Work Text:
Semuanya berawal dari Sejun yang memilih tempat ini untuk beristirahat, sebuah toko supermarket kecil yang ada di pinggir jalan sebuah desa yang sebenarnya tidak terlalu banyak dijangkau orang-orang. Mungkin hanya orang yang tinggal di sekitar situ yang sering mampir, atau segelintir orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh dan memilih meregangkan tubuhnya di bangku depan supermarket tersebut. Seperti Sejun saat ini, dengan motor besarnya ia baru saja kembali dari tempat yang seharian ini membuatnya aktif menggunakan kameranya, sebuah air terjun yang lumayan terpencil di sudut desa.
Sejun memarkirkan motornya lalu turun untuk meregangkan badannya, perjalanan jauh dan jalanan yang berkerikil membuat badannya pegal bukan main. Dirinya masuk dan langsung menuju rak minuman, mengabaikan ucapan 'selamat datang' yang kasir tujukan padanya.
"Kau tidak kedinginan?"
Sejun mendongak saat kasir yang sedang menghitung belanjaannya berceletuk ringan, dan mendapati senyum ramah yang ditujukan padanya.
"Ah.. Maaf, tapi celanamu basah." ucap kasir itu lagi sembari matanya menuju celananya yang bagian lutut kebawah memang basah karena tadi Sejun saking excited nya sampai turun ke air terjun untuk mengambil gambar yang bagus.
"Tidak apa-apa." Ucap Sejun singkat. Setelah membayar belanjaannya, Sejun beranjak menuju bangku yang ada di depan toko tersebut untuk menikmati kopi instannya sembari melihat hasil foto yang tadi.
Atensinya teralih saat ada seseorang yang duduk di hadapannya sembari meletakkan sesuatu di atas mejanya dan mengarahkannya ke Sejun.
"Aku tahu perjalananmu pasti akan sangat jauh, lebih baik ganti saja celanamu dengan ini, tidak perlu memikirkan bagaimana mengembalikannya." ucap kasir itu lagi, Sejun menatap celana yang disodorkan oleh lelaki itu, lalu beralih menatap lelaki itu dengan heran.
"Tidak perlu khawatir, sepertinya ukurannya pas denganmu."
"Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa, ini hanya basah sedikit."
Lelaki di depannya tertawa kecil dan membuat Sejun terpaku, "Basah sedikit apanya, tetesan airnya itu mengotori lantai toko ku tahu!"
Sejun meringis kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ah.. Maaf ya."
"Tidak apa-apa, ganti saja di dalam, aku sudah sering memberi celana seperti ini karena kau bukan yang pertama datang kesini dengan celana atau baju yang basah."
Sejun akhirnya mengangguk mengerti, menuruti lelaki itu dan pergi menuju toilet yang ada di dalam toko tersebut untuk mengganti celananya karena sebenarnya dirinya memang sedikit tidak nyaman menggunakan celana yang basah kuyup itu.
Lelaki itu masih duduk di tempat itu sekembalinya Sejun dari toilet, dengan kikuk Sejun duduk di hadapannya saat lelaki itu kembali menunjukkan senyuman ramahnya.
"Lebih nyaman kan sekarang?"
"Iya, terima kasih."
"Sama-sama!"
Hening setelahnya, Sejun kembali mengambil kameranya, memilih menyibukkan diri karena entah kenapa lelaki di hadapannya ini masih betah duduk di tempatnya sembari menatapnya antusias.
"Kau.. tidak kembali bekerja?"
Lelaki di hadapannya mengerjapkan matanya sesaat, senyumnya perlahan hilang dan meringis pelan, "Ah iya.. Maaf ya aku pasti membuatmu tidak nyaman."
"Bukan begitu!" ucap Sejun spontan, lalu dirinya berdeham pelan.
"Aku hanya tidak ingin kau dimarahi atasanmu kalau terlalu banyak mengobrol disini denganku."
Sejun menghela napas lega saat lelaki itu kembali tertawa, "Belum ada pelanggan, jadi tidak apa-apa." ucapnya lagi, Sejun hanya mengangguk paham mendengarnya.
"Kau tahu? Disini sepi, makanya aku senang kalau ada yang istirahat disini, ada yang bisa aku ajak ngobrol."
Sejun terdiam mendengarnya, senyum lelaki itu masih terpatri, namun Sejun bisa menangkap sekilas tatapan sendu saat lelaki itu mengucapkan hal itu.
"Kau mau melihat hasil fotoku?"
"Boleh?"
Sejun tertawa kecil saat binar mata lelaki itu berubah sekejap saat dirinya menawarkannya, lalu mengangguk menjawabnya. Tanpa menunggu lama lagi, lelaki itu mendekatkan bangkunya ke arah Sejun dan mencondongkan badannya ke arah Sejun yang sedang menunjukkan hasil fotonya.
"Wah.. Aku sering mendengar air terjun yang di sini itu memang indah, tapi aku tidak tahu kalau seindah ini."
"Indah sekali, kau tidak pernah kesana?"
Lelaki itu menggeleng, tapi matanya masih tertuju pada hasil foto-foto Sejun.
"Aku tidak akan punya waktu dan kesempatan untuk kesana, aku iri sekali padamu." ucapnya lagi sembari mengerucutkan bibirnya.
Sejun tertawa kecil, lalu meletakkan kameranya setelah menunjukkan semua hasil fotonya.
"Suatu saat kau pasti bisa kesana."
"Aku harap seperti itu hehe."
Keduanya mengobrol banyak hari itu, sesekali terpotong jika ada pengunjung dan lelaki itu harus melayani, namun jika tidak ada pelanggan ia akan kembali ke tempat duduk depan untuk menemani Sejun yang masih betah mengistirahatkan dirinya.
Sampai akhirnya hari sudah mulai sore, dan Sejun harus bergegas pulang.
"Terima kasih sudah menemaniku hari ini—eung.. Siapa namamu?" Sejun tertawa saat mengingat sedari tadi mereka belum berkenalan satu sama lain, tapi sudah mengobrol banyak layaknya teman lama.
"Sejun, Im Sejun, kalau kau?"
"Kang Seungsik."
Sejun kembali tersenyum mendengarnya, dirinya menyampirkan tasnya ke pundaknya dan beranjak berdiri.
"Seungsik."
"Hm?"
Hening sesaat, Sejun menatap Seungsik yang masih duduk di bangkunya.
"Aku akan mengajakmu ke air terjun jika kau ada waktu.. dan itupun kalau kau mau..?"
Seungsik mengerjapkan matanya pelan, lalu tersenyum lebar setelahnya dan mengangguk memberi jawaban. Setelahnya Sejun menuju motornya dengan senyuman yang tidak kalah lebarnya. Hari itu rasanya hatinya terasa lega dan tenang.
Aku akan kembali ke tempat ini.
Nyatanya pertemuan kedua mereka terjadi berminggu-minggu setelahnya. Ditempat yang sama, namun pada jam yang berbeda dan keadaan yang juga jauh berbeda.
Senja disore itu disertai angin yang berhembus kencang, membuat siapapun memilih merapatkan jaketnya, tak terkecuali Seungsik yang saat ini sedang duduk di pijakan tangga tepat di depan pintu toko tempatnya bekerja, tangannya mengeratkan jaketnya karena kedinginan namun dirinya enggan masuk ke dalam. Sampai matanya menangkap sosok yang baru saja turun dari motornya, hanya menggunakan kaus tipis lengan panjang beserta jeans hitamnya, jangan lupakan rambutnya yang acak-acakkan dan beberapa lebam di wajahnya.
Lelaki itu menunjukkan senyumnya, senyuman pahit yang membuat Seungsik refleks berdiri dan berlari menghampiri.
"Sejun kau—" Tangan Seungsik berhenti di udara saat hendak menyentuh wajah Sejun yang penuh lebam, karena sadar dirinya terlalu lancang untuk menyentuh wajah Sejun yang bahkan baru ia kenal itu.
"Apa kabar, Seungsik?"
Seungsik terdiam, dalam keadaan babak belur seperti itu Sejun masih bisa menunjukkan senyum terbaiknya, dan itu membuat Seungsik menghela nafas dan ikut menunjukkan senyumnya walaupun dari matanya pun bisa dilihat kekhawatiran terhadap lelaki di hadapannya.
"Baik, bagaimana dengan mu?"
Seungsik merutuki perkataannya sendiri, padahal jelas-jelas keadan Sejun kali ini jauh dari kata baik-baik saja, tapi ia malah dengan entengnya melontarkan pertanyaan itu.
"Seungsik, aku minta maaf."
Seungsik mengernyitkan dahinya bingung mendengar permintaan maaf Sejun yang tiba-tiba, "Kenapa?"
"Aku tidak bisa membawamu ke air terjun hari ini."
Seungsik menghela napasnya kencang, disaat seperti ini Sejun malah membahas hal itu, bahkan Seungsik sudah hampir lupa akan janji Sejun yang satu itu.
"Lebih baik ayo obati lukamu itu."
Seungsik menarik Sejun untuk duduk di bangku, lalu dirinya melesat ke dalam untuk mengambil kotak P3K.
Dengan perlahan lelaki itu mengobati satu persatu luka yang ada di wajah Sejun.
"Kau tidak penasaran?" tanya Sejun, matanya menatap Seungsik yang masih fokus mengoleskan obat pada lukanya.
"Apa?"
"Kenapa aku seperti ini?"
Pergerakan tangan Seungsik berhenti sesaat, namun sedetik kemudian ia melanjutkannya lagi.
"Aku tidak mau memaksamu untuk bercerita, karena kita baru kenal, aku tidak mau membuatmu tidak nyaman."
Seungsik membereskan peralatannya setelah tugasnya selesai dan menatap Sejun yang masih betah memandangi dirinya.
"Tapi aku tidak merasa seperti itu."
Seungsik terdiam, matanya menelisik ke dalam binar Sejun, ada emosi yang tercampur disana dan Seungsik tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Siapa.. yang melakukan ini padamu?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya, pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatinya.
"Ayahku." jawab Sejun singkat, dan itu sukses membuat Seungsik merasa jantungnya di remas kuat, apalagi melihat Sejun yang mengucapkan itu dengan entengnya.
"Ini sudah biasa, didikannya memang seperti itu, ia akan marah kalau melihatku hunting foto, dia tidak suka jika aku terjun ke dunia fotografi."
Seungsik masih terdiam mendengarkan celotehan Sejun, melihat lelaki itu menceritakan semuanya padanya dengan mudah membuat hatinya entah kenapa sedikit menghangat, ia merasa dirinya dipercaya oleh Sejun.
"Padahal itu salah satu mimpiku, aku juga sudah menuruti semua keinginannya, kenapa sih pak tua itu emosian sekali." Sejun tertawa kecil setelahnya, yang Seungsik tahu tawa itu hanya dipaksakan olehnya.
Sejun bercerita panjang lebar tentang dirinya, tentang kecintaannya terhadap fotografi yang selama ini selalu menuai protes dari ayahnya, sampai hal terkecil yang tidak terlalu penting untuk diceritakan. Entah apa yang membuatnya dengan mudah membuka diri terhadap Seungsik, mungkin karena senyumnya yang secerah mentari pagi? Yang selalu membuat hatinya menghangat saat disambut oleh senyuman itu ketika ia datang ke tempat ini.
Sedangkan Seungsik hanya mendengarkan dengan seksama, sesekali meladeni candaan yang Sejun selipkan di sela ceritanya, Seungsik tahu Sejun melakukan itu agar dirinya tidak terlalu terlihat sedih.
"Lalu apa yang akan kau lakukan kedepannya?"
"Tentu saja tetap melanjutkan hal yang aku sukai." ucap Sejun santai.
"Walaupun semuanya menentang keinginanmu?"
Sejun mengangguk mantap, tanpa sadar Seungsik tersenyum melihatnya, merasa senang melihat keteguhan Sejun akan mengejar mimpinya.
"Ah.. Aku iri padamu."
"Kenapa?"
"Aku ingin mempunyai sifat sepertimu, yang pantang menyerah."
Seungsik menumpukan dagunya menggunakan tangannya, tatapannya menerawang jauh ke depan, seperti sedang memikirkan sesuatu walaupun senyumnya masih terpatri di wajahnya.
"Kau punya sesuatu yang ingin kau capai?"
"Tentu saja." Seungsik tertawa kecil, "Semua orang pasti memiliki mimpi yang ingin dicapai, Sejun."
"Kalau begitu, kau juga bisa mengejar mimpimu." ujar Sejun.
Seungsik menatap Sejun dalam, cukup lama sampai akhirnya ia tertawa lagi melihat ekspresi Sejun yang berubah menjadi serius.
"Aku sudah kehilangan kesempatan itu, jadi aku tidak ingin mencoba lagi karena itu tidak akan berhasil."
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"
Seungsik mengendikkan bahunya, lalu mengibaskan tangannya, "Tidak perlu dipikirkan, aku sudah cukup bahagia hidup seperti ini. Tapi berbeda denganku, aku yakin kau akan berhasil, Sejun."
Maka Sejun memilih bungkam, karena Seungsik terlihat tidak ingin melanjutkan percakapannya. Terlihat dari bagaimana lelaki di hadapannya mengalihkan pembicaraannya. Sejun tidak tahu apa saja yang sudah di lewati Seungsik selama ini, tapi dirinya masih merasa terkagum-kagum melihat pria ini masih bisa menunjukkan senyum cerahnya seperti ini. Rasa marah dan sakit yang tadi ia rasakan seketika menghilang saat melihat Seungsik dengan senyumnya, dan Sejun merasa cukup.
"Kau tahu, aku juga iri padamu, Seungsik."
Seungsik yang tadi sedang sibuk dengan cemilannya mengangkat wajahnya dengan raut bingung.
"Kenapa?"
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu, yang ada hanya Sejun yang tersenyum geli melihat raut penasaran Seungsik dan berujung Seungsik yang merengut karena merasa diejek. Bahkan sampai akhirnya Sejun memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam, Seungsik menyerah menanyakan hal itu.
Karena kau mempunyai senyum secerah pagi hari yang selalu berhasil membuatku merasa tenang.
Pertemuan mereka mulai cukup sering seiring berjalannya waktu, tiap akhir pekan Sejun akan menyempatkan dirinya untuk menghampiri Seungsik. Tidak melakukan hal banyak, hanya mengobrol santai sembari Sejun sesekali membantu pekerjaan Seungsik, atau terkadang menghibur Seungsik dengan menunjukkan hasil fotonya dari berbagai tempat yang indah.
Keduanya semakin dekat sampai tahap mengkhawatirkan kondisi masing-masing, Seungsik yang khawatir akan perjalanan jauh yang ditempuh Sejun untuk kesini dan akan membuat Sejun lelah, namun Sejun dengan entengnya menjawab, "Tidak apa-apa, pas sampai sini capekku hilang." yang entah kenapa membuat pipi Seungsik memanas.
Sampai ada di satu malam, Seungsik rasanya ingin marah.
Bagaimana tidak, Sejun kembali muncul di hadapannya dengan keadaan yang memprihatinkan. Berjalan pun susah, tapi lelaki itu nekat membawa motornya sampai kesini.
"Bisakah kau berhenti?" ucap Seungsik yang baru saja selesai membersihkan luka di wajah dan lengan Sejun.
"Apa?"
"Mimpimu, bisakah kau berhenti?"
Sejun terdiam, sedikit terkejut mendengarnya karena selama ini yang Seungsik katakan padanya selalu kata-kata pendukung yang membuatnya kembali tenang. Seungsik yang sadar akan ucapannya yang lancang lantas menundukkan kepalanya.
"Aku tidak akan berhenti."
"Tapi kau terluka, aku tidak suka."
Seungsik kembali mengangkat wajahnya, tanpa sadar nada bicaranya meninggi karena kekhawatirannya, dan Sejun dapat menangkapnya hanya dari tatapannya.
"Untuk apa kau memaksakan segalanya kalau ujungnya kau terluka seperti ini.. Bukankah itu tidak akan berhasil? Kau hanya akan merasakan sakit."
Sejun masih terdiam, memperhatikan raut wajah Seungsik yang masih dipenuhi kekhawatiran, tangannya refleks bergerak untuk meremas tangan Seungsik.
"Ini namanya proses, Seungsik." Sejun mengelus pelan tangan Seungsik, tatapannya tertuju pada tangan mereka yang saling bertaut. "Aku senang kau khawatir padaku, tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun, karena aku yakin aku akan menunjukkan pada mereka kalau aku akan berhasil."
Sejun mengangkat tatapannya, lalu tersenyum kecil "Jadi kau tidak perlu khawatir."
Tangannya bergerak menuju pipi Seungsik dan mengusapnya pelan tanpa tahu kalau pergerakannya itu sukses membuat pipi Seungsik memerah, melihat itu Sejun tertawa dan bergerak mencubit pipi Seungsik.
"Kau lucu sekali hahaha."
Seungsik merengut kesal, berusaha menjauh dan menyembunyikan wajahnya yang tentu saja tidak berhasil karena Sejun masih mengenggam tangannya erat.
"Tapi serius Sejun, kalau kau luka seperti ini, lebih baik ke rumah sakit saja, jangan kesini. Itu berbahaya tahu!" ujar Seungsik.
Sejun hanya mengangguk, cengiran lebarnya masih terpatri di wajahnya, "Tapi kan kau penyembuhku?"
Setelahnya hanya ada ringisan kesakitan saat lengannya dipukul kencang oleh Seungsik.
"Hey! Aku ini pasien tahu!"
"Masa bodo."
Seungsik berjalan meninggalkan meja Sejun, mengabaikan gelegar tawa Sejun yang puas melihatnya salah tingkah.
Keduanya masih sering bertemu sampai tiga bulan setelahnya, yang mana membuat mereka semakin dekat. Bahkan karena terlalu larut akan obrolan-obrolan menyenangkan yang mereka lewati Sejun lupa kalau ia mempunyai janji lain untuk Seungsik, mengajaknya ke air terjun di dekat sana.
Sebenarnya tidak bisa dibilang dekat juga, jalan menuju kesana masih setengah jam lagi ditambah jalanannya yang tidak terlalu bagus, dan Seungsik seperti belum bisa memberi waktu luang untuk pergi kesana, maka Sejun juga tidak ingin memaksa.
Sampai akhirnya hari ini Sejun ingin mencoba mengajaknya, karena itu ia datang pagi-pagi sekali ketempat ini, tanpa mengabari Seungsik karena ia ingin memberikan kejutan.
Sesampainya disitu, dirinya mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Seungsik, toko tentu saja sudah buka karena tempat itu buka 24 jam, tapi yang berjaga saat itu bukan Seungsik.
Tapi berkali-kali Sejun menghubungi Seungsik, tidak ada satu pun yang berhasil, nomor Seungsik tidak aktif. Sejun mengernyitkan dahinya, "Tumben." Batinnya.
Sejun memutuskan menunggu lebih lama disitu, karena ia tahu shift Seungsik dimulai pada siang hari, dan Sejun berpikir mungkin Seungsik belum bangun walaupun itu juga diragukan karena setahu Sejun, Seungsik itu selalu bangun pagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi Sejun belum mendapat kabar apapun dari Seungsik, bahkan chat yang ia kirim belum terkirim.
Sejun memutuskan untuk masuk ke dalam toko tersebut dan menemukan pegawai yang baru ia lihat hari ini.
"Selamat datang."
"Eum.. Maaf, apakah Kang Seungsik ada jadwal masuk hari ini?" ujar Sejun tanpa basa-basi.
Lelaki di hadapannya itu mengernyitkan dahinya bingung, "Kak Seungsik minggu kemarin terakhir masuk kerja, Kak." ucapnya.
Sejun tertegun mendengarnya, minggu kemarin berarti itu terakhir dirinya bertemu Seungsik, tapi lelaki itu tidak mengatakan hal apapun soal ia yang akan berhenti bekerja.
"Kau tahu dimana rumahnya?"
Lelaki itu menggeleng pelan, "Yang aku tahu dia memang menyewa kontrakan petak di dekat sini, tapi aku tidak tahu tepatnya dimana. Bisa jadi dia juga sudah pindah karena dia tidak tinggal dengan orangtuanya."
Seketika Sejun merutuki dirinya sendiri, bahkan hal sesederhana itu pun ia tidak tahu, Sejun sadar kalau dirinya belum tahu banyak soal Seungsik.
Setelah mengucapkan terima kasih, dirinya langsung bergegas berlari keluar, menyalakan motor dan melaju menelusuri sekitar, berharap ada keajaiban ia akan menemukan Seungsik.
Namun setelah dua jam mengitari daerah itu, Sejun tidak menemukan apapun. Tidak banyak orang yang bisa ditanyai karena area itu memang sepi. Sejun meminggirkan motornya sejenak, membuka helmnya yang membuatnya sesak dan kembali mencoba menghubungi Seungsik untuk kesekian kalinya, dan lagi hasilnya nihil.
Perasaan khawatir mulai menggerogoti hatinya, tangannya bergerak menyugar rambutnya kebelakang dengan frustasi, menyesali perbuatannya sendiri yang tidak mengenal Seungsik lebih dalam, terlalu terlena akan hadirnya lelaki itu yang selalu membuatnya nyaman tanpa tahu apa yang sedang lelaki itu alami.
Seungsik, kau dimana..?
Bulan pertama sejak Seungsik menghilang adalah saat-saat yang sulit untuk Sejun, tiap akhir pekan dirinya masih sering menghampiri toko Seungsik dan berkeliling di sekitarnya, berharap menemukan petunjuk kemana Seungsik pergi, walaupun tentu saja hasilnya nihil. Seungsik seakan menghilang ditelan bumi.
Tapi semesta seperti senang sekali mempermainkannya. Berbulan-bulan berikutnya Sejun sudah memutuskan berhenti kesana, ia memilih fokus melanjutkan apa yang dikerjakannya, tapi siapa yang sangka kalau dirinya di hadapkan oleh situasi ini?
Sejun sedang berkutat dengan laptopnya di sebuah cafe dekat studio fotonya, ada tripod beserta peralatan lain yang memenuhi meja dan bangku di sampingnya. Biasanya ia akan mengerjakan pekerjaannya di studio, namun entah kenapa hari ini ia merasa suntuk dan tidak fokus akan pekerjaannya, ditambah ayahnya yang sedari pagi mengomelinya karena lebih sering menyibukkan diri di studio dibandingkan di perusahaannya.
Iya, Sejun berhasil membuka studio fotonya sendiri. Walaupun di awal ayahnya menentang keras, tapi dirinya berhasil membuktikan diri dengan memenangkan berbagai kontes foto di luar negeri, pada akhirnya ayahnya menyerah dan membiarkannya dengan syarat Sejun juga bersedia jika ayahnya butuh bantuan di perusahaannya, untuk hal itu Sejun tidak keberatan sama sekali.
Kembali lagi ke saat ini, yang Sejun tahu cafe ini baru buka minggu lalu, tapi ia baru menyempatkan diri kesini hari ini karena sebelumnya cafe ini selalu dipadati pengunjung. Saat ini bukan jam sibuk, jadi keadaan cafe cukup lengang.
" Satu Iced Americano?"
Pergerakan jari Sejun di laptopnya berhenti saat mendengar suara familiar, ia langsung mendongak dan mendapati wajah yang selama ini ia tunggu-tunggu kehadirannya.
Seungsik, dengan senyuman yang masih secerah mentari pagi itu menyambutnya, lelaki itu mengenakan kemeja putih yang dilapisi apron berwarna coklat khas cafe itu.
"Apa kabar, Sejun?"
Sejun tidak bergeming, tatapannya masih tertuju pada Seungsik dan membuat Seungsik kikuk sendiri. Melihat Sejun yang tidak menjawabnya membuat Seungsik mengulum bibirnya pelan, perlahan senyumnya luntur dan tatapannya menunduk. Seketika perasaan bersalah muncul kembali, sejujurnya saat ini ia masih takut untuk muncul di hadapan Sejun setelah selama ini ia menghilang tanpa kabar dari lelaki ini.
"Apa aku mengganggumu? Maaf kalau begitu..Aku permisi."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Seungsik kembali ke dalam dapur, merutuki keputusannya untuk muncul di depan Sejun tadi. Harusnya ia lebih bersabar, harusnya ia memikirkan matang-matang apakah harus ia muncul seperti ini?
Setelah beberapa saat, Seungsik mengintip ke luar, ke meja yang tadi didudukki Sejun, dan lagi ia harus menelan pahit karena Sejun sudah tidak ada disitu.
Mungkin dia benar-benar marah. Batinnya.
Esok paginya, Seungsik sudah ada di depan cafenya, hendak membuka pintu cafe tersebut. Namun pergerakan tangannya terhenti saat matanya menangkap sosok Sejun yang sudah rapi dengan balutan jaket tebal beserta tas berukuran sedang di bahunya. Jangan lupakan motor gedenya yang sudah lama tidak Seungsik lihat sudah terparkir disana.
Sejun menunjukkan senyumnya dan berjalan mendekati Seungsik, memberikan helm dan jaket tebal yang sedari tadi ia genggam.
"Kau luang hari ini?"
"Mau kemana?"
"Menepati janji.. Tapi kalau kau tidak bisa, tidak apa-apa." Sejun melirik tangan Seungsik yang sedang memegang kunci yang diyakini itu adalah kunci cafe tersebut, maka dapat disimpulkan kalau Seungsik memang harusnya bekerja hari ini.
Namun alih-alih menjawab, Seungsik mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana. Setelah selesai ia memasukkan lagi ponselnya dan mengambil helm dan jaket yang ada di tangan Sejun.
"Ayo."
"T-tapi—"
"Aku sudah mengabari karyawanku kalau cafe tutup hari ini."
Sejun terdiam, sadar kalau sudah banyak waktu yang mereka lewati dan ada perubahan besar yang terjadi pada Seungsik dan juga dirinya. Ada banyak cerita yang belum mereka sampaikan satu sama lain, dan ia rasa hari ini ia siap mendengarkan semuanya.
Perjalanan mereka diisi keheningan, namun keduanya tidak terusik sama sekali karena keheningan itu justru memberikan nyaman. Seungsik mengeratkan pegangannya pada pinggang Sejun saat Sejun mempercepat laju motornya, angin pagi yang menusuk tulang membuatnya tanpa ragu memeluk pinggang Sejun agar menyalurkan rasa hangat keseluruh tubuhnya.
Mereka menempuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai di tempat tujuan, saat melewati toko tempat Seungsik bekerja dahulu keduanya berdecak sedih karena toko tersebut ternyata sudah tutup, mungkin karena memang sedari dulu toko itu sepi pengunjung.
Setelah memarkir motornya dan memasukki area air terjun dengan berjalan kaki cukup jauh, akhirnya mereka sampai di air terjun yang dahulu hanya bisa Seungsik lihat melalui kamera Sejun.
Area tersebut masih sepi, karena memang tidak banyak orang yang tahu tempat ini, dan Seungsik sangat menikmati hal ini. Matanya terpejam menikmati udara yang masih amat bersih, tangannya bergerak mempererat jaket Sejun yang ia kenakan. Sedangkan Sejun di sebelahnya hanya menatapnya dalam diam, tanpa sadar senyumnya sedari tadi masih terpatri di wajahnya.
"Indah sekali."
"Benar, sangat indah." ujar Sejun tanpa mengalihkan tatapannya dari Seungsik.
Indah.
Sejun sangat merindukan senyuman secerah pagi milik Seungsik.
Seungsik menoleh kesamping dan mendapati Sejun yang masih menatapnya, lalu ia menunjukkan senyum lebarnya dan mata berbinarnya.
"Terima kasih, Sejun."
Mereka berdua sibuk menikmati keindahan alam yang tersaji disitu, dan sepakat tidak akan turun ke air karena suhu yang sangat dingin. Toh, Seungsik lebih suka mengabadikannya dengan ponsel kameranya dibanding merasakan langsung bagaimana dinginnya air disitu.
Keduanya duduk di batu yang ada di tepian, sembari sesekali mengobrol ringan atau Sejun yang menunjukkan hasil fotonya ke Seungsik.
"Seungsik."
"Hm?"
"Kenapa kau menghilang?"
Atensi Seungsik yang tadinya tertuju pada ponselnya perlahan teralih ke Sejun yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, perlahan tangannya turun dan senyuman yang sedari tadi terpatri di wajahnya mendadak luntur.
"Sejak kemarin aku melihatmu sampai sekarang aku berpikir apa salah ku sampai kau memutuskan menghilang, tapi aku tidak menemukannya."
"Ini bukan salahmu." ujar Seungsik cepat.
Seungsik memberanikan diri untuk menatap Sejun, maka keluarlah semua yang ia tahan selama ini. Bagaimana dirinya berusaha kuat di depan Sejun di saat segalanya begitu rumit untuknya. Seungsik yang berusaha kembali mulai dari nol untuk mewujudkan mimpinya memiliki cafe sendiri, tanpa support dari orang tua, tanpa siapapun di sisinya.
"Kau saat itu sedang sibuk dengan urusanmu, dan aku pikir kalau aku memberitahumu hanya akan menjadi beban untukmu."
"Tapi aku tidak—"
"Aku tahu, tapi kau pikir bagaimana perasaanku saat kau kerap kali datang dengan wajah babak belur? Apa aku tega menambah bebanmu dengan ceritaku?" Seungsik menelan salivanya kasar, berusaha mengendalikan perasaannya karena entah kenapa saat pikirannya kembali ke masa lalu emosinya meluap begitu saja, "Aku tidak sanggup, Sejun. Maka dari itu aku memilih pergi… untuk sementara, untuk memperbaiki diriku sendiri." ucap Seungsik dengan nada lirihnya.
"Maaf, aku sangat egois ya? Tapi, aku ingin berterima kasih padamu. Berkatmu aku mendapatkan lagi keberanian ini, berkatmu aku bisa.. menjalani ini. Tapi saat aku ingin menghampirimu, aku justru malah diliputi rasa bersalah."
Seungsik menunduk, dan itu membuat tangan Sejun refleks bergerak mengusap puncak kepalanya halus.
"Kau hebat, Seungsik." ujar Sejun, perlahan Seungsik mengangkat kepalanya dan mendapati Sejun yang menunjukkan senyum tipisnya, dalam hatinya ia merasa lega setelah mengungkapkan semuanya.
"Maaf ya? Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa tahu keadaanmu yang sebenarnya."
Seungsik menggeleng ribut, bahkan Sejun sampai harus menangkup kedua pipinya agar pergerakan lelaki itu terhenti lalu tertawa kecil setelahnya.
"Selama ini aku memang sedih, melewati hari tanpa Kang Seungsik yang memiliki senyum secerah mentari pagi, tapi aku berpikir kau pasti memiliki alasan kuat untuk melakukan itu. Dan ternyata benar, aku bahkan sangat senang kalau aku seberpengaruh itu untuk hidupmu."
"Tentu saja!" Refleks Seungsik menunduk, pipinya yang masih ada di tangkupan kedua tangan Sejun memerah dan itu sukses membuat Sejun mencubit kedua pipinya gemas.
"Seungsik."
Tatapan Seungsik kembali tertuju pada manik gelap milik Sejun, matanya bergetar saat sadar kalau jarak keduanya ternyata sudah sedekat ini, pipinya yang memang sudah memerah sejak tadi sekarang rasanya semakin merah karenanya.
"Kau juga sepenting itu buat hidupku.. Kalau tidak, mungkin sudah sejak dulu aku menyerah pada mimpiku."
Keduanya tersenyum hangat, suasana di sekitar seakan mendukung keadaan mereka, suara air terjun yang membuat keduanya damai, membuat mereka larut dalam keheningan yang menciptakan rasa nyaman. Entah siapa yang mengikis jarak lebih dulu, atau siapa yang memejamkan mata lebih dulu saat merasakan hembusan napas masing-masing menerpa wajah, karena setelahnya Seungsik hanya merasakan sentuhan hangat menyapu bibirnya disertai kecupan-kecupan ringan yang membuat kupu-kupu seakan berterbangan di perutnya.
Dan kini keduanya paham, kalau pertemuan mereka dengan sejuta mimpi mereka yang berbeda bagaikan senja dan pagi. Sejun sebagai senja yang disaat lelahnya akhirnya menemukan Seungsik sebagai pagi, begitupun sebaliknya.
—fin.
