Work Text:
Jam yang berpendar terang di dashboard mobilnya menunjukan pukul 20.54. Dari arah kanan dan kiri jendela gelap mobilnya, ia bisa melihat antrian kendaraan yang berusaha keluar dari jalan tol.
Daerah pinggiran Jakarta pukul 20.54 harusnya tidak terlalu macet kan?
Tetapi ia lupa.
Hari ini adalah hari Jum’at, hari macet sedunia bagi daerah Jakarta dan sekitarnya. Dan Mingyu sedikit menyesal tidak segera meninggalkan tempat kerjanya dengan cepat tadi.
Alunan melodi acid jazz dari Incognito mengisi pada ruang kosong mobilnya, menghibur ia yang sedaritadi menginjak pedal rem. Yah, setidaknya mobilnya bertransmisi automatic, pegal yang ia rasakan hanya pada kaki kanan dan punggungnya saja.
Pikirannya tengah melayang entah kemana ketika sebuah notifikasi pesan singkat masuk pada gawainya yang tengah tersender pada car phone holder.
Adek
Kak, jangan lupa titipan aku ya
Mingyu berfikir, harusnya semua titipan sudah ia belikan. Suaminya itu tadi siang sempat mengirim pesan untuk dibelikan beberapa barang yang sudah habis di rumah mereka. Ia tengah sibuk mengerjakan proyek untuk instalasi seni terbarunya, sehingga belanja keperluan bulanan yang biasa mereka lakukan bersama setiap akhir bulan akhirnya mau tidak mau harus Mingyu lakukan sendiri.
Mingyu berdoa dalam hati, semoga tidak ada belanjaan yang terlupa tadi. Setelah sibuk mengajar seharian, membantu bimbingan mahasiswanya, dan kini harus terjebak kemacetan, rasanya Mingyu sudah tidak sabar untuk segera sampai rumah.
Tanpa terasa ia telah sampai pada gerbang perumahannya. Sebuah perumahan cluster kecil, tidak terlalu besar namun asri dan nyaman. Ia menyapa ramah pada satpam yang bertugas jaga pada malam itu dan segera memarkir mobilnya di garasi.
Mingyu turun dari mobilnya dan membuka pada bagasi, menurunkan beberapa kantong belanjaan dan menentengnya masuk. Baru saja Mingyu akan mengetuk ketika pintu rumahnya mendadak terbuka lebar.
“Kak, beneran gak lupa kan?”
Wonwoo, suami tercintanya itu tengah menatap dari balik pintu dengan wajah membengkak dan mata yang memerah akibat terlalu banyak dikucek.
“Please, please Kak Igu.. Hidung aku meler banget, inhaler bahkan udah gak memp –Achoo!”
Sambutan berupa wajah Wonwoo yang memerah dan flu menyadarkan Mingyu akan sebuah pesanan yang tertinggal.
Oh ya Tuhan obat Wonwoo
Wonwoo tadi sore titip untuk dibelikan obat anti-alergi ketika ia sedang fokus membantu mahasiswanya bimbingan, ssehingga membuatnya lupa akan titipan penting itu.
Melihat mata Mingyu yang mendadak membesar, Wonwoo langsung sadar kalau malam ini ia tidak akan sembuh dari serangan alergi. Ia menghela pada nafasnya kesal.
“Kakak, padahal aku udah ingetin”, gerutunya dengan suara yang aneh akibat buntunya hidung.
“Dek, ya ampun maafin.. Kakak tadi lagi bimbingan mahasiswa trus chat kamu ketumpuk sama daftar belanjaan, makanya kakak lupa”
Wonwoo menarik pada kursi dari counter dan menyenderkan kepalanya di permukaan marbel hitam dapur. Mulutnya terbuka karena hidungnya gagal membawa oksigen.
“Gak papa kak –srrt! Maafin juga aku gak jadi masak makan malem, soalnya pusing banget sampe gak fungsi otakku–Oh!”
Tiba-tiba seekor kucing oranye naik ke atas counter dapur dan menyundulkan kepalanya ke wajah Wonwoo. Tidak lama pula terdengar derap langkah kaki dari arah taman belakang, seekor anjing berwarna krem melingkar pada betis dan menaikkan kedua tapak kakinya di paha Wonwoo.
“Halo Cima halo Wortel—Hachi! Iya iya nak, sini-sini anak pinter”, tangan Wonwoo sibuk mengusak sayang pada kedua mahluk berbulu yang sibuk mencari afeksi padanya.
Dan pembaca sekalian, inilah dia pelaku utama dari alergi yang terus menerus menyerang Wonwoo. Para anjing dan kucing yang merupakan hewan peliharaan mereka.
Mingyu pun mau tidak mau tersenyum kecut melihat adegan yang tengah bergulir di depan matanya. Ada dua perasaan yang tengah berkonflik di hatinya.
Satu, bisa-bisanya Wonwoo (masih) memeluk dan menciumi peliharaan mereka ketika ia tengah kesulitan bernafas akibat alergi yang ia derita akibat dua hewan berbulu itu. Dan Dua, perasaan sedikit kesal karena bisa bisanya peliharaan mereka dipeluk dan diciumi tapi Mingyu tidak.
“Dek, Kakak tadi belanja loh, banyak banget lagi belanjaannya”
Wonwoo yang masih sibuk mengusak pada bulu krem Cima mendadak mendongak. Mulutnya terbuka, suaranya bindeng ketika menjawab.
“Hng? Oh, yaudah kakak mandi dulu aja, habis mandi nanti aku pijetin”
Gagal, Wonwoo gagal menangkap maksud Mingyu.
“Dek, kan udah seharian di rumah sama Cima sama yang lain”, Mingyu mendecak sebal.
Wonwoo menatapnya dengan pandangan aneh, jarang-jarang suaminya itu tidak to the point.
“Iya kak, gara-gara seharian kerja terus habis itu main sama mereka dan pas banget obat aku hab –Choo! Is.. Makanya aku sampe kaya gini”
Dan seperti menabur garam pada luka, seekor kucing berbulu hitam putih ikut naik ke counter dapur mereka. Sapi, kucing peliharaan mereka yang lain, kini ikut minta afeksi dengan cara menubrukkan kepalanya ke dada Wonwoo.
“Sapi, tuh pi kakak udah dateng tuh.. ” tunjuknya pada Sapi. Seakan-akan kucing itu akan paham.
Mingyu menggeleng, hampir saja akan kesal ketika mendadak terdengar gonggongan kencang dan derap langkah berlari dari arah pintu belakang rumah mereka.
Dan -Buk!
Seekor anjing besar berbulu coklat hitam tebal, berlari dan langsung menabrakkan tubuhnya yang besar ke arah dada Mingyu dan membuatnya terhuyung ke belakang.
Suara kekehan terdengar dari Wonwoo yang kini terduduk tegak.
“Abang!”, pekiknya. “Pelan pelan bang, Kakak baru dateng masih capek…”
Abang, anjing alpha keluarga mereka, adalah anjing yang begitu menyukai Mingyu. Ditubruk begitu saja oleh seekor anjing 40 kg tentu mengagetkan. Tapi siapa yang tidak senang disambut oleh anjing kesayangan mereka bukan?
Mingyu pun mau tidak mau terkekeh senang.
“Halo Abang!”, Usaknya dengan sayang pada puncak kepala Abang dan moncong hidungnya.
Wonwoo mendekat. Sebuah senyum terlukis pada wajahnya yang memerah. “Kak, semuanya nunggu kakak. Kakak mandi ya, nanti aku buatin Indomie aja gak papa kan?”
Mingyu pun tersenyum, terlanjur luruh. “Kamu tuh, liat deh mukamu merah semua garagara alergi”
Ditarik suaminya itu untuk mendekat dan didekapnya dari belakang. “Mandi bareng yuk? Biar alergi mu mendingan juga”
Wonwoo menatapnya dengan tatapan jahil, satu sudut bibirnya terangkat naik. “Oke, beneran mandi ya kak tapi. Gak pake aneh-aneh…”
Mingyu terkekeh, mencium pada bagian pelipis suaminya itu. “Aneh-aneh lah enak aja kamu…”
Wonwoo tertawa, dan Mingyu tidak bisa menahan buncahan rasa yang mencul di dadanya. Suaminya ini, begitu lucu dan manisnya sampai sampai tertawa dalam keadaan meler pun bagi Mingyu ia tetap yang paling indah.
Mereka pun berjalan cepat ke kamar mandi, dengan beberapa pasang mata dari hewan berbulu yang memperhatikan mereka menghilang di balik pintu.
Jika ditanya bagaimana mereka bisa bertemu dan berpacaran hingga akhirnya menikah, baik Mingyu maupun Wonwoo akan dengan kompak menjawab New Zealand sebagai jawabannya.
Mingyu yang saat itu baru saja menyelesaikan studi Ph.Dnya di Jepang sudah berencana untuk melakukan perjalanan backpacker keliling South Island sebagai hadiah kelulusan, harus berlapang dada ketika bundanya dari Jakarta mendadak mengabari kalau ia diminta untuk menjaga sekaligus menemani anak dari sahabatnya yang juga akan pergi ke New Zealand.
“Igu, Kamu tuh udah pernah ketemu sama dia. Anaknya dulu nempel ke kamu terus kok waktu si Yeon main ke rumah..”
“Bun, itu dua puluh tahun yang lalu? Igu udah hampir 30 tahun sekarang, mana inget lah sama anak temen bunda waktu Igu umur 8 tahun..”
Bundanya mendecak sebal dari ujung telfon sana, “Udah sih temenin aja dulu 3 hari, Onu tuh anaknya baik kok, gak akan ngerepotin kamu…”
“Bukan masalah dia ngerepotinnya Bun, Igu tuh sengaja jauh-jauh kesini– demi rencana solo travel yang udah Igu atur bertahun-tahun lalu..”, Harus terputus karena baterai handphonenya mendadak mati.
Mingyu pun menghela nafasnya lelah. Kini ia harus kembali lagi ke terminal penjemputan, melakukan charging ulang pada baterainya dan menunggu 2 jam lagi hingga pesawat dari Indonesia datang dan membawa anak dari sahabat bundanya yang juga tengah berencana melakukan solo travel.
“Igu pokoknya kalo sampe gak ketemu atau gak nemenin Onu barang satu hari aja, Bunda gak akan mau nemuin kamu waktu balik ke Indonesia nanti..”, ancam bundanya dari sambungan telfon tadi.
Dan Mingyu sebagai seorang anak yang penurut, mau tidak mau jadi harus menuruti permintaan sang bunda. Yasudah lah, temui saja di bandara, antar ke hotelnya yang nyaman di pusat kota Wellington sana dan pergi sesegera mungkin meninggalkan anak manja ini.
Dalam jangka waktu 2 jam menunggu, entah sudah ada berapa banyak bayangan buruk tentang Wonwoo terlintas di kepalanya. Mulai dari manja, menyebalkan, materialitis dan segala jenisnya.
Tetapi kemudian sosok itu muncul dari gerbang kedatangan dengan sweater hijau army tebal dan tas backpack berukur 20liter yang tidak jauh berbeda dengan milik Mingyu. Dan segala bayangan buruk tentangnya mendadak membuyar.
Mingyu tertegun, dalam hitungan sepersekian detik ia langsung ingin menelfon pada bunda dan berterimakasih sebanyak banyaknya.
Onu memang dulu semanis ini ya?
Sosok berambut abu-abu dan berkacamata bundar itu tersenyum padanya dan melambai. Satu tangannya terlipat memegang pada sebuah jaket tebal dan satu tangannya lagi mengenggam pada tumbler air minum.
“Kak Mingyu ya? Duh kak maaf ya kak, gara-gara mami jadi harus jemput gue juga, padahal gue udah bilang gak usah”, sahutnya dengan nada bersalah yang begitu kentara.
Mingyu menggeleng, “Engga kok, emang flight dari Jepang nyampenya pagi banget juga. Gue gak keberatan sama sekali jadi santai aja”, Balasnya.
“Gue malah seneng kok kalo ada temen hehe..”
What a load of crap, Kim Mingyu!
Wonwoo di depannya tersenyum kikuk, dan Mingyu spontan menarik pada jaket tebal yang ia bawa. Berusaha mencari cara agar rasa gugupnya tidak terlalu terlihat.
“Sini, gue bawain. Mau ke hotel langsung atau cari makan dulu?”
Wonwoo di depannya terlihat semakin kikuk, tangannnya mengusak pada rambut belakang kepalanya.
“Engg kak, gue sebenernya mau langsung nyewa mobil sih hehe”, matanya menatap kepada Mingyu dengan pandangan sungkan. “Gue mau langsung ke Picton rencananya”
“Beneran?”
Wonwoo mengangguk dan Mingyu pun tidak bisa menyembunyikan lagi senyum bahagianya.
“Jangan bilang lo berencana habis dari dari Picton mau ke Queenstown dan berakhir di Christchurch?”
Wonwoo mengangguk.
“Jangan bilang lo dalam 14 hari ke depan berencana untuk nyetir mobil sendiri dan camping aja tanpa tidur di hotel?”
Wonwoo menatapnya dengan tatapan membelalak dan kembali mengangguk dengan pelan.
“Guess what? Gue juga!”, balas Mingyu dengan tawa bahagia.
“Jadi, gimana kalo kita patungan aja berdua dan sekalian ngerubah rencana solo trip masing masing jadi duo trip?”
“Lo beneran gak papa kak? Gue kira lo akan stay in a city gitu atau ikut semacem travel group nantinya”
“Ya kalo gue rencana di kota aja, gue gak mungkin cuma modal satu tas gini doang gak sih, Won?”
Wonwoo pun terkekeh, “Iya juga sih kak. Berarti gantian nyetir gak papa nih? I mean we just met but you okay stuck with me for a whole two weeks?”
“Gak masalah kok, as long as you don’t snore it’s definitely fine... You okay with me, right?”
Wonwoo pun ikut tersenyum dan ia menyodorkan tangannya untuk disambut oleh Mingyu.
“Deal? Let’s have some fun trip ya kak? ”
Mingyu pun tersenyum dan menyambut tangan ramping itu.
“Deal!”
Dan begitulah cerita tentang bagaimana perjalanan liburan mereka di New Zealand (dan tentu seumur hidup) dimulai.
Pada akhirnya mereka tidak melulu menggunakan tenda untuk tidur, karena menuju ujung perjalanan Mingyu akhirnya membuktikan sendiri kalau Wonwoo itu memang tidak snoring ketika tidur, hanya sedikit berisik ketika di kasur (Mingyu likes it very much though). Dan kasur Hotel tentu lebih nyaman untuk membuktikannya daripada busa tipis tenda.
Oh well, Mingyu betul betul harus berterimaksih pada bundanya karena ia tidak hanya menjalani liburan terbaik seumur hidupnya tetapi juga akhirnya menemukan seorang teman hidup
Ketika Mingyu memutuskan untuk serius pada Wonwoo dan melamarnya, Wonwoo mengajukan 2 syarat untuk Mingyu dapat menikahinya.
Syarat kesatu, memperbolehkan Wonwoo untuk memelihara Anjing dan Kucing saat mereka sudah menikah nanti.
Permintaan pertama dengan cepat Mingyu setujui. Pada dasarnya Mingyu juga seorang pecinta hewan. Yang kemudian membuat Mingyu sedikit menyesal langsung menyetujui permintaan pertama Wonwoo di kemudian hari adalah jumlah Anjing dan Kucing yang pada akhirnya mereka pelihara di kemudian hari.
Wonwoo itu begitu lembut hatinya.
Entah sudah berapa kali Mingyu harus menenangkan suaminya yang menangis karena melihat berita tentang kekerasan pada hewan jalanan. Entah berapa jumlah nominal uang yang selalu Wonwoo keluarkan untuk melakukan street feeding dan menjadi penyumbang rutin untuk komunitas pecinta hewan jalanan di lingkungan rumah mereka. Dan, entah sudah berapa banyak hewan shelter yang telah mereka bantu untuk foster dan adopt.
Jika ditotal, saat ini Wonwoo dan Mingyu memiliki 4 Kucing dan 3 Anjing peliharaan di rumah mereka.
Aslinya, kucing peliharaan mereka hanya 3. Semuanya berjenis kucing lokal yang Wonwoo temukan di tengah jalan, hampir terlindas atau dalam kondisi sangat sakit.
Wortel, kucing jantan berwarna oranye yang sedikit sombong tapi begitu manja. Sapi, Kucing jantan berwatak sabar berwarna hitam putih yang merupakan kucing favorit Mingyu. Dan Poci, kucing betina berwarna putih yang merupakan kepala suku kucing-kucing keluarga mereka. Anggota kucing terbaru mereka datang baru baru ini bernama Manis, kucing belang 3 warna yang tengah hamil besar dan sering main ke teras rumah mereka.
Melihat kondisi Manis yang tengah hamil besar dan cukup kurus membuat Wonwoo langsung tidak tega.
“Kak, si Manis boleh ya dirawat di rumah dulu?”, pinta Wonwoo dengan mata memohon.
“Nanti keterusan... Ini di rumah udah banyak loh Dek, nanti kalo dia berantem sama Poci gimana?”
“Janji engga kak! Seengganya sampe dia melahirkan deh, kalo anaknya udah lahir nanti kita adopsiin kaya biasanya”
“Bener ya?”, Tanya Mingyu sambil memijat pada dahinya yang mendadak pusing. Kejadian menampung kucing untuk sementara untuk kemudian di adopsikan biasanya selalu berakhir dengan kata kegagalan dalam kamus seorang Jeon Wonwoo.
Tapi bisa apa seorang Kim Mingyu ketika belahan jiwanya itu kemudian mengecup pipinya lembut sebagai tanda terima kasih.
“Makasih ya kak Igu, nanti malem aku kasih bonus deh hehe”
Yah, mungkin tidak masalah punya banyak peliharaan selama kecupan dan ‘bonus’ dari Wonwoo akan jadi makanan sehari-hari untuk Mingyu.
Jika kucing peliharaan mereka selalu diselamatkan dari jalanan, maka anjing-anjing peliharaan mereka adalah anjing yang diselamatkan dari keadaan yang buruk.
Cima, seekor anjing Mongrel betina berwarna krem yang hampir jadi korban perdagangan daging anjing. Wonwoo menyelamatkannya ketika melihat Cima sedang dipaksa masuk karung. Bobo, anjing St. Bernard betina berusia 5 tahun yang Wonwoo selamatkan dari pemiliknya yang menelantarkan. Dan terakhir, Abang. Anjing German Shepard jantan yang hampir disuntik mati karena dianggap terlalu agresif.
Memiliki 3 ekor anjing dengan ukuran besar dengan satu ekor anjing yang dianggap “agresif” tentu membuat Mingyu dan Wonwoo harus banyak meluangkan waktu untuk menyalurkan energi yang dimiliki oleh anjing-anjing mereka.
Dan disinilah, syarat kedua dari Wonwoo ketika Mingyu melamarnya dulu akhirnya diuji.
Syarat kedua, harus sabar. Coret. EXTRA SABAR dalam menghadapi Wonwoo dengan segala polahnya.
Wonwoo itu alergi berat dengan yang namanya bulu anjing dan air liur kucing. Dan tinggal serumah dengan setengah lusin hewan berbulu walau pintar dan penurut, jelas membuat Wonwoo mau tidak mau ketergantungan dengan obat anti-alergi.
Obat anti-alergi itu biasanya membawa efek drowsy atau mengantuk, dan bukan sekali atau dua kali Wonwoo terbangun sedikit lebih lama dari Mingyu atau mengerjakan pekerjaannya di rumah dalam keadaan setengah teler.
“Dek, berapa?”, tanya Mingyu sambil mengacungkan 2 jari di depan wajah suaminya.
“Hah? Ih, ngapain sih nanya-nanya emang aku gak bisa liat?”
“Berapa dulu gak?”
Wonwoo menghembus nafas kesal, “Tiga! Masa gitu aja aku gak bisa liat..”
Dan Mingyu tahu Wonwoo sudah terlalu banyak mengkonsumsi obat anti-alergi hari itu.
Selain ketergantungan akan obat anti-alergi ada pula sifat lain dari Wonwoo yang acap kali membuat Mingyu resah.
Cima itu berbobot 18 kilogram, Abang 40 kilogram dan Bobo 65 kilogram. Satu-satunya manusia yang bisa mengontrol para anjing-anjing besar ini, hanya Mingyu tentunya.
Anjing besar seperti Abang dan Cima setiap hari harus diajak berjalan keliling kompleks karena halaman belakang rumah mereka tentu tidak cukup besar untuk menampung energi keduanya. Beruntung Bobo walaupun berukuran besar ternyata adalah anjing yang cukup pemalas. Jika hanya Cima dan Abang saja yang perlu diajak jalan, Wonwoo bisa melakukannya sendiri. Namun jika Bobo ingin ikut jalan-jalan, mau secapek apapun, Mingyu harus mau tidak mau membantu Wonwoo untuk mengajak ketiga anjingnya berjalan-jalan.
“Dek, itu siku kamu kenapa?”, tanya Mingyu suatu malam ketika mereka akan tidur.
“Oh? Hehe…”, telapak tangan Wonwoo berusaha menyembunyikan luka yang baru saja ia terima.
“Kenapa dek? Bisa gede gini lukanya“, Mingyu meraih pada telapak tangan Wonwoo yang berusaha menutupi.
“Tadi aku ajak jalan Bobo kak, dia excited liat bebek di taman trus lari… Ketarik deh aku...”
Mingyu menghela nafas kencang. “Kan janjinya kalo ajak jalan-jalan Bobo sama kakak aja. Kamu mana kuat ngekang Bobo dek…”
“Aku gak tega, kakak capek banget kan habis jadi penguji 3 sidang mahasiswa tadi? Masa iya aku minta ajak jalan Bobo juga”
“Tau gak dek, apa yang bikin kakak lebih sedih dan capek hari ini?”
Wonwoo menggeleng.
“Kamu kaya gini Wonwoo, udah kamu ngelakuin semuannya sendiri, jatoh, lukanya gede lagi... Gimana kakak gak sedih?”
Wonwoo diam, hanya mampu menatap ujung jemarinya dikecup lembut. Tidak sampai hati untuk membela diri lebih lanjut atau membalas.
“Janji? Lain kali ngajak jalan-jalan Bobo sama kakak ya?”
Sebuah anggukan tanda setuju dan sebuah pelukan untuk dia yang selalu pengertian Wonwoo berikan padanya yang pasti sangat lelah hari ini.
Seperti Bobo dan Mingyu yang menjadi kombinasi jalan-jalan yang tidak terpisahkan, Mingyu dan kesabaran pun menjadi kombinasi yang tidak bisa dipisahkan semenjak menikah dengan seorang Jeon Wonwoo.
Hari itu hujan turun sepanjang hari, dari pagi ketika Mingyu pergi berangkat kerja hingga sore ketika ia tiba di rumah. Rumah mereka yang berkonsep industrial sesungguhnya bukanlah contoh rumah dengan sistem insulasi kehangatan yang baik. Untung Wonwoo selalu siap sedia dengan secangkir teh hangat ketika menyambutnya pulang.
“Awet banget hujannya daritadi gak berhenti, gak ada yang bocor kan dek?”, tanya Mingyu sambil menerima secangkir teh hangat dari Wonwoo.
“Bocor sih engga, tapi Abang sama Cima kasian jadi gak bisa lari-larian di halaman belakang kak. Mulai agak restless kayanya”
“Emang kapan terakhir kita ajak jalan-jalan?”
“Hari minggu kayanya, 3 hari lalu sih kak, belum lama lama banget sebenernya”
Mingyu menoleh dan melihat Bobo yang tengah tertidur bersama dengan Poci dan Wortel di ruang tengah keluarga mereka. Cima tengah bermain kejar-kejaran dengan Sapi di bawah meja makan.
“Abang sama manis kemana dek?”
Wonwoo mengambil pada cangkir kosong Mingyu dan meletakkannya di counter dapur. “Di belakang kak, di ruangannya si Manis..”.
Mingyu mengerenyit, “Manis? Dia mau ngelahirkan gak sih dek kok Abang malah deket deket? Emang gak papa?”
“Abang tuh suka banget sama Manis kan kak, cuma gak tau nih, dia posesif banget... Sampe tadi si mbak digongonggin gara-gara mau nyapu kamarnya Manis”
Si mbak, asisten rumah tangga yang datang setiap pagi untuk melakukan laundry dan bersih-bersih rumah mereka.
“Barking? Beneran?”, tanya Mingyu tidak percaya, sedikit tidak tega dengan si mbak.
“Iya makanya aku juga bingung, padahal udah kenal sama mbak juga kan? Kayanya Abang beneran restless deh kak makanya sampe barking gitu”
Mingyu mengangguk paham, menarik pada jemari yang tengah digigiti oleh Wonwoo akibat cemas dan mengecupnya. “Abang yang restless kenapa kuku kamu yang habis sih?”
Wonwoo tersenyum kecil, “Kepikiran Manis, kayanya lahirannya malem ini deh kak”
Mendengar hal tersebut mata Mingyu mendadak berbinar, “Beneran?”.
“Iya—"
BLARRR!!!
Sebuah petir menyambar nyaring dan mengagetkan kedua manusia yang tengah berbincang, memutuskan pada alur pembicaraan. Wonwoo masih belum sadar seratus persen dari kaget akibat petir yang menyambar ketika kemudian dari arah belakang rumah mereka terdengar suara nyalakan kencang.
“Woof!!”, Abang menyalak dari pintu belakang.
“Abang?”, Wonwoo berusaha mendekat.
“Woof!! Woof woof!!”, panggil Abang sekali lagi. Seakan meminta kepada Mingyu dan Wonwoo untuk mendekat.
Melihat Mingyu dan Wonwoo yang bergerak mendekat, Abang pun berjalan ke arah belakang pintu, menuju ruangan paling ujung. Di ruangan paling ujung itu terdapat sebuah ruangan untuk barang barang yang sudah jarang terpakai yang akhir-akhir ini Wonwoo ubah sebagai ruang nursery untuk Manis dan anak anaknya.
Baru saja mereka akan masuk ke dalam ruangan ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara pekikan kecil. Dan apa yang menyambut Mingyu dan Wonwoo dalam seketika membuat hati keduanya menghangat.
Di atas sebuah kasur anjing lama milik Abang, di antara tumpukan kain dan selimut lembut, terdapat Manis yang tengah sibuk menjilati pada keempat kepala kecil bayi bayinya. Lidahnya sedari tadi sibuk membersihkan, menyayangi dengan lembut pada bulu anaknya yang masih sedikit basah. Tidak ada bau darah, tidak ada kotor yang berarti, Manis benar-benar telaten membersihkan anaknya.
Perlahan mata hijaunya menatap pada Mingyu dan Wonwoo yang baru saja memasuki ruangan. Mengedip perlahan dan mengeong.
“Meonnggg!”, sapa Manis malam itu. Seakan berterimakasih telah disediakan kasur dan atap untuk melahirkan.
“Hurr!!”, sundul abang pada betis belakang Mingyu dan Wonwoo. Meminta kedua pemiliknya itu untuk mendekat.
Wonwoo masih sedikit bergetar ketika bersimpuh di sebelah kasur manis dan mengelus sayang pada kepalanya. Dan Manis tetaplah seekor kucing yang baik, kepalanya menyundul balik pada telapak Wonwoo, meminta pada elusan yang lebih lama.
“Manis hebat…”, puji Wonwoo dengan nada suara yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Mingyu sendiri hanya mampu terkesima melihat keajaiban kecil yang tengah terjadi di depan matanya.
Anjing peliharaannya yang begitu protektif, seekor kucing jalanan yang baru saja melahirkan dan berterimakasih kepada mereka, hati suaminya yang begitu lembut dan sepercik kehangatan pada dadanya.
“Manis hebat sayang. Anak-anaknya sehat Manis juga sehat ya nak…”, Ujar Wonwoo yang masih mengelus pada kepala Manis.
“Boleh pegang gak sih dek?”, tanya Mingyu sambil merangsek mendekat di samping suaminya.
“Jangan deh kak, nanti kalo Manis gak bisa ngenalin gimana?”
“Iya juga ya—”
Tiba tiba Abang menarik pada ujung sweater Mingyu dan mengarahkan tangannya ke bayi-bayi Manis. Manis yang sedari tadi masih sibuk membersihkan pada anak anaknya menoleh kepada Mingyu dan berkedip pelan.
Sebuah kedipan pelan, tanda percaya seekor kucing.
Mingyu masih terdiam ketika akhirnya Abang kembali menyalak, “Woof!!”. Lengan sweaternya kembali ditarik ke atas anak-anak Manis, kini Mingyu bisa merasakan lembut dari bulu makhluk yang baru lahir itu di ujung jemarinya.
Mingyu memberanikan diri untuk mengusap lembut pada kepala kecil salah satu anak Manis dengan ibu jarinya, pelan. Mencoba mengelus tanpa terlalu banyak gerakan, terlalu khawatir akan menyebabkan Manis marah. Akan tetapi apa yang Manis lakukan selanjutnya membuatnya terkaget.
Manis menjilat pada ibu jari Mingyu yang tengah mengelus lembut. Gerakan lidahnya searah dan seirama dengan gerakan yang Mingyu berikan pada anaknya. Seakan ikut memberi sayang. Dan Mingyu pun tersadar.
Ah, ternyata Manis sepercaya itu dengan Mingyu dan Wonwoo.
Mingyu tersenyum lebar dan menarik pada pundak Wonwoo mendekat. Memeluk Wonwoo erat tanpa melepas elusan pada kepala anak Manis.
“Kak?”, tanya Wonwoo dengan terkekeh.
Mingyu hanya tersenyum balik, kembali mengeratkan pada pelukannya dan kembali mengelus pada kepala Manis dan Abang. Wonwoo juga pasti paham rasa bahagia yang tengah Mingyu rasakan. Rasa percaya dan kehangatan yang diberikan oleh hewan-hewan kecil ini padanya dan Wonwoo.
Sayang, Mingyu rasanya sayang sekali dengan seluruh isi rumah ini.
Hujan deras ternyata masih terus menerus menguyur langit Jakarta dan sekitarnya sejak hari itu.
Mungkin sudah sekitar tiga hari lebih Mingyu tidak melihat matahari tiap kali ia keluar rumah untuk bekerja. Jalanan becek bukan menjadi masalah bagi mobilnya yang bertipe SUV, yang jadi masalah adalah sungguh sayang sepatu kerjanya harus bolak balik masuk mesin cuci karena berkali-kali basah.
“Kak, gak ada barang yang ketinggalan kan?”, tanya Wonwoo dari pintu rumah dengan celemek abu-abu masih melekat di tubuhnya.
Mingyu menggeleng, tangannya mengarahkan Wonwoo untuk mendekat. Sebuah pelukan erat dan kecupan kecil yang Wonwoo berikan, membuat keduanya terkekeh geli.
“Kakak berangkat ya?”, ucap Mingyu seraya memasuki mobil.
Wonwoo mengangguk, “Hati-hati ya kak, kabarin kalo ada apa-apa…”. Dan Mobil Mingyu pun melaju meninggalkan rumahnya.
Sepanjang perjalanan hujan masih turun dengan begitu kencang, menciptakan embun yang menghalangi pandangan pada kaca mobil Mingyu. Suara lagu dari stasiun radio kesayangannya mengalun mengisi pada ruang kosong. Mingyu tengah sibuk mengetuk-ngetukkan jarinya pada setir mobil ketika jalanan di depannya mendadak padat oleh tumpukan mobil yang berhenti.
Oh, mungkin macet karena hujan pikirnya. Tidak ada yang terlalu ia khawatirkan, ia pun memilih untuk mengganti channel radio ketika suara seorang penyiar radio berita tertangkap masuk oleh radio mobilnya.
Hujan lebat yang mengguyur Kawasan Jakarta dan sekitarnya semenjak 3 hari lalu menyebabkan beberapa ruas jalan utama lumpuh. Beberapa jalan yang terdampak diantaranya adalah Arteri Pondok Indah, Ruas Mampang Prapatan, Arteri D.I. Panjaitan, Jalan Otto Iskandar Dinata dan Area Bukit Duri lumpuh akibat banjir setinggi 2 meter.
Mendengar lumpuhnya jalan yang merupakan jalur sehari-hari Mingyu menuju kantor membuatnya segera mengambil handphone untuk mencari jalur alternatif. Ia tengah sibuk memindai pada layar handphone ketika mendadak notifikasi dari grup messenger masuk ke dalam gawainya.
Warga Cluster Cemara Harmoni
WASPADA!! Tanggul Sungai yang berada tidak jauh dari Kawasan cluster Cemara Harmoni dikabarkan jebol pagi ini akibat debit air yang tinggi. Dimohon para warga bersiap-siap untuk kemungkinan adanya banjir yang akan segera datang menuju cluster kita.
Dan belum sempat Mingyu selesai membaca info dari pak RT mengenai kemungkinan akan adanya banjir yang akan segera menimpa rumahnya. Sebuah suara ketukan kencang pada kaca mobilnya mendadak membuyarkan segala pikirannya.
BUK BUK BUK!!
Seorang petugas patroli dengan jas hujan dan helm yang menutupi kepalanya tengah berteriak kencang dari luar mobilnya. Mobil Mingyu yang berasal dari produsen otomotif eropa tentu menghasilkan kendaraan dengan kekedapan suara yang baik, tapi bukan berarti Mingyu tidak bisa membaca gerak bibir dari petugas yang tengah berteriak dengan wajah panik.
“BANJIRR!!!”, bibir petugas patrol itu berkata.
“BANJIR PAK DI DEPAN SAMPE SE DADA!!!! MUNDURRR!!!”
Dan mendadak berat situasi yang tengah ia hadapi menyergap seluruh kesadaran Mingyu.
Banjir.
Seluruh Jakarta tengah banjir.
Rumahnya akan banjir.
Suaminya sendirian di rumah.
Mingyu terjebak.
Wonwoo terjebak.
BANJIR.
BANJIR!!!
Dan rasa panik pun dengan cepat menjalar. Dingin ac mendadak mengigilkan tubuhnya, tengkuknya meremang, nafasnya menderu, padangan matanya mengabur, jemarinya putih mengepal. Mingyu harus segera pulang dan bersama Wonwoo.
Wonwoo sendirian.
Tanpa pikir panjang Mingyu mengikuti arahan dari petugas patroli tadi untuk mundur. Dengan cepat ia memindahkan transmisi kendaraan dan berjalan mundur untuk putar balik. Kecepatan mundur mobilnya tidak secepat yang ia inginkan, kendaaraan telah banyak bertumpuk di belakangnya ditambah dengan hujan deras yang masih saja mengguyur, tidak membantu untuk Mingyu bisa putar balik lebih cepat.
Dengan sabar satu demi satu mobil berputar balik dan ketika akhirnya mobil Mingyu bisa beralih, dengan cepat ia menginjak pada pedal gas dan melaju secepat mungkin menuju rumahnya. Dan ternyata benar saja, begitu Mingyu mendekati arah cluster perumahannya banjir telah menggenangi seluruh jalanan.
Dengan cepat ia membawa mobilnya masuk ke dalam gerbang perumahan dan menemukan mobil Wonwoo sudah tidak ada di garasinya. Mingyu pun segera memarkirkan mobilnya di garasinya yang belum terkena air dan segera masuk ke dalam.
“Wooff!!”, Bobo menyalak begitu Mingyu menginjakkan kaki di rumah.
“Dek? Wonwoo?”, panggilnya. Wonwoo juga tidak bisa ditemukan di dapur atau ruang tengah mereka.
Wonwoo.
Bobo kembali menyeruduk pada betis Mingyu. Tanpa Pikir panjang Mingyu pun mengarahkan Bobo ke kamar tidurnya, berharap bisa menemukan suaminya disana. Namun nihil, Wonwoo tidak juga ada.
Wonwoo.
Mingyu pun memindai pada kamarnya dan menemukan lemari dan safety box mereka dalam keadaan terbuka. Beberapa dokumen penting miliknya dan Wonwoo tidak bisa ditemukan. Disorientasi di kepala Mingyu semakin kencang.
Wonwoo kemana.
“Kak?!!”, pekik sebuah suara yang Mingyu kenal betul dari depan rumah.
Mingyu pun berlari ke depan dan menemukan Wonwoo dengan celana basah sehabis menerobos banjir sambil menenteng pada pet carrier.
“Dek?”, panggilnya tidak percaya.
“Kak, aku habis mindahin mobil sama ngamanin dokumen sama anak-anak dulu ke rumah Mami, tadi habis kakak pergi tetangga pada bilang kalo tanggul jebol makanya aku cepet cepet amanin kucing-kucing kita sama Cima sambil nyelamatin beberap—”
Buk!
Dan Mingyu pun tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk pada suaminya itu. Segalanya memelan dan detak jantungnya kembali normal. Kepanikkannya mereda, sosok dalam pelukannya ini kembali memberinya sebuah ketenangan.
Wonwoo ada di hadapannya. Wonwoo aman dalam pelukannya.
Sebuah telapak tangan dingin menyentuh pada permukaan pipinya, tangan Wonwoo yang dingin.
Wonwoo juga pasti sama paniknya dengan Mingyu.
“Maaf ya kak, pasti panik ya?”, ucapnya dengan nada penuh rasa bersalah.
Mingyu hanya menggeleng, menghirup pada aroma khas dari tubuh Wonwoo dan mengecup pada puncak kepalanya.
“Kakak yang minta maaf sayang, harusnya kakak gak pergi tadi”, ucapnya sambil melepas pelukan.
“Gak papa kak, justru untung kakak dateng sekarang bawa mobil, Bobo sama abang gak mungkin muat di mobilku…”
“Dek, tadi Bobo udah di kamar coba kamu arahin masuk ke mobil ya, kursi belakang sama yang tengah tidurin aja. Barang-barang elektronik gimana dek?”
“Tadi aku udah dibantuin sama Pak RT mindahin beberapa barang sama anak-anak kak, tinggal angkat komputer kakak sama alat lukisku… Oh barang-barang di dapur juga belum kak..”
“Yaudah kamu bawa alat lukis kamu ya, kakak yang coba angkut Bobo, anak-anak udah semua berarti?”
“Abang, Manis sama bayi bayi belum kak masih di belakang”
“Yaudah gak papa, satu satu dulu. Kamu masih kuat kan?”, ucap Mingyu dan Wonwoo mengangguk.
Mereka pun berpencar, Wonwoo ke arah belakang menyebrangi halaman mereka dan menyelamatkan lukisan dan alat-alat penting miliknya. Mingyu sendiri segera mengambil tali kekang dan memasangkannya ke tubuh Bobo dan menuntunnya untuuk masuk ke dalam mobil.
Bobo dengan pintar dan kooperatif bisa segera masuk ke dalam Mobil Mingyu yang besar dan menunggu. Mingyu kembali masuk ke dalam rumah dan menyelamatkan komputer miliknya sekaligus membantu Wonwoo membawa peralatan seni miliknya yang cukup banyak.
Yang tidak mereka sangka adalah begitu cepatnya air naik hingga kini sudah hampir masuk menuju garasinya.
“Kak airnya makin naik…”, ucap Wonwoo.
Melihat kecepatan naiknya air, Mingyu pun akhirnya harus memilih.
“Dek, Manis cepetan masukin ke carrier, Abang nanti sama kakak aja. Ini kita udah gak mungkin bisa nyelamatin dapur. Kakak coba angkat kulkas dulu, kalo ternyata gak bisa yaudah kita langsung pergi aja…”
“Kak kulkas kita kan gede—”
“Gak papa, anak anak dulu ya dek.. Kalo emang ternyata kakak gak kuat yaudah kulkasnya kita ikhlasin aja…”, dan Wonwoo pun segera pergi ke ruangan belakang.
Mingyu telah selesai menarik pada kabel kabel yang terhubung pada power outlet pada seluruh peralatan dapur dan tengah mencoba menarik pada kulkas mereka yang besar ketika ia mendengar suara nyalakan keras dari arah belakang.
Suara nyalakan yang sedikit terlalu agresif di telinga Mingyu.
Khawatir, Mingyu pun berlari ke arah belakang dan menemukan pet carrier yang dibawa Wonwoo telah terlempar ke luar ruangan.
“Abang?!” Dan Mingyu bisa melihat mengapa Wonwoo terlihat begitu kaget.
Abang berdiri dengan postur mengintimidasi di depan Manis yang tengah menyusui bayi-bayinya.
“Woof!!!”, Sahut Abang. Menolak untuk berpindah dari tempatnya berdiri.
“Tadi aku lagi ngangkat Manis kak. Awalnya gak papa tapi pas aku angkat anaknya, Abang marah”
Mingyu pun mencoba mendekat, meraih pada tali kekang yang Wonwoo pegang dan mencoba memanggil pada Abang.
“Abang?”, Bujuk Mingyu.
“Wooff!”, Abang kembali menyalak dan berjalan mundur ke arah Manis, sekaan akan mencoba untuk melindungi. Posturnya masih terlihat mengintimidasi, tetap menolak untuk bergerak atau membiarkan Manis bergerak.
Mingyu mendekat, mencoba mengalungkan kekang namun yang menyambutnya justru Abang yang menggeram kencang dan memamerkan taringnya.
Aneh, Abang tidak pernah se-agresif ini.
“Abang, Abang kenapa sayang?”, ucap Wonwoo sambil mencoba mendekat. Baik Mingyu maupun Wonwoo sama-sama bingung setengah mati dengan apa yang terjadi pada hewan peliharaan mereka.
“Ckckck! Manis, Manis sini nak...” Panggil Mingyu pada Manis yang berada di belakang Abang. Mendegar namanya dipanggil Manis pun bergerak mendekat, dengan cepat Mingyu mengambil pada carrier yang terlempar dan memasukkan Manis ke dalamnya.
Melihat Manis yang telah masuk ke dalam carrier Abang langsung kembali berpostur agresif, mencoba melindungi bayi-bayi manis yang berada di kasur di belakangnya.
“Abang, kita gak niat jahat sayang. Ini rumahnya banjir nak ayo kita harus pergi”, Bujuk Wonwoo sembari mendekat.
Abang tetap menolak untuk didekati, tubuhnya semakin ke belakang. Anak-anak manis yang baru berusia beberapa hari mendadak kehilangan kehangatan induknya kini mengeong panik.
“Bang? Kenapa nak? Kasian loh ini anak-anaknya Manis kepisah sama ibunya”, Wonwoo mendekatkan telapak tangannya yang terbuka pada Abang untuk diendus. Pelan, Abang mau mendekatkan hidungnya ke telapak Wonwoo dan kembali mau dielus moncongnya oleh Wonwoo.
“Dek ini—“, baru saja Abang mau di dekati, sikapnya mendadak kembali defensif dan menyalak ketika Mingyu mendekat untuk memberikan tali kekang.
Dan saat itu lah Mingyu dan Wonwoo sadar kalau mungkin, mungkin kehadiran Mingyu justru memperkeruh suasana. Menyadari hal itu Mingyu pun menyerahkan tali kekang kepada Wonwoo.
“Dek, coba kamu kekangin Abang dulu. Kakak nunggu di luar sebentar biar Abang mau”
Wonwoo pun kembali membujuk kepada Abang sembari Mingyu keluar dari ruangan dan mengintip kondisi Bobo yang menunggu di mobil dan melihat seberapa tinggi air telah naik.
Begitu melihatnya, Mingyu tidak bisa bohong kalau ia merasakan panik yang luar biasa saat melihat tinggi air. Mobil Mingyu adalah mobil off-road, ia tidak terlalu khawatir dengan air. Masalahnya, Air sudah lebih dari setegah ban di garasinya dan Bobo mulai terlihat khawatir dari bagasi belakang mobilnya yang terbuka. Jika di garasi saja sudah setengah ban, setinggi apa banjir yang harus terjang di jalanan nanti.
Tidak lama kemudian terdengar suara Wonwoo, “Kak Igu!!!”.
Mingyu pun segera berlari ke dalam rumahnya. Ia menemukan Wonwoo telah berhasil memasang kekang pada Abang dan menahannya agar Abang tidak kembali menghalangi anak-anak Manis.
Dengan cepat Mingyu memasukkan bayi bayi Manis ke dalam pet carrier dan mengembalikan bayi-bayi itu pada induknya. Tanpa menunggu lama Mingyu dan Wonwoo pun segera menuju garasi mereka. Sesampainya di garasi Mingyu dan Wonwoo sama-sama tahu kalau mereka tidak mungkin bisa masuk ke dalam mobil tanpa menerjang banjir.
Air sudah hampir masuk pintu rumah dan dengan segala kekuatan yang tersisa Mingyu pun menggendong Abang.
“Dek kunci pintu rumah trus masuk mobil cepetan ya…”
Wonwoo pun meraih carrier yang berisi manis dan segera mengunci pintu rumah mereka. Carrier manis ia gendong setinggi mungkin di dada dan dengan cepat ia masuk ke kursi penumpang. Mingyu sendiri setelah selesai menempatkan Abang disebelah Bobo dan mengamankan keduanya, langsung membelah banjir dan mengambil posisi di kursi kemudi.
Mingyu menyalakan mesin mobil dan merubah mode kendaraannya menjadi mode off-road.
“Kak, ini beneran gak papa kan mobilnya kena air?”
“Harusnya dek, dia bisa tahan banjir sampe 600 meter. Semoga gak masuk kap ya…”, dan berjalan lah mobil itu dengan perlahan meninggalkan garasi rumah mereka.
Begitu mobil meningalkan garasi yang lebih tinggi dan menyentuh aspal jalanan, banjir ternyata telah mencapai perut manusia. Wonwoo bisa melihat tinggi banjir yang hampir menyentuh kaca dan spion mobil mereka.
“Kakak pernah bawa mobil ini touring kan dulu ngelewatin kubangan air gede juga? Semoga dia kuat...”
“Iya, tapi kakak pernah baca ada jenis kaya gini tenggelam di Kemang waktu banjir dulu.. Kita do’a sama sama ya dek..”
Mendengar apa yang baru saja Mingyu katakan suasana di dalam mobil pun menjadi senyap, hanya terdengar suara nafas masing masing dan mesin yang tengah menderu membelah banjir. Dalam 10 menit ke depan mobil bermanuver meninggalkan cluster perumahan mereka yang kini hampir terendam sepenuhnya.
10 menit yang intens, 10 menit yang mendebarkan dan 10 menit yang mereka habiskan untuk berdoa.
Saat air perlahan merendah, menuju ke badan mobil hingga setengah ban dan tidak ada tanda tanda kerusakan dari mobilnya. Mingyu dan Wonwoo akhirnya tahu mereka telah memasuki daerah yang lebih tinggi tanpa adanya banjir yang mengancam. Untuk saat ini, setidaknya mereka telah aman.
Tidak ada kata-kata selebrasi, suasana masih mencekam dan mereka masih harus membelah jalanan untuk tiba di rumah Maminya Wonwoo. Tapi Wonwoo tahu kelegaan yang pasti Mingyu rasakan. Tidak banyak, hanya sebuah genggaman tangan erat Wonwoo berikan pada suaminya sebagai tanda apresiasi.
“Makasih ya kak..”, ucapnya lembut.
Mingyu pun hanya tersenyum, membalas genggaman erat Wonwoo dan menciumi punggung tangannya.
“Aku yang makasih sayang…”
Cause it’s always you who saves me, not the other way around.
Tiba-tiba dari carrier di pangkuan Wonwoo terdengar sebuah suara dengkuran yang begitu besar. Grrr, Grrrrr, Grrrr besar sekali hingga menggetarkan isi carrier. Begitu dibuka, Manis ternyata sedang menyusui anaknya dengan sabar dan langsung mengeong saat melihat Wonwoo dan Mingyu yang memperhatikan.\
“Meong!!”, ucapnya.
Dan seakan tidak mau kalah, dua salakan saling bersahutan di belakang sana dari dua ekor anjing besar mereka.
“Roof!!”, “Woofff!!”. Abang dan Bobo saling bersahutan dengan meongan Manis.
Suasana mobil yang tadi sempat mencekam kini kembali ramai. Mingyu dan Wonwoo pun terkekeh mendengar sahut-sahutan yang tengah dilakukan oleh peliharaan mereka, seakan ingin ikut diajak bicara. Dan Mingyu pun luar biasa bersyukur untuk hari ini.
Rumahnya untuk berpulang telah aman.
“Coba Wonwoo definisikan kata menikah…”
“Hmmm, sebuah ikatan legal yang akan memastikan dua individu akan sama sama membagi beban hidup dengan rata?”
“Oh wow, se-rasional itu dek?”
“Ya soalnya kalo cuma urusan menye-menye kaya komitmen, jadi tempat bersandar kalo sedih, dan temen tidur; Kita juga tanpa perlu menikah udah kaya gitu gak sih kak?”
“Bener juga sih dek... Tapi kayanya aku punya definisi yang sedikit berbeda tentang menikah deh...”
“Emang menurut kak Igu kaya gimana?”
“Momen sekali seumur hidup untuk memilih tempat berpulang kakak selamanya…”
“Sekali seumur hidup banget kak?”
“Hahaha, ya karena cukup sekali dalam seumur hidup aja dek untuk memilih orang yang tepat..”
“Gitu yaa…”
“Nah, Wonwoo sekarang kakak tanya lagi boleh ya?”
“Boleh kak, mau nanya apa emang?”
“Kalo yang ini pertanyaan sekali seumur hidup dek, Wonwoo mau gak jadi rumahnya kakak?”
