Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-08-24
Words:
1,664
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
28
Bookmarks:
3
Hits:
358

don't you worry 'bout a thing

Summary:

Jeonghan dengan kekhawatirannya dan Seungcheol dengan kehadirannya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

It's  another date night for both of them. 

 

Jeonghan yang sudah hampir selesai dengan studinya dan Seungcheol yang masih sibuk dengan pekerjaan dari kantor mereka. Jeonghan masih terbiasa menyebutnya demikian, walaupun masa magangnya di kantor tersebut telah selesai. Sempat ditawarkan untuk memperpanjang, tetapi Jeonghan masih ragu.

 

Ragu—perasaan ini yang sedang sering ia rasakan dalam beberapa waktu terakhir. Bukan hanya karena satu, dua, tiga hal kecil, tetapi karena banyak hal yang saling berkaitan. 

 

Dengan masa studinya yang hampir selesai. Dengan masa sekarang yang ia rasa butuh banyak rencana dan mempersiapkan diri untuk menjadi lebih dewasa. Dengan masa depan yang ia rasa masih belum pasti akan seperti apa. 

 

Tanpa sadar ia menghela napasnya perlahan, suatu hal yang mulai sering dia lakukan semenjak dia tidak lagi memiliki banyak kegiatan. Tangan kanannya merogoh saku kanan jaket yang ia kenakan, mengambil ponselnya untuk melihat jam pada layar dengan fotonya bersama Seungcheol di sebuah photobooth berdua. Foto yang mereka ambil minggu lalu saat sedang melakukan kencan untuk ketiga kalinya.

 

Sekarang sudah pukul enam lewat sepuluh menit, seharusnya, seharusnya sebentar lagi Seungcheol sudah sampai dengan motor mililknya. 

 

Yang mengejutkan adalah, Seungcheol tiba dengan kedua kakinya yang panjang dan berjalan dengan gagah menuju Jeonghan—yang masih terpaku di kursi kayu tempatnya menunggu sejak setengah jam lalu. Alisnya sedikit menukik, kemudian mengangkat bahu sebelum bertanya dengan penuh rasa heran ke arah kekasihnya.

 

"Kamu jalan kaki?"

 

"Iya."

 

"Seharian?"

 

"Iya."

 

"Motornya rusak?"

 

"Nggak Han, nggak," kekehan Seungcheol dapat ia dengar karena jarak wajah mereka yang sangat dekat sekarang. "Geser dong, aku mau duduk dulu bentar."

 

"Kok tumben kamu gak bawa motor." 

 

Bukan pertanyaan, tetapi pernyataan yang ia ajukan pada Seungcheol sambil memeluk sebelah lengan yang terbalut kemeja berwarna abu-abu itu dengan pelan.

 

Suara tawa renyah menyambutnya dan lengan yang hanya sempat Jeonghan peluk untuk sekian detik itu malah meraih pundak kirinya. Merangkul Jeonghan dengan erat ke dalam dekapan hangat milik Seungcheol.

 

"Kamu kok keliatan capek banget, kan aku yang kerja hari ini."

 

"Eh sorry ya, gue juga kerja kali!"

 

"Ngapain? Kasur di kamar udah diganti spreinya belum?"

 

Iya, semalam Jeonghan mengirim pesan dengan keluhan tentang seprai kasur yang seharusnya ia ganti sejak beberapa hari lalu. Tetapi laundry tempat ia mencuci seprai miliknya baru mengirim kemarin sore saat dia juga sudah lelah sepulang dari perpustakaan kampus. Alhasil dia mengeluh dengan panjang lebar kepada Seungcheol saat mereka akhirnya sedang melakukan video call di malam hari.

 

"Itu, itu belum! Tapi sebagian lemari udah diberesin. Buku-buku juga udah dimasukkin kardus."

 

"Pinter, terus abis itu ngapain?"

 

"Tidur siang lah! Baru deh siap-siap buat ke sini."

 

"Kita mau jalan sekarang?"

 

Jeonghan menganggukkan kepalanya dengan cepat sebagai jawaban. Membuat senyuman yang merekah di wajah Seungcheol menjadi lebih lebar dari sebelumnya. Sebuah kecupan kecil pun ia tinggalkan di sudut kening Jeonghan sebelum ia berdiri dan ikut menarik Jeonghan yang masih berada dalam dekapannya.

 

Tangan yang semula merangkul bahu milik Jeonghan beralih menjadi menggenggam tangan milik kekasihnya tersebut.

 

"Jeonghan."

 

"Iya?" 

 

"You look troubled, for real."

 

"Am not."

 

"You do. Liat itu kantong mata. Mau cerita?"

 

"Mmmhmmm."

 

"Ini maksudnya iya atau nggak?"

 

Jeonghan menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab pelan. "Di tengah-tengah, Cheol."

 

"Kamu tau kan, aku gak masalah banget denger kalo kamu mau curhat. Biasanya juga gitu."

 

"Takut kamu ketawa pas aku cerita?"

 

"Emang soal apa sih? Bingung milih warna baju yang mau kamu beli? Kaos kaki kesayangan kamu kelunturan lagi di laundry?"

 

"Nggak, nggak!"

 

"Then?"

 

"Aku tuh...lagi bingung sama hidup aku sekarang."

 

Seungcheol hanya mengangguk kecil, mengusap dagunya sebelum memberi balasan dengan pelan. "Agak berat ya, ternyata."

 

"See? That's why aku nggak mau cerita."

 

"Hey! Aku nggak ngetawain kamu, Han." 

 

"Tau...tapi tetep aja Cheol..."

 

"Cerita aja, please?"

 

"Aneh ya, harusnya aku seneng bisa selesaiin studi aku. Tapi, di saat yang sama aku belum tau mau ngapain di saat temen-temenku keliatannya udah tau dan punya banyak rencana buat hidup mereka."

 

"Sayang."

 

"Mmm?"

 

"Masih ada lagi ya pasti?"

 

"Hehe, banyak Cheol. Banget."

 

"Tell me then. Aku dengerin satu-satu. Aku gak akan komentar kalo kamu gak mau dikomentarin, oke? Aku janji."

 

And he kissed the side of his head to seal the promise.

 

Thank God this street is almost empty as usual or else everyone will see how red Jeonghan's face right now under the string of lights around them. The walk to their destinated place feels so long yet it feels warm and comforting.

 

 


 

 

Malam hari ini mereka memilih untuk duduk di kursi bagian luar kedai kopi yang berada tepat di sebelah lobby mall tujuan mereka. Sedikit berisik, tetapi anginnya terasa sejuk setelah satu hari yang panas dan meresahkan, setidaknya untuk Jeonghan. Seungcheol masih berada di kasir, memesan minuman untuk mereka berdua dengan embel-embel 'Kali ini aku yang bayar!'

 

Untuk persiapan menghibur Jeonghan, lanjutnya lagi beberapa menit lalu saat mereka masih berjalan sambil bergenggaman tangan.

 

Tidak sampai sepuluh menit Seungcheol sudah duduk di hadapannya dengan dua gelas plastik di atas meja yang memisahkan mereka berdua. Satu iced caramel macchiato untuk Seungcheol, satu java chip frappuccino untuk Jeonghan.

 

Seungcheol menaruh kedua tangannya di atas meja, dagunya disandarkan tepat di atas kedua tangan yang sudah menyatu. Pasang matanya menatap lurus ke arah mata Jeonghan dengan hangat dan sebuah senyuman kecil yang tetap menunjukkan lesung pipinya.

 

"Udah mau cerita?"

 

"Belum."

 

"Oke." Seungcheol masih tersenyum, kemudian tertawa pelan. "Diminum dulu deh kalo gitu."

 

Sebuah kata oke yang baru Seungcheol berikan memiliki arti: Oke, aku nggak masalah tunggu sampai kamu siap. 

 

Dan Jeonghan sangat paham akan hal itu. 

 

Seungcheol adalah dan selalu si pendengar yang hebat. Si pemberi saran yang selalu membantu walaupun singkat. Si pemberi semangat yang tidak kenal lelah (kecuali saat menyemangati dirinya sendiri) dengan senyuman hangat. 

 

Selalu begitu, bahkan sejak sebelum mereka berpacaran. Seungcheol sering bercerita, terlalu sering malah, di saat Jeonghan pernah mengira Seungcheol terlihat...menyeramkan. 

 

Ternyata Seungcheol berbeda jauh dari apa yang ia kira. Dia senang berbicara hal-hal kecil yang dia alami dalam keseharian. Tingkah lakunya terkadang konyol, tetapi jika dia dibutuhkan sebagai pendengar, tidak pernah sekalipun dia mengecewakan Jeonghan.

 

"Cheol."

 

"Yeah?"

 

"Aku yakin kamu pernah ngalamin juga, tapi, how do you deal with insecurities?"

 

"Insecure yang kayak apa dulu, Han?"

 

"Tentang...hidup. Kuliah. Kerja. Rencana masa depan. Apapun itu."

 

"Setiap hari, Han, setiap hari aku ngerasain itu."

 

"Tapi...kamu kan udah kerja."

 

"Terus?"

 

"Kamu...udah selangkah lebih maju dari aku." bisik Jeonghan dengan suara yang semakin memelan di akhir katanya. "Padahal kita kan seumuran."

 

"Dan hidup kita bukan perlombaan, Han, kecuali kalo itu sama diri kamu sendiri."

 

Jeonghan baru mau berbicara ketika Seungcheol sudah memotongnya lagi dengan cepat. 

 

"Timeline hidup kamu sama aku beda, hanya karena aku udah kerja bukan berarti aku lebih maju atau lebih hebat juga. Gitu juga sama timeline hidup orang lain, kita kan gak ada yang tau.

 

"Anyway, lanjutin coba. Sorry aku malah jadinya motong."

 

"Gak apa..."

 

Jeonghan memainkan sedotan miliknya, tidak lagi meminum frappuccino miliknya seperti yang sebelumnya disuruh oleh Seungcheol. Seungcheol tentu masih khawatir, terlihat jelas dari pandangan matanya pada Jeonghan saat ini. Jeonghan menarik napas panjang sebelum ia kembali berbicara. 

 

"Mmm, apa ya aku bingung aja? Takut?" 

 

"Takut apa?" 

 

"Takut gagal. Takut susah dapat kerja. Takut apa yang udah aku lakuin nggak sesuai yang aku inginkan. Takut ngecewain orang-orang."

 

Seungcheol lalu mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Jeonghan.

 

"Kalo kamu takut...ya kita coba ikutin aja, ada aku yang nemenin kamu. Temen-temen kamu, orang tua kamu apalagi, asalkan kamu mau cerita." lanjut Seungcheol lagi dengan senyuman yang berusaha untuk menenangkan Jeonghan yang masih terlihat sedih di hadapannya. 

 

"Inget ya tapi, apa yang kamu takutin belum tentu terjadi. Nggak gampang sih, tapi, kita coba ya? Laluin bareng-bareng?"

 

Jeonghan hanya bisa menganggukkan kepalanya singkat sebagai sebuah jawaban terhadap seluruh ucapan Seungcheol. 

 

"Yang kamu rasain masih normal sih, dulu aku juga pernah gitu. Tapi ini kamu, bukan tentang aku. Aku mungkin nggak akan bisa bantu, tapi kalau kamu butuh didenger, aku bakal selalu dengerin kamu."

 

"Even when I don't want to talk about it now?"

 

Seungcheol mengangkat sebelah alisnya. "...gimana?"

 

"Kalo aku tuh sekarang cuma mau ditemenin? Nggak mau cerita? Cuma mau bilang sampe situ aja?"

 

"Ya gakpapa? Kan gak semua hal juga harus diceritain, Han."

 

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Jeonghan tersenyum bahagia dengan perasaan lega di dalam hatinya.

 

 


 

 

Pada akhirnya malam itu mereka memilih untuk berbicara mengenai bagaimana hari mereka berjalan. Berbicara tentang orang-orang di kantor yang mereka kenal. Berbicara tentang apapun selain perasaan takut itu tadi. 

 

Jeonghan sudah merasa lebih baik setelah ia berhasil mengungkapkan keraguan dan ketakutannya pada Seungcheol. Walaupun ia masih belum bisa bercerita dengan detail, tetapi itu saja sudah cukup baginya saat ini. 

 

"Han?"

 

"Yaa?"

 

"Kita pulang sekarang yuk?"

 

"Ngajakin bareng ini kamu?"

 

"Kan biasa juga bareng pulangnya."

 

"Tapi kamu lagi gak bawa motor? Walaupun searah kayaknya mending pesen ojek online daripada taksi online."

 

"Sebenernya," Seungcheol mengusap tengkuknya dengan sebuah senyuman jahil di wajahnya. "–motornya aku bawa, tapi masih diparkir di kantor."

 

"Ih! Kok kamu nggak bilang sih!"

 

"I just feel like spending more time with you."

 

"Kan sama aja, malah enakan naik motor bisa ke tempat lain kita."

 

"Beda, lah, aku gak bisa pegang tangan kamu terus kayak sekarang."

 

"Cheol..."

 

"Haha....yuk balik ke kantor? Biar aku bisa anterin pulang."

 

"Helmnya ada kan? Gak pinjem punya Kak Jae lagi?"

 

"Masih aja ya kamu tuh, udah sering kuanter pulang juga."

 

Jeonghan only laughs before holding onto the older's arm tightly. Holding him there to help him stand from laughing too much. It's always fun with Seungcheol and not even once Jeonghan hates it when he is with him, hopefully never.

 

Jeonghan dengan kekhawatirannya dan Seungcheol dengan kehadirannya. Kehadirannya saja sudah cukup bagi Jeonghan untuk sesaat melupakan kekhawatirannya. 

 

Semua akan baik-baik saja pada waktunya, kata Seungcheol. 

 

Dan Jeonghan memilih untuk mempercayai perkataan tersebut.

 

They are walking through the same way like they had before. It's the same sideways with dimmed light from the strings of light and  from the tall buildings towering around them all over again. But it doesn't make him feel scared nor empty at all. 

 

At least he has Seungcheol with him by his side.

 

 

 

 


 

It's us against the world.

It's us, against the world.

It's, us, against the world.

Notes:

this is...kinda pointless but still i want to write something from my on-going socmed au on twt even thought it ended up being word vomit :) title taken from Oh Wonder - Don't You Worry

dan bisa comment just in case ada tag warning yang kurang!

the socmed au is here if anyone's interested and thank you for reading<3