Work Text:
Jika ada yang berkata bahwa kehidupan dewasa itu menyenangkan, Subin akan menertawai siapapun itu keras-keras.
Sungguh, jauh lebih baik ia memilih untuk tetap menjadi kecil; sekedar sibuk memikirkan mobil-mobilan yang biru atau merah untuk dimainkan bersama anak-anak lain dan tak perlu ragu untuk langsung menangis saat merasa ada sesuatu yang tak sesuai kehendaknya.
Sesederhana itu, berbanding terbalik dengan kehidupan dewasa yang seluruhnya seolah dunia ikut mengatur.
Saat kau menjadi apa adanya, mereka akan berkata mau jadi apa jika kau tidak bekerja keras? Memangnya salah jika Subin hanya sekedar ingin hidup? Tak perlu jabatan tinggi, gaji puluhan digit atau mengukir nama dalam kancah berprestasi. Subin hanya ingin hidup.
Lalu, saat ia mulai menuruti ekspektasi dunia … nyatanya dunia juga tidak menjadi sebaik itu. Ia bekerja keras, belajar pagi dan malam dan berusaha mati-matian untuk mendapatkan jabatannya yang sekarang. Akan selalu ada pihak yang berkata untuk apa bekerja keras jika nyatanya hidupmu hanya sebentar?
Demi sang pemilik semesta … tetap selalu ada salah entah bagaimana Subin memutuskan.
Dunia hanya omong kosong dan Subin lelah.
Benar-benar lelah hingga rasanya sekedar menarik nafas ia tak sanggup.
Pria Jung itu melihat pada jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, jalanan sudah gelap dan hanya ada beberapa bis yang berlalu-lalang menuruti rute terakhir.
Dia butuh asupan energi, dan hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa memberikannya asupan tersebut.
Do Hanse.
Maka tangannya terarah mengambil ponsel, menyentuh tombol panggil cepat nomor satu yang langsung menghubungkan pada sebuah kontak yang selalu menjadi favoritnya.
Panggilan tersambung pada nada tunggu ketiga, sepertinya pria itu belum tidur.
“Halo? Jung Subin?”
Seolah memiliki medan listrik sendiri, Subin otomatis tersenyum, “Belum tidur?”
Terdengar kekehan singkat di seberang sana, “Kau tahu aku, Jung Subin.” Yang lagi-lagi kekehan itu membuat Subin tertawa lebih lebar, “Tidak ada sejarahnya aku tidur sesore ini.”
Sore katanya, Subin mendongak melihat langit yang gelap tanpa bintang. Menghela nafas dan menyandarkan punggung pada tiang halte bus yang telah sepi, memang Hanse tak pernah berubah. “Ya, terserah.” Lalu ia kembali melanjutkan, “Apa kau di apartemen?” Subin memerosotkan bahu, menghilangkan segala pertahanan diri yang selalu ia pasang setiap harinya. “Aku rasa, energiku habis.”
Tak perlu menunggu beberapa detik hingga akhirnya Hanse menjawab, suara nyaring pria itu seperti menari di telinganya. “Kau bisa langsung datang kapan saja.”
Subin mengukir senyum, “Aku akan menginap. Sampai jumpa.”
“Sampai bertemu kalau begitu.”
.
.
.
Tak ada yang spesial dari apartemen ini sebenarnya. Hanya berupa bangunan di pinggir kota yang akses masuknya kadang macet karena pintu kaca yang sudah lama tidak diminyaki atau sekedar lift yang rusak hingga siapapun yang ke sini lebih senang menjadikan tangga darurat sebagai akses utama.
Berbanding terbalik dengan apartemen Subin sendiri yang hanya perlu menunjukkan kartu sebagai kunci membuka lift.
Tetapi, Subin berani berkata bahwa ia rela menukar segala aset yang ia miliki untuk ikut tinggal di sini.
Tinggal bersama pria dengan senyum yang lebih sering ia sebut sebagai senyum kucing. Membuatnya mengukir senyum lebar walau tangannya baru mengetuk pintu unit itu sebagai bentuk sopan santun.
Subin memberikan dua ketukan, memberinya waktu beberapa detik untuk sekedar melihat-lihat lorong yang begitu panas apalagi dengan tambahan cat dinding berwarna abu-abu tua sebagai warna utama.
Hingga akhirnya sebuah teriakan teredam terdengar. “Pintunya tidak dikunci!”
Subin menggerakkan gagang tersebut dan segera disambut oleh aroma yang khas—seperti pengharum ruangan yang sengaja disemprotkan baru saja.
Setelah melepaskan sepatunya, pria Jung itu masuk lebih dalam. Meletakkan tas kerjanya di atas meja kecil yang biasa Hanse gunakan sebagai wadah kunci motor dan kunci-kunci lainnya. Lalu matanya kembali menjelajah, melihat pada kasur yang diletakkan di ujung menempel pada jendela.
Membuat jendela yang memamerkan kerlap-kerlip ibu kota menjadi serasi dengan Hanse yang kini tengah tengkurap di atas kasur menampakkan sedikit tato di bahunya; ia sedang bertelanjang dada seperti biasa.
“Hai—”
Hanse baru saja ingin menyapa, menyeruakan kata sapaan yang paling umum sebelum akhirnya suara nyaring itu tersendat karena tubuh Subin yang ambruk di atasnya.
Tak ada suara yang Subin berikan. Pria dengan pakaian kantornya itu diam memeluk punggung Hanse yang tadinya tengah sibuk dengan ponsel.
Seolah mengerti dengan apa yang terjadi, Hanse tak bertanya. Ia membiarkan tubuh pria Jung itu di atasnya dengan suara nafas mereka yang saling beradu. Membuat deru karbon dioksida yang teratur pada daun telinganya memberi tahu Hanse jika sosok di atasnya pasti sedang memejamkan mata.
Kedua tangan Subin yang menjuntai di kanan-kiri mendadak mengerat. Sengaja memeluk Hanse walau mengetahui pria itu akan protes.
“Bau coklat.” Subin membuka mata dan mengusasapkan pipinya pada helaian rambut Hanse yang mencuat diantara lipatan leher dan bahunya. “Kau masih menggunakan sabun itu, ya?” tanyanya mengingat sabun yang selalu Subin sukai aromanya. Bukan untuk ia gunakan sendiri, ia hanya menyukai aroma itu jika berada di tubuh Hanse.
Hanse mengangguk. “Favoritmu, bukan?”
Subin mengangguk dengan senyuman yang tak bisa Hanse lihat. “Enak.” Lalu ia sadar jika tubuhnya tidaklah ringan, Subin menyingkir untuk merebahkan diri di samping pria Do tersebut. Hanya untuk memperhatikan wajah itu lebih lekat lagi.
Namun sepasang matanya yang sering dikatakan ‘memiliki kharisma’ itu menyadari sesuatu yang lain. “Kau melepas tindikmu?”
Hanse menyentuh bibir dan sisi hidungnya, lalu anggukan dan senyuman yang ia berikan. “Sedang ingin mencari suasana baru.” Jawabnya yang kali ini turut merebahkan diri dengan posisi menyamping. Sengaja agar bisa bertatapan dengan Subin yang nampak tak bertenaga sama sekali.
Kedua sudut mata pria itu nampak turun dengan kantung mata yang menghiasi. Menyatakan dengan terang-terangan bahwa bukan hari yang menyenangkan yang dijalani oleh Jung Subin.
Posisi ini membuat Subin lebih leluasa melihat beberapa buah tato yang sengaja diukirkan memenuhi dada pria di hadapannya. Memberi gambaran sebagai ‘pria menakutkan’ walau nyatanya dada itu tempat paling nyaman untuknya memejamkan mata.
Di atas seprai berwarna coklat susu dan selimut yang membentang, Subin beringsut mendekat. Menempelkan kepalanya yang biasa mendongak kokoh untuk sekedar menghirup nafas pada permukaan kulit dengan deretan bulu halus tersebut. Tangannya yang tadi terlipat di depan dada beralih meraih pinggang itu untuk sekedar merapatkan posisi.
Hanse tak bersuara. Ia memberikan senyum kecil dan membuka tangannya untuk mempersilahkan tubuh besar pria itu untuk masuk dalam pelukannya dan meletakkan dagu di atas puncak kepala Subin yang masih beraroma minyak rambut.
“Hari yang buruk, ya?” tanya Hanse setelah mereka berfokus pada posisi saling menyamankan.
Subin mengangguk, masih enggan mendongak karena terbuai dengan sensasi rileks akibat aroma coklat. “Aku sangat lelah.” Lalu Subin bergerak sedikit, sekedar mengusapkan ujung hidungnya pada garis dada Hanse yang terbentuk akibat posisi tidurnya yang menyamping.
“Pasti tidak menyenangkan.” jawab Hanse dengan suara berbisik, tangannya bergerak mengusap punggung itu untuk sekedar memberi rasa menenangkan. “Maka beristirahatlah.” Lalu pria Do itu kembali melanjutkan. “Mau menceritakannya?”
Subin tak langsung menjawab. Mata pria itu mengerjab selama beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan pelukannya untuk mendongak menatap wajah yang selalu membuatnya merasa teduh tersebut.
“Apa akan ada perubahan jika aku menceritakannya?”
Hanse tertawa. Benar-benar tertawa hingga lubang pipinya yang selalu malu terlihat menampakkan diri dengan bangga. “Tidak. Dunia tidak pernah sebaik itu.” Hanse melipat tangannya di bawah bantal sebagai tambahan bantal. “Tetapi setidaknya kantung matamu akan membaik karena satu beban pikiran bisa disuarakan.”
Subin menyukainya.
Subin menyukai bagaimana suara itu selalu memberi jawaban yang netral. Tak memihak pada siapapun namun tetap ramah untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Pria Jung itu tersenyum, walau kini matanya terlihat masih lelah. “Aku hanya lelah mendengar semua komentar orang-orang. Kau tahu, pada setiap pilihan hidup yang aku ambil ….” Subin menurunkan pandangannya. Sekedar memperhatikan ukiran huruf yang memebentang dari dada hingga bahu Hanse.
Tangannya menari-nari di atas ukiran permanen tersebut. “Mereka selalu berkomentar seolah aku buruk sekali dalam mengambil tindakan.” Subin bergerak lagi mendekat. “Aku ingin berhenti mendengar perkataan mereka.”
Hanse kembali memberi usapan punggung, “Maka berhentilah mendengarkan mereka.” bibirnya melanjutkan. “Kau bisa berhenti mendegarkan mereka dan hanya mendengarkan dirimu sendiri.”
Mata Pria Do itu menjelajah landscape kota dari jendelanya. Melihat pada hiruk-pikuk kota yang ramai dan mengerti bagaimana segala orang dewasa di luar sana selalu memberikan komentar-komentar tidak penting entah untuk terlihat peduli atau memang mengesalkan.
“Sama seperti hidup orang lain, kau tak mengetahui apa yang mereka alami. Tetapi kau lebih dari tahu untuk mengerti apa yang kau alami dan yang kau butuhkan.”
Untuk beberapa saat, nafas Subin seperti berhenti bersirkulasi. Kata-kata itu selayaknya benda padat untuk menusuknya dan memberi pemahaman yang selama ini ia lewatkan.
Subin akhirnya menghela nafas, “Benar juga.”
Ia kembali merapatkan pelukan tersebut, kini menyukai bagaimana hangat dari tubuh Hanse memberinya sensasi peluk yang lebih nyaman. Namun kepalanya mendongak untuk melihat lagi bagaimana garis-garis halus membekas pada dua pipi Pria Do tersebut.
Subin sedikit lama seperti itu, memandangi setiap inchi bentuk wajah Hanse untuk akhirnya terfokus pada dua belah merah jambu yang selalu memberikan kata-kata yang ia butuh dengar pada setiap permasalahan hidupnya.
Bibir merah jambu itu tersenyum, menyadari sedang diperhatikan dan membuat Subin tak menahannya lagi untuk sekedar memberikan kecupan singkat.
“Terima kasih telah mengatakan sesuatu yang ingin aku dengar.” Ucapnya memberi apresiasi. “Kau memberi nyawa yang berwarna untuk hari-hariku yang kelabu.” Lalu Subin tertawa, “Seperti pemantik, nyawaku nyala karena kau.”
Hanse tertawa kembali. “Ya, ya simpan segala kata-kata manismu untuk sisa waktu sampai fajar nanti.” Hanse menunduk untuk melihat wajah yang masih ingin tinggal di dekapannya, “Menginap malam ini?”
Subin mengangguk, kembali memberikan kecupan lagi walau kali ini bertubi-tubi.
“Aku ingin peluk semalaman.” Subin mengangkat tangannya dan memposisikan kembali tubuhnya untuk sejajar dengan wajah Hanse. Lalu jemarinya mengusap bibir itu dengan segala gerakan lambat.
“Peluk, ya?” lalu Hanse tertawa untuk memberikan persetujuan.
“Kau bisa meminta peluk sesukamu, tetapi tolong mandi dulu.” Hanse memasang wajah seolah-olah jijik walau nyatanya ia tidak mencium sedikitpun aroma yang mengusik. “Aku tidak mau menghabiskan malam dengan seseorang yang penuh dengan keringat.”
Subin tertawa. membuat matanya sedikit terpejam dan deret giginya terlihat menggemaskan dengan gerak bibir tersebut. “Aku akan mandi.” Lalu pandangan lekatnya kembali setelah menuntaskan tawa. “Tetapi, Hanse. Terima kasih, ya?”
Hanse mengerjap, “Untuk apa lagi?”
“Untuk selalu menyambutku pulang.” Lalu bibir Subin melanjutkan dengan nada yang lebih rendah, “walau kau bukan rumahku.”
Subin berucap dengan nada yang manis, walau kalimatnya menegaskan bahwa kenyamanan ini masih belum dilandasi hubungan apa-apa.
“Apa kau keberatan jika kita tanpa status seperti ini?”
Subin menaikkan bahu, walau kalimatnya terdengar sendu tetapi kedua matanya bersemangat untuk menatap pria di hadapannya. “Untuk sekarang aku rasa tidak … pelukmu sudah lebih dari cukup.”
Hanse memberi senyum yang sama. “Aku juga. Seperti ini lebih menyenangkan.” ucapnya menjelaskan bahwa memang benar.
Untuk saat ini, biar seperti ini. Saling mendekap saat lelah tanpa sebuah komitmen.
Untuk saat ini … mereka menyukainya.
Untuk selanjutnya … mereka pasti akan menemukan jawabannya.
“Cepat mandi, atau aku tendang dari kasur,” dan kecupan pada bibir menjadi penutup pada sedikit kisah sebelum Subin akhirnya bangkit dan menuju ke kamar mandi.
Benar, untuk saat ini presensi satu sama lain sudah lebih dari cukup.
.
.
.
END
