Work Text:
Kurapika kembali terjaga. Butuh waktu lama baginya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu di langit-langit yang sengaja dibiarkan hidup karena kegelapan tidak memberinya apapun kecuali perasaan gelisah seperti sensasi aneh yang timbul kala tenggelam dalam pandangan matamu sendiri saat menatap cermin dalam waktu lama. Lebih spesifik lagi, tidak ada hal baik maupun buruk dalam tatapanmu. Cuma ada kekosongan. Lalu kekosongan lagi. Sayangnya, dengan cahayapun, Kurapika masih tidak memperoleh mimpi yang membuatnya bisa tidur lebih pulas barang tiga jam.
Kelopak matanya terbuka paksa, raut wajahnya diselubungi berbagai bentuk dari putus asa, dan keringatnya mengalir deras seperti hujan hari selasa; dia kacau. Dengan segenap kekuatan yang ia miliki, kedua bola matanya bergulir ke kiri, menatap revolver yang sengaja diletakkan di meja lampu tidur jika ada situasi darurat. Salah satu kekhawatirannya lenyap. Senjata itu masih ada di sana. Dia tidak perlu cemas. Tidak ada yang masuk. Dia sendiri. Tidak ada yang mengejarnya atau berusaha membuatnya mampus kala sedang terlelap. Tidak ada yang mengintainya dari jarak dekat.
Apa yang harus ditakutkan, sih? Toh, kekuatannya bisa merobohkan banyak orang. Sebanyak yang ia mau. Keteguhan hatinya semantap itu.
Seharusnya, Kurapika sudah bisa berbangga serta lega. Berbagai beban di bahunya sudah musnah dalam hitungan hari. Pembalasan dendamnya telah usai tepat sebelum dia meninggalkan York New. Dia memang tidak melenyapkan seluruh kaki laba-laba dengan kedua tangannya sendiri, namun dia menghabisi sang kepala dalam waktu singkat. Bahkan sebelum proses pertukaran sandera sempat dilakukan.
Orang mungkin melihatnya seperti bentuk kekalahan atas emosi sesaat. Namun jika memang begitu, mengapa Kurapika bisa dengar beribu-ribu terima kasih dari seluruh klan Kurta yang gugur? Dimanapun ia berada, dalam hening atau bising tiada ampun, dia selalu dengar bisikan yang bersahut-sahutan. Suara-suara itu sudah merengkuhnya, menopangnya, dan menjadi bagian dari dirinya yang selama ini dirasa hilang.
Tandanya, sudah benar.
Langkahnya sudah benar.
Lantas keresahan ini apa?
Kurapika menarik selimutnya sedikit lebih tinggi karena lehernya terasa dingin. Susah payah, mata dikedipkan beberapa kali. Dia pernah baca di suatu buku bahwa mengubah posisi tidur dapat jadi solusi dari masalahnya kini. Namun, dia enggan. Mengubah posisi tidur hanya akan menimbulkan derit kencang dari dipan yang menopang ranjangnya. Suara itu akan menghalangi segala berkat yang sampai sekarang masih memenuhi indera pendengaran Kurapika. Bagaimana jika suara bising itu muncul manakala ibu dan ayahnya tengah berterimakasih atau sekadar mendoakannya?
Maka, dia bersabar. Tetap telentang dan berupaya sekeras mungkin untuk tidak menimbulkan suara yang tidak perlu. Dia hanya perlu mengatur napas, lalu kembali tidur.
Hasilnya? Gagal, tentu.
Sebenarnya dia sempat berpikir bahwa segala keresahan yang dia alami kini tidak ada hubungan sama sekali dengan pembalasan dendam. Namun, jika bisikan dari seluruh anggota klan Kurta menyelubunginya setiap waktu dengan perasaan nyaman, Chrollo Lucilfer menghantuinya dengan cara yang berbeda. Meski berulang kali mencoba menenangkan diri, akar dari kegelisahannya adalah orang itu. Kurapika tidak pernah berhalusinasi melihat, mendengar, atau merasakan Chrollo. Jadi entah bagaimana bisa, minimal satu kali dalam sehari, Kurapika mendadak membiarkan pimpinan kelompok bengis itu mendominasi benaknya.
Kalau begini, apa masih bisa dibilang pembalasan dendamnya tuntas?
Kenapa dia terpojokkan?
Kenapa dia seolah kalah?
Bahkan, dia tidak mengalami kerugian sedikitpun. Segalanya berjalan sesuai rencana (kecuali kematian Chrollo Lucilfer), bisa kembali bekerja dan mengumpulkan mata saudara-saudaranya, dan detik ini, semua teman yang terlibat dalam penangkapan Chrollo kembali menjalani urusan masing-masing. Tidak ada luka. Tidak ada kekerasan—
Tunggu.
—seperti apa yang dia ekspektasikan.
Di sanalah masalahnya.
Di sanalah segala kejanggalan berasal.
Kalau bisa, Kurapika ingin tertawa keras-keras karena baru menyadarinya sekarang.
Tanpa butuh waktu lama, Kurapika meraih revolvernya yang kini beralih fungsi.
Kurapika tidak pernah berhasil dalam upaya pembalasan dendamnya.
Chrollo Lucilfer memang tidak lagi hidup, tapi para anggota laba-laba kelewat loyal sampai mereka memberi Kurapika pelajaran yang paling menyakitkan (sekaligus rasa kemanusiaan yang penuh ketidakwajaran) atas tindakan keji yang dia lakukan pada ketua mereka: mengembalikan Gon dan Killua kepadanya tanpa cacat cela.
Mereka menghadiahkan Kurapika keresahan tanpa akhir, bahkan keresahan itu terus berlanjut walau dia telah menemui ajal.
Begitulah keputusan laba-laba sesaat setelah mereka berhasil menganalisis pola pikir Kurapika, orang yang tidak pernah takut akan kematian. Mereka pikir, bukankah mengakhiri hidup Kurapika secepat mungkin hanya akan memberinya keuntungan karena tidak perlu dihadapkan dengan rasa bersalah?
