Work Text:
Sukuna yang akhirnya dibujuk sama Yuuji adiknya untuk mengikuti vaksin massal di Graha kampusnya. Kasian Sukuna dipaksa Yuuji bangun jam 4 pagi buat antri lebih cepat, datang jam setengah 6 malah antriannya udah lumayan syukurnya dapat tempat duduk.
“Kak tahu ga ini ada temen gue lho jadi volunteer."
"Y."
"Aish coba tertarik dikit kek!" Yuuji cemberut, dia terdiam sebentar sebelum menyeringai "kak tahu ga tahu ga? Kak Gojo juga jadi volunteer."
Awalnya yang tak acuh Sukuna akhirnya menatap tajam adiknya dan memegang kedua pundaknya "lu. Harus. Tetap. Bersama. Gue."
"Tapi kak-"
"TITIK! Ga usah lu deketin tuh buaya."
"T-ttapi kak Gojo ganteng gimana dong." Ugh, Yuuji memberikan tatapan memelas andalannya.
"G."
Yuuji kesel hingga ia mengumpati kakaknya "belum aja loe jadi bulol!"
Yuuji negatif covid, positif kena jitak kakaknya.
Mereka ngobrol hingga tak terasa sudah waktunya mereka masuk ke dalam graha untuk melaksanakan kegiatan mereka, vaksinisasi.
"Perhatian bapak ibu sekalian mohon mengisi antrian yang kosong. Jangan lupa antri secara kondusif." Ujar penjaganya.
Sukuna merangkul Yuuji, tidak ingin adiknya berpisah dari dirinya dan mencari buaya sialan itu.
Yuuji celingak celinguk mencari wajah yang dikenalnya ia mencubit perut kakaknya hingga ia menoleh kearah Yuuji, "Kak itu temen gue, Megumi!" Yuuji melambaikan tangannya ke temannya bernama Megumi, entah mengapa ketika ia menoleh lelaki tersebut Sukuna dapat mendengarkan orkes dangdut dan dunianya menjadi lebih terang dan sparkly.
Paras cantiknya mampu membuatnya terpaku, bulu matanya yang lebat dan panjang, pipinya yang terlihat kenyal, walaupun tertutup masker Sukuna mampu membayangkan bibirnya sangat kissable, dan matanya yang mampu memalingkan Sukuna dari apapun yang ia lakukan.
Bagi Sukuna rasanya sangat lama ia memandang teman Yuuji, bagi Yuuji dia menyaksikan kelahiran bulol.
Merasa rangkulan dipundaknya melonggar ia menggunakan kesempatan itu untuk mencari Gojo.
"Mampus lo jadi bulol." Bisik Yuuji sebelum ia lari cepat kabur dari pandangan Sukuna.
Waktu pun berjalan dan antrian terus memendek hingga giliran Sukuna tiba. Namun ia tak beranjak dari tempatnya, Sukuna sibuk memandangi lelaki yang bekerja di depan laptopnya si ‘teman dekat adiknya.’ Hingga, “antrian selanjutnya?” ucap Megumi dengan suara lantang. Suara itu memecahkan lamunan Sukuna.
Sukuna tersenyum dibalik maskernya dan menggumamkan “cantik.” Ia menyeringai. Megumi mengernyitkan dahinya atas lamunan pria dihadapannya ‘lama banget nih orang, gak nyadar apa antrian ga cuma dia.’ Pikirnya. Sukuna maju kedepan antrian, dirinya tak sabar untuk berinteraksi dengan si cantik.
“Boleh saya minta fotokopi KTP dan form yang sudah diisi?” Ujar Megumi dibalik laptopnya, matanya tak lepas dari layar. Sukuna menyerahkan data dirinya, ah ups, tangan mereka tak sengaja bersentuhan sekilas, walau tangan Megumi dibalutkan sarung tangan, ia dapat merasakan hangatnya tangan Megumi. Sukuna tak ingin melepaskan tangan tersebut.
“Temennya Yuuji ya?” tanyanya basa-basi, Megumi bergumam mengiyakan ucapan Sukuna. “Gue kakaknya, salam kenal.” Megumi menganggukan kepalanya dan tersenyum dibalik maskernya sebagai formalitas.
“Salam kenal juga kak,” mereka pun terdiam, Sukuna ingin sekali memecahkan kesunyian ini. Namun, wajah si cantik saat fokus membuatnya untuk mengurungkan niatnya. “mohon untuk dicek terlebih dahulu kak, apakah nama dan nomor handphonenya sudah benar?” Megumi menatap Sukuna dan menaikan alisnya, Sukuna mengambil print out dari Megumi, mengerutkan dahinya untuk memerhatikan apakah calon pacarnya salah memasukkan datanya?
“Sudah benar dek.” Ia mengembalikan data dirinya ke Megumi.
“Oke kak, ini sudah selesai.” Megumi menyerahkan kembali berkas-berkas Sukuna. “Antri di tempat yang kosong ya kak.” Ujar Megumi menyudahi percakapan, ia tak ingin antrian dibelakang Sukuna semakin menumpuk.
“Eh tunggu dulu.” Ujar Sukuna.
“Iya? Buruan kak, yang antri banyak.”
“Gue… boleh minta nomor WA lo?”
“Maaf kak, gue lagi kerja. Bukan cari jodoh!” tegas Megumi. “Antrian selanjutnya silahkan!”
“Eh tunggu dulu.” Sukuna tak ingin percakapannya dengan Megumi berakhi disitu, tak peduli dengan umpatan-umpatan yang dikeluarkan peserta vaksin lain yang mengantri dibelakangnya.
Persetan dengan kakaknya Yuuji, Megumi langsung menyuruh peserta selanjutnya untuk duduk dihadapannya. Merasa agak sakit karena tidak dihiraukan, Sukuna menatap lanyard si cantik ‘Megumi Fushiguro… nama yang cantik seperti orangnya.’ Kagum Sukuna.
Untuk sekarang Sukuna menyerah dulu, ia tak ingin bidadaranya kena masalah pas lagi volunteer.
‘a-ha!’
Sebuah ide muncul dikepalanya, “dek Megumi.” Perhatian Megumi terpecahkan, ia memutarkan bola matanya dan tahu bahwa pria ini akan mengganggu kerjanya jika ia tidak meresponnya. “mohon maaf ada yang bisa saya bantu lagi?” ujarnya dengan ketus.
Sukuna menyeringai dibalik maskernya “oke gue pergi sekarang tapi, kita bikin deal.” Matanya tersenyum menatap Megumi yang merasa atensi Sukuna cukup berlebihan “kalo divaksinasi kedua kita bertemu lagi, tandanya kita jodoh.” Ugh, pernyataan macam apa itu.
Sukuna sekilas membuka maskernya dan tersenyum “gue mau minta nomor lo.” “stre-“ sebelum Megumi dapat melanjutkan ucapannya, ia melihat kehadiran pengawas lapangannya di belakang Sukuna “Bapak dibelakang Anda masih banyak yang antri. Bisa secepatnya pindah?” tekan pengawas lapangannya.
“Sampai jumpa lagi cantik~”
Sukuna beranjak pergi dari meja Megumi dengan senyuman, tanpa menyadari semburat merah muda yang tengah mewarnai pipi dan telinga Megumi.
‘Stres!’
(Yuuji yang telah selesai vaksin dari tadi melihat interaksi keduanya dengan wajah datar, terutama ketika abangnya membuat pernyataan akan meminta nomor Megumi ketika vaksinasi kedua. Bukannya dia bisa meminta nomor Megumi ke Yuuji?
“kakak stress.” Gumamnya sembari menceritakan semuanya kegroup chat.)
