Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-07-22
Words:
1,322
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
6
Hits:
326

"Nah, kan?"

Summary:

Jing Long cuma mau bilang ke Zhang Xinyao; kalau memang pada akhirnya nggak bakal terwujud, jangan umbar janji-janji palsu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Long’er, besok pas konser mau dibawain apa?”
Jing Long yang sedang asyik makan eskrim menoleh dengan alis terangkat, “Lho, Ge? Kamu serius mau dateng? Jauh lho dari Shanghai ke Chengdu.”
Zhang Xinyao membalas tatapan Jing Long dengan senyum simpulnya, “Aku udah hitung waktu perjalanannya, kayaknya aku masih sempet dateng ke konser kamu. Konsernya malam, kan?”
“Iya, malam. Tapi, biasanya sering ada delay pesawat karena belakangan ini sering cuaca buruk. Apa sempat…“
“Sempat, kok. Pasti bisa. Kurasa nggak ada delay, sih. Semoga.” Zhang Xinyao berusaha meyakinkan Jing Long kalau dia pasti akan datang.
Jing Long tersenyum agak menantang, “Hoo, yaudah kalau emang seyakin itu, aku sih nggak masalah. Cuma mikir aja, Gege baru kelar kerjaan langsung terbang lagi, jangan sampai sakit sih.” Jing Long kembali fokus menghabiskan eskrimnya sebelum makin leleh.
“Hee, tumben khawatir.” Zhang Xinyao menyeringai nakal.
Alis Jing Long terangkat lagi. “Apa sih… aku nggak khawatir.”
Dari kejauhan Jing Long menyadari ada sekitar dua tiga orang, yang ia sinyalir adalah fans— diam-diam sepertinya mengikuti mereka sambil membawa kamera.

 

Wah, harus ditegasi, nih, batinnya.

Ia pun bertolak ke arah orang-orang yang mengikuti mereka dengan langkah cepat. Zhang Xinyao yang menyadari Jing Long bergerak menjauh darinya, awalnya tidak paham ada apa, tapi ketika dia melihat ke arah Jing Long bertolak, dia langsung tahu kalau ada yang mengikuti mereka sejak tadi.



“Jangan difoto, ya. Mohon kerjasamanya. Ini private time. Tolong hargai.” Jing Long mendekati tiga orang gadis yang dia sinyalir mengikuti mereka. Ketiga gadis itu menatap Jing Long agak gugup, tapi kemudian mereka tertawa-tawa. “Nggak kok, tenang aja, kami nggak foto apa-apa, cuma lihat kalian lagi jalan berdua dan kebetulan arah jalan kita sama. Kita nggak ngikutin kalian, kok. Iya, kan?” salah satu dari gadis itu bersuara, kemudian menoleh ke teman-temannya mengisyaratkan meminta dukungan, yang kemudian diikuti anggukan dari teman-temannya, yang masih diiringi tawa. “Kita nggak akan posting apa-apa.”
Jing Long menghembuskan napas, meski mereka sudah bilang begitu ia merasa harus tetap sedikit lebih tegas lagi, “Jangan cuma omongan doang, ya. Aku beneran akan marah kalau ada up posisiku di sini ke media sosial. Nanti aku akan cek Weibo, lho. Ini bukan jadwal pekerjaan.”
Tanpa Jing Long sadari, Zhang Xinyao ternyata menyusulnya dan kini sudah ada disampingnya.
“Halo, maaf ya ini bukan jadwal kerja, ya. Jadi mohon kerjasamanya jangan foto apapun dan jangan up apapun di media sosial. Aku tahu kalian semua senang bertemu kami di sini dan ingin berbagi, tapi kalian pasti mengerti kalau ini bukan hal yang bisa dibagikan tanpa seizin kami. Jadi tolong banget, ya. Janji, ya?” Berbeda dengan Jing Long yang menghadapi ketiganya dengan nada tegas, Zhang Xinyao mencoba memberitahu mereka dengan nada lebih bersahabat.
Menghadapi situasi ‘dikepung’ langsung oleh artis yang mereka ikuti bahkan sampai ditegasi seperti ini, ketiga gadis itu saling berpandangan dan akhirnya mengangguk sungguh-sungguh, berjanji bahwa mereka takkan mem-posting apapun soal pertemuan ini di media sosial.
Jing Long dan Zhang Xinyao mengangguk paham dan memberikan mereka tanda tangan serta foto bersama --sedikit fanservice supaya mereka tidak terlalu tertekan— lalu ketiga gadis itu pun pamit dan meninggalkan mereka berdua.
Setelah ketiga penggemar itu sudah menjauh, keduanya menghela napas panjang. Ada-ada saja. Padahal acara jalan-jalan ke Changsha ini tidak mereka beritahu ke siapa-siapa.

 


Beberapa jam sebelum konser Jing Long di Chengdu.
*percakapan via WeChat*
PING!
Zhang Xinyao: Long’er… ternyata pesawatku delay…
Zhang Xinyao: Tapi untung delay-nya nggak lama, kok.
Zhang Xinyao: Kurasa aku masih bisa tepat waktu datang ke konsermu.
Zhang Xinyao: Ada surprise. Hahaha.
Jing Long menghela napas panjang, “Nah, kan?”
Ia memutar bola matanya ke atas sambil menjawab pesan dari Zhang Xinyao.
Jing Long: Ge, kalau nggak sempet juga jangan dipaksain, nggak apa-apa. Besok kita juga masih bisa ketemu.


Sebelum konser dimulai, Jing Long mengadakan Weibo livestreaming dan banyak ex-trainee Chuang yang ikut gabung dalam live hari itu; Xie Xingyang, Zheng Mingxin, Huang Kun, Yu Gengyin, Hu Yetao, Gan Wangxing, dll. Seperti biasa, Jing Long dan drama queen habit-nya, baru awal mulai saja sudah banyak mengeluh. Ia membahas banyak hal seperti; lagu barunya yang musiknya dibuat oleh Huang Kun, menagih hadiah ulang tahun dari teman-temannya padahal mereka sudah mengirimkan standing flower untuk konsernya, menawari Xie Xingyang untuk promosi lagu baru padahal lagu Xie Xingyang saja belum rilis, ‘bertengkar’ dengan Gan Wangxing dan Hu Yetao perkara filter, memulai agenda ‘menjadikan Yu Gengyin sebagai kakak iparnya’ ketika Yu Gengyin gabung, pamer ke semuanya soal bunga dari Zhang Xinyao padahal ternyata bukan itu bunga yang dimaksud, pamer juga ke Zheng Mingxin soal atmosfir chatting-annya dengan Zhang Xinyao yang pasti selalu dibalas, dan segala ketidakjelasan Jing Long yang lain yang tak bisa disebutkan satu-persatu.
Segala pertunjukkan drama di livestreaming Jing Long terhenti sejenak saat Zhang Xinyao mulai gabung.
“Oh, Zhang Xinyao!” Jing Long sumringah. “Kamu lagi di mana?” seru Jing Long dengan suara lantang.
Zhang Xinyao langsung pasang gestur “sst”, menyuruh Jing Long mengecilkan suaranya, “Aku lagi di dalam pesawat”, ia membalas Jing Long dengan suara berbisik.
“Oh iya, aku tahu. Pesawatmu delay ‘kan, Ge?”, Jing Long pun membalas dengan suara berbisik.

Dan mereka mulai bercakap-cakap dengan berbisik-bisik.

“Iya, tapi ini sudah oke, kok.”
“Yaudah kalau gitu hati-hati, langsung matikan saja handphone-nya”
“Aku dateng untuk ngucapin selamat ulang tahun buat kamu”
Jing Long terkesiap sedikit tapi dia berusaha tetap tampil tenang.
“Iya, makasih. Udah, tutup aja.”
“Sampai jumpa nanti, ya” Zhang Xinyao bermaksud mengakhiri partisipasinya di livestreaming dengan satu kissbye dan kedipan ganteng. Tapi sayang Jing Long malah tidak menyadarinya (lebih tepatnya dia berusaha kalem jadi pura-pura tidak sadar)
Zhang Xinyao harus mengulang sampai tiga kali, tiga kissy face dan kedipan ganteng, baru Jing Long ‘menyerah’ dan akhirnya bereaksi –yang tentunya sangat berlebihan karena ia berlagak seperti mau muntah— diiringi Zheng Mingxin dan Huang Kun yang juga salah tingkah dan tak tahu harus bereaksi apa di tengah lovebird— ehem, maksudnya dua orang tak kenal tempat ini.
Setelah sukses membuat Jing Long bereaksi, akhirnya Zhang Xinyao keluar dari livestreaming.


30 menit sebelum konser dimulai.
Jing Long diam-diam menyadari stafnya sepertinya sedang menyiapkan sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Ia sudah tahu bakal ada kue yang dibawa ke atas panggung dan lainnya tapi ada sesuatu yang sepertinya di luar rencananya hari ini dan sepertinya baru saja mulai disiapkan. Jing Long pura-pura tidak menyadarinya. Tapi ia sedikit berspekulasi, jangan-jangan ini yang dimaksud surprise


Konser sudah berlangsung hingga ¾ jalan dari durasi, tapi apa yang sempat Jing Long ‘harapkan’ tak juga kunjung datang. Jing Long mulai sedikit jengkel. Daripada jengkel, sebenarnya ia lebih kepada malu pada dirinya sendiri yang terlalu jauh berspekulasi dan berharap sesuatu yang kosong. Kejengkelannya agak memuncak saat kerumunan fans di depan dia menyebut-nyebut Zhang Xinyao. Hingga akhirnya dengan nada setengah bercanda, ia menjawab seruan para fans, “Janjinya mau dateng tapi sepertinya nggak. Nanti aku mau hapus akun WeChat-nya”. Sepenggal kalimat dari Jing Long membuat kerumunan penonton pun riuh dan tertawa.


Jing Long tahu ia harusnya tak boleh marah, apalagi dia tahu Zhang Xinyao sampai menyediakan waktunya jauh-jauh dari Shanghai untuk menemui Jing Long hari ini (meski pada akhirnya tak jadi datang ke konser) dan besok. Bisa dibilang ia marah pada dirinya sendiri yang merasa kesal pada gege-nya itu. Sejujurnya ia sedang berperang dengan perasaannya sendiri. Sisi dirinya yang lain mencoba ‘memberikan pembelaan’ kalau dia pantas merasa kesal karena Zhang Xinyao sudah berkali-kali meyakinkannya bahwa pasti akan datang, apapun yang terjadi, akan tetap diusahakan datang. Bahkan sampai bilang akan memberikan surprise padanya di atas panggung (meski ini semua 100% hanya asumsi pribadinya, tidak ada yang bilang seperti itu). Jadi, sisi dirinya yang bilang “jangan marah” dan sisi dirinya yang bilang “boleh saja marah” kini sedang berkecamuk di dalam benaknya.
Entah besok situasi hatinya sudah membaik atau belum, dia ingin bilang sesuatu pada Zhang Xinyao.


“Kalau memang pada akhirnya nggak bakal terwujud, jangan umbar janji-janji palsu.”

Mungkin malam itu sehabis konsernya kelar, ia sepertinya tidak mengecek WeChat-nya, padahal Zhang Xinyao kirim pesan banyak sekali selama konser berlangsung. Mungkin harusnya Jing Long coba cek Weibo juga saat itu, atau mungkin tidak ada yang memberitahu apa yang terjadi pada Zhang Xinyao sebenarnya.

Notes:

fanfiksi syxl pertamaku. ini agak headcanon, tapi jangan dibawa serius, ya. situasinya emang agak mirip sama yang terjadi, namanya juga headcanon jadi ada yang hasil kehaluanku sendiri. pengen memacu diri supaya mulai nulisin semua ide fanfiksi syxl-ku. dimulai dari fiksi pendek yang abal ini, semoga suka~