Actions

Work Header

Perasaan familiar

Summary:

Heeseung terus jatuh ke dalam spiral tanpa henti, yang sekarang sudah memiliki nama yaitu, Park Sunghoon.

Notes:

Terima kasih sudah memilih cerita ini untuk dibaca!! Stan Heehoon and have a good day everyone!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sebuah tawaan kecil berhasil lolos dari kedua belah bibir Heeseung, dirinya sedang membaca pesan pada grup obrolan demi mengisi waktu kosong; Sarah, temannya sedang jengkel dan mengutuki kampus mereka bahkan para dosen, karena menurutnya waktu liburan musim dingin tahun ini terlalu singkat.

Heeseung setuju, waktu berlalu begitu cepat. Seingatnya minggu lalu semester musim gugur baru berakhir, dan sekarang semester musim semi sudah di ujung jalan. Menyambut Heeseung dan semua pelajar akan musim pelajaran baru.

Di tengah asiknya membaca banyak pesan dalam ponselnya, suara langkah kaki yang sedari tadi melewati ruang tamu mengisi indera pendengarannya, di mana sekarang, Heeseung sedang merebahkan tubuhnya di sofa.

"Apa ibu membutuhkan bantuan?" Tanya Heeseung saat melihat sang ibu membawa kardus berukuran sedang di kedua tangannya.

"Tidak Heeseung-ah." Ibu Heeseung menolak tawaran dari anak termudanya, sebuah senyuman diberinya seakan memberi konfirmasi secara visual bahwa dirinya baik-baik saja.

"Ibu sedang membawa apa? Dan kardus itu, mau ibu apakan?" Dan sekarang, Heeseung penasaran.

"Ah ini bukan apa, kardus ini hanya berisikan hanbok yang mau ibu pindahkan ke loteng."

Ibu Heeseung segera melanjutkan aktivitas yang sempat terjeda, meninggalkan Heeseung dan suaminya di ruang tamu.

"Wah sudah mulai rupanya." Atensi Heeseung berpindah kepada seorang lelaki tua yang sedang berduduk malas di salah satu sofa di ruang tamu. Dengan kepala yang seluruhnya tersender pada badan sofa, seraya memicingkan kedua netra, berupaya melihat layar televisi lebih jelas lagi.

Lelaki tua berkacamata itu segera mengambil remot televisi dan meningkatkan volumenya, seperti suatu hal penting akan segera ditayangkan sebentar lagi di televisi. Heeseung berasumsi bahwa acara komedi favorit ayahnya akan segera tayang, itu akan menjelaskan antusias berlebih ayahnya hari ini.

"Lihatlah Heeseung-ah." Ucap sang ayah, saat dirinya membenarkan posisi duduknya, menyamankan diri di depan televisi.

Heeseung mendengar perkataan ayahnya, namun pesan dalam grup obrolan dirinya dan teman-teman lebih menarik, teruntuk saat ini; Alex, temannya, sedang menceritakan pengalaman saat dirinya menyatakan perasaan kepada orang yang disukainya.

"Apakah kau sudah membaca artikel yang ayah kirimkan? Artikel tentang atlet yang akan mewakili Korea Selatan pada Winter Olympic tahun ini?"

"Aku hanya membacanya sekilas, memangnya kenapa yah?"

"Dia sangat hebat, umurnya masih sangatlah muda, namun sudah mampu bertanding dalam Winter Olympic." Ayah Heeseung menuturkan banyak pujian penuh kagum. Lamanya tinggal di negeri asing, membuatnya rindu akan banyak hal tentang kampung halamannya, hal tersebut rupanya meningkatkan rasa nasionalismes sang ayah. Heeseung menganggapnya sebagai hal yang lucu dan mungkin sedikit memalukan, mungkin juga karena dirinya tidak begitu tertarik dengan kampung halamannya.

Tidak yakin sebuah tarikan dari mana, Heeseung merasakan dirinya harus segera meletakkan ponselnya dan mengubah atensinya pada hal lain. Jendela yang dipenuhi dengan salju mungkin? Bulan Februari di Connecticut memang puncaknya musim dingin, namun sepertinya bukan hal itu yang dapat mengunci atensi Heeseung. Apakah mesin kopi di dapurnya? Heeseung tidak yakin.

Suara komentator yang sepertinya berasal dari televisi berhasil memenangkan atensi Heeseung, tanpa menunggu lama Heeseung segera menolehkan kepalanya ke arah televisi, mengunci pandangannya dengan hal apapun yang sedang ditayangkan di televisi.

Kebingungan melanda pikirannya saat ini, apa hal penting yang dirinya rasa harus lihat tadi? Heeseung baru saja ingin membuang perasaan aneh yang menyelimutinya tadi dan melanjutkan membaca pesan dalam grup obrolannya, sebelum televisi di depannya menayangkan seseorang yang berhasil mengambil semua atensinya.

Heeseung melihat seorang lelaki di televisi, badan jenjang berbalut kemeja putih polos, rambut panjang yang sedikit melewati alis. Ah bukan, Heeseung salah, dia seorang atlet, atlet seluncur indah. Dengan bendera kampung halamannya yang menghiasi tabel kecil di bagian bawah layar, dan sebuah nama dari lagu yang tidak Heeseung ketahui, nama lelaki indah itu terpapar jelas di layar televisi. Park Sunghoon.

Heeseung merasa waktu seolah berhenti, merasa bahwa suara kardus yang sedang ibunya pindahkan ke loteng tidak lagi terdengar, merasa bahwa presensi ayahnya yang sedang ikut menonton televisi bersamanya di sofa sebelahnya tidak ada. Seperti saat ini hanya ada dirinya dan layar televisi.

Perasaan familiar menyemburat dalam dirinya, tidak tahu mengapa dan bagaimana. Lelaki yang baru saja Heeseung ketahui dari layar televisinya hari ini, mempunyai sebuah aura baru yang memberinya kenyamanan dan mungkin, sedikit mengggetarkan jantungnya disaat yang sama. Ah itu tidak masuk akal, Heeseung saja tidak mengenal lelaki itu.

Hari ini adalah hari keberuntungan Heeseung, dan pernyataan itu diperkuat oleh kamera yang awalnya menyorot lelaki bernama Park Sunghoon dari jauh itu, sekarang mengganti fokusnya dengan menyorot wajah atlet tersebut lebih dekat lagi.

Dengan jantung yang masih bergetar, dan deru nafas yang tidak berpola Heeseung mengapresiasi mahakarya Tuhan yang terpapar indah di layar televisi rumahnya hari ini. Sungguh, Heeseung sangatlah beruntung. Saat lelaki itu menatap ke kamera, pandangan mereka terkunci sejenak, walau hanya melalui layar televisi, Heeseung bersumpah ia bisa melihat ribuan bintang yang bersinggah di kedua netra tersebut, dan untuk sepersekian detik Heeseung merasa bahwa dirinya sudah mengenal lelaki itu seumur hidupnya. Heeseung terus jatuh ke dalam spiral tanpa henti, yang sekarang sudah memiliki nama yaitu, Park Sunghoon.

" Wah! So handsome! So handsome! " Kalimat pujian dalam Bahasa Inggris yang ayahnya lontarkan memenuhi ruang tamu. Bahasa Inggris dengan aksen Korea Selatan yang tebal mengundang banyak tawa dari Heeseung. Ayah Heeseung yang menyadarinya juga ikut tertawa, lantas memenuhi ruang tamu dingin dengan tawaan hangat sang ayah dan anak.

"Kalian ini sedang menertawakan apa sebenarnya?" Hal pertama yang ibu Heeseung tanyakan setelah turun dari loteng.

Notes:

Thank you for reading!!