Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
NAMGI CUDDLE FEST
Stats:
Published:
2021-08-25
Words:
1,887
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
66
Bookmarks:
3
Hits:
475

Become The Warm Jets

Summary:

Untuk pertama kalinya, selama empat tahun hidup bersama. Kopi buatan Yoongi tidak diminum Namjoon.

Notes:

Prompt:

 

Yoongi tidak pernah sepeduli itu dengan yang namanya "cuddle" bersama seorang kekasih sebelumnya. Tapi saat memperhatikan bahwa kekasihnya —Namjoon— belakangan ini yang terlihat mengacuhkan dirinya dan memilih menghabiskan hari harinya di kantor sejak beberapa hari lalu membuat Yoongi merasa kesal. Ia harus melakukan sesuatu untuk menunjukkan pada kekasihnya bahwa ia terlalu berharga untuk diacuhkan.

dw ; annoyed yoongi, latar waktu di malam hari/pagi hari.

dnw ; semua yg melanggar rules.

Work Text:

A song

Become the Warm Jets- Current Joys

 

Tiga hari, empat hari, dan sekarang hari kelima. Yoongi merasa dirinya tidak lengkap sudah selama lima hari. Pagi ini, menyiapkan kopi, duduk di meja, melamun sedikit.

"Mas, aku duluan." Wah. Hari ini bahkan kopi-nya tidak diminum. Tapi Yoongi hanya berdeham dan memperhatikan Namjoonnya pergi tergesa-gesa tanpa menutup pintu. “Kebiasaan.” Kesah  Yoongi kecil, lalu melanjutkan melamun, ah, berpikir. Iya, Namjoonnya sedang  aneh, begitu pikir Yoongi.

 

 

Oh, I can hear it when that old song starts to play

 

[ oh, aku mendengar lagu lama itu mulai berputar ]

 

Cutting through my body in a familiar ways

 

[ mengoyak tubuhku ini dengan cara yang sangat aku kenal ]

 

 

Masih duduk di posisi yang sama, pelan-pelan Yoongi mengurai kepala dan hati, mengingat kembali. Senin-Selasa-Rabu-Kamis, eksistensi Namjoon di sebelahnya menipis. Di empat hari itu, Yoongi diam dengan perasaan asing yang menyelinap kecil-kecil. Tapi hari ini, —Jum’at. Yoongi terganggu. Namjoon mengganggu. Untuk pertama kali. Sejak empat tahun hidup bersama, kopi-nya tidak diminum Namjoon.

 

 

Well, is it me or is it you who can't relate

 

[ hei, aku atau kamu kah ini yang tidak merasa? ]

 

'Cause I can feel it when those warm jets take me away

 

[ karena aku merasakannya ketika kehangatan itu pergi membawaku ]

 

 

Dan apa pun yang mengganggu, segera ingin Yoongi bereskan. Yoongi tidak suka dibuat mengambang seperti ini. Semuanya ingin Yoongi letakkan ke tempat semula. Di dapur saat Yoongi memasak, Namjoonnya akan duduk di meja kopi ini memandanginya. Di meja kopi ini, saat Yoongi berkutik pada layar laptopnya, Namjoonnya akan ada di belakang memijat bahunya sambil merengek untuk ditemani menonton TV, lalu Yoongi akan mengikuti Namjoon ke sofa, bukan untuk ikut menonton TV tentunya, tapi merebahkan kepala di atas paha Namjoon dengan usapan-usapan lembut yang menghilangkan penatnya. Atau. Masih di meja kopi ini juga, tapi dengan Yoongi mode “Jangan Mendekat.”, Namjoonnya akan duduk menurut dengan lembut di sofa itu, memangku Toto, kucing mereka, sambil mencuri-curi pandang untuk Yoongi tetap ada dalam netranya.

 

 

The useless seems to matter more and more

[ hal-hal kecil terasa semakin lebih berharga ]

All my life is just something I can't ignore

[ seluruh isi hidupku adalah hal yang tidak bisa aku abaikan ]

 

Ibarat Yoongi benda angkasa, Namjoon itu satelit-nya. Se-tidak beraturan apa pun arah orbit Yoongi, Namjoon tetap ada di situ selalu, ya, tidak menempel. Tidak lekat juga. Tetapi, begitu dekat. Sangat dekat. Ah. Bagaimana ya. Yoongi sedikit bingung mendeskripsikan ini, mendeskripsikan perasaannya. Yang penting, intinya, yang Yoongi mau itu Namjoon. Namjoon yang seperti biasa. Namjoon si satelit-nya.

 

Consumed and enthused by all that came before

[ tertelan dan tenggelam oleh semua yang datang sebelumnya ]

'Cause I can feel it when those warm jets start to roar

[ karena aku merasakannya ketika kehangatan itu mulai menyala ]

 

Tidak terasa sudah berganti hari, tapi Yoongi masih melamun lagi. Tadi malam ia menunggu Namjoon pulang, tetapi tidak sesuai harapannya. Yang tadinya Yoongi berencana untuk mencoba mengajak ngobrol kekasihnya soal ini, tapi begitu sampai rumah, Namjoon malah langsung merebahkan diri dan tidur. Tidak menegur dan menyapa sekali pun. Benar-benar saat langsung masuk kamar, Namjoon cuma melepas kemejanya dan langsung merebahkan diri di kasur, yang disusul dengan suara dengkur. Padahal Yoongi sudah mengawali dengan mencari perhatian, berlagak ‘sengaja bermain handphone sampai larut malam’ tapi kenapa Namjoon tidak menegurnya sama sekali? Kenapa juga Namjoon tidak memberi kecup sebelum tidur? Kenapa ya perilaku Namjoon tidak seperti biasanya? Pertanyaan-pertanyaan gusar bersarang di kepala Yoongi. Masalahnya, sudah meninggalkan kopi, meninggalkan kecup pula. Sangat aneh dan mengherankan, sampai Yoongi banyak mengungkapkan perasaannya menggunakan kata “benar-benar, sangat, aneh, sekali.” Tidak mau. Yoongi tidak mau diperlakukan- tidak terima diperlakukan seperti ini, tapi karena tadi malam sudah larut dan tidak mungkin juga membangunkan Namjoon. Jadi, untuk meredam pikiran yang semakin membingungkan, Yoongi memutuskan untuk ikut tidur bergelung diri memeluk Namjoon.

 

 

Lihatlah sekarang, Yoongi duduk di sofa sambil menonton TV —oh. Tidak ditonton, hanya dinyalakan saja dan ditinggal melamunkan ini. Yoongi menunggu Namjoon bangun. Sedikit lega karena weekend, artinya mereka berdua punya banyak waktu nanti. Yoongi mau mencoba membuka obrolan lebih dulu. Karena jujur saja, Yoongi jarang sekali membicarakan perasaannya mengenai hubungan mereka. Seringnya Namjoon yang lebih dulu mengajaknya. Selama empat tahun ini, jika ada masalah atau sesuatu yang perlu dibicarakan dan dibahas mengenai hubungan mereka, selalu Namjoon yang lebih dulu menariknya membuka obrolan dan mengajaknya menyelesaikan masalah pelan-pelan. Cara menyelesaikan masalah yang menguntungkan bagi tipe orang yang tertutup malu takut dan ragu seperti Yoongi. Cara yang membuat Yoongi nyaman. Namun berbeda untuk situasi sekarang-

“Mas kenapa gak bangunin aku?!” suara teriakan yang sedikit mengagetkan Yoongi. Namjoon keluar dari kamar sembari mengenakan kemeja dengan asal. “Mas tolong bantu cari dasiku!”

“Loh kan ini hari libur kamu??” Yoongi merespon pertanyaan Namjoon penuh tanya dan berdiri mencarikan dasi dengan rusuh. Ikut panik karena Namjoon.

“Tadi malam aku udah bilang ke Mas buat bangunin aku!”

“Tadi malam kamu pulang-pulang langsung tidur!” Yoongi ikut menaikkan suaranya.

Namjoon mendengus kesal. “Ini dasinya, sini Mas pasangin sekalian.” Belum sampai Yoongi memakaikan, Namjoon sudah merebut dasinya duluan.

“Nanti aku pakai di jalan aja. Udah ya, Mas,” Ujar Namjoon dengan tergesa-gesa, yang lalu disela oleh Yoongi.

“Sebentar-sebentar! Ini kopinya Mas gantiin dulu di bottle cup biar kamu bawa” Yoongi dengan cekatan mengemas kopi untuk Namjoon. “Gak usah! Aku udah telat!” Namjoon dengan panik bersiap keluar rumah. Tapi saat tangannya sejengkal lagi menjangkau knop pintu, ada tubuh kecil yang menyerobot lebih dulu. Yoongi … menghadang pintu.

“Kalau udah telat, ya udah gak usah berangkat kerja sekalian.” Suara penuh penekanan dengan kekesalan yang tercetak jelas di wajah kecil Yoongi yang nampak memerah marah.

Namjoon cukup terkejut. Menghembuskan napas dan segera ia mengendalikan paniknya, memegang bahu Yoongi “Oke maaf, kopinya aku bawa, sekarang Mas biarin aku berangkat kerja ya” Ucap Namjoon sambil mengelus bahu Yoongi. Berharap marahnya mereda.

“Siapa yang mau maafnya kamu?! Aku bilang nggak usah berangkat kerja ya nggak usah.” Oh. Namjoon salah kira, justru Yoongi bertambah kadar marahnya. Usapan tangan Namjoon dilepas dari bahunya.

“Mas, jangan sekarang, ya? Aku minta maaf. Kita bicaranya nanti sehabis aku pulang, please.” Namjoon memohon dengan pasrah.

“Mundur satu meter dari aku.”  Yoongi tetap kokoh pada tempatnya menghadang pintu.

“Mas. Ayolah. Jangan gini kenapa sih??” Dijawab Namjoon dengan kesal tapi tetap menurut melangkah mundur.

 

 

“Kamu yang jangan gini! Kamu yang kenapa! Udah hampir satu minggu kamu aneh. Selama empat tahun kita sama-sama, baru pertama kali kamu absen kasih aku kecup sebelum tidur. Kopiku bahkan gak kamu minum. Kamu juga banyak diam kayak robot. Pergi pagi, pulang larut. Kayak hidup sendiri aja, tau? Kamu kalau udah nggak betah serumah sama aku ya bilang!” Meluap sudah asap-asap yang bergumpal dalam tutup riuh kepala Yoongi.

“Mas .. aku .. bukan .. gitu ..” Namjoon menjawab dengan terbata-bata, terkejut atas kekesalan yang diluapkan kekasihnya. Tapi memperhatikan Yoongi sekarang ... kecil. Yoongi kecil. Kepalanya menunduk. Tadi Yoongi marah tapi sambil menunduk. Tidak menatap mata Namjoon. Tubuhnya menempel lekat pada pintu dengan kedua tangan merentang lebar menutupi kanan kiri sisi pintu. Sedikit lucu.

“Mas .. iya .. aku gak jadi berangkat .. sekarang mas inginnya gimana ..? Aku minta maaf ..” Namjoon melembut berbicara pelan. Agaknya Namjoon seperti sedikit takut dengan Yoongi. Ia akhirnya memilih  mengalah saja.

“Kamu sana ke halaman belakang. Aku kasih waktu lima belas menit minimal dan tiga puluh menit maksimal. Refleksi sikap kamu akhir-akhir ini. Terus nanti kita bicara. Awas ya, aku masih mau jaga pintu.”

“Iya … ” Namjoon benar-benar pasrah menurut. Pergi ke halaman belakang. Merenung ditemani udara segar.

Yoongi meluruhkan badan, lelah akibat berdiri dengan ngotot. Terasa ada yang mengusak kakinya. Eh. Sejak kapan Toto ikut menghadang pintu bersama Yoongi.

 

Give me everything I ever need

[ berikan kepadaku semua yang aku butuhkan ]

Or just enough so I can go to sleep

[ atau secukupnya saja, agar aku bisa tidur ]

 

Lima belas menit telah berlalu, Yoongi masih duduk di depan pintu sambil memangku mengelus-elus Toto. “Toto maaf ya, kamu pasti tadi kebangun gara-gara suara ribut.” Yoongi berdialog dengan Toto yang tentu saja hanya dibalas dengan suara mengeong karena Toto adalah kucing. “Dia lama banget ya To … udah lewat lima belas menit .. apa dia melarikan diri lewat pintu belakang ya .. hmmm tapi gak mungkin, mobilnya aja di depan. Tapi .. ah! Ayo deh kita cek!” Saat Yoongi bersiap berdiri sambil menggendong Toto, tiba-tiba ada suara yang datang. Itu dia, Namjoon.

“Mas .. aku ngantuk pengen bobo ..” Yoongi mematung sejenak. “Oh .. ya udah sana bobo ..” Bagaimana sih ini, kan Yoongi menunggu melanjutkan prahara tadi.

“Ayo .. sama Mas .. bobonya sama Mas.” Bayi besar Yoongi datang.

 

 

Sekarang mereka berdua sudah bergelung di atas kasur. Berpelukan di dalam selimut. Namjoon yang meminta peluk. Yang tadinya Namjoon yang menurut, sekarang bergantian Yoongi yang menurut. Ia mengusap punggung Namjoon, berharap dapat menghantar lelap yang tenang.

“Mas ..” Napas Namjoon menembus bahu Yoongi.

“Apa .. katanya mau tidur.”

“Mau bicara, tapi sambil begini.” Namjoon mengeratkan pelukannya.

Yoongi menghela napas. “Ya udah apa ..” Semalaman dia sudah menantikan ini, ingin tau ‘jawaban’ dari ‘kenapa’ yang memenuhi kepala.

“Mas ingat nggak waktu kita ngobrolin rumah-rumah pohon yang ada di dunia? Hapuku Lodge Tree House?” Yoongi tertegun.

“Iya, tapi kenapa jadi ngomongin itu kan nggak ada hubungannya. Langsung ke intinya aja.”

“Ada .. aku ambil lembur buat nabung biar kita pergi kesana nanti liburan akhir tahun .. Tadinya mau jadiin ini hadiah buat Mas. Tapi ternyata, aku buat kacau ya .. nggak bisa manage diri. Setelah aku pikir-pikir, aku mending langsung kasih tau ke Mas. Jadi aku mau minta semacam apa ya .. hmmm pengertian? Keringanan? Pemakluman? Atas sikapku buat jangka waktu kedepan. Aku mau fokus kerjaan buat nabung .. setelah itu janji kita akan seneng-seneng.”

Yoongi terdiam lama. “Mas ..” Namjoon menuntut respon.

“Jadi, menurutmu, sekarang ini kita gak lagi seneng kah?”

“Bukan gitu maksudku,“

Yoongi mengeluarkan tawa kecil. “Mas kenapa ketawa .. kita lagi serius.” Namjoon bertanya heran.

“Joon, mas gak nyangka kamu nanggepin serius obrolan random waktu itu, lagi nonton youtube terus ada rekomendasi video rumah pohon itu. Gak bilang pengen kesana kan cuma ngasih tau bilang kalau itu bagus. Sekadar obrolan angin lewat aja tau.”

“Tapi mas mau aku ajak kesana, nggak?” Namjoon menjawab dengan cepat.

“Enggak.” Yoongi juga tidak kalah cepat merespon.

“Mas yang serius jawabnya ..”

“Udah serius. Enggak mau kalau cuma kamu sendiri yang nabung. Aku juga ikut mau nabung, biar jadi hadiah buat berdua.”

“Mas jangan gitu .. kan aku yang mau ngasih hadiah ..”

“Iya kan jadinya sama-sama ngasih hadiah. Tapi tahun depan aja ya, kita rencanain dari awal biar bisa seimbang juga yang ada di hadapan sekarang.” Yoongi sedikit mendorong jauh tubuh Namjoon. Mereka bertatapan mata.

“Mas, kok tiba-tiba aku rasanya kangen kamu.” Namjoon merapatkan tubuhnya lagi ke Yoongi.

“Aneh.” Padahal pipinya berubah jadi merah delima.

“Mas, yang tadi aku minta maaf ya .. maaf udah buat Mas merasa begitu. Tapi Mas harus tau, nggak ada yang namanya aku nggak betah serumah sama Mas. Justru kita ini adalah rumah. Bisa disebut rumah hanya jika dalamnya ada aku sama Mas. Ya?”

“Ya … ” Lega sudah hati dan kepala Yoongi. Ternyata tidak semenakutkan yang ada di pikirannya.

“Ngopi berdua yuk, Mas? Sekarang.”

“Panggil namaku.”

“Apa??”

“Namaku panggil.”

“Yoongi … ayo minum kopi berdua?”

“Nggak mau. Sekarang kita butuh tidur dulu. Nanti malam aja.”

Namjoon terkekeh kecil. “Oke. Ya udah sini Mas deketan lagi ke aku. Daritadi dipeluk kok melonggar mulu.”

Miauww” Seketika mereka tergelak tawa berdua. Toto entah darimana tiba-tiba menyembul di tengah. Tapi, Yoongi dan Namjoon paham, kalau Toto ingin dapat hangat juga.

 

Well, is it me or is it you who came to see

[ hei, siapakah ini yang datang untuk melihat? ]

The scene, when all those warm jets swallow me

[ pemandangan ini, ketika semua kehangatan itu menelanku ]