Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-08-01
Words:
1,976
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
34
Bookmarks:
1
Hits:
532

First Choice

Summary:

Duke Sawamura Daichi dijodohkan dengan anak dari Earl Sugawara. Awalnya ia tidak berekspektasi banyak, namun pada akhirnya mereka saling menarik satu sama lain hingga tak bisa lagi dipisahkan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Di antara hamparan bunga mawar dengan beragam warna, terlihat dua orang pemuda sedang berjalan bersamaan. Yang satu berambut silver, terlihat kagum dengan pemandangan yang dilihatnya. Sedangkan pemuda berambut hitam di sebelahnya sedang sibuk memandangi si pemuda berambut silver tersebut. Terbalik dengan si silver, si rambut hitam terlihat begitu gugup dan kaku.

“Apa... anda tidak keberatan jalan-jalan disini? Maksud saya… apakah taman ini terlihat membosankan atau….” Sawamura Daichi, calon penerus Duke di wilayah Karasuno itu sedang masa pendekatan setelah dikenalkan dengan calon matenya, Sugawara Koushi dari Keluarga Earl Sugawara.

“Aku suka kok! Kebun bunganya indah!” jawab si Omega sambil tersenyum.

“Syukurlah kalau begitu. Saya khawatir Tuan Sugawara kurang berkenan dengan…..”

“Daichi! Jangan kaku begitu, aku jadi merasa sedang dipaksa ikut rapat kerajaan.” Jawab si perak dengan enteng. “Panggil aku Koushi saja ya, sebentar lagi kan kita akan menikah.”

“Umm.. Iya benar juga sih… Kalau begitu mohon bantuannya, Koushi.”

Mungkin dijodohkan dengan Omega ini tidak seburuk kedengarannya? Banyak gosip yang kurang mengenakkan tentangnya, karena keuangan Earl Sugawara akhir-akhir ini kurang lancar karena ketidakmampuan sang anak meneruskan jabatannya. Steorotipe Omega memang seperti itu bukan? Lagipula kedua Earl adalah seorang Alpha, makanya ia memilih ‘membuang’ anak pertamanya yang seorang Omega.

Daichi belum punya perasaan apapun pada tunangannya saat itu, namun di luar gosip miring yang didengarnya, ia percaya kalau Sugawara adalah orang yang bisa dipercaya.


“Koushi, kau yakin tidak mau pindah ke mansionku saja?”

“Tidak, aku tidak mau ada gosip kurang mengenakkan tentang kita. Nanti bisa berefek buruk pada keluargamu.”

6 bulan berlalu setelah perkenalan mereka berdua. Kini mereka berdua sudah semakin dekat dan Daichi sudah mengenal orang seperti apa yang akan menjadi matenya itu.

Pertama, dia cantik. Memang, semua omega digambarkan cantik dan rapuh, sehingga Alpha akan berlomba-lomba melindungi mereka. Namun bagi Daichi, kecantikan Koushi berbeda dengan Omega lain yang pernah ia lihat. Rambut Koushi berwarna perak dan bola matanya berwarna coklat yang menenangkan, rasanya ia tidak pernah bosan melihatnya.

Kedua, ia kuat. Yang Daichi tahu Omega itu lemah dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Tapi seorang Sugawara Koushi sering sekali menentang stigma tersebut. Koushi memang dikucilkan, bahkan di keluarganya sendiri karena ia seorang Omega seperti yang Daichi duga, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Selama ini hanya dididik menjadi penerus Earl hanya di atas kertas saja, dan semua gosip tentangnya tidak benar.

Awalnya, Daichi mempertanyakan kondisi tubuh Koushi yang selalu terlihat lemah. Awalnya ia kira memang saat mereka bertemu, sang Omega memang sedang kurang sehat atau sedang dalam kondisi heat. Namun kenyataannya ia seperti itu setiap saat. Ia tidak bercerita banyak tapi Daichi seorang pelayan yang sangat setia pada Koushi, ternyata selama ini ia tidak diberikan makanan yang layak dan lebih banyak dikurung di dalam kamarnya. Rumor selama ini sengaja disebarkan untuk menutupi hal tersebut.

Ketiga, ia hangat. Daichi mempelajari ini ketika mengajak Koushi berkunjung ke acara amal bulan lalu. Anak-anak di panti asuhan langsung menempel pada Koushi dan tidak rela berpisah dengannya sampai ia harus membujuk anak-anak itu satu per satu. Mungkin instingnya sebagai Omega atau apa, Daichi tidak tahu. Yang Daichi tahu, calon matenya itu selalu memberikan senyuman hangat dan mendukungnya.

“Kau bukan pilihan keduaku, Koushi. Aku serius soal itu.”

Koushi hanya tersenyum mendengar perkataan Alpha yang akan menjadi matenya dua bulan lagi. “Terima kasih, Daichi. Aku bersyukur orang yang akan menjadi mateku adalah sahabatku.”


“Koushi, aku akan ikut di perang perbatasan dengan negara sebelah minggu depan.”

Pernyataan Daichi barusan membuat Sawamura Koushi bagaikan disambar petir. Mereka baru saja menikah selama dua bulan dan Koushi belum pernah sebahagia ini dalam hidupnya. Awalnya, ia menganggap Daichi sebagai Duke baik hati yang tidak bisa menolak dijodohkan dengannya. Namun setelah mengenal satu sama lain, ia tahu bahwa Daichi adalah orang yang kuat, lembut dan baik hati. Tidak lama waktu berselang setelah mereka bersahabat dan akhirnya menikah, perlahan Koushi membuka hatinya pada orang yang sudah jadi suaminya ini.

Daichi tidak pernah memaksa Koushi melakukan sesuatu atau menggunakan kuasanya sebagai kepala keluarga atau Alpha untuk menekan Koushi. Sang Alpha tidak pernah menganggapnya sebagai pilihan kedua atau cadangan.

“Kalaupun aku bisa kembali ke masa lalu dan mengulang semuanya, aku akan tetap memilihmu, Koushi.” kata-kata yang diucapkan Daichi di pagi hari setelah mereka menjadi mate, masih terngiang jelas di kepalanya. Daichi memperlakukannya dengan hati-hati, seperti kristal yang bisa pecah kapan saja, namun ia juga membebaskan Koushi melakukan apapun yang ia mau seperti sekolah yang dibangunnya untuk membantu anak-anak yang buta huruf di kerajaan ini. Sebelumnya, Koushi tidak pernah bermimpi untuk bisa melakukan hal tersebut di keluarga lamanya.

“Perang…. Berapa lama?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu.. Jika semuanya lancar dan perundingan berhasil, mungkin sekitar 6 bulan? Jika mereka memutuskan untuk menyerang mungkin paling cepat setahun… atau lebih.”

Walaupun Daichi tidak menyebutkan opsi ‘Aku bisa mati kapanpun’, Koushi tahu itu dengan jelas. Ia cukup terpelajar untuk mengetahui kemungkinan itu, apalagi negara sebelah memang sedang gencar-gencarnya ingin mengambil wilayah perbatasan.

“Aku tahu ini aneh karena kita baru menikah tiga bulan, tapi aku harus meninggalkanmu dalam jangka waktu yang lama… Maafkan aku.”

“Tidak usah minta maaf, Daichi. Aku tahu, kau cuma menjalankan tugasmu sebagai Duke bukan?”  Koushi tersenyum getir, ia berusaha menahan perasaannya yang sebenarnya.

“Pergilah, tapi kau harus janji padaku… kau harus pulang dengan selamat. Demi anak kita.” Koushi menarik tangan Daichi ke perutnya yang masih datar, namun berdasarkan pemeriksaan dokter keluarga Duke, sudah ada janin di dalamnya.

“Kau… kenapa tidak bilang?” Saat heat pertama Koushi tiba sebulan setelah mereka menikah, Daichi menawarkan bantuan pada sang Omega supaya ia tidak kesakitan karena meminum surpressant yang berefek samping buruk pada tubuh dan Koushi menerimanya. Malam itu, mereka terbawa suasana dan mereka menjadi mate secara resmi, bukan hanya di atas kertas saja. Gigitan di leher Koushi menjadi bukti dari kejadian itu. Daichi panik sehari setelahnya dan bertanya terus menerus apakah Koushi  kesakitan atau kelelahan, tidak ingin melihat Omega berambut perak itu menderita lagi.

“Aku mau bilang nanti, kalau kandunganku sudah lebih kuat. Tapi karena sekarang kau sudah tahu… ingatlah kalau nanti yang menunggumu bukan cuma aku, tapi juga mereka.”

Daichi memeluk Koushi dari belakang tanpa melepaskan tangannya dari perut Koushi. “Terima kasih, Koushi… Sudah menjadi mateku dan ibu dari anak kita… Aku mencintaimu..”

Sang Alpha terbawa suasana  dan menyatakan perasaan yang sebenarnya kepada Omeganya.

“Daichi aku…..”

“Jangan jawab dulu. Aku tahu kau pasti bingung kenapa aku bilang begini, pahahal aku akan meninggalkanmu… Kalau nanti aku pulang dari perang dan perasaanmu masih sama, tolong jawab pernyataanku ini.”

Sawamura Koushi hanya bisa mengangguk mendengar permintaan egois suaminya.


“Kiyoko, bisa bantu aku gendong Misaki sebentar? Masaki menangis lagi.”

“Baik.” Si Beta yang tadinya sedang membereskan baju-baju bayi membantu Omega itu mengurus anak-anaknya. Mereka berdua kembar, perempuan dan laki-laki, sangat lucu. Rambut mereka berdua hitam legam seperti ayahnya, tapi bola mata mereka berdua berwarna coklat yang hangat, persis dengan ibu mereka. Bahkan, Misaki punya tahi lalat di sebelah mata kirinya, persis seperti si Omega.

Kiyoko adalah maid kepercayaan Koushi di Mansion Duke Sawamura. Suaminya, Tanaka Ryunosuke adalah salah satu ksatria yang ikut berperang dengan Daichi. Mungkin karena itu mereka jadi cepat akrab, karena sama-sama menunggu kepulangan orang yang tercinta. Tidak terasa setahun sudah berlalu sejak Daichi berpamitan pada Koushi dan anak mereka sudah lahir tanpa kehadiran ayahnya.

Terkadang, Koushi menerima surat tentang keadaan Daichi di medan perang. Ia berkata kalau selama ini semuanya berjalan lancar seperti rencana. Ada beberapa serangan namun berhasil ditangani dengan baik oleh pasukan kerajaan, termasuk Daichi yang menjadi pemimpin salah satu pasukan. Waktu Koushi baru saja melahirkan, Kiyoko menitipkan surat yang memberitahu kalau anak-anak mereka sudah lahir dan tentu saja Daichi senang mendengar kabar tersebut dan ingin cepat pulang.

Surat terakhir yang diterima Suga adalah surat itu, tiga bulan yang lalu dan belum ada kabar sampai saat ini. Sejujurnya ia cemas, karena dari rumor yang beredar nampaknya negara sebelah sedang melancarkan serangan kepada pasukan disana namun tidak ada yang tahu kebenarannya. Ada juga yang bilang kalau ini adalah penyerangan terakhir karena mereka sudah kehabisan tenaga dan sumber daya.

Koushi hanya bisa berharap dan berdoa agar Alphanya beserta semua pasukan kerajaan bisa pulang dengan selamat sambil membantu mengerjakan semua pekerjaan di mansion. Syukurnya, orang-orang di mansion ini semuanya baik hati dan bisa diandalkan. Saat Koushi melahirkan, asisten Daichi yang bernama Asahi mengambil alih semua pekerjaan administrasi duke sampai Koushi pulih kembali. Pelayan-pelayan disini juga sangat berbeda dengan pelayan di rumahnya dulu yang selalu membencinya. Kalau dipikir-pikir, kehidupannya sekarang jauh lebih baik dibandingkan yang dulu.

“Kak Koushi! Apa kau sudah dengar? Pasukan dari medan perang akan pulang besok!” Hinata, salah satu staff di Mansion Sawamura,  memberi kabar gembira kepada Koushi dan Kiyoko.

“Hinata, nanti mereka kaget! Ujar Kiyoko yang masih menggendong Misaki.

“Ah maaf, aku terlalu bersemangat.”

“Tidak apa-apa Hinata, terima kasih untuk kabarnya.”

Koushi menghela nafas, memikirkan bagaimana reaksi Daichi saat melihat si kembar dan dirinya. Ia sangat merindukannya. Apalagi semenjak pernyataan cinta dari Daichi, tidak banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama, dan Koushi berharap bisa memberi dan menerima cinta dari matenya itu lebih banyak lagi.

‘Daichi.. masih hidup kan?’

Walaupun terlihat ikhlas melepas kepergian sang Alpha, tidak bisa dipungkiri kalau ia seringkali bermimpi buruk kalau Daichi meninggal dan ia selalu menangis setelahnya. Ia tidak bisa lagi membayangkan hidupnya tanpa Daichi.


“Koushi, aku pulang. Terima kasih sudah menungguku selama ini,”

Daichi pulang hari itu. Ia baru saja selesai mengikuti parade yang dibuat oleh orang-orang di Ibukota, mengikuti upacara penghargaan di istana kerajaan dan sebagainya.

Ini saatnya ia bertemu dengan Misaki dan Masaki, darah daging yang belum pernah ditemuinya. Lalu, Koushi… Omeganya, pasangan sehidup sematinya.

Walaupun ia menikah dengan Omega berambut perak itu karena perjodohan, Daichi bersyukur bisa bertemu dengan mate seperti Koushi. Di malam-malam saat peperangan berjalan, berkali-kali ia bermimpi skenario terburuk menimpanya sehingga ia tidak bisa bertemu lagi dengan si Omega, apalagi anak-anaknya yang belum lahir.

Koushi begitu kuat dan tabah. Setelah menikah, ia langsung ditinggal sang suami dan tidak pernah mengeluh sekalipun. Yang Daichi tahu, biasanya Omega dari keluarga bangsawan kebanyakan sangat manja dan berlaku seenaknya karena selalu dimanjakan oleh keluarga mereka.

Si Omega langsung memeluknya erat, dengan mata yang berkaca-kaca. Daichi bisa merasakan dari feromon Koushi yang menguar, ia bahagia bercampur lega melihat Daichi menepati janjinya.

“Kau… sehat?”

“Aku yang harusnya bertanya begitu! Kau tidak apa-apa? Kenapa lama sekali pulangnya! Semua orang meragukan kalau kau masih hidup tahu!” omelnya panjang lebar sambil menahan tangis.

Kiyoko datang sambil mendorong kereta bayi. Si kembar yang berusia tiga bulan terlelap dengan tenang.

“Misaki dan Masaki ya… mereka.. cantik. Sepertimu.”

“Sejak kapan Duke Sawamura Daichi jadi gombal begini? Kau terbentur di medan perang?”

“Tidak, aku cuma kehilangan gigiku.” Daichi menunjukkan bagian di mana giginya lepas.

“Pokoknya kamu harus ke dokter! Aku ga mau punya suami ompong.” Suga berusaha tidak menangis, karena ia harus bahagia kan?

“Iya, nanti akan kulakukan. Ngomong-ngomong Koushi… Mau minum teh bersama?”

“Kau harus istirahat kan?”

“Sebentar saja. Kiyoko, tolong minta pelayan menyiapkan Teh di taman.”

Kiyoko mengangguk sementara Koushi memaksa Daichi mandi dulu atau ia tidak boleh menggendong Masaki dan Misaki. Daichi hanya bisa menuruti permintaan Omeganya bukan?

“Daichi, aku juga mencintaimu.” Koushi mencium bibir Daichi cepat setelah mereka masuk ke dalam kamar.

Daichi tersenyum lebar, setelah menunggu selama setahun, semuanya terbayarkan. Ia tidak ingin berharap pada sang Omega karena ia bisa gugur kapanpun, makanya ia meminta Koushi untuk menjawabnya setelah perang.

“Perasaanku tidak berubah Koushi, masih sama seperti hari itu.” Daichi memeluk tubuh Koushi lalu menciumnya dengan lembut. Rasanya, baru kedua kali ini mereka berciuman seperti ini sejak heat Koushi setelah mereka menikah. Tidak ada lagi kecanggungan di antara keduanya, karena mereka sudah sadar dengan perasaan masing-masing.

Koushi melepas bibir mereka yang betemu untuk mengambil nafas “Daichi! Buruan mandi dulu pokoknya kalau engga aku marah nih!”

“Iya, Omegaku yang paling cantik, pilihan pertamaku.” Jawab Daichi sambil tersenyum lebar.

“Pasti kamu gombal diajarin sama Maquess Kuroo… atau Duke Bokuto? Udah ah sana mandi!” wajah Suga memanas akibat tigkah Daichi yang tidak seperti biasanya.

Daichi senyum-senyum sendiri sambil bergegas ke kamar mandi. Rasa lelahnya langsung hilang begitu sampai di rumah dan bertemu dengan keluarganya tercinta.

END

Notes:

Thank You for Reading! Hope you enjoy reading this fic.