Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
New World Fic Fest: Anniversary Special
Stats:
Published:
2021-07-28
Words:
5,333
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
15
Hits:
125

For The Perfect Man

Summary:

Tentang Chan dengan pikirannya sendiri yang ia ungkapkan saat ulang tahun Seungsik.

Work Text:

Normalnya, beberapa orang akan merasa senang saat sesuatu yang mereka harapkan ternyata melebihi ekspetasi, dengan konotasi positif tentu saja. Sayangnya, hal itu sedikit tidak berlaku untuk Chan.

Ia sedang stress. Catatan: stress sangat berat, karena ia punya suami yang sempurna.

Ya, benar. Itu sesuatu yang ia sibuk pikirkan pada pernikahan yang baru seumur jagung tersebut.

Seungsik terlalu sempurna. Tidak, tidak. Chan mengusap wajahnya kasar. Bukan maksudnya menjadi sosok yang tidak bersyukur saat di luar sana banyak orang yang salah memilih pasangan.

Ia total menghadirkan syukur pada sang pemilik alam semesta karena diberikan pria dengan gigi kelinci dan senyum malaikat itu untuk menjadi suaminya. Selain karena memang Seungsik adalah satu-satunya rumah hatinya sejak mereka berpacaran tiga tahun yang lalu, Seungsik sukses mengambil penghargaan sebagai suami paling sempurna se-antero Korea.

Tidak, itu hanya ajang imajinasi Chan sendiri. Tetapi seperti itu lah untuk menggambarkan seorang Seungsik yang tiga bulan yang lalu sudah mengikat janji pernikahan dengannya.

Seungsik terlalu sempurna dan Chan bingung harus bagaimana.

Contoh sederhana dan masih sangat segar adalah kejadian pagi tadi, kurang dari dua puluh empat jam yang lalu.

 


 

Pagi itu, Chan memulai harinya dengan serangan jantung mendadak.

“Sial,” tubuhnya yang masih terbalut piyama hijau bergaris vertikal tersebut setengah melompat dari tempat tidur. Melangkahkan kaki dengan pijakan terburu untuk menuju dapur. Walau rumahnya bukan rumah yang luas hingga perjalanan dari ruang tamu menuju halaman belakang membutuhkan 'perbekalan', tetap saja berlari dengan setengah kesadaran seperti itu tidak mudah.

Heo Chan sempat hampir menabrak meja televisi yang tidak salah apa-apa. Lalu memohon maaf pada benda mati tersebut seolah-olah meja adalah makhluk hidup.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, yang mana itu artinya lima belas menit lagi harusnya sang suami sudah harus berangkat ke kantor.

Sialnya, Chan bangun terlalu siang saat Seungsik—si suami—belum sarapan.

Sesampainya di dapur—dengan langkah hampir terpeleset tentunya, Chan terburu-buru membuka penanak nasi. Hendak mengisinya dengan beras sebelum sebuah uap hangat menyeruak ke wajahnya.

“Sudah ada nasi?” ucapnya bermonolog. Melihat keheranan pada sekumpulan karbohidrat berbentuk butiran yang nampak baru saja matang. Ia mengerjap bingung, masih dengan mata yang tebal seusai bangun tidur … Chan mendongak untuk menemukan fakta lain di meja makannya.

Sudah ada sup tahu beserta beberapa lauk lainnya.

Dengan langkah yang lebih baik—ia berterimakasih pada uap nasi yang menyadarkan sepenuhnya—Chan berjalan mendekat, memastikan apa yang ia lihat bukanlah ilusi semata. Pria itu berkacak pinggang dengan keheranan, mengabaikan rambutnya yang masih acak-acakan dan piyama yang berantakan di sana-sini.

“Oh, Tuhanku.” Chan mengusap kasar wajahnya. “Hari ini dia masak lagi?”

Lalu Chan melanjutkan drama paginya untuk keluar dari dapur. Melihat ke arah lorong penghubung antara ruang makan dan ruang televisi dan tidak menemukan siapa pun yang dicari di sana.

Lantas pencariannya berlanjut dengan menengok kamar mandi yang mengusung nuansa mewah klasik yang menonjol dari dinding marmer putih keemasan dan lagi-lagi menemui kehampaan di sana.

Maka hanya satu kemungkinan di mana pria itu berada.

Kaki Chan yang sedang tak mengenakan sandal rumah itu beberapa kali berjengit karena dinginnya lantai. Salahkan dia karena memang lupa jika hari ini sudah memasuki bulan-bulan musim semi.

Ruas jemari itu menyentuh pintu kaca dengan gerakan lembut, sedikit bersemangat kala menemui sosok yang dicari, ia tengah duduk menikmati matahari dengan sebuah koran di tangannya.

Seungsik, pria yang dulu mengiyakan lamarannya itu sudah tampil rapi dengan kemeja biru laut yang lengannya digulung asal dan sebuah celana kain yang nampak pas di tubuhnya.

Chan tak melakukan apapun selain bersandar di pintu tersebut, mengerutkan dahi untuk menghalangi sinar matahari yang menganggu pandangannya namun masih terfokus pada objek hidup di hadapannya.

Sedangkan yang dipandangi akhirnya sadar, ia melipat koran tersebut dan melempar senyum pada sang suami yang masih tampil dengan wajah bantalnya.

“Kau sudah bangun?” Seungsik meletakkan koran tersebut di meja lingkaran di sampingnya. “Bagaimana, apa tidurmu nyaman?” ucapnya halus dengan senyum yang mengiringi.

Chan mengangguk, memberi senyum kecil dan sebuah anggukan sebelum wajahnya menampakkan ekpresi yang lain. “Kau memasak lagi hari ini?” tanyanya bersedekap di depan dada.

Seungsik bangkit dari tempatnya duduk. Meraih bahu pria itu dan mengajaknya masuk ke dalam. “Dingin, jangan berlama-lama di luar.” Lalu Seungsik menutup pintu. Membelakangi Chan yang kini masih menuntut penjelasan dari sang suami.

“Seungsik,” Chan memberi pandangan serius, “Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Seungsik dengan rambutnya yang telah di tata rapi menampakkan sebagian dahinya itu memasang wajah tak berdosa. Memegang jam tangannya tanpa makna dan memandang Chan lembut. “Kau terlihat pulas sekali. Aku tidak tega membangunkanmu.”

Chan memerosotkan bahunya, alisnya nampak hampir menyatu dan bibirnya terlihat tidak senang, “Tapi, minggu ini jadwalku memasak.” Chan melanjutkan, “Kita sudah membuat jadwal, bukan?”

Tidak, Chan bukan sedang marah. Mau dicap manusia seperti apa dia saat sudah jelas suaminya menunjukkan kasih sayang dengan memasak saat ia bangun kesiangan tetapi dibalas dengan amarah. Seharusnya itu salah satu kegiatan romantis di rumah tangga yang lain.

Tetapi, kali ini Chan benar-benar harus bicara, pada sosok terlewat baik ini.

“Jika kau semua yang mengerjakannya … bukankah itu akan tidak adil untukmu?” Chan mendekat, menyentuh lengan yang lebih tinggi sebelum Seungsik membalasnya dengan senyum lebar seiring dengan gigi kelinci yang timbul.

“Kau tidak usah khawatir.” Tangan berbalut jam tangan itu mengelus pelan puncak kepala Chan. “Aku tidak keberatan melakukan itu semua.” Lalu Seungsik menggandeng tangan suaminya menuju ruang makan. “Lagi pula aku hanya masak makanan sederhana. Itu tidak merepotkan.”

Seungsik menarik kursi dan mempersilahkan Chan duduk. Lalu pria itu mengambil kursinya sendiri di samping Chan. “Maaf jika tidak enak.”

Chan yang masih tak berhasrat menyentuh alat makan memandang sendu Seungsik, “Harusnya aku yang minta maaf. Aku terlambat bangun.” Chan menelan salivanya berat, “Untuk kesekian kalinya.”

Chan benar-benar malu.

 “Tak apa, Chan.” Seungsik memberi senyum menenangkan. “Memasak bukan pekerjaan yang sulit. Apa nanti kau pulang larut?” tanya Seungsik yang mengingat bahwa pekerjaan suaminya yang akan sampai pada salah satu puncak yang melelahkan.

Chan mengangguk, “Cerita ku baru saja direvisi, harus bertemu ilustrator juga. Hari ini pengecekan lagi dan waktunya hanya sebentar sampai masuk ke percetakan.” Chan menjelaskan.

“Aku jemput ya?”

Chan terlihat tidak senang, “Hari ini kau ada proyek, 'kan?”

“Bukan proyek besar. Masih bertemu dengan kontraktor.” Seungsik melanjutkan, “nanti aku jemput, ya? Kita makan malam di luar.”

 “Kau …” Chan mengambil sendoknya lalu tertahan. “Kenapa baik sekali jadi manusia.” Keluhnya yang terdengar sebagai pujian. Chan beralih mengambil semangkok nasi yang masih mengeluarkan asap hangat, mengambil seporsi untuk Seungsik lalu untuknya sendiri. “Tidak. Aku akan bawa mobil sendiri.”

Seungsik tertawa. mengambil mangkok sup mendekat dan menggesernya tepat di hadapan Chan. “Rumah tangga harus diisi dengan kasih sayang, kau tahu itu.”

Chan memandang sang suami yang masih tertawa tersebut. “Tapi, jika seperti ini terus … aku yang tidak tahu diri.” Chan melanjutkan, “Kau jika tidak suka dengan salah satu perilakuku, kau bisa mengatakannya.”

Namun Seungsik menggeleng, “Apa yang perlu aku protes dari manusia gemas seperti dirimu.”

“Kau ini,” Chan menahan pipinya yang ingin bersemu merah. “Baiklah, aku yang akan menjemur hari—” Chan menoleh pada mesin cuci yang diletakkan di samping kitchen set. Ingat dengan benar bahwa semalam masih ada dua keranjang berisikan selimut dan baju kotor yang rencananya hari ini ingin ia cuci.

Namun kini keranjang itu telah kosong dan ditumpuk rapi.

“Aku sudah mencuci, menjemur, membersihkan kamar mandi dan membuang sampah, Chan. Hari ini kau bisa sedikit bersantai.”

Maka Chan hanya bisa menarik nafas dengan berat.

 


 

Lagi-lagi pria dengan rambut yang selalu dibilang fluffy oleh suaminya itu mengusap wajah kasar dan sebuah hembusan nafas lelah yang mengiringi.

Sekitar beberapa bulan sebelum pernikahan berlangsung, mereka sudah membuat kesepakatan yang disetujui bersama-sama. Kata ibu Heo itu penting, merundingkan siapa-siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. Karena kata wanita dengan rambut abu-abu itu, masalah rumah tangga memang selalu terlihat remeh, namun karena remeh yang ditumpuk bisa menjadi gunung masalah.

Maka Chan ingat, malam itu setelah mereka mengukur lagi jas untuk resepsi, Chan mengajak Seungsik memulai percakapan serius dan karena faktor Seungsik yang selalu kooperatif, sebuah keputusan ditentukan—dengan Chan yang mendominasi diskusi sebenarnya, karena Seungsik hanya iya-iya saja dan mengangguk tak lupa senyum manisnya setiap Chan mengutarakan pendapat.

Tidak ada yang akan mengerjakan pekerjaan rumah secara terus menerus. Semua dibuat bergilir dengan jadwal pekerjaan rumah yang berganti setiap satu minggu. Jadi, satu minggu penuh diisi dengan Chan yang mencuci, menjemur, memasak, membuang sampah hingga bebersih. Lalu satu minggu selanjutkan giliran Seungsik.

Masalahnya, minggu ini giliran Chan, dan Seungsik selalu di sana. Muncul dengan senyum kelincinya dan berkata ala anak balita, “Aku menyelesaikan semuanya! Kau bisa bersantai. Aku akan pergi bekerja dan nanti malam kita bisa beristirahat bersama.”

Kesimpulannya … Chan hanya merasa tidak berguna.

Demi Tuhan, Chan mengepalkan kedua tangannya, mengabaikan laptopnya yang masih menyala dan lagi-lagi menghembuskan nafas lelah. Kenapa ada orang yang senang sekali membuat orang lain menganggur. Chan memijat pangkal hidungnya pelan.

Pria dengan setelan santai itu menghempaskan punggungnya ke kursi. Membiarkan kaos hijau khaki terlihat semakin menojol dibalik jas hitamnya. Ia berencana melanjutkan pikiran pusingnya berhubung pekerjaannya hari ini sedang kacau semua—ya, ini sarkasme untuk dirinya sendiri.

Lagi pula novelnya sudah hampir jadi, ia hanya perlu melihat lagi segala revisi dari editor. Bukan sesuatu yang besar, walau ada 364 halaman yang harus ia tinjau ulang.

Itu keputusannya, sebelum pintunya terbuka dan menampilkan pria dengan tinggi rata-rata seperti dirinya masuk dengan wajah datar. Tampil unik dengan kaus putih santai dan celana denim yang bertolak belakang dengan aturan kantor. Karakteristik Do Hanse, sang ilustrator untuk novel terbarunya.

Chan mengerutkan dahi, memandangi Hanse dari atas kepala hingga sampai pada sepasang chunky shoes itu. “Kenapa kau ke sini?”

Hanse yang memegang iPad dan beberapa kertas kosong tersebut mengangkat alis. “Kau lupa?” Chan sama sekali tak mengerti, “Kita ada jadwal hari ini?” Hanse kembali melanjutkan, “Sketsa sampul dan gambar untuk pemisah bab sebelum makan siang?” ucapnya berusaha menjelaskan sebaris pesan singkat yang Chan kirimkan pagi tadi.

Sepersekian detik Chan seketika menutup matanya dan menjentikkan jari. “Maaf aku lupa.” Lalu ia menunjuk sebuah kursi di hadapannya dan mempersilahkan Hanse untuk duduk. “Terlalu banyak pikiran.” Ucapnya sebagai basa-basi.

Hanse meletakkan pensil, kertas dan tabletnya di atas meja Chan. Menyusunnya rapi dan berkata dengan bibir yang berhiaskan tindik berwarna perak. “Tema buku mu tidak berubah, ‘kan?”

Chan mengangguk, menyentuh tombol sleep pada laptopnya dan menggeser benda itu untuk berhimpitan dengan kalender meja dan beberapa rak dokumen di atas meja. Chan menaruh atensi penuh pada sosok pekerja lepas ini, sedikit menyadari bahwa si Pria Do mengenakan kacamata baru. “Ya, cerita metro-pop dengan unsur patah hati.”

Hanse membuka iPad-nya dan membenarkan letak kacamatanya, “Aku memiliki beberapa saran. Aku juga sudah lihat kerangka ceritamu yang banyak menyinggung soal hujan.” Hanse membuka dokumen yang sudah ia coba gambar-gambar sendiri kemarin sore. “Entah kau akan suka yang mana, tetapi unsur sendu patah hati lebih sering dikaitkan dengan jendela atau payung.” Hanse memberikan tabletnya pada Chan, “atau jika kau memiliki saran lain, kita bisa membicarakannya.”

Chan mengangguk, meneliti setiap goresan digital pada layar yang ada. Memperlihatkan gaya gambaran Hanse yang sejak buku pertamanya selalu membuat Chan merasakan kecocokan pada gaya tulisannya yang sedikit puitis.

Ia menggulir layar diantara empat gambar yang disajikan. Meneliti dari setiap gambar berunsur sedih yang ada dan kebingungan dengan segala yang Hanse tawarkan.

“Tim penerbit bilang keputusan seratus persen ada di kau. Mereka setuju dengan beberapa gambar ini.” Hanse melirik pada salah satu gambar jendela dan gedung perkantoran yang ia gambar, “Tuan Han bilang jika ia suka dengan yang itu.”

Chan meneliti komposisi gambar tersebut, menyukai bagaimana setiap garis yang digambar melalui beberapa coretan nyaris lurus bisa membuat bayang-bayang gedung terlihat melankolis. “Aku juga suka yang ini. Tetapi ini terlihat bagus.” Tunjuknya pada layar selanjutnya, menunjukkan gambar payung yang terlihat basah, digeletakkan di depan pemberhentian bus dan ada sepasang kaki wanita yang juga terlihat basah.

Hanse memberikan senyum, “Seperti biasa, kau menyukai sesuatu yang terlihat lebih sedih, ya.” lalu Hanse melanjutkan guraunnya, “Baik, akan ku catat.” Ucapnya sebagai tanggapan.

Chan berniat melanjutkan kegiatannya lagi, meneliti gambar yang lain sebelum notifikasi pesan mengalihkan perhatiannya.

Bukan ponselnya, tetapi notifikasi ponsel Hanse.

Pria itu menurunkan kacamatanya menjadi sebatas hidung dan memandang ponselnya dengan fokus. “Sepertinya hari ini aku tidak bisa berlama-lama.” Hanse menutup lagi layar ponselnya, “Sejun memintaku makan siang bersama setelah ini.” Ia mengangkat sedikit bokongnya untuk menempatkan lagi benda elektronik itu di saku belakang, “Kau tahu, tipikal suami sempurna … dia bilang dengan wajah bodohnya jika kita harus makan enak agar ibukku tidak memecatnya sebagai menantu.”

Seketika konsentrasi Chan berantakan, suami sempurna.

Oh benar, Sejun dan Seungsik adalah tipe-tipe manusia yang tak jauh berbeda.

Chan mendongak, meletakkan benda eletronik tersebut di atas mejanya dan memandang Hanse lekat-lekat.

Yang ditatap memberikan pandangan bertanya, “Apa?”

Chan meletakkan tangannya di dagu, mengusapnya sebagai ungkapan berpikir dan berkata, “Sejun itu tipikal seperti Seungsik, ‘kan? Tipikal selalu ingin merasa pasangannya bahagia.” Hanse dan Sejun adalah pasangan yang baru saja menikah. Seharusnya koleganya ini bisa membantu.

Hanse tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan di luar pekerjaan tersebut. Namun ia tetap mengangguk. “Perbuatannya terkadang sulit dinalar tetapi Sejun adalah sosok sebaik-baiknya pasangan yang bisa kau minta.” Pria Do itu menambahkan, “benar, tak jauh berbeda dari Seungsik.” Ucapnya mengingat sosok berambut pirang yang selalu ada di depan kantor dengan senyumnya yang secerah matahari.

Seperti Sejun yang selalu hanya melihat dirinya, atensi Seungsik selalu tertuju pada Chan seorang dan seluruh kantor tahu kehidupan harmonis dua pasang manusia ini. Tidak apa, itu hal membanggakan untuk diperlihatkan.

“Keberatan jika aku membahas sesuatu diluar pekerjaan?” Chan memposisikan duduknya menjadi lebih formal. Chan berdeham, ia sendiri tak yakin dengan apa yang ia ingin katakan.

Apalagi pada seorang kolega bisnis.

Tetapi,jika menceritakannya selain pada yang bernasib sama, Chan bisa dikatai ‘tidak bersyukur’ jika memusingkan hal ini. Jadi, mari beranggapan ini adalah percakapan antar pria biasa.

Hanse masih dengan ekspresi bertanya, menunggu kelanjutan Chan untuk menjelaskan.

“Aku mengalami sesuatu dengan Seungsik.” Chan menelan salivanya berat, “dan sepertinya hanya kau yang akan mengerti.”

Hanse mendapatkan poin masalahnya. “Tentu.” Hanse melirik ke jam tangan yang melingkar menambah suasana meriah pada tatonya yang mengukir. “Masih ada beberapa menit sebelum jam makan siang.” Lalu matanya tertuju pada iPad-nya yang sudah diabaikan, “Pekerjaan juga bisa menunggu.”

Chan memberikan senyum penuh terima kasih. Lantas ia mulai memilah beberapa kata yang ada di kepalanya, mencari seuntai kata terbaik walau keseluruhan terdengar sangat payah—apa yang bisa kau harapkan dari curahan hati permasalahan rumah tangga?

“Jika Sejun terlalu sempurna, apa yang kau rasakan?”

Itu pertanyaan bodoh. Bahkan Chan tidak sanggup memandang Hanse yang sedikit melebarkan matanya.

Lama mereka diam. Membiarkan detik jam yang mengiringi dan Chan yang membuang muka untuk melihat jendela ruangannya yang memamerkan pemandangan kota Seoul yang selalu sibuk.

Hingga ahirnya Hanse angkat suara, “Sejun memang sempurna.” Hanse memberi senyuman singkat, saat Chan kembali menoleh “dan aku merasa beruntung soal itu.”

Chan sudah mengabaikan segala sesautu tentang pekerjaannya, ia jelas sekali nampak tertarik dengan jawaban Hanse, “Bagaimana caramu menunjukkannya?”

Hanse mengangkat bahunya, memandang langit-langit yang didominasi warna putih tersebut. “Aku hanya berusaha menjadi yang terbaik dari versi diriku sendiri.” Hanse menautkan kedua tangannya dan meletakkan di atas pahanya sendiri. “Sosok sempurna seperti itu hanya perlu tahu jika mereka sudah menjadi lebih dari cukup. Jadi ya … mengungkapkannya yang terpenting.”

Chan diam-diam mencatat setiap kata itu di dalam kepalanya. Lalu selayaknya merumuskan sebuah tulisan, terbesit sebuah pertanyaan utama di kepalanya. “Apa kau pernah merasa terbebani karena Sejun terlalu sempurna?” Chan menerangkan dengan improvisasi pada tangannya, “seperti merasa tidak berguna, tidak enak hati atau apapun itu.”

Hanse memberi tawa kecil, mengusak rambutnya sendiri dengan jari-jari yang salah satunya melingkar cincin perak yang Chan tebak adalah cincin pernikahan mereka. “Setiap hari. Aku selalu merasa tidak pantas untuk bersama si sempurna itu.” Hanse kembali melanjutkan. “Tetapi aku juga tidak ingin menyia-nyiakan hadiah dari Tuhan untukku. Jadi aku melakukan sebisaku untuk mengapresiasinya.”

Chan kembali menunggu apapun itu yang akan keluar dari bibir Hanse.

“Aku selalu berusaha mengungkapkannya pada Sejun. Walau memang terasa sulit jika mengatakan di wajahnya langsung … jadi aku mencoba cara lain.”

Chan menarik nafas, sebenarnya sebuah pikiran kembali melintas di kepalanya. Hanya saja ia sedikit ragu karena mungkin ini bukan sesuatu yang tepat untuk dipertanyakan.

“Jika kau tak keberatan menjawab, bagaimana caramu menunjukkannya?”

Hanse nampak tak terganggu. Ia semakin santai dengan punggung yang lebih rileks di sandaran kursi. “Kau bisa mengungkapkannya dengan caramu sendiri." Hanse kembali melanjutkan, "kau bisa mengungkapkannya pada perayaan spesial agar tak terlalu canggung.”

Chan mengernyit, “perayaan?”

“Sesuatu seperti anniversary, hari kasih sayang atau ulang tahun.”

Secepat kilat, Chan menoleh pada kalender mejanya. Memperhatikan dengan antusiasme di puncak kepala pada sebuah spidol merah yang sengaja dicoretkan membentuk lingkaran pada beberapa tanggal pada penanggalan bulan ini.

Satu pada tanggal Chan harus mengirim naskah ke pihak penerbit. Lalu tinta merah itu juga menunjuk pada sebuah tanggal dengan tulisan ‘Ulang tahun Seungsik.’

Chan seolah mendapat ide cemerlang, “Menunjukkan dengan caraku sendiri, ya?” dan ulang tahunnya tiga hari lagi.

 

 

.

.

.

 

“Kau tahu, sesuatu yang spesial tidak harus sesuatu yang mahal.” Hanse berujar santai. Ia meletakkan kacamata tersebut di atas kepalanya dan kembali melanjutkan, “Akan bagus jika itu satu-satunya di dunia.”

Chan mendapatkan inti pembicaraannya. Senyum sedikit tertera di bibirnya membuat dua lubang kecil tampak malu-malu di pipinya. Hingga sebuah dering notifikasi tertera di ponsel milik Chan sendiri.

“Sebentar,” Chan memberi isyarat pada pria di hadapannya. “Oh, dari Seungsik.”

 

Kang Puppy
Chan, kau jadi pulang larut?

 

Chan kembali mengulas senyum lebih lebar, benar-benar tak ragu menampakkan giginya walau akhirnya hal itu membuat Hanse bergidik geli. “Apa itu salah satu ungkapan cinta di antara kalian?” komentarnya basa-basi.

Chan menggeleng, tetapi masih dengan senyum yang lebar ia menjawab, “Ia bertanya apa aku pulang larut malam.”

Hanse memutar matanya jengah, “Sama saja seperti Sejun.”

Pria pemilik tato siren itu kembali melihat jam tangannya, “Sepertinya aku juga harus kembali. Sudah jam makan siang.” Jelasnya dan membuat Chan melihat pojok ponselnya untuk membaca jam yang tertera dan mengangguk. “Terima kasih atas saranmu.”

Hanse berdiri, diikuti dengan Chan dan menyodorkan telapak tangannya untuk menawarkan jabat tangan. “Sama-sama. Semoga sukses.” Lalu pria itu mengambil seluruh barang-barangnya, menumpuk kertas dan iPad menjadi satu, “Nanti soal gambarnya akan aku kirimkan lagi lewat surel.”

Chan tak ambil pusing, “Kapan saja. Akan aku lihat lagi.”

Lalu setelah memberi senyum singkat, Hanse keluar dari ruangannya, meninggalkan Chan pada udara kantor yang lumayan dingin karena air conditioner dan kembali berkutat dengan ponselnya.

 

Chan
Tidak, aku akan pulang seperti biasa.

 

Chan menaikkan alisnya saat mengangkat kepalanya dan melihat laptop dengan ratusan halaman yang belum ia baca kembali. Pekerjaan bisa menanti.

Tak lama ponselnya kembali mengeluarkan bunyi tanda Seungsik yang langsung membalas.

 

Kang Puppy
Pekerjaanku juga tak terlalu banyak. Kita makan malam bersama ya?

 

Chan
Tentu. Sampai bertemu nanti malam.

 

Kang Puppy
Kau ingin makan sesuatu? Aku akan memasak.

 

 

Chan yang awalnya tersenyum kembali menghembuskan nafas lelah. Demi Tuhan, pria ini sudah memasak untuk sarapan tadi. Tetapi Seungsik tetaplah Seungsik. Rasanya pria itu lebih suka membuat Chan menjadi pengangguran dari pada pergi beristirahat.

 

Chan
Seungsik, minggu ini masih jadwalku mengerjakan pekerjaan rumah.

 

 

Lagi-lagi pesan dibalas dengan kecepatan kilat.

 

Kang Puppy
Aku sudah di rumah. Jadi tidak masalah.

 

Memang, Seungsik adalah pria keras kepala, yang sempurna tentu saja.

 

Chan
Apa saja. Kau bisa memasak apa saja. Aku dengan senang hati akan memakannya.

 

Lalu dering notifikasi lagi-lagi terdengar. Kali ini Chan mencuri lihat pada foto profil yang Seungsik gunakan. Tentang Seungsik yang tersenyum lebar sekali hingga dua gigi kelincinya selalu mencolok. Chan ingat, foto ini diambil di ruang televisi mereka beberapa minggu yang lalu.

Kang Puppy
Apa kau yakin tidak menginginkan sesuatu yang spesifik?
Aku bisa memasak apapun.

Apapun, Seungsik bisa memasak apapun. Maka tersebesit sebuah ide dengan rating parental advisory di kepalanya. Chan membuka galeri fotonya, tak membutuhkan waktu lama hingga foto yang ia cari terlihat.

Sebuah foto Seungsik yang tersenyum, memamerkan bibirnya yang memerah dan mengembang. Lalu Chan memotong gambar tersebut menjadi hanya bagian bibirnya saja dan mengirimkannya pada Seungsik.

 

Chan
Aku ingin ini sebagai makan malam
.

 


 

Tak banyak yang pria itu lakukan sejak percakapan singkatnya dengan Chan siang tadi. Ia memutuskan hanya akan memasak makanan sederhana karena Chan juga meminta sesuatu yang lain sebagai makan malamnya.

Jadi Seungsik pikir sup krim jagung dan daging sapi panggang sudah lebih dari cukup.

Sepenuhnya Seungsik berterima kasih pada kecepatan tangannya, hingga pada pukul empat lebih lima puluh menit sore ini hampir seluruh makanan sudah tersaji.

Ia tetap membiarkan sup itu berada di atas kompor yang apinya telah diatur tak terlalu besar.

Jadi, karena pekerjaannya telah selesai semua, Seungsik memilih menikmati waktunya sendiri.

Tak ada yang spesial. Bukan sebuah hobi yang mahal atau atau sesuatu yang membutuhkan tenaga.

Pria dengan celana kain dan kaus rumahan itu suka sekali menikmati waktunya dengan membaca koran. Koran sisa tadi pagi yang beberapa halamannya belum ia baca karena terburu-buru ke kantor sebenarnya.

Entah sudah berapa orang mengatainya kuno atau kolot karena masih mau berlangganan koran fisik saat sudah tersedia surat kabar digital. Bahkan Chan sendiri juga tak berhenti bertanya kapan Seungsik akan beralih ke teknologi.

Tetapi Seungsik selalu menggeleng dengan senyuman.

Rasanya berbeda membaca dari kertas dengan melihat di layar digital semu seperti itu, selalu menjadi kalimat andalannya.

Seungsik juga menyukai bagaimana lembaran koran yang harus dibuka lebar-lebar bersuara saat dibolak-balik, suara itu selalu mengingatkannya pada kebiasaan sang ayah di kampung halaman saat telepon masih menjadi teknologi mahal.

Klasik memang selalu yang terbaik.

Hingga suara bip-bip tanda orang tengah membuka sandi pintu rumahnya terdengar.

“Itu pasti Chan.”

Maka dengan senang hati Seungsik meninggalkan benda klasik itu dan berjalan ke lorong pintu. Mendekat dengan senyuman merekah melihat punggung tak terlalu lebar itu masih menutup pintu.

Seungsik tak berkata banyak. Masih dengan senyum dan celana kainnya yang terlihat longgar ia mendekat. Meraih tas punggung yang Chan kenakan dan tak memberi suaminya kesempatan saat pria itu hendak mengatakan sesuatu.

“Seungsik—”

Karena kalimat itu telah tersumbat dengan sebuah ciuman.

Bukan sesuatu yang agresif sebenarnya. Chan juga bisa merasakan bagaiman suaminya ini tak berhenti tersenyum disetiap selingan kecupan mereka.

Jadi, Chan tidak punya alasan untuk menolak. Toh memang ini makan malamnya.

Tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Seungsik dengan satu tangannya menyentuh pipi Chan sedangkan satu lagi menyentuh pinggang pemuda itu memojokkannya ke dinding—lagi-lagi dengan gerakan Seungsik yang selalu terlewat lembut.

Chan mengangkat kedua tangannya pada leher yang lebih tinggi. Menyelipkan jari-jarinya pada rambut sang suami yang mulai panjang, kali ini membuka mulut untuk memberi akses pada Seungsik yang berulang kali berusaha melibatkan lidahnya.

Chan tertawa sedikit, membuka mata lagi untuk melihat Seungsik yang masih tersenyum sebelum akhirnya mengalah dan membiarkan lidah itu masuk. Bersamaan dengan dirinya yang membalik keadaan dengan mendorong Seungsik agar pria itu yang bersandar di dinding.

Tak ada jarak yang tercipta, tubuh mereka berdua secara otomatis berhimpitan dengan suara beberapa kecupan yang terdengar sedikit sensual.

Karena bagaimanapun, tak ada ciuman lembut terbentuk jika lidah telah berpartisipasi.

Belaian Chan turun ke garis rahang suaminya. Sejujurnya ia terlewat hafal bagaiman tulang itu nyaris membentuk sudut sembilan puluh derajat setiap hari, hanya saja ia lebih suka melihatnya melalui indera peraba.

Seungsik adalah pencium yang ulung. Bahkan saat ia mengaku Chan adalah ciuman pertamanya … namun sejak awal dia adalah professional.

Chan menikmati bagaimana kedutan pada bibir bawahnya tercipta setiap Seungsik memberi lumatan. Bergerak begitu teratur dan tak membiarkan Chan kehilangan jalur nafas walau jelas telah membuat pria itu terus menginginkan lebih dan lebih.

Lenguhan pertama terdengar; itu dari Chan.

Seolah hal itu sebagai bel pergantian ronde, gerakan bibir Seungsik memelan.

Tak perlu diberi tahu Chan telah paham. Kali ini gilirannya untuk bermain.

Jari-jarinya menegang di sudut rahang Seungsik. Memastikan bibir pria itu tak kemana-mana dan mulai melibatkan lidahnya sendiri. Namun Seungsik lebih memilih untuk bermain dengan cara yang lain.

Ia tak membuka bibirnya sama sekali.

Membiarkan Chan berulang kali memberikan kecupan putus asa, diam-diam menikmati bagaimana pria itu berusaha mencari jalurnya sendiri.

Nafas Chan mulai tak teratur, beberapa kali dihembuskan kasar seolah marah mengapa bibirnya tak kunjung membuka. Hingga akhirnya Chan membuka mata.

Dengan pipi dan bibir yang memerah, ia menatap Seungsik sayu. “Aku juga ingin bermain.”

Seungsik mengangkat sebelah alisnya.

“Kumohon.”

Seolah magic word telah terucap, Seungsik tertawa, kembali melibatkan bibir mereka dengan kali ini terbuka untuk Chan masuk.

Tiba-tiba saja, lidah Seungsik sudah menyambut pendatang baru itu. Terasa hangat dan basah. Chan sudah tak memerlukan akal sehatnya lagi sekarang.

Ia menikmati bagaimana Seungsik berusaha aktif tanpa mendominasi saat lidah suaminya sibuk menyentuh setiap sudut mulutnya yang bisa dicapai. Seolah tengah memastikan segala yang ia sukai tetap di sana dengan sesekali mendesah putus asa karena Demi Tuhan, Chan membatin, ini Seungsik.

Hingga sesuatu—yang Chan ingin sekali buang ke ujung dunia karena menganggu—menginterupsi.

Supnya terlalu mendidih, kompornya berbunyi.

Membuat tautan bibir mereka berdua terlepas dengan nafas terengah-engah.

“Haruskah aku menendang kompor itu?” ucapnya dengan tawa ringan mengabaikan wajah dan bibirnya yang masih memerah.

“Sepertinya makan malam ronde pertama harus selesai.” Seungsik berbisik dengan menjilat bibirnya sendiri yang tengah mengembang merah. “Nanti kita lanjutkan lagi.” Lalu kalimat penuh peluru penghilang kewarasan itu ditutup dengan Seungsik yang memberikan kecupan singkat.

Lalu pria dengan kaus rumahan itu mengambil langkah pertama. Masih membawa tas suaminya di tangan berlari kecil menuju dapur dan mematikannya.

“Aku masak sup jagung dan daging panggang.”

Seungsik bersikap seolah kegiatan menghilangkan kewarasan tadi bukan apa-apa. Kini ia kembali menjadi Seungsik yang penuh tawa dan membawa semangkok sup yang mengepul hangat untuk disajikan pada Chan yang baru saja terduduk.

Lalu pria dengan setelan kantoran itu mengambil sendok. Membawa satu sesapan ke bibirnya dan berkata, “Ini resep turun temurun?” yang sejujurnya hanya ungkapan hiperbolis, karena memang enak sekali.

“Kau menyukainya?” tanya Seungsik bergabung untuk duduk bersamaan dengan mangkuk lain yang dibawanya.

Chan mendongak, menelan saliva berat saat suaminya masih tetap dengan bibir merah merekah tersebut.

Nanti, Chan. Monolog dalam hatinya sendiri.

“Kau memang selalu terlewat sempurna.” Puji Chan mengalihkan perhatiannya pada supnya lagi.

“Aku hanya manusia,” Seungsik menjawab dengan nada santai. “Tetapi terima kasih.”

Terkadang, beberapa orang akan mengatai mereka berdua aneh jika mengetahui kejadian seperti ini. Tak sampai beberapa menit yang lalu terlibat ciuman panas di balik pintu dan kini keduanya sedang makan malam seperti tidak pernah terjadi apapun.

Jika dipikir kembali memang sangat aneh.

Tetapi itu bukan sesuatu yang serius menurut Chan karena Seungsik adalah suaminya. Benar, suaminya. Ia bisa bebas melakukan hal itu lagi kapapun ia mau. Hanya saja saat ini bukan itu sesuatu yang harus ia urus.

Denting Sendok masih bergema di ruang makan, Chan melepaskan jaketnya dan membiarkan kaus polos itu menjadi baju utama. “Tiga hari lagi kau ulang tahun.” Ucapnya yang segera membuat Seungsik memberi perhatian penuh padanya.

Chan kembali menyondokkan sup setengah manis tersebut ke mulutnya. “Kau pasti lupa.”

Tabiat Seungsik, Chan membatin, lebih mengingat ulang tahun Chan dari pada ulang tahunnya sendiri. “Juga ulang tahun pertama yang akan dirayakan di pernikahan ini.” jelasnya lagi nampak lebih serius.

Chan mengusak rambutnya. Sedikit merasa terganggu dengan beberapa ujung rambut yang menghalangi pandangannya. Sedangkan Seungsik beralih menoleh pada kalender dinding yang ditempatkan tepat di perantara ruang televisi dan ruang makan.

“Astaga,” Seungsik berucap, “benar juga.”

Lalu Seungsik beralih pada Chan yang telah membuka mulut hendak berucap. Tertawa kecil melihat bagaimana mata bulat suaminya terlihat serius.

“Jadi, kau mau hadiah apa?” tanya Chan serius. Meletakkan sendoknya dan memandang Seungsik lekat.

Seungsik juga melakukan hal yang sama. Ia meletakkan alat makannya dan melipat tangan dengan rapi untuk memandang Chan dengan jarak yang lebih dekat—jangan lupakan senyum yang rasanya mampu membuat bibirnya sobek karena terlalu lebar.

“Aku tidak butuh apapun.”

Chan bersumpah, ia menyukai bagaimana penerangan di ruang makan ini. memiliki tiga lampu gantung langit-langit dengan sinarnya yang lebih ke arah kuning dari pada putih. Hal itu membuat segala sesuatu yang disinari bernuansa hangat dan ditambah Seungsik yang tersenyum.

Hal itu jauh membuatnya lebih tampan.

Tetapi jawabannya tetap membuat Chan kesal.

“Kau manusia, ‘kan? Demi Tuhan.” Chan memberi penekanan, “Mintalah sesuatu. Apapun. Tuntutlah sesuatu.”

Seungsik nampak tak terpengaruh dengan ekspresi Chan. Pria yang rasanya terbuat dari kapas karena terlalu lembut tersebut meraih jemari Chan dan menggenggamnya hangat.

“Aku harus menuntut apa lagi. Jika memang yang aku dapatkan adalah kau, Chan.”

Oh lihat … memang inilah Kang Seungsik.

“Mulutmu.” Yang sesungguhnya hanya kata-kata yang diucapkan sebagai pengalihan rasa malunya. “Jadi, kau yakin tidak ingin meminta apaa-apa?”

Seungsik mengangguk. “Segala ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak merasa membutuhkan apapun lagi.”

Chan menghela nafas pasrah. Tak tahu bagaimana lagi untuk menghadapi suaminya hingga kalimat yang keluar hanyalah, "Baik, mari gunakan caraku sendiri." Gumaman itu Chan suarakan pelan.

membuat Seungsik yang tak terlalu jelas mendengar berusaha memastikan kembali, "Apa?"

Pria dengan kaus hijau khaki itu menggeleng dengan senyum lebar. "Supnya enak." ucapnya sebagai pengalih pembicaraan.

Syukurnya, membuat Seungsik percaya dan menyendokkan supnya sendiri ke mulutnya. "Aku senang kau menyukainya."

Bagaimana mungkin ada manusia sempurna seperti ini?

 


 

“Kau tidak ke kantor?” siapa lagi jika bukan suara suaminya yang kini melangkah terburu-buru dengan tas punggung dan laptop dipelukannya.

“Aku libur hari ini.” jelas Seungsik mengabaikan fakta bahwa sepertinya Chan lupa, malam sebelumnya Seungsik sudah mengatakan dengan jelas.

“Kantor menjadi aneh.” Ucapnya mematikan lilin aroma therapy di atas meja dan akhirnya bergabung di selimut yang sama dengan Chan.

Chan yang masih membiarkan rangkaian produk perawatan kulit meresap ke wajahnya menoleh sedikit pada Seungsik, “Memangnya kenapa?”

“Mereka berkata memberikan cuti cuma-cuma karena besok aku ulang tahun.”

Seungsik sudah mengatakan jika ini cuti ulang tahun. Tetapi sepertinya Chan tidak ingat.

Pria dengan rambut seperti gumpalan awan itu mendekat. Mendatangi Seungsik yang duduk di ruang keluarga dan memberi senyuman singkat.

Seungsik masih duduk di sana, menanti kalimat sederhana yang dulu hanya mereka ucapkan melalui pesan singkat saat ulang tahun.

Seungsik menanti-nanti. Apa rasanya mendengar langsung ucapan itu saat sudah ada cincin di masing-masing jari manis mereka.

Tetapi sepertinya Chan tidak berpikir demikian.

“Baiklah, kalau begitu aku berangkat,ya?”

Chan mengecup singkat pipi kiri Seungsik, “Hari ini naskahku dikirim ke penerbit.” Chan berlali keluar. “Jangan menunggu. Aku akan pulang larut.”

Seperti biasa, penyebab Chan berlarian pagi ini karena bangun terlalu siang hingga pria itu harus berlarian mengambil pakaian dan menuju kamar mandi.

“Chan, sudah bawa bekalmu ….” Teriaknya yang tidak didengar oleh suaminya.

“Dasar,” ucap Seungsik menggelengkan kepala. Namun bisa menghembuskan nafas lega saat melihat meja makan tempat ia meletakkan bekal itu telah kosong.

Tak apa, pantas ia lupa. Ini hari yang sibuk untuk Chan. Seungsik masih memandang pintu yang telah menutup sejak tadi tersebut. Ulang tahun bukan sesuatu yang spesial.

Lantas keheningan ruangan menyisakan Seungsik yang sudah tampil rapi dengan celana panjang dan kaus bergambar marvel untuk duduk dan memperhatikan televisi yang sedang mati. Menoleh ke keseluruhan rumah untuk mengira-ngira apa lagi yang harus ia kerjakan di hari libur mendadak ini.

Cuci baju, memasak, membuang sampah, sudah semua. Lalu apa—oh, koran!

Pria itu meraih sandal rumahnya, berlari sedikit untuk membuka pintu dan melihat mobil Chan sudah tidak ada di garasi. Lalu pandangannya berganti menuju langit yang sepenuhnya tengah cerah walau anginnya sedikit menusuk tulang, memberikan sinar-sinar istimewa pada beberapa bunga yang ditanam di pot dan diletakkan manis di setiap ujung halaman rumahnya.

Benar juga, Seungsik melihat pada bunga matahari kecil di ujung halaman. Sebaiknya aku juga berkebun setelah ini.

Seungsik berganti mengenakan sandal santainya dan berjalan mendekati pagar otomatis yang selalu digerakkan menggunakan remote tersebut. Menunduk mengambil koran yang digeletakkan di tanah lalu tersenyum saat menghirup aroma kertas koran yang khas.

“Mari kita lihat apa lagi-lagi kasus perusahaan A yang menjadi kepala berita—”

Komentar monolog Seungsik seketika terhenti. Karena kini judul dengan huruf yang diketik besar-besar seperti memberikan serangan jantung padanya.

Selamat Ulang tahun Kang Puppy-ku!!

Ya, benar. Kau tidak salah lihat. Selamat ulang tahun, Seungsik. Dulu aku melamar untuk meminta Kang Seungsik menjadi suamiku, tetapi Tuhan memberikan satu paket lengkap manusia sempurna untuk menerimaku apa adanya.

Memang, ini surat jatuh cinta yang aku kirim ke surat kabar. Karena kau yang bersikeras tak ingin hadiah, jadi biar aku yang memberikan hadiah sesuai kemauanku. Jadi, tolong baca sampai habis.

Tak pernah terlewat satu hari pun tanpa membuka mata dan berucap syukur saat melihat wajahmu yang tertidur pulang di sampingku.

Kau selalu mengingatkanku pada sebuah ungkapan remaja, bahwa sosok yang terlalu baik mungkin tidak akan cocok untuk diri mereka. aku sempat berpikir begitu.

Maka dari itu, dengan seluruh pembaca koran ini, aku di sini. Di sampingmu berusaha sekuat mungkin untuk terus menjadi lebih baik.

Untukmu dan untukku sendiri.

Aku mencintaimu, Kang Seungsik si manusia sempurna.

 

Pada akhir kalimat itu Seungsik tertawa lebar. Chan tidak melupakan ulang tahunnya. “Bagaimana bisa aku menuntut sesuatu yang lebih pada suami seperti ini?”

Mungkin bunga matahari di ujung sana akan bersaksi penuh hiperbolis melihat senyum pria itu yang tak kunjung turun.

 

.

.

.

END