lagi. “Memangnya aku pernah berbohong padamu?” ia bertanya balik. “Sekarang lepaskan dulu tanganku, boleh? Aku mau ganti baju dan tidur.”
“Hanya tidur saja?” Suara Namjoon sedikit serak sewaktu ia melontarkan kalimat itu; tanya sederhana berbalut godaan. “Kita bisa melakukan hal lain kalau kau mau.”
Yoongi mengangkat sebelah alisnya. “Oh, ya? Seperti apa?” ia balas memancing. Masih dalam balutan jubah mandi berbahan fleece , dengan tubuh sepenuhnya polos, Yoongi merangkak menaiki pangkuan pacarnya.
“Seperti ini?”
Tanpa membuang waktu, tangan Namjoon merangkak menaiki punggung Yoongi; berhenti pada tengkuk lelaki itu untuk kemudian menarik wajahnya mendekat.
“Tidak capek?” Namjoon bertanya. Embusan napasnya terasa menggelitik permukaan wajah Yoongi. Matanya menatap lapar pada bibir laki-laki yang lebih tua. “Kita bisa berhenti kalau kau mau.”
Yoongi terkekeh. Dengan sorot berani, ia jilat permukaan bibir Namjoon, yang dibalas kekasihnya dengan ciuman lapar. Yoongi merasa seolah ada kembang api meledak dalam dirinya sewaktu lidah Namjoon menerobos masuk, membelitnya dengan putus asa.
“Tidak kalau itu untukmu,” balas Yoongi di tengah ciuman panas mereka dengan napas tersengal.
Namjoon terkekeh sebelum kembali menjelajahi mulut Yoongi sekali lagi. Pada ciuman itu, rasa kantuk Namjoon luruh sempurna. Pada desah yang lolos lewat kedua bibirnya yang terbuka, letih Yoongi lenyap seutuhnya.
FIN.
