Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-07-25
Words:
1,344
Chapters:
1/1
Kudos:
43
Bookmarks:
4
Hits:
287

Baby (Derogatory) 

Summary:

Gintoki berpikir kalau Hijikata demen berbuat tidak adil hanya pada dirinya. Di sisi lain, Toshirou berpikir apakah bijak memacari seorang bayi bongsor bernama Sakata Gintoki. 

Notes:

Cuma untuk bersenang-senang aja. Karakter Hijikata dan Gintoki seratus persen out of character. Lelucon yang dipaksakan. Terus membaca fanfik ini dapat menyebabkan cringe yang berlebihan.

Work Text:

 

Ada serangkaian kegiatan baru yang dibuat Hijikata Toshirou sejak menjadi pacarnya.

Pertama, tidak, jika kalian ingin memberi selamat kepada Gin-san mending disimpan saja. Gin-san Enggak butuh. Karena sudah sepantasnya Gin-san mendapatkan apa yang dia inginkan (bokong Hijikata), bukan? Bahkan Naruto mendapatkan keinginannya menjadi Hokage setelah lima belas tahun. Jadi pantas saja, Sakata Gintoki yang lebih tampan dari Gojo Satoru ini, kalau protagonis Gintama mendapatkan apa yang dia inginkan, bukan?

Ternyata tidak begitu, mina-san .  

Hijikata Toshirou boleh saja mencintainya, entah untuk seks atau bukan karena bagi Gin-san semuanya sama saja, tapi ternyata dia lebih memperhatikan dua pegawainya dan satu ekor anjing bajingan yang tidak berhenti berak sembarangan di dalam rumahnya sendiri. 

Awalnya Gin-san biasa saja. Siapa juga yang peduli kalau Hijikata suka mengelus dan memeluk Kagura dan anjingnya kan? Siapa juga yang peduli saat Hijikata berduaan sama Shinpachi di dapur untuk belajar masak? Siapa juga yang peduli apa yang digosipkan Hijikata bersama Otose si tuan gedung di bar lantai bawah, kan? Tentu saja bukan dia.

Tapi lama-kelamaan dia tidak tahan juga.

Hijikata senang menghabiskan akhir minggunya di tempat Gintoki, yang berarti dia akan mentraktir Gintoki dan para pegawainya, yang berarti mereka bisa terus pesta daging, yang artinya mereka bisa berfoya-foya menggunakan uang pacarnya. Tidak menjadi masalah kok. Yang menjadi akar masalah adalah bagaimana Hijikata memanjakan Kagura saat dia menginap di sana.

"Toshi elus aru!"

Hijikata awalnya risih tapi lama-lama menurut saja apa yang gadis yato itu mau. Dan lama-lama itu menjadi kebiasaan yang tidak bisa dienyahkan Hijikata. Dia akan terus memanjakan Kagura, baik di saat dia sibuk bekerja atau sedang istirahat, seperti terus membelikannya sukonbu dan jajan Sadaharu dan tidak berhenti mengelus kepala dua makhluk tersebut.   

Selain Kagura, Hijikata juga ternyata suka menghabiskan waktu bersama Shinpachi, tangan kanan (babu) pribadi Gintoki. Dia akan menemani Shinpachi berburu printilan Otsu-chan, membantu Shinpachi saat Hijikata tidak sibuk di kantor Shinsengumi, dan terkadang membantunya berlatih pedang saat Gintoki tidak mau. 

Akibatnya, kasih sayang dua pegawainya (yang terkadang muncul karena ada maunya) sudah teralihkan sepenuhnya pada Hijikata Toshirou tersayang. 

Kagura lebih sayang Toshi karena dia sering memberinya uang jajan. Shinpachi lebih respek pada Hijikata-san karena sudah mau menjadi mentor yang baik. Sadaharu lebih menurut pada Toshirou karena dia sering memberinya Royal Canin satu karung penuh. Jadi saat Gintoki tanya soal 'Kalian lebih sayang siapa? Gin-san atau Hijikata-kun', beginilah respon mereka: 

"Tahu begini aku mendingan bertemu dengan Toshi di episode awal Gintama aru." 

"Iya, yah. Coba dari awal aku melamar kerja di barak Shinsengumi dan bukan kerja sampingan di cafe, mungkin aku sudah jadi bawahan Hijikata-san."

"Arf." (Kau seperti tahi kucing) 

Pegawai dan peliharaan biadab memang.  

Dan saat Gintoki berpikir hal ini tidak akan menjadi lebih buruk, dia mengeluh kepada pacarnya; bercerita dan berkomentar kalau Hijikata kurang memperhatikannya. Lalu respon Hijikata seperti ini: keheningan panjang, mata yang menyipit, dan ekspresi jijik yang tidak dibuat-buat seakan Gintoki adalah seonggok tahi di jalanan.

Adil enggak? Adil enggak? YA ENGGAK ADIL LAH!

"Toshiiii!!! Gin-san juga mau nade nade desu!" Gintoki akhirnya menyuarakan hatinya di suatu Sabtu siang tanpa kehadiran dua pegawainya yang sibuk jajan.

Si pacar, yang acuh membaca koran sambil menghisap sebatang rokok, menjawab tanpa melihatnya.

"Enggak, udah gede. Malu dong." 

"Ih, Kagura aja mau kau elus. Kenapa pacarmu tidak?" 

"Karena kau sudah besar, pacarku sayang." Katanya, membalik halaman koran, "ingat umur dong, uzur."

Bedanya apa cobak?, pikir Gintoki. 

Dia kan pacarnya, kok tidak mau elus dia sih?

"Tapi kau mau saja mengelus Gin-san min—"

"DIAM! Jangan bicara soal itu saat di siang hari!"

Dan koran itu terlempar tepat di wajah tampan Gin-san. Bagus sekali memang. Padahal Gin-san suka melihat muka merah Hijikata sayang. Tapi tetap saja dia tidak terima. Kok bisa yah pacarnya sendiri ditirikan seperti ini? Padahal Gin-san selalu siap melayani kalau Hijikata mau bermanja-manja di ranjang. Giliran Gintoki yang mau bermanja-manja dia malah dapat apa? Bogem di muka.

"Tapi sayang. Gin-san mau di kecup~"

Hening.

"Gin-san juga mau dipeluk."

Masih tidak ada jawaban.

"Toshi sayang~"

"Bicara lagi atau aku akan tidur di hotel saja daripada di sini malam ini." 

Akhirnya Gintoki tidak bersuara. Dia menonton televisi, mendengus keras-keras, dan mengerucutkan bibirnya seperti anak-anak gadis yang kehabisan gaya di foto selfie kebanyakan.

 


 

Menjadi pacar Sakata Gintoki kurang lebih seperti baby sitter

Ya, memang Gintoki adalah orang dewasa. Ya, memang Sakata Gintoki itu orangnya ganteng dan selalu menang nomor satu polling karakter populer Gintama. Ya, memang Gintoki luar biasa hebat soal seks. Ya, Gintoki itu kadang sikapnya busuk sekali. Walau dia sering menyabet uang dari dompet Hijikata, tapi Hijikata tetap sayang (uhuk bucin) padanya. Bucin numero uno

Gintoki itu orangnya manja. Manja sekali.

Hijikata tidak keberatan kalau mengurus kedua pegawainya—baiklah, kadang dia memang kebablasan menuruti kemauan pegawai Gintoki yang kurang didikan akhlak itu, tapi dia melakukannya karena Shinpachi dan Kagura menggantikan tugasnya untuk menjaga Gintoki agar tidak berbuat macam-macam saat dia tidak ada. Sekarang kelakuan itu jadi kebiasaan dan Gintoki tidak menerimanya.  

Asal tahu saja, Hijikata tetap sayang sama Gintoki. Hanya saja ada beberapa hal yang membuatnya menahan diri untuk memamerkan kisah-kasihnya di khalayak umum: satu, jika Kondo melihatnya bermesraan bersama pacarnya dia akan cemburu setengah mati sambil mengungkit-ungkit kisah cintanya yang tidak pernah mendapatkan lampu hijau bersama Otae-san sendiri; kedua, Sougo tidak akan berhenti mengirimkan boneka jerami dan kertas kutukan ke dalam kamarnya sambil menyindir kenapa Hijikata-san bisa mendapatkan bos Yorozuya sementara dia tidak bisa mendapatkan salah satu pegawainya; ketiga, Yamazaki akan menggunakan kesempatan ini untuk bolos tugas dan memilih menguntit robot maid yang bekerja di bar di bawah kantor Yorozuya. Belum lagi bawahannya di Shinsengumi dan warga Edo yang tidak berhenti kepo dan menggoda mereka berdua kalau sedang bersama. Malu enggak? Malu Enggak? Ya Malulah masa enggak!

Jadi, tidak, lebih baik mereka bermanja-manja di kasur saja. Lebih privat, intim, dan enak. 

Tapi sepertinya Gintoki tidak setuju.

"Gin-san marah loh." 

Hijikata menghisap rokok.

"Gin-san kalau marah tidak mau masak loh." 

Hijikata membalik halaman koran.

"Gin-san dan Gin-san mini sekarang marah dengan Oogushi-kun loh." 

Apa urusannya coba??!

"Gin-san kalau marah enggak mau cium Oogishi-kun. Tidak mau peluk Oogushi-kun. Dan tidak mau ngeseks dengan Oogushi-kun."  

Kenapa harus sampai sejauh itu sih??!?

"Berisik. Tidak lihat apa aku sedang membaca koran?" 

Gintoki tidak bicara. Dia meringkuk di atas sofa, wajahnya tersembunyi di antara lutut, dan dia tidak berhenti merengek: "Ue, Ue, Ue."

Hijikata akhirnya menyerah dan memilih untuk duduk di samping pacarnya. Koran dan rokok tertinggal di meja.

"Nih, nade nade desu ."

Tidak ada respon padahal Hijikata sudah mengelus rambut peraknya. 

"Maumu apa sih? Kupeluk? Kuelus?" 

Dan Hijikata melakukannya, menarik Gintoki ke dalam pelukan dengan kedua tangan dan mengelus rambut belakangnya dengan pelan. 

Tahu-tahu Gintoki si kurang ajar malah mendorongnya berbaring di sofa. 

"Kau nakal sekali yah, sudah membuat Gin-san menunggu seperti ini." 

"Tunggu dulu, kau sengaja yah?" 

"Tidak juga. Tadinya aku memang mau bermanja-manja denganmu tapi berubah pikiran setelah versi miniku sudah bangkit di bawah sana." 

"Kenapa sekarang, tolol! Ini masih siang—" 

Tentu saja perkataan Hijikata tidak akan didengarkan. Gintoki yang sudah di atas tubuhnya dan sibuk menyerang titik-titik sensitif Hijikata; yang dia tahu akan membuatnya pasrah menikmati serangan kenikmatan, apalagi jika Gintoki sudah mencium pada bagian bawah telinga dan bawah rahangnya. Kayaknya enggak masalah kalau mereka bersenang-senang sebentar—  

"Gin-san, Toshi, Kami bawa ramen—!" 

Enggak, memang masalah. Buktinya mata Shinpachi dan Kagura sudah ternoda dengan pandangan yang (hampir) tidak senonoh di ruang tengah.

"GIN-SAN TOSHI BODOH ARU!" 

"Kami akan ke bawah. Kalau kalian sudah selesai dengan urusan kalian silahkan ambil ramen bagian kalian di bawah." 

Lalu mereka dan anjing putih gede pergi begitu saja. Hijikata masih mendengar langkah kaki yang terburu-buru di tangga dan Gintoki sudah menyingkir agar duduk di dekatnya.

"Eh ketahuan nih. Jadi gimana, masih mau lanjut—"

Hijikata menamparnya. 

"Ja—jangan harap kau bisa ngeseks denganku selama bulan depan ya bangsat! Pegawaimu sudah melihat kita!" katanya tergesa-gesa. Dia berdiri dan akhirnya berteriak dengan muka merah padam. "DASAR MESUM!"

Tapi dia tahu Gintoki tidak menganggapnya serius karena dia memang tidak bermaksud demikian. Mereka berdua akhirnya mengejar anak-anak itu sebelum mengadu pada lansia yang mampu menempeleng mereka dengan sendal jepit. Sekarang Hijikata kesal dan panik sementara Gintoki tidak berhenti cengengesan sambil memegang sebelah tangannya. 

"Hei, Hijikata-kun maafkan aku. Hijikata-kyuuuunnnn~"

Dasar bayi yang menyusahkan.