Actions

Work Header

The Transfer Kid

Summary:

Ada anak baru di kelas Eli, dan dia cukup aneh. /AU, OOC/

Notes:

cuma oneshot pendek, jangan ngarap chapter 2 //heh

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Naib Subedar.”

Matanya berwarna hijau keruh, seperti rawa yang kotor. Suaranya kasar tapi ringan. Hanya seperti itu saja perkenalan yang dia sampaikan di depan kelas. Tidak ada yang berani membuka suara untuk mengajaknya bicara.

‘Cuma itu?’ jerit batin sang guru yang berdiri di sampingnya. Namun sebagai orang dewasa dia harus mengendalikan situasi di depan anak-anak. “Um, baiklah. Subedar akan duduk di samping Clark. Kau bisa membantunya merasa nyaman di sekolah ini, kan?”

Yang namanya terpanggil berdiri tergesa-gesa. “T-tentu, Ms. Mary!”

Lalu si murid pindahan berjalan ke tempat duduk kosong di samping murid bernama Clark. Tanpa bunyi apa-apa, dia duduk di sana.

Eli Clark mengulurkan tangan di atas mejanya. “Hei, aku Eli. Senang berkenalan. Um, apa kau lancar berbahasa Inggris? Aku kesulitan dengan bahasa lain selain itu. Maaf.”

Naib Subedar memandangi tangan itu, kemudian wajah yang punya. Rambut pendek kecoklatan dan mata biru. Oh, hanya perasaannya saja atau anak itu punya bintang-bintang yang berkelap-kelip di matanya? Jangan lupa garis-garis aneh di bawah matanya, mencolok sekali.

Posisi tangan Clark tidak berubah, Subedar terpaksa menjabatnya. “Naib.”

Eli Clark tersenyum canggung. Si anak pindahan melakukan hal yang persis sama dengan saat perkenalan di depan kelas, hanya menyebutkan namanya saja. “Okee, Naib. Aku bisa mengantarmu berkeliling sekolah di waktu istirahat nanti, kalau kau mau.”

Mata hijau keruh Naib melirik Eli, yang membuat remaja itu bergidik. Tatapan Naib sungguh menyeramkan. Tapi tentu saja Eli tidak berniat menghancurkan kesan pertama dengan anak pindahan yang, beberapa bulan lagi sebelum semester baru tiba, akan jadi teman sebelah bangkunya.

“Aku mau.”


.


Di luar dugaan, bahasa Inggris Naib cukup bagus. Walaupun dia tidak banyak bicara dan hanya mendengarkan celotehan Eli, anak berkacamata itu tahu Naib memahami semua ucapannya.

“Emm, di sini kantin. Ada berbagai macam makanan yang disediakan, kau bisa mengambil paket makanan yang dibayar bersamaan dengan uang sekolah, atau bisa juga membeli makanan lainnya… Naib?”

Eli berhenti saat menyadari Naib ternyata sudah menghilang. Bersamaan dengan disebutkannya kata kantin, remaja yang lebih pendek berlari ke arah tempat itu dan langsung berbaris di belakang murid-murid lain yang juga mengantre untuk memesan makanan.

Mata biru Eli mengerjap-kerjap, mulutnya menganga. Jangan bilang Naib suka sekali makan.

“Jujur saja, ini roti terenak yang pernah kumakan!” Naib mengunyah brutal sepotong roti yang dicelup dengan kuah mie di depan mukanya. Meja kantin itu tak diisi begitu banyak orang, hanya ada Naib dan Eli, juga beberapa teman Eli dari kelas lain yang bergabung.

Salah satu di antara mereka mengangkat satu alis. “Clark, orang ini anak baru di kelasmu itu?”

Eli menggaruk pelipisnya. “Begitulah, kebetulan aku duduk di sebelahnya dan Ms. Mary jadi memintaku mengajarinya banyak hal. Dia berasal dari Nepal.”

Wajah Naib tidak berpaling dari roti dan kuah mienya, tapi matanya menatap muka teman Eli yang mulutnya tertutup masker bedah. Itu membuatnya seperti penjahat yang mengincar seorang mangsa. “Naib Subedar.”

Teman Eli itu, di sisi lain ikut menatap Naib dengan pandang merendahkan. “Aesop Carl.”


.


Asrama tempat Eli tinggal dan apartemen yang disewa Naib berada di arah yang berlawanan. Keduanya berpisah di gerbang sekolah dan pulang. Eli pulang ditemani Aesop yang juga tinggal di asrama yang sama.

“Aku tak suka dengan anak baru itu,” buka Aesop. Suaranya dingin dan tangannya mengepal erat.

Eli menanggapi dengan santai. “Ah, dia memang agak aneh, tapi bukan orang jahat.”

“Aku tak suka, Eli,” dia menarik tangan Eli, yang segera menoleh. Matanya mengerjap saat napas Aesop memburu dan mukanya memerah. Ada apa sebenarnya?

Genggaman tangannya semakin erat, teman dekatnya itu meringis, lalu menepis tangannya minta dilepas. “Apa, sih? Kau tidak perlu bersikap seperti itu!”

Saat tangannya dilepas paksa, Aesop menjadi murka. Dia menangkap wajah Eli yang ditutup kacamata dengan kedua tangan. Tanda simetris di bawah matanya mengerut karena air mukanya berubah. Aesop, mengubah jalur tangan dari wajah ke leher Eli, menekannya erat.

“Khh… Apa… Aesop…” Eli merintih, napasnya tercekat oleh tangan Aesop yang mencekiknya. Kedua tangannya mencoba melepas masing-masing tangan Aesop, sayangnya tangan Eli yang lebih kurus kalah tenaga.

“Eli… Eli… kau lebih indah kalau tidak hidup. Aku akan menyelamatkanmu dari keadaan tubuhmu yang hidup, dan juga dari dia.”

Raut muka Eli menampilkan kebingungan, mata Aesop yang kelabu dan biasanya tampak sayu jadi terlihat sangat menakutkan. Dia mulai mencakari tangan Aesop, tapi cengkeraman di lehernya malah semakin kuat.

Eli hampir kehilangan kesadaran, sebelum dia jatuh lemas karena tangan Aesop tak lagi mencekik lehernya. Ada bunyi pukulan yang keras sepersekian detik sebelumnya, entah disadarinya atau tidak. Dia terduduk bersamaan dengan Aesop yang tiba-tiba pingsan di depannya.

“Uhuk, uhuk! Aesop, apa—”

Sebuah bekas pukulan bersarang di pipi kanan sampai pelipis Aesop, temannya itu pingsan seketika. Masker bedahnya terlepas dan ada noda tanah di wajahnya.

Eli segera melihat kepada pelaku yang telah memukul teman dekatnya, dan juga menyelamatkannya.

Tepat di samping Aesop yang pingsan, Naib Subedar menurunkan kakinya.

Oh, jadi itu bukan pukulan, tapi tendangan.

Kepala Eli sangat pusing, dia tidak dapat berdiri sendiri. Naib yang menyadari itu segera menurunkan tubuhnya, namun tidak berjongkok. Dia malah bersikap seperti seorang prajurit di hadapan seorang raja.

“Apakah Anda baik-baik saja, Pangeran Eli?”

Dahi Eli berlipat-lipat. Pertama temannya psikopat, kemudian anak baru memanggilnya pangeran. Apakah ini hari mengerjai Eli Clark sedunia?

“Saya akan ulangi perkenalan tadi pagi. Nama saya Naib Subedar, saya diperintah oleh Yang Mulia Hastur untuk menjaga Pangeran Eli dari ancaman selama beliau tidak ada.”

Ingatkan Eli untuk beli aspirin dalam perjalanan ke asrama.

Notes:

Identity V punya Netease (yg ga pernah mau benerin ping)

didedikasikan untuk ulang tahun Naib (yang telat, ehe)

Selamat ulang tahun, Naib Subedar