Work Text:
ada kekosongan tinggal di kedalaman matamu
jelaga yang membawaku pada perasaan-perasaan ganjil
pada keakraban yang aneh
pada gelitik kupu-kupu dan malam-malam berisi percakapan dan pengertian
ada kekosongan tinggal di kedalaman matamu
berjibaku dengan masa dan nostalgia yang kadaluwarsa
tumpang tindih dengan luka yang kering,
berdarah,
kering,
lalu berdarah lagi
ada kekosongan tinggal di kedalaman matamu
pada jelaga yang padanya kuharap,
ada aku
with:
jeon jeongguk as aryan
park jimin as juan
kim taehyung as kelana
kim seokjin as sada
kim namjoon as nawasena
min yoongi as yudistira
jung hoseok as harsa
Ada bau lili samar yang mampu kuhirup sewaktu aku berjalan melewati sebuah lorong kecil dengan hiasan bunga dan lantai berlapis kaca. Ada musik jazz datang dari ruang utama pesta, diikuti suara-suara percakapan di sana-sini sebagai bumbu keramaian pesta. Sewaktu aku melihat bagaimana bagian dalam gedung itu dihias, hatiku secara otomatis langsung berbisik; ah, tempat ini benar-benar merepresentasikan kamu sekali.
Aku melihat Nawasena duduk berbagi meja dengan Harsa, Kelana, Yudis dan Sada. Gelas mereka penuh oleh anggur dan percakapan-percakapan seru. Sesekali mereka akan saling melempar tawa, yang kuterjemahkan sebagai ungkapan bahwa waktu-waktu yang mereka lalui tanpa satu sama lain rupanya menyenangkan juga. Sudah lama sekali sejak kita bertujuh berkumpul, Juan. Tapi entah kenapa masih segar rasanya kepalaku bisa mengingat. Seolah pertemuan kita di masa orientasi sekolah, gelak tawa kita di lorong-lorong kelas, kenakalan kita di jam-jam kosong, dan bumbu-bumbu yang menghiasi masa putih abu-abu kita baru saja berakhir kemarin.
“Tos dulu buat yang patah hati permanen hari ini!” Adalah kalimat pembuka yang Sada pilih sewaktu menyambut kedatanganku. Tangannya mengangkat gelas anggur putih tinggi-tinggi, memberi salute kepadaku yang ia nobatkan sebagai pria patah hati permanen tepat hari ini.
Aku terkekeh pelan. Kubenarkan sedikit kancing jas hitamku yang entah kenapa terasa sesak. Aku memutuskan untuk membuka kancing sewaktu mengambil kursi tepat di sebelah Kelana. Laki-laki yang kini bekerja sebagai desainer grafis itu mendorong secangkir anggur yang langsung kutandaskan dalam satu kali tegukan.
“Gimana rasanya datang ke nikahan mantan, Yan?” Harsa bertanya. Matanya menatapku seolah aku adalah objek paling menarik di muka bumi.
Kubalas dia dengan tawa kecil. “Biasa aja, Sa. Udah ada ancang-ancang juga karena doi udah ngasih undangan sebulan sebelum acara.”
“Ah, gak seru, lo. Masa nggak ada drama-drama sama pengantin,” Sada menimpal, nadanya terdengar jenaka. Nawasena berdeham kecil, barangkali berusaha mengingatkan Sada bahwa candaannya tidak lagi lucu, tapi aku memilih abai.
Ah, itu dia. Kamu, dalam balutan jas putih khas pengantin, dengan senyuman yang amat lebar di pelaminan berdampingan dengan orang yang bukan aku. Sewaktu kamu tertawa, matamu akan menyipit membentuk bulan sabit. Kamu sering mengeluh padaku setiap kali aku membuatmu tertawa keras sekali, berkata bahwa kau kesulitan melihat apapun sebab matamu akan tertutup oleh pipi. Kamu bilang itu menganggu. Aku biasanya akan membalas bahwa kamu lucu. Kamu tidak pernah gagal tampak lucu di mataku, Juan. Dan andai saja aku masih punya kesempatan untuk mengatakannya langsung, aku bersumpah aku akan terus berkata begitu sekalipun kamu bosan mendengarnya terus-menerus.
“Kalian udah pada salam-salaman?” aku bertanya, memutuskan untuk mengalihkan perhatian dari senyumanmu yang tidak lagi bisa aku nikmati sesuka hati.
“Belom. Nungguin lo, biar bisa bareng,” kata Nawasena.
Berbeda dengan Sada dan Harsa, Nawasena, Yudis, dan Kelana tampak khawatir. Mereka berulang-kali mengecek keadaanku, barangkali takut kalau aku masih belum punya cukup nyali untuk bertahan duduk di sini lebih lama lagi. Mereka salah soal itu, Juan. Faktanya aku tidak akan pernah punya nyali yang cukup untuk menghadapi kepergianmu. Tidak sepuluh tahun yang lalu sewaktu harus kuterima kenyataan kalau kita diterima di universitas yang berbeda—ratusan kilometer jauhnya. Tidak jua lima tahun yang lalu sewaktu aku dan kamu akhirnya menyerah pada satu-satunya hal yang tidak bisa ditaklukkan cinta; jarak.
Aku tidak akan pernah punya cukup nyali untuk menerima fakta bahwa ada orang di luar sana yang bisa membuatmu lebih hidup dan lebih bahagia ketimbang aku. Laki-laki dua puluh delapan tahun yang gagal membuatmu bahagia namun masih kalut atas kepergianmu.
‘Kamu selesaikan dulu diri kamu sendiri, Yan. Baru kamu bisa mulai mikir soal kita.’
Katamu malam itu.
‘Emangnya kamu mau nunggu?’
‘Aku akan selalu nunggu.’
Pada faktanya, seperti bagaimana ibuku menyerah membuat ayahku berhenti selingkuh, seperti bagaimana ayahku kemudian menyerah menjadi seorang ayah bagi anak dua belas tahun yang masih perlu perhatian, seperti bagaimana abangku menyerah atas hidupnya sendiri—kamu menyerah atas aku. Pada akhirnya kamu menyerah menungguku selesai, sebab aku tidak akan pernah selesai dengan diriku sendiri, Juan. Sebab ketika akhirnya kamu tidak lagi ada di tempat dimana kau bilang akan selalu menungguku pulang, kuambil sebuah kesimpulan bahwa satu-satunya masalah yang kupunya adalah; aku hidup.
“Salam-salaman, yuk? Udah rada sepi tuh, panggungnya. Nggak ada yang foto-foto lagi. Biar bisa makan terus nongkrong aja kita.” Sada mengajukan sebuah ajakan, yang dengan cepat disetujui hampir semua orang.
Memangkas jarak, baru dapat kulihat kamu dengan jelas. Kerutan di dahimu sudah sedikit bertambah, tapi kamu jelas nampak lebih ceria. Kamu punya senyuman yang selamanya akan selalu jadi favoritku, Juan. Senyuman yang padanya aku temukan rumah. Perlu beberapa detik bagiku untuk mengingatkan diri sendiri bahwa senyum itu tidak lagi menjadi sesuatu yang bisa kunikmati setiap waktu.
“Hai,” sapaku. Suaraku tersangkut di tenggorokan sewaktu tubuh kita hanya berjarak sepuluh senti dari satu sama lain.
Kamu terlihat terkejut, meski kemudian dengan cepat merubah air wajah menjadi sebuah senyum yang tampak lega. “Hai, Yan. Seneng banget kamu nyempetin dateng ke sini.”
Bagaimana kujelaskan rasa bersalah, rasa marah, rasa sakit, rasa kecewa, rasa rindu, dan beragam perasaan yang menggempur hatiku sewaktu aku melihat netra jelagamu untuk yang pertama kalinya setelah lima tahun perpisahan kita, Juan? Bagaimana kujelaskan bahwa setiap inci tubuhku berteriak untuk kembali menarik kamu ke dalam pelukan? Untuk berkata bahwa kita bisa mencoba lagi? Kamu, aku, dan segala hal yang tidak pernah usai di antara kita sewaktu masih bersama. Bagaimana caranya aku tegaskan padamu bahwa bahagia bersamaku tidak akan lagi terdengar seperti janji, sebab aku bersedia mempertaruhkan hidupku untuk itu?
Pada akhirnya aku memilih bungkam. Sebab seperti yang pernah kamu bilang dahulu,
‘Berkali-kali kamu coba baca sebuah buku, akhirnya tetap nggak akan berubah, Aryan. Itu adalah kita. Kamu dan aku adalah buku itu.’
“Selamat atas pernikahan kamu, Juan,” kataku. Mataku sedikit berair sewaktu kuulurkan tangan ke hadapanmu, yang kamu sambut dengan jabat yang hangat. “Semoga kamu bahagia selalu.”
fin.
