Work Text:
— jakarta, tujuh tahun yang lalu
“lo udah gila, ya?”
bright tercengang, matanya membulat sempurna sementara tubuhnya membungkuk mengikuti win—pemuda berkacamata dengan rambut coklat tua yang membawanya menyelinap—menghindar biar tak tertangkap basah oleh teman-temannya dari balik kaca jendela kelas dua belas yang baru saja mereka lalui. langkah keduanya perlahan jadi lebih cepat.
“sst!” win berdesis. “kita mesti kabur!”
mereka menuruni anak tangga dengan tergesa hingga tiba di bawah pohon rindang dekat lapangan yang lumayan sepi. kalau dipikir-pikir, skenario barusan terasa seperti pertunjukan kisah-kasih masa remaja yang mendebarkan. pertanyaan pentingnya adalah, apakah kisah ini tentang kisah cinta?
win mengatur napasnya yang terengah, tangannya diletakkan di dada sambil sesekali melirik bright dan tertawa. lucu sekali bagaimana gelak kecil itu mendadak meledak begitu bright balas memandanginya.
“lagian lo ngapain harus ngumpet-ngumpet gini, sih?” protes bright usai menyandarkan tubuh pada batang pohon dengan dahi mengernyit, namun seulas senyum masih menghiasi bibirnya.
“gue nggak mau dia beneran sampe nembak gue. lo tau gue nggak suka sama dia,” sahut win dengan raut tak bersalah, kemudian memanjangkan lehernya guna memastikan tak ada anak-anak lain yang akan memergoki mereka saat ini.
“kalo lo nggak suka, harusnya lo berani nolak, dong. emang ada yang bakalan jamin dia nggak bakal nembak lo lagi?” bright berdecak lewat timbre tak habis pikir.
“udah diem!” win cepat-cepat menutup mulut bright dengan telapak tangannya, enggan mendengar omelan sahabatnya lebih jauh lagi. “ikutin aja kenapa, sih!”
bright menepis tangan win, memelototinya sebelum tiba-tiba ikut terkikik usai menyadari betapa konyol kelakuan mereka. untuk beberapa waktu, keduanya tak saling bicara, hanya menikmati angin yang berhembus bersama terik mentari kala menelusup melalui helaian daun pohon yang menaungi mereka.
“gue pikir, lo suka sama dia,” bright memecah mantranya lebih dulu. pemuda itu menatap win sejenak, tak lama mendudukkan diri di atas rumput yang tumbuh liar di sekelilingnya.
“gue? sama dia?” elak win, alisnya menukik sementara jari telunjuknya menuding ke arah dirinya sendiri—seakan pernyataan itu adalah teori paling tidak beralasan soal perasaannya. “ya nggak, lah! mana mungkin.”
dia lalu ikut duduk di samping bright.
“loh, kenapa nggak mungkin?” bright meretaliasi jawabannya tak kalah sengit. “dia kan idola semua orang, ketua OSIS lagi. bawaannya ke sekolah aja motor ninja,” sambungnya memberi penekanan saat mengucapkan kata idola. meski tidak kentara, tersirat kalau bright baru saja mencemooh.
“ya kali, deh.”
seberkas kesunyian yang nyaman menghampiri mereka sampai akhirnya win angkat suara.
“gue udah punya orang yang gue suka.”
kalimat barusan otomatis membuat bright memalingkan muka, memandang ke dalam mata win seolah ia sedang berusaha membaca satu nama yang terlintas dalam dua obsidian itu. dia tidak ingat win pernah membicarakan soal ‘menyukai seseorang’. ini yang menjadikannnya sungguh, sungguh ingin tahu.
“siapa?” akan tetapi, hanya satu kata itu yang mampu meluncur dari mulutnya.
win tidak memberikannya jawaban, hanya menatapnya dan tersenyum tipis seakan ia sebenarnya telah membisikkan sebuah nama lewat gestur tak terbaca itu.
tetapi jantungnya jadi berdebar keras begitu bright mendekat, satu tangan bergerak menuju wajahnya. win perlahan mundur, bergeming setelah matanya menutup rapat. sepersekian detik waktu seolah berhenti berputar di dunia versinya.
menariknya, apa yang win rasakan justru sentuhan jemari bright yang mengetuk lembut keningnya.
“lo merem-merem gini mikir gue mau ngapain, sih?”
tepat, begitu bright terbahak dan win membuka mata, terdengar sepasang suara yang sungguh dia kenal berteriak menyergah mereka.
“heh! ngapain lo berdua di situ?!”
keduanya menoleh dalam waktu bersamaan, tak kuasa menahan geli saat menyadari siapa dua bocah laki-laki yang memergoki mereka di ujung jalan.
maka sudah pasti, suatu gestur yang refleks jika saat itu bright lantas menarik tangan win dan berkata,
“lari!”
— jakarta, 5 bulan sebelum 21 juni 2021
win metawin mendongak pada deretan menu yang ditulis di atas papan menggunakan kapur warna-warni beberapa meter dari hadapannya. harinya berjalan tak jauh berbeda dengan hari-hari biasanya; berperang dengan angka dan laporan tiada akhir yang berujung pada urgensi meneguk kafein siang bolong—alasan yang sama mengapa ia berada di sini.
dia sendirian, meski biasanya win akan membawa—setidaknya—satu rekan kerja dari lantai 30 gedung paling bergengsi di daerah sudirman guna mengisi jam istirahat.
sama seperti semua kafe yang ada di jakarta, terdengar alunan musik di antara riuh rendah celoteh di sekitarnya. win sedang mengantri, menanti gilirannya maju sebab masih ada lima orang lagi di depan kasir.
“caramel macchiato atau americano?”
pertanyaan itu merembet di samping kepalanya. refleks, win menoleh.
“bright? sejak kapan lo di sini?”
“sejak lima detik yang lalu,” kata bright menengok ke arah papan menu dengan wajah datar. rambutnya yang halus jatuh menutupi dahi sementara matanya yang coklat tua terasa sama teduh dengan senyumnya. win baru menyadari sahabatnya itu memakai kemeja biru, sama seperti dirinya.
“americano,” tandasnya merujuk pada pertanyaan bright. “...if the question is for you then it’s definitely americano. two shots, exactly. you look like you need a bunch of caffeine.”
bright manggut-manggut di saat bibir bawahnya bergerak maju; seakan mengatakan ‘okay, good choice. gue juga mikir gitu.’
“if that’s the case then you definitely should order vanilla latte, with extra whipped cream, extra sugar, and maybe extra chocolate chips.” dia memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana, seringainya belum juga lenyap. “you need sugar. because you look like you’re having a bad day.”
“extra whipped cream sounds good,” sahut win setuju. “tapi, kata siapa gue lagi having a bad day ?”
“it’s written all over your face.” bright menggerakkan telunjuknya membentuk o bulat di depan wajah win.
“wrong,” win terkekeh geli, maju satu langkah usai pelanggan di depannya selesai bertransaksi. “justru gue lagi seneng banget abis nyelesain salah satu audit paling stressful sama tim gue.”
“nah, bagus dong. kalo gitu lo harus nraktir gue kopi,” ujar bright tanpa tedeng aling-aling. tidak salah jika ini adalah bentuk strateginya supaya mendapatkan kopi gratis; dan mengerjai sahabatnya, tentu saja.
“ogah banget, sana bayar sendiri,” tolak win pura-pura sebal. bright malah tersenyum semakin lebar melihat reaksinya.
tak lama, ia menyalakan ponselnya, membacanya sejenak lalu berkata pada win. “bank ngajakin kita jalan-jalan ke bandung minggu depan.”
“hah? yang bener?” mata win membulat kaget. “udah gila, ya, dia? mana bisa, gue lagi peak season begini.”
bright langsung mengacak rambut win dengan tangan kanannya gemas. “santai, dong. nggak usah ngomel-ngomel. tinggal bilang apa susahnya, sih.”
win menepis tangan bright kemudian merengut.
“tapi ke bandung seru juga kayaknya. sky bilang, kan, akhir-akhir ini dia stres dan butuh liburan. cuma susah juga ngeliat dia susah nyari waktu setelah jadi residen, orang ngumpul kita weekend aja susah. kalo kita semua lagi nggak sibuk pasti gue iyain.”
“bank ngomong di grup?”
grup yang mereka bicarakan adalah grup berisikan win, bright, sky, dan bank. mereka berempat adalah sahabat sejak SMA. bank bekerja di perusahaan milik keluarganya, sementara sky sedang menempuh pendidikan dokter spesialis bedah.
“iya, barusan banget ngomong di grup.”
“bilang sama bank kalo ngasih usul yang considerate sama semua orang, dong. nggak mungkin, kan, gue sama sky nggak ikut. emangnya dia mau kalo—” ocehannya mendadak berhenti saat win menoleh ke arah sudut kafe yang lain.
“kak peach?” seru win dengan wajah semringah. dia melambaikan tangan, membuat pemuda yang—berdasarkan cara win memanggilnya—lebih tua darinya itu berjalan mendekat.
“win? kamu biasa ngopi di sini juga?” peach menenteng dua gelas kopi di tangannya. perawakannya kelihatan seperti pria berusia tiga puluhan. penampilannya begitu rapi dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan garis hidungnya yang tegas memberi kesan seorang pria yang punya jabatan besar di perusahaan.
“iya, nih. nggak sering banget juga, sih. tapi kadang-kadang suka ke sini soalnya yang paling deket. kak peach sendirian?” win memandang sekeliling.
“bareng pimtha, itu dia duduk di situ,” jawab peach menunjuk pada salah satu kursi di dekat pintu masuk. “kamu sama siapa?”
“kenalin, kak. ini bright,” win bergeser beberapa senti sembari menoleh ke arah bright agar dia bisa memperkenalkan diri. bright menengok win singkat sebelum buka suara.
“halo. bright,” ucapnya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.
“halo, bright. peach pachara. saya coordinator- nya win,” peach membalas jabatan tangan bright. sejenak dia memperhatikan ID card yang terkalung di lehernya. “i guess we’re on the same building?”
“bener, saya arsitek di perusahaan BLUE.”
peach mengangguk, kemudian melirik ke arah win dan tersenyum penuh arti. “and you two are boyfriends, or…?”
win cepat-cepat menyela, “nggak, kak. bukan-bukan , kita temenan dari SMA.”
bright hanya diam, tidak mau repot-repot menambah penjelasan lain.
“oh, kirain. sorry, saya cuma nebak-nebak.” peach menggigit bagian dalam pipinya kikuk. “enjoy your lunch. saya duluan, ya.”
beberapa menit usai kepergian peach, bright berbisik di belakang win. “lo deket sama dia?”
“nggak. dia kan atasan gue, cewek yang lagi minum kopi bareng sama dia itu pacarnya,” bantah win tanpa balik badan.
bright mengangguk-anggukkan kepala lalu melipat tangan di depan dada, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“baguslah,” celetuknya kemudian.
“bagus kenapa?”
“ya, kirain lo deket sama dia. keliatan dari gelagatnya, dia playboy , sih.”
ting. denting tanda pesanan selesai dibuat berbunyi untuk yang kesekian kali. win maju selangkah. tinggal dua orang lagi dan tibalah gilirannya untuk memesan kopi.
dia balik badan lalu berkata pada bright, “says someone like you. ngaca dulu baru ngomongin orang!”
“lah, gue serius,” bright bergeming, memberi jeda sembari melirik ke arah peach.
pemuda itu menghadap win lagi seolah ia baru saja mengambil kesimpulan paling terpercaya.
“liat cara dia ngomong, cara dia ngangkat gelas kopi. cara dia megang tangan cewek di depannya. oh my god, ” bright mendramatisir ekspresinya, kepala dimiringkan. “abis ini dia pasti bakalan ngusap bibir cewek itu gara-gara bekas whipped cream-nya nempel . percaya sama gue.”
keduanya mengintip dalam waktu bersamaan. lebih gilanya, tebakan bright benar-benar telak. peach bersikap persis seperti apa yang bright katakan.
“told ya!” gumam bright bangga, bagaikan ia baru saja memenangkan kompetisi tebak karakter.
“dasar gila,” win tergelak.
perbincangan konyol itu terpaksa dihentikan karena giliran mereka memesan kopi akhirnya tiba. satu americano double shots dan satu vanilla latte extra whipped cream . keduanya menyingkir kemudian berdiri di salah satu sudut meja bar yang lumayan sepi, menunggu barista meracik pesanan.
“by the way, asal lo tau mereka udah temenan dari lama. baru aja setahun ini pacaran,” win memulai pembicaraan.
“wait, are we still talking about him?” bright menggestur ke arah peach lewat ekor matanya.
win mengangguk. “gue denger katanya mereka udah sahabatan dari kecil, sampai akhirnya kuliah bareng, terus sekarang kerja bareng. pretty much like growing up together. eh, akhirnya malah pacaran. lucu, ya?”
“nggak lucu-lucu amat, sih. is that supposed to be a funny story?” komentar bright dengan tampang meledek.
“bukan cerita lucu yang itu maksudnya, pinter,” win mendorong bahu bright main-main, memancing pemuda itu tertawa geli.
“tapi, win…” kata bright pelan. “lo pernah mikir nggak, kenapa kita gak pernah jadian?”
bright memandangnya lurus-lurus.
“nggak,” sambar win secepat velositas cahaya.
pertanyaan macam apa itu?
“emangnya lo pernah mikir gitu?”
sekali lagi konversasi mereka harus tertunda setelah sang barista datang menyodorkan dua gelas kopi. begitu selesai mengucapkan terima kasih, keduanya melangkah keluar.
“i don’t see why not,” bright menarik pintu kafe, gaya bicaranya enteng. “lo jomblo, gue jomblo. lo suka anjing, gue suka kucing. lo makannya banyak, gue makannya dikit. menurut lo? sah-sah aja kali, kalo kita pacaran.”
sejenak mereka bertukar tatap beberapa meter dari pintu kafe sebelum win mengangkat gelas kopinya, sejurus kemudian mencolekkan whipped cream ke pipi bright jahil.
“just shut up and drink your coffee,” dia tertawa keras-keras, puas melihat ekspresi bright yang kebingungan.
“c’mon,” rengek bright mengekori win yang berjalan lima langkah lebih dulu. “kalo gue ajak pacaran, lo yakin beneran nggak mau?”
win mempercepat gerak kakinya, menoleh kepada bright sambil menjulurkan lidah dan untuk kedua kalinya hari itu, ia berujar,
“dasar gila!”
— jakarta, 4 bulan sebelum 21 juni 2021
win membuka pintu dengan satu tangan memegang spatula silikon, mengenakan kaus kuning kebesaran, rambut agak berantakan, pipi belepotan dan kening berkeringat. dilihatnya bright berdiri di hadapannya, menarik satu langkah mundur dengan wajah terkesiap seakan ia baru saja melihat penampakan. kendati sebenarnya, pemuda itu jelas sedang susah payah menahan tawa.
lalu, tawa itu akhirnya meledak juga.
“kok malah ketawa,” gerutu win menarik pintu apartemennya lebih lebar sementara ia menepi, membiarkan bright melangkah masuk dan melepas sandalnya.
“lo ngapain, sih? abis eksperimen apa sampe item-item begitu,” bright berjalan menuju dapur dan mengamati kekacauan apa yang baru saja win buat malam itu. “jadi ini lasagna gosongnya?”
dia menunjuk cetakan alumunium foil berisi lasagna yang sudah tidak berbentuk.
“nggak usah ngejekin terus bisa nggak, sih,” sahut win menyambit bright menggunakan serbet di tangannya.
bright terbahak. “pas lo nelpon, gue pikir apartemen lo kebakaran,” dia terkekeh melihat ke pipi win yang kotor oleh bercak hitam, mungkin karena asap saat mengeluarkan lasagna penuh malapetakanya dari dalam oven.
bright mendekat, menghapus bercak hitam itu dengan ibu jarinya. “lo mesti liat sejelek apa lo sekarang,” ejeknya tak kuasa menahan bibirnya semakin melebar.
“oh, shut up, will you?”
“duh, siapa coba yang mau pacaran sama lo kalo lagi jelek banget kayak gini?” bright masih mengusap pipinya, sesekali menatap win dan tersenyum.
win mungkin tidak sadar dirinya sedang menahan napas.
ia menampik tangan bright lalu mendorongnya dengan bahunya, “apaan, sih. minggir sana,” gumamnya mengulum senyuman.
bright hanya geleng-geleng kepala.
“lagian kenapa nggak beli makanan aja, sih,” katanya menyandarkan bahu di dinding. “masih laper nggak? gak mau pesen makanan aja? gue traktir, deh.”
“nggak usah. udah nggak laper,” jawab win seraya meletakkan peralatan memasaknya ke dalam wastafel. setelah mencuci tangan, ia melangkah menuju sofa. “lo nggak lagi banyak kerjaan? tumben sekali ditelpon langsung ngacir ke sini.”
“ada kerjaan, sih. ngelarin proyek gedung di jakarta utara, tapi bisa ditinggal kok.” bright ikut duduk di samping win.
“and…” sebelum meneruskan, dia menarik tisu dari atas meja, mengusap titik peluh di dahi win seolah hal itu adalah gestur paling normal yang mungkin dilakukannya. “mending gue ngacir ke sini sebelum apartemen lo kebakaran gara-gara masak lasagna gosong,” bright tertawa kecil.
“lo abis kesambet apaan, deh?” win merebut tisu itu dari tangannya.
sebentar keheningan menggelayut saat bright akhirnya bertanya, “are you okay?”
“i’m okay.”
“no, you’re not.”
“it’s just another bad day.”
“yeah, like i would believe it,” bright melayangkannya senyum sarkastis. “kenapa? gue yakin insiden lasagna gosong ini gak bakal kejadian kalo lo lagi nggak mikir aneh-aneh. pasti ada yang lagi lo pikirin. ngaku, nggak?”
win menatap pemuda itu selama beberapa detik dan menghela napas panjang. bagaimanapun dia mencoba menyiasatinya, bright pasti dapat dengan mudah membaca pikirannya.
“gue baru tahu rasanya ditolak ternyata kayak gini,” gumam win, menunduk.
sunyi kembali menenggelamkan mereka, seakan bright memberi win waktu untuk memikirkan apa yang akan ia katakan berikutnya. “gue baru sekali nembak orang, sekali juga langsung ditolak. rasanya kayak orang bodoh.”
“lo beneran jadi nembak dia hari ini?” tanya bright.
win mengangkat wajah dan mengangguk, menarik napas dalam-dalam dan kata-katanya ikut mengalir deras ketika ia menghembuskan napas. “untungnya gue nggak terlalu sedih, sih. yah, sedih... dikit ,” dia tertawa pahit. “tapi gue sedih bukan karena dia nggak nerima perasaan gue. lebih ke… apa, ya? minder?” ia menunduk lagi.
“apa gue se-nggak attractive itu, ya, bright?”
bright hanya diam, tidak menjawab.
“tuh, lo bahkan nggak mau repot-repot bilang nggak,” tambah win lirih.
“gimana gue mau ngomong kalo lo-nya nunduk terus,” tutur bright menanti win membalas tatapannya.
“kenapa orang yang gue suka,” win mengangkat wajah, menggulirkan bola matanya sampai menemui milik bright, bertahan pada posisi itu dan bergumam, “...nggak suka sama gue?”
bright membawa sebelah tangannya untuk mengelus punggung win. “nggak. siapa bilang lo nggak attractive ? lo attractive kok di mata gue,” belanya dengan suara rendah.
“nih, buktinya pas lo lagi jelek-jeleknya begini, abis masak lasagna gosong yang hampir bikin apartemen lo kebakaran, buat gue lo masih attractive.” dia tersenyum tengil. “yah... walaupun keliatan ceroboh dikit, sih. tapi tetep attractive, kok.”
bright menyentil dahi win dengan jari telunjuknya dan tergelak.
win lantas ikut tertawa bersamanya. “thanks, gue tau lo ngomong kayak gitu buat ngehibur gue.”
saat menatapnya, bright menyadari bahwa dia selalu suka kerut samar di sudut mata win ketika tertawa.
“terus, sekarang lo maunya gimana?”
bright memasang muka murung. “kalo udah ditolak gini, mungkin udah saatnya lo ngeliat orang yang ada di hadapan lo. yang dari kemaren ngajakin lo pacaran, misalnya. nih, depan lo persis.” senyumnya berubah tengil. “belum telat, kok, win, kalo lo mau jadi pacar gue.”
win memandanginya heran. lalu rautnya berubah jadi raut jenaka. “nggak, gue nggak mau. lo nyebelin soalnya,” cibirnya melempar tisu dari genggaman dan beranjak.
“yakin?” bright mengangkat sebelah alis.
lalu tawa win meledak untuk yang kesekian kalinya malam itu.
“dasar gila!”
— jakarta, 3 bulan sebelum 21 juni 2021
“win!”
mendengar suara itu, win segera menengok dan menegakkan bahu dari sandarannya. tampak bright separuh berlari menghampirinya dengan raut wajah cemas.
“lo gak apa-apa?” tanyanya dalam kepanikan yang belum mereda. “gue dikabarin sky kalo lo masuk igd terus gue langsung ke sini.”
win meringis seraya mengarahkan sorot matanya pada jari telunjuk kiri yang terbalut perban. “jari gue hampir putus,” katanya menyeringai, nada bicaranya antara malu dan menghumori.
“astaga… after that blasted lasagna accident and now you almost lost your finger?” bright malah tertawa sambil berjalan ke samping kanannya, mendudukkan diri pada kursi tak jauh dari posisi win yang kembali berbaring.
“bisa nggak, sehari aja nggak usah ngeledek?” win memberengut, mengusap dua matanya yang lelah. “sky juga ngapain coba pake acara ngabarin lo segala.”
“karena dia kerja di sini dan dia sahabat lo,” jawab bright langsung. “coba posisinya dibalik, gue yang sakit terus masuk igd, pasti lo juga secepat kilat dateng ke sini.”
“dih, geer,” cetus win. keduanya pun tertawa.
sebentar, bright membuka ponselnya. “bank barusan ngabarin mau ke sini juga katanya, tapi mungkin setengah jam lagi.”
win menggeleng cepat. “nggak usah. kata sky gue bentar lagi bakal dibolehin pulang, kok.”
“sky yang ngerawat elo? gue pikir dia dikabarin sama orang igd doang.”
win mengangguk. “iya, ternyata dia lagi jadwal jaga. tadinya gue mau ditangani sama dokter igd-nya, terus sama sky diambil alih sama dia.”
“emang boleh begitu?”
“nggak tau,” win terkekeh pelan sambil mengedikkan bahu. “kalo udah kejadian berarti boleh, kan?”
“hmm, bener, sih. terus dia sekarang di mana?” bright melihat ke sekeliling, kemudian menatap win lagi setelah gagal menemukan sosok sky di unit gawat darurat itu.
“ada operasi darurat katanya. mungkin ntar ke sini lagi.”
bright cuma manggut-manggut.
beberapa saat saling diam, pemuda itu iseng-iseng mengangkat tangan kanannya lalu menekan jari win yang dibalut perban dengan jari telunjuknya.
spontan, win meringis.
“bright! sakit,” seru win murka.
tetapi bright makin cekikikan. “sakit banget, ya?” celetuknya dengan tampang tak berdosa.
“ya sakit, lah! orang tadi lukanya gede banget,” win mengomel sembari memukul bahu bright dengan sebelah tangan yang sehat. tawa bright semakin menjadi. bright baru berkilah sewaktu win mengayunkan pukulannya yang ketiga.
dia lantas mendekatkan kursinya, melipat dua tangan di atas kasur seraya menatapnya lurus-lurus.
“would you tell me what happened?”
win terdiam. dia memejamkan mata bersama perasaan konyol sekaligus bodoh yang tiba-tiba menyergapnya. “tadi siang gue beli salmon, mau nyoba masak pake resep youtube yang pernah gue tunjukin ke lo waktu itu. resepnya gordon ramsay, inget nggak?”
bright mengangguk, mendengarkannya dengan seksama.
“terus pas motong-motong salmonnya, malah tangan gue yang kepotong.”
“very typical of you.” bright mengukir senyum meledek. meskipun dalam hati, dia masih sangat khawatir. “terus?”
“gue pikir cuma kepotong dikit, terus langsung gue tahan pake tangan yang satu lagi. tapi darahnya nggak berenti-berenti. you know i’m afraid of blood, so…”
“lo nggak berani liat lukanya?” sambung bright, menyelesaikan kalimat win lewat terkaannya.
“iya… abis itu gue langsung nelpon sky terus dia langsung nyuruh gue cepet-cepet dateng ke sini. ” win tersipu. “ now here i am, on this bed with five stitches on my finger. ”
dia mengangkat tangannya yang terluka dengan berlagak bangga.
bright otomatis mengacak rambutnya pelan.
“next time, if you want to go near your kitchen, make sure to call me beforehand. you’ll never know, you might need ‘bright to the rescue’.”
“nyebelin…” win memalingkan muka pura-pura kesal, kendati kesadarannya terlampau compos mentis untuk membantah barusan ada sedikit kembang api kebahagiaan yang berdesing di dadanya.
bright mendapatinya tersenyum.
“lo nggak lagi di kantor, kan?” win mendadak mengalihkan pembicaraan.
“nggak kok, gue udah di jalan pulang waktu sky nelpon, makanya gue bisa cepet langsung mampir ke sini.”
win mengangguk, menyandarkan tubuhnya dengan wajah lemas.
“laper nggak? mau gue beliin makanan?”
“actually, i just wanna go home now and throw away that stupid salmon.” tiba-tiba saja, pemuda itu menegakkan bahunya.
“astaga, gue lupa gue belum beresin bahan-bahan makanan di atas meja. salmonnya masih berantakan, olive oil- nya juga, terus sayurannya lupa gue masukin kulkas, sama—”
“ssst!” segera bright membungkam mulut win yang mengoceh macam keran bocor dengan telapaknya. “lo lagi di igd, gak boleh berisik.”
keduanya memandang sekeliling, memergoki dua perawat di ujung ruangan diam-diam tersenyum melihat tingkah mereka.
“tenang, salmon lo nggak bakalan lari ke sungai walaupun lo tinggalin di atas meja, kok. emangnya dia bisa berenang lewat wastafel?”
win melepas tangan bright dari mulutnya lalu mengangkat alis tinggi-tinggi. “sejak kapan salmon jadi ikan sungai, gue tanya?”
bright terkekeh penuh jenaka. “khusus salmon yang sekarang lagi ada di apartemen lo, spesiesnya tinggal di sungai. salmon yang lain tetep di laut,” bright berhasil menahan ekspresinya dengan benar-benar lempeng seakan postulat barusan layak dijadikan sebuah teori.
win tertawa riang mendengarnya—entah untuk yang keberapa kalinya malam itu. bright juga bohong jika bilang hatinya tidak sedang berbunga-bunga.
sebab, misi untuk menghibur win: accomplished.
“tapi untungnya jari lo nggak jadi buntung, ya,” bright mengakhiri hening yang sempat menyelimuti mereka selama beberapa saat kemudian melanjutkan kalimatnya.
“kalaupun buntung juga nggak apa-apa, sih. gue tetap mau kok, jadi pacar lo.”
win menaikkan wajah, menanti bright melanjutkan dan mengaku dia tidak sedang bersungguh-sungguh. tetapi bright tidak bergerak sedikitpun; hanya memandanginya, enggan mengoreksi pernyataan multitafsir itu.
lalu atmosfer paling menganehkan di antara mereka terpaksa berakhir saat tiba-tiba terdengar derit tirai igd ditarik dan seseorang berdiri di sana dengan napas tersengal-sengal.
bank thiti.
“win, anjir! lo nggak kenapa-kenapa, kan?”
damn it.
— jakarta, 6 bulan sebelum 21 juni 2021
ketika win berkata dia ingin bertemu ketiga sahabatnya di salah satu bistro jakarta, bright sudah menduga pertemuan mereka tak akan terasa menjenuhkan seperti steriotipe ‘ hang-out sama temen lama’ pada umumnya.
bright selalu suka menghabiskan waktu dengan ketiga sahabatnya.
bright ingat, ada satu kepercayaan fenomenal tentang persahabatan; jika persahabatan berlangsung lebih dari 7 tahun, maka persahabatan itu akan berlangsung seumur hidup.
kenyataannya, tidak semua orang cukup beruntung memiliki sahabat yang berhasil bertahan selama bertahun-tahun. persahabatan yang dia miliki saat ini belum lebih dari tujuh tahun, memang . tapi rasanya, puluhan tahun pun tahun tak terdengar semustahil itu jika melibatkan dirinya, win, bank, dan sky.
“masa gue umur segini udah disuruh kawin?” bank thiti, pebisnis muda nan tampan itu mendengus seolah ia satu-satunya di antara mereka yang punya beban tujuh turunan. sungguh karakternya jika bersikap sedikit berlebihan.
“bukan masalah umur doang, bank. kawin butuh pasangan, lo punya pasangannya?” bright menimpali sambil menyeruput kopinya, senyumnya dikulum tengil.
“nah, itu dia inti permasalahannya. gue mau dijodohin,” bank menggerutu lagi.
“uh-oh, my condolences to the bride,” ledek bright menyeringai. refleks bank melemparinya tisu yang sudah diremat-remat ke badan bright dengan raut jengkel.
sekarang giliran win yang menyodorkan solusi. “lagian bilang aja sama nyokap bokap lo, lo masih mau berkarir. apa coba susahnya?”
“kayak lo gak kenal tipikal nyokap gue aja,” bank menggestur simbol silang di depan dada.
“semua bisa diomongin, bank,” sky wongraavee, residen bedah yang sedang mencuri waktu sebelum kembali ke rumah sakit akhirnya melontarkan pendapat. “orang tua kadang emang suka nekan anaknya, tapi nggak ada salahnya kalo lo coba kasih pengertian terus. bilang baik buruknya, kenapa lo nggak mau buru-buru nikah, jangan lo tolak mentah-mentah tanpa ngasih alesan. orang lo masih muda juga. ngapain nikah sekarang tapi sama orang yang salah, terus ujung-ujungnya malah cerai. bilang ke nyokap lo, emang mau anaknya jadi duda muda?”
sky mengucapkannya omelannya dalam satu napas.
bright menyela, “emang lo paling gak salah jadi dokter. nasehat lo yang paling oke.” ia mengangkat jempol bangga—yang hanya ditanggapi sky dengan tampang tidak terkesan.
bank berpikir selama beberapa saat lalu bergumam, “bener juga.” dia mengangguk setuju, menegakkan bahunya dan melukis ekspresi serius. “gila aja gue ganteng begini jadi duda muda. wah, gak bisa,” dengan gusar ia menyibak rambut yang menutupi dahinya.
“oke, gue bakal coba omongin lagi sama nyokap. semoga kali ini didengerin. gue bakal bilang persis kayak yang sky bilang.”
“jangan persis juga, lo poles dikit, lah.” win terkekeh geli. saat melihat jam tangannya, ia tersadar akan sesuatu. “eh, gue baru nyadar udah jam segini,” celetuknya dari tempat duduk.
“yaelah, baru juga jam 5 sore. kenapa? lo buru-buru?” kata bank.
“duh , gue lupa gue ada janji,” buru-buru win memasukkan beberapa barangnya yang berserakan di atas meja.
“janji?” ulang bright hati-hati, air mukanya berganti keruh.
“temen kantor, katanya ada yang mau diomongin. tadinya dia mau jemput ke sini malah, tapi nggak gue bolehin,” jelas win seraya menenteng dompet dan kunci mobilnya.
“oh, mau nge- date? ” pancing sky tak butuh berpikir dua kali untuk menarik sebuah kesimpulan.
win menggeleng, memalsukan senyuman. “ngaco! nge- date dari mana. buat urusan kerja kok, bukan di luar kerjaan.”
“kalo nge- date juga nggak apa-apa kali. gak mungkin kita bertiga ngelarang,” bank menyahuti.
sky diam-diam menoleh ke arah bright.
“gue juga balik, deh. mau ngomong ke nyokap.” bank ikut-ikutan bergegas. bright dan sky yang tidak punya agenda apa-apa setelah itu hanya memperhatikan dua sahabat mereka sambil tersenyum simpul.
“kapan-kapan kita mesti kumpul lagi, gak boleh nggak. no one can bail, alright?” win memperingatkan ketiga sahabatnya sembari memandangi mereka satu-persatu. terdengar kata ‘iya’ berbuntut a panjang dan pasrah mengikuti perintah itu. lalu, win meminum sisa kopi di gelasnya lagi seperti orang yang tak mau rugi.
“oh iya, sekalian ini kopinya gue yang bayarin. ntar lo berdua langsung pulang aja. ”
“emang lo terbaik, win!” bank langsung memeluk win kegirangan seperti anak usia lima tahun yang baru saja dibelikan permen oleh ayahnya. win cuma bisa geleng-geleng melihat sifat kekanakannya itu. dalam hati, ia bergumam: well, he’s just being the bank thiti himself.
“gue cabut juga, ya! sky, kalo ada apa-apa, gue pokoknya nelpon lo,” bank menepuk pundak bright dan sky sebelum akhirnya mengekori win angkat kaki dari kafe sore itu.
tinggallah bright dan sky duduk berdua di sana.
“residensi lo gimana, sky? lancar?” bright mengawali pembicaraan.
“yah, gitu lah, bright.” sky tertawa serak. kendati samar, tampak ada warna kehitaman di bawah kantung matanya yang tebal. pemuda itu pasti sudah kehilangan banyak waktu tidurnya. “masih nugas-jaga-nugas-jaga. sekali-sekali manut kalo dijadiin babu sama senior. hidup gue siklusnya begitu-begitu aja.” dia menghembuskan napas lelah, walau ia masih cukup bersyukur buat setidaknya tersenyum.
“lo gimana? nggak jadi resign ?”
“kayaknya nggak, deh. belum nemu yang bisa ngasih dua digit lagi.”
“gak usah sombong sama orang yang gajinya belum dua digit,” sky mendorong bahu bright sewot.
“bercanda bercanda,” elak bright mengibaskan tangannya sambil tergelak ringan, sebentar memandang sekeliling kafe yang masih lumayan ramai. bright terdiam sejenak, seperti berpikir-pikir.
“gue jadi masukin application master degree gue di itali, sky.”
“hah? yang bener lo?” senyum sky melebar, rasa bangga tahu-tahu terbit dalam benaknya. “that’s a good news. congratulations, bright.”
“i said i’ve just applied, not accepted,” ralat bright dan terkekeh.
“let’s pretend that you’re already accepted, omongan adalah doa,” kata sky tulus. “semoga diterima, ya, bri. gue tau sebesar apa passion lo di arsitektur, and you’ll nail it for sure. gue doain yang baik-baik pokoknya.”
“that's a bit of an overstatement but thanks, lo selalu yang paling baik, ” gumam bright menyunggingkan senyuman. “you’re the first person who knows about this, by the way.”
“wow,” sky terkesiap. “tersanjung gue, thanks loh.” keduanya sama-sama tergelak. “terus kapan lo mau ngasih tau bank sama win?”
“belum tau, pas gue udah keterima mungkin? i haven’t really given any thoughts about it. belum tentu diterima juga, kan.” sesaat bright berubah senyap, menundukkan kepala, jemari tangan saling berkait sembari menghela napas bimbang.
sky memperhatikan bright cukup lama, seakan ia punya banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya.
“bright,” panggil sky kemudian.
“hmm?”
sky menanti bright melihatnya lebih dulu sebelum melanjutkan ujarannya. “gue boleh nanya nggak?”
bright baru akan buka mulut ketika sky buru-buru meneruskan, “tapi lo jangan ngelak. jangan marah juga.”
seolah dapat memahami apa yang ingin ditanyakan oleh sahabatnya, bright menyandarkan bahu. ia mendongak dan memejamkan mata.
“gue tau lo mau nanya apa.”
telak.
“masih?”
konteks pembicaraan ini akan terdengar seperti topik acak yang bisa berarti apa saja, tapi mereka berdua; bright dan sky, lebih tepatnya, mengerti jelas ke mana arus konversasi mereka akan berjalan.
“menurut lo?” bright balik bertanya, menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi lalu mengangkat cangkirnya yang telah kosong. wajahnya murung seolah kopinya yang telah abis adalah alasan utamanya. padahal, tentu saja bukan itu.
sky masih menunggu bright melanjutkan.
“lo bisa baca pikiran gue, ya?” lagaknya heran.
“gue rasa gue nggak perlu bisa baca pikiran buat tau lo masih suka sama win,” sky berkata dalam nada sambil lalu.
skakmat. bright mendengus dalam hati.
“kalo se- obvious itu kenapa dia nggak nyadar juga, sih?”
sky adalah satu-satunya orang yang tahu tentang perasaannya pada win. bright tidak pernah memberitahukan siapapun, bahkan bank sekalipun. insiden saat acara kelulusanlah yang membuat bright membongkar rahasianya.
“kalo gitu, pertanyaannya gue balik. kalopun dia nyadar, emangnya lo berharap apa? berharap win nembak lo?”
bright memandangi sky kemudian berpaling.
berharap apa… benar, apa yang dia harapkan? berharap win mau menjadi kekasihnya? apakah persahabatan mereka nantinya akan baik-baik saja? apakah ia rela mempertaruhkan persahabatan mereka yang sudah berjalan hampir tujuh tahun—yang akan jadi tiket menuju persahabatan seumur hidup itu—berakhir jika takdir mengatakan mereka tidak seharusnya bersama?
“jangan bilang lo nggak berani nyatain perasaan lo karena lo takut hubungan kita berempat bakalan kenapa-kenapa.”
bright tertegun. sky benar-benar bisa membaca pikirannya.
“emangnya salah kalo gue mikir gitu?”
“bright,” residen bedah itu mengoreksi posisi duduknya menghadap bright, terdengar penekanan saat ia mengucapkan namanya. “lo, gue, win sama bank udah kenal bertahun-tahun. gue yakin kita nggak akan se- childish itu ngehadapin hubungan lo sama win, gimanapun akhirnya,” jelas sky meyakinkan.
“lagian, mau sampai kapan coba lo naksir dia diem-diem gini? sampai lo udah jauh di itali sana, terus kehilangan kesempatan karena dia ngalahin bank married juga?”
“shut up,” bright menyikut lengan sky cepat, benci kalau-kalau ia harus membayangkan kemungkinan itu.
“heh, gue nggak lagi bercanda.”
beberapa saat bright termenung, hanyut dalam pikirannya sendiri. ada banyak sekali rentetan skenario yang mendadak melintas di kepalanya.
tak lama, dia menatap sahabatnya lurus-lurus. “terus, sekarang gue harus ngapain?”
“isn’t it obvious?” sky tersenyum miring, seakan baru saja muncul bohlam imajiner yang berpijar di atas kepalanya. tanpa ragu, dia pun berkata,
“pour your heart out to him.”
— jakarta, 2 bulan sebelum 21 juni 2021
senja beranjak setengahnya begitu matahari telah tenggelam dan lampu-lampu ibukota dinyalakan. bright memandangi seberkas oranye di langit kemudian berpaling, menaruh ponselnya di atas meja makan kemudian melangkah mendekati bentley—anjing peliharaan win—dan mengelusnya.
“kalian bertiga gak perlu repot-repot nolongin gue sebenernya. pake acara bikin shift siang sore segala.” win meraih buku bergambar apel bertuliskan ‘freakonomics’ yang dicetak tebal ke dalam kardus di hadapannya.
“soalnya, tangan lo masih proses recovery. lagian mumpung kita-kita ada waktu juga. walaupun tangan lo udah nggak diperban lagi, it’s better for precautions. you know how clumsy you are, ” sembur bright datar.
“berisik, deh,” win mendengus. “gue bisa sendiri, bright. tangan gue udah nggak apa-apa, kok.”
“kalo ada yang mau bantuin kenapa harus sendiri?” tegas bright menyerahkan setumpuk buku ke arahnya. “oh, jadi lo mau gue pulang sekarang, nih?”
win menimpuk kepala bright dengan tumpukan buku di tangannya. “kalo udah terlanjur di sini nggak usah banyak bacot, deh.”
mereka pun tertawa.
“bright,” bisik win menarik lengan baju bright sambil melirik ke arah bentley yang sedang mengambil ancang-ancang di atas potty pad- nya. “liat bentley mau ngapain.”
“giliran lagi begitu aja lo suruh gue liat,” cibirnya memalingkan wajah. tapi win masih terkikik dan bersikeras memaksanya.
“ih, liat dulu cepetan. jarang-jarang lo liat dia poop!”
keduanya memperhatikan ekspresi bentley yang amat lucu, matanya berkedut saat dia berjongkok. bright menutup matanya dengan dua tangan, namun win terus-terusan mencubit lengannya jahil.
“bright, jangan tutup mata. buruan liat!” ditariknya tangan bright paksa.
“win, jorok, ah!”
“liat-liat, lucu banget! mukanya liat mukanya!”
“nggak mau, lo liat saja sendiri,” bright memejamkan mata lagi.
“cemen banget, sih! itu cepetan, bentar lagi selesai, loh!” win tertawa terbahak-bahak.
setelah beberapa menit, bentley langsung berlari seolah tidak ada yang terjadi.
“lo, tuh, ya! usil banget. bersihin sana,” perintah bright menelengkan kepala.
“tolongin, dong…” rengek win pura-pura meringis. “kan, kata lo tangan gue masih sakit. bersihin, ya, please?” pada kata terakhir, ekspresinya memohon seperti seekor anak anjing.
“ogah, sana bersihin sendiri!”
“please… lo kan baik, sahabat gue yang paling baik! paling cakep, paling keren, paling-paling sedunia, deh.”
bright memasang gelagat mau muntah usai mendengarnya. giliran ada maunya aja…
win terkekeh semakin riang.
bright menghembuskan napas panjang, kendati akhirnya luluh juga. dengan langkah berat dan malas-malasan, ia meninggikan lengan kausnya lalu mulai membereskan kotoran bentley. matanya disipitkan sementara hidungnya berkerut takut-takut.
“bener-bener lo, ya. siapa coba yang mau bantuin bersihin kotoran bentley kayak gini, gue doang kayaknya.”
win tergelak puas, seakan misinya mengerjai bright adalah misi paling sukses abad ini. “masa gue minta tolong tetangga sebelah, sih. yang ada di sini sekarang, kan, cuma lo,” katanya tak mau kalah.
“kurang apalagi pengorbanan gue,” bright terus mengomel seraya berjalan menuju tong sampah. “...disuruh beginian mau. lo gue ajak pacaran malah nggak mau.”
bukannya merasa kasihan, tawa win justru semakin kencang.
“tawaran yang kemaren masih berlaku, deh, kalo lo mau. gak apa-apa gue ngeberesin kotorannya bentley seumur hidup.”
tepat, begitu dia tiba di samping win lagi, win menoyor kepalanya sembari berkata, “duh, mulut lo, tuh! kalo lagi nggak dikontrol gini bisa bikin anak orang baper beneran tau nggak?”
tanpa memberi kesempatan bright melanjutkan ocehannya, win melempar satu titah lagi.
“mending lo angkatin kardus yang itu ke sini. gue mau ngecek siapa tau ada yang bisa disatuin.” win menunjuk ke arah satu-satunya kardus di belakang pintu.
benar-benar.
dengan bibir manyun, bright menurutinya. demi tuhan, win ingin sekali mencubit pipinya.
bright mengangkat kardus yang diminta kemudian meletakkannya di samping win.
namun, pandangannya jatuh pada selembar foto.
dia meraihnya.
“tay tawan?”
win mengangkat wajah usai mendengar nama itu, menggulirkan bola matanya pada secarik foto di tangan bright. senyumnya yang merekah perlahan sirna.
“i swear, i put it there because i want to burn that photo,” jelasnya mengajukan pembelaan.
bright berdecak, sudut bibir tertarik ke salah satu sisi. “yakin?”
win tak bersuara.
bright mengembalikan foto itu ke tempat semula, kemudian beralih duduk di sofa tak jauh dari sana. dia mengemasi barang-barang yang lain.
setengah menit berlalu, akhirnya win ikut mendudukkan diri di sampingnya.
“if you think i still have feelings for him then you’re completely wrong. gue udah nggak pernah mikirin dia lagi, nggak pernah nyari tau soal dia lagi.”
win tidak menatap bright saat menguraikan penjelasannya. pandangannya diarahkan ke depan, pada dinding-dinding yang telah kosong dan lemari kaca tak berpenghuni.
“gue nggak ngambil kesimpulan apa-apa, win,” gumam bright hati-hati.
“gue tau kalian bertiga nggak pernah setuju gue pacaran sama dia waktu itu. turned out you were right . kayaknya bank yang paling puas, deh, pas tau gue mutusin kak tawan.”
“nggak ada yang puas waktu lo putus sama dia,” jawab bright lantang. “every relationship has flaws, win. and we shouldn’t blame one person solely because a relationship didn’t work out. kalo akhirnya kalian berdua putus, bukan berarti karena gue, sky, atau bank nentang kalian pacaran, bukan juga sebaliknya.”
win melirik bright, menyembunyikan senyumannya.
“sejak kapan lo jadi dewasa banget gini?” ledeknya jenaka.
“lah, lo nggak tau? gue kan, bisa jadi apa aja. kadang-kadang bisa jadi dewasa, bisa jadi anak-anak. kadang bisa tengil, kadang bisa serius. tergantung suasananya aja,” bright mendebatnya tak kalah usil sementara ia menyibak rambut yang menghalangi keningnya.
“satu, sih, yang belum gue bisa. jadi pacar lo.”
“hahaha. lucu, bright. lucu banget,” win memalsukan tawa dan mencibirnya lagi.
lalu, ekspresinya melunak. “is that the same explanation why your relationship never worked out? that ‘every relationship has flaws’? your relationship never lasts more than three months,” kata win, membuat referensi kepada hubungan-hubungan bright yang selalu kandas.
“hmm…” bright menunduk memandangi lantai. “not exactly. maybe the reason is the same with why i don’t want to be in a relationship right now,” tuturnya bersama secarik senyum penuh arti.
“what reason?” sepasang mata jernihnya berbinar ingin tahu.
bright bergumam, “should i tell you?”
sesaat bright dan win bertukar tatap. mereka tidak sedang saling berbicara, tetapi lewat tatapan itu—entah bagaimana—rasanya sulit sekali bagi bright mempertahankan tameng defens yang selama ini susah payah ia pegang agar tak runtuh saat itu juga.
“whatever. nothing ever seems to bother you anyway, not even break-ups. i don’t get it somehow,” kening win berkerut dengan memikat dalam keheranannya.
“sederhana aja sebenarnya,” ucap bright berusaha membuat suasana lebih ringan. “i knew they weren’t gonna last. if you’re not in love then it'll be easier to get over it. and my heart’s not broken.”
bright bersedekap, melepaskan tatapannya dari win.
lama mereka tak bicara setelahnya.
“have you ever had your heart broken?” win mengakhiri diamnya.
bright memandanginya sejenak sebelum bergumam, “lo sendiri?”
“gue cuma pernah pacaran satu kali, nembak orang satu kali. jadi kayaknya gue nggak punya banyak pengalaman buat bisa milah-milih who made my heart broken,” win melemparnya senyum timpang. “mungkin kalopun ada… kak tawan. gue sedih waktu putus sama kak tawan. but i don’t think he broke my heart to any extent.”
“bohong banget. you did cry when you told us you broke up with him,” kenang bright nyaris tertawa.
“kata siapa, mana ada gue nangis!” potong win cepat. keduanya terbahak lagi.
tak lama, dia menaikkan pandangan, menatap bright untuk waktu yang cukup lama.
“mungkin pernah, sih, waktu SMA.” kalimatnya menggantung.
“sama si ketua OSIS, pasti?”
win belum menurunkan pandangannya.
“bukan,” jawabnya singkat, memalingkan muka. “never mind. it doesn't matter, bright. udah lama juga.”
ia menyandarkan diri dan berkata lagi. “ngomongin SMA, lo inget nggak, sih, dulu lo seneng banget gangguin gue pas lagi jam istirahat. padahal kita udah nggak sekelas. gue bareng bank, lo bareng sky. tapi lo selalu ngedatengin kelas gue pake alesan sky minta ajarin biologi. padahal gue paling nggak jago biologi.”
“inget, lo benci biologi. makanya banting setir kuliah ekonomi,” tutur bright mencomot serpihan ingatan dari kepalanya. “kalo ini inget nggak? pas lo ditembak ketua OSIS terus lo malah ngajakin gue kabur ke taman deket lapangan, terus bank sama sky lari-larian mergokin kita berdua.”
“gue bersyukur gue lari waktu itu,” kata win sambil terkikik. “kalo bahas nembak-nembakan, kayaknya lebih seru ngomongin lo. lo kan, banyak yang naksir.”
“can’t help it,” decit bright dengan wajah lempeng.
win memukul bahunya dan tertawa kecil. setelah itu, ia berkata, “pas kelulusan, gue sempet ngira...”
win menghentikan kalimatnya.
“ngira apa?”
pemuda itu cepat-cepat meraih komposurnya dan bergumam, “nggak , kayaknya gue salah inget.”
dalam satu gerakan frantik, ia bangkit dari sofa.
“jadi bantuin gue angkat kardus yang ini nggak?”
— jakarta, lima tahun yang lalu
bagian dari menyatakan perasaan adalah mengetahui awal perasaan itu sendiri. sejak kapan? dimulai dari mana? bahkan sekecil momen bertatapan mata di tangga usai mendaftar satu ekstrakurikuler yang sama.
win tidak ingat persis bagaimana perasaannya kepada bright mulai tumbuh—yang ia ketahui hanyalah bright tak pernah menyepelekannya sebagai seorang teman, menghargainya, selalu punya sejuta cara membuatnya tertawa dan merasa nyaman.
tidak perlu skenario penyelamatan saat tawuran, atau kisah klasik tentang anak nakal yang jatuh hati pada sang juara kelas setelah dipaksa memberinya pelajaran tambahan sepulang sekolah. cukup, dengan saling berbicara dan saling memahami—ditambah, bonus selera humor yang sama, juga paras kelewat tampan, win tahu ia sungguh menyukai bright.
atas alasan itu pula, hari ini ia akan memberanikan diri.
win sudah memikirkannya semalaman—yang berujung pada keputusan untuk mengutarakan perasaannya. win tahu persis ini terdengar gila dan tidak masuk akal, tahu sky dan bank mungkin akan menertawainya habis-habisan. tetapi ia ingin mencobanya, mengingat bisa jadi inilah satu-satunya waktu yang dia punya.
satu bulan sebelum kelulusan.
“dari mana aja lo?” tanya bright saat melihat win berdiri di hadapannya.
“perpustakaan,” cetus win asal. ia duduk bersamanya di bangku berpapan kayu.
“tumben-tumbenan lo ke perpustakaan,” bright mengerutkan dahinya bingung. “bank sama sky?”
“kantin, mungkin?” win mengatur ekspresinya sampai benar-benar tenang. “lo ngapain daritadi di sini?”
“abis ketemu pak chantavit, ngomongin rencana kuliah gue kalo nggak lulus undangan.”
win mengangguk-anggukkan kepala. kegugupan yang merayap membuat anak itu membisu selama beberapa saat.
“bentar lagi kita bakalan jalan masing-masing, ya. sky jadi dokter, bank lanjut sekolah bisnis, lo sekolah arsitek, gue—”
“jadi budak korporat?” sambung bright, senyumnya tentatif. “tapi bukan berarti kita bakalan berhenti temenan, kan?”
win mengangguk. “pasti.”
angin sepoi siang itu membuai wajah mereka yang saling diam.
“bright…”
“semalem, neen bilang dia suka sama gue.”
tubuh win seketika membeku, senyum di bibirnya menghilang. napasnya semakin tertahan tatkala bright menyusup ke dalam kebisuannya, “waktu kita pulang bimbel bareng, dia bilang dia udah lama suka sama gue.”
bright tak melihat ke arahnya.
“congratulations,” gumam win setengah tergagap, menirukan mimik seseorang yang menerima berita bahagia.
bright menatap win ke dalam matanya. “tapi gue nggak yakin gue suka sama dia. nggak, gue nggak suka sama dia.” miris, betapa win sama sekali tidak memiliki petunjuk bahwa bright sedang menantinya untuk mengatakan tidak.
win menghela napas, berpikir sesaat.
“feelings can grow, bright,” tandasnya pelan.
bright langsung membalasnya dengan tersenyum skeptis.
terjadi keheningan lagi.
“udah lo jawab?”
“belum,” bright menggeleng. “gue bilang kalo gue butuh waktu buat mikir, dan setelah gue pikir-pikir—”
“terima aja.”
bright menoleh.
“dia anaknya cantik. baik, lucu. udah sering bareng lo waktu OSIS juga, kan?”
rasanya memang bodoh mengkhianati perasaannya sendiri. tapi ia… usai semua cerita ini, ia tidak bisa.
“so, you think i should accept her?”
bright tersenyum getir. jangan...
tatapan mereka kembali bersua di antara halaman luas nan sepi, di antara kesunyian yang menyesakkan dan perasaan yang sesungguhnya sama-sama tak berbalas.
“yes. yes you should.”
dan bersama jawaban itu, rencananya—pun harapannya—menyatakan perasaan hancur begitu saja.
— jakarta, 3 minggu sebelum 21 juni 2021
sky baru saja melepaskan sarung tangan medis sambil melangkah menuju wastafel di unit gawat darurat rumah sakit ketika ia merasakan ponselnya bergetar.
sky berputar arah, menekan kepala botol hand sanitizer di atas meja lalu merogoh ponselnya. nama bright terpampang di sana.
“oi, what’s up? ” sapa sky lebih dulu.
“hei, sibuk nggak?” balas bright di ujung sana.
usai berpamitan pada para perawat, sky berjalan menuju ruang dokter sembari melanjutkan konversasi mereka. “barusan dari igd, ada pasien kecelakaan. tapi udah kelar, kok. ada apa?”
“another busy day, huh?”
“yoi,” setelah tiba, sky duduk di salah satu kursi yang kosong. “kenapa, bright?”
“jangan kaget, oke?” bright mendengar sky mengiyakan.
“i got accepted, sky. gue jadi s2 di itali!” seru bright kegirangan.
“wah! gila-gila. gue tau lo pasti keterima. selamat! bangga banget gue,” kata sky sama riang. bright tahu sahabatnya sedang tersenyum bahagia saat mengucapkan itu. “terus, kapan berangkat?”
“bulan depan, gue harus mulai ngurus visa sama beberapa berkas administrasi buat kampusnya dulu. tapi, paling cepet bulan depan, sih.”
“udah ngasih tau win sama bank?”
sorak-sorai mereka tergelincir jadi hening, dan sky memahami arti keheningan itu.
“you haven’t told him, have you?”
didengarnya bright menghembuskan napas berat. “belum. tapi cepat atau lambat gue bakalan ngasih tau, kok.”
“you should. this is a good news, bright. dia pasti seneng denger lo berhasil lanjutin sekolah yang selama ini lo mau.”
“semoga,” garis tipis terukir di bibirnya. dia memberi jeda sejenak sebelum berujar, “gue udah nyoba, by the way. nembak dia.”
sky sedikit tertegun. “nembak secara harfiah atau nembak yang gue saranin waktu itu, nih?” sahutnya menghumori.
“nembak yang itu, lah. god, this is embarrassing,” sepat bright mengusap wajahnya dengan sebelah tangan, pipinya memerah kendati sky tak sedang melihatnya.
sky tergelak lagi. “win bilang apa?”
bright tersenyum, kali ini senyum putus asa. “it’s not working.”
“lo ditolak?” sky menopang dagunya dengan tangan yang ditumpukan ke samping kursi, merasakan kesedihan ikut menjalarinya.
“sort of,” bright tertawa. “nggak tau, sky. dia selalu ngira gue cuma bercanda.”
“kenapa?” tanya sky. “bentar, emang kapan lo nembak dia?”
bright tak menjawab, bingung bagaimana harus menguraikan kisah ini kepada sahabatnya. lalu ia bergumam, “bulan lalu, bulan lalunya lagi, bulan lalunya lagi dan bulan lalunya lagi.”
“hah?” alis sky berkerut bingung. “lo nembak dia empat kali?”
bright menyeringai sambil berkata jujur. “lucu, ya? ketawa, dong.”
sky mendengus lalu memutar kursinya menghadap jendela. “lo nembak anak orang sampai empat kali, tuh, gimana ceritanya, sih?”
“hmm… abis lo ngasih tau gue buat coba confess waktu itu, gue beneran mencoba. waktu gue sama dia ngopi bareng pas lagi istirahat, waktu dia masak lasagna gosong. pas di igd, abis lo ngerawat tangan dia gara-gara keiris pisau?”
“astaga…” sky memijat keningnya dan meringis. “terus, yang satu lagi?”
“waktu dia pindahan, abis gue bantuin dia beresin kotorannya bentley,” tutur bright seolah waktu-waktu yang ia sebutkan adalah waktu paling krusial untuk menyatakan perasaan.
tentu tertawa adalah respon paling manusiawi.
“ya, gimana dia bisa nganggep lo serius kalo lo nembaknya di momen-momen kayak gitu, sih? gue jadi win juga bakal nganggep lo lagi bercanda,” omel sky tak habis pikir.
“i’m such a dumbass, i know.” tawanya perlahan mereda. “...mungkin karena gue belum seberani itu buat bener-bener nyatain perasaan ke dia.”
sky memahaminya. bukan perkara mudah mengubah apa yang selama ini ada di antara mereka menjadi satu hal berbeda, dan terlalu banyak kemungkinan yang perlu bright pertimbangkan.
“terus, mau lo gimana sekarang? nyerah?”
bright yang kala itu berada di kamar apartemennya memandang pada bulan yang bersembunyi di balik awan, pandangannya menerawang.
“menurut lo? apa ini saatnya gue nyerah?”
“kalo gue jadi lo, gue nggak akan nyerah. nggak sekarang,” saran sky gamblang. “at least, i’ll give it one last try. i’ll make sure he knows that i mean it, like truly mean it.” terdengar timbre ketegasan dalam nada suaranya.
“bukan bercanda, bukan sekedar jokes siang bolong.”
kata-kata itu menyentak bright selama beberapa saat.
“... and when he said no, that’s when i gave up.”
— jakarta, 1 minggu sebelum 21 juni 2021
bright duduk di tepi tempat tidurnya sambil melipat beberapa baju dari dalam lemari. ia telah mengemasi barang-barangnya. apartemennya terasa sunyi dan lengang, tidak sehangat biasanya.
pemuda itu melamun sebelum mendongak, memandangi deretan foto yang dipajang di dinding dengan bingkai kayu minimalis. fotonya saat lulus SMA, saat wisuda, dan waktu-waktu kebersamaannya dengan win, bank, dan sky.
bright berdiri, meraih satu-satunya polaroid yang terselip di sana: potretnya bersama win saat ulang tahunnya dua tahun lalu. keduanya tersenyum lebar, pipi dipenuhi krim karena bank dan sky tidak mau berhenti mengerjai mereka dengan krim kue ulang tahun.
bright tak kuasa mengukir senyuman manakala memori itu berkelebat di kepalanya, sejernih dan senyata film yang sedang diputar ulang.
andai saja mereka bukan sahabat, apakah situasinya akan serumit ini? apakah mungkin, jika...
lagu berdenting menggema di dinding-dinding dalam apartemennya sebagai pertanda seseorang menekan bel, memaksa bright bangun dari lamunannya. dia meletakkan polaroid itu di atas nakas dan bergegas membukakan pintu.
tanpa diduga-duga, ada win yang berdiri di sana.
“lagi ngapain? gue mau cerita!” laki-laki itu tersenyum semringah.
sesaat bright menatapnya bimbang, kendati tetap mempersilakannya masuk. win melangkahkan tungkainya hingga mencapai ruang tengah, lalu seketika ia berhenti.
“bright…” lirihnya kemudian balik badan, memandang bright penuh tanya. “lo mau ke mana?”
kardus-kardus itu, ruangan yang senyap itu, juga perabotan-perabotan yang hilang adalah sumber keingintahuannya. dan bright paham, sudah terlambat menghindari situasi ini.
“gue nggak bakal tinggal di sini lagi, win,” jawab bright pelan.
“lo mau pindah? pindah ke mana?” ulang win, memberikan perbedaan pada caranya mengucap pertanyaan pertama dengan pertanyaan yang kedua.
“gue keterima sekolah master degree arsitektur di itali,” ungkap bright, pada akhirnya.
melihat win tak kunjung memberinya jawaban, bright menurunkan pandangan, merasa bersalah. “sorry, sorry gue—”
kalimat itu tak memiliki akhir sebab win lebih dulu menghamburkan diri dan memeluk bright erat-erat, dua tangan melingkari tubuhnya. kemudian ia berkata di samping telinganya,
“congratulations! bright, gue seneng banget. selamat, ya…”
terdengar suara win sedikit bergetar.
“gue inget banget waktu kita wisuda, lo bilang mau lanjut sekolah di itali, look what you’ve achieved now,” dielusnya punggung bright pelan.
“thanks, win. thank you,” bright yang awalnya bergeming membalas pelukan itu. rasanya benar-benar hangat dan menenangkan, sehingga kalau—kalau saja ia bisa—bright tak ingin melepaskan pelukan itu. ia ingin memeluk win lebih lama lagi.
namun, win melepaskan pelukannya. “kapan berangkat? masih lama, kan?”
“minggu depan, win,” jawab bright singkat.
“minggu depan?” win terbelalak, tidak menduga menerima jawaban dengan kurun waktu secepat itu. “sky sama bank tau?”
bright mengangguk, gagal menyusun setidaknya satu kalimat koheren yang dapat dijadikan alasan karena sekali lagi , dia merasa bersalah.
“kenapa lo nggak ngasih tau gue?” win menatap bright yang masih membisu.
“gue pengen ngasih tau lo, tapi…” bright menghela napas, kepala tertunduk sebab ia tak ingin membuat kesalahpahaman ini semakin menjadi. “gue juga nggak tau kenapa rasanya gue nggak pernah siap buat bilang ke lo.”
win balas memandangnya sementara senyumnya ditarik kecewa. “kenapa, bright? karena lo pikir gue gak bakalan percaya? bakal nganggep lo bohong? karena lo pikir gue bakal ngetawain lo? karena—”
“nggak, win. nggak. bukan karena itu,” potong bright cepat, berusaha memetakan alasan yang mungkin ia jelaskan.
“terus?”
bright tidak memberi jawaban.
“bright, gue nggak mungkin ngelakuin itu. i know you’ll make it sooner or later. see? here you are now. i always have faith in you,” aku win sungguh-sungguh.
“...walaupun lo kadang-kadang tengil, ngomongnya suka sembarangan, suka nggak nyambung, usil, sering ngerjain gue, gak berhenti ngomel-ngomel—”
bright tertawa lega mendengarnya.
“...i know you’ll get what you want, because you always know exactly what you want. that’s your gift.”
ditatapnya win lurus-lurus seraya tersenyum. “makasih, ya, win.”
kemudian, sunyi menyelimuti mereka.
“aneh, ya? setelah obrolan ini rasanya malah kayak kita nggak bakal ketemu lagi,” gumamnya pelan.
“lebay,” cibir win sambil berdecak. tapi dia tersenyum lagi.
“it’s not too late if you want to go to london , lo bilang mau lanjut sekolah di luar juga, kan?” ujar bright berusaha mencairkan suasana.
win menyeringai. “i wish.”
sedetik kemudian, air mukanya berubah sebal. “tapi gue masih kesel lo nggak ngasih tau gue.”
bright hanya tersenyum miring lalu menatap pada lantai. untuk sekian lama keduanya tak berkata apa-apa.
mungkin, ini adalah satu-satunya kesempatan yang bright punya. mungkin, setelah kepergiannya ke italia, dipisah waktu dan jarak ribuan kilometer jauhnya, ia tidak akan bisa merebut momen ini lagi. mungkin, jika ia punya sedikit saja keberanian, ia bisa berkata jujur tentang perasaannya.
serentetan ‘mungkin’ tiada akhir terus menghantui pikirannya.
“win...” bright menghadapnya, mengumpulkan sisa-sisa tekad yang dimilikinya untuk mengucapkan,
“lo beneran nggak mau pacaran sama gue?”
win terpaku. tak ada suara. kemudian rahangnya mengeras.
“bright, nggak lucu.”
sebelum bright sempat melanjutkan, win mengambil langkah mundur.
“lo mikirin apa, sih?” sekuat tenaga ia menahan amarahnya yang kian membubung. but he failed.
“lo bahkan nggak cukup percaya buat ngasih tau gue soal sekolah lo di itali,” dia membuang muka. “lo nggak tau, kan? kalo dari tadi gue nggak berhenti mikir kapan lo akan ngasih tau gue seandainya gue nggak tahu sendiri dengan cara kayak gini.”
kesunyian yang memekakkan terjadi dan mereka terlanjur kehilangan arah untuk memperbaiki semuanya.
“and you think this is the right time to ask me that stupid question?” win menatapnya dengan raut tak percaya.
“win, gue—”
“mau sampai kapan lo ngebecandain perasaan gue kayak gini?” teriak win frustasi.
“sampai kapan juga lo mau nganggep confession gue selama ini cuma bercanda, win?!”
bright menyahutinya sama keras. sebab kenyataannya, bright sama frustasinya dengan laki-laki itu dan tembok pertahanan dirinya benar-benar hancur setelah tahu win tidak memiliki petunjuk sama sekali.
dan kini, ia telah mengatakannya.
“maksud lo apa?” win mengerjap, berusaha mencerna kalimat itu jutaan kali sementara jantungnya berdebar hebat.
mustahil. ini mustahil, kan?
“gue sayang sama lo,” pandang bright lekat, ibarat menyalurkan kesungguhan lewat sorot matanya.
“and as impossible as it sounds, it is still the truth,” lanjutnya tajam. mundur bukanlah kata yang ada di kamusnya saat ini.
masih belum terdengar balasan dari win. kemudian, jemari win mencengkram telapaknya.
“tapi, bright, kita temenan…”
kalimat itu meluncur ke telinga bright bagai anak panah yang menyakitkan.
“gue tau. that’s why it is so hard for me to tell you.” bright bergumam putus asa.
“but, what am i supposed to do? lie to you?” ia tersenyum defensif, menyadari firasatnya berkata ia akan berakhir dengan menyesali banyak hal malam ini, namun kata-kata itu sudah berhamburan keluar dari mulutnya.
“i can’t keep this to myself any longer. and i know the thought about me loving you might be too impossible to believe, but i can’t say i’m not. i just can’t. so forgive me if i refuse to say that my feelings aren’t true.”
win tidak mampu berkata-kata.
inilah saat di mana win semestinya berlari ke pelukan bright; membalas apa yang harusnya berbalas. namun kenyataan yang terjadi, ia justru melangkah menjauh.
sebab ia tidak mampu berada di sana lebih lama lagi.
bright bergegas mengejarnya.
“win,” panggil bright lirih, pada segala sesuatu yang telah terlambat.
win menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang akan memisahkan mereka.
“good luck with italy.”
dia bergeming, tidak menoleh ke arah bright bahkan untuk yang terakhir kali.
“i’m sorry.”
— jakarta, satu hari sebelum 21 juni 2021
bright meneguk sisa bir dari dalam gelasnya malam itu. ini akan menjadi malam terakhirnya di jakarta sebelum angkat kaki ke italia. makanya dia memilih menghabiskan waktu dengan dua sahabat terbaiknya; bank dan sky.
tidak ada win di sana.
“jadi, lo udah dapet temen satu flat di milan?” adalah pertanyaan dari bank sementara ia menjentikkan abu rokoknya ke asbak di atas meja.
“yoi, orang swedia. same age. anaknya ramah banget, hope i’m in good hands. ”
“argh, gue jadi pengen buru-buru cabut dari jakarta juga.” bank mengerang, menyapu rambutnya gusar. “dulu gue sempet kepikiran lanjut sekolah bisnis di US. harusnya gue nekat aja, ya, biar bisa kabur dari perjodohannya nyokap.”
“boleh dicoba,” sky mengedikkan bahu seraya mencomot sepotong kentang goreng di hadapannya.
bank melirik bright berulang kali sebelum berceletuk.
“win beneran gak bisa dateng, nih?”
belum ada jawaban.
“katanya dia ada acara yang gak bisa ditinggal,” sky menimpali.
“serius? tumben-tumbenan, tuh, anak. biasanya dia yang paling berisik kalo salah satu dari kita ada yang bail.”
“lagi sibuk kayaknya,” sahut bright hambar.
“hmm...” bank berdeham. “lo berdua nggak lagi berantem, kan?”
naas, itu adalah tebakan jitu.
bright bertukar pandang dengan sky, ragu-ragu.
“you’re right, something happened,” ia mendesah, rona wajahnya berubah muram. “ tapi gue gak tau harus cerita ke lo mulai dari mana.”
“ke gue?” kening bank berkerut, nadanya penuh penekanan. “berarti sky tau?”
sky membalas tatapan bank dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
“gue nembak win seminggu yang lalu, waktu dia mampir ke apartemen gue.”
sky meletakkan tangannya yang terkepal di depan mulut sementara mata bank membesar sebab buatnya, fakta barusan cukup mencengangkan.
“gue udah coba nembak dia beberapa kali sebelum hari itu kejadian, tapi karena waktunya nggak pernah pas, win nganggep gue cuma bercanda,” sambung bright melipat dua tangan di depan dada. “minggu lalu, waktu dia ke apartemen gue, dia kaget ngeliat barang-barang gue yang udah di -packing, sedangkan posisinya gue belum ngasih tau dia soal itali. i tried to confess once again, and…”
dua orang di hadapannya tidak perlu mendengar elaborasi dari kalimat terakhir buat tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“i knew it,” cetus bank sembari menyandarkan badan di kursi. “gue tau, pasti ada sesuatu antara lo sama win. tapi gue nggak berani nebak-nebak dan ngomong ke lo berdua karena pasti keadaannya bakal awkward.”
“lo tau dari mana?” sky angkat suara.
“it’s not that hard to guess,” kata bank singkat. “maksudnya, bandingin aja kayak gue sama lo, atau gue ke win. pas gue wisuda, lo bertiga ngasih gue papan bunga ‘happy graduation bastard’. kita ngasih sky stetoskop buat mainan anak-anak waktu dia sumpah dokter. tapi lo ngasih bunga, like freaking real flowers waktu win wisuda, di saat gue sama sky ngasih dia kaos ‘selamat jadi pengangguran’.”
bright tertawa mendengarnya. dia pun baru menyadari perasaannya ternyata segamblang itu.
“gue udah suka sama dia dari SMA,” lanjut bright pelan, sebaris senyum tipis menghiasi bibirnya. “tapi gue juga nggak tahu kenapa gue gak pernah berani ngomong yang sejujurnya. i guess, i was too caught up with my own thoughts... thinking that it might ruin our friendship.”
“tapi, bukannya waktu SMA lo jadian sama neen?” tanya bank.
“justru itu yang bikin gue tau bright suka sama win,” ini giliran sky yang menjelaskan. “waktu bright putus sama neen setelah mereka jadian sebelum kelulusan, gue tau masalahnya pasti bukan sekadar cocok nggak cocok kayak yang bright jelasin ke kita. dan pas gue tanya—” dia menoleh pada bright. “...tebakan gue bener.”
bright menegakkan bahunya, memandang bank dan sky silih berganti. “udah, lah. udah terjadi juga.”
dia menghela napas pelan. “sekarang, gue cuma berharap win masih mau temenan sama gue setelah kejadian kemaren. gue nggak akan berharap lebih dari itu lagi.”
bank dan sky bertukar pandang dengan wajah sendu.
“anyways, gue berangkat besok jam 8 malem. lo berdua wajib dateng, gue nggak mau sendirian di bandara,” ancam bright sambil menyeringai.
“gue pasti dateng,” jawab sky tulus.
“iya-iya. tenang aja, gue juga pasti dateng,” bank mengekori.
ketiganya tersenyum. dan saat bank mengangkat gelas birnya, dia bergumam,
“semoga win juga dateng, ya…”
— jakarta, 21 juni 2021
bank dan sky datang menjelang 30 menit bright harus buru-buru masuk ke pintu keberangkatan.
bright mengenakan kemeja hijau polos, membawa satu koper besar dan tas sandang di bahunya. dia langsung melambaikan tangan begitu melihat dua sahabatnya tiba. senyumnya tampak lebih cerah hari itu. usai berpamitan dengan kedua orang tuanya, dia menghampiri bank dan sky yang sudah berdiri sambil merentangkan tangan.
bright memeluk bank lebih dulu.
“thank you , bro. gila, gue bakal kangen banget dengerin ocehan lo,” bank tergelak sementara bright menepuk-nepuk punggungnya.
“mesti dimasukin guinness book record, nih, pengakuan lo,” cibirnya riang, lalu melonggarkan pelukannya. “take care, ya, bri.”
bright mengangguk lalu beralih kepada sky, melihatnya memiringkan kepala sebelum memeluknya juga.
“gue udah pernah bilang, kan, gue bangga banget sama lo?” sky tersenyum. “have a good time in milan . cari temen yang banyak, belajar yang bener. yang bagus diambil, yang jelek ditinggalin, oke?”
bright terkekeh, pelukannya mengerat. “lo juga, semoga cepet kelar residensinya, biar nggak dijadiin babu lagi. gak sabar pengen ngeliat lo nyandang gelar spesialis.”
“yah, kalo yang itu masih lumayan lama kayaknya,” sky tergelak sembari menarik diri. “sehat-sehat lo. kabarin kalo nanti udah sampe di sana.”
padahal, dia masih berada di sana, tapi rasanya dia sudah merindukan bank dan sky.
tak lama, bright memandang ke sekeliling, berharap menemukan win sebelum dia benar-benar terbang meninggalkan jakarta.
“dia beneran nggak dateng, ya?” gumam bright memalsukan sedihnya.
bank dan sky menjawabnya dengan mengedikkan bahu. tidak ada yang tahu. bright mengangguk, menarik pegangan kopernya untuk bersiap melangkah pergi. sudahlah...
“bright!”
bright menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
dan untuk pertama kalinya semenjak insiden itu, pandangan mereka kembali bersua. win metawin, dia berdiri di sana.
win mendekat, dan di setiap langkahnya, bright merekam figurnya baik-baik. matanya begitu lembut dan teduh, rahangnya yang tegas, tubuhnya yang kurus, bahkan harum yang menguar saat jarak di antara mereka tinggal beberapa meter saja.
“win, lo dateng?” adalah tiga kata pertama yang bright ucapkan.
bank dan sky diam-diam menjauh, memberi mereka privasi untuk berbicara berdua.
“mana mungkin gue nggak dateng,” seulas senyum kikuk terbit di wajahnya.
“jangan lupa, kalo udah jago nanti ajarin gue bahasa itali.”
bright tertawa kecil. dia menatap win lurus-lurus dan insting pertama yang muncul di benaknya saat itu adalah memeluknya dan tidak pernah melepaskannya lagi. maka ia melakukannya.
“makasih, win. gue pikir gue nggak bakal ngeliat lo sebelum gue pergi.” bright bergumam di telinganya, dua tangan melingkari tubuh win, merekam peluknya yang hangat. pemuda itu tidak perlu melihat wajah win untuk tahu dia sedang tersenyum.
“jangan gini, dong. nggak cocok vibe- nya sama lo,” ledek win mengelus punggungnya.
sejenak, mereka tak saling berbicara. hanya saling merengkuh.
“maaf, ya, bright, kalo waktu itu—”
“udah, win. lupain aja…” sela bright seraya memejamkan mata. “gue ngerti kalo lo nggak bisa ngeliat gue lebih dari sahabat lo.”
namun, lidah win kelewat kelu untuk mengatakan sebaliknya, kelewat bimbang dengan keadaan yang kadung rumit dan menyesakkan. kepergian bright ke italia, perasaannya, persahabatan mereka, semua terlalu tiba-tiba.
“...jangan ngerasa lo harus jawab pertanyaan gue waktu itu.”
lalu bright menarik diri, mengakhiri dekapannya dan tersenyum kepada win—meski senyum itu telah kehilangan sinarnya.
“sampai ketemu tahun depan?” tanya bright. bibirnya ditarik sedikit lebih lebar, lebih bahagia.
win mengangguk, sadar ada rasa yang tiba-tiba menelusup ke dalam buku-buku jarinya. bahagia, sedih, kecewa, marah, takut, bahkan rindu.
“sampai ketemu tahun depan.”
tetapi, hanya itu yang sanggup dikatakannya.
bright meraih kopernya, melihat ke arah sky dan bank yang sejak tadi menyaksikan mereka dari jauh untuk terakhir kali. sambil mengangkat tangan, bright berkata,
“gue pergi, ya.”
— milan, italia. 13 oktober 2021
pintu bus terbuka dengan desis hidroliknya, memenuhi paru-paru bright dengan udara kota milan yang menyambut usai berjalan menuruni bus. oktober di milan adalah musim gugur; sejuk nan nyaman di siang hari kemudian turun menjadi dingin hingga setiap orang mau tak mau mengenakan pakaian yang lebih hangat di malam hari.
destinasi bright hari ini adalah katedral milano, salah satu bangunan termasyhur di seluruh eropa yang terletak di pusat kota milan. bright berniat memulai sketsa arsitektur neoklasiknya dengan mereferensikan bangunan-bangunan tahun 1750 hingga 1850an.
pemuda itu mengenakan celana jins gelap, rompi rajut abu-abu dan mantel coklat tua. bahu kirinya menyandang drafting tube sementara bahu kanannya menenteng tas selempang berbahan kulit yang berisi sketsa gedung-gedung hasil goresan tangannya.
sesampainya di sana, tampak puluhan orang lalu lalang, memenuhi sekitaran katedral yang luas dengan raut terkagum-kagum. bright pun begitu. kendati sudah empat bulan tinggal di milan, rasanya keindahan kota ini tak ada habis-habisnya.
bright melangkah mendekati monumen patung perunggu berkuda raja viktor emmanuel ii, kemudian duduk di tepiannya yang berbentuk persegi bersama beberapa orang lain. ia mendongak senang sambil mengeluarkan sketchbook dari dalam tas dan meraih sebuah pensil.
dipandangnya katedral milano dengan seksama dan mulai menggoreskan beberapa garis lurus guna memulai sketsanya.
jika sedang begini, pemuda itu akan berkonsentrasi penuh. satu jam akan terasa lima belas menit buatnya.
“i think now i understand why italy is so famous with its architectural achievements.”
jantung bright berdenyut lebih cepat tatkala suara itu beresonansi dengan sempurna ke telinganya. tangannya yang semula bergerak tanpa lelah membentuk goresan-goresan di atas kertas seketika statis.
dia tidak salah dengar, kan?
butuh beberapa saat sebelum bright memberanikan diri melirik laki-laki yang duduk di sebelahnya dan sekarang—jantungnya seolah berhenti berdetak.
“...i mean, look at this place. beautiful is an understatement.”
ya tuhan.
“win?”
“apa kabar?”
bright harus mengedipkan mata berulang kali karena takut ia hanya bermimpi. tapi senyum itu, pipinya yang tirus, juga garis-garis halus di sudut matanya yang teduh terlihat begitu nyata di hadapannya.
keduanya saling bertukar pandang sementara gelombang sukacita menerpanya. bright benar-benar tak menyangka akan menemukan win di sini, di milan, di depan katedral milano seolah hal itu adalah hal paling masuk akal.
“lo ngapain di sini?” dahi bright berkerut tak percaya.
“tebak,” win tersenyum lebar.
seandainya bright tahu, win juga sangat— sangat merindukannya.
“kalo gue nggak salah inget, perusahaan lo nggak punya hubungan bisnis sama itali. nggak mungkin lo ke sini buat kerja, kan?”
win tertawa kecil dan menggeleng, “i’m on vacation, can you believe it?”
“astaga, gue pikir gue barusan mengkhayal. ternyata lo beneran di sini,” seketika bright menyingkirkan sketchbook- nya dan memeluk win riang. win langsung membalasnya.
benar-benar reuni tak terduga.
“gaya lo ngelukis tadi udah kayak monet aja. cocok, sih, apalagi kalo nenteng-nenteng drafting tube gini,” seloroh win penuh jenaka.
“monet dari jakarta, ya?” sambung bright usai mengakhiri pelukan mereka. “sampe kapan lo stay di milan?”
“hmm, dua minggu? gue belum beli tiket pulang, sih.”
“lama juga, dong. berarti bisa jalan-jalan dulu ke banyak tempat. terus, lo nginep di mana?”
“salah satu penginapan murah deket central station.”
bright mengangguk. “gue kepikiran ngajak lo stay di apartemen gue, tapi baru inget gue ada flatmate. ” dia buru-buru menambahkan, “udah jalan-jalan ke mana aja, win?”
win bersedekap, berpikir sejenak. “karena ini hari kedua gue di sini, jawabannya belum. belum ke mana-mana.” ia tertawa renyah.
“any ideas?”
“since we’re in cathedral milano, let’s walk around here first,” bright bangkit, memasukkan sketchbook ke dalam tasnya. win memasang wajah antusias manakala mereka mulai melangkah bersama, mendekat pada megahnya katedral milano.
siang itu, cuaca milan sungguh bersahabat.
dan untuk beberapa waktu, mereka hanya melihat-lihat, walau jelas sekali ada banyak hal yang ingin sama-sama mereka utarakan.
“how’s jakarta? is it as wonderful as ever?” gumam bright usai mereka melintasi bagian depan katedral.
“masih banget. kapan, sih, jakarta berubah? masih macet, masih sumpek, panas. tapi masih jadi yang paling ngangenin,” win memandangi langkahnya lalu menoleh pada bright. “gimana itali? nyaman banget, ya, pasti?”
bright menyeringai. “yah, lumayan, lah. seenggaknya gue punya temen satu flat yang baik banget, jadi nggak terlalu ngerasa homesick. paling, gue masih perlu adaptasi sama makanannya. you know, european food can taste really bland sometimes.”
“padahal lo paling gak bisa makan kalo nggak pedes,” lanjut win mengenang hal yang paling dia ingat soal kebiasaan makan bright.
rasa senang tahu-tahu terbit di dada bright.
“eh, bank sama sky gimana? masih sering ngumpul bertiga, kan?”
“iya, masih, kok. oh iya, bank kayaknya beneran mau kabur ke US. udah nggak kuat dipaksa married sama nyokapnya,” kata win cekikikan.
“kabur aja, lah. daripada pusing.” bright ikut tertawa. “kalo sky gimana kabarnya?”
“sibuk banget. dia yang paling susah diajak kompromi kalo mau ketemuan. alesannya jaga klinik, lah. jaga rumah sakit, lah. sampe pernah gue sama bank ngajak dia ketemuan di kafetaria RS biar bisa tetep ngumpul bertiga,” cerita win panjang lebar.
bright mengukir seulas senyuman. “kangen banget ngumpul lagi sama kalian bertiga. sayang kita jadi jarang skype bareng gara-gara waktunya suka nggak klop.”
tak lama, bright mendongak. “mau coba ke duomo terraces, nggak? pemandangannya bagus banget. lo pasti nyesel kalo ke milan tapi belum pernah ke sana.”
win mengikuti arah pandang bright kemudian berkata, “hari ini, gue nurut ke mana lo ngajakin gue aja, deh.”
setelah melewati beberapa rute yang cukup panjang —sambil mengobrol tentang kabar keluarga, pekerjaan, hingga pengalaman pertama bright di hari pertamanya sebagai murid arsitektur—keduanya berhasil menapakkan kaki di atas rooftop duomo terraces.
hamparan langit luas membentang dan panorama kota milan langsung menyambut mereka.
dari jarak pandangnya, win bisa memetakan pilar-pilar berujung runcing yang berderet di sepanjang jalan duomo terraces, masih bagian dari katedral milano. rasanya seperti berjalan melalui hutan marmer yang halus.
bright benar, tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan pemandangan dari atas sana.
“ini namanya rooftop duomo terraces, jalanannya agak miring karena kita literally berdiri di atas atap,” jelas bright manakala keduanya menepi di susuran yang sepi. “kalo itu tempat kita duduk tadi, patung raja itali. gue lupa namanya siapa,” tunjuknya pada patung kuda di tengah-tengah keramaian.
“udah cocok ya, lo jadi tour guide, ” ledek win jahil.
“yah, walaupun baru empat bulan di sini, gue udah lumayan tau dikit-dikit, lah.”
kesunyian melambung saat mereka sama-sama terkesima. tetapi kesunyian itu— mungkin juga —adalah ujung dari tenggelamnya mereka dalam pikiran masing-masing. tentang hal-hal yang ingin diutarakan.
win menatap bright selama beberapa saat, lalu membelah bisunya.
“gue ke sini karena sebenernya ada banyak hal yang pengen gue omongin sama lo.”
bright tertegun.
“rasanya aneh banget kita ngomong kayak gini, padahal biasanya lo selalu ngusilin gue, ngeledek gue sampe gue marah,” ia tertawa, memalingkan wajah ke depan. “but, i think i deserve to know more about what i didn’t know from you.”
“gue akan jawab apapun yang pengen lo tanyain ke gue hari ini,” kata bright, berjanji.
win tersenyum sementara ia menimbang-nimbang pertanyaan pertamanya.
“may i know, when did you start…” ucapnya ragu-ragu.
bright menyambungnya, “start liking you?”
win mengangguk. keheningan menyelimuti lagi.
“gue nggak inget pastinya kapan, atau momen apa yang bikin gue akhirnya sadar sama perasaan gue ke lo. tapi waktu neen bilang dia suka sama gue, dan lo nyuruh gue buat nerima dia, gue marah sama diri gue sendiri.” kepala bright terteleng untuk memandangnya. “kayaknya karena lo sering bantuin gue ngerjain tugas bahasa inggris, deh. atau karena kita sering pulang bareng? ninggalin bank sama sky duluan gara-gara lo bilang di rumah lo lagi ada banyak makanan. jadi, sebelum bank ngabisin duluan, mending kita aja yang ngabisin duluan,” kenang bright, tak kuasa menahan dirinya turut tersenyum.
ditatapnya bongkahan awan yang lembut bergerak pelan usai tertiup angin. semilir itu turut menghembus anak-anak rambutnya.
“lo percaya nggak, kalo gue bilang, dulu gue juga suka sama lo?”
keduanya bertukar tatap sebelum win meneruskan, “gue pernah hampir nembak lo. sebulan sebelum kelulusan.”
“sebulan sebelum kelulusan?” ulang bright takut salah tafsir. “berarti nggak jauh dari—”
“hari yang sama waktu lo cerita neen nembak lo.”
kebenaran yang akhirnya terkuak juga. rasanya agak menyedihkan; fakta bahwa waktu tidak pernah berpihak pada mereka cukup menyedihkan.
“semenjak saat itu, gue pikir mungkin kita emang cuma ditakdirkan buat jadi dua orang temen baik. gue, lo, bank, dan sky. kita akan selalu berempat sampai kapanpun. gue nggak tau ternyata diem-diem, lo malah suka sama gue,” win tertawa menghumori.
“we’ve really been through a lot together, haven’t we?”
bright menurunkan pandangannya dan tersenyum miring. benar, begitu banyak hal yang telah mereka lalui bersama.
“ sorry, ya, win. gue malah bikin hubungan kita jadi rumit kayak gini.”
“gue juga minta maaf,” kata win, menatap bright lurus-lurus. “maaf kalo waktu itu, gue marah sama lo. mungkin karena campur kecewa juga, lo nggak ngasih tau gue soal s2 lo di itali.”
“maaf…”
“udah, gue udah nggak marah,” balasnya, tengil mendorong bahu bright dengan bahunya. “tapi, lo juga aneh, tau nggak? masa nembak anak orang pas lagi bersihin kotorannya bentley?” omelnya terus terang.
“oh, sama di igd juga, waktu jari gue hampir buntung. siapa coba yang bakalan percaya!”
“sorry-sorry,” bright balas terkekeh sementara ia menggestur dua tangan di depan dada seperti sedang minta ampun. dia lalu menghela napasnya. “setelah gue pikir-pikir, gue ngelakuin itu karena deep down gue takut ngerusak apa yang kita punya. gue takut kita malah awkward, terus lo ngehindarin gue. makanya gue nembak lo di saat-saat yang nggak seharusnya, jadi kalo gue ditolak, gue nggak malu-malu banget. saat-saat yang konyol, sih, lebih tepatnya.”
“kalo gitu, bisa nggak, sekali ini lo nembak gue lagi? tapi yang serius.”
bright terpaku, menatap win ragu dengan apa yang barusan dia dengar. jantung dan otaknya terlanjur gelagapan.
tetapi win sama sekali tidak sedang main-main—tidak saat dia sudah jauh-jauh terbang ke milan hanya untuk menemui bright, tidak setelah sekian tahun dirinya gagal membiarkan perasaan itu menguap bersama waktu. tidak saat ini.
“gue nggak salah denger, win?”
“ayo, gue tungguin, nih,” tantang win, bersikukuh dengan permintaannya yang sangat mengejutkan.
“lo beneran minta gue nembak lo lagi?” ulang bright kebingungan. “bentar, nembak yang serius kayak gimana, sih?”
win tersenyum penuh arti. dan lewat senyum itu, bright tahu, kehadiran win di hadapannya hari ini adalah untuk memberikannya momen ini.
“win metawin,” bright menelan ludah, lidahnya mendadak kaku sementara telapak tangannya langsung berkeringat. bahkan, jatungnya berdebar hebat—begitu hebat bagai menggedor-gedor tulang rusuknya.
tetapi, win masih menunggunya dengan sabar dan tulus.
“...gue kenal lo dari kita SMA. dari lo masih pake kacamata, pake celana abu-abu dan dasi kedodoran. dari gue yang nggak paham trigonometri terus minta ajarin lo sampai akhirnya sekarang gue sekolah arsitek di milan.”
“sombong,” sindir win sambil terkekeh geli. “ayo, lanjutin...”
bright tersenyum, kali ini, menarik tangan win ke dalam genggamannya.
di sana, di atas rooftop duomo terraces, di bawah langit azure nan mempesona, di tengah-tengah kota milan yang megah, bright berkata,
“gue sayang sama lo, win.”
ia mempererat genggamannya.
“and even if it takes me to... ngebersihin kotorannya bentley tiap hari, atau ngelap item-item di muka lo gara-gara lo bikin lasagna gosong, atau nemenin lo ke igd jam 2 pagi karena jari lo hampir putus, gue tetep sayang sama lo.” bright memberi jeda sejenak dengan terus menatapnya.
“and i want to experience all of that with you.”
sepersekian detik win menahan napas sebelum tawanya meledak untuk mengatakan,
“that was the most stupid love confession i’ve ever heard in my entire life.”
sama halnya dengan win, bright tak dapat mencegah tergelak bersamanya—binar kebahagiaan itu benar-benar nyata.
“oke.”
“oke apa?”
demi tuhan, dia ingin menghamburkan diri ke pelukan win saja sekarang.
“gue juga sayang sama lo, bright.” bright baru akan buka mulut saat win berkata, “ayo kita pacaran.”
bright mengerjap dan dalam satu gerakan frantik, dia memeluknya; merengkuh tubuhnya yang terasa tepat dan begitu sempurna dalam dekapannya.
ada sesuatu yang sungguh luar biasa dalam situasi ini; betapa menakjubkannya menerima cinta berbalas dari seseorang yang mengenalimu sedekat nadi. dan inilah dia, satu momen kebenaran dari lima kegagalan pernyataan cinta yang jenaka.
tuhan, terima kasih...
bright melonggarkan pelukannya, dua tangan bertahan di pinggang win sementara obsidiannya bergulir turun dari mata win ke bibirnya. keduanya mendekat, hidung saling menyapa dalam hening dan napas yang ditahan penuh gugup.
tetapi tidak mengurungkan bright mendaratkan bibirnya di bibir win. dia menciumnya, mencium manis dan lembut bibirnya, rasanya seperti gula yang meleleh.
lalu sekonyong-konyong, bright menarik diri.
“do you find it weird, kissing your best friend?” pemuda itu malah memanas-manasi.
win balas menantangnya, “shall we try again, then?”
kali ini, bright membingkai rahangnya, membelai bibir itu dengan ibu jarinya penuh kasih sayang. win memejamkan mata. hangat.
detik itu, bright mengecup bibirnya lebih pelan, lebih perlahan; melumatnya dengan segenap afeksi sementara jemarinya merangkum rahang win dengan dua tangan, mengarahkan wajahnya supaya dia bisa menciumnya lebih dalam.
“bright, we’re in public, do you remember?” kata win mengulum bibirnya geli.
tepat, begitu keduanya membuka mata, terdengar sebuah suara yang sungguh bright kenal berteriak menyergah mereka.
“heh! ngapain lo berdua di situ?!”
bright ingin menyumpah karena dipaksa menoleh pada momen paling krusial di hidupnya. begitu dia menengok… bukan, ternyata bukan seseorang. ada dua orang. dan bright tahu persis siapa mereka.
sialan.
“win, ini déjà vu nggak, sih?” bisik bright, satu alisnya menukik. “nggak mungkin itu bank sama sky, kan?”
win tersenyum semringah, sebagaimana kehadiran dua sahabatnya di milan kala itu adalah bagian besar dari rencananya.
maka sudah pasti, suatu gestur yang refleks jika saat itu win lantas menarik tangan bright dan berkata,
“lari!”
***
