Work Text:
Sedikit peluh mengalir pada dahi seorang wanita dengan rambut hitam yang diikat rapi. Wanita itu tidak memperdulikannya dan tetap sibuk mengambil beberapa gambar dengan kamera yang sedari tadi tidak lepas dari genggamannya. Lagipula, hanya itu satu-satunya alasan seorang Jang Wonyoung menapakkan kaki di stasiun KRL. Untuk mengambil foto dan mencari suasana baru, katanya.
Hari ini merupakan hari perdananya untuk mencoba transportasi umum, meskipun sebenarnya Ia sudah tinggal di Jakarta dari detik pertama Ia menghembuskan nafas di dunia ini. Ia memiliki mobil pribadi dan walaupun ada waktunya di mana Ia terlalu lelah untuk menyetir sendiri, dia lebih memilih naik taksi.
Mungkin hari ini seorang Jang Wonyoung sedang ingin bertindak impulsif. Ia baru saja pulang dari ngopi cantik sendirian dan melihat jalanan dari dalam taksi, entah apa yang merasuki tubuhnya hingga Ia tersentak dan memberi perintah pada supir taksi untuk mengantarnya ke salah satu stasiun KRL terdekat.
Maka, di sinilah dia, berdiri di tengah lautan manusia, entah di mana ini karena Ia sesungguhnya daritadi hanya ngasal dalam memilih kereta.
Langit sudah mulai jingga kemerahan dengan stasiun yang makin ramai merupakan isyarat yang Wonyoung ambil untuk segera pulang. Salahnya yang masih terlalu fokus dengan kamera, arus pengguna KRL yang lain tidak sengaja mendorongnya untuk ikut masuk ke kereta yang sedang standby di hadapannya.
Wajahnya masih tenang hingga Wonyoung mendengar tujuan stasiun yang salah dari yang Ia inginkan. Wanita dengan tinggi lebih dari 170 centimeter itu akhirnya menyerah dan memasukkan kameranya ke dalam tas, agar Ia bisa fokus untuk perjalanan pulangnya.
Entah bagaimana caranya pulang, tapi Wonyoung paling tidak tahu Ia harus turun dari stasiun berikutnya dan memulai dari awal.
“Apa pulang naik taksi aja dari sini langsung?” Pikir Wonyoung, “Ah, gatau deh. lihat saja keadaan di stasiun berikutnya.“
Wonyoung menghela nafas dan bersandar di salah satu tiang yang bersebelahan dengan tempat duduk.
“Mbaknya suka kamera analog juga?” Terdengar suara datang dari sebelah Wonyoung.
Yang ditanya menoleh kebingungan, “Eh, saya?”
Mata Wonyoung tertuju pada seorang wanita berkacamata dengan senyum manis lengkap dengan lesung pipinya. Wanita tersebut duduk di sebelah tempat Wonyoung berdiri.
“Iya.”
“Manis banget.” Pikir Wonyoung.
Wanita yang terlihat tenang dan tersenyum depan Wonyoung tersebut sebenarnya sedang panik dan memikirkan hal yang sama, “HADEEH BUSET CANTIK BANGET, LEMBUT LAGI SUARANYA.“
Wonyoung tertawa kecil, “Masih amatiran, sih.”
“Ohh, tapi udah pake Nikon FM2, aja.”
Wonyoung menggaruk tengkuknya, “Ketinggian ya speknya buat amatiran?”
“Iya, semi-profesional, sih. Susah nggak kemarin belajarnya?”
“Ya, pelan-pelan sih.”
“Hebat sih kalau udah bisa makenya.”
Wonyoung menaikkan alisnya dan kembali tertawa kecil, “Nggak, ah. Biasa aja.”
“Beneran, deh.”
Mendengar hal itu Wonyoung hanya tersenyum simpul, tidak tahu harus respon bagaimana lagi. Wanita yang baru pertama kali naik KRL itu membenarkan posisinya dan berdiri tegak. Ia kemudian menyandarkan kepalanya dan melamun melihat langit-langit kereta, kembali menghela nafas. Tanpa Ia ketahui, wanita yang di sebelahnya ternyata masih memperhatikan, “Mbaknya mau duduk?”
Wonyoung menoleh lagi—kali ini terlalu cepat, tanda panik, “Eh, nggak kok.”
“Bener? Gapapa, kok. Saya sudah puas ini duduknya.” Wanita yang tadi duduk sekarang sudah berdiri.
Namun, sebelum Wonyoung bisa bereaksi, kursi yang tadi memiliki penghuni sekarang telah berganti penghuni dan bukan oleh Wonyoung yang notabene ditawari langsung. Penghuni baru kursi itu tidak acuh akan tatapan tidak percaya yang jelas-jelas sedang Ia terima.
Melihat hal itu, mereka hanya bertukar tatap dan tertawa. Singkat, namun cukup untuk membuat dada Wonyoung terasa sedikit hangat.
“An Yujin,” Si wanita berkacamata akhirnya memperkenalkan dirinya tanpa diminta.
“Jang Wonyoung.”
“Mbaknya—”
“Wait, boleh pake elo-gue aja, nggak?” Wonyoung menutup matanya dan tersenyum canggung menunjukkan giginya.
Yujin tertawa lagi. Melihat hal itu, Wonyoung benar-benar tidak bisa berhenti berpikir bahwa wanita yang berada di hadapannya ini benar-benar manis.
“Okay, sorry. Lo anak Jakbar? Kok gue ga pernah lihat sebelumnya di KRL?”
“Bukan, gue dari Jaksel. Lagian, emangnya lu kenal semua orang yang ikut KRL arah Jakbar?”
“Ya, nggak sih. Tapi nggak mungkin mata gue melewatkan wanita cantik kayak elo.”
Wonyoung memutar bola matanya dan mendorong pelan bahu Yujin, “Ngobrol belum sejam juga, udah flirting aja lo.”
Yujin cengengesan, “Seneng kan tapi lo?”
“Males.”
“Hehe. Iya iya, nggak, deh. Bercanda doang.”
Wonyoung hanya berdeham.
“Tapi, lo beneran deh cantik.”
“Yujin.”
“IYAA AMPUN, SORRY.”
“Fortunately lo cewek, deh. Kalo cowok dah gue tampol.”
“Hehe. Sorry gue suka sembarangan kalo ngomong.”
“Iya deh, whatever.”
“Ini lo anak Jaksel terus ngapain naik KRL yang ini?”
“Salah masuk kereta.”
“WIDIH, GUE JUGA.”
“Really?”
“Nggak sih, tapi ini gue kelewatan stasiunnya gue. Mirip lah, sama-sama salah.” Yujin tersenyum usil.
Wonyoung memutar bola matanya lagi, “Hmm, iya dahh.”
“Berarti stasiun berikutnya ini lo turun, kan? Buat balik?”
“Iya.”
“Bareng aja biar gak nyasar, mau?”
“Tau dari mana gue bakal nyasar?”
“Keliatan sih lo kayaknya first-timer ya naik KRL?”
Wonyoung terdiam dan menggigit bibirnya, sedikit awas karena pertanyaan yang terlalu personal menurutnya.
Seakan mengerti bahasa tubuh Wonyoung, Yujin menunduk dan bergumam, “Gue gak bakal culik lo kok ini... Kalau nolak ya gapapa.”
“Yaudah deh, iya. Boleh.”
Kepala Yujin hanya butuh setengah detik untuk kembali terangkat dan menatap Wonyoung dengan mata berbinar, “Serius?”
“Iya.”
“Hehe, oke.”
“Ini lo pulang kerja?”
Mendengar hal itu, mata Yujin makin berbinar. Akhirnya Wonyoung terlihat sama tertariknya dengan dirinya. Yujin mengangguk cepat sambil tetap tersenyum, “Iya, cape banget gue ga boong.”
“Baru kenal udah oversharing ya anaknya,” Wonyoung tertawa kecil, “Yaudah bentar lagi pulang ini. Stasiun sebelumnya udah stasiun terakhir lo?”
“Iya, habis dari situ pulang deh ke kontrakan pake motor.”
“Ohh, I see.”
“Eh, lo sejauh pemakaian kamera lo, ada kesulitan gitu, nggak?”
“Ada sih, tapi ini knowledge gue aja yang minim kayaknya. Gue masih bingung cara synchronize flash speed yang pas.”
Yujin manggut-manggut, “Ohh, iyasih gue juga dulu awal belajar bingung. Tapiii, gampang kok, sebenarnya. Belum dapat aja sensenya, tapi pelan-pelan belajar, ya kan?”
“Iya, hehe.”
Percakapan mereka terputus saat konduktor KRL kembali mengumumkan bahwa kereta yang mereka tumpangi sebentar lagi sampai pada stasiun berikutnya.
Sesampainya di stasiun, mereka berdua langsung turun dari kereta. Wonyoung hanya mengekor di belakang Yujin, karena tentu saja wanita yang memiliki lesung pipi tersebut lebih tau arah. Akibat situasi stasiun yang penuh, Wonyoung yang kebingungan hampir saja tertinggal karena terdorong-dorong arus manusia yang berjalan berlawanan dengan dirinya. Untung saja langsung terselamatkan Yujin yang dengan sigap memegang tangannya.
Air muka Yujin terlihat khawatir, “Gue izin pegang tangan lo, biar ga kepisah, gapapa?”
Wonyoung sedikit kaget dengan pertanyaan Yujin, karena gelagatnya sekarang tidak menunjukkan seperti orang yang sama dengan yang tadi di kereta, yang baru ngobrol berapa menit, sudah berani flirting saja. Tapi, tentu saja dia tidak keberatan dengan kejutan kecil dari wanita berkacamata ini, “Iya, gapapa.”
Yujin tersenyum hangat dan mereka kembali mengitari stasiun berdua dalam diam.
“Cape gak?” Tanya Yujin ketika mereka sudah berada dalam kereta lagi.
“Biasa aja. Why?”
“Gapapa, nanya aja.”
Hening.
“Eh,” Panggil mereka berdua secara serentak.
“Lo aja duluan,” Yujin mempersilahkan.
“Um.. Cuman mau ngasih tau aja, sih. Kayaknya gue ikut turun di stasiun lo terus mau naik taksi aja, deh. Daripada kesasar lagi.”
“Mau gue antar ke rumah pake motor?”
“Hah?”
“Anggap aja diantar gojek, tapi ga bayar.”
“Ih, gamau.”
“Yaudah.”
Wonyoung menaikkan alisnya—memang sih itu yang dia inginkan, tetapi tidak menyangka Yujin bakal langsung menyerah begitu saja. Tapi, ya bukan berarti Wonyoung berharap Yujin bakal maksa biar bisa pulang bareng juga sih.
Wonyoung menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran dalam benaknya, “Yaudah, terus tadi lo mau ngomong apa?”
“Kapan-kapan... mau gue ajarin otak-atik kamera analog lo?”
“Oh,” Wonyoung menunduk, “Sure.”
“Sekalian kalau mau naik KRL, pas gue free atau gimana, gue temenin.”
“Iya, boleh.”
“Okay. Kalau gitu...” Yujin menyodorkan ponselnya ke hadapan Wonyoung, “Bagi nomor lo, ya?”
