Actions

Work Header

Yang mana?

Summary:

Ichiro yang terlalu lelah sampai tidak bisa membedakan mana yang nyata dan ilusi.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Saking banyaknya permintaan yorozuya Ichiro jadi sibuk sampai lupa waktu, ini bahkan sudah tengah malam dan dia baru bisa pulang.

"Hmm.. sepi" hanya ada 3 orang termasuk Ichiro di dalam gerbong kereta, saking lelahnya Ichiro hanya melamun sambil menyenderkan kepalanya ke tiang penyangga.

Ichiro melihat jam tangan nya "sebentar lagi jam 12"

Ichiro terpikir suatu hal 'apakah saat pulang nanti jiro dan saburo akan menyambutku? Apa mereka akan ingat ulang tahunku?'.

Ichiro menggelengkan kepala "mungkin besok pagi mereka akan mengucapkan nya" Ichiro kembali termenung.

Tiba tiba dia membayangkan saat dia pulang nanti dan membuka pintu Ichiro disambut oleh keluarganya, disana ada jiro, saburo dan sang ayah. Mereka menunggu kepulangan Ichiro, ruang tamu yang hangat dan dihiasi balon serta dekorasi ulang tahun juga kue serta hadiah. Ahh lalu pelukan hangat dari mereka dan perbincangan kecil ditambah perdebatan jiro dan saburo akan siapa yang lebih disayang Ichiro. Ah bagaimana jika kuuko, samatoki, ramuda dan jakurai san juga datang untuk merayakan ulangtahun ny? Sepertinya itu menyenangkan, Ichiro tidak bisa membayangkan betapa bahagianya dia jika itu benar terjadi.

 

'ah!' Ichiro terlalu terlarut dalam khayalannya sampai tidak sadar kereta sudah berhenti di stasiun, Ichiro bergegas keluar dari kereta dan berlajan menuju rumahnya.

"Hah.. apa yang kupikirkan tadi? Tentusaja itu mustahil terjadi" Ichiro sadar hal itu tidak mungkin terjadi tapi di hati kecil nya Ichiro ingin merasakannya, merasakan suasana yang hangat dimana dia dan keluarganya juga teman temannya(dulu) berkumpul merayakan ulangtahun nya, melupakan semua keaadan yang ada, melupakannya sebentar saja.

Tanpa sadar Ichiro sudah sampai di depan rumahnya, saat akan membuka pintu tiba tiba tangannya terhenti dan badannya bergetar, dalam hati Ichiro berucap

"Apakah bisa? satu kali saja.. untuk hari ini aku ingin merasakan nya"
Seakan tersadar Ichiro menggelengkan kepalanya

"apa yg kuharapkan sih"
Ichiro membuka pintu dan

CTAKK🎉🎉

"OTANJOUBI OMEDETOU ANIKI/ICHINII/ICHIRO"

'DEG'

Ichiro hanya bisa terdiam kaku
'apa ini? Ke-kenapa bisa?' Ichiro kebingungan tentu saja, lihat dihadapannya ada jiro, saburo dan.. Rei. Ya sang ayah ada di rumahnya, mereka menyambut kepulangan dan merayakan ulangtahun, tentu saja lihat ruang tamunya bahkan dihiasi dekorasi dan balon berbentuk huruf 'HAPPY BIRTHDAY ICHIRO'.

Sial apa apaan ini kenapa hayalan nya tadi menjadi kenyataan apa apaan semua ini, Ichiro masih terdiam dan tanpa sadar air matanya mengalir dan badannya bergetar.

"ANIKI/ICHI NII KENAPA MENANGIS?!"
Melihat Ichiro menangis jiro dan saburo panik dan segera memeluk Ichiro.

"I-ini bukan mimpi kan?" Sial Ichiro pasti terlihat lemah dihadapan kedua adiknya dan ayahnya.

"Ngahahah tentu saja bukan Ichiro" Rei tertawa renyah, tentu saja Ichiro pasti mempertahankan hal ini, ini terlalu tiba tiba dan membingungkan, tapi untuk kali ini saja Ichiro berharap ini benar benera terjadi jika pun ini mimpi Ichiro berharap untuk tidur sedikit lebih lama.

Puk' Rei menepuk kepala Ichiro dan sedikit mengelusnya.

"Ichiro selamat ulang tahun, kau sudah dewasa ternyata ya ngahaha, ayo kita rayakan sekarang dengan minum, kau sudah legal kan untuk minum? Ngahaha"

"Oyaji curang aku ingin mengatakannya pada Ichi nii lebih dulu tau! Kenapa malah kau duluan!"

"Tau nih oyaji seenaknya ngucapin duluan harusnya kan kita duluan ya gak bur?"

"Gak ya! aku duluan yang harus ngucapin!"

"Lah sewot ni anak!"

"Hei kenapa kalian malah bertengkar? Tinggal ucapkan selamat saja ko repot dasar anak muda" Rei malah tertawa melihat jiro dan Saburo bertengkar

"Oyaji diam saja!" Ucap jiro dan Saburo bersamaan

Rei hanya tertawa mendengar

'Jiro Saburo? Ke-kenapa rasanya sangat akrab sekali dengan oyaji?' ah tanpa sadar Ichiro tersenyum

"Pfttt ah ahahaaahaaaa" lihat wajahnya, Ichiro tersenyum ah tidak dia tertawa bahagia sambil meneteskan air matanya.

"Arigatou Jiro.. Saburo" Ichiro memeluk Jiro dan Saburo, yang sejak tadi memeluk Ichiro. Matanya melirik ke arah Rei dan kembali tersenyum setelah mulutnya berucap tanpa bersuara 'arigatou'. Melihatnya Rei hanya tersenyum dan kembali tertawa menyebalkan.

"Baiklah ayo kita makan jangan hanya berdiri disini, orang tua ini sudah lapar!"

"Cih oyaji ganggu momen kita aja"
"Tau nih gak jelas banget punya bapak"

"Sudahlah Jiro Saburo! Ayo kita makan, kalian pasti yang sudah menyiapkan semuanya.. terimakasih ya jiro Saburo"

"Tentu saja Ichi nii! mana mungkin kan kami melupakan ulang tahun mu dan tidak akan membuat perayaan!"

"Betul aniki mana mungkin kita melupakannya! Inikan hari penting aniki!"

Ah lihatlah senyuman kedua adiknya nya, melihatnya saja Ichiro sudah sangat senang ditambah semua ini mana mungkin dia tidak bahagia sekarang, dadanya bahkan masih berdebar kencang.

 

Bahkan ada kue ulangtahun untuknya sejujurnya Ichiro malu tapi juga senang padahal dia sudah besar tapi ini menyenangkan baginya rasanya ini adalah hal yg dia inginkan sejak dulu. Saat akan memotong kue bel rumah tiba tiba berbunyi.

"Siapa yang malam malam bertamu? Ah akan ku lihat dulu, sebentar" Ichiro bingung, tentusaja siapa pula orang waras yang bertamu jam segini. Sedangkan Jiro, Saburo dan Rei hanya tersenyum dan terkekeh pelan, mereka sudah merencanakan semua ini tentu tanpa sepengetahuan Ichiro.

 

Dan betapa kagetnya Ichiro, disana di depan pintu rumahnya. Kuuko, itu kuuko sahabatnya, tapi kenapa?

" Yo! Ichiro tanjoubi omedetou! aku bawa cola untuk kita!" Ichiro masih terkejut, tentusaja siapa yang tidak terkejut saat sahabat baikmu dulu tiba tiba pergi meninggalkan mu tanpa alasan jelas dan sekarang dia ada dihadapanmu.

"Ku..ko?"

"Oi Ichiro kau tidak mengajak ku masuk hah! Dingin tau diluar!"

"Ah ma-masuklah!" Hah apa ini bahkan sahabatnya ada disini, untuk merayakan ulang tahunnya? Sial, Ichiro benar benar bahagia sekarang! Lihat bibirnya terus menerus membentuk lengkungan bahagia.

Saat akan kembali ke ruang tamu Ichiro dikejutkan dengan bel rumah yang kembali berbunyi. Dengan cepat Ichiro langsung kembali membuka untuk membuka pintu.

Sial dia tidak siap untuk hal ini apa-apaan hari ini, Ichiro bingung sebingung bingung nya, tentusaja bagaimana tidak lihatlah siapa yang ada di hadapannya sekarang! Itu Ramuda, Jakurai dan.. samatoki. Kenapa, kenapa mereka bisa kesini? Ichiro tidak aneh jika ramuda atau Jakurai yang berkunjung tapi samatoki?

"Ya yaaa ichirooo otanjoubi omedetou aku bawa hadiah untuk muu!!★" Ramuda menerjang dan memeluk Ichiro erat.

"Ramuda Kun itu tidak sopan! Ah ngomong ngomong selama ulang tahun ya Ichiro Kun"

"Oi gaki setidaknya biarkan kami masuk dulu! Malah bengong ni bocah! Oi Ichiro!!"

"A-ah si-silahkan masuk!"

Seakan tersadar Ichiro langsung mempersilahkan mereka ber3 masuk. setelah mereka masuk Ichiro masih terdiam di depan pintu, apa maksudnya semua ini jujur Ichiro masih tidak percaya, pertama ayahnya ada di rumah menyambutnya, lalu sahabatnya datang dan rival serta teman nya datang.

Ichiro pasti bermimpi, 'ya ini pasti mimpi! Ini terlalu mustahil kenapa mereka bisa datang kesini? Ke rumah ku? Untuk merayakan ulangtahun ku? Tidak mungkin kan?' Ah Ichiro jadi pusing memikirkan nya.

Ichiro kembali menuju ruang tamu, tiba tiba saja dia terhenti setelah melihat keadaan ruang tamu, bagaimana tidak? Lihatlah keluarga, sahabat, teman dan rivalnya berada di sini di rumahnya berkumpul dan berbincang hangat bahkan pertengkaran kuuko dan samatoki pun malah terlihat akrab di matanya.

Sial sial Ichiro kembali menitikkan air mata, ini adalah hal yang sangat ia inginkan, hal yang iya pikir mustahil akan terjadi padanya, suasana hangat dengan orang orang yang dia sayangi.

'tuhan jika ini memang mimpi tolong biarkan aku bermimpi sedikit lebih lama.. kumohon"

Hati kecil Ichiro berteriak memohon, ia benar benar senang dengan hal ini dengan apa yang sedang terjadi sekarang, tetapi disatu sisi Ichiro tidak tahu apa kan ini nyata atau hanya ilusi. Ichiro takut, takut jika semua ini hanya ilusi dan dia akan terbangun dengan rasa sesak karna menginginkan hal ini.

Apa yang harus Ichiro lakukan sekarang? Haruskan dia menikamati hal ini atau dia harus segera tersadar dari semua ini? Ichiro bahkan tidak tahu mana yang sebenarnya sedang terjadi. Kenyataankah atau ilusikah?

Ah Ichiro terlalu banyak berfikir hingga tanpa sadar menjadi pusat perhatian semua, bahkan Ichiro masih menangis. Dia benar benar ingin semua ini bukan lah ilusi semata dia berharap ini adalah kenyataan.

puk' "oi Ichiro sudahlah, nikmati pesta mu ini dan tersenyumlah bocah!"

Lihat bahkan samatoki menepuk dan mengelus kepalanya seperti dulu saat mereka masih satu tim.

Ichiro mengusap air matanya dan tersenyum bahagia
"Minna arigatou"

"YOSH KALAU BEGITU AYO KITA MAKAN!" Sepertinya kuuko terlalu bersemangat.

Ah Ichiro tidak perduli mau ini kenyataan atau ilusi dia akan menikmati semua ini dulu, menikmati suasana yang ia idam idamkan.

Ini sudah pukul 1 pagi, seharusnya orang orang sedang beristirahat tapi tidak dengan rumah Yamada, tengah malam hangat ini diisi dengan perdebatan Jiro dan Saburo akan siapa yang lebih disayang Ichiro, perkelahian ah lebih tepatnya adu mulut kuuko dan samatoki, ramuda yang terus mengusik Jakurai dan suara tawa Rei yang terus memprovokasi mereka, ini terlalu manis bagi Ichiro terlalu nikmat untuk dia nikmati lihatlah tawa bahagia di wajahnya.
Ah.. dia tidak ingin semua ini berakhir.

"Ichiro apa kau sudah bahagia sekarang?"

"Eh.. kenapa tiba tiba?" hening melanda ruang tamu, pertanyaan sederhana Rei membuat Ichiro bingung, ditambah semua mata memandang padanya. Ichiro gugup dia menelan ludahnya sendiri

"A-aku senang kalian ada disini, ini adalah hal yang sangat aku harapkan, a-aku bahagia oyaji, aku bahagia aku ingin terus seperti ini, a-aku tidak ingin ini berakhir.." suara Ichiro bergetar dan tentunya sekarang dia sedang menangis, wajar bukan dia sudah lama menginginkan semua ini bisa terjadi.

Semua orang yang ada di rumah keluarga Yamada itu tersenyum melihat Ichiro menangis, tapi itu bukan senyuman bahagia atau senang yang seharusnya.. itu terlihat seperti senyum.. miris? Apa maksudnya itu?

"Syukurlah Ichiro.. kalau begitu bangunlah nak."

"Hah?"

Tu-tunggu apa maksudnya itu? bangun? Apa semua ini hanya mimpi? Ilusi belaka? Tidak tidak! Jika memang mimpi tolong beri dia waktu sedikit lagi untuk merasakan kehangatan ini! Beri dia waktu sedikit lagi untuk menikmati momen ini! Kumohon tuhan! Hanya sebentar! Sebentar saja!

"Tidak bisa Ichiro kau harus bngun sekarang" perkataan Rei benar benar membuat hatinya berdetak keras dan nafasnya terasa sesak. Ichiro hanya bisa terdiam sambil melihat semua orang yang ada mereka memang tersenyum pada Ichiro tapi mata mereka menatap miris pada Ichiro apa maksudnya itu!

Sial sial sial inilah yang Ichiro takutkan, dia takut jika semua ini hanya mimpi dia takut kalau ini bukanlah kenyataan, ah sial dia seharusnya sadar dari awal kalau semua ini tidak mungkin terjadi padanya, Ichiro terlalu terlena dengan semua kehangatan ini, kenapa dia bisa terjebak begitu lama didalam ilusi nikmat ini, bodoh Ichiro bodoh bisa bisanya dia malah menikmati semua ketidak nyataan ini.

"Tidak apa, bangunlah nak kau tidak sendirian" Mata Ichiro semakin deras mengeluarkan air mata, Dia tetap berharap semua ini tidak berakhir.

Apa yang kau pikirkan Ichiro! seharusnya kau sadar dari awal, kenikmatan ini terlalu berharga untuk mu terlalu mustahil untuk kau gapai. Ah seharusnya Ichiro bersyukur Tuhan sudah memberikan bunga tidur indah yang terasa sangat nyata ini untuknya.

Benar Ichiro yang salah, Ichiro yang bodoh mau saja terlarut dalam semua ini, tuhan tidak sebaik itu padanya.

Ichiro tidak bisa berfikir jernih, lihat sekarang di dalam pikirannya dia malah menghujat dirinya sendiri dan merasa tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat ia idamkan.

'ah benar aku memang tidak pantas mendapatkan semua ini'

Ichiro menyerah, dia menyerah dan dan akan bangun dari mimpi indahnya, dari awal memang salahnya. Ichiro menarik nafas dan menghembus pelan, Ichiro siap untuk bangun. Bangun dengan rasa sesak dan perih akan apa yang iya mimpikan.

"Terimakasih sudah memberikan mimpi indah ini padaku"

 

°•°•°•°•°•°

"Hei nak bangunlah keretanya sudah berhenti, dimana pemberhentian mu? Eh ke-kenapa kau menangis "

Ichiro tersentak dia merasa sangat pusing dan tubuhnya lemas, dadanya berdebar hebat dan terasa sesak, tangannya menyentuh wajahnya, ah ternyata benar dia menangis. Ichiro menatap petugas jaga kereta kemudian menatap sekitarnya.

'di kereta'

"Ah aku harus segera pulang, terimakasih sudah membangunkan ku!" Seakan tersadar akan keadaan Ichiro segera keluar gerbong dan berlali menuju rumahnya, Ichiro tidak peduli walau tubuhnya lelah dia tetap berlari, ichiro ingin segera melupakan mimpi itu dia tidak ingin mimpi itu terus menghantuinya dan membuatnya berharap saat dia pulang dan membuka pintu dan sambutan hangat dari orang orang yang disanyagi- TIDAK ICHIRO TIDAK INGIN BERHARAP! SESEORANG TOLONG WARASKAN PIKIRAN NYA!

sampai, Ichiro sudah sampai di depan rumahnya. Lengannya bergetah bahkan hanya untuk membuka pintu pun rasanya berat sekali.

"Ichiro semua akan baik baik saja" menyemangati diri sendiri eh Ichiro.

Ichiro membuka pintu dan

CTAKK 🎉🎉

"OTANJOUBI OMEDETOU ANIKI/ICHI NII"
itu Jiro dan Saburo.

Bodoh seharusnya Ichiro sadar dari awal, Jiro dan Saburo selalu ada untuk nya selalu menyambut kepulangannya selalu disampingnya, selalu ada untuknya.

Ichiro kembali mengeluarkan air mata
"Jiro Saburo tadaimaa!" Ichiro memeluk kedua adiknya begitu erat.

"E-ehh aniki ada apa? Ke-kenapa menangis?"

"Ichi nii a-apa ada yang salah ke-kenapa nangis?"

Tentusaja Jiro dan Saburo bingung, seharusnya reaksi Ichiro yang mereka dapatkan adalah wajah berseri bukan air mata seperti ini, walau sebenarnya mereka senang dipeluk Ichiro, sangat malah.

"Tidak, tidak ada. Terimakasih Jiro Saburo, aku bersyukur memiliki kalian" seharusnya Ichiro tau bahwa Jiro dan Saburo nyata untuk nya, bukan bagian dari mimpi, Jiro dan Saburo nya tidak akan menghilang dan tidak akan meninggalkan nya sendirian.

"Kalau begitu aniki ayo kita makan kue! Aku sudah membuat kue ulang tahun untuk aniki dan beberapa masakan juga sekalian makan malam hehe"

"A-aku juga ikut membantu jiro membuatnya Ichi nii"

"Kau hanya membantu sedikit Saburo yang banyak memasak itu aku"

"Di-diamlah baka Jiro"

"Ahaha terimakasih Jiro Saburo kalau begitu ayo kita makan aku sudah sangat laparr"

Saat akan menuju ruang makan Ichiro dikejutkan dengan keaadan ruang tamu, ruang tamu rumahnya dipenuhi dekorasi dan balon, dan lagi semua dekorasinya mirip seperti yang dia mimpikan tadi.

"Ka-kalian"

"Hehe kami berdua yang mendekornya, bagaimana aniki suka tidak?"

Jiro merangkul Saburo dan merasa bangga atas hasil dekorasinya, ah Saburo hanya tersipu malu.

"Ou ini keren! Sekali lagi terimakasih ya Jiro Saburo"

Ichiro mengacak acak rambut Jiro dan Saburo, tentu saja mereka senang akan hal itu.

"Ah Ichi nii bagaimana kalau kita begadang bersama, sambil merayakan ulangtahun Ichi nii ya?"

"Ah benar kita akan main PS sampai pagi ahaha"

"Sekali kali tidak masalah, kalau begitu ayo!"

Kemana perginya rasa lelah tadi? Ah Ichiro tidak ingin memikirkan, dia akan menikmati malam ini dan seterusnya bersama ke dua adiknya. Hanya dengan mereka berdua Ichiro sudah merasa lebih dari cukup.

' Terimakasih setidaknya mimpi tadi membuatku merasakan kenikmatan yang luar biasa yang sangat aku idamkan, tapi cukup dengan Jiro dan Saburo aku sudah bahagia, sangat bahagia. Terimakasih sudah menghadirkan mereka untukku. '

 

Tanpa mereka bertiga sadari, sosok Ichiro melihat mereka dengan tatapan sulit diartikan. Tunggu.. apa?

Ichiro yang sesungguhnya, lebih tepatnya arwah Ichiro yang melihat dan merasakan semua mimpi ini dari awal mimpi yang begitu lama dan berulang, mimpi yang begitu indah dan menakutkan disaat yang bersamaan. Mimpi yang begitu panjang.

"Kau benar Jiro dan Saburo sudah lebih dari cukup untuk kebahagiaan kita"

 

°•°•°•°•°

 

"Jiro kapan ichi nii bangun?"

Entah sudah berapa kali saburo menanyakan hal yang sama pada Jiro, duduk sambil menggenggam jemari Ichiro yang terbaring tak sadarkan diri dengan begitu banyaknya selang yang terhubung (entah apa namanya) di tubuhnya di rumah sakit Shinjuku, berharap sang kakak tertua nya cepat tersadar.

"Saburo bersabarlah, aniki pasti bangun kita hanya harus percaya padanya."

"Ta-tapi ini sudah 3 bulan Jiro.."

Saburo mulai menangis, hal yang tidak Jiro inginkan, melihat sang adik menangis. Semenjak kakak tertua mereka koma Saburo menjadi sering menangis bahkan hampir setiap hari, Jiro segera memeluk Saburo dan mengelus punggungnya.

Jiro tidak boleh menangis, dia harus kuat, dia harus menjaga saburo dan menenangkan nya disaat seperti ini, walau sebenarnya jiro sangat ingin menangis dan berteriak tapi tidak dia tidak akan melakukannya, Jiro harus tegar dan kuat untuk Saburo. Sampai sang kakak terbangun dari tidurnya.

"Tenanglah Saburo, aniki mungkin sedang bermimpi indah sekarang. Kita hanya harus menunggu dan menjaganya sampai mimpi indahnya selesai. Mungkin sedikit lebih lama.. tenanglah"

Kalimat penenang yang selalu Jiro ucapkan pada Saburo, walau sebenarnya Jiro tidak tahu kapan kakak mereka akan bangun dari tidurnya yang begitu lama ini. Mereka hanya bisa percaya dan berharap.

 

 

°End°

Notes:

Sebenarnya saya baru pertama kali menulis fiksi
Semoga tulisan ini nyaman dibacanya, apa tulisannya mudah dibaca atau malah belibet? Bisa tolong beri kritik dan saran?

Alurnya mungkin gampang ketebak ya hehe, apa saya berhasil bikin kalian nangis?
Sebenernya fic ini spesial untuk ultah Ichiro tapi udah telat banget huhu.
Saya sebenernya sayang banget sama Ichiro tapi enak banget dibikin angst astaga 😭

Oh iya maaf kalau tag nya kurang saya bingung banget untuk nentuin nya ini baru pertama kali nya mempublish fic

Terimakasih sudah membaca fic ini sehat selalu kalian!❤️