Work Text:
Megumi tidak tidur malam itu. Namun ketika Toji, ayahnya, membuka pintu kamar dan tengok ke dalam, Megumi pejamkan mata seolah sedang terlelap. Toji tutup pintu kembali, kemudian terdengar suara pancur air samar-samar.
Ini pukul satu lewat seperempat, pria itu baru pulang dari pekerjaannya—apapun yang dia kerjakan di luar sana yang tidak ingin Megumi ulik lebih dalam. Bukan profesi baik, jelas. Toji seringkali pulang dengan bercak darah yang bukan darahnya di kulit, baju dan sepatu. Megumi tidak pernah tanya, Toji tidak suka ditanya.
Tiap ditanya Toji akan balik tanya. Biasanya soal tugas sekolah atau ujian. Dia bilang Megumi hanya perlu pikirkan prestasi akademisnya, dan memang itu yang ingin Megumi lakukan. Tapi dia tidak bisa. Tidak malam ini. Ada hal lain bising penuhi kepalanya dan itu membuatnya gelisah, nyaris gila. Sejak sore dia gusar, kepulangan Toji tambah risau batinnya.
Bila saja sang ayah tidak kembali malam itu, Megumi kepikiran untuk berangkat dini hari nanti. Paket wisata murah meriah ke akhirat sudah dia siapkan di kolong ranjang: pisau dan tambang.
Toji ada di beberapa meter jaraknya dari Megumi, di balik dinding kamar mandi. Kucur air basahi tubuh besarnya dari ujung rambut ke ujung kuku kaki. Ada perih yang tidak dirasa ketika air basuh luka-luka kecilnya. Toji putar keran lagi, menggeram pelan ketika sadar airnya tidak bisa lebih dingin lagi.
Matanya pejam resapi ketenangan fana. Benar-benar fana karena dua menit setelahnya, interupsi datang dari pintu yang tiba-tiba dibuka. Megumi berdiri di mulut pintu dengan gaun tidur yang melorot sebelah kanannya. Toji matikan pancuran dan handuki pinggulnya. Hampiri si anak gadis yang dia kira sudah pulas.
Megumi mendongak, tatap Toji datar. Datar yang entah bagaimana caranya mudah Toji baca. Ada kerut kekalutan di wajah cantik itu. Tangan kasar Toji menangkup salah satu pipi Megumi, tangan lainnya lembut singkap helai-helai poni yang tutupi kening sang putri.
"Ada apa, Gum?"
"Gumi hamil, Pa."
Pria yang tiga bulan lalu berkepala empat itu berkedip. Tak cukup dua kali. Guncangannya lebih-lebih dari petir di siang bolong. Gerak jemari sempat terhenti saat neuron otak bekerja memproses kata-kata Megumi. Dia tatap manik hijau serupa miliknya di sana, menggelap. Sebisa mungkin tidak tunjukan raut kejut di muka, tidak mau buat Megumi defensif karenanya.
"Gumi hamil," ulang Megumi, "anaknya Papa."
Mata itu masih berani tatap Toji. Tantang sang ayah untuk bereaksi. Bukan guyon sungguhan karena Megumi tidak gemar bercanda. Toji lanjutkan usapannya pada rambut hitam si anak, harapnya dapat buat suasana melunak.
"Papa 'kan selalu pakai kondom kalau main sama Gumi." ujar Toji pelan, pikirannya setengah terbang mengingat-ingat apa dia sebelumnya pernah lepas kendali tanpa sadar.
"Iya. Tapi Gumi cuma dientot sama Papa. Siapa lagi bapaknya kalau bukan Papa?" ujung kalimat Megumi sedikit meninggi. Tampak jengah ketika Toji menujukkan gelagat seolah ogah dituding.
"Kalem." kini Toji tangkupkan kedua tangan di wajah Megumi. "Di kemasannya ada tulisan '98% mencegah kehamilan'. Bukan salah Papa kalau ternyata kamu itu 2% yang ketinggalan."
Pukulan mendarat di dada Toji, "Ngaco. Gumi tadi sore pakai testpack, garisnya dua."
"Ada tulisan '99% akurat', gak?"
"Ada."
"Siapa tau kamu 1% yang gak dihitung."
Megumi pukul ayahnya lagi. Keras betulan kali ini. Pukul lagi pakai dua kepal. Sampai pria itu mati, kalau bisa. Toji sedikit mengaduh, kontras dengan tubuhnya yang sukar digentarkan.
Toji dekap putrinya, paksa agar tenang. Yang tadi itu, bukan hal terburuk yang mungkin menimpa. Toji lebih tidak siap kalau janin itu milik lelaki lain. Mana rela dia, Megumi-nya dicolek sekali saja oleh buku jari yang bukan miliknya. Dengar kabar Megumi ditaksir teman sekelasnya saja serasa dia habis telan kuaya.
Pokoknya, cantik Megumi hanya milik Toji. Bahkan jika sudah tidak cantik lagi, Megumi tetap milik Toji. Walau benaknya tidak akan pernah sampai ke sana, tidak sampai imajinasinya membayangkan Megumi yang tidak cantik.
Siapa patut disalahkan jika bapak dan anak itu kadung saling suka, saling cinta? Sekuat-kuat Toji hujamkan bogem ke tiap senti daging lawannya, sebanyak-banyak tulang yang dia patahkan, tetap saja ketika melihat Megumi yang sebegini indah dia goyah.. imannya. Kelaminnya, sih, tegak.
Pun Megumi sama bejat. Pertama fasih kucek vaginanya, dia cuma bisa bayangkan Toji. Anjak remaja dia berani isap kelamin si bapak. Si empunya batang sempat menolak, lontarkan omong kosong yang kemudian sama-sama mereka panggil moral. Si moral lalu teronggok terlupakan di sudut batin paling gelap.
Sebagian besar memang salah Toji, tapi Megumi juga tidak suci. Dan, tetap, Tuhan yang paling salah. Salah Dia ciptakan dua kacung nafsu ini dan buat mereka bertemu. Salah Dia buat si cantik dan si bedebah ini saling cumbu.
"Terus rencananya Gumi mau gimana?"
"Tergantung."
"Apa, tuh?"
"Tadinya kalau Papa nolak, Gumi mau potong kontol Papa terus gantung diri."
"Oh-"
"Tapi karena Papa begini, Gumi jadi.."
Gadis yang belum genap tujuh belas tahun itu enggan teruskan bicara. Endapkan paras eloknya di dada Toji yang masih agak lengas. Pejamkan mata dan tarik napas, hirup banyak-banyak aroma Toji, membaur dengan cendana dari sabun mandi. Seperti sudah lama tercekik, satu tarikan napas itu menenangkan si remaja kalut.
"Ya udah, pagi nanti Papa temenin Gumi ke dokter. Kita periksa yang bener, mungkin aja Gumi beneran 1% yang gak dicantumin di kemasan testpack." Yakin tidak akan mendengar apapun lagi dari si gadis, Toji gumamkan suara di puncak kepalanya.
Megumi jauhkan muka dari Toji, putar mata malas dan putar badan menuju kamar. Dia gandeng si tubuh besar untuk turuti maunya.
"Papa belom pakai baju, lho. Tunggu sebentar, bisa?" sampai di depan kasur Toji berhenti. Megumi ikut berhenti dan berbalik.
"Ngapain?" tak dinyana, Megumi singkap gaun tidurnya tinggi-tinggi sampai lepas. Garmen tipis itu lalu dibuang ke samping ranjang. Dia hempas pantatnya ke tepi kasur, montoknya buat kasur membal sesaat.
Toji paham maksudnya. Dia tidak pegang kuasa untuk menolak. Dekati sosok indah dipadati dosa itu dengan sedikit gundukan di selangkangan. Benar-benar, abdi birahi satu ini. Dihadapkan pada jelmaan iblis perempuan pemuja syarah, dia lemah.
Lalu mereka saling kecup, saling cumbu. Dunia ini milik mereka, yang lain cuma numpang.
"Jadi yang ada di situ," tunda Toji, dia tunjuk perut Megumi, "anaknya Gumi atau adiknya Gumi?"
---------------------
---------------------
Tamat.
