Actions

Work Header

Yours

Summary:

“Aku milikmu,” bisik Hyunjin dengan nada menekankan, pula meyakinkan. “Tak peduli seberapa banyak orang yang menginginkan aku menjadi milik mereka, aku akan, dan selalu menjadi milikmu.”

Jisung bergeming dengar kalimat itu. Dia biarkan kedua netra terkunci dalam tatap mata indah seorang Hyunjin. Dia biarkan dirinya tenggelam dalam segala pesona yang ditunjukkan Hyunjin. Dia biarkan dunianya berpusat pada seorang Hwang Hyunjin.

“Hanya kau seorang. Bukan orang lain, bukan penggemar kita, bukan siapa-siapa, tetapi kau, Han Jisung.”

Work Text:

 


⠀⠀⠀

 

⠀⠀⠀

⠀⠀⠀Waktu di arloji menunjukkan pukul satu dini hari ketika Hwang Hyunjin membuka pintu depan asrama dan melangkah masuk setelah lewati berbagai kesibukan yang melelahkan. Jadwalnya hari itu padat—latihan, tampil di acara musik, melaksanakan video call event bersama penggemar yang beruntung, makan malam bersama beberapa teman, serta kegiatan lainnya yang tak ingin ia jelaskan sebab ia terlalu lelah untuk itu—sehingga Hyunjin tak bisa pulang lebih awal, tak mampu segera sapa tempat tidurnya.

⠀⠀⠀Hyunjin melepas sepatu dan meletakkannya di rak samping pintu masuk. Dia melangkah lebih dalam seraya bergumam pelan, “Aku pulang.”

⠀⠀⠀Dia tak ingin ambil risiko membangunkan mereka yang mungkin sudah terlelap dengan keributannya di tengah malam, kendati biasanya mereka masih terbangun di waktu-waktu seperti ini; entah sedang menyantap camilan tengah malam atau sekadar bermain-main dan menonton televisi bersama.

⠀⠀⠀Ketika itu yang didapatnya hanya sunyi, hingga Hyunjin asumsikan teman-temannya yang lain telah berada di alam mimpi.

⠀⠀⠀“Sudah pulang?”

⠀⠀⠀Si tuan jangkung itu terkesiap tatkala suara familiar datang entah dari mana. Dua manik gelap Hyunjin lantas memutari seisi ruangan guna mencari siapa yang berbicara, sebelum fokusnya jatuh pada seseorang yang kini tengah duduk di sofa sambil tersenyum memandangnya.

⠀⠀⠀Itu Han Jisung, masih duduk di sofa ruang tengah asrama dengan tangan menggenggam ponsel dan tubuh berbalut piyama, terlihat gembira sebab Hyunjin sudah di sana. Sepertinya dia menunggu cukup lama.

⠀⠀⠀Sang empu marga Hwang meloloskan hela napas pelan. Dia meletakkan tasnya di sembarang tempat, lalu langkahkan tungkai mendekat dan jatuhkan bokong di sisi kosong sebelah Jisung. Dia disambut oleh kedua lengan si penyandang Han yang lekas melingkari pinggang, menarik Hyunjin masuk ke dalam hangatnya dekapan.

⠀⠀⠀“Kau mengagetkanku, Hannie.” Hyunjin membenamkan wajah lelahnya di lekuk leher ramping Jisung. Kedua lengannya lingkari leher pemuda itu, balas memeluk seraya istirahatkan kepala di pundak lebarnya.

⠀⠀⠀Han Jisung memang lebih kecil dan terlihat lebih kekanakan, tetapi ketika hanya ada mereka berdua di sana, justru Hyunjin yang ambil peran manja. Buktinya, si tuan tampan—yang juga cantik—itu kini sedang mengusap-usapkan puncak hidung di leher Jisung, layaknya kucing yang tengah rindukan sang empu.

⠀⠀⠀“Nah, nah, maafkan aku,” kekeh Jisung. Dia menepuk-nepuk lembut punggung lebar Hyunjin. Ponsel yang ada dalam genggam dia letakkan di meja nakas samping sofa, kemudian kembali dekap erat tubuh sang pacar.

⠀⠀⠀Hyunjin menarik wajah menjauh dari ceruk leher Jisung tanpa lepaskan pelukan. Dipandangi olehnya lekuk wajah yang terkasih sebelum kerucutkan bibir—tanda dia sedikit sebal.

⠀⠀⠀Hal itu timbulkan raut bingung. Jisung mengangkat sebelah alis seraya lempar tatapan bertanya. “Ada apa? Kenapa cemberut?”

⠀⠀⠀Yang ditanya sempat bungkam sebentar, sibuk membelai helai demi helai rambut Jisung yang tak tertata. Ketika rambut itu sudah sedikit lebih rapi, dia menjawab, “Karena kau belum tidur. Seharusnya kau sudah tidur nyenyak sekarang.”

⠀⠀⠀Jisung loloskan tawa ringan. Dia pererat dekapan pada Hyunjin, sebelah telapak tangannya membawa kepala Hyunjin 'tuk kembali bersandar pada pundak, membelai rambut halus yang panjangnya hampir sebahu.

⠀⠀⠀“Aku rindu, tahu. Jadi aku menunggu,” jawab Jisung pendek. “Lagi pula, aku ingin cepat-cepat memeluk kekasihku sebelum aku tidur.”

⠀⠀⠀Wajah Hyunjin mendongak, beri Jisung tatapan lembut diikuti senyum tipis yang sejuk. Adanya rona merah di sekitar pipi pemuda itu menambah eloknya rupa, sampai Jisung harus menahan napas sebab ia terpesona.

⠀⠀⠀“Tetap saja, kau harus tidur,” celetuk Hyunjin.

⠀⠀⠀“Aku ingin tidur denganmu,” balas Jisung cepat.

⠀⠀⠀“Tapi aku belum membersihkan diri.”

⠀⠀⠀“Bukan masalah. Kau tetap wangi.”

⠀⠀⠀Hyunjin sedikit menggeliat serta tertawa ketika Jisung hujani dia dengan ciuman-ciuman ringan di sekitar wajah. Pemuda jangkung itu coba loloskan diri dari kurungan lengan Jisung, namun gagal dan akhirnya menyerah. Dia biarkan Jisung lakukan yang diinginkan, sementara dia sesekali lempar rengekan.

⠀⠀⠀“Hannie—hentikan sebelum suaraku membangunkan yang lain–!” rengek Hyunjin.

⠀⠀⠀“Tidak mau! Mereka tidur pulas, kok.”

⠀⠀⠀“Hannie—”

⠀⠀⠀Jisung berhenti, amat mendadak hingga Hyunjin harus mengerjap bingung sebab belum mampu mencerna ada apa gerangan. “Kenapa tiba-tiba sekali?”

⠀⠀⠀“Bukankah kau yang meminta aku untuk berhenti?” Jisung balik bertanya dengan santai.

⠀⠀⠀“I-Iya, sih....” Hyunjin mendengus sedikit keras, lontarkan pukulan ringan pada lengan atas Jisung.

⠀⠀⠀Yang dipukul hanya terkekeh, lalu pudarkan senyum lebar tanpa alihkan tatap dari wajah elok sang kekasih. Dia pertahankan senyum lembutnya, sebelah tangan mendarat di wajah Hyunjin sebelum membelai pipi yang tak segembil pipinya itu.

⠀⠀⠀“Pasti melelahkan hari ini, ya? Kau sudah bekerja keras, sayang,” ungkap Jisung. Ada sorot bangga dalam pancar tatap kedua matanya, yang langsung diterima Hyunjin hingga sebabkan kedua pipi makin merona.

⠀⠀⠀“Mhm, terima kasih, Hannie. Kau pun sudah bekerja keras. Saatnya kita istirahat,” tutur Hyunjin pelan. Dia mendaratkan kecupan singkat pada bibir Jisung, lalu mulai lepaskan diri dari dekapnya.

⠀⠀⠀Tetapi, Jisung tak memberi izin. Begitu Hyunjin bangkit dari sana sebab ingin bersihkan diri, lengan Jisung menahan pinggangnya dan menarik pemuda itu sampai terduduk di atas pangkuan. Lengan kokoh itu kembali mengurung Hyunjin, namun kali ini lebih dekat.

⠀⠀⠀“Aku belum memberi izin, bukan?” tanya Jisung. Dua sudut bibirnya melebar bentuk senyuman, sementara cengkeraman di pinggang Hyunjin masih sama eratnya seperti semula.

⠀⠀⠀“Hannie....”

⠀⠀⠀Hyunjin coba menarik diri lagi, namun Jisung sungguhan tak mau lepas. Dia justru memeluk pemuda itu erat seraya istirahatkan dagu di pundak sang tercinta. “Jangan lepas dulu. Aku masih mau peluk.”

⠀⠀⠀Manjanya Hyunjin berpindah ke Jisung, rupanya.

⠀⠀⠀Hyunjin kembali bergeming. Dia hanya balas memeluk Jisung yang kini benamkan wajah di dadanya, mencari-cari hangat di sana. Diam-diam, Hyunjin menyukai sikap Jisung yang satu ini.

⠀⠀⠀“Hyunnie,” panggil Jisung di tengah hening.

⠀⠀⠀“Mmhm?”

⠀⠀⠀Jisung kembali jauhkan wajah guna menatap rupa pemuda lainnya. Sebelah tangan menyentuh rambut indah itu, lalu menyisirnya lembut dengan jemari. Selepas sentuh rambutnya, kini jari-jari Jisung pindah ke pipi, membelai sebelah wajah Hyunjin dan berakhir di bibir. Jisung pandangi bibir ranum itu, ibu jari turut beri usapan-usapan kecil.

⠀⠀⠀“Siapa pemilik bibir ini?” tanya Jisung tiba-tiba. Dia menekan jemarinya, biarkan Hyunjin hadiahi sedikit jilatan dengan lidah.

⠀⠀⠀Hyunjin tak langsung menjawab. Dia izinkan jemari Jisung 'tuk bermain-main sejenak di area bibir, pula bertemu sapa dengan lidahnya. Sesekali Hyunjin beri gigitan kecil di ujung ibu jari itu sebelum ia jauhkan dari jangkauan. Dia tersenyum, lalu menempelkan bibir ranumnya dengan bibir Jisung, lancarkan lumat demi lumat lembut dari dua bibir yang bertaut.

⠀⠀⠀“Mhn—” Tanpa sengaja Hyunjin keluarkan lenguh singkat sebelum ia menarik diri lepaskan ciuman. Wajahnya kian dipenuhi rona merah muda, buat ia makin terlihat indah. Jisung, tentu saja, tak akan biarkan kesempatan pandangi wajah itu hilang sia-sia.

⠀⠀⠀“Jangan memandangiku seperti itu, aku malu,” ucap Hyunjin pelan.

⠀⠀⠀“Kau belum menjawab pertanyaanku,” balas Jisung. “Siapa pemilik bibir ini?”

⠀⠀⠀Hyunjin, entah bagaimana, tahu kemana arah pembicaraan ini, pun dari mana Jisung dapatkan inisiatif 'tuk menanyakan itu. Dia tak pernah satu kali pun mendengar Jisung bertanya dengan sorot mata penuh posesif.

⠀⠀⠀ini adalah kali pertamanya, dan Hyunjin tahu bagaimana ia harus menjawab.

⠀⠀⠀“Milikmu. Bibir ini milikmu,” bisik Hyunjin. Tak perlu menunggu lama sebab Jisung lekas layangkan lumatan begitu ia mendengar jawaban itu.

⠀⠀⠀“Benar. Bibir ini milikku,” sahut Jisung penuh otoritas.

⠀⠀⠀Pertanyaan Jisung tak berhenti sampai di situ. Begitu ia jauhkan jemari dari bibir sang kekasih, Jisung meraih tangan Hyunjin dan menggenggamnya tepat di depan dada sang pemuda. Tanpa alihkan pandang dari wajah Hyunjin, Jisung kembali lontarkan tanya. “Dan ini—siapa pemilik hati ini?”

⠀⠀⠀Hyunjin, lagi-lagi tak langsung menjawab, melebarkan telapak tangan Jisung dan menempelkannya di depan dada sebelah kiri, tepat di mana jantungnya berada. Jisung bisa rasakan itu—ia rasakan detak jantung Hyunjin yang tak senormal detak jantung biasanya. Hyunjin tengah berdebar.

⠀⠀⠀“Hati ini—” Hyunjin membawa tangan Jisung sedikit turun hingga ia menyentuh area di mana seharusnya hati Hyunjin berada, lalu membawanya kembali naik ke jantung, “—dan jantung ini, semuanya adalah milikmu.”

⠀⠀⠀Jisung terlihat puas dengan jawab itu, sementara Hyunjin meremas tangannya yang sudah kembali ke genggaman, menunggu pertanyaan lain yang mungkin dilontarkan untuknya.

⠀⠀⠀“Dan tubuh ini,” Jisung membenamkan wajah di lekuk leher ramping Hyunjin, mengecupi, menjilati, menggigiti tiap inci permukaan kulit bak porselen milik kekasihnya sebelum tinggalkan banyak bekas ciuman kemerah-merahan. “Siapa pemilik tubuh ini?”

⠀⠀⠀“Nhh—Hannie.” Hyunjin, lagi-lagi, tanpa sengaja loloskan lenguhan. Dia miringkan kepala 'tuk beri Jisung akses pada lehernya, sementara kedua lengan mendekap erat punggung sang kekasih. Kedua matanya memejam erat, lupa bahwa ada satu tanya yang belum ia jawab.

⠀⠀⠀“Jawab aku, sayang.” Jisung mengingatkan, namun tanpa hentikan perlakuan. Dia mendekap erat, di waktu yang sama hujani leher dan tulang selangka dengan banyak ciuman yang tinggalkan bekas. Sementara Hyunjin mengerang, pun bak disengat listrik dia menggeliat.

⠀⠀⠀“N-Nh..., milikmu— tubuhku ini milikmu. Aku milikmu, Han Jisung...,” tutur Hyunjin tersendat-sendat.

⠀⠀⠀Jisung tersenyum puas dengan jawaban yang Hyunjin tuturkan. Dia jauhkan wajah dari ceruk leher sang kekasih, menangkup salah satu pipi miliknya dan berucap, “Benar. Tubuhmu adalah milikku, hatimu kepunyaanku. Kau hanyalah milikku. Bukan orang lain, tapi aku.”

⠀⠀⠀Bibir mereka kembali bertemu, namun kali ini dengan cara yang lebih menuntut. Entah siapa yang memulai, namun keduanya saling beradu nan menguasai. Sampai Hyunjin yang akhirnya menyerah, dia tarik wajah perlahan, sisakan saliva yang pasti telah bercampur menjadi penaut bibir keduanya.

⠀⠀⠀Mereka coba tenangkan napas, lalu saling menatap satu sama lain dan tertawa.

⠀⠀⠀“Sejak kapan pacarku jadi begitu posesif?” tanya Hyunjin dengan sisa-sisa tawa. Dia mencubiti pipi gembil Jisung dengan gemas, sementara empunya pipi menggelengkan kepala mencoba lepas.

⠀⠀⠀“Aku cemburu,” jawab Jisung, yang mana jawaban itu tak pernah Hyunjin duga sebelumnya.

⠀⠀⠀“... Cemburu?” Hyunjin mengulangi, kalau-kalau dia salah dengar.

⠀⠀⠀Anggukan kepala Jisung rupanya cukup 'tuk yakinkan Hyunjin bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Hanya dalam hitungan detik tatapan Hyunjin pada Jisung melembut, begitu pula usapan pada kedua pipi pemuda itu.

⠀⠀⠀“Apa yang membuatmu cemburu, sayang?” tanya si penyandang Hwang.

⠀⠀⠀“Hmm....” Jisung tampak ragu menjawab, namun Hyunjin tampak setia menunggu.

⠀⠀⠀“Hn?”

⠀⠀⠀“Penggemarmu saat vid-call event tadi.”

⠀⠀⠀Ada hening selama sekian detik setelah jawab Jisung mengudara. Hyunjin mengerjapkan kedua mata ketika masih mencerna, lalu pecah dalam tawa yang mungkin saja bangunkan semua.

⠀⠀⠀“Hei—tawamu bisa membangunkan yang lain, tahu!” Jisung tampak panik, coba hentikan tawa Hyunjin yang enggan mereda.

⠀⠀⠀“Ahaha—ahaha! Maaf—aduh, maafkan aku—haha! Hahaha... haaa.”

⠀⠀⠀Hyunjin sendiri sebisa mungkin tak lanjutkan tawanya sebab tak ingin teman-teman yang lain merasa terganggu. Dia memegangi perut yang sempat terguncang karena tawa pingkal, lalu mencoba menarik napas 'tuk tenangkan diri.

⠀⠀⠀Jisung menunggu dalam diam, lalu menghela napas. “Aku tahu kau akan menertawakanku.”

⠀⠀⠀“Maafkan aku, Hannie,” tukas Hyunjin. Dia kembali menangkup kedua pipi Jisung, lagi-lagi mengusapnya dengan lembut. Mungkin, perlakuan itu adalah perlakuan yang paling ia sukai sebab sudah terlalu sering ia lakukan, dan tak akan pernah ia hentikan.

⠀⠀⠀“Aku milikmu,” bisik Hyunjin dengan nada menekankan, pula meyakinkan. “Tak peduli seberapa banyak orang yang menginginkan aku menjadi milik mereka, aku akan, dan selalu menjadi milikmu.”

⠀⠀⠀Jisung bergeming dengar kalimat itu. Dia biarkan kedua netra terkunci dalam tatap mata indah seorang Hyunjin. Dia biarkan dirinya tenggelam dalam segala pesona yang ditunjukkan Hyunjin. Dia biarkan dunianya berpusat pada seorang Hwang Hyunjin.

⠀⠀⠀“Hanya kau seorang. Bukan orang lain, bukan penggemar kita, bukan siapa-siapa, tetapi kau, Han Jisung.”

⠀⠀⠀Tak biarkan Jisung beri respons, Hyunjin lekas daratkan satu kecupan lembut penuh rasa pada bibir sang terkasih. Mereka biarkan kedua bibir itu kembali menempel, tanpa nafsu, tanpa tuntut. Hanya kasih yang tersalur, yang Hyunjin harap mampu raih relung hati Jisung.

⠀⠀⠀“Hyunnie,” panggil Jisung begitu tautan itu dilepas.

⠀⠀⠀“Ya, Hannie?”

⠀⠀⠀“Terima kasih. Aku mencintaimu.”

⠀⠀⠀Hyunjin tersenyum. Kembali dia peluk pemuda itu, layangkan kecup demi kecup pada pundak lebar sang kekasih. “Aku juga mencintaimu.”

⠀⠀⠀Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua dini hari, dan ketika itu, yang Jisung pikirkan ialah dia adalah satu-satunya manusia paling beruntung yang mampu dapatkan teman hidup seorang Hwang Hyunjin. Mampu raih Hyunjin dan pertahankan ia dalam dekapnya bukan sesuatu yang mudah, dan Jisung berhasil capai itu semua.

⠀⠀⠀Lihatlah caranya menatap sang tuan Hwang. Itu tatap penuh tulus, itu tatap sarat akan cinta.

⠀⠀⠀Mereka masih berada di ruang yang sama, sofa yang sama, posisi yang sama. Tak satu pun dari keduanya ingin hentikan suasana yang ada. Terlalu sayang 'tuk diakhiri, namun tak sampai salah satunya celetuki;

⠀⠀⠀“Kau belum membersihkan diri, bukan? Mau aku temani?”

 

.

•••

.

 

⠀⠀⠀Sofa ruang tengah itu kosong, begitu pula sekitarnya. Tak ada lampu yang menyala di sana—baik di kamar-kamar mau pun di dapur, kecuali satu ruangan yang berada di belakang; kamar mandi, di mana dua pemuda yang semula bercumbu di atas sofa pindah dan memadu kasih sekarang.

⠀⠀⠀Oh..., mungkinkah ini jadi malam yang panjang? 

⠀⠀⠀