Actions

Work Header

ia yang (ternyata) beraroma raksi

Summary:

Persetan dengan kebohongan Seonghwa, Yunho harus menjadi perisai paling depan agar lelaki itu tetap menjadi seorang nirmala. Sedikit banyak bersyukur ia terlahir sebagai seorang Beta, meski keberadaannya dianggap aib oleh keluarga besar.

Notes:

Hak cipta Ateez sepenuhnya dipegang oleh KQ Entertainment. Tidak ada keuntungan material diperoleh.

4 — abo universe; yunhwa.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Yunho masih ingat momen ketika ia mengetahui dirinya adalah beta.

Kertas putih yang ia pegang dengan ujung jari ketika usianya sepuluh tahun menunjukkan hasil tulisan beta besar sekali, lengkap dengan data-data lainnya berupa angka dan bahasa asing yang tidak ia mengerti. Spektrum beta yang ia miliki cenderung menuju alfa, tetapi tidak mengubah hasil akhir yang menetapkan Jeong Yunho, adalah seorang beta.

Seseorang yang biasa-biasa saja. Ia termasuk kaum rata-rata, penghuni bumi paling dominan, yang jika bertemu dengan sepuluh orang baru, tujuh di antaranya adalah beta, dua alfa, dan satu omega.

Yunho menatap kertas itu dengan nanar. Hasil yang tertera di atas kertas bagai aib untuk keluarganya yang turun temurun adalah seorang alfa. Rupanya, spektrum alfa Sang Ibu cenderung mendekati beta, sehingga Yunho terlahir sebagai beta. Berbeda dengan saudaranya, Sang Adik justru lahir sebagai alfa yang sempurna. Kehidupan Yunho berubah setelah ia mendapatkan hasil pemeriksaan, ia seperti diasingkan.

Alfa, beta, dan omega. Manusia dikotak-kotakkan hanya dari tiga istilah itu. Bisakah mereka hidup seperti manusia biasa tanpa adanya alfa yang berlagak seperti bos besar dan menjadi singa buas ketika mencium aroma omega? Atau bisakah omega tidak selalu dipandang sebagai kaum lemah dan menjadi pabrik bayi? Atau beta yang disebut-sebut sebagai kaum pemeran figuran di dunia kisah cinta alfa dan omega?

Persetan dengan segala istilah itu. Tidak masalah, menjadi beta tidak terlalu buruk. Tidak akan ada yang membayangi-bayangimu ketika kau sedang dalam masa heat, atau tidak akan ada hasrat ingin membuahi seseorang hanya gara-gara mencium aroma manis seorang omega. Beta biasa saja. Jika ingin bercinta, ya mereka bercinta. Setidaknya, Yunho tidak berubah seperti anjing dalam masa kawin setiap bulannya.

Lucu sekali. Begitu lucu.

Yunho bertemu dengan Park Seonghwa. Seorang omega.

Awalnya Seonghwa memperkenalkan diri sebagai seorang beta. Ia begitu bangga ketika menyebutkan hal apa saja yang dapat menguntungkan seseorang jika mereka terlahir sebagai seorang Beta. Beta bukan berarti biasa saja! Beta itu penuh dengan kejutan! Yunho mendengarkan celotehannya dengan telaten, sambil terus memupuk rasa sukanya pada lelaki itu setiap hari.

Pada akhir bulan Oktober, Yunho mencium aroma yang begitu khas menjalar masuk ke dalam indera penciuman ketika ia sedang membuang sampah di area belakang gedung kampus. Aroma itu sangat menyengat, Yunho sampai harus menutup mulut dan hidung saking begitu semerbak. Aroma yang sama juga membuat kepalanya pusing, darah berdesir laju, kulitnya berubah panas. Yunho menyaksikan sendiri bagaimana kedua tangannya berubah tremor hanya setelah menghirup aroma tadi.

Seonghwa meringkuk di dalam ruangan penyimpanan alat-alat olahraga dengan wajah merah dan pipi penuh bekas air mata. Rambutnya kusut, dua kancing atas kemejanya lolos. Yunho menatap pemandangani itu dengan kedua mata membeliak.

“Seonghwa, kau—”

“Maafkan aku.” Seonghwa semakin mengeratkan pelukannya pada kedua lutut, “obatku hilang entah di mana, aku tidak tahu jika masa heat-ku akan datang, aku terlalu lalai. Maaf sudah berbohong, tapi bisakah kau tutup pintunya? Aku tidak mau gerombolan alfa bangsat itu kembali menyeretku.”

Yunho menutupi tubuh Seonghwa yang gemetar dengan jaketnya. Ia harus menahan napas kuat-kuat sebab aroma Seonghwa sangatlah memikat.

“Apa mereka sudah menyentuhmu?”

Seonghwa menggeleng lemah. “Belum sempat. Aku berhasil lolos, tapi bajuku ... bajuku jadi robek. Mereka buas ... buas sekali....”

Yunho segera merengkuh Seonghwa, berharap lelaki itu berubah tenang setelah mengalami insiden traumatis. Jarinya menekan hidung, menghalangi aroma yang menyeruak masuk.

“Maaf sudah berbohong, maaf, maaf. Maaf jika aku seorang omega. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan menjadi seorang omega, aku ingin sepertimu, aku ingin menjadi orang biasa, aku tidak mau seperti ini. Yunho, maafkan aku.”

Sudah tidak terhitung berapa ribu kali Yunho menyumpahi dunia dan seisinya karena sudah menciptakan manusianya dengan sistem Alfa, Beta, Omega—Yunho muak dengan istilah-istilah itu. Mereka cuma menyesatkan manusia ke dalam liang kemalangan. Kasta terbagi-bagi; yang kuat semakin kuat, yang lemah semakin teraniaya, yang di tengah-tengah mempertanyakan diri sendiri untuk apa sebenarnya mereka dilahirkan.

Yunho memeluk Seonghwa dengan rasa amarah yang membuncah. Tangan terkepal kuat, ia berpikir siapa saja yang harus ia patahkan tangan-kakinya karena sudah berani menyakiti Seonghwa. Perkara Seonghwa berbohong jika dirinya adalah beta tidak terlalu ia gubris—itu tidaklah penting, selama Seonghwa tetaplah Seonghwa yang ia kenal—tetapi orang-orang alfa superior yang menganggap diri mereka adalah raja, puncak dari segala puncak; merekalah penyakit di atas bumi ini yang harus dimusnahkan. Alfa adalah hama. Alfa adalah benih kesengsaraan.

Seonghwa menginap di apartemen Yunho selama tiga hari, dan selama tiga hari itu pula Yunho terus menjaganya dengan tekun. Kamarnya kini menjadi kamar Seonghwa, ditutup rapat agar aroma semerbak itu tidak mengisi seluruh sudut rumah.

Jika diibaratkan, aroma Seonghwa layaknya buah stroberi dengan tingkat kematangan yang perfek, dipetik dalam waktu yang pas, sehingga kualitas buahnya sangat sempurna. Rasanya manis, asam, segar, mampu melepas dahaga dan segala gundah-gulana, mampu membuat siapa pun yang mengunyahnya melupakan segala hiruk-pikuk masalah hidup. Di ujung aroma, bau mint dan kayu manis turut menghiasi agar menambah kesegaran. Jika dipadukan, yang tercium bukan hanya manis, tetapi juga perasaan sejuk ketika menghirupnya. Itu baru testimoni dari Yunho yang seorang beta. Seandainya ia adalah alfa, aroma Seonghwa mungkin akan terasa lebih manis, lebih menyengat, lebih membikin isi pikiran menggila.

Hari keempat, Seonghwa meminta sesuatu yang agak ganjil.

“Aku ingin kau menyentuhku.”

Yunho, tentu ingin sekali menyentuh orang yang ia sukai, itu adalah impiannya, tetapi tidak dalam situasi seperti ini. Ia tidak mau dianggap mengambil keuntungan dalam kesempitan. Ia menyukai Seonghwa apa adanya, tidak melihat lelaki itu seorang beta atau omega, atau seberapa manis aromanya. Yunho menyukainya karena ia adalah Seonghwa yang banyak bicara mengenai koleksi-koleksi figurnya, karena ia adalah Seonghwa yang gemar menari dan menyanyi; karena ia Seonghwa.

“Kau tahu aku menyukaimu, tapi aku tidak akan memanfaatkan situasimu. Minum obatmu dan beristirahatlah,” jawab Yunho agak nyaring sebab mereka berbicara dari balik pintu kamar.

“Kau pikir aku juga tidak menyukaimu?”

Yunho terkekeh geli mendengar itu. Ia bersandar di daun pintu. “Ternyata kita saling menyukai, huh?”

“Lalu apa yang membuatmu enggan bercinta denganku?”

Yunho terdiam, melihat lantai di bawah dengan pikiran berkecamuk. “Aku hanya ... hanya tidak mau kau melihatku sebagai orang jahat.”

“Tidak ada manusia yang baik, semua orang itu jahat. Kau jahat. Aku jahat.” Suara Seonghwa terdengar sedang tertawa. “Aku pernah melempar buku temanku ke kolam ikan, tidak ada rasa bersalah, benar-benar kubiarkan tenggelam. Aku pantas dipenjara karena itu.”

“Seonghwa, itu namanya nakal, bukan jahat.”

“Sama saja.”

Tiba-tiba senyap. Yunho sibuk melamun, di sisi pintu satunya, mungkin Seonghwa juga sedang melamun menatap kaki sendiri.

“Seongh—”

“Yunho.”

Yunho terkesiap. Tidak sengaja keduanya memanggil satu sama lain secara bersamaan. “Ya?”

“Aku tahu betul jalan pikirmu, jangan anggap ini sebagai keuntungan dalam kesempitan, anggap hal ini sebagai bentuk bantuan. Kau menolongku, terlebih, aku sendiri yang memintanya. Karena, kau tahu Yunho?” Suara Seonghwa berubah lebih parau, “menahan semua ini—rasanya sakit sekali.”

“Kau yakin?”

“Tidak pernah seyakin ini.”

Yunho berdiri, tangan sudah siap menarik gagang pintu. “Seonghwa, aku benar-benar akan masuk ke dalam. Pikirkan sekali lagi.”

“Masuklah. Lagipula ini kamarmu sendiri.”

“Seonghwa, aku serius. Aku benar-benar akan masuk. Aku sendiri tidak tahu apa aku bisa mengontrol diriku nanti. Akan kuhitung sampai lima, sebelum itu, jernihkan pikiranmu.” Tangan menekan gagang pintu ke bawah. “Satu, dua—”

Tiba-tiba pintu itu terbuka. Yunho terhuyung ke depan, Seonghwa lekas menariknya masuk, memeluk lelaki itu, mempertemukan kedua bibir. Seonghwa dan tungkainya melangkah mundur, terantuk sisi kasur membuat tubuhnya terbaring ke atas sprei kusut. Beruntung Yunho sudah siap menahan berat tubuh, dan kembali mencumbu Seonghwa, lelaki yang sudah amat lama ia idamkan.

Disela ciuman yang tergesa-gesa, Yunho masih sempat bertanya di kuping Seonghwa. “Bagaimana jika kau hamil? Aku ini memang beta, tapi spektrumku mendekati—aku tidak mau menyebut nama istilahnya.”

Seonghwa, yang sudah kalang-kabut, isi kepala maunya segera dikawini oleh lelaki yang menciumi kulitnya, menghirup aroma tubuhnya, hanya mampu menjawab lemah, sedikit terengah-engah. “Aku tahu kau terlahir dari keluarga yang sepenuhnya alfa, Yunho. Hamil atau tidak ... selama itu denganmu ... aku akan menganggapnya anugerah. Kau itu menyukaiku tapi tidak mau menikahiku?”

Yunho tertawa galak disela kegiatan. Tentu saja ia ingin menikahi Seonghwa, ia ingin menjadi seseorang yang menggigit Seonghwa ditengkuk lelaki itu, ia ingin menjadi sosok yang menguasai Seonghwa. Semua pikiran liarnya selalu terpaut dengan Seonghwa, semua mimpi basah yang mampir setiap bulan, semua fantasi setiap kali ia menonton porno, selalu ia imajinasikan bersama Seonghwa. Hanya Seonghwa.

Dan kini, jalan telah dibukakan untuknya. Yunho, masih dengan perasaan setengah takut jika Seonghwa akan membencinya setelah ini, menatap kedua mata lelaki itu dengan penuh ketulusan. Takut sekali jika apa yang ia lakukan akan menyakiti Sang Kirana Hati.

“Aku mencintaimu, Yunho. Aku pun menginginkan ini.”

Ultimatum dari Seonghwa sudah cukup membuat Yunho lebih percaya diri. Malam itu Yunho lupa siapa sosoknya sebenarnya. Spektrum beta yang mendekati garis alfa agak sedikit mendominasi. Andai tidak ditahan, entah kapan ia dapat berhenti memberi cinta. Belum lagi feromon Seonghwa yang semerbak memenuhi seisi ruangan dan indera penciuman.

Dua orang di dalam kamar itu berubah menjadi binatang tidak kenal adat istiadat.

 


 

“Aku hanya bercinta dengannya satu kali.”

Mingi terbelalak. “Apa?”

Tatapan kejut dari Mingi ia hiraukan. Yunho masih lekat menatap Seonghwa yang sibuk memeriksa jas tuksedo yang akan ia kenakan di pernikahannya nanti. Senyum lelaki itu cerah, perutnya menyembul tidak terlalu besar, sesekali tertawa mendengar lelucon dari desainer yang bertanggung jawab dengan pakaian miliknya. Dada Yunho menghangat melihat pemandangan itu.

“Aku bercinta dengannya baru sekali.”

“Dan dia langsung hamil?”

“Saat Seonghwa dalam masa heat. Hanya saat itu saja. Tahu-tahu dia hamil di pengalaman kedua penisku masuk ke dalam ruang di antara kedua kakinya.”

Mingi mengernyit jijik. “Apa itu artinya seks kalian begitu hebat sampai lupa menggunakan pengaman—”

“Robek di ronde kedua, Mingi.”

Gestur Mingi berlagak ingin muntah. “Terima kasih infonya. Kalau begitu aku mau kembali mengurus beberapa catatan. Catatan orang sakit jiwa.”

Tawa Yunho terdengar sangat galak. Memiliki sobat seperti Song Mingi memang sangat menghibur, lelaki itu terkadang tidak sadar jika celetukan yang ia tutur mengandung komedi.

“Mingi.”

Mingi berhenti melangkah, menatap sang sobat yang terus memandang calon mempelainya dengan tatapan kasih. Ia turut melihat Seonghwa, lelaki itu memiliki wajah yang cerah, terlihat begitu bahagia.

“Ada apa?”

“Bagaimana rasanya hidup sebagai alfa?”

Lagi-lagi pertanyaan itu. Mingi tahu betul ketidaksukaan Yunho terhadap kaumnya. Mingi pun tidak pernah menyukai sikap para alfa yang terlalu beringas dan congkak terhadap segala sesuatu. Beruntung ia dididik menjadi sosok yang rendah hati, keluarganya bukanlah penganut garis keras. Tidak seperti keluarga Yunho, yang membuat Yunho harus memisahkan diri karena muak dengan prinsip yang mereka anut.

Hal itu pula yang mungkin membangun sikap Yunho sebagai pribadi yang cukup acuh. Ia tersisihkan oleh keluarganya sendiri, tidak terlalu diperhatikan oleh mereka sebab perbedaan kasta, padahal sama-sama lahir dari sel dan gen yang turun-temurun. Yunho memilih tinggal sendirian, kemudian bertemu dengan Seonghwa, dan Mingi menemukan perubahan yang signifikan pada temannya itu. Apa yang terjadi di hidup Yunho berubah lebih berwarna; Seonghwa adalah pelukis andal di lembaran kisah Yunho yang abu-abu.

Mingi menghela panjang, mengambil sebatang rokok, ujungnya dibakar hingga terlihat warna merah-jingga bara. Ia menjawab setelah menghirup asapnya sekali. “Jujur saja, menjadi alfa, sangat merepotkan. Semua orang berusaha menjilat sepatuku, berharap dengan itu, mereka punya koneksi seorang alfa yang kehidupannya diberikan jalan mulus. Mulus apanya? Aku masih harus menyelesaikan tugas akhirku.”

“Tapi dosen kita memang pilih kasih. Ingat saat dia menggodamu di tengah-tengah kelas berlangsung?”

Mingi memukul Yunho pelan. “Jangan ingatkan aku tentang itu lagi. Aku merinding saat tangan wanita tua itu mengelus punggungku.”

Yunho terkekeh melihat Mingi yang meringis geli. “Mingi, pernah terpikir untuk hidup sebagai beta?”

“Aku pernahnya berpikir bagaimana dunia ini tidak pernah memiliki tiga kasta tadi.”

Yunho memandang Mingi, yang tengah merokok, dengan tatapan lembut. “Sepertinya kau satu-satunya alfa yang berpikir begitu. Kau aneh.”

“Jika menjadi aneh dapat membuatku menjadi seseorang yang lebih bijak, aku bersedia menjadi aneh selamanya.”

“Pantas kau satu-satunya teman alfa yang kupunya. Pemikiranmu berbeda.”

“Terima kasih, aku anggap itu pujian.” Mingi mengembuskan asap rokoknya ke sembarang arah. “Aku pamit. Sampai jumpa di atas altar, aku akan memperkenalkan pasanganku nanti padamu. Semoga beruntung, Yunho. Oh, tidak, kau memang lelaki beruntung. Lihatlah Seonghwa, dia sangat mengagumkan.”

“Jangan melihatnya, brengsek.”

“Kau tidak dengar aku sudah punya pasangan tadi?”

“Terserah. Cepat sana pergi. Undanganku sampai bulan depan, tunggu saja.”

“Dasar keparat.”

Sepeninggal Mingi, Yunho kembali menatap jauh ke dalam toko pakaian melalui kaca etalase. Seonghwa masih sibuk mengobrol dengan seorang desainer, tiba-tiba tatapannya terjawab, dan lelaki itu melambaikan tangannya dengan tawa lebar.

Memandang Seonghwa berarti memandang sebuah masa depan. Masa depan yang amat cerah.

Menjadi Beta tidak seburuk itu. Menjadi biasa saja memberimu kesempatan untuk mencapai sesuatu yang luar biasa, dan dari prosesnya, kau akan belajar banyak hal, termasuk menerima kekurangan diri sendiri.

Beruntung bagi Yunho, Seonghwa menerima segala kekurangan, barangkali lelaki itu bahkan tidak menganggapnya sebagai kekurangan, melainkan sebuah karunia.

 


 

Beberapa bulan sebelum persiapan pernikahan, Yunho memantapkan diri menemui dua orang monster.

"Aku akan menikahi seseorang."

Yunho dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tamu dengan suasana mencekam. Aura canggung menguasai. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan mereka setelah memutuskan tinggal sendiri tiga tahun lamanya. Rambut Sang Ibu tergerau cantik menyentuh pundak, sedangkan Sang Ayah menggunakan jas berwarna beludru disisip kaos hitam seleher.

"Dengan siapa?" tanya Pak Tua itu. Ia memperbaiki kacamata yang bertengger di wajah.

"Dengan seseorang." Yunho menunduk tersenyum, lalu kembali menatap lurus pada kedua mata Ayahnya. "Seseorang yang kucintai."

"Maksudku, kastanya. Kau tahu aku tidak terlalu peduli dengan siapa kau berkencan, selama itu setara denganmu, aku akan mengizinkan."

Yunho mengernyit. "Kedatanganku ke sini bukan untuk meminta izin, aku hanya memberitahu jika aku akan menikahi seseorang. Bagiku restu kalian tidak terlalu berguna."

Ayahnya menghela panjang. Melihat Yunho bagai melihat dirinya sendiri, sikap kepala batu benar turun-temurun. "Terserah. Jadi? Apa dia alfa?"

"Seonghwa adalah omega."

Ibunya berlagak seakan ingin menangis. Tangan menutupi wajah, tertunduk dan Sang Suami memeluknya dengan erat.

"Ini salahku. Ini semua salahku. Aku membawa aib ke keluarga ini. Jangan salahkan Yunho, salahkan aku," isak Sang Ibu. Yunho menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan ingin muntah.

Tatapan Ayahnya berapi, tetapi Yunho tidaklah gentar. Ia sudah biasa melihatnya.

"Omega? Kau menikahi seorang omega? Yunho, mau sampai kapan kau berniat mempermalukan keluarga kita?" teriak Ayahnya.

"Tiga tahun aku beranjak dari rumah mirip kerangkeng ini adalah titik di mana aku tidak lagi menganggap diriku bagian dari kalian." Yunho berdiri dengan dagu terangkat congkak, "akan kukirim undanganku pada kalian nanti. Mau datang atau tidak, aku tidak peduli. Selamat siang."

Pintu dibanting kencang. Yunho masih menganggap rumah besar tempat ia lahir dan tumbuh ini adalah sebuah tempat menjijikan yang berisi makhluk-makhluk apatis. Kenapa pula ia harus repot-repot mendatangi kedua orang tuanya padahal sudah tahu obrolan mereka pasti akan berakhir kaos.

Langkah Yunho masuk dengan lebar ke dalam apartemen. Kepala mendadak pusing, emosinya masih menggebu-gebu. Tepat ketika ia hampir melempar vas bunga, Seonghwa muncul dari arah dapur.

Kekasihnya itu memakai kemeja garis-garis putih miliknya, depan tubuh dihias celemek. Rambut Seonghwa terlihat semrawut, sepertinya baru bangun. Panci di atas kompor sedang sibuk merebus mie, Seonghwa sendiri sedang menuang cairan kola ke dalam gelas bir.

"Yunho? Maaf aku baru bangun, dan—oh! Maaf juga sudah memakai kemejamu sembarangan! Aku terlalu malas mencari baju di dalam lemari, jadi aku cuma memasang kemejamu yang tercecer di lantai. Tidak apa-apa?"

Yunho menduga Seonghwa itu seorang penyihir. Kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah sebuah mantera, mampu menaklukan Yunho dalam sekejap. Seluruh emosi yang berada di pucuk kepala sirna seketika. Tak bersisa, kecuali pelangi, kebun bunga bermekaran, kelinci saling melompat ke dalam lubang rumah mereka, air terjun dan sungai terlihat berkilauan, dan Seonghwa ada di tengah-tengah sabana, menikmati hilir angin sepoi; semua pemandangan imajiner itu menenangkan hatinya. Yunho merasa sangat lapang.

Ah, ia memang benar lelaki beruntung. Tidak mungkin keliru; tidak salah lagi.

 

.

.

.

 

Selesai.

 

Notes:

raksi: wangi; harum.
nirmala: tanpa cacat cela; bersih; suci; tidak bernoda.

Terima kasih sudah membaca fic ABO-yang-tidak-terlalu-ABO ini sampai habis!