Actions

Work Header

No Regret

Summary:

"Kukira aku akan berubah pikiran setelah kencan pertama. Namun, ... melihatmu, aku hanya ingin bersamamu terus. Aku sama sekali tidak menyesal sudah berkata 'iya'."

Notes:

Prompt:

 

 

 

 

Single dad Namjoon, kindergarten teacher Yoongi, little Taehyung as Namjoon's son. Taehyung jadi mak comblang karena dia sayang banget sama Yoongi, gurunya di TK. Namgi bad at flirting but they're cute, that's why Taehyung comes to help.

Dw: fluff, crack, a little touch of insecurities maybe (optional), intinya mah namgi flirting lucu bego, ada member lain yang jadi temen mereka juga boleh, rate sfw/nsfw bebas sesuka author aja.
Dnw: melanggar rules.

Work Text:

“Papa!”

Namjoon terbangun cepat sekali dari yang sudah-sudah. Dia langsung duduk dengan erangan di mulutnya.

"Ya, Papa sudah … bangun, Sayang …," begitu sahutnya, tetapi kantuknya belum hilang sehingga kepalanya tertunduk lagi.

"Papa, ih! Taetae mau BAB!"

Pipinya dipukul dan Namjoon terpaksa bangun. "Hah? Apa? Kamu kenapa?"

"BAB!" seru anak di hadapannya, menjawab pertanyaan linglung Namjoon.

"Oh, ya. Astaga, maafkan Papa. Oke, sebentar, ya."

Namjoon menguap lebar lalu meregangkan punggungnya sebentar. Barulah ia menggendong anak umur tiga tahun itu ke kamar mandi.

Sebisanya Namjoon mengurus anaknya yang sedang BAB itu. Rasanya beberapa tahun terakhir ini berurusan dengan poop, Namjoon masih belum terbiasa. Namun, apa daya. Namjoon tahu ini takdirnya sebagai ayah tunggal dan dia tidak bisa bergantung kepada siapa pun lagi selain dirinya sendiri.

Anaknya itu sekalian dimandikan. Namjoon terpaksa bergabung karena dia harus menghemat air panas. Berbahan satu bath tub, Namjoon duduk di satu sisi, berkali-kali ia menggosok wajahnya supaya bisa betul-betul bangun.

Kim Namjoon namanya. Dia adalah seorang pegawai di perusahaan swasta, bekerja di bagian finance. Dan saat ini, Namjoon sedang memegang titel sebagai seorang ayah tunggal.

Tiga tahun yang lalu, Namjoon punya seorang kekasih. Kekasih yang sangat ia cintai, lebih dari apa pun. Mereka telah bersama lama sekali, berbagi banyak kisah bersama, bahkan malam yang penuh cinta. Ketika Namjoon tahu kekasihnya itu mengandung buah cinta mereka di perut, Namjoon pun berjanji untuk menikahinya setelah anak mereka lahir.

Tiga tahun lalu, Namjoon masih punya banyak keterbatasan. Kekasihnya pun mengerti itu. Itu sebabnya mereka sama-sama setuju untuk menggelar pernikahan setelah buah hati mereka lahir. Semuanya sudah terencana dengan baik. Namjoon masih ingat perasaan bahagia menanti-nanti buah hati dan pernikahannya secara bersamaan.

Namun, Namjoon tak mengerti mengapa, sepertinya takdir sedang ingin menguji Namjoon. Saat itu musim dingin, dua hari sebelum tahun baru. Namjoon sedang menunggu di depan ruang bersalin, merasa gugup karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan manusia kecil baru yang akan ia cintai di sisa hidupnya.

Ketika dokter yang bertanggung jawab atas persalinan sang kekasih keluar, Namjoon berdiri tegak dan berusaha menahan senyum. Ia akan menjadi seorang ayah, astaga, Namjoon akan menjadi seorang ayah! Namjoon sudah sangat siap bertemu dengan buah hatinya dan bertanya apakah dia boleh masuk atau tidak.

Dokter itu membolehkan, tentu. Namun, jika dipikir kembali, memang sangat aneh mendapati dokter itu tidak ikut tersenyum seperti Namjoon. Pada saat itu lah Namjoon tahu bahwa jumlah orang yang akan Namjoon temui dari ruang bersalin itu tetap satu, bukan dua.

Namjoon tentu merasa sangat terpukul. Meski anaknya lahir dengan normal dan sangat sehat, Namjoon tidak bisa menahan air matanya. Ia mendekap bayi merah itu di dadanya, menggumamkan kata maaf yang tiada putus. Sang ibu meninggal di atas meja bersalin, telah berjuang sangat kuat agar anaknya bisa hidup ke dunia meski sampai harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Keluarga kekasihnya pun merasa terpukul, tentu. Ingin menyalahkan Namjoon pun tidak bisa karena ini bukan salahnya. Maka, setelah pemakaman digelar, keluarga kekasihnya meminta agar bayinya menetap di kediaman kakek-neneknya dari ibu. Dengan wajah yang tidak sanggup berbahagia, Namjoon menyetujui itu tanpa banyak berpikir. Lagipula, bukan berarti Namjoon bisa mengurus bayi merah itu sendirian.

Meski begitu, dua orang tua kekasihnya memberi Namjoon kesempatan untuk memberi nama kepada bayinya dan Namjoon mengatakan bahwa mendiang kekasihnya sudah memiliki nama yang mereka setujui bersama sebelum datang masa kelahiran sang buah hati.

Kim Tae Hyung. Nama itu memiliki arti ‘seluruh keinginannya akan terkabul’ atau ‘semua urusannya akan terselesaikan sampai akhir’.

Selama satu tahun awal kehidupan Taehyung, dia tinggal bersama nenek dan kakeknya. Bagaimanapun, Namjoon tetap mengunjunginya secara rutin, ikut andil dalam memenuhi beberapa kebutuhan sang bayi seperti susu, pakaian, dan mainan.

Selama satu tahun itu juga Namjoon menempa dirinya menjadi ayah yang lebih baik. Ia lulus dari kuliah administrasi bisnisnya dengan predikat bagus dan diterima di perusahaan ternama pula. Kemudian, ia juga menjaga hubungan baik dengan Taehyung, kerap mengingatkan kepada sang anak bahwa ayahnya adalah Namjoon, bukan kakeknya.

Hingga pada tahun kedua, kakek Taehyung sakit dan neneknya kewalahan jika harus mengurus bayi juga. Maka giliran Namjoon yang diberi kepercayaan untuk membesarkan Taehyung seorang diri sebagaimana seharusnya.

Well, banyak sekali tantangan dan rintangan yang perlu dihadapi Namjoon. Pemasukannya masih bergantung pada pekerjaan active-income. Itu sebabnya Namjoon perlu mencari cara agar Taehyung tetap aman selama Namjoon bekerja. Setelah beberapa daycare dicoba dan banyak sekali yang tidak sesuai ekspektasi Namjoon seperti lokasi dan operasional, hingga ketidakcocokan dengan selera Taehyung, Namjoon baru menemukan tempat yang tepat setelah beberapa bulan. Sunshine Daycare, namanya. Di sana lah Taehyung menetap selama Namjoon pergi kerja, sampai sekarang.

Namjoon tidak pernah punya waktu untuk mereka ulang kehidupannya. Namun, sekalinya punya, ia selalu diinterupsi (seperti sekarang, Taehyung baru saja memuncratkan air ke wajahnya) agar Namjoon kembali menghadapi realita dan tidak berlarut-larut meratapi masa lalu. Kekasihnya sudah pergi dengan tenang di atas sana. Namjoon tidak bisa membuatnya tidak tenang dengan tidak membesarkan Taehyung dengan baik.

Maka setelah beberapa menit di dalam bathtub, Namjoon kembali menghadapi realita dengan menggosok tubuh Taehyung bersih-bersih dan menggosok tubuhnya juga dengan baik. Setelah membilas tubuh dan sikat gigi, barulah mereka dibalut dengan handuk dan berpakaian dalam waktu yang sama.

“Papa, hari ini Taetae mau pakai kaus kaki hijau,” kata Taehyung ketika Namjoon meletakkan bajunya hari ini di atas kasur. Bibirnya mengerucut maju begitu melihat Namjoon mengeluarkan kaus kaki warna kuning.

Namjoon berhenti merogoh ke dalam lemari begitu mendengar kata-kata Taehyung. “Kaus kaki hijaunya masih basah, Sayang. Tadi malam Papa baru jemur.”

“Tapi yang hijau 'kan favorit Taetae!”

Namjoon hanya mendesah mendengar seruan itu. Maka setelah dirinya sendiri sudah pakai kolor, ia mengenakan baju untuk Taehyung tanpa memberi jawaban. Kemudian, ia pun berhenti ketika Taehyung tinggal pakai kaus kaki.

“Oke, dengar. Sekarang Papa mau pakai baju dulu. Sambil menunggu, silakan putuskan keinginanmu. Apakah kamu mau pakai kaus kaki kuning yang kering atau kaus kaki hijau yang basah? Nanti Papa pakaikan sesuai dengan yang kamu pilih. Mengerti?”

Namjoon tidak merasa perlu menunggu jawaban Taehyung karena anak itu sudah berpikir duluan. Sambil duduk di atas kasur, anak itu memandangi kaus kaki kuning di hadapannya dan kaus kaki hijau yang ada di jemuran bergantian. Bibirnya tidak berhenti dimajukan. Mungkin bagi Taehyung, pilihan itu adalah pilihan paling menyulitkan dalam tiga tahun hidupnya.

“Bagaimana? Sudah memutuskan?” tanya Namjoon ketika ia sedang mengikat dasi.

“Kalau hari ini Taetae pakai warna kuning, besok Taetae boleh pakai yang hijau, gak?” Taehyung balas bertanya.

“Boleh, Sayang. Besok yang hijau kering, kok.”

Taehyung terdiam sesaat. Bibirnya masih mengerucut. Hingga akhirnya dia mengambil kaus kaki kuningnya dan berkata, “Ya sudah. Kalau begitu Taetae pakai ini saja.”

“Oke.” Namjoon tersenyum lebar. “Kamu bisa pakai sendiri, kan? Papa mau siapkan sarapan dulu. Tas kamu ada di meja kerja Papa.”

Setelah mendapat anggukan kepala dari sang anak, Namjoon langsung keluar dari kamarnya dan mulai berkutat di dapur. Namjoon tidak bisa masak, maka untuk sarapan biasanya dia hanya akan menyiapkan buah potong dan semangkuk sereal untuk Taehyung. Jika tidak ada sereal, maka Namjoon akan mengoleskan selai stroberi di selembar roti dan segelas susu untuknya. Syukurnya, Taehyung tak pernah protes meski sarapannya hanya berputar-putar di sekitar menu itu.

Tidak lama kemudian, Taehyung pun keluar dari kamar sambil membawa tas bergambar karakter animasi Ghibli Totoro kesukaannya. Namjoon sudah mengemas apa-apa yang dibutuhkan di dalam tas itu sejak semalam. Sisanya, jika Taehyung ingin membawa mainan atau stiker pilihannya, itu terserah Taehyung.

Namjoon baru selesai mencuci dan memotong buah stroberi ketika anak itu berjalan menuju dapur dan Namjoon tersenyum begitu melihat kaus kaki kuning yang Taehyung pakai. Bagian tumitnya ada di atas dan menurut Namjoon, anaknya itu terlalu menggemaskan.

Maka sebelum dia menuangkan susu di sereal Taehyung, Namjoon mengambil tas Taehyung dari tangan mungilnya dan ia mengangkat Taehyung untuk didudukkan di kursi makan khususnya. Tak lupa dengan memberikan sebuah kecupan di pipinya yang gembul hingga Taehyung cekikikan di tempatnya duduk. Barulah Namjoon membetulkan letak bagian tumit kaus kaki Taehyung, diputar ke tempat yang seharusnya.

“Pintar, ya, anak Papa sudah bisa pakai kaus kaki sendiri,” ucap Namjoon dengan sebuah senyuman lebar di wajahnya. Lesung pipinya sampai muncul indah sekali.

“Di daycare kemarin, Taetae bisa pakai celana sendiri, loh!” sahut Taehyung dengan bangga.

“Benarkah? Tuh, kan. Papa juga sudah bilang, kamu tuh pintar.” Namjoon mencolek pipi Taehyung sebelum dia tuangkan susu di sereal Taehyung. Kemudian ia sorongkan mangkuk itu setelah memasang kain serbet di depan baju Taehyung agar anak itu bisa makan tanpa khawatir mengotori baju.

Seperti yang mereka lakukan setiap pagi, keduanya sarapan di meja island dapur yang menjadi meja makan mereka. Namjoon juga makan sereal, tetapi dia menyandingkannya dengan kopi hitam yang dia seduh sendiri. Sambil menyuap, dia tak melepaskan mata dari Taehyung. Anak itu makan dengan lahapnya. Jika mangkuknya terdorong terlalu jauh, Namjoon akan mendekatkannya lagi ke depan perut bulat anak itu. Melihat Taehyung yang tak pernah punya masalah ketika makan sangat menghangatkan hati Namjoon.

Setelah selesai sarapan, barulah mereka berangkat. Tidak seperti anak lain yang dijemput oleh jemputan daycare ke rumah, Taehyung diantar langsung oleh Namjoon karena jadwal pekerjaan Namjoon sangat pagi. Hanya Sunshine Daycare yang buka sepagi itu di tempat mereka tinggal. Maka Namjoon akan naik sepeda setelah meletakkan Taehyung di keranjang sepeda di depannya, membiarkan anak itu tertawa-tawa menikmati angin pagi.

Jarak antara rumah ke daycare membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan sepeda. Kemudian, dari daycare, Namjoon akan naik sepeda menuju stasiun subway terdekat, menyimpan sepedanya di tempat penitipan, lalu naik subway menuju distrik tempat kantornya bekerja yang jaraknya cukup melewati empat stasiun.

Seperti itu kebiasaan Namjoon setiap hari. Jika dibilang capek, jelas capek. Namun, bukan berarti Namjoon bisa protes. Setiap hari dia harus berangkat pagi dan pulang menjelang malam. Taehyung jadi selalu pulang paling terakhir di daycare-nya. Untung saja Taehyung tak pernah masalah jika diminta untuk main sendiri. Dia sudah biasa melakukannya. 

Dan hal lain yang Namjoon syukuri adalah karena adanya seorang guru di daycare yang selalu menjaga Taehyung dengan baik sampai Namjoon pulang bekerja. Dia adalah …

“Papa, turunkan aku!”

Namjoon berkedip. Dia sudah mengayuh jauh sampai daycare dan malah berhenti di depan pintu masuknya terlalu lama. Sedangkan Taehyung masih duduk di keranjang sepeda.

“Oh, ya. Maaf, maaf. Papa agak melamun barusan,” katanya penuh maaf sambil menurunkan Taehyung. Lalu ia menuntun sang anak ke dalam.

“Selamat pagi, Taetae.”

“Yoonie Seonsaengnim!” Taehyung menjerit girang dan langsung memeluk kaki guru daycare yang baru saja menyapa dengan lembut.

Menatap sang guru, Namjoon menelan ludah. “Ha-halo,” ia ikut menyapa, membungkukkan sedikit badannya.

Guru itu tertawa kecil dan membantu Taehyung membuka sepatu. Setelah sepatunya copot, Taehyung langsung melesat menuju kelasnya, tak ingin repot menunggu gurunya ikut. Itu karena anak itu tahu, gurunya pasti akan meluangkan waktu untuk ayahnya dulu.

Ya, gurunya. Seorang lelaki yang sebaya dengan Namjoon. Namanya Min Yoongi.

“Selamat pagi, Kim Namjoon- ssi .” Yoongi membungkuk sopan. Ada senyuman di wajahnya yang putih seperti porselen.

Namjoon hanya diam menatapnya, tak tahu mengapa dirinya selalu seperti ini di hadapan Yoongi. Sekarang, Namjoon menjadi kaku dan ia tak tahu harus menjawab apa karena seingatnya dia sudah menyapa dengan ‘Halo’.

Yoongi yang sadar diperhatikan seperti itu masih memasang senyum, tetapi lebih merasa bingung tak habis pikir. “Um, terima kasih sudah mengantar Taehyung lagi pagi ini. Tidakkah … kau harus mengejar kereta?”

“Oh.” Namjoon berkedip lagi. “Oh, iya. Maaf, aku … kalau begitu aku titip Taehyung. Mohon bantuannya, seperti biasa. Sampai jumpa!”

Setelah berkata begitu, Namjoon bersegera keluar dari daycare, mengambil sepedanya dan melesat menuju stasiun subway tujuannya.

Yoongi pun terdiam menatap kepergian ayah Taehyung itu dengan kepala miring. Seperti biasa, Kim Namjoon datang mengantar Taehyung ke daycare yang masih sepi dan Taehyung selalu menjadi yang pertama datang dan yang terakhir pulang sekaligus. Beruntungnya, anak itu sudah sangat biasa, sampai-sampai menganggap daycare itu seperti rumah keduanya.

Belum sempat Yoongi melakukan apapun untuk menyiapkan daycare hari ini, Taehyung sudah berdiri di dekat kakinya lagi. Yoongi bertatapan dengan dua mata bulat itu dengan alis terangkat.

“Ayahmu baru saja pergi, Taetae. Kenapa? Butuh sesuatu?” tanya Yoongi sambil mengusap pucuk kepalanya.

Taehyung menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Yoongi pun mengerutkan keningnya bingung. “Lalu, ada apa?”

Kemudian, dengan manik cerah, Taehyung mengatakan secara lantang, “Papanya Taetae suka sama Yoonie Seonsaengnim, loh!”

 

***

 

Namjoon menggosok wajahnya yang lelah di hadapan komputer entah sudah berapa kali. Kopi di sampingnya ia sesap sesekali untuk menghilangkan pening dan rasa tidak fokus. Padahal sudah beberapa jam Namjoon masuk kantor, tetapi fokusnya tak kunjung kembali.

Isi kepala Namjoon memang sedang kacau akhir-akhir ini. Ia memikirkan Taehyung, pekerjaannya, sesekali pula mengingat masa lalu indah bersama mendiang kekasihnya. Seharusnya itu sudah biasa. Namun, akhir-akhir ini, Namjoon merasa ada yang berbeda. Terlebih tiap setelah Namjoon mengunjungi daycare, Namjoon selalu merasa ada yang aneh dari dalam dirinya.

Jujur saja, ia tidak tahu sudah berapa kali ia membeku di hadapan Yoongi. Kejadian tadi pagi adalah kejadian yang kesekian kalinya, dimana Namjoon akan merasa tubuhnya terkena korslet setiap matanya mendarat ke arah Yoongi. Taehyung sudah masuk ke daycare itu selama beberapa bulan dan akhir-akhir ini, setiap kali melihat Yoongi di pagi dan malam harinya, perubahan pada diri Namjoon akan terjadi.

Bicaranya akan menjadi kaku, dadanya bergemuruh kencang, dan pipinya memanas. Apalagi jika Yoongi tersenyum, darah Namjoon akan berdesir halus.

Memikirkannya lagi, tentu Namjoon jadi semakin tidak fokus. Perasaan dalam dadanya ini terasa familier, tetapi Namjoon sudah lupa. Perasaan apa itu?

Apa yang Namjoon rasakan terhadap Yoongi, sampai-sampai Namjoon mengalami malfungsi beberapa minggu terakhir ini?

 

***

 

“Hei, Hyung." Rekan kerja Yoongi di daycare, Jung Hoseok, menghampiri Yoongi yang sedang membereskan ruang bermain selagi anak-anak tengah tidur siang. "Kau kelihatan kurang fokus seharian ini. Kenapa?"

Yoongi melirik Hoseok yang mulai ikut membantunya membereskan mainan. Yoongi kelihatan ragu, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.

Dan Hoseok menyadari itu. Ia pun langsung menahan tangan Yoongi dan mengajaknya duduk di depan meja mewarnai.

"Kau tahu kau bisa ceritakan semuanya kepadaku. Ada apa, Hyung?"

Yoongi menarik napas dalam-dalam. Kepalanya tertunduk. "Taehyung mengatakan hal aneh pagi ini."

"Oh, Kim Taehyung? Dia bicara apa?"

Yoongi menatap Hoseok tepat di mata sebelum menjawab, "Katanya, ayahnya menyukaiku."

Kerutan di kening Hoseok menunjukkan bahwa dia sama bingungnya. Namun, ketika Hoseok mengatakan, "Oh, ayah tunggal yang hot itu? Wow, selamat, Hyung!" Yoongi sadar bahwa jalan berpikir mereka sedang berbeda sekarang.

"Ayah tunggal yang hot? Sejak kapan kau menyebut Kim Namjoon seperti itu?"

Hoseok mengembuskan tawa. "Sejak dia datang ke daycare ini, duh. Semua pegawai bahkan bos kita menyebutnya itu."

"Bahkan Seokjin?" tanya Yoongi tak percaya, lebih-lebih setelah mendengar bahwa 'bos' mereka juga ikut-ikutan.

"Iya. Kau sadar mengapa Taehyung selalu menjadi favorit kita, kan? Kukira karena kau sadar bahwa ayahnya masih single dan super hot."

Yoongi berkedip. "Aku … aku menyayangi Taehyung karena dia adalah … Taehyung. Lagipula, anak itu selalu sendirian karena datang duluan dan pulang terakhir. Mau tidak mau Taehyung harus diberi perhatian ekstra. Aku sama sekali tak pernah memikirkan tentang ayahnya. Itu tidak sopan, Hoseok."

"Well, selama kita diam-diam saja, tidak akan jadi masalah jika memujanya dari jauh," jawab Hoseok santai. "Lagipula, kami semua tak pernah dapat kesempatan untuk bicara dengan pria itu karena setiap kali dia datang, selalu kau yang berhadapan dengannya. Jadi jika ayah Taehyung bisa sampai betulan suka, itu masuk akal."

"Apa maksudmu masuk akal? Kami hanya bertemu singkat dua kali sehari. Itu tidak cukup untuk membuatnya suka. Aku juga … tidak attractive."

Tepat Yoongi bicara begitu, Hoseok memandangi Yoongi dari atas sampai bawah, seperti sedang memeriksanya. “Apa?” tanya Yoongi jengkel karena Hoseok tak pernah percaya kata-katanya.

“Meski kau mengenakan celemek yang bertuliskan ‘Yoonie Seonsaengnim’, aku tahu kau juga hot, Hyung. Jangan minder.”

Mendengar itu, Yoongi hanya mencibir. “Kau hanya mengatakan itu untuk membuatku baik. Aku tidak percaya.”

“Hei, Hyung. Aku sungguh-sungguh! Lihat dirimu. Mata sipit seperti kucing. Kulit putih berseri, hidung bulat, bibir merah, tubuh langsing, bokong keny--”

“Wow, oke. Berhenti di sana.” Yoongi terkekeh, menyiku lengan Hoseok. “Aku tidak ingin kau membicarakan bokongku.”

Hoseok ikut tertawa lebar. Namun, ia tetap melanjutkan, “Yang aku maksud, Hyung, kau juga hot, oke? Semua temanku hot dan kau adalah salah satunya. Jadi, jangan minder. Kim Namjoon takkan menyesal sudah menyukaimu.”

“Itu pun jika dia betulan menyukaiku.” Yoongi bergumam. Lalu, sedetik kemudian, ia terkekeh. “Dasar aku. Taehyung hanya anak-anak tapi aku terlalu memikirkan kata-katanya. Bisa jadi dia hanya asal bicara.”

Hoseok menggeleng lembut sebelum mengikuti Yoongi melanjutkan beres-beres. “Sejauh yang kutahu, Kim Taehyung bukan anak yang suka jail. Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kejujuran.”

Yoongi menggigit bibirnya. Pikirannya larut selagi tangannya sibuk memasukkan sejumlah mainan terakhir ke dalam kotak.

“Mungkin dia jujur, tapi apakah Taehyung sudah tahu soal ‘suka’?” ia bergumam, tak ingin membiarkan Hoseok mendengarnya. Rekannya itu tidak perlu tahu soal keragu-raguannya karena nanti Hoseok hanya akan terus mendorongnya.

Oke. Anggap saja Taehyung benar. Yoongi bukan berarti punya masalah atau apa. Yoongi tentu menikmati jika dirinya betulan disukai. Namun, justru itu yang Yoongi merasa ragu. Ia tidak yakin apa yang harus dia lakukan setelah mengetahui ini. Apapun itu, kurang lebih Yoongi hanya akan diam saja.

Dan pertanyaan lain kembali menghantui Yoongi. Apakah ayah Taehyung itu akan bergerak duluan atau Yoongi harus menekannya sedikit?

Tapi memang … bukan berarti Yoongi juga punya perasaan yang sama. Namjoon hot, tentu. Tapi …

Entahlah. Yoongi sedang tidak mau berpikir. Rasanya kurang terpuji jika ia sampai berani-beraninya suka kepada seorang orang tua murid.

 

***

 

Matahari sudah tenggelam. Namjoon pulang menggunakan subway dalam keadaan letih. Berdesak-desakan di kereta sudah bukan lagi masalah bagi Namjoon karena dia sudah sangat terbiasa. Begitu ia sampai di stasiun tujuan, Namjoon mengambil sepedanya dan mengayuh menuju daycare untuk menjemput Taehyung.

Daycare sudah hampir tutup. Semua teman Taehyung sudah pulang. Tinggal Taehyung sendirian, sedang bermain bersama mainan dinosaurus. Ia tampak asyik membuat roleplay dengan mainan-mainannya, terlalu asyik untuk diinterupsi. Maka Yoongi dan guru yang lain hanya menyibukkan diri untuk bersih-bersih sebelum pulang.

Yoongi sedang menyapu lobi daycare ketika Namjoon datang. Penampilan rapi pria itu telah berubah menjadi sedikit kacau setelah bekerja seharian. Blazernya dicopot dan disimpan di keranjang sepeda. Dasinya melonggar, nyaris copot. Kemudian lengan kemejanya digulung dan beberapa kancing teratasnya dibuka. Kim Namjoon setiap pulang kerja selalu seperti itu dan hari ini, Yoongi menatap pria itu terlalu lama.

"Um, hai? Aku di sini ingin menjemput Taehyung."

Yoongi berkedip ketika Namjoon sudah sampai di hadapannya. Keringat yang mengkilapkan kulit tan pria itu mengganggu fokus Yoongi dan bicaranya mendadak gagu.

"O-oh, iya. Sebentar. Aku panggilkan dulu."

Menyimpan sapu di dekat rak sepatu, Yoongi terbirit masuk untuk mengambil Taehyung. Anak itu berlari keluar dengan girang setelah tahu ayahnya menjemput. Yoongi pun mengikutinya di belakang sambil menjinjing tas dan lukisan buatan Taehyung hasil kelas melukis hari itu.

Taehyung menyambut ayahnya dengan pelukan erat di kaki. Namjoon pun menggendong anak itu untuk mencium pipinya gemas. Yoongi yang ada di hadapan mereka tersenyum dan memberikan barang-barang Taehyung yang hampir tertinggal di kelas itu.

"Wow, ini lukisanmu?" tanya Namjoon kagum begitu melihat hasil karya Taehyung. Lukisan abstrak namun warna-warni itu sangat menarik perhatiannya.

"Iya! Dibantu sama Yoonie Seonsaengnim!" jawab Taehyung semangat.

Yoongi memasang senyumnya lagi dan Namjoon berterima kasih kepadanya malu-malu.

"Aku hanya membimbingnya seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Itu adalah hasil jerih payah Taehyung." Yoongi mencoba bersikap rendah hati sebagaimana seharusnya.

"Yoonie Seonsaengnim, mau ikut makan malam sama Taetae dan Papa, gak? Taetae mau Yoonie Seonsaengnim ikut. Papa juga mau, kan?"

Namjoon berkedip, begitu pun Yoongi. Ada sedikit tanda kemerahan di pipi masing-masing, terutama Namjoon. Mendadak, suasana menjadi canggung dan sempat ada jeda sebelum Yoongi angkat suara.

"O-oh, maaf, Taetae. Aku masih harus di sini untuk beres-beres. Papamu juga pasti lelah. Kalian makan berdua saja di rumah, ya? Supaya cepat istirahat," tolak Yoongi sehalus mungkin. Ia menghindari tatapan Namjoon dengan berfokus kepada si anak umur tiga tahun.

"Tapi Taetae mau sama Yoonie Seonsaengnim." Taehyung mengerucutkan bibirnya. "Lagipula, Taetae sudah bosan makan malam berdua saja sama Papa. Taetae mau ada orang baru. Taetae mau sama Yoonie Seonsaengnim."

Namjoon dan Yoongi bertukar tatap sekejap sebelum mereka menghindar kontak mata lagi. Sungguh canggung rasanya.

"Na-nanti saja, bagaimana? Tidak hari ini, tapi lain kali. Itu pun … jika Seonsaengnim tidak keberatan." Namjoon angkat suara. "Kalau malam ini, Seonsaengnim tampak sibuk. Lain kali saja, ya?"

Yoongi mengangguk sebagai bentuk setuju atas tawaran Namjoon. Bukan berarti dia akan benar-benar ikut. Ini hanya supaya Taehyung tidak memaksa.

Anak itu masih menggembungkan pipinya karena kecewa permintaannya tak dipenuhi. Namun ia menatap Yoongi dan berkata, "Janji?"

Taehyung menjulurkan jari telunjuknya, ingin mengikat janji makan malam bersama Yoongi. Sang guru pun dengan mudah mengaitkan jari kelingkingnya yang lebih besar dari telunjuk Taehyung, mengikuti keinginannya.

"Janji. Sekarang Taetae istirahat di rumah, ya? Besok kita ketemu lagi. Oke?" Yoongi membuat bulatan dengan telunjuk dan jempolnya, membuat Taehyung mengangguk semangat. Anak itu sudah bisa tersenyum lagi.

"Oke!" Taehyung mengangkat dua tangannya, membentuk lingkaran di atas kepalanya sebagai simbol 'oke'. Barulah Namjoon pamit dan membawa Taehyung pulang. Yoongi terus memperhatikan mereka hingga sepeda Namjoon melaju cepat dan hilang dari pandangan.

Seperti biasa, Namjoon akan membeli makan malam di jalan pulang. Maka setelah mereka sampai rumah, Taehyung dan Namjoon akan makan dulu. Di tengah-tengah makan malam itu lah Taehyung bertanya kepada ayahnya.

"Papa, Papa suka sama Yoonie Seonsaengnim, kan?"

Namjoon yang sedang menyeruput jjajangmyeon langsung tersedak di tempat. Terbatuk-batuk, Namjoon sampai harus tertatih-tatih menuju kulkas untuk mengambil sebotol air minum. Setelah lega kerongkongannya, Namjoon langsung sewot.

"Ap-apa maksudmu bicara begitu? Dapat dari mana?"

Taehyung mengaduk-aduk mi miliknya tak selera. Bibirnya kembali teracung maju.

"Kelihatan jelas, tahu. Papa suka sama Yoonie Seonsaengnim. Padahal Taetae bisa bantu."

Namjoon pun kembali duduk di kursinya dan berdeham. "Papa tahu niat kamu baik tapi … Papa tidak suka Yoongi Seonsaengnim seperti itu, Sayang. Papa suka padanya karena … karena dia sudah mengurusmu dengan baik di daycare."

"Tidak! Papa suka sama Yoonie Seonsaengnim seperti Taetae suka sama Jiminie. Tadi siang Taetae ajak Jiminie nikah, terus Jiminie setuju dan cium bibir Taetae. Taetae mau Papa kayak begitu juga sama Yoonie Seonsaengnim," terang Taehyung tanpa ragu.

Lantas Namjoon terperangah mendengar kisah itu. "Kamu … kamu ajak Jimin apa?"

"Menikah!" Taehyung berseru. "Taetae suka banget sama Jiminie. Taetae juga tahu kalau Papa juga suka banget, kan, sama Yoonie Seonsaengnim?"

"Tapi tidak seperti itu, Sayang. Papa--"

Namjoon memotong ucapannya sendiri. Sudah malam dan Taehyung hanya membuat kepala Namjoon semakin pusing saja. Akhirnya dia menyerah dan tak mau melanjutkan pembicaraan itu. Meski Taehyung menekannya terus, Namjoon tidak menjawab. Ia merasa tidak perlu menjawab.

Taehyung yang kesal akhirnya berhenti karena tahu pasti ayahnya juga kesal. Akhirnya dia juga ikut menutup mulut, menampakkan kekesalannya dengan kerucutan bibir.

Namjoon memang kesal, tetapi ia tahu dia tak bisa marah kepada Taehyung selamanya. Maka ketika mereka mandi bersama sebelum tidur, Namjoon menghiburnya dengan menciumi permukaan muka Taehyung sampai anak itu cekikikan geli.

"Papa minta maaf sudah buat kamu kesal, ya. Papa hanya … tidak mau bicara soal itu," aku Namjoon kemudian. Taehyung didekap di pangkuannya.

"Tidak apa-apa. Mungkin … mungkin Taetae yang salah, sudah buat Papa marah. Taetae juga minta maaf, ya?"

Namjoon tersenyum mendapati ketulusan hati Taehyung. Setiap dia meminta maaf, dia akan mencium Namjoon tepat di bibir dan itu adalah salah satu dari sekian banyak kegemasan Kim Taehyung.

Kadang, melihatnya manis seperti itu, sungguh mengingatkan Namjoon kepada mendiang kekasihnya. Taehyung mirip sekali dengan wanita itu.

Namun, Namjoon tahu betul untuk tidak mengungkit apa-apa soal itu. Mereka pun tidur setelah tubuh mereka bersih. Namjoon juga memastikan agar semua keperluan esok pagi sudah selesai terpenuhi sebelum dia bisa bergabung dengan Taehyung yang sudah lama terlelap.

Ketika Namjoon bergabung di kasur, Taehyung secara otomatis bergelung di dekat dada Namjoon. Jempolnya masuk ke dalam mulut. Melihat buah hatinya tidur dengan tenang membuat Namjoon tak kuasa menahan untuk menyingkap poni bergelombang sang anak dan mengecup dahinya yang putih.

Sambil menunggu kantuk, Namjoon terus mengusap kepala sang bocah, membuat tidurnya semakin lelap. Kemudian, dari bibirnya, Namjoon berbisik.

"Jika pun aku betul menyukai Yoongi, apakah kamu rela … posisi ibumu tergantikan olehnya? Karena jujur saja, aku sendiri … masih belum yakin."

 

***

 

"Taetae punya Papa yang kesepian." Taehyung memulai sesi berceritanya di daycare.

"Oh? Kesepian kenapa? Bukankah Papa Taetae sudah punya Taetae?" tanya Yoongi, yang menjadi guru yang bertanggungjawab selama sesi bercerita, dengan alis terangkat.

Taehyung menggeleng halus. Wajahnya menampakkan keseriusan. "Taetae saja tidak cukup. Papa kesepian karena Mama sudah ada di surga."

Yoongi berkedip. Ia memandangi anak-anak yang lain karena jika Taehyung bercerita seperti itu, Yoongi tidak tahu harus merespons seperti apa.

"Tapi tidak akan jadi masalah jika Papa suka sama seseorang!" seru Taehyung kemudian. Mendengar itu, Yoongi menelan ludah. Tak ia sangka kata-kata seorang bocah malah membuat pipinya panas.

"Taetae tidak masalah jika Papa menggandeng seseorang yang dia sukai. Jika Papa menyukai seseorang, itu artinya orang itu tidak berbeda dari Mama, kan? Cantik dan baik, seperti malaikat. Taetae mau Papa bahagia bersama orang yang seperti itu. Jika Papa bahagia, Taetae juga bahagia."

Yoongi tersenyum penuh haru mendengar kata-kata tulus yang memang selalu keluar dari bibir Taehyung. Setelah memuji ceritanya dan meminta anak-anak yang lain tepuk tangan, Yoongi pun menunjuk anak yang lain untuk maju, mengganti giliran.

Taehyung yang sudah selesai bercerita langsung menjatuhkan diri di pangkuan Yoongi. Sang guru hanya tersenyum dan mengusap kepala Taehyung lalu mencium pucuk kepalanya seperti yang biasa ia lakukan.

Sambil mendengarkan kisah yang disampaikan oleh teman Taehyung yang lain, tiba-tiba telinganya mendengar bisikan.

"Seonsaengnim, Taetae mau bantu Papa bersatu sama orang yang dia suka."

Yoongi menghadap ke pangkuannya, tempat dimana Taehyung duduk. Anak itu sedang menengadah, menatap Yoongi dengan mata berbinar.

Taehyung tidak menyebut siapa orang yang ayahnya suka, tetapi Yoongi tetap merasakan pipinya memerah. Ia tidak ingin kelihatan gugup di depan Taehyung maka ia hanya merespons dengan, "Oh, ya? Bagaimana caranya?"

Ada kesan misterius dari cara Taehyung tersenyum ke arahnya. Lalu, anak itu berbisik lagi, "Taetae mau buat Papa ciuman sama orang itu."

 

***

 

“Taetae, ayahmu sudah datang,” kata Yoongi dari mulut pintu kelas.

Taehyung yang sedang gambar-gambar di buku gambar umum milik daycare menengok cepat begitu ia mendengar suara Yoongi. Lantas ia memasukkan semua krayon ke dalam tempatnya dan menutup buku gambar dengan rapi. Tasnya yang sudah rapi langsung dia seret dan Taehyung berlari mendahului Yoongi agar bisa segera sampai ke pelukan Namjoon.

“Papa, jangan lupa yang Taetae bilang kemarin,” bisik Taehyung kepada Namjoon yang tampak lelah sepulang kerja.

“Hah? Yang mana?” tanya Namjoon keheranan. Taehyung tidak naik ke gendongannya hari ini dan itu sangat aneh. Anak itu malah bersembunyi di balik kaki Namjoon sambil mencengkeram celana bahan sang ayah.

“Yang itu, loh! Cepat, Yoonie Seonsaengnim sudah ke sini!” Taehyung memukul-mukul kaki Namjoon agar pria itu maju, menjadikannya berhadapan dengan Yoongi yang baru saja datang untuk melihat mereka pulang. Sebelum Taehyung mendorong lebih jauh, Namjoon segera menahan kakinya agar diam tepat di hadapan Yoongi dan mereka berdiri lebih dekat dari biasanya hari ini.

“Oh, ma-maaf.” Namjoon terkekeh. Kakinya mundur sedikit karena Yoongi terlalu dekat. Rasanya sulit menutupi warna merah di wajah karena Yoongi sangat dekat dan dia sangat cantik.

“Kenapa? Tumben tidak langsung pulang?” tanya Yoongi dengan alis terangkat. “Kenapa kamu bersembunyi seperti itu, Taetae?”

“Papa mau bicara sesuatu kepada Yoonie Seonsaengnim!” ujar Taehyung semangat. “Taetae tunggu di belakang saja, ya.”

Kata-kata Taehyung itu tentu membuat Yoongi kembali menengadah menghadap Namjoon. Tanda tanya berlumuran di wajahnya, sedangkan wajah Namjoon hanya semakin merah saja.

“Oh, um … ja-jadi begini,” Namjoon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berkali-kali ia melirik ke belakang, tetapi Taehyung tidak meliriknya sama sekali, mungkin betulan berniat menunggu. Sedangkan Namjoon sesungguhnya tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Taehyung memang bicara padanya tadi malam. Soal dia ingin berlibur di rumah neneknya dari ibu akhir pekan ini. Jika Taehyung pergi, biasanya Namjoon hanya akan menggunakan itu untuk istirahat dan pergi bersepeda di sungai Han sebagai me-time. Namun, tampaknya, niat Taehyung pergi ke rumah Nenek bukan untuk Namjoon bersepeda sendirian.

Sekarang dia berhadapan langsung dengan Yoongi yang membuatnya eror akhir-akhir ini. Namjoon tentu tahu apa maksud Taehyung. Dasar, anak itu. Dia terlalu mengurusi kisah cinta ayahnya yang tidak penting.

“T-Taehyung akan pergi ke rumah neneknya akhir pekan ini. Aku … aku hanya berpikir jika … apakah … ap-apakah kau ingin … um, itu pun jika kau tidak sibuk atau … atau agendamu kosong. A-aku ingin … aku ingin mengajakmu …”

“Hari sabtu di bioskop jam empat sore. Kau beli tiketnya, aku yang beli popcorn. Bagaimana?”

“Eh?”

Namjoon berkedip. Rasanya seluruh udara dalam paru-paru tersedot keluar. Otaknya menimbulkan kerusakan parah pada sirkuit pikirannya yang menyebabkan Namjoon kehilangan kata-kata. Matanya menatap lurus Yoongi yang sudah tersenyum dengan pipi bersemu merah.

Oh, astaga. Guru daycare ini terlalu cantik dan tampan dan menggemaskan untuk Namjoon. Namjoon bisa meleleh seperti mentega jika terus-terusan berdiri di sana. Namun, sirkuit jelek di otaknya malah membuat Namjoon semakin tak berkutik dan kakinya terasa seperti tertanam kokoh di lantai lobi daycare.

Setelah rasanya lebih dari lima detik Namjoon berhenti, ayah Taehyung itu berkedip lambat-lambat agar dia bisa kembali ke dirinya yang semula.

“Ma-maaf. Aku tidak … aku tidak me-menangkap ucapanmu barusan. Ap-apa katamu?” tanyanya, sungguh takut jika ia salah dengar barusan.

Senyum Yoongi melebar dan semburat merah di pipinya juga makin meluas dan Namjoon bersumpah ia hampir menjulurkan tangan untuk meraba pipi bulat itu yang mungkin terasa hangat. Guru Taehyung tersebut terkekeh pelan, menimbulkan suara merdu yang mengetuk gendang telinga Namjoon dengan halus dan dia menyebabkan jantung Namjoon melewatkan satu detakan.

“Hari sabtu di bioskop jam empat sore. Kau beli tiketnya, aku yang beli popcorn.” Yoongi mengulang pelan-pelan. “Apakah rencana itu mengganggumu?”

“Oh, te-tentu saja … ti-tidak. Tidak. Aku tidak merasa terganggu. Aku su-suka dengan rencana itu. Rencana bagus. Bo-boleh. Boleh sekali.”

Namjoon berdeham dan telapak tangannya sangat lembap. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tak pernah bisa berlaku normal di hadapan Yoongi. Bicaranya tak pernah lancar dan ia sungguh takut Yoongi akan merasa ilfeel. Namun, mengenyampingkan semua kekhawatiran Namjoon, momen ini berjalan cukup lancar sesuatu ekspektasi.

“Oke.” Yoongi mengangguk-angguk sambil terus-terusan menahan senyumnya. Padahal jika senyum lebar itu tidak ditahan, pasti Yoongi akan menjadi jauh lebih tampan dari yang sudah-sudah, menurut Namjoon. Di belakang Namjoon, Taehyung yang mendengar semuanya juga menahan senyum.

“Kita bertemu di tempat langsung atau--”

“Biarkan aku menjemputmu,” potong Namjoon sungguh-sungguh. Ada tekad dalam matanya dan mungkin dalam waktu singkat, Namjoon berjuang sendirian untuk memperbaiki sirkuit kepalanya.

“Oke,” jawab Yoongi lagi tanpa mencopot kontak mata dengan milik Namjoon yang tampak menenang. “Kau sudah punya alamatku?”

Pertanyaan Yoongi membuat Namjoon goyah lagi. “O-oh, be-belum. Maaf, aku … aku terlalu terburu-buru.” Namjoon merogoh saku celananya dengan heboh dan dia masih terburu-buru. Dimulai dari kanan, lalu kiri, belakang dan berakhir merogoh saku mantelnya yang menggantung di lengannya untuk mengambil ponsel.

Yoongi hanya tersenyum sepanjang Namjoon berulah. Bukannya merasa ilfeel atau kecewa, tetapi Yoongi malah merasa terhibur dan melepas stresnya. Ia mengambil ponsel Namjoon tanpa komentar dan segera memasukkan nomor telepon dan alamatnya di catatan ponsel.

“Ini nomor pribadiku dan alamat rumahku. Jika kau ingin datang sebelum jam empat sore, silakan saja, tetapi hubungi aku dulu. Oke?” Yoongi menyerahkan kembali ponsel kepada sang empu yang masih belum bisa sadar sepenuhnya karena pandangan Namjoon sudah jatuh ke bibir merah Yoongi yang sangat mengalihkan perhatian.

“Um … ya, oke. Aku … aku mengerti. Terima kasih.” Namjoon memberi jawaban dengan susah payah dan hampir saja dia menjatuhkan ponselnya ketika hendak memasukkan ponselnya ke saku celana.

Yoongi tersenyum lebar. Lalu, ia membungkuk seperti biasanya ia mengirim pulang anak-anak daycare kepada orang tuanya. “Sampai nanti. Hati-hati di jalan.”

Kepala Namjoon kerap bergerak lamban sehingga dia takkan berkutik jika Taehyung tidak langsung bersuara, “Sampai jumpa besok, Yoonie Seonsaengnim! Dadah!”

Yoongi tersenyum geli melihat Taehyung yang mulai menarik ayahnya sendiri keluar. Ia melambai ketika Taehyung melambai dan senyumnya melebar begitu menangkap Namjoon yang ikut melambai ke arahnya setengah sadar.

Namjoon baru bisa menyusun lurus kembali pikirannya yang konslet saat nyaris tersandung rel pintu geser daycare. Buru-buru ia membungkuk meminta maaf kepada Yoongi, pamit dengan sopan dan grogi, menyimpan Taehyung ke dalam keranjang sepeda, lalu mengebut menuju rumah.

Yoongi yang menonton semua itu menyimpan senyum. Dari pintu utama daycare, dia bisa melihat Namjoon yang mengayuh sepeda semakin jauh hingga pasangan ayah-anak itu tertelan kerumunan. Mereka ulang kembali kejadian satu menit yang lalu membuat Yoongi tak sanggup berhenti tersenyum.

“Seksi, tapi ceroboh. Aku akan punya kencan bersama orang yang seperti itu,” gumam Yoongi sambil terus menatap jalan yang semakin gelap karena hari yang selesai.

“Baiklah.” Yoongi mengulur napas. Ia pun kembali masuk untuk merapikan sisa-sisa kekacauan daycare sebelum dia pulang. Namun, pikirannya masih tertuju kepada Namjoon.

Sebuah senyuman kembali hadir karena memang sulit untuk tidak tersenyum apabila memikirkan Kim Namjoon. Lalu, sebuah gumaman kecil lolos dari bibirnya, “Yang penting dia seksi.”

 

***

 

Beberapa hari terlewati begitu saja.

Mengapa begitu saja? Karena Namjoon terlalu banyak memikirkan seperti apa kencan dia dengan guru daycare Taehyung tanpa sadar akan waktu yang terus terbuang karena pikirannya tidak fokus.

Taehyung masuk daycare seperti biasa dan setiap Yoongi muncul untuk menyambut atau mengirim pulang Taehyung, Namjoon hanya akan membungkuk dan mengucapkan terima kasih pelan sekali lalu pergi tanpa memberikan satu lirik pun untuk Yoongi.

Tidak, Namjoon tidak punya nyali untuk menyela waktu sebelum kencan mereka. Namjoon takut Yoongi akan berubah pikiran jika Namjoon berbuat lebih jauh. Itu sebabnya dia buat pertemuan-pertemuan singkat mereka menjadi jauh lebih singkat dari biasanya dan Namjoon ingin hari Sabtu cepat-cepat datang.

Taehyung sendiri tidak bercerita apapun di daycare tentang Yoongi. Anak itu hanya akan bercerita tentang dirinya dan anak lain yang bernama Jimin, bukan Yoongi. Namjoon kira Yoongi dan Taehyung akan melakukan percakapan tertentu terkait kencan mereka. Atau … atau Yoongi menanyakan Namjoon atau bicara tentang Namjoon, ayah satu anak itu tidak tahu apapun. Taehyung menutup erat semua kisah di daycare-nya yang menyangkut tentang Yoongi.

Akan sangat memalukan jika Namjoon menanyakan langsung kepada Taehyung. Mengenal anak itu selama tiga tahun hidupnya, Namjoon yakin seratus persen Taehyung akan bawel sekali jika dia menyebut nama Yoongi satu kali saja. Anak itu pasti akan menuntut hal-hal aneh dari hubungan dua orang dewasa yang nyaris tak saling kenal itu.

Itu sebabnya hari Sabtu datang begitu saja. Siap tidak siap, Namjoon tahu dia harus menghadapi hari ini bulat-bulat. Diawali dengan mengantar Taehyung ke rumah neneknya.

“Papa, sini, deh. Taetae mau bisik-bisik,” pinta Taehyung sebelum Namjoon pamit dari rumah orang tua mendiang kekasihnya. Anak itu menggunakan empat jarinya memberi gestur agar Namjoon mendekat. Sang ayah yang kebingungan tentu menuruti permintaan itu dan mendekatkan telinganya ke bibir Taehyung.

“Papa, nanti kalo Papa sudah ciuman sama Yoonie Seonsaengnim, bilang-bilang ke Taetae, ya.” bisik anak itu dengan suaranya yang setengahnya berisi udara.

Lantas warna merah menggelayuti pipi Namjoon. “H-hei, apa-apaan? Kamu jangan suka bicara begitu. Sudah, yang penting kamu sekarang main di sini, jadi anak yang baik buat Nenek dan Kakek, ya. Jangan bikin repot.”

“Justru Papa yang jangan bikin Yoonie Seonsaengnim kerepotan.” Taehyung mengerucutkan bibir. “Papa yang harus jadi anak baik. Pakai baju yang bagus dan pakai parfum yang wangi biar Yoonie Seonsaengnim suka. Jangan bikin malu, oke?”

Namjoon tentu ternganga mendapat komentar seperti itu. Sebuah dengusan tawa keluar dari mulutnya dan dia pun mengacak rambut Taehyung dengan gemas.

“Dasar. Iya, deh. Taetae memang selalu yang paling benar. Papa salah mulu, kayaknya.”

“Papa gak akan salah kalo dengar kata-kata Taetae! Baju bagus, parfum wangi. Mengerti?”

Taehyung menunjuk ke depan hidung Namjoon dengan semangat. Sang ayah pun mengambil jari telunjuk mungil itu dan mengecup permukaannya.

"Iya, Papa mengerti. Papa pergi sekarang, ya? Ingat, saat Papa bilang Taetae harus jadi anak baik buat Nenek, Papa tidak bercanda, oke?"

“Siap!” Taehyung memberi tanda hormat yang kencang dan Namjoon hanya bisa tertawa-tawa.

“Kau mau kencan hari ini?”

Sontak Namjoon berbalik. Di belakangnya, sudah berdiri ibu dari mendiang kekasihnya, atau bisa disebut, neneknya Taehyung. Ditanya seperti itu oleh seseorang yang seharusnya menjadi mertuanya, tentu membuat Namjoon panik.

“O-oh, um … i-iya … sepertinya. Ma-maaf bila aku memutuskan ini sendirian.” Namjoon langsung membungkuk dalam-dalam. “Aku … aku hanya …”

Tanpa Namjoon duga, nenek Taehyung malah mengulas senyuman. “Tidak apa-apa, Namjoon. Kau tidak perlu membuat alasan,” katanya lembut sambil mengusap bahu Namjoon, mengangkat pria itu agar tidak membungkuk lagi.

“I-Ibu tidak keberatan?” tanya Namjoon takut-takut.

Nenek Taehyung itu terdiam sejenak. Ia tampak seperti berpikir. Namun, selang beberapa detik, wanita paruh baya tersebut menggeleng dan tersenyum lagi. “Tentu, tidak, Namjoon. Mengapa aku harus keberatan? Aku bukan siapa-siapa. Ini hidupmu. Aku tidak berhak mengatur.”

Meski nenek Taehyung bicara seperti itu, Namjoon masih merasa belum nyaman. Pasti ada perasaan mengganjal dari wanita itu karena seharusnya, Namjoon fokus saja menjadi ayah yang baik untuk cucu satu-satunya yang nenek Taehyung punya, bukan kencan.

“Aku … aku tetap meminta maaf jika kencanku menyinggungmu sesedikit apa pun,” ucap Namjoon pelan.

Sang nenek duduk di sofa ruang tengah sambil memegang segelas jahe hangat. Wanita itu menggeleng lagi lembut-lembut. “Aku sama sekali tidak tersinggung, Namjoon. Aku juga bukan ibu kandungmu, jadi aku tahu aku tidak berhak atas apapun dalam hidupmu. Bahkan Taehyung, sekalipun.”

Namjoon menelan ludah. Urusannya di sana sudah selesai, tetapi Namjoon belum kuasa untuk pergi. Taehyung sendiri sudah tidak mempedulikan apapun selain mainannya. Maka Namjoon pun berkata pelan sebelum dia pergi, “Jika kencan ini berjalan lancar. Aku … ingin memperkenalkannya padamu. Jika boleh.”

Setelah menyesap minuman jahenya satu kali, nenek Taehyung mengangguk, masih dengan senyuman.

“Tentu saja, boleh, Namjoon. Semoga kencanmu lancar, ya, hari ini.”

 

***

 

Namjoon berangkat menuju apartemen Yoongi satu jam sebelum jam janjian.

Bukan karena apa-apa. Namjoon hanya payah dalam mencari jalan. Dia takut tersesat dan terlambat jika berangkat terlalu dekat dengan waktu janjian. Tentu, Namjoon menelepon Yoongi terlebih dahulu. Ia menelepon dengan gugup karena ini pertama kali Namjoon mendengar suara pria itu melalui jaringan telepon.

Yoongi mengangkat telepon itu dan Namjoon bersumpah, suara Yoongi adalah suara yang paling merdu yang pernah ia dengar beberapa tahun terakhir. Pria itu bicara dengan suara cerah. Namjoon tahu dari suara itu bahwa Yoongi pasti tersenyum-senyum selama telepon singkat itu. Membayangkannya saja sudah membuat jantung Namjoon berdentum ria. Namjoon sampai susah payah mengakhiri telepon itu setelah mendapat respons positif dari Yoongi soal datang lebih awal karena dia sangat gugup.

Yang Namjoon kira dia akan menyasar, ternyata alamat Yoongi adalah alamat yang paling sederhana dan mudah dicari. Namjoon naik taksi supaya dia tidak menyasar terlalu jauh. Kemudian, taksi itu berhenti tepat di sebuah apartemen yang menjulang tinggi dan …

“Wow,” adalah respons Namjoon setelah dia turun dari taksi. Kepalanya menengadah tinggi-tinggi berusaha menggapai atap gedung itu, tetapi penglihatannya tidak sampai.

“Dia seorang guru daycare, tetapi tinggal di apartemen mewah seperti ini?” adalah pertanyaan Namjoon sambil sibuk memperhatikan kompleks apartemen itu dan ia tak berhenti terpukau.

Ia menyadarkan dirinya begitu mendengar klakson mobil di belakang. Nyatanya sedari tadi Namjoon berdiri menghalangi mobil-mobil yang ingin drop off. Setelah membungkuk meminta maaf, dia pun bersegera masuk ke dalam apartemen itu menuju area lift.

Namjoon terus memperhatikan sekitar. Mendadak ia merasa dirinya tidak pantas berada di sana. Gedung itu terlalu mewah untuk diinjak oleh kaki Namjoon dan memikirkan bagaimana jika Namjoon tak sengaja menyenggol guci hiasan di samping pintu lift sangat membuat Namjoon ngeri. Hampir saja Namjoon memutuskan untuk pulang sebelum pintu lift terbuka untuknya.

Merasa gugup, Namjoon pun masuk setelah berpikir dua kali. “Lantai 30 …,” gumamnya ketika mencari tombol lantai di lift. Begitu menemukan tombolnya, Namjoon terkesiap.

“Dia tinggal di lantai paling atas?” gumamnya terkejut-kejut. “Wah, pasti dia betulan kaya.”

Namjoon mengetuk-ngetuk sepatunya selama ia berada di dalam lift seorang diri. Dalam hitungan menit, dia akan segera bertemu Yoongi. Memang, kemarin malam mereka baru saja bertemu saat Namjoon menjemput Taehyung pulang. Namun, pertemuan mereka ini lain dari biasanya. Ini adalah pertemuan bukan sebagai guru dan orang tua murid, tetapi sebagai Kim Namjoon dan Min Yoongi.

Sebelum lift mencapai lantai yang dituju, Namjoon memerhatikan pantulan dirinya sendiri di pintu lift. Celana khaki warna zaitun, kaus putih, outer warna cream, dan topi hitam adalah satu set pakaian yang Namjoon lempar ke tubuhnya setelah dua jam berdiri di depan lemari. Ia tidak tahu apakah setelan yang dia pakai hari ini cocok dengan gedung yang sedang ia naiki.

Namjoon juga tidak tahu apakah Yoongi akan menyukai pakaiannya hari ini. Namjoon hanya ingin dirinya tidak memalukan di hadapan pasangan kencannya itu. Semoga rencananya berhasil.

Keluar dari lift, Namjoon tahu bahwa dirinya berada di lantai teratas gedung apartemen. Di lantai itu, hanya ada tiga apartemen penthouse yang ditempati oleh orang-orang kaya. Dan salah satu apartemen ini dimiliki oleh Min Yoongi.

Namjoon menelan ludah ketika kakinya sudah sampai di depan pintu apartemen nomor 231. Itu adalah nomor apartemen Yoongi yang tertera di dalam catatan ponselnya. Ia merapikan kain baju dan rambut di balik topinya sebelum berani memencet bel.

“Sebentar,” kata suara dari interkom. Suara Yoongi.

Berkedip beberapa kali, Namjoon mulai merasa sedikit panik. Dia akan bertemu Yoongi. Dia akan bertemu Yoongi di akhir pekan!

Selang beberapa detik, pintu apartemen itu dibuka. Dari balik pintu yang tinggi itu menyembul kepala Yoongi yang bulat. Namjoon menahan napas.

Pria itu … kelihatan berbeda.

Namjoon merasa Yoongi terlihat lebih putih dan segar dan berseri. Mungkin dia baru selesai mandi dan itu menjelaskan mengapa rambut hitam legam bergelombangnya basah. Di balik itu, Yoongi hanya mengenakan jubah mandi warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Namjoon betul-betul kehilangan napasnya.

“Maafkan aku yang belum siap. Kau tidak keberatan untuk menunggu, kan?” Yoongi terkekeh. Namjoon bersumpah, Yoongi bisa menjadi alasan jantungnya berhenti hari ini. Dia terlalu tampan.

“Um … te-tentu saja, tidak. Kau bisa menggunakan waktumu sebanyak yang kau mau.”

Yoongi menebar senyum yang lebar. “Terima kasih. Ayo, masuk.”

“Ma-masuk?”

Yoongi yang hendak membukakan pintu untuk Namjoon langsung berhenti. “Kenapa? Tunggunya di dalam saja supaya kau bisa duduk.”

“Um …” Namjoon sangat bersikeras untuk tidak melihat lewat dari dagu Yoongi. “Aku bisa berdiri di sini saja. Tidak apa-apa. Keluarlah saat kau siap. Aku akan menunggumu di sini.”

Kening Yoongi mengerut. Namjoon sudah menduga Yoongi tidak akan setuju. Namjoon ingin saja berusaha lebih meyakinkan lagi, tetapi Yoongi sudah membuka pintu tinggi itu lebar-lebar. Rupa Min Yoongi yang masih mengenakan jubah mandi menjadi terpampang jelas dari atas sampai bawah.

Dia betul-betul hanya mengenakan jubah mandi. Tanpa kaus, tanpa celana panjang. Hanya jubah mandi. Buru-buru Namjoon memalingkan pandangan.

“Masuk saja, Namjoon. Jam janjian kita juga masih lama. Aku tidak ingin membiarkan tamuku di luar seperti ini. Ayo, aku memaksa.”

Yoongi pun berjalan masuk, membiarkan pintu depan apartemennya terbuka lebar untuk Namjoon. Pria yang berdiri di depan pintu pun hanya bisa memandang semuanya dengan mata melebar. Yoongi yang seperti ini adalah Yoongi yang baru untuk Namjoon dan Namjoon tidak membencinya sama sekali.

Terpaksa, karena Yoongi sudah jauh di dalam dan rasanya kurang enak jika harus menunggu di luar dengan pintu terbuka lebar di depan muka, Namjoon pun masuk. Ia lepas sepatu dan melangkah pelan-pelan memasuki penthouse yang luas dan tampak mewah itu.

Yoongi yang sedang berkutat di dapur pun tersenyum melihat Namjoon yang tampak takjub melihat ke dalam apartemennya. “Silakan duduk, Namjoon. Ingin teh atau kopi?”

“Oh? Ti-tidak usah,” tolak Namjoon sehalus mungkin. Ia pun duduk di sofa ruang tengah, yang Namjoon yakini boleh dia duduki.

“Namjoon, teh atau kopi?”

Namjoon terkejut mendengar itu. Padahal Yoongi bisa langsung saja siap-siap, tetapi pria itu bersikukuh ingin menyuguhkan. Karena tatapan Yoongi padanya tak kunjung tanggal dan Namjoon hanya akan menjadi semerah tomat jika terus diperlakukan seperti itu, maka Namjoon pun menjawab dengan suara pelan, “Ko-kopi …”

Sebuah senyum langsung muncul di wajah Yoongi yang putih berseri itu. Namjoon sampai tak bisa mencopot matanya dari Yoongi karena Yoongi secantik itu. “Oke,” balas Yoongi. “Hangat atau pakai es?”

“Sungguh, kau tidak perlu repot-repot. Aku--”

“Namjoon.” Yoongi sudah menatapnya lagi. Mata yang mirip seperti kucing itu seolah menusuk langsung ke dalam jiwa.

Namjoon menelan ludah lagi. “E-es …” ia menjawab pelan, merasa kalah.

Setelah mendapat jawaban, Yoongi tersenyum lagi. Ia pun kembali menyibukkan diri dengan menyiapkan kopi untuk kencannya malam itu.

“Pilihan bagus. Itu tandanya kau adalah orang Korea sejati.” Yoongi berkomentar. Sedangkan Namjoon hanya tersenyum kikuk di belakang punggung Yoongi.

Setelah kopinya siap, Yoongi mengantarnya langsung ke hadapan Namjoon. Sekuat tenaga Namjoon agar tidak melihat betis Yoongi yang putih yang dipertontonkan begitu saja. Mungkin karena mereka sudah bukan berada di wilayah daycare , Yoongi mencopot titelnya sebagai seorang guru dan sekarang Yoongi sedang menunjukkan seperti apa dirinya yang sebenarnya.

Bukan berarti Namjoon protes. Hanya saja, terlalu banyak yang harus Namjoon proses seorang diri. Min Yoongi sudah menjadi kelemahan Namjoon dan Namjoon khawatir ada lebih banyak hal lagi yang akan Yoongi tunjukkan padanya.

“Silakan diminum. Aku masih harus mengeringkan rambut dan mengenakan baju,” ucap Yoongi seraya menyodorkan gelas kopi kepada Namjoon.

Namjoon tak sadar tangannya gemetaran. Maka ketika ia menerima gelas tersebut, cairan pekat kopi Americano itu tumpah-tumpah, membasahi celananya sendiri dan lantai di bawah.

“Oh, astaga! Ma-maafkan aku!” Namjoon refleks meminta maaf. “Aduh, aku mengotori lantainya. Maafkan aku, Yoongi. Sungguh.”

Yoongi yang sadar apa yang salah segera mengambil kembali gelas dari tangan Namjoon agar tamunya bebas dari guyuran air kopi. Gelas tersebut diletakkan di meja rendah di samping sofa dan yang Yoongi katakan adalah, “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, Namjoon. Jangan khawatirkan lantainya.”

Namjoon meringis menatap kekacauan yang dia buat. Tangannya basah, begitupun dengan celana, kaus kaki, dan lantai di bawah. Semua ternodai oleh kopi yang tumpah.

"Aku … benar-benar meminta maaf, Yoongi. Aku tidak tahu. Aku …"

"Tenang, Namjoon. Tidak apa-apa. Aku akan carikan celana ganti untukmu. Tunggu di sini dan jangan bergerak."

Yoongi melesat menuju kamarnya tanpa membuang waktu. Ketika ia keluar, di tangannya sudah ada sebuah celana jeans.

"Ini adalah celana paling besar yang aku punya. Kuharap cukup."

Namjoon tentu merasa sangat bersalah. Ia teramat gugup dan malah mengacau di detik dia sampai di sana. Yoongi jadi kerepotan karenanya dan Namjoon tak pernah merasa sedemikian bersalah kepada seseorang sebelumnya.

“Terima kasih. Kau sungguh baik, Yoongi. Aku--”

Omongan Namjoon terputus karena saat ia menjulurkan tangan untuk meraih celana dari tangan Yoongi, sang tuan rumah menghindar. Ia tersenyum simpul.

“Tanganmu kotor, Namjoon. Ayo, ikut aku ke kamar mandi. Nanti kuletakkan di dekat wastafel.”

Namjoon berkedip lambat-lambat. “Ta-tapi, kakiku--”

“Tidak masalah. Lantai bisa langsung dibersihkan dengan mudah. Kalau celana ini kotor juga, kamu tidak akan punya gantinya. Ayo.” Yoongi sudah berjalan lebih dulu dan Namjoon pun mengikutinya dengan langkah yang sangat hati-hati.

“Silakan bersih-bersih dan ganti di sini. Aku akan ada di kamarku, siap-siap juga. Jika butuh apapun, panggil saja, ya,” ucap Yoongi setelah menyimpan handuk dan celana ganti untuk Namjoon di dekat wastafel kamar mandi yang membuat Namjoon membeku di tempat.

“I-ini … kamar mandi?”

Yoongi melirik Namjoon yang tengah melihat sekelilingnya dengan tatapan takjub. Ia pun mengulum senyum kecil. “Iya, ini kamar mandi, Namjoon. Jelas bukan dapur, kan?”

“Ta-tapi, ini--”

“Simpan saja. Aku tahu maksudmu.” Yoongi terkekeh. “Aku keluar sekarang, ya. Jika butuh apa-apa, jangan sungkan untuk memanggil namaku.”

Namjoon tak bisa berkata apa-apa lagi. Yoongi sudah pergi menutup pintu untuknya, meninggalkan Namjoon mengurus kekacauannya sendiri dan untuk siap-siap. Helaan napas pun keluar dari mulut Namjoon. Pandangannya berpindah ke celananya yang basah dan kotor terkena kopi.

Belum mulai kencannya, tetapi Namjoon sudah mengacau. Sungguh sial.

Namun, Namjoon tahu bahwa ia tidak bisa berhenti di sini. Maka, dengan gerak cepat ia bersih-bersih dan berganti celana pemberian Yoongi. Tak ia hiraukan sekelilingnya yang merupakan kamar mandi yang lebih besar daripada kamar tidur Namjoon. Setelah bebas dari rasa lengket dan bau kopi, Namjoon pun keluar.

Yoongi sudah ada di luar, mengepel kekacauan Namjoon barusan. Pria itu sudah berdandan, sangat berbeda dari rupanya yang biasa Namjoon lihat di daycare.

Yoongi mengenakan sweater bulu warna pastel dan celana jeans biru pucat yang sobek di lutut. Rambutnya sudah kering, ditata bergelombang yang cantik di atas wajah putih porselennya. Ketika ia mengangkat wajah untuk melihat Namjoon, yang ditatap nyaris menganga karena Yoongi kelihatan seperti bidadari di mata Namjoon.

Lalu, Yoongi terkekeh. Tangannya masih sibuk bersih-bersih.

“Aku bersumpah, itu adalah celanaku yang paling panjang dan longgar. Aku tak mengira celana itu akan menjadi …,” Yoongi menatap kain denim yang membungkus paha Namjoon dengan erat. “Menjadi skinny jeans .”

Otomatis, Namjoon ikut melirik celananya. Sungguh, karena Min Yoongi dan kerupawanannya, Namjoon tidak sadar bahwa ia mengenakan celana yang ketat. Ia bahkan tak ingat bagaimana cara dia mengenakannya. Seluruh kakinya yang tidak bisa dibilang kecil atau langsing itu masuk begitu saja dan Namjoon baru bisa merasakan betapa ketatnya celana itu sekarang. Selangkangannya terasa terjepit.

“Oh. Um … ti-tidak apa-apa. Tidak masalah. Aku bisa mengenakannya untuk malam ini.”

Yoongi tersenyum simpul mendengar Namjoon yang terlalu rendah hati. “Kau benar. Aku sendiri tidak punya celana yang lebih besar lagi dan kau cukup seksi memakainya seperti itu,” katanya riang seraya membereskan lap pelnya setelah lantai ruang tengahnya bersih. Sementara wajah Namjoon sudah memerah lagi akibat disebut 'seksi'.

“Oke. Sudah siap?” tanya Yoongi setelah dia meletakkan pelnya. Dia kembali ke hadapan Namjoon yang terlalu malu untuk membuka suara.

“Aku anggap sudah. Ayo, nanti kita terlambat.” Yoongi langsung menarik tangan Namjoon tanpa bisa Namjoon proses sebelumnya, keluar dari sana.

Mereka pergi ke mal tempat Namjoon memesan tiket bioskop. Mereka pergi naik mobil Yoongi yang juga membuat Namjoon tercengang-cengang. Namjoon menyimpan dua tangannya di atas paha dengan kikuk, sangat takut bila ia mengotori apalagi merusak mobil mahal itu.

Ketika Namjoon bertanya apakah mobil itu sering dipakai karena tampaknya mobil tersebut bersih sekali, Yoongi menjawab, “Tidak. Aku naik bus setiap hari. Tidak ada tempat parkir di sekitar daycare dan naik bus rasanya lebih menyenangkan.”

Sangat bertolak belakang dari yang Namjoon kira. Seumur hidup, bisa dihitung jari berapa kali Namjoon bisa menikmati kendaraan pribadi. Karena keterbatasan tersebut lah Namjoon tak berminat belajar mengendarai mobil. Seumur hidup, Namjoon naik kendaraan umum dan betapa ia ingin punya kendaraan pribadi selain sepeda karena mudah. Namun, di sini Yoongi bisa punya mobil dan mengendarainya, malah lebih suka naik kendaraan umum. Itu aneh, menurut Namjoon.

Namun, Namjoon tak berkomentar lagi sepanjang perjalanan. Mereka hanya bicara-bicara ringan di mobil seperti Taehyung sedang ada dimana, bagaimana Taehyung di rumah dan seperti apa bedanya anak itu ketika di daycare, dan hal-hal lain soal Taehyung. Namjoon tahu, tak seharusnya mereka membicarakan soal Taehyung di dalam kencan mereka. Namun, Namjoon masih terlalu malu untuk membahas soal dirinya sendiri ataupun bertanya tentang Yoongi. Mungkin nanti, jika ia menemukan momen yang tepat.

Mereka tidak terlambat sampai ke bioskop. Mereka masih punya waktu untuk beli popcorn menggunakan kartu kredit hitam milik Yoongi. Menatap pasangan kencannya mengeluarkan kartu tersebut dari dompet, Namjoon sampai berkeringat dingin. Ia bersumpah ia takkan menyentuh kartu itu jika tidak ingin patah.

Mereka menonton sebuah film laga. Namjoon mengaku ia tidak tahu film apa yang patut mereka tonton bersama. Dilihat dari film-film yang sedang tayang, Namjoon mengira film laga lebih cocok karena sisanya hanyalah film-film keluarga atau horor. Padahal Namjoon ingin film yang romantis, tetapi Yoongi hanya tersenyum dan berkata pada Namjoon bahwa ia suka film laga. Dan Namjoon sangat lega mendengarnya.

Sepanjang film, mereka duduk bersebelahan dan berbagi popcorn. Sempat sesekali tangan mereka bersentuhan ketika sama-sama ingin meraih popcorn. Namjoon hanya akan menarik kembali tangannya dan mempersilakan Yoongi untuk mengambil duluan. Melihat itu, Yoongi tak bisa menahan senyum.

Popcorn mereka habis di tengah-tengah film. Ketika wadah besar yang menghalangi keduanya disingkirkan, Yoongi menggunakan kesempatan itu untuk menyamankan duduknya dan menyandarkan kepala di bahu Namjoon yang tegap. Aksinya tersebut sukses membuat Namjoon membeku di sisa akhir film dengan wajah memerah.

Ketika selesai, Yoongi pergi ke kamar mandi dulu. Sementara Namjoon menunggu di luar, mendekap tas Yoongi di satu tangan dan tangan yang satu lagi diputar-putar karena bahunya terasa pegal sekali. Kepala Yoongi tak bisa dibilang ringan. Namun, Namjoon tak ingin protes karena ia juga menyukainya.

Agenda kencan mereka yang terakhir adalah makan di foodcourt mal. Yoongi sebetulnya mengajak Namjoon untuk makan di tempat yang layak (atau menurut Namjoon, Yoongi sedang mengajaknya ke tempat mahal dan berniat untuk membayar makanan mereka). Namun, Namjoon menolak karena dia juga ingin mentraktir makan Yoongi dan ia sedang tidak cukup jika harus ke tempat mahal. Dan dengan satu kali tolakan halus dari Namjoon, Yoongi menurut.

“Maafkan aku,” ucap Namjoon setelah makanan mereka datang. “Mungkin aku terlalu memaksamu untuk makan di sini. Aku yakin kau tidak menyukai--”

“Aku menyukainya,” potong Yoongi sembari mempersiapkan makan. Mereka memesan masakan rumah dan Yongi sudah mengaduk-aduk supnya. “Aku selalu suka masakan rumah dan memakannya di sini membuatku teringat masakan ibuku dulu.”

Yoongi tersenyum sebelum ia mengambil satu suap. Namjoon memerhatikan dengan pukau.

“Um … Yoongi? Jika … jika kita makan sambil mengobrol, tidak apa-apa, kan?” tanya Namjoon takut-takut.

“Ya, tidak apa-apa.” Yoongi terkekeh. “Kenapa sampai bertanya begitu?”

“Um … aku hanya … tidak ingin sampai membuatmu merasa tidak nyaman atau terganggu,” aku Namjoon malu-malu. Makanan di hadapannya nyaris tidak disentuh.

Melihat itu, Yoongi langsung mengetuk pelan meja di hadapannya. “Hei, tidak perlu dibawa pusing. Kita santai saja. Oke?” Ia menyunggingkan senyuman setelah menarik perhatian Namjoon teralihkan dari mangkuk sup ke wajahnya.

Namjoon pun hanya bisa mengangguk. Yoongi sempat mengira Namjoon akan memulai pembicaraan mereka, tetapi pria itu diam saja setelah Yoongi beri kesempatan. Di sana, Yoongi tahu bahwa ia harus bergerak duluan. Maka Yoongi pun berdeham sebelum bertanya, “Jadi, apakah ada yang ingin kau tanyakan kepadaku?”

“Eh?” Namjoon mengangkat pandangannya lagi yang terus-terusan menunduk. “O-oh … iya. Sebetulnya, banyak yang ingin kutanyakan, tapi mungkin … kau bisa … memperkenalkan ulang dirimu? Karena yang kutahu tentangmu hanyalah … namamu, pekerjaanmu di daycare, dan … alamatmu.”

Yoongi tertawa pelan. Sudah banyak yang Yoongi lihat dari Kim Namjoon ini. Dan kesimpulan yang Yoongi dapatkan dari sekedar mengamati adalah bahwa pria ini sangat menggemaskan. Seksi dan menggemaskan. Itu konsep yang Yoongi suka, sebetulnya.

“Oke,” putus Yoongi kemudian, menyetujui usulan Namjoon. Ia pun memangku dagunya di meja. “Mmm … bila ingin diulang dari awal, aku Min Yoongi, lahir di Daegu, 9 Maret 1993.”

“Oh? Kau … lebih tua dariku,” celetuk Namjoon dengan manik lebar.

“Oh, ya? Wow. Ini mengejutkan.” Yoongi menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Matanya mengamati wajah Namjoon yang tiba-tiba cerah. “Kenapa? Kau ingin memanggilku ‘ Hyung ’?”

“I-Itu jika kau tidak keberatan! Aku tahu … itu panggilan yang terlalu … intim dan mungkin kita tidak cukup de--”

“Kau boleh memanggilku ‘ Hyung ’,” potong Yoongi untuk yang kesekian kalinya hari ini. “Aku sama sekali tidak keberatan. Aku … menyukainya.”

Namjoon meneguk ludah. Sudah beberapa jam sejak kencan mereka dimulai dan Namjoon sama sekali tak bisa menghilangkan kegugupannya. “Ba-baiklah, Yoongi … Hyung .”

Senyum Yoongi melebar. Perutnya terasa tergelitik oleh perasaan senang setelah mendengar panggilan baru yang mengalir lembut dari lidah Namjoon untuknya. Ia lebih menyukai Namjoon yang memanggilnya ‘ Hyung ’ daripada siapapun yang pernah memanggilnya itu. Rasanya seperti … lebih spesial.

Ya, Namjoon spesial. Dan Yoongi berharap ia juga spesial untuk Namjoon.

“Oke, kulanjut. Mungkin aku langsung kepada bagian yang paling kau bingungkan. Aku … sebetulnya tidak begitu menyukai bercerita tentang hidupku atau keluargaku, tetapi … kurasa aku bisa membagikan ini denganmu,” lanjut Yoongi kemudian.

“Benarkah?” tanya Namjoon takut-takut. “Ka-karena … aku betul-betul tidak ingin memaksa, apalagi membuatmu tidak nyaman. Aku orang baru untukmu dan jika--”

“Namjoon,” panggil Yoongi. Tangannya terjulur menggapai milik Namjoon yang sedang mengepal gugup di atas meja. Ketika Namjoon berhasil melihat ke arah matanya sekali lagi, Yoongi berkata, “Tidak apa-apa.”

Setelah mendapatkan Namjoon yang tidak histeris lagi, Yoongi pun melanjutkan, “Ayahku punya perusahaan real estate dan gedung tempat tinggalku adalah miliknya. Aku tidak punya keinginan untuk menjadi penerusnya, tetapi ayahku tetap bersikeras agar aku bisa jadi pemilik gedung, seperti dirinya. Maka aku mengalihkan hampir semua harta yang Ayah berikan kepadaku untuk membeli beberapa bangunan. Dan … aku membeli semua gedung di jalan tempat Sunshine Daycare berada.”

Namjoon menganga. Kali ini ia serius terkejut dan tidak menutup-nutupinya. Yoongi … orang kaya betulan.

Pria Min tersebut pun berdeham. Sedikit tidak nyaman, tetapi ia coba melanjutkan kisahnya kembali. “Cuma itu yang bisa aku lakukan supaya bebas dari beban yang ayahku berikan. Aku lepas dari perusahaan dan ayahku masih punya kakak laki-lakiku yang bisa meneruskan.”

“Lalu, mengapa kau bekerja di daycare?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Yoongi tak kuasa membuat senyum. “Aku … suka anak-anak. Aku anak bungsu di keluargaku dan tak pernah merasakan punya adik kecil. Aku pernah berkunjung ke daycare di kantor Ayah dan … aku langsung jatuh cinta dengan pekerjaan itu. Aku pun bermimpi untuk bekerja di salah satu daycare dan syukurnya, aku berteman baik dengan kepala daycare (Seokjin, kau tahu Seokjin, kan?) dan dia tidak tanggung-tanggung untuk menerimaku sebagai salah satu guru di daycare yang ia dirikan.”

“Jadi, kau yang memiliki gedung daycare?”

“Ya. Hanya Seokjin yang tahu soal ini. Dia membayar sewa setiap tahun secara rutin dan menggajiku setara dengan yang lainnya dengan baik. Dia bos dan teman yang baik.”

Namjoon pun mengangguk-angguk. Mendengar Yoongi cerita, ajaibnya, berhasil membuat Namjoon lega. Bagaimana pun, prioritas Namjoon dalam kencan ini adalah menghindarkan Yoongi dari perasaan tidak nyaman.

“Terima kasih sudah memperjuangkan mimpi itu,” ucap Namjoon setelah Yoongi selesai.

Yoongi menaikkan alis, merasa bingung. “Kenapa?”

“Karena Taehyung bisa bertemu guru yang luar biasa seperti dirimu.” Namjoon melempar senyum. “Kau tahu, butuh beberapa bulan bagi aku dan Taehyung menemukan daycare yang tepat. Bagiku, kenyamanan Taehyung adalah yang utama. Sebetulnya, Taehyung bukan tipe yang suka rewel jika berada di tempat asing. Dia pandai beradaptasi dan akrab dengan orang lain. Namun, beberapa daycare pertama berhasil membuat Taehyung berubah. Dia jadi sensitif dengan orang asing karena treatment di sana kurang baik. Satu-satunya daycare yang buat Taehyung betah dan pulang bersama senyuman hanyalah daycare dimana kau berada, Hyung .”

Dan kali ini, Yoongi lah yang tertunduk malu dengan pipi menyemburkan warna merah.

“I-itu effort dari Taehyung sendiri. Aku tidak melakukan apapun,” cetus Yoongi pelan. Suaranya mengecil sampai akhir, tetapi Namjoon masih sanggup mendengar.

“Jadi, aku berterima kasih, karena kau tidak menyerah akan mimpimu.”

Yoongi hanya mengangguk pelan, tidak tahu harus menjawab apa. Mereka pun melanjutkan makan setelah itu. Kembali berbincang-bincang ringan soal hobi, yang disuka dan yang tidak disukai, dan percakapan lainnya seperti orang-orang yang kencan buta pada umumnya. Lalu, mereka pulang sambil bergenggaman tangan, sampai ke depan pintu apartemen Yoongi.

“Sudah sampai,” ucap Namjoon begitu langkah mereka terhenti. “Sudah sore juga. Waktunya aku pulang.”

Yoongi menelan ludah. Ya, dia tahu kencan pertama mereka sudah selesai. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, ia masih ingin bersama Namjoon.

“Kau … tidak ingin mampir dulu?” tanya Yoongi pelan, merasa dia yang malu yang sekarang.

“Oh, tadi aku sudah masuk jadi … sekarang tidak usah, tidak apa-apa,” jawab Namjoon kemudian, lebih percaya diri dari yang sebelumnya.

Ketika ia hendak melepaskan genggaman tangan mereka, Yoongi menahannya di tempat. Pria yang lebih kecil sedang menatapnya saat Namjoon menoleh.

“Celanamu masih ada di dalam,” bisik Yoongi lagi. Genggaman tangannya pada Namjoon mengerat.

“Oh, iya. Betul juga. Kalau begitu …,” Namjoon berdeham. “Kalau begitu aku masuk untuk mengambil itu saja, jika kau tidak keberatan.”

Yoongi langsung menggeleng. “Tidak. Sama sekali tidak keberatan. Ayo, masuk.”

Tanpa aba-aba, Namjoon ditarik masuk. Hanya dengan satu sentuhan sidik jari Yoongi, pintu apartemennya terbuka. Mereka masuk dengan cepat, Namjoon nyaris tak punya waktu untuk membuka sepatu. Yoongi pun mendudukkan Namjoon di ruang tengah dengan satu kalimat, “Tunggu di sini.” sebelum dia melesat ke kamar mandi untuk mengambil cucian Namjoon.

Namjoon terdiam beberapa menit di atas sofa yang sama seperti saat dia pertama kali datang. Tumitnya mengetuk-ngetuk lantai tidak sabaran. Rasanya sedikit trauma berada di sana. Namjoon hanya khawatir dia akan mengacau lagi.

Namun, kekhawatiran itu tergantikan oleh rasa bingung. Ia duduk di sana menunggu Yoongi yang tampaknya lama sekali hanya sekadar mengambil barang Namjoon. Maka, atas dasar penasaran, Namjoon pun pergi menyusul Yoongi ke kamar mandi yang pintunya tidak tertutup itu.

“Hei, apakah ada mas--”

Namjoon terdiam. Matanya mendarat ke sebuah ruangan terpisah yang berada tepat di samping kamar mandi dan ia menemukan Yoongi sedang mengoperasikan sebuah mesin cuci.

“Yoongi Hyung ?”

Yoongi berbalik karena kaget. Wajahnya panik, seperti sedang tertangkap basah melakukan hal ilegal. Mulutnya terbuka dan tertutup, tetapi tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Kepalanya mendadak kosong, tak bisa membuat alasan.

“Kau … kau sedang mencuci? Celanaku?” tanya Namjoon sambil menunjuk mesin cuci di belakang Yoongi.

“I-iya,” jawab Yoongi kemudian, tak tahu lagi harus bicara apa. Sedangkan Namjoon hanya kebingungan mendapati semua ini.

“Kau … kau tidak perlu mencucinya, Hyung . Aku bisa mencucinya sendiri di rumah. Lagipula, itu kotor karena kesalahanku sendiri. Kau tidak punya tanggung jawab untuk mencucinya.” Namjoon berkata lembut, tidak ingin sampai menyinggung Yoongi.

Sedangkan Yoongi sudah menunduk. Ia tahu ia salah, tidak seharusnya ia mencuci celana Namjoon tanpa persetujuan sang empu. Namun, entah dapat dorongan dari mana, Yoongi merasa ia harus melakukannya.

"Aku … aku hanya ingin kau … di sini dulu," aku Yoongi kemudian. Matanya sampai terpejam saking malunya. Malu atas perbuatannya dan malu atas alasan dari perbuatannya itu. Namjoon pasti akan menganggapnya aneh.

Namjoon hanya bisa berkedip mendengar alasan itu. Yoongi sekarang sedang mengusap lengannya sendiri, mungkin merasa tidak nyaman dengan keadaan. Maka, setelah satu kali tarikan napas, Namjoon pun mengambil langkah mendekat.

"Jika begitu, mengapa tidak bilang saja?" bisik Namjoon dengan suara rendah. Yoongi tidak menyingkir ketika Namjoon sudah menjulang di hadapannya, pun ia tidak mundur. Mesin cuci telah mengunci jalannya.

"Aku sudah bilang tadi dan kau menolak," balas Yoongi dengan bibir sedikit maju. Ia dapat merasakan embusan napas Namjoon yang mengenai poninya dan Yoongi tak berani mengangkat kepalanya. Ia takut akan ada kecelakaan yang akan terjadi. Namun, dalam dirinya tak ada keinginan untuk pindah dari posisi itu. Sementara Namjoon sudah hampir merapat.

Namjoon menjulurkan tangannya untuk berpegangan pada mesin cuci yang menyala. Dengan begitu, ia sukses mengunci sisi kanan Yoongi.

"Kau tahu."

Yoongi terperanjat ketika dahi Namjoon yang hangat telah menempel dengan miliknya. Jantung berdegup kencang sampai-sampai telinganya sanggup mendengar tiap detakan.

"Aku menolak karena … karena tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak kau suka."

"Kata siapa aku tidak suka?" tanya Yoongi kecil sekali. Namun, dalam jarak sedekat itu, Namjoon dapat menangkap tiap kata.

Yoongi membulatkan mata ketika Namjoon menggeram. Dia menggeram dari dalam tenggorokannya dan berhasil membuat jantung Yoongi melompat.

"Kau membuatku kesulitan, Hyung . Jika aku memulai … aku … aku takut tak bisa berhenti."

Yoongi berkedip lambat-lambat. Dada Namjoon yang mengembang-kempis berada tepat di depan matanya. Lehernya yang berwarna kontras dengan kulit Yoongi memunculkan keringat misterius yang mengalir masuk ke dalam kaus Namjoon. Yoongi menelan ludah. Lalu ia menengadah untuk menyejajarkan pandangan dengan Namjoon. Manik gelapnya sangat indah di bawah lampu ruang cuci.

"Jangan berhenti. Aku pun takkan menghentikanmu," bisik Yoongi lagi. Kali ini bersama dengan sebuah senyuman.

Namjoon mengepalkan tangannya. Jakunnya bergerak naik turun karena ludahnya dia telan susah payah. Namjoon perhatikan dua mata sipit seperti kucing milik Yoongi, bagaimana Namjoon menganggap mata itu adalah mata tercantik yang pernah dia lihat. Lalu, tanpa bisa dihindari, pandangan Namjoon turun menuju bibir mungil warna merah muda milik Yoongi.

"Aku … aku serius, Hyung . Aku takkan berhenti." Namjoon menaikkan pandangannya lagi, jauh-jauh dari bibir Yoongi yang menggugah itu.

"Dan aku juga serius, Namjoon. Aku takkan menghentikanmu."

Napas Namjoon tak bisa teratur lagi ketika tangan dingin Yoongi mencapai dadanya lalu pelan-pelan naik hingga bahu. Dari caranya memegang Namjoon, Yoongi seperti sedang menariknya mendekat, tetapi tidak terlalu kencang. Seolah ia sedang menunggu keputusan Namjoon.

Satu kali lagi tatapan ke bibir Yoongi adalah yang memantik sesuatu dalam diri Namjoon. Setelah menelan ludah (entah yang ke berapa kali) Namjoon menarik Yoongi langsung dari tengkuk dan menciumnya ganas-ganas.

Lenguhan tak tertahankan keluar dari mulut masing-masing yang terbungkam oleh ciuman penuh gairah. Yoongi sudah mengalungkan dua tangannya di leher Namjoon, meremas-remas rambutnya, dan menekan kepala pria yang lebih tinggi untuk memperdalam ciuman.

Sementara Namjoon juga merasa tangannya tak bisa tinggal diam. Tangannya yang menarik tengkuk Yoongi diam di sana, tak ingin Yoongi bergeser kemana-mana. Sedangkan tangannya yang lain menyingkap sweater Yoongi dan mengusap kulit pinggangnya secara langsung.

Alis Yoongi sampai bertautan karena kulitnya yang diusap Namjoon sangatlah sensitif. Desahan tipis yang keluar dari mulutnya yang berkali-kali mengubah posisi ciuman juga tak sanggup ditahan. Ia sampai memekik ketika Namjoon mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas mesin cuci front-load tersebut.

Mesin cuci itu menggerung ringan dan posisi Yoongi di atasnya membuat akses Namjoon semakin mudah karena akhirnya wajah mereka bersejajar. Namjoon tak mengambil banyak waktu untuk mencium Yoongi lagi, merasa mabuk karena sudah sangat lama ia tidak berinteraksi intim dengan siapa pun.

Yoongi tak menyembunyikan suara desahannya bahkan ketika Namjoon menciumi rahang dan lehernya, juga mulai menyentuh puting di dadanya yang telah mengeras. Dua tangannya meremas-remas rambut Namjoon seolah sedang menyemangatinya dan Yoongi menengadahkan kepalanya untuk mempermudah jalan Namjoon.

"Ap-Apakah kita tidak perlu … pindah ke kamar?" tanya Yoongi dengan napas terengah. Tubuhnya menggeliat kecil setiap kali jari Namjoon mengusap puting di balik sweaternya.

"Kau ingin memindahkan ini ke kamar?"

Tatapan Yoongi kepada Namjoon sudah sangat sayu. Bibir Namjoon yang tebal itu sangat luar biasa, membuat libido Yoongi terus naik setiap kali bibir itu mengenai kulitnya.

Lalu ia menjawab, "Tentu saja. Setubuhi aku di tempat yang nyaman, please ."

Namjoon mengukir senyum. Setelah menanam satu kecupan panjang di bibir Yoongi, ia pun menggendong pria yang lebih kecil itu dengan mudah.

"Baiklah. Tunjukkan jalannya, Hyung ."

 

***

 

Pagi hari. Namjoon membuka mata. Ia melihat sekelilingnya secepat kilat dan mengembuskan napas pelan begitu sadar dimana ia berada.

Ia … berujung melakukan seks dengan Yoongi.

Sekarang, pria itu bergelung dalam dekapan Namjoon, masih tertidur lelap. Kepala bersandar pada bahu Namjoon yang penuh otot. Satu tangan Yoongi menempel dengan tubuhnya sendiri dan satu tangan lagi beristirahat di atas dada Namjoon. Kemudian, kaki mereka bertumpukkan di dalam selimut.

Mereka berdua masih telanjang bulat selepas apa yang mereka lakukan semalam.

Melakukan seks. Berciuman panas. Mendesah bebas. Saling melempar kata-kata erotis di telinga masing-masing. Namjoon berada di dalam Yoongi dan ia masih ingat betapa nikmatnya mereka bercinta semalaman.

Justru itu yang membuat Namjoon mengusap wajahnya penuh kekalahan.

Ya, dia kalah akan nafsunya sendiri. Namjoon sama sekali tak mengira ia akan berciuman setelah kencan pertama. Apalagi seks. Dan dia malah berujung melakukan dua-duanya. 

Namjoon sampai kebingungan harus menyebut dirinya bodoh atau licik. Memang, Yoongi dan seluruh tubuhnya sangat sulit untuk ditolak. Ada secuil dalam pikirannya yang mengatakan bahwa momen tadi malam akan sangat disayangkan bila terlewatkan. Maka Namjoon pun melakukan semuanya sampai birahinya tuntas.

Ia pun melirik ke arah Yoongi. Pria tersebut pulas sekali tertidur, mungkin lelah. Napasnya konstan, membuat bahunya bergerak naik turun. Kelopak matanya yang tertutup membuat Namjoon menyaksikan bulu matanya yang lebat beristirahat di atas pipinya yang bulat dan tertekan lengan Namjoon yang menjadi bantalnya.

Yoongi … sangat cantik, menurut Namjoon.

Namjoon meringis ketika lengannya mati rasa. Yoongi sama sekali tidak pindah atau merubah posisinya dari semalam. Ketika Namjoon hendak bangun dan berniat memindahkan kepala Yoongi ke atas bantal tanpa suara, pria yang lebih tua malah membuka mata.

“Kau sudah bangun?” tanya Yoongi parau. Dengan dia terbangun seperti itu, Namjoon dapat menarik tangannya dengan mudah dan duduk.

Namjoon mengangguk. Ia gosok wajahnya dan mengacak rambutnya yang kacau. Ketika ia melihat ke arah Yoongi yang beralih memeluk bantal Namjoon, ia tersenyum.

“Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?” tanya Namjoon kemudian.

Yoongi ikut tersenyum. Kepalanya menggeleng. “Kau memperlakukanku seperti barang mudah pecah. Padahal sudah kubilang untuk tidak ditahan, tapi kau malah menahan dirimu sendiri. Aku suka sakitnya, tahu.”

“Aku tak bisa melakukan itu, Hyung . Tidak setelah kencan pertama. Melakukan ini saja sudah … terlalu banyak, menurutku,” ucap Namjoon dengan wajah kusut.

Melihat itu, Yoongi pun ikut bangun. Tatapannya pada Namjoon berubah khawatir. “Kenapa? Kau tidak menyukainya? Kau … menyesalinya?”

“Tidak! Tidak, Hyung ,” jawab Namjoon buru-buru. “Aku menyukai tiap detik bersamamu. Apapun yang kita lakukan bersama, aku menyukainya. Aku hanya … tidak ingin mengecewakanmu jika aku melakukan kesalahan.”

Senyum Yoongi melembut. Tangannya terjulur untuk mengusap pipi Namjoon. “Sejauh ini, yang bisa aku simpulkan tentangmu adalah seksi dan menggemaskan. Mungkin nanti bisa lebih, tetapi sama sekali tidak akan kurang. Kau sempurna dengan kekurangan-kekuranganmu, Namjoon.”

Mengambil tangan Yoongi yang hinggap di wajahnya, Namjoon pun menarik pria itu mendekat dan mengecup bibirnya. “Terima kasih. Aku … sangat menyukaimu, Hyung .”

Yoongi tersenyum. Pipinya berwarna cerah atas perilaku hangat Namjoon yang tiba-tiba itu. Ia pun membalas pelan, “Aku menyukaimu juga.”

 

***

 

“Papa!”

Namjoon berjongkok dan membiarkan Taehyung menghamburnya dengan sebuah pelukan erat. Lalu telinganya sudah siap akan cerita panjang Taehyung tentang akhir pekannya di rumah Nenek. Namjoon mendengarkan dengan baik, meresponsnya bila perlu, dan tersenyum sampai akhir Taehyung bercerita.

“Kau sudah datang?” Nenek Taehyung tiba-tiba datang, membawakan tas Taehyung yang sudah rapi. Namjoon yang sudah menggendong Taehyung langsung menerimanya sebagai tanda sopan. “Ingin masuk dulu? Minum teh?” tawar sang Nenek kemudian.

“Oh, tidak perlu,” tolak Namjoon halus. “Aku harus segera pulang karena meninggalkan jemuran. Sekarang sudah mendung.” ia beralasan.

“Baiklah. Hati-hati di jalan,” ucap sang Nenek sambil tersenyum lebar.

“Terima kasih karena sudah menjaga Taehyung selama aku tidak ada.” Namjoon membungkuk tanpa menurunkan Taehyung.

“Papa, Papa habis digigit apa?” tanya Taehyung tiba-tiba. “Ini merah-merah.”

Taehyung mendaratkan jemarinya di leher Namjoon, tepat di atas bercak-bercak kemerahan yang muncul di sana. Lantas Namjoon mengambil tangan sang anak dan dijauhan dari lehernya. “Bu-bukan apa-apa,” katanya buru-buru. Ia menghindari tatapan Taehyung dan Neneknya yang juga sedang memandangnya curiga.

“Aku … aku pamit, kalau begitu.” Namjoon membungkuk lagi. Kali ini lebih dalam.

“Namjoon,” panggil sang Nenek tiba-tiba. Namjoon mendongak.

“Ya?”

Sebuah senyum lembut terulas di wajah menua sang Nenek. Lalu yang keluar dari bibirnya adalah, “Semoga ... dia yang kau pilih ... bisa membahagiakanmu, ya. Mungkin lebih daripada ibunya Taehyung.”

Namjoon, mendapat ucapan seperti itu, tentu tertegun. Ia pun kembali menundukkan pandangannya sebagai tanda hormat. Satu kali lagi ia membungkuk dan Namjoon mengucapkan, “Terima kasih banyak.”

Setelah itu, Namjoon membawa Taehyung pulang, tanpa menjawab pertanyaan Taehyung soal bercak-bercak apa yang ada di lehernya.

 

***

 

“Taetae, ayahmu sudah datang,” kata Yoongi dari mulut pintu kelas.

Taehyung, yang sedang bermain mobil-mobilan, langsung meninggalkan mainannya dan melesat menuju Namjoon. Seperti kebanyakan hari, ia akan melupakan tas ransel Ponyonya. Maka Yoongi membantu Taehyung membawakannya keluar.

Saat Yoongi sampai di lobi, Taehyung sudah ada dalam gendongan Namjoon. Melihat wajah ayah tunggal tersebut tentu membuat pipi Yoongi memerah. Pria itu memang selalu mendebarkan hati Yoongi bahkan hanya dengan berdiri di mulut pintu daycare.

“Taetae, tasmu ketinggalan,” ucap Yoongi lalu memasangkan tas ransel Taehyung ke punggung sang anak yang sedang memeluk Namjoon erat-erat. Usahanya memasangkan tas Taehyung tersebut membuat posisinya sangat dekat dengan Namjoon. Yoongi sudah bisa tahu pipinya memerah karena pipi Namjoon juga merah.

“Sudah, tidak ada lagi yang ketinggalan. Sampai jumpa besok, Taetae.” Yoongi melambai ke arah Taehyung yang kelihatan lelah dan mengantuk.

Namun, ketika Taehyung meluruskan punggungnya, ia melirik Yoongi dengan tatapan cemberut. “Mengapa Yoonie Seonsaengnim tidak menyapa Papa juga?”

“Eh?” Yoongi menaikkan alis. “A-aku sudah menyapanya, kok, tadi. Saat Papamu datang barusan. Iya, kan, Namjoon?”

Namjoon mengangguk mengiyakan. “Iya, betul, Taetae. Yoonie Seonsaengnim sudah menyapaku barusan. Tidak apa-apa.”

Taehyung memicingkan matanya. “Papa tidak pernah cerita tentang kencan kalian. Padahal kalian bisa kencan karena Taetae bantu,” ucapnya kesal, membuat Yoongi dan Namjoon gelisah di tempat.

“Sekarang, jawab yang jujur.” Taehyung mengacungkan jari telunjuknya yang mungil. “Kalian sudah ciuman atau belum?”

Tak dipungkiri, baik Namjoon maupun Yoongi sudah memerah bukan main. Taehyung pun sudah cukup pintar untuk tidak melewatkan betapa malunya dua orang dewasa tersebut.

“Tuh, kan, sudah kubilang! Aku tahu kalian pasti sudah ciuman!” seru Taehyung girang.

“Tae-Taehyung! Jangan kencang-kencang. Nanti ada orang lain yang dengar,” bisik Namjoon was-was, menutup mulut Taehyung.

Namun, Taehyung dengan mudah bisa melepaskan diri. “Loh, kenapa? Aku yang mau kalian ciuman. Mengapa harus peduli orang lain? Kita yang bahagia, kok. Iya, kan, Yoonie Seonsaengnim?”

Yoongi menelan ludah. Tak ia sangka kata-kata seorang bocah mampu membuatnya sedemikian malu seperti ini.

“Kalian tidak bisa tunjukkan ciumannya kepada Taetae? Ayo, ciuman. Taetae juga mau ikutan,” usul Taehyung kemudian.

“Taehyung, sepertinya itu agak sedikit--”

“Ciuman. Sekarang. Taetae mau ikutan,” potong Taehyung tajam-tajam, membisukan Namjoon yang merahnya bukan main.

Namjoon pun melirik Yoongi yang menunduk. Mungkin dia juga sama malunya dengan Namjoon. Namjoon kira Yoongi akan membantunya untuk melepaskan diri dari situasi ini. Namun, Yoongi malah berjalan mendekat.

“Hanya satu kecup, tidak apa-apa?” tanya Yoongi malu-malu, sukses membuat Namjoon terperangah.

“Tidak apa-apa. Asal Taetae bisa ikutan,” jawab Taehyung semangat.

“Ba-bagaimana bisa kamu ikutan? Ciuman hanya bisa dilakukan oleh dua orang,” sergah Namjoon dengan niat ingin meredakan gemuruh kencang dalam dadanya. Namun, hasilnya nihil. Yoongi dengan wajah merahnya berada tepat di hadapan Namjoon. Debaran jantung Namjoon tidak memelan sama sekali.

“Bisa, kok! Tadi di kelas, Taetae, Jiminie, dan Jungkookie ciuman tiga arah. Bibir kami bertemu semua. Bisa, kok!”

“Kamu … apa?” tanya Namjoon tak percaya. Namjoon rasanya sudah tidak bisa berpikir lagi. Taehyung ini memang ada-ada saja. Ada saja sesuatu yang terjadi bersama anak yang bernama Jimin dan Jungkook.

“Ayo, cepat! Ciuman!” tekan Taehyung tak sabaran.

Kemudian, tanpa bisa Namjoon tolak, Yoongi mendekat dan menyentuhkan bibirnya dengan milik Namjoon. Kemudian di satu sisi yang lain, Taehyung juga mendekat dan berhasil bergabung dalam satu kecupan malu-malu dan penuh sayang tersebut.

“Tuh, kan. Kubilang juga bisa!” Taehyung bertepuk tangan bahagia begitu ciuman tiga arah mereka selesai. “Sekarang, Yoonie Seonsaengnim mau ikut makan malam sama Taetae dan Papa malam ini?”

“Taehyung, sudah cu--”

“Boleh. Dengan senang hati. Sekarang aku tidak sibuk.”

Namjoon menatap Yoongi tak percaya. Mulutnya sampai menganga. Wajah Yoongi tidak semerah barusan, mungkin mereda setelah kecupan mereka dipertontonkan di hadapan Taehyung. Dia jadi lebih berani.

“Tunggu sebentar. Aku ambil barang-barangku dulu.”

Yoongi pun masuk kembali ke dalam daycare dan meninggalkan Namjoon bersama Taehyung menunggu di pintu daycare.

Namjoon tahu dia sudah kalah. Rasanya memalukan, tetapi juga mendebarkan. Taehyung mendukung hubungannya dengan Yoongi. Itu menakjubkan, sebetulnya. Mungkin Taehyung sesayang itu kepada Yoongi.

“Mengapa Papa menatapku terus? Di pipiku ada stiker yang menempel?” tanya Taehyung bingung begitu mendapatkan Namjoon menatapnya terus. Bocah itu menggosok-gosok pipi tembamnya, mencari apapun yang menempel.

“Tidak, tidak ada yang menempel,” balas Namjoon kemudian.

“Terus, kenapa?”

Namjoon menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. “Tidak. Tidak ada apa-apa.”

 

***

 

Namjoon menghela napas setelah menutup pintu kamarnya. Butuh waktu panjang baginya untuk menidurkan Taehyung. Waktu sudah nyaris menyentuh tengah malam dan Min Yoongi masih duduk di ruang tengahnya, tak bisa pulang jika Taehyung belum tidur.

“Dia sudah tidur?” tanya Yoongi kemudian.

“Ya,” jawab Namjoon. Ia kelihatan sangat lelah, terlebih ketika ia mengacak rambutnya yang memang sudah awut-awutan. Yoongi tersenyum penuh maaf padanya.

“Jangan menatapku seperti itu,” ucap Namjoon setelah duduk di samping Yoongi. “Aku yang minta maaf padamu, jadi menahanmu seperti ini.”

“Tidak apa-apa, Namjoon. Aku justru senang bisa berada di sini.”

“Benarkah?” tanya Namjoon penuh kejut. Terlebih ketika ia melihat senyum Yoongi melebar. "Padahal Taehyung menahanmu sampai tengah malam begini."

"Tidak masalah." Yoongi mengangkat bahu. "Aku masih bisa memanggil taksi dan …." Matanya menatap Namjoon dengan teduh. "Dan aku bisa menghabiskan waktu bersama kalian. Itu sudah lebih dari cukup."

"Hyung, aku … aku boleh mengakui sesuatu padamu?" Tanya Namjoon takut-takut.

Yoongi yang keheranan pun menggeser duduk agar bisa lebih dekat. Tak ia lepas pandangannya dari Namjoon yang kerap menunduk. "Boleh. Katakan saja, Namjoon."

"Jika …." Namjoon membasahi bibirnya. "Jika … Taehyung menuntut sesuatu padamu yang membebanimu, aku … aku meminta maaf untuknya."

Yoongi memiringkan kepalanya. "Menuntut sesuatu … seperti menikah denganmu?"

Tebakan Yoongi sukses membuat Namjoon memerah bukan main.

"I-itu … jika pernah permintaan seperti itu keluar dari mulut Taehyung, itu adalah karena dia … dia merindukan sosok ibunya. Jadi … maklumi saja dan … jika kau merasa tidak nyaman, kau boleh menolaknya." Suara Namjoon mengecil di akhir, tetapi Yoongi sanggup mendengar semuanya.

Dan itulah yang membuat Namjoon malu sekali. Memang, Taehyung adalah anak yang jujur dan selalu menyuarakan isi hati dan pikirannya secara terang-terangan tanpa takut. Namun, justru itulah yang membuat Namjoon khawatir. Bagaimana jika Taehyung mengatakan hal-hal yang tidak perlu kepada Yoongi yang bisa mengakibatkan pria itu pergi menjauh?

"Mengapa aku harus menolak?"

Buru-buru Namjoon mengangkat kepala. "Eh?"

Senyum Yoongi sudah melembut lagi. Dan dari caranya menatap Namjoon, Namjoon menangkap perasaan-perasaan seperti … sayang dan cinta dari mata Yoongi. Dan itu aneh, menurut Namjoon.

"Mengapa kau bicara seperti itu? Kau … kau tidak masalah jika … jika Taehyung meminta seperti itu?"

"Well …," Yoongi menumpu tubuhnya ke belakang dengan satu tangan. Helaan napasnya terdengar jelas. "Aku jelas tidak akan menikahi Taehyung. Itu yang pertama."

Ketika Namjoon mengembuskan tawa akibat pernyataan tak masuk akal itu, Yoongi kembali melanjutkan, "Yang kedua, jika kau melamarku dengan baik, aku tidak punya alasan untuk menolak."

Itu yang membuat Namjoon membisu. Melainkan sekarang jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.

"Kau tahu, aku tahu semua risiko dan konsekuensi jika menyukaimu," terang Yoongi kemudian. "Kau seorang ayah tunggal. Yatim piatu pula. Orang yang selama ini kau anggap orang tua adalah orang tua dari ibunya Taehyung. Pekerjaanmu menuntut banyak kepadamu, sehingga kau akan jarang sekali berada di rumah. Lalu Taehyung … dia bukan anak yang susah, tetapi anak biasa pun butuh banyak perhatian. Aku sudah memikirkan banyak hal sebelum kencan dan kukira aku akan berubah pikiran setelah kencan pertama itu. Tapi …."

Namjoon sama sekali tidak menyela. Matanya membulat lebar seiring dengan telinganya mendengarkan seretan lembut suara Yoongi. Dan hal-hal yang dikatakannya terdengar asing dan tak masuk akal. Namjoon tak bisa percaya dengan apa yang didengarnya.

"Setelah kencan, aku mengubah banyak persepsiku tentangmu. Tidak banyak, tetapi setidaknya perasaan keragu-raguan itu lenyap. Aku sudah tidak bingung atau ragu-ragu lagi jika kau akan melangkah ke jenjang yang lebih serius denganku karena aku tahu medannya. Aku tahu seperti apa nanti jika bisa bersamamu dan Taehyung di sisa hidupku. Aku tidak akan menolak karena aku tahu aku bisa."

"Hyung …." Namjoon menggigit bibir. Matanya sampai berkaca-kaca. Yoongi sungguh berhati malaikat.

Dengan seutas senyum, Yoongi pun memeluk Namjoon yang dibalas sama eratnya.

"Aku ... aku tak tahu harus bicara apa lagi," isak Namjoon dalam pelukan Yoongi yang terasa hangat itu. "Aku sangat menyukaimu, Hyung. Aku beruntung bisa menyukaimu," akunya kemudian.

Yoongi, yang mengusap-usap punggung Namjoon sebagai bentuk sayang, menghela napasnya dengan lega. "Aku juga menyukaimu dan tidak akan pernah menyesal sudah menyukaimu."

Mereka berpeluk-pelukan seperti itu di ruang tengah yang remang. Yoongi membiarkan Namjoon menangis di bahunya sampai selesai. Lalu ia kecup permukaan wajah Namjoon setelah pria itu tenang.

"Hyung," panggil Namjoon lagi dengan suaranya yang teredam oleh bahu Yoongi.

"Ya?"

"Tunggu aku."

Yoongi berkedip. Dua tangannya menangkup pipi Namjoon yang berisi itu untuk lepas dari bahunya sehingga mereka berhadap-hapadan. "Menunggumu untuk?"

"Aku akan menikahimu. Tolong tunggu aku yang ingin melamarmu dengan baik dan benar."

 

***

 

Pagi hari.

Namjoon merasa tubuhnya lelah sekali. Ketika matanya terciprat oleh sinar matahari pagi, ia langsung membuka mata dan bangun terduduk.

"Astaga, aku terlambat!" serunya panik. Gerak-geriknya semakin heboh begitu menangkap jam di dinding. Ia bisa terlambat kerja.

"Taehyung!" panggilnya begitu sadar bahwa Taehyung tidak ada di sampingnya.

Namjoon terbirit ke kamar mandi untuk mencari. Nyatanya, Taehyung juga tidak ada.

"Astaga. Kemana anak itu? Mengapa aku tidak dibangunkan?" keluhnya kesal. Lantas kakinya berjalan keluar kamar.

Ia tidak punya waktu untuk ini. Ia tidak punya waktu untuk bermain petak umpet. Ia tidak punya waktu untuk menggiring Taehyung mandi jika ternyata anak itu malah main--

"Selamat pagi, Papa. Sudah bangun?"

Namjoon berkedip. Tubuhnya membatu di mulut pintu kamar dan ia merasa kepalanya pusing karena … apa yang terjadi?

Taehyung sudah bersih. Dia sudah rapi mengenakan seragam daycare-nya dan rambutnya juga sudah disisir. Tas Totoronya pun sudah siap di punggungnya. Taehyung sekarang sedang sarapan … dengan masakan rumah?

"Selamat pagi, Namjoon."

Mata Namjoon berpindah ke arah dapur, di mana Yoongi sedang berkutat di bak cuci piring. Manik Namjoon memicing begitu cahaya lampu terpantul dari benda menyilaukan di tangan Yoongi. Lantas Namjoon memeriksa tangannya sendiri.

Cincin pernikahan.

Oh, ya. Mereka sudah menikah. Lebih tepatnya, baru satu minggu yang lalu.

Mereka tidak mengadakan pesta pernikahan ataupun bulan madu karena tuntutan pekerjaan yang 'tanggung'. Mereka hanya mendaftarkan status pernikahan mereka di kantor sipil dan menyimpan pesta-pesta untuk nanti di akhir tahun. Itu sebabnya, selama Namjoon menjalani hari-hari, ia masih tak menyangka bahwa ia sudah menjadi suami seseorang.

Suami dari seorang Min Yoongi, lebih tepatnya.

Namjoon mengembuskan tawa. Padahal untuk mencapai ke tahap ini, mereka melewati banyak sekali hal. Seperti lamaran, bertemu dengan masing-masing orang tua (Namjoon membawa Yoongi bertemu orang tua dari ibunya Taehyung) untuk meminta restu, mencari cincin, bahkan saat mengurus berkas pernikahan di kantor sipil. Namun, seperti pria bodoh, Namjoon suka lupa bahwa ia sudah berbagi rumah dengan satu orang tambahan, yaitu Yoongi.

Ia merasa kacau sekali. Memang, dikarenakan oleh pekerjaannya, Namjoon sering kali tidak fokus. Maka, sebagai permintaan maaf, Namjoon menghampiri Yoongi dan memeluk pinggangnya dari belakang.

"Ya, aku sudah bangun," ucap Namjoon seraya mengecup pipi Yoongi. "Mengapa kau tidak membangunkan aku? Kau tahu aku suka panik pagi-pagi begini. Aku masih belum terbiasa …."

Yoongi terkekeh. Ia biarkan Namjoon memeluknya erat dan menyandarkan dagunya di bahu. "Kau yang bilang sendiri tidak ingin bangun pagi. Kantormu mengadakan shift kerja karena ada renovasi sehingga kau berangkat siang ini. Apakah kau lupa?"

Namjoon bergumam sebagai bentuk mengingat. "Oh, iya, ya. Lupa. Hehe."

Yoongi tertawa kecil lagi. "Lebih baik jika kau bantu Taehyung menghabiskan sarapannya. Dia bilang dia kesulitan makan daging maka aku berikan dia daging pagi ini supaya dia terlatih mengunyah daging dengan benar."

"Oh, kau sudah menyiapkan untukku juga?" Namjoon langsung melepaskan Yoongi dam berbalik menuju meja pantry begitu sadar bahwa makanan sudah siap untuknya.

"Tentu saja. Kau pikir aku ini suami apa?"

"Hmm … suamiku?"

Yoongi mendenguskan tawa akibat lelucon Namjoon itu. Padahal rupanya masih acakadut selepas bangun tidur, tetapi Namjoon sudah mencoba untuk melucu.

"Kau tidak ikut makan?" tanya Namjoon setelah mengambil duduk di samping Taehyung.

"Nanti. Setelah ini," sahut Yoongi yang Namjoon biarkan karena fokusnya sekarang jatuh pada Taehyung.

"Katanya kamu gak bisa makan daging? Bagaimana? Masih tidak bisa?" tanya Namjoon sambil memulai makan sarapannya.

"Dadda sudah buat dagingnya empuk. Taetae masih bisa kunyah," jawab Taehyung sambil menunjukkan mangkuk dan mulutnya, pertanda ia tidak meninggalkan sisa makanan.

Namjoon bergumam paham. Lalu ia berseru, "Hyung, mungkin daging di daycare yang masih kurang lembut. Nanti bilang saja ke bagian cateringnya."

Setelah mendapat respons positif dari Yoongi, Namjoon kembali makan dengan tenang sambil sesekali memerhatikan Taehyung. Jika mangkuk anak itu terdorong terlalu maju atau dia butuh minum, Namjoon sigap untuk membantunya.

Yoongi bergabung tidak lama setelah itu. Ia membawakan dua cangkir kopi untuk dirinya dan Namjoon. Mereka pun mulai sarapan dalam diam, mungkin sesekali membuka mulut untuk menanyakan hal-hal ringan.

Setelah sarapan, Yoongi dan Taehyung berangkat lebih dulu. Keduanya pergi setelah menanam kecupan di bibir Namjoon dan menyempatkan untuk ciuman tiga arah andalan mereka. Keduanya meninggalkan Namjoon yang baru akan berangkat siang hari. Maka Namjoon mengisi waktu dengan beres-beres rumah dan mengurus cucian baju.

Sungguh hari yang normal bagi Namjoon dan keluarga, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa Namjoon masih merasa asing dengan semuanya. Daripada asing, sebetulnya lebih terasa seperti mimpi. Membangun keluarga bersama Yoongi dan Taehyung, adalah mimpi yang jadi kenyataan. Namjoon takkan pernah merasa lebih bersyukur dari saat ini.

"Namjoon, kepala tim memanggilmu," panggil rekan kerja Namjoon, menembus lamunannya.

"O-oh? Oh, iya. Sebentar. Aku akan segera ke sana," balas Namjoon sambil melanjutkan ketikannya dan setelah dicetak, kertas itu harus Namjoon serahkan ke kepala tim mereka.

Sementara rekan kerjanya di samping hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Namjoon.

"Padahal sudah beres menikah, tetapi malah jadi banyak melamun. Kenapa?" tanya rekan kerjanya itu sebagai bentuk empati.

"Masih belum terbiasa. Maafkan aku," jawab Namjoon penuh maaf sambil berusaha tersenyum dan melengkapi tugas-tugasnya.

"Apakah ada masalah?"

"Tidak, tidak ada masalah," jawab Namjoon asal karena ia sudah melihat kepala timnya memicingkan mata.

Ya, sebetulnya tidak ada masalah. Hanya saja, karena Namjoon seringkali menganggap hidupnya sekarang adalah mimpi, dia jadi tidak fokus akan sekitarnya. Pekerjaannya tidak optimal dan memberikan sayang kepada Yoongi dan Taehyung pun tidak jadi optimal. Namjoon selalu merasa bersalah.

Maka Namjoon pulang malam itu dengan wajah kusut.

Taehyung sudah tidur dan Yoongi sedang menunggunya di ruang tengah ketika Namjoon pulang, sedang memainkan ponselnya. Yoongi langsung tahu bahwa ada yang tidak beres begitu matanya menangkap wajah murung Namjoon.

"Ada apa? Mengapa kau kelihatan sedih? Ada masalah di kantor?"

Namjoon menjawab pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Lalu ia mendekat untuk memberikan pelukan rindu untuk Yoongi. Yang dipeluk tentu terheran-heran.

"Apakah kau ingin cerita?" tanya Yoongi hati-hati, tak ingin sampai menyinggung Namjoon.

Namjoon mengembuskan napas berat. Kali ini, dia baru menjawab, "Aku hanya … merasa bodoh."

Kening Yoongi mengerut karena bisa-bisanya Namjoon berkata aneh malam-malam. Ia mengendus berharap menangkap bau alkohol, tetapi  tidak ada. Belum sempat dirinya meminta klarifikasi, Namjoon sudah menyela, "Aku merasa bodoh karena masih menganggap kehidupan bersamamu adalah mimpi dan aku tidak pernah bisa fokus belakangan ini karena memikirkan itu terus. Aku hampir mengabaikan pekerjaanku dan aku … hampir mengabaikan kalian juga."

Mendengar kata 'kalian', tentu Yoongi tahu bahwa yang Namjoon maksud adalah Yoongi dan Taehyung. Dan Yoongi tertegun mendengarnya.

"Aku meminta maaf jika … jika akhir-akhir ini aku sering tidak fokus karena … karena aku belum terbiasa. Bukan berarti aku tidak suka kau tinggal bersamaku, tapi … tapi aku masih--"

"Aku paham, Namjoon," potong Yoongi sambil menepuk-nepuk halus punggung Namjoon.

"Aku paham karena ini … adalah pernikahan pertamamu. Aku paham karena selama ini kau harus menghidupi dan membesarkan Taehyung sendirian, tanpa partner. Kau belum terbiasa oleh penambahan anggota keluarga, begitupun dengan kehadiran seorang partner," terang Yoongi pelan agar Namjoon bisa mencernanya dengan baik.

"Tapi ini juga merupakan pernikahan pertamaku. Kita menikah berdua, mengucapkan sumpah berdua, dan kita berdua juga yang menjadi tulang punggung keluarga ini. Maka, sudah sepatutnya kita menyelesaikan semua rumah tangga ini berdua. Aku tidak ingin membuatmu merasa terbebani. Maka aku ada di sini sebagai teman hidupmu, teman untuk berbagi cerita, berbagi susah, dan berbagi cinta. Aku harap kau mengingat itu terus. Karena aku adalah suamimu sekarang. Kau tidak sendirian lagi."

Namjoon melepas pelukan itu setelah Yoongi selesai. Menatap kedua manik Yoongi itu dengan sendu, Namjoon mencium Yoongi tanpa aba-aba.

Ciuman itu lembut, tidak terburu-buru, dan penuh cinta. Darah Yoongi berdesir halus setiap kali lidah Namjoon menyapu permukaan bibirnya dan denyut nadi Namjoon mengencang saat Yoongi mulai menggenggam rambutnya. Dan ketika pasokan udara menipis, barulah keduanya mundur.

"Yoongi Hyung, bolehkah ... aku mengakui sesuatu padamu?" tanya Namjoon tiba-tiba.

Mata sayu Yoongi tidak tanggal sama sekali dari Namjoon. Tanpa perlu menjawab, ia biarkan Namjoon melanjutkan, "Aku ... sama sekali tidak menyesal sudah mengajakmu kencan dan menikah. Kau adalah berkah bagiku dan aku berterima kasih padamu karena memiliki perasaan yang sama denganku."

Mengulas senyum, Yoongi pun mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Namjoon. Lalu bibirnya bergerak pelan.

"Dan aku pun tak menyesal sudah berkata 'iya'."

 

***

 

HAPPY ENDING 🌺