Chapter Text
Hal pertama yang menarik perhatian ketika melihat Nami dari laut adalah tanaman hijau yang rimbun menyelimuti lanskap. Itu membentang sepanjang jalan dari lembah ke puncak perbukitan di sekitarnya dan menghilang di sisi lain pulau yang luas. Ombak laut menerjang lembut di pantai berpasir yang berkilau dan menambah pesonanya.
Rumah-rumah dan pondok-pondok berwarna putih cream tersebar di sepanjang garis pantai dan dasar lembah yang hampir tak terlihat di tengah kehijauan. Tanah Nami yang kaya dan subur telah menghasilkan panen yang melimpah selama berabad-abad, belum lagi bunga berwarna-warni yang menyelimutinya dengan aroma eksotis yang memabukkan. Pulau Nami menawarkan keindahan yang berbeda di setiap musim, terutama saat bunga bermekaran di musim semi dan daun berguguran saat musim gugur. Jika hujan turun, dedaunan bahkan berkilauan seperti zamrud.
Orang-orang Nami bahagia, puas dan damai dan menjalani hidup mereka disertai dengan keyakinan yang tak tergoyahkan akan hari esok yang lebih bahagia.
***
Aroma bunga meresap ke udara, seekor burung kenari melintas diiringi kicauannya yang melantun indah saat Namjoon berjalan melewati tamannya. Taman yang benar-benar tumpah ruah dengan bunga-bunga indah dan pohon buah-buahan yang dibudidayakan dengan hati-hati. Saat itu bulan Febuari, semua pohon buah-buahan sedang bermekaran, membuat pemandangan menjadi lautan warna putih, merah muda, dan kuning.
Menyusuri jalan kerikil, Namjoon bisa mendengar gemericik air. Sebuah sistem pengairan berkelok-kelok di sekitar taman dan di sepanjang sisi barat rumah sebelum akhirnya berakhir di sebuah kolam kecil di dekat pohon kamboja yang harum.
Rumah itu sendiri sama mengesankannya dengan pemandangan di sekitarnya. Seperti kebanyakan rumah di Nami, rumah itu dibangun dari batu putih dengan atap genteng tanah liat dan daun jendela putih. Hanya saja ukuran rumahnya lebih besar. Bertahun-tahun yang lalu Namjoon telah menyewa pasangan beta sebagai pembantu rumah tangga, untuk membantu mengurus rumah, kebun dan kudanya.
Mendengarkan burung bulbul bernyanyi di pohon terdekat, Namjoon menutup gerbang kayu yang berat di belakangnya. Dia tahu bahwa burung kecil itu kemungkinan besar sudah berhasil menemukan matenya, karena biasanya burung bulbul yang masih single akan bernyanyi di malam hari. Senyuman menghiasi bibirnya, Namjoon memikirkan bagaimana dia juga akan segera memiliki alasan untuk bahagia, saat dia berbelok ke kiri menuju jalan Bangro.
Namjoon memutuskan untuk tidak menunggangi kuda jantan hitamnya pada pagi ini dan melangkah menuju pinggiran kota. Pagi itu indah, seperti biasanya di Nami, dan dia bisa mendengar anak-anak tertawa dan bermain di taman bermain terdekat.
***
Berdiri di depan lemarinya, Seokjin mencoba memutuskan apa yang harus dia kenakan. Hampir setiap hari Seokjin lebih suka memakai pakaian sederhana, seperti kaos dan celana pendek, tetapi karena hari ini tidak seperti hari-hari biasanya, dia harus memilih yang lain. Setelah mempertimbangkan dengan cermat dia memilih blus katun berwarna salem dengan garis leher terbuka dan celana panjang linen berwarna putih, yang kemudian dia tukarkan dengan celana pendek dengan warna yang sama, tapi kemudian dia tukarkan kembali dengan yang panjang, sebelum berjalan menjauh dari lemarinya dengan perasaan cukup kewalahan.
Kim Namjoon telah tiba beberapa waktu yang lalu, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan bagi Alpha untuk terlebih dahulu memperkenalkan dirinya kepada orang tua atau wali sang omega, Seokjin sengaja menunggu beberapa saat sebelum meninggalkan kamarnya.
Alpha dan omega yang belum mate jarang bersosialisasi satu sama lain, setidaknya tanpa kehadiran dan pengawasan orang lain, dan mereka pun tentu saja tidak berkencan. Bukannya dianggap tidak pantas, melainkan karena itu... tidak mungkin. Tidak peduli seberapa Alpha menghormati omega yang lebih kecil dan indah, dan seberapa ia memiliki niat terbaik dalam hatinya. Tetap saja fakta bahwa feromon omega yang belum mate dapat mematahkan kontrol diri bahkan dari Alpha yang paling terkontrol sekalipun. Fakta ini tidak terlalu aneh sebab itulah inti dari feromon omega, untuk menarik perhatian Alpha. Dan malangnya omega benar-benar tidak memiliki cara untuk mengendalikan daya pikat mereka. Jadi telah diputuskan sejak ratusan tahun yang lalu, bahwa mulai dari merayu sampai courting seorang omega harus selalu dilakukan di hadapan orang tuanya.
Orang tua Seokjin telah meninggal tenggelam saat berlayar tak lama setelah dia lahir dan kakek-neneknya membesarkannya. Beberapa tahun yang lalu kakek Seokjin, seorang Alpha, telah meninggal, hanya menyisakan neneknya, Nana, seorang omega seperti Seokjin sendiri. Kim Namjoon telah menghubungi Nana sehari setelah Festifal Bunga Musim Semi dengan maksud memperkenalkan dirinya sebagai calon mate Seokjin. Setelah menanyakan pendapat Seokjin tentang masalah ini, dia menyetujuinya.
Seokjin tidak akan menikahi seseorang yang tidak dia cintai, itu adalah satu-satunya aturan yang selalu dia pegang teguh. Terkenal dengan kecantikannya, banyak pelamar datang menginginkan Seokjin. Tetapi karena Seokjin menggelengkan kepalanya pada mereka, Nana mengirim mereka pergi. Bukan karena Seokjin pilih-pilih. Tapi dia tidak tertarik untuk menemukan Alpha terkaya atau paling kuat dan paling tampan di seluruh Nami. Tidak, dia hanya menunggu seseorang yang akan membuatnya merasa istimewa. Dia tidak begitu yakin seperti apa perasaan spesial itu rasanya, tetapi dia merasa yakin bahwa dia akan mengenalinya begitu dia menemukannya.
Maka Seokjin menuruni tangga ke ruang tamu, mendengarkan dengan napas tertahan saat Namjoon berbicara dengan neneknya. Saat Seokjin memasuki ruangan, Nana tersenyum padanya.
“Jinnie sayang, kemari dan duduklah bersama kami. Tuan Namjoon baru saja menceritakan tentang dirinya kepadaku.”
Mengikuti Seokjin dengan matanya, Namjoon memaksa dirinya untuk tidak mengendus udara, agar tidak mencium feromon memabukkan dari omega terindah yang pernah dilihatnya. Butuh setiap centimeter dari tekadnya yang besar untuk tidak menjangkau dan menyentuh kulit halus dan berkilau itu dan menekan bibirnya ke bibir merah muda yang lembab dan montok yang mengingatkannya pada mawar merah muda di kebunnya.
"Tuan Namjoon?" Sebuah suara menginterupsi Namjoon dari pikirannya dan dengan cepat dia mengatur wajahnya untuk tidak mengungkapkan apapun kecuali niatnya yang paling murni.
“Ya, seperti yang saya katakan tadi,” Namjoon berdeham, “Saya memiliki pendapatan tahunan lebih dari satu juta Mun dan saya adalah anggota Kabinet. Saya yakin bahwa saya akan dapat memberikan cucu Anda kehidupan yang sangat nyaman dan aman. Jika dia memilih untuk menerimaku sebagai matenya.”
Seokjin dan neneknya menarik napas dalam-dalam. Satu juta Mun lebih banyak uang daripada yang bisa dibayangkan Seokjin. Apa yang akan dilakukan seseorang dengan jumlah sebanyak itu? Beli seratus kuda? Sebuah kapal? Sepuluh kapal? Dan untuk menjadi anggota Kabinet, dewan Republik Naminara yang terdiri dari warga tertua dan paling bijaksana, pada usia yang masih begitu muda hampir tidak pernah terdengar.
“Itu daftar prestasi yang cukup bagus, Tuan Namjoon, saya yakin Anda akan dapat memberikan kehidupan yang sangat nyaman bagi mate Anda,” nenek Seokjin berbicara dengan sopan dan berbalik untuk melihat cucunya.
“Jinnie sayang, apakah kamu memiliki sesuatu untuk dikatakan atau kamu ingin menanyakan sesuatu kepada Tuan Namjoon?”
Seokjin menelan ludah dan melirik ke arah Namjoon, yang sekarang sedang menatap lurus ke matanya. Wajahnya yang berkulit agak gelap, tampan dan matanya yang tajam, netra berwarna hitam pekat itu telah membuat Seokjin tidak bisa berkata-kata.
“Um…”
"Nenekmu memberitahuku bahwa kamu sangat gemar membaca, ya?" Tanya Namjoon tiba-tiba, membuat Seokjin hampir melompat dari kursinya.
"Uh… ya," Seokjin mengangguk, masih tidak bisa menatap mata Namjoon.
“Aku memiliki perpustakaan besar di rumah, aku ingin menunjukkannya kepadamu. Dan di kebunku, pohon buah-buahan sedang mekar penuh sekarang, aku pikir kamu akan menyukainya.”
“Tuan Namjoon sebelumnya menyarankan agar kita mengunjungi rumahnya, agar kamu bisa melihatnya sendiri. Bagaimana menurutmu, Jinnie-ah?” Kata Nana, meraih tangan Seokjin.
Tersipu dan menggigit bibir bawahnya, Seokjin menganggukkan kepalanya sedikit, tetapi tetap diam.
“Kalau begitu, kapan waktu yang tepat bagimu, Tuan Namjoon?”
Terpesona dengan omega pemalu di hadapannya, Namjoon menjawab Nana dengan senyum di wajahnya, "Bagaimana kalau besok? Saya akan mengatur jadwal saya sesuai dengan kebutuhan Anda. Dan tolong, panggil saja saya Namjoon.”
***
Pertama kalinya Namjoon melihat Kim Seokjin adalah di Festifal Bunga Musim Semi yang diadakan setiap tahun pada hari pertama bulan Februari. Musim Semi adalah waktu bagi warga Nami untuk merayakan awal tahun baru dan bagi para Alpha dan omega yang belum kawin untuk mencari mate. Ketika omega menginjak usia 18 tahun, ia akan diundang ke pesta dansa kemudian diperkenalkan kepada masyarakat. Jika seorang omega menarik perhatian seorang Alpha, Alpha tersebut kemudian dapat menyatakan dirinya kepada orang tua dari omega. Seorang omega memiliki hak untuk menolak sebuah lamaran, dan Republik Naminara melarang segala upaya untuk memaksa seorang omega untuk menerimanya. Para omega Nami yang cantik dan bijaksana sangat dihormati dan bukan hal yang aneh bagi pelamar dari negara lain untuk mengunjungi pulau itu dengan harapan menemukan omega Nami, yang dikenal karena keindahan dan keanggunannya yang menawan di seluruh dunia.
Kim Seokjin telah menarik minat cukup banyak Alpha. Neneknya harus menjawab panggilan dari lusinan Alpha yang meminta pertemuan formal, tetapi Seokjin dengan sopan menolak semuanya. Jika dia jujur pada dirinya sendiri, Alpha yang perawakannya lebih besar darinya sedikit membuatnya takut dan semua pikiran tentang mating dan memulai sebuah keluarga membuatnya kewalahan. Bukannya dia tidak ingin mencari mate dan memiliki anak sendiri, dia menginginkannya. Terkadang, saat berbaring di kasurnya di malam hari, Seokjin membayangkan dirinya dengan pup mungil di lengannya dan Alpha di sisinya. Lamunanya tentang pup itu menghangatkan hatinya, tetapi sosok sang Alpha selalu tetap berada dalam bayang-bayang, sebagai entitas yang tidak dikenal.
Seokjin mengingat Kim Namjoon dari Festifal Musim Semi dengan sangat baik, seperti kebanyakan omega lainnya juga. Kim Namjoon dengan mudah terlihat sebab perawakannya yang lebih tinggi daripada kebanyakan Alpha lain di sana dan tubuh berototnya menarik tatapan setiap omega di ruangan itu, bahkan beberapa Alpha juga. Kulitnya kecokelatan dan wajahnya tampak seperti ukiran marmer. Sorot mata hitam legamnya menusuk, hampir seperti predator. Rambut hitamnya disisir ke belakang dan dia mengenakan seragam anggota Kabinet hitam dengan berlian bulat di atas saku dada kiri, simbol Kuil Hwanin.
Seokjin memandangnya, seperti orang lain, tetapi terkejut menemukan Namjoon balas menatapnya. Setelah itu dia berusaha sangat keras untuk menghindari Alpha yang tinggi itu, tetapi mau tidak mau dia melirik sekilas ke arahnya dari waktu ke waktu dan setiap kali dia melakukannya, dia melihat mata tajam seperti pemangsa itu menatap tepat ke arahnya, mengikuti setiap gerakannya.
Seokjin mengenakan gaun sepanjang mata kaki, pakaian formal tradisional untuk para omega. Gaun Seokjin berwarna merah muda, warna favoritnya. Rambutnya ditata dengan gaya up-do yang elegan dengan tiga buah persik dan mawar merah muda yang melekat padanya dan beberapa sulur rambut pirangnya membingkai wajahnya dan mata birunya yang indah. Neneknya telah memberinya kipas tangan ibunya sebagai hadiah ulang tahun dan Seokjin membawanya sepanjang malam, mengipasi dirinya sendiri dengan itu di sela-sela dansa.
Seokjin telah berdansa dengan beberapa Alpha, menikmati kain yang ringan seperti udara dari gaunnya yang berkibar di sekitar kakinya saat dia bergerak di sekitar lantai dansa. Sesekali dia melihat sekilas Namjoon di sudut matanya, yang sedang bersandar ke dinding dengan minuman di tangannya. Seokjin setengah menunggu, setengah berharap Namjoon akan mengundangnya menari, tapi dia tidak pernah melakukannya. Dia tampak puas hanya dengan mengikuti Seokjin dengan tatapannya, sesekali berbicara dengan beberapa tamu lain yang mendekatinya.
Sekitar tengah malam ketika Seokjin dan neneknya pulang ke rumah, Seokjin masih bersenandung mengikuti irama tarian terakhir dan berputar-putar dengan gaunnya, Namjoon tidak terlihat. Seokjin merasakan sedikit kekecewaan saat dia mendengarkan burung bulbul yang kesepian bernyanyi di kegelapan malam.
***
Namjoon hampir memutuskan untuk tidak menghadiri Festifal Bunga Musim Semi tahun itu. Ayahnya telah mendesaknya untuk mencari mate sejak bertahun-tahun lamanya dan Namjoon telah menghadiri Festifal Musim Semi beberapa kali, tetapi tidak ada omega yang dia lihat di sana yang memicu minatnya. Sampai Kim Seokjin datang.
Omega muda yang luwes, dengan mata biru besar dan rambut pirang keemasan pucat dan senyum ramah telah masuk ke grand ballroom sambil memegangi tangan neneknya, tampak pemalu dan benar-benar menggemaskan. Namjoon merasakan ketegangan di antara para Alpha lain di ruangan itu meningkat saat mereka memperhatikan omega yang cantik itu.
Alih-alih mendekati Seokjin seperti yang dilakukan yang lain, Namjoon tetap di tempatnya, mengawasinya, mempelajarinya dan menunggu Seokjin memperhatikannya, seperti yang dia tahu omega itu akan lakukan. Suatu kali, saat menari dengan Alpha lain, Seokjin berputar di dekatnya dan Namjoon mencium feromonnya. Lavender dan madu, feromon dengan note bunga yang lembut dan mengirimkan kejutan listrik ke daerah selatan Namjoon. Selama beberapa detik semuanya menjadi sunyi di sekelilingnya, seolah-olah tidak ada orang lain di grand ballroom kecuali dia dan Seokjin. Namjoon bisa merasakan insting Alpha-nya melonjak ke permukaan, dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Dia hampir tidak bisa menghentikan geraman yang keluar dari bibirnya. Sejak saat itu, Namjoon tahu bahwa satu-satunya cara baginya untuk menemukan kedamaian dalam hidup adalah dengan menjadikan Seokjin miliknya, matenya.
