Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-08-08
Words:
2,121
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
78
Hits:
1,231

This too Shall Pass.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Malam itu Jeongwon tidak bisa tidur. Pikirannya masih aktif bekerja, bertanya-tanya apa yang sedang dialami oleh Gyeoul.

Apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah makan? Apakah dia bisa dihubungi sekarang?

Jeongwon terus memandangi layar telepon genggamnya, dia ingin sekali menanyakan langsung kepada Gyeoul tapi dia ragu karna Gyeoul memberitahunya sebelumnya bahwa dia akan sulit dihubungi. Saat semakin dalam menyelam dalam lamunannya, telepon genggamnya berbunyi. Ada sedikit kelegaan melihat nama yang muncul di layar. Tanpa berlama-lama dia langsung menjawab panggilan Gyeoul dan membanjiri dengan pertanyaan

"Gyeoulah, apa yang terjadi? Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?" Jeongwon tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.

"Aku baik-baik saja, Profesor. Kenapa kau masih terjaga?" dari suaranya yang melemah, Jeongwon yakin dia tidak baik-baik saja. 

"Aku menunggu panggilan mu. Aku ingin sekali menghubungimu tapi aku ingat pesan mu sebelumnya, jadi aku memutuskan untuk menunggu" Jeongwon menenangkan dirinya. Tidak ada gunanya untuk panik di saat-saat seperti ini.

"Maafkan aku, Profesor. Aku sedang kalut sebelumnya. Seseorang dari Rumah Sakit di Gwangju menghubungi ku dan meminta persetujuan untuk mengoperasi ibuku. Aku tidak bisa berpikir jernih. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya cepat tiba disini dan bertemu ibu. Maafkan aku, Profesor. Aku hanya butuh waktu untuk memberitahu mu" Gyeoul menjelaskan dengan penuh penyesalan.

Jeongwon menghela nafas panjang "kenapa wanita ini sangat suka meminta maaf?" Tanya nya dalam hati.

"Hei, kenapa minta maaf? Apa yang terjadi pada ibu mu? Mau mebicarakannya sekarang?" 

Gyeoul akhirnya menceritakan semuanya pada Jeongwon seperti yang dia janjikan. Malam itu dia sedang sendirian di rumah sakit menunggu ibu nya yang masih berjuang di ruang operasi. Dari suaranya, sangat jelas bahwa Gyeoul sedang ketakutan sekarang. Suaranya bergetar pada awalnya dan tidak lama kemudian dia kehilangan pertahanan nya dan Gyeoul menangis. Hati Jeongwon sangat sakit mendengar semuanya dari Gyeoul. Dia ingin ada disana untuknya. Mendengarkan semua kegelisahan dan ketakutannya, memeluknya dan meyakinkan bahwa dokter akan melakukan yang terbaik untuk ibunya. Tapi dia tidak bisa. Sudah larut dan dia harus bekerja keesokan harinya.

"Gyeoulah, aku akan kesana besok lusa. Aku akan mengajukan cuti besok dan aku akan menyusulmu secepat mungkin. Oke?" Jeongwon memutuskan saat itu juga.

"Kau tidak harus datang, Profesor. Aku akan baik-baik saja. Adikku juga akan datang kesini besok. Jangan khawatir. Pasienmu membutuhkanmu" dia tentu menolak ide Jeongwon.

"Aku akan mengurus semuanya. Aku hanya ingin memastikan bahwa semua baik baik saja." Gyeoul tidak langsung memberi tanggapan karna tangisannya menjadi semakin hebat saat mendengar betapa pedulinya Jeongwon padanya.

"Gyeoulah, tolong berhenti menangis. Dokter akan melakukan yang terbaik, kita masih bisa berharap semua akan baik baik saja, Hm?" 

"Terimakasih, Profesor. Terimakasih sudah sangat peduli bahkan setelah aku membatalkan janjiku" 

"Tidak apa-apa, Gyeoulah. Kau melakukannya karna keadaan. Tidak ada yang ingin musibah datang, bukan? Semuanya terjadi dan kita hanya perlu menghadapinya. Jangan terllau menyalahkan dirimu. Sekarang kau perlu tenang karna ibumu lebih membutuhkan mu. Jangan khawatirkan aku. Mengerti?"

"Ne, Aku mengerti Profesor" Gyeoul mencoba menghentikan tangisannya.

"Bagus. Sekarang istirahat lah dan tenangkan dirimu. Kau sudah makan malam ?"

"Belum. Tapi aku akan membeli roti setelah ini" 

"Gadis baik. Jangan lupa minum air putih dan istirahat yang cukup."

"Ya, Profesor. Saya mengerti"

"Kalau begitu istirahat lah sekarang, kita bertemu lusa. Jaga dirimu, Gyeoulah. Hubungi aku saat kau butuh sesuatu"

"Baik, Profesor. Selamat beristirahat"

"Selamat beristirahat"

 

oOo

 

Manusia boleh berencana tapi tidak semua rencana berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Itu pula yang terjadi pada Jeongwon, Senin siang setelah menyelesaikan berkas pengajuan cuti untuk keesokan harinya. Jeongwon menerima panggilan dari Songhwa yang memintanya segera datang ke ruang rawat jalannya karena ibu Jeongwon membutuhkan seorang wali. Jeongwon berlari secepat yang Ia bisa. Jantungnya berdetak kencang dan ketakutan menghantuinya. "Tuhan, jangan biarkan hal buruk terjadi" dia tak henti hentinya memanjatkan doa dalam hati.

Disana. Dia menemukan ibunya termenung di hadapan Songhwa. Jeongwon berlari kearahnya dan memeluk ibunya erat. Dia tidak biasa dengan pemandangan ini. Wanita di hadapannya, Jung Rosa, salah satu wanita terkuat yang dia kenal, duduk termenung dihadapan Songhwa. Dari hasil observasinya, Songhwa menyarankan agar Rosa melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena gejala yang dialaminya beberapa Minggu terakhir.

 

Sembari menunggu pemeriksaan dimulai, Jeongwon membawa Rosa ke ruang kerjanya untuk makan siang dan beristirahat sebentar. Jeongwon tidak berhenti memandangi ibunya yang sedang makan siang. Tiba-tiba dia merasa sangat sedih karena Rosa jarang sakit sebelumnya. Tak sedetik pun dia mengalihkan pandangannya dari wajah ibu yang begitu dicintainya.

"Berhenti menatapku seperti itu, Jeongwon ah." Rosa mulai merasa risih dengan sikap Jeongwon yang memandangnya dengan mata penuh kesedihan.

"Omma" Jeongwon berbicara pelan hampir berbisik

"Maafkan aku" dia menundukkan kepalanya karna tidak sanggup lagi melihat wajah Rosa

"Ya! Jangan meminta maaf. Ini bukan salahmu. Aku juga baru menyadarinya." Rosa tertawa kecil melihat tingkah putra bungsunya. Ini mengingatkannya pada Jeongwon kecil yang sensitif dan selalu ketakutan saat membuat kesalahan.

"Tetap saja aku salah karna tidak tahu apa apa" kali ini air matanya tidak dapat ditahan lagi. Dia menyeka air mata di pipinya sambil terus menyembunyikan wajahnya.

"Jeongwon ah, ibumu sudah tua. Hal-hal seperti ini wajar terjadi. Aigoo. Bukankah seharusnya aku yang menangis? Aku lah yang sakit sekarang. Seharusnya aku yang dihibur, bukan sebaliknya" Rosa menggelengkan kepalanya. Sejujurnya, dia sedikit terhibur dengan karakter Jeongwon yang tidak berubah bahkan di umurnya yang sudah 40 tahun.

Jeongwon kemudian mendekatkan kursinya perlahan-lahan ke arah Rosa. Dia meraih kedua tangan ibunya dan menggenggamnya erat. Sekuat tenaga dia mengarahkan pandangannya ke wajah wanita yang dia cintai itu, berusaha untuk tidak memedulikan air matanya yang terus mengalir.

"Omma, aku sekarang menemukan mimpiku yang baru. Aku ingin membangun Rumah Sakit khusus anak-anak dengan usahaku sendiri. Selain itu aku juga ingin membangun keluarga kecil dan melahirkan anak anak yang lucu." Kalimat Jeongwon terhenti. Dia butuh sedikit jeda untuk mengendalikan tangisannya.

"Omma, maukah Omma tetap di sampingku sampai saat itu tiba? Berjanjilah untuk tetap sehat saat aku berhasil meraih mimpiku" tangis Jeongwon semakin menjadi-jadi. Dia sangat mencintai ibunya dan dia tidak kuat membayangkan hal buruk menimpanya.

Merasa tersentuh, Rosa ikut menangis kali ini. Dia mengingat lagi impian Jeongwon satu satunya di masa lalu yang dia relakan setahun sebelumnya. Ada rasa bersalah tapi tidak dapat mengalahkan kelegaan yang dia rasakan saat mendengar anak bungsunya itu memiliki mimpi yang baru di masa depan. Dia memeluk Jeongwon erat sambil mengelus lembut kepalanya.

"Jeongwon ah, terimakasih telah memberitahuku tentang mimpi-mimpi mu, Nak. Kita belum tahu apa yang terjadi padaku dan kalaupun terjadi sesuatu kita punya Songhwa kan? Aku mungkin saja sembuh." Rosa menarik diri dan meraih wajah Jeongwon sambil menyeka air mata yang tersisa di wajahnya

"Baru baru ini aku berkata pada Jongsu kalau aku tidak punya sesuatu untuk diharapkan. Tapi sekarang aku punya. Aku berharap aku ada disana saat kau meraih mimpimu. Tapi aku tidak bisa berjanji, karena aku bukan Tuhan. Jadi apapun hasilnya nanti mari kita hadapi bersama-sama." Rosa tersenyum kearahnya sementara Jeongwon hanya bisa mengangguk dan kembali bersembunyi di pelukan ibunya atau dia akan kembali menangis saat dia mencoba berbicara.

 

Beberapa saat kemudian dering teleponnya berbunyi dan dia harus melepaskan diri dari pelukan ibunya.

"Ini Gyeoul" 

"'Angkatlah. Aku juga harus menghabiskan makananku" Rosa tersenyum kearahnya

Jeongwon menerima panggilan Gyeoul sambil keluar dari ruangannya dan berjalan menuju taman kecil agar dia berbicara dengan tenang.

"Profesor, Ibuku sudah siuman . Dia baik-baik saja sekarang." Menilai dari suaranya, Jeongwon yakin Gyeoul sedang tersenyum penuh kelegaan.

"Syukurlah" Jeongwon menghela nafas karena merasa lega tapi suaranya masih terdengar lemah karena baru saja menangis.

"Profesor, semua baik? Ada masalah dengan pasien?" lebih dari setahun menjalani hubungan membuat keduanya terbiasa merasakan hal yang mengganggu hanya dengan mendengar suara satu sama lain.

"Gyeoulah, maafkan aku. Aku tidak bisa menyusul mu besok." 

"Tidak apa-apa, Profesor. Semuanya baik sejauh ini. Apakah ada masalah profesor? Kau terdengar berbeda. Aku khawatir" Gyeoul mulai panik dan bertanya-tanya apa yang terjadi.

"Omma harus menjalani pemeriksaan hari ini, Gyeoulah. Dia mengunjungi Songhwa dan ada beberapa hal yang harus dipastikan lebih lanjut" 

"Apa yang salah, Profesor?" 

"Kami belum tahu. Tapi akhir akhir ini dia sangat pelupa. Dia bahkan melupakan PIN pintu rumah" Gyeoul bisa mendengar suara Jeongwon bergetar lalu dia terdiam untuk beberapa saat

"Profesor....?" Gyeoul memanggilnya dengan hati-hati

"Aku anaknya tapi aku tidak tahu apa apa, Gyeoulah." Jeongwon kembali menangis. Rasa bersalah memenuhi hatinya sejak bertemu dengan ibunya siang ini.

"Seharusnya aku lebih peka, Gyeoulah. Omma bahkan melupakan pernikahan keponakan kesayangannya. Seharusnya aku tahu itu bukan masalah sepele." Jeongwon terus menangis dan Gyeoul membiarkannya sampai dia sedikit lebih tenang.

"Kita masih bisa berharap. Dokter pasti melakukan yang terbaik untuk ibumu. Tidak ada yang tahu kapan musibah datang kan? Kita hanya perlu melaluinya" Gyeoul terdiam sebentar

"Seseorang yang kuhormati dan sangat kukagumi mengatakan itu padaku tadi malam, Profesor. Dia benar. Aku baik-baik saja sekarang. Masalahku memang tidak langsung selesai, tapi aku mendapat kekuatan untuk menghadapinya. Aku berharap kau juga akan baik-baik saja setelah mendengarkannya dariku" Gyeoul menyampaikan semuanya perlahan-lahan dan itu menenangkan. 

Jeongwon mengangguk. Menyadari bahwa jauh lebih mudah menguatkan orang lain ketika dia tidak ada di posisi mereka. 

"Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu, Gyeoulah. Pasti berat bagimu" Jeongwon perlahan-lahan berhenti menangis. Dia menghapus air matanya dan menegakkan posisi tubuhnya.

"Aku juga mengerti sekarang mengapa kau ingin segera menemui ku, Profesor. Aku juga sangat ingin bersamamu saat ini juga. Pasti berat juga bagimu" Jeongwon sangat tersentuh Sampai dia tidak bisa berkata-kata.  

"Profesor?" 

"Hm?"

"Ini semua akan berlalu, kan?"

"Tentu, ini akan berlalu" senyuman mulai terlukis di wajah Jeongwon

"Kita hanya perlu menghadapinya, bukan?" Gyeoul semakin bersemangat untuk menghiburnya.

"Kau benar, Gyeoulah."

"Kalau begitu, kita akan baik-baik saja, bukan?" keceriaan semakin jelas terdengar dari suara Gyeoul dan dia berhasil menularkannya pada Jeongwon.

"Ne, kita akan baik-baik saja." Jeongwon semakin tenang dan hatinya mulai merasakan kehangatan. Dia tahu dia harus mendapatkan kembali semangat nya. Untuk mereka berdua dan untuk ibunya.

"Terimakasih banyak sudah mengingatkan, dr. Jang" 

"Dengan senang hati, Prof. Ahn"

Keduanya tertawa lembut, menikmati kehangatan yang tumbuh di hati mereka sampai keheningan muncul kembali. Masih banyak yang ingin mereka sampaikan seperti betapa mereka mengharapkan kehadiran satu sama lain, betapa bersyukurnya mereka memiliki satu sama lain, betapa besar cinta mereka terhadap satu dengan yang lain. Tapi mereka jarang mengungkapkannya. Keduanya biasanya menyampaikan ini dengan kehadiran, perhatian kecil atau bahkan lelucon yang hanya dianggap lucu oleh mereka berdua.

"Gyeoulah" kali ini Jeongwon yang pertama memecah keheningan

"Ya, Profesor?"

"Aku merindukan mu" akhirnya Jeongwon mengatakannya, berharap kalimat ini bisa merangkum isi pikirannya tentang Gyeoul

"Mengapa kita harus mengalami ini disaat yang sama? Kita terpaksa harus berjalan sendiri-sendiri" 

"Kita mengalami hal yang sama agar kita mengerti satu sama lain. Aku mungkin akan sulit menghubungi mu, membalas pesan mu dan kau juga mungkin begitu. Tapi kita berdua tidak akan kesal karena kita berada di posisi yang sama" Gyeoul menjelaskan dengan penuh keyakinan.

"Maafkan aku, Profesor. Aku mengambil peran mu hari ini" 

"Apa maksudmu?" Jeongwon tidak mengerti

"Biasanya di saat saat seperti ini, kau lah yang menghiburku, memberikan pandangan yang lebih luas dan meyakinkan untuk tetap tenang, tapi hari ini aku merebut peranmu"

Jeongwon tertawa mendengarnya. Upaya Gyeoul untuk menghiburnya ternyata belum berhenti sampai disini.

"Lalu kenapa minta maaf? Bukankah itu bagus?"

"Hanya berjaga-jaga kau akan merasa tersaingi" keduanya tertawa lagi.

"Ibuku juga menyadari ini, Profesor. Dia bertanya-tanya sejak kapan putrinya banyak bicara dan pandai menghibur. Seandainya saja dia tau dari siapa aku belajar" Gyeoul terdengar malu-malu diakhir kalimatnya.

"Apakah kau sedang memuji ku sekarang"

"Tentu saja. Kau layak mendapat pujian"

Jeongwon menganggukkan kepalanya tidak yakin bagaimana harus membalas pujiannya.

"Profesor, kau sudah merasa lebih baik?"

"Jauh lebih baik" jawabnya lembut.

"Baiklah, kalau begitu waktunya kembali pada kenyataan sekarang. Jangan lupa untuk memberitahu hasil pemeriksaan nya, Profesor. Aku mungkin tidak langsung membalas tapi aku tetap ingin tahu"

"Ne, aku akan mengabari mu segera dan aku juga ingin tahu kondisi ibumu, kirim aku pesan kapan saja kamu punya waktu luang. Mengerti?"

"Aku mengerti" Gyeoul menjawab penuh semangat. Kemudian dia melirik jam tangannya, sudah waktunya kembali ke kamar ibunya. Gyeoul sebenarnya ingin berlama-lama mengobrol dengan kekasihnya tapi dia harus menggantikan adiknya setelah ini.

"Profesor, aku harus kembali ke kamar ibu ku. Apakah ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" 

"Terimakasih sudah menghiburku hari ini dan jangan lupa istirahat, makan dan tidur yang cukup."

"Oke, Profesor. Kau juga. Apa masih ada lagi?"

"Sepertinya tidak ada lagi, ada apa?" Jeongwon mengerutkan keningnya

"Kau yakin?"

"Ya, aku yakin. Ada apa Gyeoulah?"

"Aku ingin menjadi yang terakhir berbicara sebelum aku mengakhiri panggilan. Jadi profesor benar-benar yakin tidak ingin mengatakan hal lain lagi?" 

"Aku yakin. Kau boleh berbicara sekarang"

"Baiklah." Gyeoul menarik nafas dalam-dalam

"Profesor, aku juga merindukanmu" saat itu juga Gyeoul mengakhiri panggilannya. Jeongwon tertawa karena tingkah menggemaskan kekasihnya itu. Dia bisa membayangkan Gyeoul sedang tersipu sekarang.

Jeongwon kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan taman dengan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. Keduanya mungkin tidak berjalan di samping satu sama lain tapi selama mereka memiliki keyakinan yang sama, mereka akan baik-baik saja. Masalahku mungkin tidak langsung selesai, tapi aku punya kekuatan untuk menghadapinya. Dia tersenyum dan menyimpan kalimat Gyeoul didalam hatinya.

 

Semuanya pasti berlalu.

 

Mereka hanya perlu menghadapinya.

Notes:

Terimakasih sudah membaca. 😊