Work Text:
Apa yang kamu lakukan terhadap kenangan yang memaksa untuk diingat?
Pukul 21.35, suhu di dalam ruangan menunjukkan angka 24 derajat Celsius. Cukup dingin untuk ukuran kota Jakarta. Namjoon sengaja tidak menghidupkan AC karena di luar sedang hujan. Ia terbiasa membuka jendela untuk membiarkan angin dan suara hujan masuk ke dalam kamarnya. Malam, hujan, dan lagu kenangan yang tiba-tiba dimainkan di radio yang sedang ia dengar adalah sungguh perpaduan yang buruk. Namjoon memang lebih suka mendengarkan lagu di radio. Ia menyukai sensasi perasaan yang muncul saat penyiar memainkan lagu secara acak. Namun sayangnya, pilihan lagu sang penyiar malam ini membuat Namjoon teringat akan mantan kekasihnya. Jung Hoseok.
Namjoon dan Hoseok adalah sahabat sejak di bangku kuliah. Dynamic duo kata teman-teman mereka. Atau partner in crime kata teman-teman mereka yang lain. Tergantung pada kegiatan yang sedang mereka kerjakan saat itu. Setelah bersahabat lebih dari tiga tahun, mereka sepakat untuk berpacaran. Karena rupanya mereka memegang prinsip yang sama. Gue gak bisa ciuman sama sahabat sendiri. Dan demi membuktikan bahwa kalimat tersebut adalah salah, mereka sepakat untuk berpacaran. Mereka akan membuktikan bahwa mereka bisa berciuman dengan sahabat sendiri. Padahal tidak jelas juga kepada siapa target pembuktian itu ditujukan.
Namjoon dan Hoseok menyandang status sebagai pacar selama tiga bulan. Terdengar singkat. Namun dalam kurun waktu tersebut, mereka banyak melakukan hal-hal yang dilakukan orang dewasa saat berpacaran. Demi eksplorasi, dalih mereka. Di bulan keempat, Hoseok mengatakan pada Namjoon bahwa ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya merasakan efek kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Untuk pertama kalinya Hoseok merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan lucunya, dari cara Hoseok bercerita tentang Seokjin, pria yang menjadi alasan Hoseok minta putus, Namjoon jadi sadar bahwa perasaan yang dia miliki untuk Hoseok adalah cinta platonis. Bukan cinta romantis. Meskipun sesi bercinta mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya. Namun mereka tidak menyadari bahwa setiap mereka melakukan kegiatan seksual bersama, tidak pernah melibatkan hati maupun emosi yang bersifat romantis. Mereka melakukannya lebih karena kebutuhan. Sehingga tidak memedulikan apa yang dirasakan oleh hati sesungguhnya. Dan setelah melewati pembicaraan panjang, Namjoon dan Hoseok sepakat untuk putus. Sebagai pacar. Tapi tidak sebagai sahabat.
Kim Seokjin. Entah karena dia adalah pria dewasa yang berpikiran sangat terbuka, atau karena dia mencintai Jung Hoseok terlalu dalam, sehingga sedekat apapun Hoseok dan Namjoon, ia tidak pernah cemburu. Karena ia tahu, mereka berdua adalah sahabat yang tak terpisahkan. Pada suatu kencan setelah mereka resmi berpacaran, Hoseok pernah berkata pada Seokjin, dia dan Namjoon itu satu paket. Harus diambil dua-duanya. Tapi cuma Hoseok yang boleh disentuh. Kalau Seokjin berani menyentuh Namjoon, detik itu juga ia akan minta putus. Seokjin tertawa gemas saat mendengarnya. Dan berakhir dengan melumat habis bibir Hoseok tanpa ampun.
Sialnya bagi Namjoon, ia harus sering menjadi saksi kemesraan mereka berdua. Hoseok tidak segan untuk mengajak Namjoon saat Seokjin minta ditemani nonton di bioskop. Tentu saja Seokjin tidak pernah keberatan. Karena dia tahu, sepanjang film Hoseok akan selalu menempel padanya. Dan setiap Namjoon memergoki adegan itu, ia selalu mengumpati keadaan dirinya sendiri dan bertekad untuk segera mendapatkan pacar baru.
Malam ini, Namjoon menyadari satu hal. Ia rindu dipeluk. Ia bukan merindukan sosok Jung Hoseok yang biasanya memberi pelukan. Ia merindukan momen saat ia dipeluk. Merindukan sensasi tubuhnya didekap erat hingga sulit bernapas. Kapan ya, gue bisa jatuh cinta? Seperti seorang Jung Hoseok yang jatuh cinta setengah mampus terhadap Kim Seokjin.
*
“Yoongi! Udah siap belum? Masuk gih. Bentar lagi on air nih.”
“Bentar, gue ambil kopi dulu ya di pantri.”
Min Yoongi. Atau lebih dikenal dengan sebutan DJ Min. Seorang penyiar di radio Kkul FM. Dia bersama Jungkook, sang produser merangkap music director, memiliki program berjudul Throwback Thursday yang mengudara setiap hari Kamis pukul 10 malam. Sebuah program yang akan memutarkan lagu era 90-an ke bawah, diselingi sesi mengobrol santai bersama pendengar via telepon. Topik yang dibahas beraneka ragam. Bisa tentang musik, film, makanan, atau hal apapun yang menurut DJ Min menarik untuk dibahas saat itu.
“Halo semua. Selamat malam. Ketemu lagi sama gue, DJ Min, di acara yang selalu kalian tunggu setiap Kamis malam, Throwback Thursday. Anyway, gue sering banget dapet DM dan mention di Twitter nih. Pada nanya, kenapa nama programnya gitu. Simple sih jawabannya. Karena kita pengen bawa kalian balik ke masa lalu melalui lagu dan topik yang kita obrolin. Asal kalian tau aja ya, awalnya Jungkook mau kasih nama program ini tuh Pintu Ajaib. Gila aja! Meskipun tujuannya sama-sama bawa kita balik ke masa lalu, tapi jelas langsung gue tolaklah. Orang-orang udah sering banget nyamain gue sama kucing. Kalo nama acaranya Pintu Ajaib, nanti gue malah beneran dikira Doraemon.” Yoongi menjeda monolognya. Mengambil napas sejenak sambil meneguk iced americano. Minuman favoritnya. Yoongi memang unik. Ia menyukai kopi dingin. Sehingga meskipun sedang berada di ruangan bersuhu dingin, ia tetap memilih iced americano. Yoongi tidak menyukai minuman panas.
“Oke guys, malem ini enaknya kita bahas apaan nih? Uummm … Gimana kalo kita ngobrol soal makanan. Kasih tau gue apa makanan favorit kalian? Kalo gue pribadi, suka berbagai makanan. Untung banget sih lidah gue nggak rewel. Buat gue, yang menarik dari makanan itu bukan cuma rasanya, tapi juga kenangannya. Contohnya, gue suka banget Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Meskipun harus antre lama, gue sih rela. Soalnya dulu gue suka makan bareng bokap di situ. Jadi sekarang setiap gue makan nasgor Kebon Sirih, gue bukan cuma nikmatin makanannya. Tapi juga nikmatin kenangan gue sama bokap. Oke deh, ayo kita ngobrol. Kasih tau gue makanan kesukaan kalian. Silakan kalian mention akun Twitter Kkul FM. Nanti yang gue dm, tolong kirim nomer henpon ya. Biar gue yang nelpon kalian untuk on air. Sambil kalian ngetwit, gue puterin dulu satu lagu dari eranya Sarah Sechan waktu dia masih jadi VJ MTV. Please enjoy.” Yoongi mematikan mic. Melepas headsetnya sejenak sambil membuka aplikasi Twitter di layar monitor komputernya.
*
Namjoon menyamankan tubuhnya di atas sofa. Ia mempunyai agenda rutin setiap Kamis malam. Mendengarkan program Throwback Thursday di radio Kkul FM sambil menikmati kopi hangat favoritnya. Namjoon menyukai acara itu karena pilihan lagunya selalu bagus. Atau lebih tepatnya, sangat cocok dengan selera musik Namjoon. Tapi lebih dari itu, yang Namjoon sangat sukai dari program itu adalah suara manis bak madu dari sang penyiar. DJ Min. Jenis suara bariton yang kalau didengarkan di malam hari, bisa memberi efek jauh lebih menenangkan dibandingkan dengan aroma essential oil lavender yang harganya mahal itu. Suaranya terdengar dalam. Terasa hangat, lembut, namun juga misterius secara bersamaan. Pada suatu sesi ngobrol santai secara on air, Namjoon pernah menyarankan DJ Min untuk membuat podcast. ‘Pasti listener-nya banyak banget deh, Min. Dikenain subscription fee juga pasti pada mau. Yakin gue’. Namjoon mengingat pembicaraan mereka waktu itu. Dan, mau tidak mau, ia pun sekilas mengingat apa yang ia rasakan pada saat itu. Rasanya seperti berbicara dengan seorang teman yang sudah dikenal cukup lama.
Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, tapi ada rasa kedekatan layaknya sahabat. Yoongi bisa menimpali setiap topik yang dilontarkan Namjoon. Begitupun sebaliknya. Dan kalau dihitung, sepertinya sudah lebih dari lima kali mereka ngobrol via udara di jam siaran Yoongi. Jadi tidak heran jika Namjoon merasa punya kedekatan dengan Yoongi. Meskipun hanya sebatas pendengar dan penyiar. Namjoon sering membayangkan bagaimana penampakan asli seorang DJ Min. Di era digital seperti saat ini, tentu Yoongi memiliki media sosial pribadinya. Namun sayang sekali, tidak ada satu pun foto yang menampilkan wajahnya secara jelas. Feed Instagramnya hanya berisi benda-benda yang berhubungan dengan musik, audio, anjing peliharaannya, dan kopi. Hanya itu saja. Ada satu foto yang menampilkan dirinya secara keseluruhan. Tapi foto itu diambil dari sudut samping. Yoongi memakai jaket parka yang terlihat kebesaran, topi bucket yang menutupi separuh wajahnya, dan juga masker. Sehingga wajah Yoongi seperti apa tetap menjadi misteri baginya.
Sebuah suara notifikasi membuyarkan lamunan Namjoon. Ia mengambil ponselnya untuk mengecek notifikasi apa itu. Ternyata sebuah pengingat yang berasal dari aplikasi perjalanan. Namjoon sudah memesan tiket kereta untuk perjalanan ke Bandung besok. Jadwal rutin untuk mengunjungi ayahnya. Setelah mengingat kalau ternyata belum melakukan persiapan apapun, Namjoon langsung beranjak dari posisi nyamannya. Berjalan menuju kamar untuk mengemas barang apa saja yang perlu ia bawa di perjalanan besok.
*
Namjoon selalu menikmati perjalanan pulang ke Bandung naik kereta. Ada rasa nyaman dan damai yang ia rasakan setiap ia melihat pemandangan dari balik jendela kereta ditemani playlist lagu yang ia dengarkan melalui ponselnya. Dia terbiasa tiba di stasiun dua jam sebelum keberangkatan, sekadar untuk menikmati hiruk pikuk suasana stasiun. Melihat orang-orang berkumpul dengan berbagai barang bawaan mereka. Ada tangis haru perpisahan. Ada senyum bahagia menyambut kedatangan. Dan terkadang, ada seseorang yang hanya sendirian. Seperti ingin pergi menghilang dalam sebuah perjalanan, tapi juga berharap ingin ditemukan.
Di kedai kopi yang biasa menjadi tempatnya menunggu keberangkatan, Namjoon berdiri di belakang seorang pria yang sedang melakukan pesanan di kasir. Ia menatap cemas etalase makanan yang tinggal menyisakan satu buah cinnamon roll. Roti kesukaanya. Semoga dia nggak beli roti itu, please.
“Silakan, Kak. Bisa dibantu pesanannya?”
“Satu iced americano. Dan satu cinnamon roll. Tolong dipanasin tiga menit aja. Terima kasih.”
“Oke, Kak. Mau kemana nih kalo boleh tahu?” Pertanyaan basa-basi yang terdengar ramah.
“Jogja. Ada nikahan temen. Sebenernya males banget sih dateng ke kondangan gitu. Tapi ini sahabat sendiri. Kalo sampe nggak dateng, bisa dipecat gue jadi sahabat.”
Sialan! Tinggal satu. Diambil pula. Semoga masih ada stoknya di storage mereka. Tapi kenapa orang ini suaranya berasa familier ya? Gue pernah denger di mana, ya?
“Totalnya tujuh puluh lima ribu rupiah, Kak”
Yoongi mengeluarkan kartu, lalu menyerahkan ke kasir untuk membayar pesanannya.
“Ini kartu dan struknya ya, Kak. Silakan ambil pesanannya di meja samping. Terima kasih. Semoga perjalanannya menyenangkan.” Sang kasir tersenyum ramah.
Yoongi beranjak dari tempatnya berdiri untuk pindah posisi ke depan konter pengambilan. Menunggu pesanannya selesai dibuat.
“Silakan, Kak. Bisa dibantu pesanannya?”
“Satu hot americano dan satu cinnamon roll.”
“Maaf, Kak. Cinnamon rollnya habis. Barangkali mau diganti yang lain?”
“Yah, gak ada lagi Mbak stoknya? Minta tolong cek lagi di belakang, mungkin masih ada sisa satu?” Namjoon memohon dengan nada memelas.
“Maaf, Kak. Yang tadi tuh stok terakhir. Udah dibeli sama kakak itu” Sang kasir menunjuk ke arah Yoongi yang sudah berjalan membawa pesanannya menuju tempat duduk yang kosong.
“Ya udah, kalo gitu kopinya aja. Terima kasih” Ada senyum getir yang terasa sekali dipaksakan.
Namjoon menyelesaikan transaksinya. Kemudian mengambil kopi pesanannya. Lalu berjalan mencari kursi kosong. Ia melihat sekeliling, semua tempat terisi penuh. Kenapa gue sial banget sih hari ini.
“Bro!”
Namjoon tidak yakin panggilan itu ditujukan untuknya. Namun ia tetap menoleh ke sekeliling mencari arah sumber suara. Setelah merasa menemukan suara orang yang memanggilnya, ia menunjuk wajahnya sendiri sambil mengernyitkan dahi dan menunjukkan ekspresi bingung.
“Iya. Kalo mau duduk, sini aja. Kita sharing meja. Gue sendirian kok.”
Harus banget gue duduk bareng orang yang ngambil stok terakhir cinnamon roll gue, terus ngeliatin dia makan itu depan muka gue langsung? Meskipun hatinya bergumam demikian, ia tetap melangkah menghampiri pria yang menawarkan bangku kosong kepadanya.
“Thanks banget ya udah mau sharing. Penuh banget nih tempat. Weekend kali ya”
“Lo minum kopi panas di cuaca gini? Gak salah?” Yoongi tidak menanggapi ucapan Namjoon. Fokusnya tertuju pada hal lain.
“Gue gak suka kopi dingin. Langsung mules gue minum itu.”
“Wah, kita kebalikan ya. Gue malah gak suka kopi panas. Jadi meskipun hujan badai, ya gue tetep minum kopi dingin.”
“Lo mules juga?”
“Nggak sih. Cuma nggak suka aja. Lo gak beli cemilan? Gak doyan ngemil ya?”
“Gue suka banget makan cinnamon roll. Tapi abis barusan. Stok terakhirnya udah lo ambil.” Nadanya terdenger kesal. Seperti anak kecil yang diajak ke toko permen, tapi tidak diijinkan untuk membeli satu pun permen yang ada di sana.
“Oh ya? Kenapa suka banget? Seenak itu ya?”
“Dulu, nyokap gue suka banget bikin itu. Mendiang nyokap gue.” Namjoon mengoreksi kalimatnya sendiri. “Meskipun nggak ada cinnamon roll sebaik bikinan nyokap, tapi setiap makan roti itu, gue berasa deket aja sama dia.” Terlihat senyum getir di wajah Namjoon saat ia menceritakan kisahnya.
“Kalo gitu ini buat lo aja. Sumpah belum gue apa-apain.” Yoongi menyodorkan piring berisi cinnamon rollnya ke arah Namjoon.
“Kalo lo beli itu, artinya lo suka kan. Trus kenapa lo kasih ke gue?”
“Buat gue, itu cuma makanan penghilang lapar. Buat lo, itu kenangan bersama mendiang nyokap lo. Udah lo makan aja. Ntar gue beli yang lain aja. Santai, Bro!” Yoongi menjawab dengan nada serius namun lembut. Berusaha agar suaranya bisa membuat Namjoon merasa nyaman untuk menerima roti kayu manis milik Yoongi. Tidak lupa disertai juga senyuman kecil yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
Tubuh Namjoon membeku. Namun hatinya terasa hangat. Otaknya semakin berpikir keras. Kok kayak kenal ya suaranya? Ini gue pernah denger dia di mana, sih? Suara ini terdengar sangat familier bagi Namjoon. Ia berusaha mengingat di mana ia pernah mendengar suara ini. Namun fokus otaknya terpecah oleh wajah manis lawan bicaranya. Sial! Suaranya adem, mukanya manis pula. Mati gue.
“Halo ... halo …” Yoongi mencondongkan tubuhnya sambil melambaikan tangan ke depan wajah Namjoon. “Mars kepada bumi … Halo …”
“Eh, sori sori.” Seketika Namjoon kembali dari lamunannya.
“Kenalin. Gue Yoongi. Min Yoongi.” Ia mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Namjoon.
“Namjoon. Kim Namjoon. Eh bentar deh. Lo itu Min Yoongi alias DJ Min-nya Kkul FM itu bukan sih?”
Yoongi mengangguk sambil menyeruput kopinya.
“PANTESAN SUARA LO FAMILIER BANGET!” Terdengar euforia dalam suaranya. Mengetahui dari mana ia mengenal suara itu membuatnya merasa lega. Seperti bersin yang berhasil dikeluarkan setelah menahan gatal di dalam hidung selama tiga puluh menit lamanya.
“Kenapa lo excited banget deh. Emang lo suka dengerin siaran gue?”
Namjoon menjawab antusias. Lalu mereka memulai percakapan dengan topik standar orang berkenalan. Berlanjut dengan hal-hal trivial selayaknya teman lama yang baru bertemu lagi setelah terpisah sekian tahun. Menceritakan kisah masing-masing. Mendengarkan kisah satu sama lain. Aneh juga kalau dipikir. Mereka baru bertemu, dan berkenalan, kurang dari satu jam yang lalu. Tapi mereka langsung bisa seakrab ini. Namjoon bahkan tidak segan memukul pelan bahu Yoongi saat ia menceritakan kisah konyolnya, yang terlalu sia-sia untuk tidak dikomentari ‘tolol’ sambil terbahak oleh Namjoon. Terlampau akrab untuk ukuran teman baru.
“Sekali-kali, lo harus cobain kopi panas, Gi. Nih lo cobain deh punya gue. It’s not that bad.”
Yoongi meraih cangkir kopi Namjoon. Lalu menyeruputnya sambil memejamkan mata. Mencoba memahami sensasi rasa kopi yang sudah tidak jelas suhunya. Sudah tidak bisa dibilang panas. Namun masih jauh untuk dibilang dinging. Yoongi punya standar tersendiri untuk suhu dingin.
“Enak, kan?” Tanya Namjoon antusias. Namun hanya dijawab dengan gelengan dan mimik wajah aneh dari Yoongi. Mereka tertawa tanpa bisa ditahan.
“Joon, do you realize something?”
“What?”
“I just kissed you. On that cup.”
Namjoon tercengang menatap Yoongi. Ia tidak dapat menutupi ekspresi kagetnya.
“EH, MAAF. Bukan bermaksud melecehkan lo. Maaf ini jadi terdengar salah banget. I’m not supposed to say that. Sorry becandaan gue kelewatan.” Yoongi panik atas ucapannya sendiri. Bagaimana bisa ia berpikir untuk mencium seseorang yang bahkan belum dikenalnya lebih dari satu jam.
Di sisi lain, Namjoon malah membeku dengan otaknya kosong. Pipi bersemu merah, ritme jantung yang entah bagaimana, mendadak berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Namjoon seperti bisa merasakan apa yang dikatakan Hoseok waktu itu. Ada kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Atau ini hanya sekadar starstrucks? Toh Namjoon memang sudah mengagumi DJ Min sejak lama meskipun hanya melalui suara. Jadi tidak heran ketika ia bertemu langsung dengan DJ kesayangannya, ia mendadak salah tingkah seperti ini. Tanpa Namjoon sadari, sebuah senyum terukir sambil menampilkan dua lesung pipi yang sangat manis dan menggemaskan. Membuat Yoongi seketika mengumpat di dalam hati. Mampus gue! Dia ganteng banget.
“That’s okay.” Namjoon berhasil meraih kembali kesadarannya. “But if you have any plan to make it happen next time we meet, you got my consent already.” Namjoon mengakhiri kalimatnya dengan seringai manis yang dibalas Yoongi dengan senyum yang tak kalah manisnya.
“Vice versa.” ucap Yoongi. Keduanya langsung tertawa.
Sungguh, jika ada orang asing yang tak sengaja melihat keadaan mereka saat ini, ia pasti mengira Namjoon dan Yoongi adalah sepasang kekasih yang sedang menunggu kereta datang untuk pergi bersama. Seperti sepasang karakter di sebuah film bertema perjalanan dengan genre romcom.
“Boleh pinjem HP lo?”
“Buat apaan?” tanya Namjoon sambil tetap menyerahkan ponselnya ke tangan Yoongi.
“Gue butuh nomer HP lo, supaya bisa ngehubungin lo untuk ngajak ketemuan lagi. Itu pun kalo lo mau. Boleh kan gue minta? Sekalian gue simpen nomer gue di sini.”
“Lo gak mau nyoba kayak di film-film gitu? Kita nggak saling tukeran nomer atau informasi apapun selain nama. Trus nanti kita tiba-tiba ketem-“
“Nggak. Gue nggak percaya gituan. Gue nggak mau naro hal sepenting ini di tangan takdir. Gue akan usaha dengan semua kemampuan yang ada, untuk bikin ini berhasil. Gue lebih percaya ama diri gue sendiri dibanding takdir.” Yoongi mengembalikan ponsel Namjoon sambil melihat jam di tangannya.
“Joon, sorry. Gue cabut duluan ya. Kereta gue udah mau dateng.” Yoongi berdiri, sambil mengangkat ranselnya. “I’ll text you. Bye!” Yoongi melambaikan tangan, lalu pergi beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Namjoon yang masih duduk kebingungan di tempatnya. Maksudnya Yoongi bilang pengen bikin ini berhasil tuh apaan ya?
Namjoon melihat jam, masih ada tiga puluh menit sebelum keretanya datang. Memutuskan untuk tetap menunggu di tempatnya berada saat ini. Pandangannya lalu terarah kepada potongan cinnamon roll yang belum habis dimakan. Mengambilnya, dan sebelum melahap, ia bergumam pelan sambil menatap haru makanan itu. Bu, inget kan penyiar radio yang sering aku ceritain? Aku ketemu dia hari ini. Yang barusan itu, Bu. Lucunya, kami bisa ngobrol gara-gara roti yang biasa Ibu bikin itu. Bapak bilang dia jatuh cinta sama Ibu karena cinnamon roll,‘kan? Kalo sampe roti ini bikin aku jatuh cinta sama dia juga, Ibu harus tanggung jawab lho. Harus bantuin aku cari ide supaya bisa deket sama dia. Tapi Ibu jangan gentayangin aku. Aku kan penakut. Ibu datang di mimpi aku aja, ya. Bu, Joonie kangen sama Ibu.
Namjoon mengunyah cinnamon roll-nya sambil menyeka matanya yang sedikit basah. Menghabiskan sisa waktu tunggu yang ia punya sebelum keretanya tiba.
*
Nanti. Sebuah kata yang biasa digunakan apabila kita ingin merujuk pada jangka waktu tertentu. Sayangnya, belum ada tolok ukur yang sahih tentang berapa lama sebenarnya durasi kata nanti ini. Sehari? Seminggu? Sebulan? Setahun? Belum ada yang bisa memberikan validasi atas hal ini. Maka, di sinilah Namjoon sekarang. Berbaring di atas tempat tidurnya sambil bolak-balik mengecek notifikasi pesan masuk di ponselnya. Senyap. Tidak ada apa-apa. Dan ini sudah terhitung tujuh hari sejak Yoongi berkata, ‘nanti gue chat lo, ya!’. Ya, nanti. Namjoon kesal setengah mati. Namun ia pun tidak berani mengambil langkah sebagai pihak pertama yang memulai percapakan via ponsel. He said he’ll text me. Lagian kemaren dia siaran kan. Berarti dia sehat-sehat aja. Let’s just wait a little longer, Joon. Namjoon mencoba memberikan harapan kepada dirinya sendiri.
Tiga puluh menit sudah dihabiskan Namjoon untuk mengalihkan pikirannya dari Yoongi dengan cara membuka berbagai aplikasi media sosial secara bergantian. Lalu Namjoon mempunyai ide. Apa gue stalking aja ya IG-nya Yoongi. Kan gak dia private tuh. Namjoon membuka aplikasi tersebut. Mengetik nama DJ MIN di kolom pencarian. Lalu muncullah halaman profil Yoongi yang menampilkan foto-fotonya. Tidak ada foto baru. Foto terakhir yang diunggah tercatat tiga bulan lalu. Lalu mata Namjoon teralih ke foto profil Yoongi. Ada lingkaran berwarna pelangi di fotonya. Wuih, dia sukanya posting di story ya ternyata. Tanpa ragu, Namjoon menekan lingkaran itu. Bukan foto yang diunggah oleh Yoongi ternyata. Ia hanya mengunggah ulang dari temannya. Tapi tetap saja, Namjoon dibuat kesal dengan foto yang dilihatnya.
Foto itu menampilkan pose Yoongi yang sedang dirangkul oleh seorang pria. Berpostur lebih tinggi dari Yoongi, dengan tubuh tegap dan senyum menawan. Yoongi dan temannya di foto itu sama-sama mengenakan tuxedo berwarna marun. Namjoon ingat saat mereka bertemu di stasiun, Yoongi bilang akan ke Jogja untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Tidak heran jika di foto ini Yoongi terlihat sangat rapi. Dan tampan. Dan sangat serasi dengan siapapun orang yang ada di foto itu bersama Yoongi. Namjoon kesal. Cemburu? Tapi juga penasaran. Lalu Namjoon lanjut melihat foto-foto di halaman Instastory berikutnya. Isinya masih sama. Hanya seputar Yoongi dan temannya, dan juga dengan teman-temannya yang lain. Mungkin mereka memang hanya berteman. Namjoon mencoba berpikir positif sambil kembali mengingat lelucon yang dilontarkan Yoongi setelah ia meminum kopi di cangkirnya waktu itu. Kalo dia udah punya partner, masa iya dia flirting ke gue waktu itu. Itu dia flirting gak sih? Apa guenya aja yang ge er? Namjoon berpikir berlebihan. Ia menjadi kesal atas tindakannya sendiri. Kesal atas apa yang dilihatnya. Lalu memutuskan untuk menutup aplikasi itu, meletakkan ponselnya di samping, dan mencoba tidur.
Drrttt … Ponsel bergetar menandakan ada notifikasi masuk. Namjoon meraihnya secara malas. Sebuah pesan masuk dari seorang pengguna Instagram. ‘Kenapa cuma ngestalk ig sih? Bukannya chat whatsapp aja. Kan lo punya nomer gue’. Namjoon terperanjat. Ia kaget membaca pesan singkat itu melalui fitur notifikasi. Tidak berani untuk membuka langsung isi pesannya. Sebuah notifikasi lain kembali masuk satu menit kemudian. ‘Sorry gue belum sempet ngechat lo. HP gue ilang di bandara pas balik dari Jogja. Nomer lo belom sempet masuk di cloud back up, dan gue boro-boro apal nomer lo. Jadi, ya gitu deh. Sorry ya kalo bikin lo nungguin chat gue’. Namjoon tidak bisa menahan senyum lebar saat melihat layar ponselnya. Meskipun ada sedikit perasaan bersalah di hati karena mengira Yoongi tak mengacuhkannya. Memberi harapan palsu, yang membuat Namjoon uring-uringan beberapa hari terakhir ini. Syukurlah karena faktanya tidak seperti itu.
Namjoon membuka kunci ponselnya. Namun bukannya membuka aplikasi Instagram untuk membalas pesan Yoongi, ia malah masuk ke aplikasi Whatsapp lalu mengetik nama Yoongi di ikon tulis pesan baru untuk memulai percakapan. Namjoon menimbang-nimbang apa yang perlu ia tulis sebagai kalimat pembuka. Menulis sebuah kalimat, lalu menghapusnya. Menulis kalimat lain, kemudian dihapus kembali. Sepertinya kalimat apapun yang ditulis Namjoon, terasa salah dan tidak layak untuk dijadikan sebagai kalimat pertama untuk momen sepenting ini.
Satu menit.
Tiga menit.
Lima menit berlalu tanpa Namjoon sadari dengan ponsel yang masih tergenggam di tangannya. Lalu terkejut saat ponselnya bergetar kembali. Ada notifikasi baru tertulis, ‘Lo udah tidur ya? Sorry ya ganggu malem-malem gini. Tapi kalo misalnya besok atau kapanpun lo baca ini, gue boleh kan satu kali lagi minta nomer hp lo? Janji gak bakalan gue ilangin lagi. Night Joon. Sleep well’. Seketika Namjoon memukul kepalanya sendiri dengan ponsel yang sedang ia pegang. Namjoon tolol. Ia panik. Bingung harus berbuat apa. Oh tidak. Namjoon tahu dengan pasti harus berbuat apa. Ia hanya tidak berani saja mengambil langkah itu. Atau berani? Kata orang, jatuh cinta membuat kita jadi lebih berani, bukan? Oh damn it, Yoongi. I miss you that much.
Namjoon tidak tahu, suara mana yang bisa ia dengar lebih jelas. Nada sambung di ponsel, atau degup jantungnya sendiri yang iramanya selevel dengan musik upbeat.
Semakin berdebar saat mendengar panggilan teleponnya diangkat di ujung sana.
“Please tell me this is Kim Namjoon.” Suaranya terdengar memelas. Jauh berbeda dengan suara yang biasa Yoongi gunakan saat siaran malam di radio.
“Kalo bukan dia gimana?”
“Mau gue tutup aja. Udah malem. Mau tidur. Ngantuk.”
Kenapa suaranya terdengar seperti sedang merajuk? Namjoon bertanya dalam hati.
“Terus kalo ini Namjoon, ngantuknya masih tetep jadi atau malah ilang?”
“Lo itu nggak bakat yah jadi stalker. Langsung ketahuan.” Yoongi memilih topik obrolan lain. Tidak menghiraukan pertanyaan Namjoon. “Follow gue enggak, kepo iya. Kaya netizen aja.”
Deg. Namjoon tidak punya alibi untuk pernyataan Yoogi.
“Gak usah ge er. Tadi gue lagi iseng buka feed explore. Scrolling, trus liat ada foto anjing. Pas gue klik, eh ternyata itu akun lo. Ya udah, sekalian ngintip aja postingan instastory lo.” Sebuah jawaban konyol yang sangat terkesan dipaksakan. Tapi inilah satu-satunya alasan masuk akal yang bisa dipilih Namjoon untuk menjawab pernyataan Yoongi. Lalu kenapa Namjoon masih berdebar? Seolah dia adalah maling yang baru saja tertangkap basah oleh warga saat menjalankan aksinya.
“Yang ada di foto itu sahabat gue dari sekolah. Kali aja lo penasaran itu siapa.”
“Tapi pernah pacaran?” Namjoon menampar pipinya sendiri saat ia menyadari pertanyaan tolol yang baru saja ia lontarkan. Hanya karena ia pernah berpacaran dengan sahabatnya sendiri, bukan berarti semua orang melakukan hal serupa.
“Pernah.”
Kemudian hening.
Keduanya mendadak kehabisan topik untuk melanjutkan pembicaraan. Yoongi tidak berminat untuk menceritakan kisah masa lalu bersama mantan pacarnya. Sementara Namjoon cukup tahu diri dan tidak berani melewati batas terlalu jauh. Pertanyaan seperti itu terlalu privasi untuk ditanyakan oleh orang yang baru dikenal.
Tiga puluh detik berlalu dalam keheningan yang terasa sangat canggung.
“Ini kenapa jadi canggung gini sih. Beda banget sama waktu kita ngobrol di coffee shop tempo hari.”
“Jangan-jangan kita ada sesuatu. Lo nggak mendadak jealous, kan?” Jawab Yoongi usil sambil tertawa.
“Maksud?”
“Rasa canggung gak akan ada di antara orang yang gak ada apa-apanya. Jadi mungkin aja, bisa jadi, ada sesuatu di antara kita. Lo naksir gue, misalnya.” Yoongi menjawab santai. Dari suaranya bisa terdengar jelas kalau rasa kantuknya sudah hilang.
Namjoon hanya bisa tertawa mendengar ucapan Yoongi. Tentu itu hanya basa basi saja. Ia benar-benar kehilangan ide harus menjawab apa.
“Bercanda, kok.”
Tidak. Bagi Yoongi, mungkin itu sebuah candaan. Atau mungkin hanya kalimat sembarang yang dia ucapkan untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka. Namun bagi Namjoon, bisa dikatakan hampir sembilan puluh sembilan persen itu adalah benar. Satu persen ia sisakan untuk menyangkal apapun yang ia rasakan di sembilan puluh sembilan persen itu.
“Lo biasa tidur jam berapa, Joon?” Yoongi berusaha mencari topik lain yang tidak melibatkan perasaan sama sekali. Topik standar. Namun basi.
“Kalo di Jakarta, biasanya jam 11 udah tidur. Kalo di Bandung gini, biasanya lebih malem lagi. Soalnya gue suka ngobrol bareng bokap kalo malem. Seru aja dengerin dia cerita macem-macem.”
“Lo gak mau ngajak dia tinggal bareng aja gitu di Jakarta? Biar dia ada temennya.”
“Udah gue ajak. Dia nggak mau. Dia suka tinggal di sini meskipun sendirian. Karena semua kenangan antara dia sama nyokap ada di sini. Makanya dia gak mau pindah.”
Namjoon bercerita banyak tentang ayahnya. Mendiang ibunya. Dan rutinitas yang ia lakukan setiap akhir minggu. Pergi ke Bandung di hari Jum’at. Dan kembali ke Jakarta di hari Minggu. Kegiatan yang rutin ia lakukan pasca ibunya wafat. Ia tidak tega membiarkan ayahnya kesepian di rumah sendirian. Namun untuk pindah ke Bandung dan menetap di sana pun bukan solusi yang tepat untuk Namjoon. Maka ini adalah semacam kompromi yang ia buat untuk dirinya sendiri. Di sisi lain, Yoongi lebih banyak mendengar. Ia beberapa kali menimpali obrolan. Dan terkadang juga menceritakan apapun tentang dirinya yang ingin diketahui Namjoon. Tapi ternyata, ia lebih menyukai perannya sebagai pendengar yang baik. Mungkin karena ia bekerja sebagai penyiar yang selalu berbicara tanpa henti, sehingga ia bosan dengan suaranya sendiri. Atau mungkin karena suara Namjoon terdengar menenangkan. Sungguh, Yoongi sangat menikmati obrolan malam ini. Tanpa terasa mereka sudah berbicara lebih dari dua jam. Dan ketika Yoongi tidak lagi menyahut saat Namjoon memanggil namanya, Namjoon sadar bahwa Yoongi sudah tertidur.
"Sweet dream, Gi. I miss you." lalu Namjoon menutup teleponnya.
“I miss you too, Joon.”
*
Ada yang tidak biasa dengan pagi Yoongi hari ini. Saat ia membuka matanya, hal pertama yang muncul di kepalanya adalah Bandung. Yoongi tidak mempunyai kenangan khusus dengan kota Bandung. Tapi di pagi ini, ada yang membuat hatinya resah dan membuatnya ingin sekali pergi ke kota itu. Hari ini juga. Harus hari ini. Apa karena alam bawah sadarnya tahu bahwa hari ini Namjoon berada di Bandung. Lantas apa hubungannya dengan Namjoon? Mengapa pikiran tentang Namjoon berada di kota Bandung membuat Yoongi seketika meraih ponselnya dari nakas di samping tempat tidur, lalu membuka aplikasi pemesanan tiket online. Sial. Yoongi lupa kalau ini adalah hari Sabtu. Orang-orang tentu sudah melakukan pemesanan tiket dari jauh hari untuk weekend seperti hari ini. Siapa tau ada yang putus, terus batalin tiket mereka pergi ke Bandung. Yoongi berharap dalam hati.
Namun tentu saja, Semesta sedang berbaik hati terhadap orang-orang tak bersalah itu. Doa Yoongi ditolak. Semua tiket, baik kereta maupun travel, sudah habis terpesan. Maka jika Yoongi benar-benar ingin pergi ke Bandung dan menemui Namjoon, hanya ada satu cara yang bisa ia lakukan. Yoongi melempar ponselnya ke bantal, lalu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Menyiapkan diri untuk menyetir mobilnya sejauh lebih dari 150 kilometer demi bertemu salah satu pendengar setianya di kota Bandung. Kim Namjoon.
*
“Halo”
“Joon, kalo ke rumah lo enakan keluar pintu tol mana? Pasteur atau Moh. Toha?”
“Hah? Gimana? Ngapain lo?”
“Jawab aja sih. Ntar lagi gue ketemu simpangannya nih. Awas aja kalo gue sampe bablas.”
“Kalo ke rumah, enakan keluar di Toha sih. Tapi gue lagi di tempat temen daerah Pasteur. Jadi ya terserah lo aja mau keluar tol mana. Lagian lo kok nyetir sambil nelpon sih? Bahaya tau!” Ada nada marah bercampur khawatir dalam kalimat terakhir yang diucapkan Namjoon.
“Gue pake bluetooth speaker kok ini. Aman. Ya udah, kalo gitu shareloc tempat temen lo. Nanti gue liat kalo udah keluar tol supaya bisa minggir bentar.”
“Gi, lo mau ngapain ke sini?”
“Bye!” Yoongi menutup sambungan telepon tanpa menjawab pertanyaan Namjoon.
Sialan. Bisa-bisanya dia main nutup telepon kaya gitu. Nada suaranya memang terdenger agak kesal. Namun ekspresi wajahnya menunjukkan hal lain. Ada senyum yang tak bisa ia tahan hingga membuat pipinya mengembang penuh. Ia merasakan lagi kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Membuatnya sedikit tidak nyaman. Tapi Namjoon sangat menyukai perasaan ini di dalam dirinya.
“Joon, lo kenapa pegang henpon sambil mesem-mesem aneh gitu? Sumpah gue geli tau liatnya.” Namjoon tidak memedulikan temannya. Sibuk sendiri dengan ponselnya karena harus mengirimkan titik lokasi kepada Yoongi. Yoongi ngapain ya ke Bandung? Masa nyamperin gue? Nggak mungkin. Pasti dia ada urusan, jadi sekalian mampir nemuin gue. Kan dia tahu gue lagi di Bandung. Tapi kalo tujuan utamanya bukan gue, kenapa dia nanya keluar tol mana untuk ketemu gue? Brengsek nih Yoongi. Siang-siang udah bikin gue overthinking aja. Namjoon tenggelam dalam monolognya. Tidak memedulikan temannya yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya sambil menggeleng keheranan.
*
“Jadi, lo mau ngajak gue ke mana nih?” Yoongi sudah di dalam mobil bersama Namjoon. Memutuskan untuk tetap melaju meskipun tanpa arah tujuan yang jelas. Cuaca kota Bandung sedang sangat bersahabat sore ini. Lalu lintas juga terbilang kondusif dan lancar untuk ukuran weekend. Membuat Yoongi yang biasanya tidak suka menyetir, menjadi terlalu menyukai kegiatan ini. Mungkin karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan yang membuat matanya kagum akan pemandangan sekitar. Atau karena ada Namjoon di sampingnya? Yang membuat aktivitas menyetir kali ini menjadi terasa berbeda. Terasa nyaman. Jauh dari rasa kesepian.
“Lah. Kan lo yang nyetir. Gue sih ngikut aja lo mau nyulik gue ke mana. Pasrah gue sih.”
“Kan gue pendatang. Lo tuan rumahnya. Lo lah yang nentuin kita ke mana. Kalo terserah gue, ya gampang aja. Tinggal masuk tol, balik ke Jakarta. Kelar.”
“Gila lo. Ransel gue masih di rumah. Lagian gue belom pamitan ama bokap. Gue gak mau ya jadi anak durhaka ninggalin dia tanpa pamit. Lo ke Bandung tuh sebenernya pengen ke mana atau nyari suasana kaya apa? Supaya gue tau mau kasih rekomendasi apaan.”
“Mau ketemu lo aja sih. Kangen.” Yoongi menjawab santai. Terlalu santai. Ia hanya fokus mengendarai mobilnya tanpa sempat menoleh ke arah Namjoon yang terlihat salah tingkah dan berusaha setengah mati untuk tetap tenang mendengar kata terakhir yang diucapkan Yoongi.
“Lo suka kopi kan? Selasar Sunaryo, yuk. House blendnya Kopi Selasar enak banget. Lo pasti suka.“
“Minum kopi di mana pun asal bareng sama lo pasti enak sih, Joon.”
Yoongi bangsat. Namjoon hanya bisa mengumpat dalam hati. Ia kesal pada kenyataan bahwa Yoongi bisa mengucapkan kalimat itu secara santai, namun berhasil membuat jantungnya berdebar kencang.
*
Selasar Sunaryo adalah sebuah galeri seni yang terletak di bagian utara Bandung. Bukit Pakar lebih tepatnya. Tempatnya memang tidak terlalu jauh dari titik lokasi saat Namjoon bertemu Yoongi tadi. Namun bukan itu yang dikhawatirkan. Banyak kafe cantik kekinian yang berlokasi di daerah Bukit Pakar karena pemandanganya yang menakjubkan. Dan ini adalah weekend. Pasti banyak sekali kendaraan menuju daerah itu. Semoga nggak macet. Namjoon hanya bisa berharap semesta cukup baik kepadanya hari ini. Dalam kondisi normal, menurut catatan google map, hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi Kopi Selasar dari daerah Pasteur. Namun pada weekend seperti ini, waktu tempuh yang dianggap normal adalah sekitar 45 menit. Macet. Tentu saja. Tapi anehnya, selama menyetir dalam keadaan macet itu, Namjoon tidak pernah sekalipun mendengar Yoongi mengeluh. Dan ini membuat Namjoon sedikit bingung tentunya. Karena ia ingat pada suatu percakapan mereka bahwa Yoongi lebih menyukai naik kendaraan umum di Jakarta karena ia benci kemacetan. Itulah sebabnya kenapa Yoongi jarang sekali menyetir mobilnya sendiri. Yoongi terlihat baik-baik saja. Tidak ada raut kesal sama sekali saat mereka tiba di tempat yang dipilih oleh Namjoon untuk kencan, maaf, maksudnya minum kopi bersama sore itu.
Semilir angin langsung menyambut seiring kaki Yoongi menapaki halaman parkir Selasar Sunaryo. Yoongi mengangkat kedua tangannya dan melakukan peregangan untuk merelaksasi otot-ototnya yang terasa kaku. Memutar bahu ke kanan dan ke kiri. Namjoon hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri, memerhatikan Yoongi yang sedang melakukan aktivitasnya. Di pertemuan kali ini baru disadari ternyata, perpaduan antara sinar matahari sore dan Yoongi dengan senyum lebar yang memperlihatkan gusinya adalah senjata yang cukup mematikan bagi jantung seorang Kim Namjoon. Ibu, he is so beautiful. Help me make him mine, please?
*
“Sore, Kak Joon. Apa kabar? Mau pesan apa?” tanya seorang barista. Namjoon adalah pengunjung regular sehingga para pekerja di sini mengenalnya dengan baik. Namun biasanya Namjoon sendirian. Dan ini adalah kali pertama ia datang bersama orang lain. Maka tidak heran jika barista tadi menyapa Namjoon sambil menatap penuh tanya dengan gestur usil penuh rasa ingin tahu. Yang tentu saja tidak digubris sama sekali oleh Namjoon.
“Gue hot americano. Lo mau apa, Gi?”
“Biasa.”
Namjoon menatap Yoongi kebingungan.
“Lo kan baru pertama kali dateng ke sini? Kok bisa udah punya menu biasa?
“Bukan. Maksudnya, gue pesen yang biasa gue minum aja.”
“Tapi kan gue nggak tau lo biasanya minum apaan.” Namjoon mengernyitkan dahinya.
“Iya juga sih. Kita baru ketemu dua kali ya sama sekarang. Gue iced americano. Pake house blend ya. Joon bilang recommended. Jadi kalo ternyata gak cocok di lidah, gue bisa komplain ke dia.” Yoongi mendengus sambil tertawa sendiri. Apa yang ada di pikirannya? Bagaimana dia bisa berpikir Namjoon tahu apa menu favoritnya. Ketemu saja baru dua kali. Meskipun entah mengapa, Yoongi merasa Namjoon sudah tahu banyak hal tentangnya. Seolah ia sudah mengenalnya cukup lama. Ada kenyamanan yang tidak bisa dijabarkan. Dan sesungguhnya, Yoongi tidak pernah ambil pusing atas perasaan yang muncul dalam dirinya ketika otaknya sedang berpikir tentang Namjoon. Sampai hari ini. Hari ini dia mulai memikirkan dengan serius, apa yang sesungguhnya ia rasakan terhadap Namjoon.
“Kita duduk di situ ya.” Namjoon berkata kepada sang barista sambil menunjuk bangku kosong di dekat batang pohon yang cukup besar. Seraya menepuk bahu Yoongi untuk mengajaknya duduk di tempat yang sudah dipilihnya.
*
“Jadi, lo ngapain ke Bandung? Tumben amat bawa mobil. Lo bilang paling anti nyetir karena males macet.”
“Dalam hidup itu, selalu ada pengecualian, Joon. Nggak bisa semuanya lo pukul rata pake standar yang sama.”
“Sedaaaappp! Gini nih asiknya ngobrol sama DJ. Topik obrolan luas. Banyak yang bisa dibahas. Ya meskipun pernyataan lo barusan nggak ngejawab pertanyaan gue sih.”
“Sejujurnya gue nggak tau. Impulsif aja. Udah lama nggak ke Bandung soalnya.”
“Udah pasti impulsif sih. Soalnya kalo emang direncanain, lo pasti udah beli tiket kereta atau travel dari jauh-jauh hari. Kalo dadakan gini ya hampir pasti keabisan. Makanya lo jadi nyetir sendiri ke sini.”
“Ini seriusan kita bakal ngebahas soal gue yang kualat sama omongan sendiri? Jangan-jangan kalo kita pacaran terus gue bikin salah, lo bakalan inget terus tuh dosa-dosa gue. Dan bakal jadiin itu sebagai senjata pamungkas kalo kita berantem.”
Suasana mendadak canggung. Ada keheningan yang bahkan bisa membuat mereka mendengar suara angin bersemilir di sekeliling. Namjoon mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, menatap ke sembarang arah. Mencoba mengalihkan diri dari rasa canggung ini. Lalu ia melirik ke arah Yoongi yang ternyata sedang menatapnya. Tunggu, kenapa Yoongi terlihat biasa saja? Kenapa tidak ada raut canggung di wajahnya? Seolah-olah yang diucapkannya tadi adalah percakapan biasa tanpa arti apapun.
“Lo kenapa, Joon?” ada senyum jahil di akhir pertanyaan Yoongi.
Namjoon tidak punya jawaban untuk pertanyaan sederhana Yoongi. Ia hanya bersyukur karena semesta cukup baik dengan mendatangkan pesanan mereka di detik ini. Sehingga ia bisa mengalihkan rasa canggungnya dan menghindar dari pertanyaan itu.
“Ini ya Kak pesanannya.” Sang pelayan meletakkan pesanan di meja. Lalu memutar badan ke arah Yoongi. “Kakak suka ngopi banget ya? Ini signature house blend kita. Tapi kalo misalnya kurang cocok ama selera kakak, jangan komplein ke Kak Joon ya. Kan bukan salah dia. Lagian selera orang kan beda-beda.” Setelah selesai dengan Yoongi, ia memutar tubuh menghadap ke arah Namjoon.
“Kak Joon. Kalo nanti kakak itu komplein gara-gara dia nggak suka kopinya, kakak kasih tau aku ya. Supaya nanti dia aku blacklist, biar nggak bisa ke sini lagi”.
Yoongi dan Namjoon mendadak tertawa atas kalimat tersebut. Yoongi melayangkan tatapan bingung penuh tanya ke arah Namjoon sambil mengangkat kedua tangan dengan telapak mengarah ke atas. Maksudnya dia apaan sih? Namjoon hanya membalas dengan gelengan tanpa kata sama sekali. Tentu Namjoon tidak tahu apapun maksud dari ucapan tadi. Sama bingungnya dengan Yoongi. Tapi Namjoon menyukai situasi ini. Semacam pengalihan atas momen canggung sebelumnya. Ucapan pelayan tadi bisa menjadi pencair suasana. Sebaliknya, situasi ini malah memunculkan masalah baru bagi Yoongi. Namjoon dengan pipinya yang mendadak tembam saat tersenyum lebar, dengan mata yang berubah hanya menjadi satu garis, serta kedua lesung pipi yang muncul tiba-tiba, lalu diterpa oleh sinar matahari sore yang memberi semburat jingga di wajahnya, membuat napas Yoongi terhenti untuk sesaat. He is so charming. I will do anything to make him mine.
Mereka menghabiskan sore itu sambil membahas berbagai topik. Topik yang sama acaknya dengan tema obrolan mereka saat pertama kali bertemu di stasiun. Tapi apa pun yang mereka bahas, sang lawan bicara selalu bisa menanggapi dengan baik. Percakapan dua arah yang jauh dari kata membosankan. Mereka duduk berhadapan. Dan selama berbicara, tidak satu pun dari mereka yang tertarik untuk mengecek ponsel masing-masing. Entah karena saling menghargai lawan bicara, atau karena tertalu sulit untuk mengalihkan pandangan dari seseorang yang duduk di hadapan satu sama lain. Namjoon bersyukur Yoongi menyukai kopinya. Bahkan ketika sang pelayan tadi melewati meja mereka, Namjoon sempat-sempatnya memotong omongan Yoongi hanya untuk bilang, “Mbak, dia suka kopinya. Kata dia enak. Jangan di-black list ya orangnya. Nanti dia mau balik ke sini lagi soalnya”. Ledak tawa seketika tercipta di antara mereka bertiga.
Sore berganti senja. Senja berganti malam. Dan mereka memutuskan untuk beranjak dari tempat itu. Bukan karena bosan. Tapi karena sang pemilik sudah mulai membereskan kursi dan meja di sekitar mereka. Bersiap untuk tutup. Karena tempat ini tutup pukul 9 malam di akhir minggu.
*
“Abis ini lo mau ke mana?” tanya Namjoon saat mereka sudah kembali duduk di dalam mobil.
“Lo mau ikut gue balik ke Jakarta?”
“Gak bisa. Besok gue udah janji mau ngajak bokap nyekar ke makam Ibu.”
“Oh-” Yoongi hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kalimat lain.
“Lo … Hmm, mau ikut? Nanti abis nyekar, gue bisa ikut lo balik ke Jakarta. Gak nyesel kok kalo tiket kereta jadi hangus gak kepake, selama gue bisa ngabisin tiga jam perjalanan sama lo. It’s gonna be worth it.”
Meskipun pencahayaan di dalam mobil tidak terlalu terang, namun Yoongi bisa melihat senyum manis Namjoon dengan sangat jelas.
“Ini serius ngajak gue ke makam nyokap lo?”
“Serius lah. Kalo mau, malem ini lo nginep aja di rumah. Sekalian gue kenalin ke bokap. Gimana?
”Dengan satu syarat.”
“Yaitu?”
“Jadi pacar gue. Mau?”
“Kenapa?” Namjoon bertanya dengan nada datar dan raut muka tanpa ekspresi sama sekali. Ah, bodoh. Sungguh pertanyaan ini terlalu bodoh. Namjoon mengutuki dirinya dalam hati karena mengajukan pertanyaan bodoh itu. Namun ia tidak bisa menyalahkan otaknya yang mendadak disfungsional atas kalimat yang diucapkan Yoongi. Namjoon tidak pernah meragukan apa yang hatinya rasakan. Ia sudah jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengan Yoongi di kedai kopi stasiun. Atau mungkin, jauh sebelum mereka bertemu, Namjoon sudah jatuh cinta kepada Yoongi melalui suara yang sering ia dengar di radio di malam hari.
“I love you, Kim Namjoon. Sejak pertama kali kita ketemu di kedai kopi stasiun tempo hari. Please don’t freak out. Gue belum pernah, dan sejujurnya, gue nggak pernah percaya sama yang namanya love at the first sight. Gimana mungkin lo bisa jatuh cinta sama orang yang baru lo temuin? Tapi ternyata, lo itu pengecualian. Lo itu semacam sampel error di populasi data analisis gue. Lo itu-”
Yoongi tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Suaranya mendadak hilang karena dalam sepersekian detik ia kehilangan kendali atas mulutnya sendiri. Ada bibir lain yang menempel di atas miliknya. Namjoon menciumnya. Perlahan, lembut, namun tegas. Dan sudah tentu dibalas oleh Yoongi tanpa keraguan sedikitpun.
“I love you too, Min Yoongi.” jawab Namjoon saat berhenti sejenak untuk mengambil oksigen setelah mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk berciuman. Ciuman pertama sebagai sepasang kekasih.
“Let’s go home and meet your father, baby. Ummm … gue boleh kan manggil lo baby?”
“Your baby.” Namjoon mengangguk, meraih tangan Yoongi, mencium lembut jari-jarinya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dalam hening. Dengan jari tangan saling bertautan.
*****
Pernahkah kamu mendengar pepatah ‘Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum’? Ya, Bandung dengan segala atmosfer magisnya kadang membuat kita tersenyum tanpa sebab hanya dengan mengingat kotanya. Tidak heran jika Bandung mendapat sebutan Paris Van Java. Karena suasana kotanya yang syahdu, dan membuat siapa pun ingin sekali merasakan jatuh cinta di sana. Bayangkan kalau jatuh cinta di kota ini. Karena konon katanya, seindahnya orang-orang yang jatuh cinta. Tak seindah jatuh cinta di Paris Van Java.
-selesai-
