Actions

Work Header

A Short Journey

Summary:

Jalannya sepi, gelap, dan dingin

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Di belakang sekolah ada bukit yang puncaknya ada satu pohon besar banget, kata ibu pohonnya udah tua udah 300 tahun hiii lebih tua dari neneknya Nenek Yu. Sebelum sampai bukit ada sungai kecil yang airnya bening dan hutan kecil. Kalau ingin pergi ke bukit harus lewat jembatan dari pohon besar yang udah tua, jalannya harus hati-hati ya soalnya licin banyak lumut. Pohon-pohon di hutan tinggi dan besar, banyak tupai dan hewan kecil main-main, ada burung-burung cantik yang terbang dari pohon satu ke pohon satunya. Jiang Cheng pengen nangkap satu tapi nanti kasihan gak bisa kumpul sama keluarganya.

Walaupun ibu selalu larang pergi ke sana, tapi Jiang Cheng tetap pergi. Jiang Cheng  sama Wei Ying suka pergi berpetualang dan main di bukit belakang sekolah, menangkap kumbang, main petak umpet, kejar-kejaran sama kelinci, dan mencari harta karun (ini rahasia Jiang Cheng dan Wei Ying, katanya di bukit belakang sekolah ada harta karun dari peri kecil. Jangan kasih tau siapa-siapa ya? Janji ya?). Seru banget pokoknya!

Siang itu ibu bilang kalo punya cerita yang serem banget, kata ibu di bukit belakang sekolah ada banyak hantu yang suka menyesatkan manusia biar hilang dan hidup di bukit itu selamanya. Selama-lamanya nggak bisa keluar. Nggak bisa pulang ke rumah ketemu ayah, ibu, dan a-jie. Nggak bisa nonton tivi lagi! Serem!

Jiang Cheng takut kalo sampe gak bisa pulang dan gak bisa lagi ketemu ayah, ibu, dan a-jie.

Ibu mengelus kepala Jiang Cheng, “Janji sama ibu A-Cheng gak akan main ke sana lagi?”

Jiang Cheng ingat kata ayah kalo laki-laki harus menepati janji yang dibuat, jadi Jiang Cheng diam dan pura-pura tidur aja deh daripada harus janji sama ibu.

 

-

 

Paginya Wei Ying datang ke rumah Jiang Cheng dengan ingus yang mbeler dari hidungnya. Eww, jujur Jiang Cheng pengen ngasih Wei Ying tisu buat ngelap ingus melernya, tapi Jiang Cheng lagi mager. Wei Ying senyum, di tangan kanannya Wei Ying bawa kantong plastik yang isinya buah persik.

Nih, dari Kakek Wen, kata kakek buah yang kemarin kita kasih ke kakek manjur banget bisa bikin cucunya sembuh.”  Wei Ying mengelap ingusnya dengan lengan baju, iyuh!

Jiang Cheng senang. Buah persik adalah buah kesukaannya.

Saat Jiang Cheng dan Wei Ying main bersama, tiba-tiba Jiang Cheng ingat cerita ibunya.

Ge,”

Wei Ying yang lagi gambar unicorn warna kuning menjawab tanpa menoleh, “Hm?”

Jiang Cheng ceritakan tentang cerita seram yang kemarin ibu bilang, lalu menunggu respon Wei Ying.

Wei Ying duduk dari pose duyungnya, “A-Cheng, semua anak di desa ini tahu cerita itu hanya akal-akalan orang dewasa biar kita gak main ke sana. Percaya sama gege, di sana aman.”

Akhirnya Jiang Cheng bisa bernapas lega.

 

-

 

Paginya, Jiang Cheng menunggu Wei Ying yang janji mau jemput Jiang Cheng dan main di sungai. Sudah hampir makan siang tapi Wei Ying belum datang. Jadi, Jiang Cheng inisiatif buat jemput Wei Ying di rumahnya yang ada di samping kanan rumahnya.

Bibi Cangse bilang kalo Wei Ying sakit dan gak bisa main ke sungai dulu. Jiang Cheng duduk di samping kasur Wei Ying lalu membaca buku cerita kesukaan Wei Ying sambil pukpuk pelan tangan Wei Ying, kadang Jiang Cheng juga elus dan cium kepala Wei Ying biar boboknya enak gak mimpi buruk. Jiang Cheng juga pulang ke rumah dan mengambil buah dan mainan kesukaan Wei Ying biar cepat sembuh. Meski Wei Ying kadang nyebelin, tapi kalo gak ada Wei Ying mainpun gak seru.

Udah sore tapi Wei Ying belum bangun juga.

Jiang Cheng sedih.

Gimana kalo Wei Ying mati?! Jiang Cheng gak mau main sendirian! A-Jie kalo main gak seru!

Saat makan malam, Jiang Cheng baru ingat Wei Ying pernah bilang kalo ada buah yang bisa menyembuhkan cucu Kakek Wen.

Malamnya, saat semua sudah tidur, Jiang Cheng diam-diam keluar. Tidak lupa bawa lampu senter, pake jaket, dan gendong tas berpetualangnya Jiang Cheng siap pergi ke bukit belakang sekolah.

Perjalanan ke bukit belakang sekolah serem banget, cuma suara serangga dan beberapa jenis burung yang terdengar. Jalannya sepi, gelap, dan dingin. Jiang Cheng lihat lampu di ujung jalan sana berkedip beberapa kali dan bikin Jiang Cheng takut sampai gemetar, tapi Jiang Cheng lebih takut lagi kalo Wei Ying mati kayak anak kucing yang ditemukannya di kolong rumah nenek.

Jiang Cheng jalan cepat menuju sekolah, rasanya kayak lebih jauh dari biasanya. Tangannya gemetar ingat rumor seram di  sekolahnya waktu malam. Jiang Cheng nyanyi lagu apa aja asal ada suara. Jiang Cheng gak suka kalo sepi gini.

Wei wei wei ni zai na li ya?

Ai ai ai wo zai you er-

Tiba-tiba Jiang Cheng merasa sebuah tangan besar menepuk bahu kanan, Jiang Cheng menahan napas dan hampir nangis saking takutnya.

“A-Cheng, mau kemana malam – malam?”

Jiang Cheng akhirnya nangis, lega karena ternyata Paman Changze. Paman lalu menggendong Jiang Cheng sambil pukpuk punggung Jiang Cheng.

“A-Cheng, ngapain keluar malam-malam? Nanti kalau A-Cheng diculik gimana? Nanti ayah sama ibunya A-Cheng sedih.”

Jiang Cheng makin nangis sambil meluk paman erat. Jujur Jiang Cheng tadi takut banget sampe hampir ngompol. Tubuh paman sangat hangat sampe Jiang Cheng ketiduran.

 

-

 

Paginya, ibu marahi Jiang Cheng sampe kuping Jiang Cheng panas. Jiang Cheng hanya nunduk sambil lihat jempol tangannya yang masih dua.

Ayah tanya Jiang Cheng kok bisa nekat malam-malam pergi ke bukit belakang sekolah.

“Ying-gege sakit, Jiang Cheng mau ambil buah di bukit belakang sekolah. Katanya cucu Kakek Wen sembuh gara-gara makan buah itu.” Jawab Jiang Cheng, masih nunduk karena takut sama amukan ibu.

Ayah dan ibu saling lihat.

“A-Cheng, Ying-gege sakit flu dan sudah dibawa ke dokter. Cucu Kakek Wen juga dibawa ke dokter jadi bisa sembuh. Karena itu A-Cheng tidak perlu pergi ke bukit belakang sekolah sendirian lagi ya?”

“Kalau berdua sama Ying-gege boleh?”

Ayah dan ibu menghembuskan napas, “Tetap tidak boleh.”

 

 -

Notes:

BONUS

Wei Changze mendengar samar-samar suara lonceng. Wei Ying dan Jiang Cheng sering melakukan petualangan yang agak menantang jadi dia memasangkan lonceng kecil ditas petualangan mereka. Saat Wei Changze mencari sumber suara, ternyata A-Cheng yang sedang berjalan menuju gerbang dengan berbekalkan senter kecil. Bocah itu tetap jalan meski kakinya gemetaran, gak lama lalu dengar suara nyanyian pelan. Untung ketahuan sebelum A-Cheng jalan terlalu jauh. Hadeh, kadang Wei Changze gak abis pikir sama imajinasi anak kecil yang suka melakukan hal aneh.
-

 

(Nganu ceritanya mereka masih kecil masih gembul pipinya, masih mungil-mungil. Terus Wei Ying memanfaatkan kepolosan Jiang Cheng buat manggil dia ‘gege’ meskipun cuma lebih tua beberapa hari, soalnya dia pengen adek.)