Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-08-20
Words:
1,099
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
13
Bookmarks:
1
Hits:
296

Berharap Tak Raib

Summary:

Kenma yang terus menerus kehilangan uangnya memutuskan untuk membeli rumah baru, apakah ia akan aman di sana?

Work Text:

“Uang lo hilang lagi?”

Kenma melirik sembari mengangguk pelan, helaan napasnya mengudara. “Ya, padahal udah gue simpen di bawah bantal kayak saran lo kemarin.” Air wajahnya kini menampilkan kekesalan yang ia tahan sejak bulan lalu.

Bagaimana tidak? Beberapa waktu ini, Kenma menyadari banyak uangnya yang raib. Awalnya ia mengira, mungkin sudah dibelanjakannya untuk game terbaru. Namun, hari-hari berganti dan ia tetap kehilangan uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Sebenarnya ia tak khawatir dengan nominal yang hilang, namun ia merasa tak aman di rumahnya sendiri.

“Kayaknya gue pindah aja ga sih?” gumam Kenma.

Kuroo mengangguk sedikit dengan wajah meringis. “Hah, buset. Yakin? Apa ga terlalu berlebihan?”

Kenma menatap Kuroo. “Bagi gue sih ga. Lagian, uang gue juga ga bakalan habis cuman buat beli rumah,” balas Kenma. “Daripada nanti gue kenapa-kenapa, mending cabut dari sini.”

Kuroo tersenyum, hampir seperti menyengir. “Yaudah, nanti gue bantu pas pindahan, ye” ucap Kuroo sembari mengacak rambut Kenma.

Kenma membalas senyum, “Thanks, Kuroo.”

Kuroo melepas tangannya dari kepala Kenma lalu menatap ponselnya sejenak. “Gue cabut duluan, ya. Mau ketemu si burhan nih. Bawel banget dia, katanya kangen.”

“Iya, bye,” ucap Kenma sembari melambaikan tangan seiring Kuroo melangkah.

Tak sampai 15 menit berjalan, Kuroo sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Ia langsung masuk ke dalamnya dan naik ke lantai atas. Netranya menemukan kawannya di balkon.

Wellcome, jelek,” sambut Bokuto yang sedang menyalakan rokok.

“Anjing lo,” balas Kuroo.

Bokuto menyesap rokok perlahan, asap abu dihembuskannya perlahan. “Jadi dia bakalan pindah? Gue ga nyangka sih. Padahal dia bisa milih masang CCTV daripada pindah. Pilihan yang ekstrim.”

Kuroo mengambil sebatang rokok dari saku Bokuto lalu menyalakannya dengan korek. “Kenma emang gitu sih. Padahal duitnya baru ilang empat kali tapi dia milih pergi daripada perketat keamanannya. Yaudah lah, pilihan dia.”

Netra Bokuto melirik Kuroo dengan sinis, “Lo ga ngerasa bersalah sedikitpun ke dia?” tanyanya terhadap si surai hitam.

Kuroo tertawa mendengar hal yang baru saja diluncurkan oleh lisan Bokuto untuknya, matanya memincing. “Agak merasa sih tapi seru.”

“Lagian, emang lo sendiri ada gitu perasaan bersalah buat dia? Ga 'kan? Yaudah, sama,” lanjutnya sembari menghembuskan asap ke wajah Bokuto. Membuat sang rambut hitam putih mendecih namun sehabis itu kembali menyunggingkan senyum miring.

Hari berlalu tujuh kali, terasa singkat bagi Kenma yang sibuk mencari rumah baru untuknya. Namun, ia telah menemukan sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan dan segera pergi ke sana untuk melakukan pembayaran.

Senyum Kenma mengembang sempurna sehabis melakukan pembayaran langsung untuk membeli sebuah rumah baru. Rasa riang tak dapat ia bendung lagi sampai-sampai ia membeli sebuah pizza mini untuk dirinya sendiri. Akhirnya rasa aman dan nyaman kembali merangkul Kenma dan ia tak perlu frustasi memikirkan uang-uang yang menghilang dari rumahnya.

“Untung lo tuh holkay ya, Ken. Beli rumah kek gini aja ga pake mikir dua kali.”

Sebuah suara tak asing berkicau di belakanganya, Kenma sampai tak perlu menengok untuk memastikan identitas sang sumber suara. “Lo agak telat ya, Kur. Katanya janji bantuin beres-beres pindahan?” ledek Kenma

“Gue ngambek dulu soalnya lo makan pizza ga inget temen,” balas Kuroo.

“Tinggal beli, elah. Biasanya lo juga nyemil kagak inget gue,” ucap Kenma sembari memutar bola matanya. “Dah, yuk, jalan-jalan ke PIM dulu. Ga usah diberesin, gue udah nyewa orang tadi. Nanti malem jadi, katanya.”

Kuroo hanya menuruti kata Kenma. Tidak seperti biasanya, Kenma kali ini memiliki tenaga yang meluap untuk bermain di game zone bersamanya. Kuroo menemaninya sepanjang hari tanpa terpisah darinya sampai malam datang. Kuroo berkata, ia tak bisa menjadi tamu pertama Kenma karena punya janji dengan Bokuto.

Sorry ya, gue malam ini ada janji nobar film horor bareng si burhan, mumpung maljum.”

Kenma tersenyum, “Santuy aja. Gih, nanti si burhan ngomel gegara lu telat dateng.”

Kuroo tersenyum lalu berpamitan dengan Kenma, ia menancap gas mobilnya dan terkekeh kecil sembari menikmati angin malam.

“Kenma, Kenma. Bisa-bisanya lo ga curiga samsek?”

Mobilnya tak berhenti di depan rumah Bokuto, melainkan di sebuah hutan dekat sana. Ia berhentikan tanpa khawatir sedikit pun dan pergi dari mobilnya. Menyelusuri semak-semak tajam yang terkadang menyangkut di pakaiannya lalu masuk ke sebuah gubuk kosong.

“Lama banget sih?”

Kuroo terkekeh. “Sorry, abis jalan sama tuan muda.”

Bokuto mendengus kesal, “Noh, kainnya di sono. Cepetan.” Jari telunjuknya mengarah ke sebuah kain hitam yang cukup besar.

“Lah, gue lagi? Yaudah deh.” Kuroo mengambil kain tersebut lalu membungkus dirinya. Matanya sempat melirik Bokuto yang sedang menyalakan lilin.

“Hana yata andapan, mungging wana mangaji ilmu badala putra manjalma … ” Mereka meramalkan beberapa mantra dan perlahan sebuah asap mengerubungi Kuroo lalu ia menghilang dan menjadi seekor babi dengan dua kaki depan berupa tangan manusia dan dua kaki belakang berupa kaki manusia.

Bokuto tersenyum puas, “Ayo, Kuroo.”

Babi itu mengangguk, ia berjalan dan menembus tembok lalu berlari dengan sangat cepat. ia berlari tanpa cemas akan menabrak karena apapun yang ada di hadapannya bisa ia tembus tanpa bersusah payah.

Ia berhenti di sebuah rumah besar yang tak lagi asing baginya. Matanya menjelajah setiap sudut perkarangan rumah itu lalu menggosokkan tubuhnya pada tembok rumah itu. Asap abu kembali memeluknya dan ia berhenti menggosok.

Langkahnya kembali ia jalankan, masuk ke dalam rumah tersebut dengan cara menembus tembok yang ternyata terhubung pada dapur. Sebuah meja makan dengan gelas-gelas kaca yang cantik didekatinya dan langsung ia hancurkan gelas-gelas itu. Suara pecah memenuhi seisi ruangan, babi itu menutup matanya dan raganya menghilang.

Sementara itu, Kenma yang baru saja membuka komputernya terkejut. Jantungnya berdebar hebat, entah mengapa hawa sekitarnya terasa dingin saat ini. “Kok ada suara gelas pecah, ya?”

Ia menelan ludahnya dan berjalan ke arah dapur, matanya terbelalak hebat melihat pemandangan di hadapannya. Ia yakin, ia yakin tempat menaruh gelasnya tak mungkin rusak dan membuat gelasnya pecah berhamburan seperti ini. “Ini kenapa!?” ucapnya setengah berteriak karena terlalu terkejut.

Kenma berlari menuju kamarnya dan membuka lemari pakaiannya. Tangannya melempar semua baju yang ada di sana, berupaya mencari benda yang ia simpan namun nihil. Benda itu tak ada di sana.

“Uang gue hilang lagi?”

Raganya ia kembalikan ke depan komputernya, mengarahkan kursor pada sebuah aplikasi dan membukanya. Menampilkan video dari CCTV-nya. Ia mundurkan dan memutar ulang. Netranya membelalak melihat sesosok bayangan hitam masuk dan berlompatan di atas mejanya. Ia coba memutar ulang lebih pelan namun pandangannya tak dapat mencerna wujud dari makhluk tersebut. Napasnya tercekat, keringatnya bercucuran. Ia takut. Ia sangat takut.

Sementara itu, Bokuto berdecih menunggu babi di hadapannya bangun dari pingsannya. “Woy, Kuroo. Elah, kenapa sih lo kalau pingsan lama bener?”

Mata sang babi sedikit terbuka dan membuat Bokuto menyunggingkan senyum. Ia berbalik dan meniup lilin yang dijaganya sedari tadi. Awan hitam kembali memeluk babi itu lalu ia kembali ke wujud asalnya. Kuroo melepas kain hitamnya, dan terlihat puluhan lembaran uang merah di sana.

“Kerja bagus,” ujar Bokuto sembari menyeringai