Actions

Work Header

Friend

Summary:

Ini hanya tentang bagaimana proses kau menjadi milikku dan aku menjadi milikmu. Kisah klasik kita yang tidak ada salahnya diabadikan.

Notes:

Prompt:

 

 

 

 

Yoongi orang yang susah ditebak. Bagi Namjoon, berusaha membaca pikiran Yoongi itu hal yang tidak mungkin. Bahkan setelah bertahun-tahun kenal Yoongi, Namjoon masih berpikir Yoongi membencinya, walaupun mereka berteman dengan orang-orang yang sama sehingga terus-menerus berada di social circle yang sama. Sebenernya, apa sih yang Yoongi rasakan terhadap Namjoon?

Konflik bebas, yang penting ada self realization kalau namgi ternyata saling suka.

Rate: SFW or NSFW terserah author

Genre: misunderstanding, mutual pining, kinda enemies to lovers?

Dw: self-realizing, fluff, cuddle time, alternate universe or canon complient terserah author

Dnw: mcd, sad ending, love triagle

Work Text:

Banyak yang mengatakan di mana ada Kim Namjoon, maka akan selalu ada Min Yoongi. Entah sudah berapa kali kalimat itu mereka dengar. Entah dari teman sekolah mereka bahkan hingga keduanya bekerja kini.

Itu yang orang katakan. Tapi apakah mereka pernah bertanya bagaimana hubungan keduanya sebenarnya? Adakah yang peduli?

Namjoon pertama kali bertemu dengan Yoongi saat mereka di tahun kedua sekolah menengah pertama. Yoongi adalah seorang murid pindahan dari Daegu. Sejak awal masuk sekolah, Yoongi sudah sangat menarik perhatian dengan kulitnya yang putih. Atau sangat putih bila mau diperjelas.

Namjoon ingat ketika keduanya pulang suatu sore, ia menanyakan sesuatu yang membuat Yoongi untuk pertama kalinya marah dan memusuhinya hampir hingga akhir minggu.

“Kau nggak pernah keluar ya? Kok putih sekali.” Kira-kira itulah pertanyaan Namjoon yang membuat Yoongi melayangkan sebuah pukulan amat menyakitkan di punggung lebarnya. Dan pria itu meninggalkannya yang sedang berusaha menggosok punggungnya yang panas. Demi tuhan, ini pertama kalinya ia dipukul sekeras itu. Ia bahkan yakin telapak tangan Yoongi akan membekas di punggungnya.

Seperti yang ia katakan sebelumya, Yoongi memusuhinya hingga akhir minggu berakhir. Dan sialnya lagi, mereka mendapat kelompok yang sama untuk tugas sejarah. Sepertinya semesta sedang hobi bercanda.

Ketiga teman wanita mereka bahkan tidak berani bertanya apakah Yoongi mau ikut kerja kelompok dengan mereka. Dengan nyali yang hanya 20 persen, mereka mencoba memberanikan diri memberi Yoongi tugas yang langsung diterimanya tanpa basa-basi. Ya, hanya itu yang bisa mereka lakukan. Mereka bahkan tidak mengajak Yoongi saat mereka berdiskusi bersama di perpustakaan sekolah.

Namjoon berhasil mendapat maaf Yoongi ketika hari senin berikutnya. Ia mencoba mengajak Yoongi duel basket karena pemuda itu pernah mengatakan bila dirinya dulu menempati posisi shooting guard di sekolah lamanya.

Pertandingan berlangsung sengit dan tolong jangan katakan ini pada Yoongi, tapi hari itu Namjoon memilih mengalah demi sebuah kata maaf. Ia memang mendapatkan kata maafnya, tapi sikap Yoongi tetap tidak berubah.

Hal itu berlangsung hingga mereka lulus sekolah menengah pertama. Namjoon sudah mengincar sekolah menengah atas terbaik di kota mereka. Ia yakin ia bisa menembusnya. Tolong jangan remehkan otak jeniusnya!

Namjoon ternganga ketika ia melihat Yoongi di hari pertama orientasi mereka. Berdiri tepat di sebelahnya hingga digeser oleh siswa yang lebih tinggi.

Tapi seperti pertemuan mereka beberapa minggu lalu, Yoongi masih menganggapnya angin lalu. Pria itu hanya menyapanya bila sang ibu menyuruhnya atau sebuah keterpaksaan yang dinamakan perkenalan awal sekolah. Sebuah kegiatan yang rasanya ingin dimusnahkan oleh seluruh siswa baru di muka bumi.

Mereka bermain lempar bola yang sialnya mendarat di tangan Yoongi. Dan Namjoon yakin sekali melihat Yoongi menatapnya dengan sangat tidak baik. 

“Nah, silahkan kau sebutkan siapa nama pelempar bola ini dan dari mana asal sekolahnya,” seru salah seorang senior yang membuat Yoongi menghentikan tatapannya pada Namjoon.

“Mohon maaf, saya lupa namanya,” sahutnya.

Si kakak kelas menatapnya dengan dahi dikerutkan. “Kau tidak fokus? Dia sudah menyebutkan nama dan asal sekolahnya dengan sangat lantang. Atau kau melamun?” tuduh si kakak kelas.

Yoongi hanya menatapnya datar. Tidak ada emosi dari tatapannya. Si kakak kelas akhirnya menyerah dan menyuruhnya untuk menuju ke arah Namjoon dan mengajaknya berkenalan langsung yang akhirnya disesali Yoongi.

Namjoon dengan wajah sok akrabnya mengulurkan tangan kanannya; minta dijabat. Yang sialnya, tidak disambut oleh Yoongi. Ia hanya berdiri tegak dengan tangan di samping tubuh.

“Siapa namamu dan dari mana asal sekolahmu?” tanyanya dengan nada datar yang justru membuat siswa kelas mereka tertawa.

“Kenapa nada suaramu seperti robot?” celetuk salah seorang siswa yang membuat tawa semakin kencang menggema jika saja salah satu senior tidak menghentikan mereka.

Yoongi masih berdiri dengan tatapan datarnya menatap Namjoon. Bahkan kini Namjoon sudah menarik tangannya yang tidak disambut oleh Yoongi.

Sebuah senyum ia pulaskan sebelum menyebutkan namanya. “Kim Namjoon, dari Seoul Junior High School,” ucapnya. Yoongi hanya mengangguk dan membalikkan tubuhnya menghadap senior mereka yang tengah menunggu keduanya.

“Namanya Kim Namjoon dari Seoul Junior High School,” ucapnya datar.

Si senior mengangguk dan menyuruh Yoongi untuk kembali duduk.

Setelah acara perkenalan awal sekolah atau perkenalan bodoh itu (ini menurut Yoongi yang sepertinya kalau dikatakan dengan lantang, akan mendapat persetujuan dari seluruh siswa) mereka akhirnya memulai tahun ajaran baru. Sepertinya candaan Tuhan memang tidak pernah meninggalkan mereka. Ya, keduanya menempati kelas yang sama dan duduk sebangku.

Katakan Yoongi sial hari itu. Ia bangun kesiangan yang membuatnya harus duduk di satu-satunya kursi kosong yang tersedia di kelas. Ya, tepat di samping Namjoon.

Namjoon sendiri sudah memasang senyum terbaiknya. Ia menarik kursi untuk Yoongi yang tidak ditanggapi apa pun oleh pria itu. Namjoon bahkan melihat Yoongi berbicara dengan beberapa siswi perempuan dan meminta bertukar tempat. Tapi para siswi itu langsung mengurungkan niat mereka begitu menyadari Namjoon menatap mereka tidak suka.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, Yoongi duduk di sebelah Namjoon. Ia hanya diam sepanjang hari dan membiarkan Namjoon mengoceh sesukanya.

“Kau sakit gigi ya? Kok diam terus dari tadi?” tanya Namjoon yang membuat Yoongi meliriknya tajam. Tapi pemuda itu tidak mengatakan apa pun. Ia kembali meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya di meja.

Namjoon tersenyum kecil melihatnya. “Selamat tidur Yoongi. Mimpi indah,” bisiknya lirih sebelum meninggalkan Yoongi ke kantin.

Di kantin, Namjoon tengah makan bersama dua teman sekelasnya; Hoseok dan Jimin. “Kau ada hubungan apa sama Yoongi?” 

Namjoon mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Hoseok. “Maksudnya? Hubungan seperti apa maksudmu?”

Hoseok memutar matanya malas. “Disini aku yang tanya. Kenapa jadi aku yang ditanya balik,” sahutnya jengah.

“Pertanyaanmu aneh. Kami hanya teman biasa, tidak lebih,” sahut Namjoon singkat sambil memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.

“Tapi kenapa Yoongi terkesan menghindarimu? Sejak di acara perkenalan sekolah dia terkesan risih dengan keberadaanmu. Kalian pernah ada masalah?” Ganti Jimin yang bertanya.

Namjoon tersenyum kecil dibuatnya. “Entahlah. Aku sendiri bingung kalau ditanya. Entah sejak kapan hubungan kami jadi aneh.”

Hoseok mengangguk semangat. “Ya, kalian aneh. Tidak akrab tapi duduk sebangku.”

Namjoon hanya tertawa kencang mendengarnya. Ia merasa, selama ia nyaman dengan semuanya, itu tidak masalah.

Tanpa terasa masa SMA terlewati dengan sangat cepat. Namjoon dengan segala kecerdasannya sering mewakili sekolah mereka untuk lomba. Mulai dari antarsekolah hingga olimpiade internasional. Ia menjadi siswa kebanggan guru dan idola para siswa. 

Ya, pubertas benar-benar membuatnya menjadi Namjoon yang luar biasa. Ia menjadi beberapa senti lebih tinggi dan tubuhnya menjadi lebih berotot karena olahraga rutin yang dilakukannya.

Bagaimana dengan Yoongi? Pemuda itu telah menjadi bintang basket sekolah mereka. Walaupun ia tidak setinggi Namjoon, pemuda itu seperti memiliki bakat alaminya dalam basket. Ia seolah menjadi pribadi yang sangat berbeda setiap kali bermain basket.

Ya, masa SMA mereka dilalui dengan sangat gemilang. Namjoon bahkan sudah mendapat tawaran dari beberapa universitas sebelum ia lulus. Yoongi sendiri juga mendapatkan tawaran yang sama. Tapi ia sendiri masih mempertimbangkan universitas mana yang akan ia pilih.

“Yoongi mau masuk ke universitas mana?” tanya Namjoon di suatu sore. 

Sedang ada arisan di rumah Yoongi dan Namjoon dipaksa sang ibu untuk menemani. Yang Namjoon yakini hanya akal-akalan sang ibu agar dirinya tidak di kamar seharian.

Yoongi hanya diam tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan ibu-ibu yang sedang bersenda gurau di taman belakang rumahnya.

“Ah, tenang saja. Aku tidak akan mengikutimu kalau itu yang kau takutkan,” tambah Namjoon cepat. Yoongi hanya meliriknya sekilas dan berdiri meninggalkan Namjoon.

Namjoon menatap punggung Yoongi yang semakin menjauh. “Aku salah bicara ya?” gumamnya sendiri.

Dan sejak hari itu, keduanya tidak pernah lagi terlibat perbincangan apa pun. Mereka terlalu sibuk belajar menjelang ujian akhir. Dan bulan april pun tiba yang artinya saat kelulusan telah tiba. Mereka hanya saling menyapa sekilas karena para ibu tidak sengaja saling melihat.

Namjoon akhirnya masuk ke Seoul National University. Sesuai dengan prediksi semua orang.

Ia sendiri belum tahu ke mana Yoongi akhirnya kuliah. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi semenjak pertemuan mereka di upacara kelulusan. Entah Namjoon yang terlalu sibuk dengan kegiatannya menjelang kuliah atau memang Yoongi yang tak pernah tampak.

Namjoon baru saja mengurus administrasi di kantor fakultas ketika merasa perutnya mulai berteriak lapar. Ia bergegas membawa langkahnya menuju ke kantin tidak jauh dari kantor. Dan karena langkahnya yang terburu-buru ia tidak sengaja menabrak seseorang di tikungan kantin.

“Ah, maafkan aku. Harusnya aku lebih hati-hati. Kau tidak apa-apa?” tanya Namjoon kepada pemuda dengan kemeja hitam itu.

Dan betapa terkejutnya ia ketika mata mereka bertemu. Itu Yoongi!

“Yoongi? Kau kuliah disini juga? Jurusan apa?” tanya Namjoon. Ia begitu senang melihat Yoongi kuliah di tempat yang sama dengannya.

Yoongi menatapnya tidak suka. Pemuda itu tidak mengatakan apa pun. Ia hanya melengos dan membawa langkahnya meninggalkan Namjoon.

Namjoon menatap punggung Yoongi yang semakin menjauh dan berbaur dengan mahasiswa lain. Sejujurnya, sampai hari ini Namjoon masih bingung kenapa Yoongi terlihat tidak suka dengannya. Tidak, bukan hanya terlihat. Pemuda itu jelas tidak suka padanya.

Namjoon sendiri merasa ia tidak pernah berbuat sesuatu yang bisa membuat Yoongi kesal ataupun marah padanya. Hei, ia terkenal sebagai pribadi yang ramah. Ia suka menebar senyuman pada siapa pun. Dan semua orang suka padanya.

Ya, semua orang kecuali Yoongi.

“Sudahlah, jangan dipikirkan terus. Mungkin Yoongi memang sedang ada masalah,” sahut Jaehyung teman sekelasnya.

“Masalahnya Jae, Yoongi sudah seperti itu sejak kami lulus SMP. Ia bahkan tidak pernah berbicara lebih dari 2 kalimat padaku. Aku merasa ada yang salah di antara kami. Tapi setiap kali kuajak bicara, Yoongi selalu menghindar,” ujar Namjoon frustrasi.

Jaehyun menepuk bahu Namjoon sekilas. “Semangat sahabat. Semakin sulit didapatkan, akan semakin berharga ia,” ujar Jaehyun sebelum meninggalkan Namjoon dalam kebingungan.

Yoongi ternyata masuk dengan beasiswa basketnya. Wajar sebenarnya bila ia bisa diterima. Tim sekolah mereka pernah menang di kompetisi Nasional dan sebagai pemain andalan, sangat cocok rasanya bila Yoongi ingin masuk ke sekolah dengan prestasi basket terbaik.

Namjoon sendiri mengambil fakultas hukum. Berbanding terbalik dengan Yoongi yang dengan sangat mengejutkan mengambil fakultas seni. Seni musik lebih tepatnya. Namjoon tidak pernah tahu ketertarikan Yoongi akan musik hingga pemuda itu tampil di acara festival kampus mereka.

Yoongi mengiringi salah seorang penyanyi solo yang Namjoon ketahui sebagai anggota paduan suara. Permainan piano pemuda itu terdengar sangat indah. Menyatu lembut dengan suara penyanyi. Dan belakangan diketahui bila lagu yang mereka bawakan merupakan ciptaan Yoongi.

Semakin terkenallah Yoongi. Ia bahkan memiliki julukan yang membuat Namjoon menahan tawanya saat mendengar. 

Sang pujangga dari fakultas seni. Kiranya itulah julukan yang Namjoon dengar dari Jaehyun dan anggota BEM lainnya. Ah, ya. Namjoon mendaftar sebagai anggota bem dan diterima dengan sangat mulus.

“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan si pujangga itu? Masih belum ada kemajuan?” tanya Jaehyun di suatu siang. Dan Namjoon dengan malas hanya menggeleng. “Seperti yang kau tahu, masih di tempat yang sama.”

Jaehyun geleng-geleng mendengar jawaban Namjoon. “Aku tidak bermaksud mengguruimu, tapi tidakkah kau ingin berbicara berdua saja dengannya? Bicara empat mata. Bicara dari hati ke hati?” tanya Jaehyun. Ia melirik Namjoon; melihat bagaimana reaksi pria itu.

Namjoon menghela napas berat. Sangat berat. “Kalau bisa, sudah ku ajak dia bicara dari sekian tahun lalu. Ini kita membicarakan Min Yoongi, mahasiswa paling dingin seangkatan. Apa yang bisa kau harapkan?”

Jaehyung memukul bahu Namjoon keras. “Hei Kim Namjoon, keluarkan segala kemampuanmu. Apa gunanya kau jadi pangeran kampus kalau seorang Min Yoongi tidak bisa kau taklukan? Berikan saja gelar itu padaku. Dasar tidak berguna,” omel Jaehyun. Mengabaikan Namjoon yang sedang kesakitan karena pukulan sadisnya tadi.

“Ajak dia keluar. Ajak dia makan. Ajak dia main. Dekati terus dia. Aku tidak mau tahu. Sebelum akhir bulan ini, kau sudah harus bisa makan siang dengannya!” ujar Jaehyun yang membuat Namjoon meringis dibuatnya.

Selesai mengungkapkan isi hatinya, Jaehyun segera pergi meninggalkan Namjoon yang masih berpikir bagaimana cara mengajak seorang Min Yoongi keluar. Pria itu bahkan tidak mau menatap wajahnya.

“Hah, kenapa jadi rumit begini?” gumam Namjoon sambil mengacak rambutnya.

Hari sabtu malam atau biasa disebut malam minggu adalah hari dimana seorang Kim Namjoon mengumpulkan segala keberanian dan potensinya untuk mengajak Min Yoongi keluar. Ia tidak peduli kalau nantinya akan ditolak oleh pria pucat itu. Ia harus mencobanya!

Jam tepat menunjukkan pukul 7 malam ketika mobil kesayangan Namjoon terparkir di depan rumah keluarga Min. namjoon mencoba menetralkan detak jantungnya yang entah kenapa bertalu begitu ribut.

Pintu rumah dibuka oleh sang nyonya rumah. Menatap Namjoon penuh antusias dan segera memanggil putra tampannya.

“Mau apa kau ke sini?” Namjoon sudah menduga bila Yoongi akan menyambutnya dengan raut kesal dan kalimat pedas andalannya. Pria itu hanya meringis menatap wajah Yoongi.

“Ini malam minggu. Ayo keluar,” ujarnya santai. Tidak lupa senyum simpatik andalannya.

Entah Namjoon berhalusinasi atau memang terjadi, ia merasa melihat semburat merah samar di pipi putih Min Yoongi. Tapi hanya sepersekian detik.

“Kalau aku tidak mau?”

Namjoon tersenyum mendengarnya. “Kita main di rumah saja. Ayolah, kau mau menghabiskan malam minggu hanya dengan drama picisan di televisi?”

Yoongi menghela nafas malas. “Tunggu sebentar.” pintu kembali ditutup tanpa membiarkan Namjoon masuk. Ia hanya tersenyum masam melihat pintu itu ditutup di depan wajahnya. Ia bisa mendengar bagaimana ibu Yoongi memarahi putranya karena meninggalkan Namjoon sendirian di depan pintu.

Tidak lama, pintu kembali terbuka dengan Min Yoongi yang sudah berganti pakaian. Pria itu mengenakan kaos putih dan jaket kulit hitam. Celana jin hitam membalut pas kaki rampingnya. Dan sepasang sepatu sneakers yang menjadi alas kakinya.

Namjoon memasang senyum lebarnya menatap Yoongi. “Ayo berangkat,” ujarnya dan membuat Yoongi mengikuti langkahnya ke mobil.

Di dalam mobil, hanya suara ceria penyiar radio yang menjadi pemecah keheningan. Tidak ada yang berniat berbicara diantara keduanya. 

“Mau makan di mana?” tanya Namjoon. Ia melirik Yoongi yang menatap lurus ke depan.

“Terserah,” jawab pria itu singkat.

Namjoon hanya tersenyum dibuatnya. Ia segera mengarahkan mobilnya ke salah satu restoran cepat saji. Ia tidak mau salah menu dengan mengajak Yoongi ke restoran sembarangan.

Dan karena ini malam minggu, restoran yang mereka datangi terlihat sangat penuh. Yoongi memasang raut sangat tidak menyenangkan. Pria itu tidak suka keramaian.

“Mau drive thru saja? Nanti makan di taman,” usul Namjoon dan langsung mendapat anggukan pria di sampingnya.

Mereka akhirnya mendapatkan makanan mereka setelah mengantri di drive thru. Dan Namjoon mendapat satu ciri khas Yoongi yang cukup unik; dia tidak suka acar. Saat mereka memesan burger, pria itu dengan tegas mengatakan ingin acarnya disingkirkan.

Ah ya, dan Min Yoongi tidak suka cola. Ia lebih suka kopi. Pria itu memesan kopi sebagai teman makan burgernya. Kombinasi yang sedikit tidak biasa untuk Namjoon yang pemakan segala.

Mereka tengah duduk di bangku rerumputan yang berada di pinggir Sungai Han. Suasana di sekitar sungai masih sangat ramai dan terang. Justru Namjoon merasa bila semakin malam, semakin ramai.

Mereka makan dengan tenang. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Mereka hanya menatap lampu dan air sungai yang tenang di depan mereka.

“Aku senang kau mau ku ajak jalan malam ini. Suasana sudah mulai hangat dan akan sangat tidak menyenangkan bila hanya berdiam diri di dalam rumah.” Namjoon berusaha memulai pembicaraan.

“Ah ya, bagaimana dengan pertandingan basketmu? Aku dengar kalian masuk perempat final?”

Senyum kecil terlukis di bibir Yoongi. “Ya, kami masuk perempat final. Minggu depan pertandingan penentuan untuk ke final,” ujarnya lirih.

“Wah, semoga menang ya. Basket kampus kita jagoan masuk kompetisi Nasional. Mereka juga juara bertahan bertahun-tahun.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka. “Lagu yang waktu itu bagus. Aku suka,” ujar Namjoon lirih dan membuat Yoongi menoleh padanya segera.

“Lagu yang di acara kampus?” tanya Yoongi memastikan.

“Iya, lagu itu. Lagu tentang perasaan seseorang yang dengan jatuh cinta, takut akan perasaan yang tak terbalas. Dan tentang bagaimana meninggalkan masa lalu untuk masa depan yang lebih baik. Kau pencipta lagu yang hebat,” ujar Namjoon sambil tersenyum menatap Yoongi.

Dan Namjoon sangat yakin kali ini matanya tidak salah. Pipi Yoongi merah, kalau tidak mau dibilang sangat merah.

“Pipimu merah,” ujar Namjoon refleks. Yoongi mengalihkan pandangannya dari Namjoon dan kembali memandang aliran sungai di depan mereka.

Namjoon tersenyum menatapnya. Baru kali ini ia melihat sisi manis dari seorang Min Yoongi. Jangan salahkan Namjoon, selama ini ia hanya diberi sisi ketus dan dingin dari Min Yoongi. Ah, rasanya ingin melihat sisi Yoongi yang lain , batinnya.

Setelah malam minggu itu, entah kenapa Yoongi menjadi sangat mudah ditemui. Sangat mudah dalam artian ia selalu mau diajak bicara oleh Namjoon. Dan ia sudah bicara lebih dari 2 kalimat pada Namjoon.

Sebuah prestasi membanggakan bagi Namjoon karena pagi ini ia bisa membuat Min Yoongi duduk di kursi penumpang mobilnya.

Jujur, awalnya Namjoon hanya coba-coba mengajak Yoongi untuk berangkat bersama. Tidak mengira gayungnya bersambut. Pria itu langsung mengiyakan ajakannya.

Jangan lupakan wajah shock Jaehyun yang melihat bagaimana Min Yoongi dengan santainya turun dari mobil Namjoon. Mereka bahkan tidak peduli dengan mata-mata penasaran yang melihat kedekatan keduanya. Sejak kapan keduanya dekat? Kira-kira itulah yang ada di dalam kepala semua orang.

“Aku menuntut penjelasan sejelas yang kau bisa!” Serbu Jaehyung begitu Namjoon masuk ke dalam kelas.

Yang ditanya hanya tertawa. “Penjelasan apa?”

“Aku bilang ajak dia makan siang. Bagaimana kau bisa membuat Min Yoongi duduk di kursi mobilmu?”

“Tidak usah berlebihan. Dan asal kau tahu, ini bukan pertama kalinya. Kami lumayan dekat belakangan,” sahutnya santai. Mengabaikan wajah Jaehyung yang sudah akan meledak.

Tiba-tiba saja Jaehyung memeluknya kencang dan berteriak heboh. “Akhirnya! Sahabatku akan mengakhiri masa lajangnya dan tidak menjadi jomblo tidak berguna lagi,” serunya heboh.

Namjoon hanya tertawa lebar mendengarnya. “Ya ya, terima kasih atas antusiasmu. Tapi bisa kau kurangi bagian belakangnya? Apa itu jomblo tidak berguna?”

Jaehyung tersenyum lebar. “Aku lelah melihat bagaimana para wanita dan pria di kampus kita mengejarmu seperti kau adalah hadiah utama perlombaan cinta ini. Kalau kau sudah ada pasangan kan lumayan, mereka bisa berhenti mengejarmu.”

Namjoon hanya geleng-geleng menatap Jaehyun. “Terserah kau.”

Hari itu sore hari di akhir bulan Mei yang cerah. Namjoon sedang menemani Yoongi yang mengerjakan tugasnya di perpustakaan kampus. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi keheningan itu sangat menyenangkan bagi keduanya.

“Yoongi, aku boleh bilang sesuatu?” 

Yoongi hanya mengangguk. Ia masih tidak mengalihkan pandangannya dari kertas dan layar laptopnya.

“Aku suka padamu. Ayo kita pacaran,” ujar Namjoon cepat.

Jari-jari Yoongi yang tadinya sibuk menari di atas keyboard berhenti. Ia mengalihkan pandangan dari layar monitor dan menatap Namjoon terkejut. Kepalanya dimiringkan pertanda ia sedang bingung.

Kacamata yang tadinya bertengger di hidung ia lepas dan diletakkannya di meja perpustakaan. “Apa tadi kau bilang?”

Namjoon merasakan wajahnya memanas. Ia yakin pipinya pasti sudah merah sekarang. “Ya itu, ayo pacaran.”

Yoongi memicingkan pandangannya dan menatap Namjoon. “Kau serius? Kenapa kau terlihat tidak serius dengan kalimatmu?”

Namjoon menatap Yoongi tidak percaya. Ia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya dan itu jawaban Yoongi?

Namjoon menghela napas lelah. Ia meraih tangan kiri Yoongi dan menggenggamnya erat. “Min Yoongi, aku serius dengan kalimatku. Aku suka padamu, ayo kita pacaran.” Kali ini suaranya terdengar lebih tegas. Matanya juga menatap tepat pada kedua mata Yoongi.

“Kalau aku tidak mau?” Pertanyaan Yoongi membuat harapan Namjoon pupus separuh.

“Kita tetap akan berteman. Biarkan aku tetap disampingmu. Kita akan jadi sahabat selamanya,” ujarnya. Ia memang tersenyum menjawabnya, walaupun tidak bisa dipungkiri bila hatinya sedikit sakit mengetahui ia ditolak oleh Yoongi.

“Hei, kok sedih begitu? Kan aku belum bilang ya atau tidak?” Yoongi mencoba menghibur Namjoon. Tapi sepertinya Namjoon sudah tidak mendengarnya.

Yoongi mengeratkan genggamannya pada tangan Namjoon dan berhasil mendapatkan atensi pria itu lagi. “Kalau jadi teman hidup mau?”

Namjoon melongo menatap Yoongi. “Hah? Bagaimana?”

Yoongi memutar bola mata menatap Namjoon yang tiba-tiba menjadi bloon. “Terserah, kau pikir saja sendiri,” sahutnya acuh. Ia memilih membersihkan peralatannya dan meninggalkan Namjoon yang masih sibuk dengan pikirannya.

Begitu ia sadar dengan apa yang terjadi, senyum lebar langsung bertengger di wajah tampannya dan ia bergegas mengejarnya Yoongi.

Tangannya langsung ia rangkulkan pada bahu Yoongi. “Jadi, kapan acara pernikahannya?” tanya Namjoon yang langsung mendapat sikutan sadis dari Yoongi. Walau tak dipungkiri wajahnya memerah dan senyum tidak bisa lepas dari bibirnya.

Bunga sakura yang mulai gugur menjadi saksi satu lagi cinta dua orang pemuda bersatu. Ah, mungkin bunga sakura beberapa tahun lagi bisa menjadi saksi kedua pemuda itu berjanji di depan Tuhan. Who knows ?

 

Epilog

 

“Jadi, sejak kapan kau suka padaku?” tanya Yoongi di suatu sore. Keduanya sedang berkencan di kamar Yoongi. Yoongi sedang malas keluar. Lagi pula ia sedang menghemat tenaganya untuk pertandingan final minggu depan.

Namjoon mengeratkan pelukannya pada tubuh Yoongi. “Hmm? Kapan ya? Waktu kau pertama masuk?” ujar pria itu sambil berusaha mengingat kiranya kapan perasaan menggelitik itu mulai muncul.

Yoongi membalikkan tubuhnya cepat. “Secepat itu? Kok bisa?”

Namjoon mengedikkan bahunya. “Entah. Aku merasa kau sangat menarik dan awalnya aku cuma tertarik karena semua orang bilang kau jago main basket. Tapi semakin lama kita semakin dekat dan rasa itu tumbuh semakin besar. Jadi bayangkan bagaimana jadi aku yang menahan perasaan ini 8 tahun?”

Yoongi menundukkan kepalanya. “Maaf, aku hanya terlalu malu dulu. Kau mengatakan aku terlalu putih dan itu membuatku minder. Apalagi semua orang selalu membandingkan kita. Kim Namjoon si murid kebanggan semua orang,” sahut Yoongi lirih.

Namjoon menarik tubuh yang lebih kecil itu kembali ke pelukannya. “Lupakan masa lalu. Yang penting, sekarang kau milikku dan aku milikmu. Tidak ada seorangpun yang bisa membantah itu.”

Yoongi tersenyum simpul di balik bahu Namjoon. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh besar Namjoon.

Ya, itulah yang terpenting sekarang. Ia milik Namjoon dan Namjoon miliknya. Jangan lupakan cincin bertahta berlian yang telah melingkar di jari manisnya. Rasanya cincin itu sudah lebih dari cukup menjelaskan semuanya.