Chapter Text
💜💜💜
“Ayo!! Jeongguk!!!”
“Jeon Jeongguk!”
Seruan-seruan itu terdengar di tengah lapangan basket kala siang hari yang panas.
Laki-laki yang disoraki namanya menyugar rambutnya hingga memperlihatkan dahinya. Rambut hitamnya yang agak panjang itu menambah kesan panas yang ia miliki. Ia adalah Jeongguk, murid terkenal di sekolah yang digilai oleh banyak orang. Ada rumor yang beredar bahwa ia tidak suka berpacaran karena semua orang yang menembaknya selalu ditolak. Bahkan ada yang berpendapat bahwa ia adalah laki-laki yang sulit didapatkan.
“Ah, kalian itu mengada-ada. Justru itu yang membuatnya semakin menarik,” ucap Jieun yang sedari tadi memperhatikan Jeongguk bermain basket bersama teman-temannya. Jieun adalah seorang murid perempuan dengan rambut hitam panjangnya yang selama ini mengaku disukai oleh Jeongguk. Jadi tidak heran kalau ia dengan angkuhnya suka terang-terangan memuji Jeongguk.
POV Taehyung
Sementara itu, di sisi lain lapangan.
“Jeongguk itu keren banget, ya?” ujar Hoseok, murid laki-laki dengan rambut merah yang sedari tadi melihat ke arah lapangan.
“Hah? Keren dari mana, deh? Dia itu cuma sok keren. Lebih keren aku,” balas Jimin, si rambut jingga yang merupakan teman dekat Hoseok.
Mereka berdua berdiri di depanku, tampak sedang memperhatikan murid yang bermain di lapangan.
“Ih, dia itu dapat tawaran jadi model, loh? Aku mau—”
“Kalian lihat berita tadi pagi tentang vampir, gak? Mereka persis banget seperti kita loh.” Ucapan Hoseok terpotong ketika seorang murid membawa topik tersebut.
“Ih, kenapa monster peminum darah itu dibiarkan hidup, sih?”
“Iya, padahal minum darah itu menjijikkan. Iya kan, anak baru?” tanya Jimin kepadaku.
Aku tidak terlalu mendengarkan obrolan mereka, jadi aku balas saja, “Eh? Ah… iya.”
“Kalau ada vampir yang muncul di sini, akan aku tendang!” seru Jimin seraya menendang bola yang berada di dekatnya.
Menjijikkan. Tiap kali aku mendengar orang berkata begitu, aku merasa sedih.
Itu karena aku, Kim Taehyung, adalah seorang vampir.
~💜~
“… 100 tahun lalu, akhirnya kebijakan pemusnahan vampir dihapus demi menjaga hak-hak vampir. Mereka bilang bahwa mereka tak lagi meminum darah manusia ….”
“Psstt, tau gak? Kemarin di tv ada berita pemberontakan vampir, loh.”
“Oh iya?”
Begitulah. Pelajaran di sekolah pun tidak jauh dari pembahasan tentang vampir. Ada yang membahas tentang vampir tidak tahan dengan tanda salib, tidak bisa makan nasi dan bawang putih, taringnya tajam, dan sebagainya. Sebenarnya apa yang mereka bahas tidak ada yang benar. Bahkan aku mengenakan liontin tanda salib, selalu mengikir taringku supaya tidak terlihat tajam, dan aku selalu membawa bekal nasi dengan bawang putih.
Yah, meskipun aku selalu memuntahkannya di kamar mandi lalu meminum kantung darah babi yang aku bawa diam-diam dengan samaran label ‘Jus Tomat’.
Selain itu, ada lagi ‘ilmu’ kalau vampir itu selalu memiliki rambut berwarna datar, contohnya hitam, coklat, atau blonde seperti yang sering terlihat di film. Itu jelas salah. Buktinya aku memiliki rambut berwarna biru. Panjangnya juga tidak seperti yang dijelaskan di kelas. Katanya rambut para vampir itu panjang seperti para tokoh kuno, namun tidak begitu. Rambutku pendek seukuran pria pada umumnya. Benar-benar tidak ada bedanya dengan penampilan para manusia.
~💜~
3rd Person POV
Sepulang sekolah, Taehyung pergi ke stasiun kereta untuk pulang. Karena terlalu mengantuk, Taehyung tertidur tanpa ia sadari. Beberapa saat kemudian, ia terbangun dan mencium bau darah yang sangat manis.
“Apa … apa yang kamu lakukan?” tanya laki-laki tersebut.
Taehyung terkejut karena ia menggigit leher laki-laki tersebut. Taehyung buru-buru melepaskan gigitannya dan bertatapan dengan laki-laki tersebut yang sama bingungnya dengan dirinya.
“Kereta telah sampai di stasiun—”
Tanpa menunggu pengumuman selesai, Taehyung berlari ke pintu keluar kereta, meninggalkan laki-laki tersebut.
~💜~
Keesokan harinya.
“Hei, Jieun! Aku dengar kemarin kamu ditolak Jeongguk, ya?”
“Ditolak? Gak, kok. Jeongguk hanya malu saja, jadi dia meminta kita diam-diam dulu,” jawab Jieun.
Flashback On
“Hei, Jeongguk. Kamu mau jadi pacarku, kan?” tanya Jieun tanpa basa-basi.
“Kamu siapa?” tanya Jeongguk kebingungan.
“Aku Lee Jieun. Siswi paling terkenal di sekolah, nilai terbaik seangkatan—”
“Apa pun itu, lebih baik kamu pergi, deh.”
“Tapi aku belum selesai bicara, Jeongguk! Memangnya kamu gak mau pacaran sama aku?”
“Gak.”
“Kenapa?”
“Kamu bukan tipeku.”
“Tapi aku siswi tercantik, terpintar, ter—”
Jeongguk berjalan melalui Jieun dan tak mendengarkan sama sekali. Jieun pun kesal dan bertekad untuk membuat Jeongguk mau menjadi pacarnya.
Flashback Off
~💜~
Di sisi lain, Taehyung lupa membawa stock darahnya.
“Aduh, bagaimana ini? Aku belum minum apa-apa sejak pagi,” cemas Taehyung.
Taehyung pergi ke luar kelas, ia sudah sangat pusing sekarang. Tiba-tiba, ia menabrak seseorang di koridor.
“Hei, apa kamu mau bilang sesuatu ke aku?” tanya laki-laki tersebut.
“… Hah?”
“Jangan bilang kamu gak kenal aku? Ini aku, Jeongguk. Orang yang kemarin kamu beri hickey di kereta,” balas laki-laki tersebut, Jeongguk.
Taehyung yang masih lemah pun hanya diam dan memusatkan pandangannya ke leher Jeongguk. Jeongguk diam menunggu responsnya.
“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku gak bisa mengendalikan diriku seperti ini?” gumam Taehyung.
PLAK!
Tiba-tiba Taehyung menampar pipinya sendiri, membuat Jeongguk membelalakkan matanya kaget.
“Sudah omong kosongnya? Sekarang minggir!” seru Taehyung.
Taehyung berniat pergi, namun Jeongguk memojokkannya di dinding dengan salah satu lengan terjulur memerangkap Taehyung.
“Dengar, kamu gak bisa kabur saja seperti kemarin,” ucap Jeongguk.
Taehyung kesal. Ia melangkah maju dan berniat untuk menghisap darah Jeongguk. Jeongguk perlahan mundur seiring Taehyung yang mendekat. Hingga akhirnya, Taehyung memeluk lengan Jeongguk dan berusaha mengendus leher Jeongguk sebelum…
“Hei, kendalikan dirimu.”
Seketika, Taehyung sadar akan apa yang ia lakukan. Wajahnya memerah. Ia melangkah mundur lalu berlari meninggalkan Jeongguk.
“Woy, Gguk! Kamu kenapa diam di sini?” Itu Mingyu, teman Jeongguk yang baru saja datang.
“Siapa dia?” tanya Jeongguk.
Mingyu memperhatikan arah pandang Jeongguk.
“Oh itu? Kim Taehyung, anak baru dari kelas sebelah.”
~💜~
“Permisi, apa kalian tahu di mana kelas Kim Taehyung?” tanya seorang pria dengan pakaian formal.
Orang yang ditanyai sejenak terpesona dengan keindahan sosok tersebut.
“Kim Taehyung? Dia ada di kelas sebelah.”
“Baik, terima kasih,” balas pria itu seraya menuju kelas yang dimaksud.
“Permisi, ini benar kelas Kim Taehyung?”
“Oh, iya benar. Dia sepertinya kurang sehat,” jawab Jimin.
Yoongi melangkah menuju meja Taehyung.
“Taehyung, sepertinya kamu sakit. Ayo ke luar, makan siang bersamaku,” ajak Yoongi seraya mengelus rambut Taehyung.
Taehyung menepis elusan tersebut, “Pergilah. Aku gak butuh apa-apa.”
“Ini pamanmu, Min Yoongi.”
“Paman?” Taehyung mengangkat kepalanya. Kemudian, mengikuti Yoongi ke luar kelas.
“Jadi, kamu bertingkah aneh tiap berada di dekat laki-laki itu?” tanya Yoongi seraya memberi bungkus darah berlabel ‘Jus Tomat’ ke Taehyung.
“Iya, Paman. Sepertinya bau darahnya yang manis benar-benar membuatku lemah.”
“Bau darahnya, ya? Atau … kamu naksir dia?”
“Hah? Naksir? Gak mungkin, lah! Udah deh, aku mau minum aja. Jangan ganggu aku,” ucap Taehyung seraya meninggalkan Yoongi.
“Sama-sama, Taehyung!” teriak Yoongi diakhiri tawa.
~💜~
TUK!
Jeongguk melempar bola tenis itu ke dinding seraya berpikir, “Kim Taehyung itu aneh banget. Bisa-bisanya dia bertingkah spontan, setelah itu pura-pura gak tahu apa-apa setelahnya.”
Jeongguk tanpa sadar tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi, saat Taehyung tiba-tiba memeluknya.
~💜~
KRING!
Bel pulang sekolah berbunyi. Siswa-siswi berhamburan pergi ke luar kelas, termasuk Taehyung. Namun, ia menghentikan langkahnya ketika melihat ruangan dengan tulisan ‘Klub Band’.
“Permisi? Ada orang?” tanya Taehyung memastikan keadaan.
Karena tidak ada jawaban, Taehyung mengambil gitar yang tergeletak di kursi. Ia mulai menyanyikan lagu kesukaannya. Begitu selesai, ia mendengar suara tepuk tangan.
“Wow! Ternyata kamu jago main gitar, ya?” Itu Jimin, ternyata ia tertidur di balik kain dalam ruangan itu.
Taehyung tak menggubrisnya. Ia beranjak pergi meninggalkan Jimin.
“Hei, tunggu aku!” seru Jimin menyusul Taehyung.
“Kamu mau gak, bergabung dengan klub kami?” tanya Jimin penuh antusias.
“….”
“Kamu benar-benar gak mau? Coba satu kali saja, nanti terserah kamu mau lanjut atau gak.”
“.…”
“Oh ayolah, nanti aku dan Hoseok yang akan piket. Kamu hanya perlu bermain musik dan bernyanyi. Aku mohon.”
“Baiklah.”
“BENARKAH? Kim Taehyung, terima kasih! Hoseok pasti akan senang mendengar ini!” seru Jimin. Ia berteriak bahagia.
“Oh iya, Taehyung. Coba deh, kamu senyum sedikiiiit saja kalau lagi bicara. Begini, loh,” ucap Jimin sambil tersenyum.
Merasa tidak mendapat respons apa-apa, Jimin melanjutkan, “Ya sudah, sampai besok Taehyung! Yuhuuuu!”.
~💜~
Keesokan harinya, di sekolah.
“Jadi, dia adalah Kim Taehyung. Laki-laki, umur 18 tahun,” ucap Mingyu sambil menunjukkan foto Taehyung yang dia pegang dengan kedua tangannya.
“Itu aku sudah tau, ada yang lain?” tanya Jeongguk.
“Oke. Taehyung ini diberi julukan Pangeran Es sama siswa-siswi lain karena parasnya yang indah tapi cuek. Laki-laki dan perempuan banyak sekali yang tertarik padanya. Beberapa dari mereka bahkan ada yang menembaknya tapi ditolak semua,” jelas Mingyu sambil menunjukkan foto-foto Taehyung lainnya.
“Itu aja? Dia gak punya obsesi terhadap leher atau sejenisnya?” tanya Jeongguk.
“Hah? Gak ada lah, mana mungkin orang seindah dia punya obsesi gitu. Aneh-aneh aja. Udah ya, Gguk. Aku mau ke kantin dulu.”
Jeongguk mengabaikan Mingyu karena ia terlalu asyik memperhatikan foto-foto Taehyung yang diberikan oleh Mingyu.
“Kenapa aku gak bisa benci kamu, Taehyung? Padahal kamu jauh lebih aneh dari orang-orang yang suka cari perhatianku,” gumam Jeongguk dalam hati.
Kemudian, Jeongguk mendongakkan kepalanya dan mendapati Taehyung berjalan di depannya mengenakan headphone.
~💜~
Taehyung sedang mendengarkan lagu dengan headphone-nya, sampai seseorang melepasnya.
“Kamu aku panggil dari tadi tapi gak jawab terus.” Itu Jeongguk.
Taehyun spontan menutup hidungnya dengan satu tangan karena tidak tahan bau darah Jeongguk.
“Kamu bertingkah aneh lagi,” ucap Jeongguk seraya melepaskan tangan Taehyung.
Akan tetapi, Taehyung menutup hidungnya dengan tangannya yang satu lagi. Lalu, Jeongguk melepaskannya. Begitu terus hingga akhirnya Jeongguk menggenggam kedua tangan Taehyung.
“Jangan mengelak lagi. Aku benar-benar harus berbicara denganmu tentang kejadian itu.”
“Lepaskan tanganku dulu, baru aku mau.”
Jeongguk menurut. Kemudian, Taehyung mundur hingga berada cukup jauh dari Jeongguk.
“Nah, sekarang bicaralah.”
“Serius? Dengan jarak sejauh ini?”
Taehyung diam, tidak menanggapi.
“Kamu liat wajahku? Terlihat lelah, kan? Itu karena aku gak bisa tidur memikirkanmu,” ucap Jeongguk seraya melangkah mendekati Taehyung.
“Teman-temanku bilang kalau aku mungkin suka padamu ….”
Satu langkah.
“Tapi gak mungkin kan, aku suka orang aneh seperti kamu?”
Satu langkah.
“Aku gak paham sama tingkahmu yang gak masuk akal ini ….”
Satu langkah.
“Apa kamu suka aku?”
Satu langkah.
“Kalau iya, aku bisa memahami itu ….”
Satu langkah.
“Tapi kalau gak, aku benar-benar gak paham lagi.” Jeongguk akhirnya berada tepat di depan Taehyung.
“Siapa yang suruh kamu untuk memahamiku? Kalau kamu gak mau repot, pergi saja.” Taehyung berbalik badan dan meninggalkan Jeongguk.
Jeongguk terdiam, kesal dengan tingkah Taehyung.
Taehyung memperhatikan Jeongguk dan berusaha memahami apa maksud Jeongguk dengan ‘kejadian itu’. Kemudian, Taehyung melihat bekas hickey di leher Jeongguk dan teringat kejadian di kereta saat ia tidak sepenuhnya sadar.
“Jadi dia laki-laki di kereta waktu itu?”
~💜~
“Taehyung? Kamu mau bekerja?” tanya Ibu Taehyung.
“Iya, Bu. Aku harus tetap bekerja selama ayah gak dapat pekerjaan tetap di sini.”
“Kamu tahu kan, nak? Kalau ayahmu melakukan itu karena ada kemungkinan kita akan pindah lagi?”
“Iya, Bu. Aku paham. Aku pergi dulu,” pamit Taehyung seraya tersenyum paksa.
~💜~
Jeongguk sedang istirahat setelah bermain basket dengan sahabatnya sejak SMP, Yugyeom.
“Bukannya bagus? Akhirnya ada seseorang yang menarik perhatianmu, kan?” tanya Yugyeom.
“Iya, sih. Tapi kenapa harus orang aneh seperti dia?”
“Memangnya dia seaneh itu ya? Dia seperti apa, sih?”
“Dia imut.”
“… Ya sudah, mau apa lagi? Kejarlah!”
“….”
“Kamu itu ya, Gguk. Mau cinta sama seseorang aja dipersulit. Mencintai seseorang itu kita harus memahaminya karena kita mencintainya, bukan sebaliknya.”
“Ah, udah deh. Aku gak percaya begituan.”
“Terserah, deh. Omong-omong, kamu masih ikut latihan band, gak?”
“Gak, aku bosan.”
KRING!
Jeongguk mengangkat telpon, “… oke, aku akan datang.”
“Siapa?”
“Guru sekolah.”
“Maksudmu, papamu?”
“… gak tau lah, terserah.” Jeongguk pun pergi meninggalkan Yugyeom.
~💜~
“Hai, Nak. Sudah lama tidak bertemu.” Itu Seokjin, papa Jeongguk.
“Tidak usah basa-basi. Cepat jelaskan untuk apa papa mau ketemu aku.”
“Baiklah. Sebenarnya papa ingin meminta kamu bergabung dengan band yang papa bentuk.”
“Gak mau. Terutama kalau papa yang meminta.”
Jeongguk berniat meninggalkan papanya, namun terhenti karena suara yang familier.
Kim Taehyung duduk di sana, menyanyikan satu lagu sambil bermain gitar. Jeongguk tidak dapat melepaskan pandangannya. Ia terlihat indah dengan pakaian kasualnya, ditambah nyanyiannya yang merdu.
“Jeongguk? Aku kira kamu sudah meninggalkan papa.”
Mendengar suara papanya, Jeongguk melanjutkan langkahnya meninggalkan café tersebut.
“Seokjin! Itu tadi anakmu?” tanya Yoongi, pemilik café tersebut.
“Ah iya, Yoon. Aku duluan ya! Sampai nanti!”
Yoongi tersenyum memperhatikan mereka. Ia mengenali bau darah Jeongguk yang mungkin saja diceritakan oleh Taehyung sebelumnya.
~💜~
“Kerja bagus, Taehyung. Ini, darahnya masih hangat,” ucap Yoongi seraya memberikan segelas darah pada Taehyung.
“Terima kasih, Paman.”
“Aku lihat kamu masih saja murung akhir-akhir ini. Apa kamu gak mau mencari teman?”
Seketika, ingatan Taehyung kembali pada saat teman-temannya dulu menjauhinya karena ia adalah vampir.
“Taehyung?”
“Eh? Iya, Paman. Aku … akan mencobanya,” jawab Taehyung dengan senyum yang terpaksa.
~💜~
Keesokannya, Taehyung melihat Jimin dan Hoseok kerepotan memegangi setumpuk selebaran. Ia berniat membantu, tapi mereka langsung kabur ketika Taehyung menawari bantuan.
Di sisi lain, Seokjin menghampiri Jeongguk di kursi taman.
“Untuk apa papa ikut duduk di sini?” tanya Jeongguk.
“Gak apa-apa. Siapa tahu kamu berubah pikiran untuk bergabung band papa.”
“Memangnya kenapa ingin sekali aku bergabung?”
“Dengan kamu bergabung, impian papa bisa tercapai. Kamu punya potensi yang bagus untuk band. Papa mau jadi seorang pembina yang hebat seperti di film. Dari anak-anak yang biasa saja lalu berubah menjadi bersemangat meraih prestasi melalui band ini, lalu—“
“Hei! Jeongguk! Kamu ke mana?”
Rupanya Jeongguk meninggalkan Seokjin di tengah penjelasan panjang lebarnya.
~💜~
“Hoammm. Aku mengantuk sekali,” ucap Taehyung.
“Memangnya benar? Nanti kita akan diajari Taehyung ini?”
“Iya, katanya begitu. Kalau iya, aku mau gabung, deh.”
Taehyung kebingungan melihat kerumunan memperhatikan dirinya. Kemudian, ia mengambil selebaran yang jatuh di dekat kakinya. Ia terkejut ketika mendapati wajahnya digunakan untuk promosi klub band, apalagi diberi editan yang menggemaskan.
“Jimin … Hoseok …”
~💜~
“Iya, nanti dia akan ajarkan kalian! Iya, makanya bergabung nanti sore,” ucap Jimin seraya membagikan selebaran itu.
“Psst, Jim. Lihat.” Hoseok menunjuk ke arah Taehyung yang terlihat marah menatap ke arah mereka.
“Lari!!!”
“Awas! Ada Monster!” teriak Jimin, lalu tanpa sengaja ia menabrak Jeongguk.
“Aduh! Ada apa sih? Monster?” Jeongguk melihat arah asal mereka berlari dan mendapati Taehyung mengejar mereka berdua dengan mengangkat tong sampah.
“Dia benar-benar gak bisa ditebak.”
Kemudian, Jeongguk melihat kertas promosi band tadi. Ia merona melihat editan wajah Taehyung di kertas tersebut.
~💜~
“Huft, sepertinya kita aman di sini, Jim,” ucap Hoseok.
“Benar dugaanku.” Taehyung berhasil mengejar mereka.
“AAAA!!!!!”
Jimin dan Hoseok bersimpuh meminta maaf kepada Taehyung, berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
“Hm, tapi kalau kejadian lagi, aku akan langsung keluar.”
“Terima kasih, Taehyung! Iya, kami janji!”
“Nah, sekarang ayo ke ruang klub band! Ini sudah saatnya seleksi!”
~💜~
Sesampainya di ruang band, ternyara banyak sekali orang yang datang. Tiba-tiba, seseorang datang.
“Duh, pintunya jelek sekali ya.”
“Jeongguk!” teriak Hoseok.
“Oh, jadi nama dia Jeongguk,” gumam Taehyung dalam hati.
“Hei, untuk apa kamu ke sini?” tanya Jimin.
“Aku? Tentu saja untuk menyelamatkan klub ini. Asal kamu tahu, guru pembina sendiri yang memintaku untuk bergabung.”
“Oh iya, aku serius ya di sini. Jadi, jika di antara kalian cuma main-main, lebih baik kalian meninggalkan klub ini,” lanjut Jeongguk.
“Hei hei, gak bisa gitu dong! Dasar brengsek!” Jimin mulai mencoba mencekik Jeongguk karena kesal.
“Hei, pendek! Jangan macam-macam kamu!” balas Jeongguk ikut kesal.
“Taehyung, tolong pisahkan mereka,” pinta Hoseok.
“Eh, aku?”
“Tolong, Taehyung. Please.”
“Baiklah. Hei, kalian berhenti!”
Taehyung yang bermaksud melerai mereka justru terdorong. Namun, sebelum ia jatuh, Jeongguk sudah menangkapnya dalam dekapan. Sejenak, mereka saling bertatapan. Kemudian, saat sadar, Jeongguk langsung melepaskan dekapannya dan membiarkan Taehyung terjatuh.
“Hei, lihat! Mereka semua pergi!” seru Jimin.
“Iya, hanya tinggal 2 adik kelas ini,” balas Hoseok sambil menunjuk 2 orang yang dimaksud.
~💜~
“Jadi, kalian mau main alat musik apa?” tanya Jeongguk kepada anggota klub lainnya.
“Aku mau jadi vokalis!” sahut Jimin.
“Aku juga! Aku mau jadi vokalis bersama Jimin,” sahut Hoseok.
“Hah ... terserah lah. Kalau kamu, Kai?” tanya Jeongguk kepada salah satu dari 2 adik kelas tadi.
“Aku? Hm … Vokalis?” jawab Kai.
“Aduh, bagaimana sih. Jangan bilang kamu juga mau jadi vokalis, Soobin?” tanya Jeongguk kesal.
“Eh? Ah … sepertinya iya.”
“Kalau begini, kalian mau bagaimana? Ini band, bukan paduan suara. Gak ada yang bisa main alat musik?”
Hening. Tidak ada yang menjawab.
“Taehyung bisa main gitar!” seru Jimin.
Taehyung menatap tajam Jimin.
“Yuhuuuu, semuanya! Lihat apa yang Bapak bawa!” seru Seokjin yang baru saja datang.
“Pak Guru!”
“Untuk langkah awal, mari kita mulai dengan pesta. Apa motto kita?!”
“RAIH HARI INI!”
Dengan begitu, mereka mulai makan-makan. Jeongguk menepi dan mulai menjauh ketika papanya mengetahui keberadaannya.
~💜~
“Hari yang panjang,” gumam Taehyung seraya berjalan pulang.
“Eh?” Ia mencium bau darah manis Jeongguk.
“Kamu kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu dari tadi, loh.”
“Hei!” seru Jeongguk saat melihat Taehyung melewatinya begitu saja.
“Kamu gak dengar? Aku sudah menunggumu dari tadi.”
“Mau apa? Kita kan sudah janji untuk gak saling kenal.”
“Aku gak pernah bilang begitu. Lagipula, aku gak bisa melakukan itu.”
“Kenapa?”
“Karena aku suka kamu. Aku jatuh cinta padamu, Taehyung Si Aneh.”
“Kamu … bicara apa?”
“Aku gak tahu kenapa aku bisa begini. Tapi aku selalu kangen kamu, aku selalu merasa lebih baik setelah lihat kamu.”
“Gak usah bicara omong kosong, deh. Aku gak peduli sama perasaanmu, lebih baik kamu pergi dari hidupku.”
“Gak bisa. Aku gak bisa jauh dari kamu. Kalau kamu gak suka, gak apa-apa. Aku akan lakukan apa yang dikatakan hatiku, bukan otakku.”
“….”
“Kamu bilang kamu gak ingat pertemuan pertama kita, bukan?”
Jeongguk perlahan melangkah mendekati Taehyung.
“Kalau begitu, aku akan membuatmu ingat.”
Jeongguk memegang kedua bahu Taehyung, lalu ia memajukan kepalanya hingga berada di ceruk leher Taehyung. Taehyung yang kebingungan pun hanya bisa diam membeku. Jeongguk membuka syal yang melingkari leher Taehyung dan memberikan hickey, seperti yang Taehyung lakukan dulu.
“Bagaimana? Sudah ingat sekarang?” tanya Jeongguk setelah menarik kepalanya dan menatap Taehyung yang wajahnya memerah.
“… Pergi kamu. Jantungku sudah mau meledak karena kamu,” gumam Taehyung dalam hati.
Tanpa aba-aba, Taehyung menampar dirinya sendiri dan berlari meninggalkan Jeongguk.
“Hei! Jangan pergi!”
“Benar-benar aneh. Lagipula kenapa dia bisa gak suka padaku, sih?”
~💜~
Taehyung berlari sambil melepas lilitan syal dan lapisan penghangat lainnya. Ia merasa kepanasan dan jantungnya serasa mau meledak.
“Hah … hah ....”
“Taehyung? Kenapa kamu tiba-tiba ke sini? Kenapa kamu gak pakai pakaian hangat? Ini dingin, loh,” tanya Yoongi. Taehyung menghampiri rumah pamannya.
“Gak apa-apa. Paman, boleh minta tolong air?”
Yoongi bergegas mengambilkan air dan Taehyung langsung meneguknya rakus.
“Hah, ini lebih baik.”
Saat itu lah Yoongi menyadari hickey di leher Taehyung.
“Tunggu, ini hickey?! Siapa yang memberikannya?!”
“Emm ... ini .…” Taehyung pun menceritakan soal kejadian tadi.
“Jadi, laki-laki berdarah manis itu lagi? Hahaha kalian ini lucu, ya? Tinggal menunggu waktu saja, kamu akan menyukainya.”
“Paman! Itu gak akan terjadi.”
“Teruslah mengelak, vampir seperti kita cenderung tertarik dengan manusia berdarah manis. Hei, bukannya kamu diminta untuk menjemput Taehyun adikmu?”
“Astaga! Aku lupa!”
~💜~
Taehyung menjemput adiknya ditemani Yoongi. Yoongi menasihatinya supaya tidak teledor lagi seperti ini. Awalnya Taehyung hanya diam mendengarkan, sampai Yoongi membawa topik yang ia benci.
“Tidak, Paman. Aku tidak mau berteman dengan mereka.”
“Ayolah, Taehyung. Jangan menjadi penyendiri seperti ini. Aku tahu kamu marah, tapi ini semua karena kamu mengingatkanku pada diriku di masa lalu.”
“… apa?”
“Iya, dulu aku penyendiri sepertimu. Makanya aku menyesal dan mulai menjadi bebas seperti sekarang. Aku harap kamu gak seperti aku dulu.”
Dengan begitu Taehyung terdiam. Ia mengingat dirinya yang ceria saat kecil. Dirinya terlihat bahagia sekali dulu. Ia pun bertanya-tanya, apakah dia bahagia sekarang?
