Work Text:
Memasukki bulan Agustus seharusnya akan ada penurunan curah hujan, tapi entah kenapa hari ini langit rasanya sedang ingin bersendu seharian. Sejak pagi tadi matahari seakan masih betah menyembunyikan keberadaannya dibalik awan yang tebal, dan benar saja hujan terus turun sejak siang hari sampai menjelang sore saat ini.
Tapi disaat orang-orang sedang misuh karena perkiraan cuaca yang tidak akurat, lain halnya dengan Seungwoo yang saat ini yang justru masih betah melamun memandang ke luar melalui jendela dari ruang kerjanya. Jendelanya ia buka sedikit agar ia bisa menghirup bau tanah yang kerap kali tercium saat hujan turun di musim kemarau ini, dan senyumnya terpatri hangat sembari matanya memandang air yang turun membasahi bumi.
Seungwoo menyukai hujan, karena di sepanjang hidupnya terselip kenangan yang tidak terlupakan kala hujan, dan itu membuatnya selalu merasa tenang saat hujan turun karena ia bisa bernostalgia ke masa lalu, dimana moment yang indah maupun yang buruk kembali terlintas di otaknya.
Pertemuan pertama.
Selama ini Seungwoo selalu mentertawakan temannya saat mereka menceritakan bagaimana rasanya love at first sight. Menurut Seungwoo, itu mustahil. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa semudah itu mengakui kalau dirinya jatuh cinta hanya dengan satu kali tatap muka?
Di umurnya yang mendekati dua puluh, Seungwoo tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menyukai seseorang, tidak pernah merasakan bagaimana kupu-kupu berasa berterbangan di perutnya. Sampai akhirnya di pertengahan semester perkuliahannya ia mulai merasakan perasaan asing.
Hari itu sedang turun hujan, dirinya memilih berteduh di koridor kampusnya sembari memandang hujan. Rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri yang lupa membawa payung padahal ia sudah tahu sejak pagi berita ramalan cuaca sudah menginfokan kalau hujan akan turun lebat hari ini. Namun gerutuannya tidak berlangsung lama saat tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di sebelahnya.
Orang dengan hoodie kebesaran itu sedang sibuk membuka payungnya yang entah kenapa sepertinya macet, karena setelah beberapa saat payung itu masih belum terbuka.
"Duh susah banget." gumamnya pelan, dari samping wajah lelaki itu tidak terlihat karena ia memakai tudung hoodienya. Seungwoo yang melihatnya repot sendiri jadi gemas dan mendekati lelaki itu sembari mengulurkan tangan.
"Sini gue bantu." ucap Seungwoo, tanpa menunggu balasan dirinya langsung mengambil payung dari tangan lelaki itu. Tanpa menunggu lama payungnya sudah terbuka—memang agak susah karena payung itu sudah tua dan berkarat—, dan memberikannya pada lelaki yang sedari tadi hanya diam menatap Seungwoo.
"Makasih banyak, Kak."
Dari jarak sedekat ini Seungwoo baru bisa melihat wajah jelas lelaki yang ditolongnya ini, ia belum pernah melihat lelaki ini, mungkin mahasiswa baru.
"Sama-sama."
Hening setelahnya, Seungwoo sudah kembali memberi jarak sedangkan lelaki itu masih terdiam di tempatnya sambil sesekali melirik ke Seungwoo.
"Eum, Kakak mau nebeng payung gak? Mau ke halte kan?"
Seungwoo tersentak saat lelaki itu mendekati dirinya, lalu menatap sebentar ke payung yang di arahkan padanya.
"Ini gak bakal cukup." Seungwoo tertawa kecil saat menyadari payungnya tidak terlalu besar, dan badan mereka berdua sama-sama tinggi.
"Cukup kok! Aku yang penting gak kena kepala aja aman kayaknya." ujar lelaki itu lagi sambil menunjukkan cengirannya.
Seungwoo terpaku melihatnya, mata lelaki itu berbinar cerah di cuaca semendung ini, dan dua lekuk di pipinya itu entah kenapa menghantarkan getar ke hatinya dan membuat jantungnya tiba-tiba berdetak tidak normal.
"Kakak pegang dulu." Lelaki itu memberikan payungnya ke Seungwoo lalu tangannya sibuk mempererat tudungnya dan diikat kuat agar sempurna menutupi kepalanya.
Seungwoo menahan tawa gemasnya saat melihat lelaki yang lebih muda itu sibuk dengan tudung kepalanya, lalu tersentak saat lelaki itu mendekat ke sebelahnya dan ikut memegang payung yang ia genggam.
"Ayo Kak!"
Keduanya menerjang hujan di bawah payung yang tidak terlalu besar itu, seperti yang Seungwoo duga, payung itu tidak cukup untuk melindungi mereka berdua. Tetesan air itu mulai membasahi pundak lelaki disebelahnya, dan itu mengharuskan dirinya menarik lelaki itu untuk lebih dekat dengannya, mengabaikan detak jantungnya yang mulai tidak bisa diajak berkompromi.
Mereka sampai di halte dengan keadaan yang setengah basah, Seungwoo sedikit merasa bersalah tapi melihat lelaki di hadapannya masih memasang senyum lebarnya membuat Seungwoo otomatis tertawa kecil melihatnya.
" Sorry , kamu jadi ikutan basah."
"Santai aja Kak."
Obrolan ringan mereka berlanjut sembari keduanya menunggu bus masing-masing datang, dan ternyata tidak lama setelahnya bus tujuan lelaki itu yang datang duluan. Lelaki itu langsung berdiri sembari menyampirkan tasnya ke bahunya.
"Aku duluan ya, Kak. Makasih bantuannya hari ini."
"Harusnya gue yang bilang makasih gak sih?"
Lelaki itu hanya tertawa kecil, lalu melambaikan tangannya sebelum akhirnya masuk ke dalam bus. Saat bus itu melaju menjauh Seungwoo langsung menepuk jidatnya kuat.
Gue lupa tanya namanya… Batinnya.
Pertemuan kedua.
Berminggu-minggu setelahnya Seungwoo masih menyesali dirinya sendiri karena tidak sempat bertanya nama lelaki dengan dimple yang dalam itu. Seungwoo tidak paham kenapa dirinya seperti ini, padahal orang itu hanya lelaki asing yang kebetulan membantunya, harusnya dirinya bisa melupakan saja kan? Tapi kenapa sampai sekarang dirinya masih terbayang akan senyum cerah lelaki itu?
"Sik, lo pernah denger love at first sight gak?" ujar Seungwoo, saat ini ia sedang ada di kantin fakultasnya bersama Seungsik, teman satu jurusannya, karena hujan yang kembali turun diluar sana menahan mereka untuk pulang. Tatapannya menerawang jauh, seperti sedang memikirkan banyak hal yang tidak dimengerti olehnya. Seperti kenapa Seungwoo tidak pernah melihat sosok itu lagi di kampus? Padahal Seungwoo yakin lelaki itu juga mahasiswa di kampus ini, padahal Seungwoo suka menyempatkan dirinya untuk keliling fakultasnya untuk mencari keberadaan lelaki itu.. atau mungkin benar lelaki itu berbeda fakultas dengannya?
"Kenapa lo tiba-tiba nanya begitu?"
Seungwoo hanya menggeleng pelan, berusaha menampik pikiran tersebut karena.. yang benar saja? Masa iya ia jatuh cinta semudah itu?
Seungsik yang melihatnya hanya terheran-heran sendiri sama kelakuan temannya itu yang persis seperti orang galau tapi tidak jelas apa yang digalaukan.
"Kaga jelas." ucap Seungsik sembari kembali fokus pada laptopnya.
Hening lagi setelahnya, Seungwoo masih sibuk melamun sembari sesekali menghela nafas kencang yang membuat Seungsik kesal sekali mendengarnya, namun lelaki itu urungkan karena dirinya pun sedang tidak ingin terdistraksi.
"Mana dah ni anak lama bener." gumam Seungsik, memang sedari tadi Seungsik sesekali memeriksa ponselnya, seperti sedang menunggu seseorang.
"Siapa?" tanya Seungwoo.
"Ini, gue minta bantuan temen gue buat project kerjaan tapi anaknya—eh Byungchan! sini!"
Seungwoo mengikuti arah lambaian Seungsik, dan saat itu juga ia terpaku melihat sosok yang saat ini berlari kecil mendekat ke meja mereka. Bahkan sampai lelaki itu sudah sampai di meja mereka pun Seungwoo masih belum bisa mengalihkan tatapannya dari Byungchan yang masih memasang senyum cerahnya.
Senyumnya masih sama persis seperti yang terakhir ia lihat.
"Sorry, dosen gue ngaret Kak." ucapnya sambil duduk di sebelah Seungsik.
"Oh?! Ketemu lagi!" ucap Byungchan yang baru sadar akan eksistensi Seungwoo disitu, Seungwoo langsung tersentak mendengarnya dan berusaha mengatur ekspresinya senormal mungkin.
"Hai." ucap Seungwoo singkat sembari menunjukkan senyum tipisnya.
"Lah? Udah kenal?" ujar Seungsik dengan raut bingungnya, Byungchan hanya menggeleng singkat menjawabnya.
"Pernah ketemu waktu itu." ucapnya lagi. Seungwoo masih memilih diam karena tidak menyangka kalau akan bertemu dengan lelaki ini lagi, yang ternyata teman dekat Seungsik. Dunia sempit ternyata, batinnya.
"Oh, yaudah. Seungwoo, ini Byungchan temen gue sejak SMA. Byungchan, ini Seungwoo temen sekelas gue." ujar Seungsik tanpa basa-basi.
"Salam kenal, Kak." ucap Byungchan sembari mengulurkan tangannya, dengan ragu Seungwoo menerima uluran tangannya, senyum kakunya masih terpatri di wajahnya. Sedetik kemudian Seungwoo merutuki dirinya sendiri karena merasa salah tingkah.
"Salam kenal juga Byungchan."
Genggaman tangan terlepas, tapi tatapan Seungwoo tidak lepas dari Byungchan. Byungchan yang sepertinya sadar ditatap seperti itu membuatnya tanpa sadar menggaruk tengkuk belakangnya bingung, lalu berdeham kecil setelahnya.
"Kak, gue mesen makan dulu deh ya, laper." ucapnya lagi, setelah mendapat anggukan dari Seungsik dirinya langsung melesat dari meja itu. Setelah Byungchan pergi tanpa ragu Seungsik menendang kaki Seungwoo yang sampai saat ini tatapannya masih mengikuti Byungchan pergi.
"Sakit, sik!" ringis Seungwoo sembari mengusap tulang keringnya yang tadi ditendang Seungsik.
"Lo bisa gak, ngeliatin orang tuh biasa aja?"
"Hah? emang gue ngeliatin kayak gimana?"
Seungsik memutar matanya malas, bahkan setelah ditendang pun Seungsik masih bisa melihat Seungwoo sesekali mencuri pendang ke temannya yang saat ini sedang antri memesan makanan.
"Jadi ini alasannya tadi lo tanya soal love at first sight ?"
Seungwoo langsung menunjukkan cengiran lebar setelahnya, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena mendadak merasa malu, baru pertama kali ia merasakan seperti itu.
"Hehe.. Sik mau gue traktir mekdi gak?"
"Dih? tiba-tiba?"
"Bantuin gue dong…" ucap Seungwoo dengan tatapan memelasnya, dan itu membuat Seungsik kembali memutar matanya malas.
"Duh, gue mau banget sebenernya bantuin lo, Woo. Tapi sayang banget gue gak bisa." ucap Seungsik sembari menepuk pelan bahu Seungwoo, tatapannya menunjukkan keprihatinan yang membuat perasaan Seungwoo tidak enak.
"Kenapa?"
"Byungchan udah punya pacar."
Dan detik itu juga seperti ada bunyi 'krek' di hatinya, dan mendadak suasana hatinya hari itu yang sudah mendung menjadi semakin mendung seperti cuaca di luar sana.
Seungwoo patah hati, bahkan sebelum ia memulai.
As my dependable hyung.
Terkadang Seungwoo suka merasa miris sendiri kalau berbicara soal pengalaman cintanya. Karena alih-alih menjauh dari Byungchan setelah mengetahui kalau lelaki itu sudah ada yang punya, Seungwoo justru malah tetap pada tempatnya, memutuskan untuk tetap mengenal Byungchan lebih dalam sebagai teman. Alhasil sampai sekarang hubungan keduanya semakin akrab, kalau biasanya ia hanya bercengkrama dengan Seungsik, kali ini mereka nambah satu personil dan itu Byungchan. Selain karena Byungchan sering membantu Seungsik dalam project kerjaannya, Byungchan juga sering meminta bantuan untuk tugasnya dan bertanya banyak hal tentang perkuliahannya. Namun seiring berjalannya waktu, Byungchan lebih sering bergantung pada Seungwoo dibanding Seungsik, karena lelaki itu terkadang juga bersama pacarnya yang membuat Byungchan enggan untuk meminta bantuan dan berakhir ia meminta bantuan pada Seungwoo.
Dan karena itu juga yang membuat Seungwoo semakin susah untuk menyukai orang lain, karena bukannya berusaha untuk move on, lelaki itu justru malah jatuh semakin dalam akan pesona Byungchan.
Yang Seungwoo tahu, kekasih Byungchan itu berbeda kampus. Jaraknya cukup jauh, karena itu Seungwoo tidak pernah melihat langsung sosok lelaki itu kecuali melalui media sosial Byungchan.
Byungchan juga tidak terlalu sering mengekspos kekasihnya, ia lebih suka berangkat kampus menggunakan bus dibanding di antar oleh pacarnya. Katakanlah Seungwoo jahat, karena ia bersyukur akan hal itu yang membuat dirinya bisa menikmati menunggu bus datang bersama Byungchan di halte depan kampus.
Seperti saat ini, Seungwoo bisa melihat dari kejauhan kalau Byungchan sudah duduk di halte sana, tatapannya menerawang menatap hujan yang turun sejak sore tadi. Hari sudah gelap, tapi binar mata yang biasanya cerah itu malam ini terlihat berbeda.
Seungwoo mempercepat langkahnya menuju halte, kepalanya hanya ditutupi oleh hoodienya, mengabaikan gerimis yang masih turun dan membasahi hoodienya.
Byungchan tersentak saat Seungwoo duduk di sampingnya, matanya memperhatikan Seungwoo yang membuka tudung hoodienya dan merapikan rambutnya yang sedikit basah.
“Kenapa gak ngabarin aku biar aku jemput? Jadi hujan-hujanan gitu Kak.”
Seungwoo hanya terkekeh menjawabnya, tatapan Byungchan kembali menerawang kedepan dan Seungwoo sadar kalau ada yang berbeda dari raut wajahnya.
Walaupun Byungchan saat ini menggunakan kacamata, tapi itu tidak menutupi matanya yang sedikit sembab dan tatapan sendu lelaki itu, yang membuat tatapan Seungwoo tidak lepas dari wajahnya.
“Kenapa?”
“Kamu nangis?”
Byungchan mengerjapkan matanya sebentar, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain, “Enggak.” ucapnya singkat.
Tapi Byungchan tahu jawaban itu tidak akan membuat Seungwoo percaya, maka saat lengannya ditarik pelan dan tatapannya diarahkan agar menatap Seungwoo, Byungchan hanya bisa diam menurut.
"Kamu gak pinter bohong."
Tatapan keduanya masih terkunci, Seungwoo berusaha menyelami kedua netra Byungchan, namun sedetik kemudian Byungchan kembali mengalihkan tatapannya sembari tertawa kecil.
"Iya, lagi kenapa-napa Kak hehe." ucapnya singkat, genggaman lengannya mengendur dan Byungchan kembali memfokuskan dirinya ke depan, begitu pun Seungwoo.
"Mau cerita?"
Byungchan menoleh sebentar, lalu kembali tertawa kecil, "Gak banyak yang harus diceritain sih? Intinya kita putus."
Seungwoo menoleh cepat, dan mendapati raut wajah Byungchan masih sama seperti tadi, datar dan tanpa emosi tapi tatapannya sendu.
"I'm okay , Kak hahaha.." Byungchan kembali tertawa melihat raut terkejut Seungwoo yang menurutnya jenaka itu, jujur saja itu sedikit menghibur dirinya
"Udah lama renggangnya, tapi emang akunya aja berusaha pertahanin karena masih sayang. Nyatanya aku cuma sayang kenangannya aja." ucap Byungchan lagi.
Seungwoo hanya diam mendengarkan yang lebih muda berceloteh panjang lebar, bagaimana lambat laun hubungan keduanya yang dimulai dengan baik berubah menjadi seperti hubungan dua orang asing, dan bagaimana usaha Byungchan sejak dulu yang berusaha mengimbangi kekasihnya. Mantan kekasihnya itu sejak dulu selalu menjadi orang yang unggul dalam berbagai hal, dan Byungchan secara otomatis berusaha agar sejajar dengannya, walaupun pada akhirnya ia merasa gagal karena Byungchan tidak berhasil masuk kampus unggulan seperti kekasihnya itu.
"Perasaan manusia tuh gak statis ya, Kak? Pasti ada saatnya perasaan manusia akan berubah dan terkikis, padahal udah banyak kenangan yang mereka lalui."
" People come and go , Byungchan.."
But believe me we'll never apart.
Tentu saja kalimat terakhir hanya mampu diucapkan dalam hati Seungwoo, tangannya beralih merangkul bahu yang lebih muda dan memberikan tepukan ringan disana guna memberi sedikit hiburan untuknya.
"Aku gak terlalu kenal sama pacar kamu itu, tapi dari ceritamu barusan kayaknya sekarang saat nya kamu jadi diri kamu sendiri, gak berusaha nyamain langkah sama orang lain. Pasti capek kan kayak gitu?"
Byungchan tersenyum tipis, dalam hati menyetujui perkataan Seungwoo yang membuat hatinya seketika merasa lega dan hangat.
Byungchan mendongak saat Seungwoo berdiri di hadapannya, senyum lebarnya terpatri di wajahnya dan itu tertular ke Byungchan juga.
"Bis kamu dateng tuh, aku anter ya?"
"Kamu kejauhan nanti, kan beda arah?"
Seungwoo menggeleng pelan, tangannya menggenggam pergelangan tangan Byungchan dan menariknya untuk berdiri, "Gak papa, aku mau makan es krim di kedai deket komplek kamu."
Maka siapalah Byungchan yang bisa menolak tawaran hangat itu, suasana hatinya yang belakangan ini sangat mendung hari ini mulai dihiasi pelangi. Keberadaan Seungwoo benar-benar patut di syukuri, karena Byungchan bisa istirahat dan bersandar dengan nyaman pada lelaki itu.
Confess and our first kiss.
Kata orang, yang sempurna akan kalah sama yang selalu ada. Mungkin itu benar adanya, karena setelah Byungchan mengalami rasanya putus cinta, dirinya tidak berlarut-larut merasakan sedih. Kekosongan yang ia pikir akan ia rasakan nyatanya justru selalu diisi lelaki bermata rubah ini. Jika biasanya dirinya selalu berusaha keras mengimbangi mantan kekasihnya, bersama Seungwoo, Byungchan bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan apapun.
Maka setelah berbulan-bulan mereka semakin dekat dan menjalani hari-hari bersama, Seungwoo seakan yakin akan keputusannya untuk mengutarakan perasaannya yang selama ini ia pendam.
Seungwoo sudah merencanakan segala hal, ia berniat untuk mengajak Byungchan ke restoran yang bernuansa piknik. Byungchan saat di ajak pun tidak kalah antusiasnya, apalagi setelah ia melihat review restoran tersebut yang lebih muda bahkan lebih semangat lagi, karena dirinya memang butuh refreshing setelah menjalani UAS.
Namun ternyata, sepertinya semesta tidak sedang berpihak pada mereka. Perjalanan menuju ke restoran tersebut memang cukup jauh, dan Seungwoo memutuskan untuk menggunakan motornya. Tapi di tengah perjalanan hujan turun deras tanpa aba-aba, yang membuat Seungwoo dengan panik segera mencari tempat berteduh. Mereka berteduh di bilik warung yang sedang tutup, pakaian keduanya sedikit basah dan raut wajah Seungwoo saat ini benar-benar tidak enak dipandang karena rencananya berantakan.
"Kak, udah gak usah bete gitu mukanya haha.." Byungchan terkekeh melihat Seungwoo yang dari tadi menggerutu kesal, alisnya bertaut saking kesalnya sambil memandang hujan yang sepertinya belum ada tanda-tanda akan berhenti padahal hari sudah mulai sore.
"Gimana gak kesel, ini hujan datengnya tiba-tiba banget. Kalau kayak gini gak bakal bisa kesana, kan di sana juga outdoor , kasihan kamunya udah jauh-jauh malah dapet basah kuyup doang." ucap Seungwoo panjang lebar, lagi-lagi Byungchan tertawa.
Baginya tidak ada yang sia-sia, Seungwoo yang memiliki keinginan untuk memberikannya refreshing sesaat pun Byungchan sudah merasa bersyukur, dan menghabiskan waktu bersama Seungwoo sudah cukup untuk menghilangkan lelahnya.
"Gapapa, kan bisa kesana lain waktu." ucap Byungchan sembari menepuk tangan Seungwoo sekilas.
Seungwoo bisa merasakan tangan Byungchan begitu dingin dengan sentuhan singkatnya itu, maka dengan cepat Seungwoo langsung menggenggam kedua tangan Byungchan lagi.
"Dingin banget kamu.." ucapnya sembari menggosokkan kedua tangannya dengan tangan Byungchan, refleks dirinya juga ikut meniupi tangan Byungchan guna mengurangi dinginnya.
Byungchan yang diperlakukan seperti itu tanpa aba-aba sedikit terkejut, bahunya menegang seiring dengan tiupan ditangannya membuatnya hangat.
"Maaf ya." ucap Seungwoo lagi dan Byungchan langsung menjawabnya dengan gelengan ribut.
"Apasih, jangan minta maaf terus." ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya, tangannya masih ada di genggaman Seungwoo, bahkan saat ini Seungwoo memberikan elusan pelan pada telapak tangannya.
"Aku seneng kok, nyaman kayak gini. Kakak gak usah ngerasa bersalah, kita masih punya lain waktu." ucap Byungchan lagi, Seungwoo hanya diam menatap Byungchan yang sedari tadi mengomelinya. Entah kenapa perasaannya bergejolak, Byungchan yang saat ini mengoceh sembari mengerucutkan bibirnya kesal, dengan wajah yang sedikit basah karena air hujan terlihat cantik untuknya.
"Kita masih bisa ketempat lain kok, masih sore juga, atau abis ini langsung pulang terus makan nasi goreng yang deket rumah aku juga aku gak keberatan sama sekali asalkan bareng Kakak."
Byungchan mengatupkan bibirnya, tatapannya yang sedari tadi menunduk perlahan naik dan menyadari kalau Seungwoo sedari tadi menatapnya intens. Byungchan mengulum bibirnya gugup, pipinya memanas saat sadar kalau sedari tadi dirinya mengungkapkan perasaannya dengan jujur.
Sadar kalau dirinya membuat suasana canggung, Byungchan perlahan menarik tangannya dan mengalihkan tatapannya. Namun sedetik kemudian tangannya ditarik kembali dan mau tidak mau tatapannya kembali pada netra hitam Seungwoo.
"Byungchan."
"Y-ya?"
"Aku sayang kamu."
Mata Byungchan membola setelah Seungwoo mengatakan hal itu, jantungnya serasa terjun ke mata kaki saking terkejutnya.
"K-kak—"
"Aku sayang kamu, Byungchan. Sayang banget… Udah dari lama."
Byungchan mengerjapkan matanya cepat, mendapat serangan seperti ini membuatnya merasa seperti diatas awan. Tapi melihat raut wajah Seungwoo yang tegang dan serius entah kenapa itu sangat lucu di mata Byungchan, dan membuatnya tidak bisa menahan tawa kecilnya.
"Aku juga sayang sama kamu, Kak." ucap Byungchan, ia bisa melihat Seungwoo menghela napasnya lega, raut tegangnya berangsur tenang dan berganti menjadi senyum hangat favoritenya.
"Pacaran ya?"
"Disini banget nembaknya?"
"Ya… Abisnya tiba-tiba hujan, aku niatnya nembak pas di restoran nanti…" Byungchan kembali tertawa saat melihat raut wajah Seungwoo kembali mendung.
Setelahnya Seungwoo langsung mematung saat merasakan pipinya mendapat sentuhan dingin dari bibir Byungchan, matanya membola tidak percaya menatap Byungchan yang saat ini tengah menunjukkan senyum malunya.
"Gak masalah mau dimana pun, aku tetep mau jadi pacar kakak kok hehe.."
Seungwoo tersenyum gemas melihat wajah memerah Byungchan, tangannya bergerak mencubit kedua pipi Byungchan gemas dan setelahnya diusap pelan karena Byungchan merengut pipinya diuyel.
Wajah Byungchan masih ada di tangkupan tangan Seungwoo, tatapan mereka masih mengunci dan hening masih menyelimut keduanya, mata keduanya memancarkan bahagia dengan senyum yang masih terpatri di kedua wajahnya. Byungchan menutup matanya saat Seungwoo perlahan mendekatkan wajahnya dan dirinya merasakan hembusan napas Seungwoo menerpa wajahnya. Setelahnya Byungchan merasakan material hangat menyentuh bibirnya, ciuman lembut dan hangat membuatnya terbuai dan merasakan kupu-kupu seakan berterbangan di perutnya.
Genggaman di pinggang Seungwoo mengerat saat Seungwoo memperdalam ciumannya dan menghantarkan hangat keseluruh tubuh.
Saat ciumannya terlepas, dahi mereka masih bersentuhan dan mereka tertawa kecil setelahnya, Seungwoo kembali memberikan kecupan sekilas di bibir Byungchan sebelum akhirnya menarik Byungchan ke dalam pelukannya. Suhu sore itu semakin dingin, tapi keduanya hanya merasakan hangat saat ini.
Lagi-lagi, hujan memberi kenangan baru untuk mereka.
We'll never apart.
Seungwoo tertegun menatap hujan yang turun malam itu, harusnya dirinya saat ini sudah berbaring di kamarnya yang nyaman, dibalik selimut tebal nan hangat sembari melakukan panggilan video bersama kekasihnya. Tapi dirinya justru saat ini sedang berada di cafe dekat rumah Byungchan, menatap sendu hujan yang turun membasahi bumi.
Seungwoo memikirkan kata-katanya sendiri, " we'll never apart". Dengan percaya dirinya ia mengatakan itu pada Byungchan saat mereka sedang dimabuk asmara yang baru terjalin, tapi lihat sekarang? Dirinya bahkan meragukan kalimat yang ia ucapkan sendiri.
Seminggu, waktu yang cukup lama untuk Seungwoo jika dirinya tidak bertukar kabar dengan Byungchan, dan itu ia lalui dengan susah payah sampai akhirnya Seungwoo memutuskan untuk mengajak Byungchan bertemu hari ini, walaupun sebenarnya awalnya cukup sulit karena sepertinya yang lebih muda masih marah padanya.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya yang ditunggu datang juga. Byungchan dengan hoddie hitamnya langsung duduk di hadapan Seungwoo, raut wajahnya terlihat lelah dan ada lingkaran hitam yang mulai terlihat di bawah mata Byungchan. Seminggu tidak bertemu dengan yang lebih muda membuat Seungwoo merasa bersalah akan perubahan yang ada di diri Byungchan.
"Hai.." ucap Seungwoo pelan, Byungchan hanya menjawabnya dengan senyum tipis.
Keduanya masih hening, mencoba merangkai kata untuk memulai pembicaraan, rasanya sangat sulit karena saat ini pikiran keduanya terlempar ke saat-saat mereka berdebat sengit.
"Aku minta maaf." Seungwoo yang pertama memecah keheningan itu, perasaannya bergejolak mengingat ini pertama kalinya mereka bertengkar sampai harus tidak mengabari satu sama lain, dan jujur saja dirinya sangat ingin memeluk Byungchan saking rindunya.
"Gak seharusnya aku kayak gitu, aku bakal dukung keputusan kamu buat ikut program student exchange itu." ucap Seungwoo lagi, namun alih-alih mendapatkan jawaban yang menenangkan, atau mungkin sekedar pelukan hangat yang diberi oleh Byungchan, Seungwoo hanya mendapatkan hening.
"Byungchan—"
"Kak." Seungwoo mengatupkan mulutnya saat tatapan yang lebih muda tertuju padanya, tatapan yang membuat perasaannya mendadak tidak enak.
" We can't ." ucap Byungchan lirih.
Byungchan menggigit bibir bawahnya gugup, kepalanya menunduk tidak sanggup menatap mata Seungwoo saat ini.
"Maksud kamu?" Seungwoo berusaha menahan nada bicaranya agar tenang karena saat ini raut wajah Byungchan sangat kalut dan itu membuatnya merasa bersalah karena ia tahu kalau dirinya lah penyebabnya.
"Aku gak bisa… kalau harus LDR.." ucap Byungchan sambil menggeleng pelan, tatapannya masih tertuju pada meja di hadapannya.
"Sebelumnya, aku beda kampus sama dia aja berakhir pisah, apalagi kita yang harus beda negara?"
Rasanya jantungnya seperti diremas mendengar ucapan Byungchan, selama ini ia pikir Byungchan sudah benar-benar melupakan hal itu, Seungwoo tidak tahu kalau Byungchan masih terbayang-bayang masa lalunya.
"Byungchan, aku bukan dia.."
"Aku tahu, aku cuma gak percaya sama kamu, tapi aku gak percaya sama diriku sendiri, Kak."
Seungwoo hanya terdiam, tatapan Byungchan yang kalut, takut, dan merasa bersalah kembali membuat perasaannya tidak enak, rasanya saat ini Seungwoo ingin menarik yang lebih muda ke pelukannya untuk menenangkannya, tapi ia sadar kalau saat ini adalah waktu yang tidak pas.
"Maaf, aku egois Kak."
Seungwoo menggeleng pelan, ia menunjukkan senyum tipisnya untuk menunjukkan kalau dirinya tidak apa-apa walaupun hatinya rasanya hancur. Maka malam itu yang bisa ia lakukan adalah menerima keputusan Byungchan dengan lapang dada, berharap kalau nantinya setelah Byungchan bisa percaya pada dirinya sendiri ada Seungwoo yang siap menerimanya kapanpun.
Dan malam itu, Seungwoo merasakan lagi bagaimana rasanya patah hati yang didukung oleh langit yang seakan ikut menangis untuk dirinya.
Seungwoo tersentak saat mendengar notifikasi ponselnya berdering kencang tanda ada telepon masuk. Dirinya terlalu asyik melamun sembari menatap hujan dari jendela kantornya sampai tidak sadar kalau hari sudah mulai larut.
Dirinya turun dari sofa yang ia gunakan untuk tumpuan kakinya dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja kantornya.
Babychick🐤 is calling….
Seungwoo tersenyum lebar menatap layar ponselnya, lalu menekan tombol hijau untuk mengangkatnya. Setelahnya terdengar suara omelan panjang lebar yang sebenarnya sudah Seungwoo duga karena saat ini ia belum pulang ke rumah.
"Hayo, aku tebak pasti kamu masih di kantor kan?"
"Hehe, hujan soalnya.."
"Kamu kan bawa mobil! Pasti daritadi bengong liatin hujan!"
Seungwoo terbahak mendengarnya, di kepalanya terbayang bagaimana raut wajah seseorang yang saat ini menelfon dirinya pasti akan merengut sembari mengerucutkan bibirnya kesal, tangannya bergerak membereskan barang-barangnya sembari menahan ponsel di telinganya.
"Jadi kangen kamu kalau hujan turun." ucap Seungwoo.
"Kalau kangen cepet pulang! Tega banget biarin suaminya sendirian, mana lagi kedinginan karena hujan."
Senyumannya masih terpatri bahkan sampai dirinya mengunci ruangannya, langkahnya dengan ringan namun cepat menuju parkiran.
"Iya ini aku mau pulang, see you at home?"
"Iya, hati-hati."
Teleponnya terputus dan Seungwoo bergegas melajukan mobilnya, hujan masih turun walaupun tidak sederas tadi, tapi itu cukup untuk membuatnya tenang. Walaupun ada kenangan yang kurang mengenakkan untuknya, baginya itu adalah pengalaman yang berharga, karena selain perpisahan, Seungwoo juga mendapatkan bahagianya kembali kala hujan turun, seakan itulah garis takdir mereka.
—fin
