Actions

Work Header

between the two solstice

Summary:

Keduanya bertemu. Menetap dan menatap terlalu lama sampai satu dari dua insan jatuh pada paras dan kelakuan baiknya.
"Pantas saja Aphrodite tidak pernah terdengar semenjak Kim Seokjin ada, pasti insecure"

Notes:

i make a spotify

playlist for this, if you wanna listen while reading. AND I'll try to translate it to english once this fics is over <3

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: summer crush

Chapter Text

 

Sudah ke dua puluh tiga kalinya Yoongi menghubungi sosok sahabat yang sampai sekarang belum menunjukkan batang hidungnya di pintu sejak satu jam yang lalu. Mengingat Hoseok adalah tipe manusia yang datang 5 menit sebelum acara dimulai, fakta bahwa sahabatnya itu belum mengabari apapun sampai detik itu juga membuat rasa khawatirnya meningkat seiring peluh yang kian menumpuk memenuhi dahi putihnya. Tak bisa mengendalikan rasa cemas terlalu lama, Yoongi langsung mengambil kunci yang sedari tadi sudah Ia siapkan di atas meja. Membawa mobil jeep butut Ayahnya yang tak begitu dapat diandalkan itu melesat melewati kawasan hutan panjang menuju rumah Hoseok, sahabatnya. Matanya terbelalak saat melihat Ayah Hoseok mencoba menurunkan motor putih kesayangan sahabatnya yang kini berubah warna menjadi coklat karena tanah yang entah asalnya dari mana. Yoongi langsung berlari menerobos pintu yang sedikit terbuka, mengingat jam terbangnya di rumah ini, bahkan bisa dikatakan bahwa ini adalah bagian dari rumahnya.

“Seok!!!!” Namun bukan satu yang menoleh, melainkan dua. Sahabatnya yang terlihat sedang kesakitan di atas sofa merah nyentriknya dan seseorang asing yang sedang membersihkan lutut Hoseok yang masih penuh dengan tanah.

“Gi!!!!! Oh My My maaf gue lupa ngabarin lo. Sini-sini” Yoongi yang masih mencoba membaca situasi ini mendekat seiring lambaian tangan Hoseok yang berhenti. Duduk di seberang sahabatnya, memandangi punggung super lebar yang tak pernah Ia temukan sebelumnya.

“Ban belakang gue tadi pecah pas mau masuk area hutan-hutan itu, terus nyungsep di pinggiran sana. Jadi kaya gini deh, untung tadi ada si Seokjin yang lewat, udah kaya Malaikat mau nolongin gue yang tak berdaya” Jelas Hoseok sambil me-recreate kejadian beberapa jam yang lalu di atas sofa dengan hiperbola.

Yoongi hanya berdecak, dan cukup lega melihat sahabatnya yang berlaku seperti biasa, sepertinya lukanya tidak separah yang Ia bayangkan. Matanya tertuju pada sosok asing yang kini duduk di samping Hoseok sambil membersihkan tangannya dengan tisu basah.

Kaos putih yang tak begitu tebal itu terlihat sangat cocok dengan bahu lebarnya. Potongan kaosnya yang curam di bagian dadanya itu tidak membantu sama sekali, padahal Hoseok yang baru saja jatuh, tapi kenapa malah kepalanya yang pusing. Mungkin perkataan Hoseok tadi ada benarnya, bagaimana ada manusia seindah ini yang tiba-tiba datang dari antah berantah, menolong sahabatnya yang lebih memekikkan dari speaker kelurahan. Seokjin itu malaikat, pasti malaikat, wajahnya yang terlihat begitu kecil itu dihiasi dengan mata yang cerahnya bukan main, mungkin lampu ruang tamu Hoseok ikut berperan tapi anggap saja memang matanya seindah itu. Bibir penuhnya kini mendekat ke arah pinggiran botol, sedikit terbuka, bersiap menerima guyuran segar dari air mineral yang tinggal setengah isinya. Kepalanya sedikit mengadah keatas, peluh menetes mengikuti frame wajahnya yang tegas dan halus. Bak menonton iklan di televisi, air mineral itu masuk dengan sempurna ke mulut pria yang lebih cocok masuk deretan Malaikat suruhan Tuhan daripada manusia seperti mereka.

Ah, pikirannya benar-benar kacau

Sepasang matanya terlalu fokus memperhatikan seseorang di depannya, sampai tak sadar bahwa ada tangan yang disodorkan ke arahnya, menunggu untuk dijabat.

“Hey, kenalin Seokjin. Kamu?” dengan sedikit gugup dan semburat kemerahan yang kini muncul di wajahnya, Yoongi akhirnya menjabat tangan dengan kuku yang begitu indah itu.

“Aku.. Yoongi, temen Hoseok dari kecil. Haha sorry nggak fokus. By the way makasih Seok, eh maksud aku, Jin, udah nolongin Si Hoseok” Yoongi segera melepas jabatan tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bingung dengan dirinya sendiri.

Melihat sesuatu begitu indah sampai lupa dengan keadaan dan gugup tak karuan. Hoseok hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya yang mendadak sopan dan salah tingkah. Kalau dalam kamus kecilnya, sahabat kecilnya yang lebih mirip dengan kucing peliharaannya dari pada keluarganya sendiri itu sedang mengalami gay panic, menurut symptoms yang terlihat sih.

“Ah, no worries. Lagian aku cuma melaksanakan tugas aja, sebagai orang pertama yang denger dia teriak-teriak minta tolong. Kalau ada orang lain sebelum aku nemuin dia, pasti Hoseok juga ditolongin kok. Haha, so karena udah jam segini, aku pamit duluan ya Seok, Yoon? Gue baru inget disuruh belanja buat dinner sama aunty tadi. See you” Seokjin segera bangkit dari duduknya mengambil kunci pickup truck milik pamannya. Tak lupa melambaikan tangan sambil tersenyum begitu hangat sebagai tanda perpisahan, mungkin untuk malam ini.

“Hati-hati, Big Seok!! Thank you so much!” Hoseok berteriak dari sofa tempatnya duduk, Yoongi berdiri, melihat seseorang yang baru dikenalnya itu lenyap termakan pintu utama Hoseok yang kini tertutup pelan dari luar.

Hoseok langsung menoleh ke arah Yoongi yang masih melambaikan tangan disaat mesin pick up truck Seokjin sudah jelas-jelas kian menjauh dari halaman rumahnya. Melihat sahabatnya yang berlaku sangat aneh, Hoseok tak tahan untuk tidak mengejeknya sambil berjalan pelan menuju kamarnya “That was so gross, Gi. Didn't even know he's gay or not but you already simping over him? Can't believe your hoe energy is that high. Aku kamu, cih. Sejak kapan?

“Uh, shut up! I'm not! Gue Cuma gitu soalnya dia yang mulai! Balas Yoongi yang sedikit kaget namun langsung mengekor Hoseok dari belakang. Yoongi tau betul, sahabatnya ini sudah tak dapat menahan mulutnya lagi saat Seokjin sudah keluar dari jangkauan.

“Keep telling that lie to your ass” Ucap Hoseok yang kini merebahkan dirinya di kasur.

“Rude...” Balas Yoongi.

and it’s not like we will see each other again” lanjutnya, sambil duduk di meja komputer milik Hoseok dan membuka tetris.

“Ya, kalau pengen ketemu Big Seok lagi ya kesini aja” Jawab Hoseok sambil memainkan ponselnya.

Big Seok cih, bikin pet name apa gimana lo?” Ejek Yoongi dengan matanya yang fokus di layar komputer.

See? You just petty because you don't have one with him, hahaha anyway besok dia bakal kesini, gue ajakin buat makan siang bareng sebagai ucapan terima kasih. Tadi sempet ketemu Mama sih, katanya mau dimasakin menu kesukaannya. Mana pas banget doi suka lobster, kan gaperlu beli lagi, soalnya ada stock di belakang” Jelas Hoseok yang kini sudah membungkus tubuhnya dengan selimut, bersiap untuk tidur. Yoongi hanya memutar bola matanya mendengar penjelasan dari sahabatnya. Masih fokus dengan permainan tetrisnya.

“Ntar kalo mau pulang matiin lampunya, gue capek mau tidur, kalau mau nginep pake baju gue aja dulu, baju lo minggu lalu belum gue cuci” lanjut Hoseok sambil menaruh ponselnya di meja nakas.

“Dih, clean freak tumben belum nyuci. Gue pulang aja deh, takut Si Eren dicariin” Ia bangkit dari duduknya setelah mematikan komputer milik Hoseok beserta lampu kamarnya. Tangannya merogoh kunci Si Eren untuk kembali ke rumah.

Butut begini, Si Eren berwarna biru muda adalah kesayangan Ayahnya. Jadi sudah dapat dibayangkan bagaimana ekspresi khawatir Ayahnya saat Yoongi pulang terlambat tanpa kabar membawa Jeep kesayangannya itu.

***

“Iya tante, liburan aja. Dari pada di kota terus, mau cari udara segar di sini sambil bantuin onty sama paman ngurus kebun, kangen sama granny juga. Dari semester lalu telfon mulu pengen ketemu, hahaha”

Tawanya begitu renyah, orang tua Hoseok hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Seokjin yang begitu antusias menyesapi daging lobster dari cangkangnya.

“Saya baru tau kalau Pak Kim punya adik di kota, padahal kebun kita masih satu area” ungkap Papa Hoseok yang kini meneguk wine dengan pelan.

“Ah, sebenarnya yang tinggal di sini itu keluarga Ibu, Om. Kebetulan marga Ayah sama Ibu emang sama jadi kadang suka bingung, haha. Kalau Ayah sebenernya emang asli Seoul, karena emang punya kerjaan di sana juga jadi kita sekeluarga tinggal di kota” Seokjin menjelaskan silsilah keluarganya sambil tersenyum.

“Oalah begitu... Nanti kalau sudah makannya ajak main aja Si Yoongi, suruh nganterin ke Pantai deket sini. Berhubung Hoseok masih belum bisa lari-lari” yang merasa namanya terpanggil langsung gelagapan karena dari tadi fokus menghabiskan masakan Mama Hoseok yang tak ada duanya.

“Halah Pa... Bisa jalan kok!” Bantah Hoseok sambil berdiri mengitari meja makan, menunjukkan bahwa kakinya baik-baik saja.

“Nggak, nanti ikut Papa dulu check up di rumah sakit. Nanti kalau bener nggak ada apa-apa baru boleh main keluar lagi. Kamu ada kompetisi loh bulan depan, katanya mau menang” saatnya Hoseok kembali ke kursinya. Bagaimanapun kedua orang tuanya memang selalu mendukung penuh passionnya di bidang dance, jadi Hoseok tidak bisa beragumen banyak. Toh, itupun juga untuk kebaikannya.

“Cuma berdua?” pertanyaan dari Yoongi memecah keheningan yang mulai menyelimuti sejak Hoseok kembali ke tempat duduknya dan visi misi yang ada hanya untuk menghabiskan santapan lezat yang memenuhi meja. Semua orang yang duduk melingkari meja langsung fokus menatapnya bingung, kecuali Seokjin yang mungkin mulai menangkap maksud pertanyaannya.

“Oh ... hmm kalau kamu nggak nyaman nggak apa-apa kok Yoon. Lagian aku juga harus bantu Paman juga di kebun” jawab Seokjin sambil mengelap bekas saus yang menempel di sudut bibirnya.

Yoongi yang merasa merubah suasana di meja menjadi sangat canggung bingung harus menjawab apa kecuali gelengan yang tak henti-hentinya Ia lakukan, bermaksud menyanggah pernyataan Seokjin. Namun mulutnya tak juga ingin diajak bekerja sama untuk mendukung responnya. Tingkah kikuknya mengundang tawa yang serentak keluar bersamaan dari Jung sekeluarga, pantulan wajahnya di cekungan sendok besi yang digenggamnya itu jelas sekali memantulkan rona merah wajahnya.

“Haha aduh, anak muda memang. Pipimu itu ditutupi Gi, udah nyaingin make up istri Om aja merahnya” seroloh Ayah Hoseok yang kini dibalas dengan pukulan pelan dari istrinya.

“Jangan digodain Pa, nangis doi nanti” jahil Hoseok sembari menjulurkan lidahnya di seberang.

“Hush, hoseok! Nggak boleh! Maafkan Om ya, Gi. Emang mulutnya ini suka nggak bisa dikontrol” Ucap Mama Hoseok sambil memberikannya segelas air putih yang langsung Ia teguk. Matanya menangkap dua sosok pria di pojokan yang menahan tawa melihat kekikukannya.

Awas saja

***

Pada akhirnya Yoongi memutuskan untuk menemani Seokjin menyambangi pesisir yang lokasinya cukup dekat, meskipun harus melewati banyak godaan dari Jung sekeluarga terlebih dahulu. Pantai tak begitu ramai hari ini. Hanya ada burung-burung bertebangan di atas permukaan laut, memangsa ikan yang kerap menampakkan diri. Yoongi dan Seokjin tenggelam tanpa masuk dalam air. Tenggelam dalam ketenangan menikmati hamparan laut luas di depan matanya. Gemuruh ombak kecil mengisi keheningan di antara mereka.

Sunyi di antara keduanya yang tadinya terasa begitu canggung kini berangsur menjadi diam yang tak menyesakkan, bahkan bisa dibilang dekat dengan diam yang hadir dengan kenyamanan. Jika dipikir-pikir lagi, sudah cukup lama sejak kedatangannya di pantai hanya untuk menikmati pemandangan sore seperti ini. Waktu di pantainya banyak dihabiskan denngan voli dengan penduduk sekitar atau mengunjungi kios-kios makanan pinggir pantai yang rasanya tak ada duanya. Terlalu tenggelam dalam pikirannya, Yoongi langsung terjingkat saat pria yang duduk sekitar setengah meter di sampingnya itu tiba-tiba mengeluarkan suara.

“Yoon, kamu dari kecil tinggal di sini?” yang namanya merasa terpanggil langsung menoleh, mendapati sang penanya yang masih fokus menikmati pemandangan yang membentang di seberang. Seokjin kini menatapnya, dan Yoongi membalas pertanyaannya dengan anggukan singkat sambil mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup tak karuan.

“Hmm ... Aku ... aku emang asli sini, nggak ada satu-pun keluarga yang ada di kota. We are too in love to let go of this place, the place that holds so much memories for us” Seokjin manggut-manggut, mencoba memahami ucapan teman yang baru dikenalnya ini.

“Hmm, I think so orang-orang di sini keliatan hangat banget. Waktu orang-orang tau aku liburan di sini, banyak banget tetangga nenek yang datang bawa makanan. I'm happy that I choose to spend my holiday here, I guess” senyum Seokjin merekah begitu indah, kulitnya yang sedikit memerah karena terik matahari terlihat begitu cantik hari itu.

“... and sorry ya Yoon, kalau aku tadi sempet bikin suasana nggak nyaman pas makan di Hoseok. Sebenernya sih maunya nolak ajakan dia kemarin karena emang ya completely stranger tapi Mamanya Hoseok tetap maksa. Sorry” lanjut yang kini fokus ke arahnya.

Apasih? Nggak gitu, aku emang cenderung canggung sama orang baru, and you look so intimidating but gorgeous at the same time, haha. Nggak perlu minta maaf gitu, dan tentang orang-orang sini sih sebenernya sama aja kaya di manapun. Kalau merasa orang itu baik, pasti juga dibaikin, good for you then. Bisa dibilang, they already head over heels for you” celetuk Yoongi yang diikuti dengan tawa keduanya.

“And, so are you?” Balas Seokjin, tak mau kalah. Yoongi yang masih tertawa dengan celetukannya sendiri langsung terdiam, kaget dengan pertanyaan Seokjin yang tiba-tiba. Ia yakin pasti pipinya yang begitu putih langsung dihiasi dengan semburat kemerahan yang begitu jelas sekarang, Ia sedikit malu dan gugup.

Seokjin terbahak melihat Yoongi yang salah tingkah, dengan candaannya. Sedikit kesal dengan Seokjin, Ia langsung mendorong lengan kanan Seokjin dari samping sampai tubuh pria berbibir plump itu jatuh ke pasir. Yoongi yang puas dengan kejahilannya langsung bangkit dan berlari meninggalkan Seokjin yang kini mulai meneriakinya.

“Yahhhh Yoongi, awas ya!!”

Seokjin bangkit lalu berlari mengejar Yoongi tanpa alas kaki, sandal yang tadinya Ia pakai pun hilang entah tertinggal di mana. Yoongi yang masih berusaha menjauh dari kejaran Seokjin sesekali menengok ke arahnya.

Pantai, Seokjin, tawa renyahnya, dan matahari yang kian menjingga: kombinasi yang begitu menarik. Terlalu menikmati kombinasi yang terlihat, Yoongi tak menyadari bahwa seokjin kian memangkas jarak di antara mereka.

Akhirnya Seokjin dapat menangkap Yoongi yang sudah cukup terengah-engah. Ditubruk dan dipeluk dari belakang tubuh seseorang yang punya khas gummy smile itu. Kaki Seokjin yang tak begitu seimbang karena permukaan pasir yang basah oleh air membuat mereka terjatuh di pinggiran pantai, keduanya pun basah dan berlumuran pasir. Tawa mereka pecah, makin nyaring, membaur bersama ombak yang kian datang dan pergi. Setidaknya bertemu dengan teman seperti Yoongi adalah alasan tambahan mengapa liburannya kali ini terasa begitu menyenangkan. Sejak saat itu kata canggung tidak pernah lagi masuk dalam kamus mereka saat bersama, keduanya memperlakukan satu sama lain layaknya teman dekat, begitupun teman-temannya yang lain.

***

Hari-hari selama Seokjin di countryside, Hoseok dan Yoongi selalu menemaninya mengunjungi beberapa tempat yang bahkan tak pernah Ia ketahui namanya. Menjelajahi berbagai spot setelah membantu Pamannya di kebun dan mengabadikannya di kamera polaroid biru mudanya. Semakin lama Ia mulai familier dengan beberapa wajah baru yang dikenalkan teman barunya selama summer ini , ada Jimin dan Tae yang ditemuinya saat Hoseok memintanya datang untuk melihat kelompok dancenya tampil di kompetisi dance freestyle yang Papanya ceritakan bulan lalu. Tak jarang keduanya juga ikut bermain bersama saat Jimin dan Tae mengunjungi rumah Hoseok. Yoongi kerap mengajak Namjoon, sepupu jauhnya yang beberapa hari ini pindah tak jauh dari tempatnya tinggal.

Kini Yoongi, Seokjin, dan Namjoon terduduk di salah satu restoran dekat pantai, memesan makan siang setelah menghabiskan banyak waktu di Pantai. Yoongi dan Seokjin hanya bisa terkekeh melihat ekpresi namjoon ketika keduanya menyantap sashimi yang mereka pesan tadi. Namjoon menatap mereka dengan jijik begitu hidangan berbahan baku ikan mentah itu masuk mulutnya. Untung saja, restoran ini memiliki menu bervariasi sehingga Namjoon bisa makan udon dengan nyaman tanpa ikan mentah menjijikan yang menghiasi mangkok dan piringnya.

“Seriously guys? this is why i prefer watching hoseok dance all day rather than being your third wheeler” Namjoon menghela nafasnya, lelah melihat sepupunya dan teman barunya itu saling menyuapi satu sama lain, dan semua bertambah buruk ketika salmon keoren-orenan itu membuat salah satu pria dihadapannya itu tersedak. Bukannya segera mengambil air, mereka malah tertawa, seakan itu adalah hal yang lucu. Jika matanya bisa berbicara, mungkin mereka sudah kelelahan karena Namjoon yang tak henti-hentinya memutar bola matanya selama makan siang hari ini.

“Oh look Yoon, our lil Joonie want some attention. Come here baby if you want to join us in our sashimi date, no one stopping you” Seokjin mulai bangkit dari seberangnya dan merangkul namjoon sambil membawa sumpitnya yang mengapit ikan mentah dan mendekatkannya ke mulut Namjoon.

Say aaaa” lanjut Jin yang masih tetap menggodanya. Yoongi hanya bisa tergelak melihat tingkah konyol Seokjin dan Namjoon yang mencoba melepaskan diri.

“Kak!!!!! I can literally lift you guys with my arms in one time. Stop calling me a little one!” protes Namjoon sambil merebut sumpit itu dari Seokjin dan membungkan mulut Yoongi yang tak kunjung berhenti terbahak dengan ikan yang hampir saja masuk mulutnya.

Tawa Seokjin makin pecah, Yoongi hanya bisa tersenyum sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Matanya menyipit, gigi atas dan bawahnya terekspos begitu rapi, bibir tebalnya pun ikut tertarik ke samping, membentuk bulan sabit. Seokjin memang selalu dapat mencairkan suasana dengan cepat, meskipun masih sebulanan ini mereka mengenal satu sama lain, kedekatan terbangun begitu cepat. Tidak ada alasan untuk tidak menyukai Seokjin, selain pintar membangun mood untuk orang-orang di sekitarnya, sikapnya yang sangat perhatian membuat mereka semua betah berada di dekatnya. Salah satu contohnya adalah tak jarang Yoongi menemukan banyaknya makanan yang dibawa Seokjin saat mereka bertemu, entah untuk bermain games atau sekedar menghabiskan waktu bersama.

Mereka juga sering melakukan sleep over di rumah Namjoon karena Ayah dan Ibunya yang hanya pulang di akhir pekan karena ada proyek yang mendesak. Seringnya hanya mereka bertiga yang sering tidur bersama di depan TV, karena Hoseok yang tak kuat begadang dan jarak rumah Jimin dan Tae yang cukup jauh.

Virgo energy banget, mirip banget sama kookie, hahaha” ucap Seokjin dengan lirih, sambil kembali fokus pada sashiminya yang kian tak terlihat.

Tidak ada yang menanggapinya. Namjoon mungkin tidak mendengar perkataan Seokjin karena fokus membalas pesan dari Hoseok yang protes karena tak diajak ke pantai untuk yang kedua kali. Yoongi ingin menanyakan siapa orang yang dimaksud pria yang kini duduk di seberangnya. Namun sepertinya itu bukan hal yang begitu penting karena mereka sudah beralih topik membicarakan Hoseok yang mulai mengiriminya banyak pesan di grup chat mereka. Ya benar, selama sebulan lebih ini, mereka terus berkomunikasi lewat ponsel. Bertukar pesan dan suara, namun Seokjin adalah satu dari mereka yang sangat jarang membuka grup obrolan, alasannya karena mereka tiap hari bertemu, dan Ia tak begitu suka memegang ponsel terlalu lama saat liburan. Bukan sesuatu yang ganjil, jadi mereka semua membiarkannya. Toh Yoongi selalu siap di depan rumah Nenek Seokjin dengan Si Eren jika mereka ada janji temu dengan teman-teman yang lain.

***

Sore itu Seokjin sibuk di dapur, membantu bibinya yang sedari siang berkutat di depan meja sambil membersihkan buah yang nantinya akan menjadi santapan keluarga mereka, mungkin untuk satu minggu ke depan. Dengan begitu teliti tangannya mengelap tanah yang tak sengaja menempel di permukaan dengan kain basah yang memang sudah disiapkan.

Kegiatannya terhenti saat telinganya menangkap seseorang memanggil namanya, “Seokjinnie...” Panggil neneknya dari halaman depan. Seokjin yang merasa dipanggil lantas bergegas lari ke sumber suara. Mendapati seorang pria bertubuh tinggi berotot dengan baju tanpa lengan dan kemeja kotak-kotak yang menyampir di lengan kanannya sedanng mencium tangan neneknya sebagai salam. Ketika matanya menangkap Seokjin yang sudah berdiri di ambang pintu, pria itu melambai-lambaikan tangan seraya berjalan mendekat. Nenek Seokjin hanya tersenyum dan meninggalkan dirinya dan Namjoon yang datang tanpa diundang itu.

“Joon? ada apa? ayo masuk”

Hari ini memang tak ada jadwal untuk mereka bertemu karena Yoongi sedang sibuk membantu Ayahnya merenovasi rumah kaca di halaman belakang, dan Hoseok masih sibuk menyiapkan diri untuk kompetesi dance beregu bersama Tae dan Jimin di studio yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Jadi tak kaget, jika Hoseok sering absen dalam janji temu mereka.

“Itu Kak, gue mau minta tolong. Lo ada kegiatan nggak sekarang?”

Alis Seokjin otomatis menyatu, sedikit keheranan, karena biasanya Namjoon selalu datang bersama Yoongi saat ke rumah. Penasaran dengan permintaan tolong jenis apa yang akan Namjoon ajukan, Seokjin kemudian bertanya, sambil menarik lengan pria yang lebih muda darinya itu untuk duduk.

“Nggak ada kok, santai, minta tolong apa Joon?”

“Kan gue baru pindah ke daerah sini kan, nah bulan ini gue mau daftar di universitas sini gitu. Tapi berkas-berkas gue ternyata ada yang ketinggalan, dan ini gue baru ditelfon sama yang jaga rumah di sana katanya nggak ketemu-ketemu pas gue minta tolong cariin. Lo bisa anterin gue ke terminal nggak? Gue mau nyoba cari di sana”

Namjoon terlihat cukup gelisah mengingat dirinya sangat peduli dengan pendidikan. Ayah dan Ibunya pun masih berada di luar kota jadi mereka berdua tidak bisa berbuat banyak.

“Lo serius mau ke kota sendiri naik bus? Lo yakin tau turunnya di mana aja? Gue nggak mau ya tanggung jawab ngilangin anak orang”

Canda Seokjin, namun sebenarnya Ia memang sedikit khawatir. Namjoon tidak begitu familier dengan jalanan sini, dan dia tidak pernah menyetir juga. Ia cukup takut untuk melihat teman barunya ini pergi sendirian, apalagi naik angkutan umum.

“Ya gimana lagi, gue nggak enak sama Kak Yoongi Di rumahnya masih sibuk banget. Dan satu-satunya jalan ya naik bus”

“Nggak nggak, lo gue anter sampe rumah deh. Nanti gue coba rental mobil ya. Kalau udah dapet gue kabarin lagi, nggak mungkin bawa pick up truck juga soalnya”

“Aaa Kak!!! Thank you so much!!!” Namjoon sontak memeluk Seokjin dari samping, sangat berterima kasih.

It's okay Joonie, lagian di kebun juga nggak terlalu sibuk kok” balas Seokjin sambil menepuk-nepuk puncak kepala Namjoon. Jujur saja, Namjoon banyak mengingatkannya pada Jungkook yang sudah tak ditemuinya sejak Ia datang kemari. Tubuhnya yang besar dan sikapnya yang sangat sopan dan lembut itu sangat mirip dengannya. Bedanya hanya satu, Seokjin menganggap Namjoon seperti adik sendiri dan yang satunya selalu mengamuk saat dianggap demikian.

Dering ponsel Seokjin nyaring terdengar dari kamar, keduanya langsung refleks berdiri. Pria yang lebih tinggi darinya itu ikut berdiri, segera berpamitan karena ingin mengunjungi studio tari Hoseok dan teman-temannya. Setelah mengantar Namjoon sampai halaman depan, Ia segera pergi untuk menelepon kembali seseorang yang baru saja terlintas di pikirannya.

***

Setelah berbagai kesibukan yang digeluti, akhirnya mereka dapat berkumpul dalam satu kesatuan kembali. Urusan Namjoon dengan universitas barunya, Yoongi dengan rumah kacanya, begitupun Hoseok dan anggotanya dengan klub tarinya. Tidak ada yang begitu spesial hari ini, mereka hanya memutuskan dengan asal untuk bertemu karena sudah cukup lama tidak melihat satu sama lain.

Seokjin sedang menata beberapa polaroid yang ia tangkap selama liburan di rumah neneknya. Memasukkannya ke dalam boks berwarna hitam bekas dompet mahal bibinya yang dibeli setelah panen tahun lalu. Yoongi yang penasaran dengan apa yang seokjin lakukan langsung memeluk leher seokjin dari belakang sofa rumahnya. Ini bukan hal yang aneh, tidak ada yang aneh. Mereka semua menunjukkan kenyamanan lewat sentuhan, physical affection itu love language mereka, begitu kata Namjoon setelah membaca The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate oleh Gary Chapman minggu lalu. Sisi kanan wajah Seokjin yang lembut terasa begitu hangat menempel di sisi kiri wajahnya. Seokjin tersenyum hangat sambil menarik pelan kedua lengannya, disamping wajahnya yang hangat tangan Seokjin yang dihiasi dengan bentuk kuku yang cantik terasa begitu dengan menggenggam jemarinya. Jujur saja, ini bukan posisi yang nyaman untuknya, namun dirinya tak sampai hati untuk melepaskan diri dari genggaman pria yang kini menyenderkan kepalanya di ceruk leher Yoongi, mencari kehangatan. Sensasi dari rambut baru Seokjin, berwarna blonde, yang tak selembut rambut hitam legamnya bulan lalu itu menggelitiknya. Pria di dekapannya itu tak juga berhenti mengusak-usakkan kepalanya, jadi Yoongi menarik lengan dan melepasnya. Melompati sandaran sofa dan duduk di samping pria yang sibuk dengan kegiatannya sendiri itu.

“Yoon!!” Seokjin berteriak memukul lengannya berulang kali, meminta Yoongi untuk bangkit dari duduknya.

Yoongi menyeringai ketika sadar ada beberapa foto hitam putih yang tak sengaja Ia duduki. Tak lama, Ia menemukan dirinya terkekeh melihat ekspresi sebal Seokjin yang membuat bibir tebalnya terkatup bersamaan dan sedikit maju. Sibuk memperbaiki polaroid yang sedikit tertekuk karena pantatnya yang tak bermata.

Oh to be the one who can taste tha t lips, must really doing a great thing in his past life. I just hope I did it, somehow

Yoongi langsung ingin menampar pipinya sendiri, bagaimana bisa otaknya berpikir tak karuan hanya karena bibir temannya sendiri yang bahkan tak menatapnya balik. Setelah menyadarkan pikirannya, dirinya kembali duduk. Kini memegang boks penuh koleksi polaroid yang Seokjin tangkap. Ia menemukan banyak sekali wajahnya di tiap jepretannya, memang sesering itu mereka menghabiskan waktu bersama. Entah bersama yang lain atau bermalas-malasan berdua.

“Banyak juga ya”

“Hmm”

“Kertas film kamu masih banyak?”

No, tinggal lima. Mau aku habisin pas kita liburan bareng-bareng di pantai yang di ceritain Jimin”

“Beli lagi yuk, aku beliin, aku anterin sekalian” Tawarnya. Namun langsung disambut dengan gelengan kepala.

Sejalan dengan mata Seokjin yang tak lepas dari kertas polaroid miliknya, Yoongi-pun tak dapat melepaskan pandangannya ke arah manusia di sampingnya yang bahkan tak menoleh ke arahnya. Kadang Yoongi berharap, Ia bisa lebih berani dan vocal dengan perasaannya. Bagaimanapun, menghindari ketertarikannya kepada seorang Kim Seokjin terasa seperti hukuman. Sesuatu yang sangat menyiksa batinnya.

“Kak Seokjin! jadi ke pantai kan?” Tanya Jimin yang baru saja beranjak dari sofa depan televisi, setelah berjam-jam mencari kehangatan dalam tubuh Hoseok yang kini sudah tertidur pulas. Yoongi melihatnya berjalan ke arah mereka berdua, lalu mendudukkan diri di sofa seberang.

Sure, tanggal 15 ya? gue mau balik soalnya, atau sebelumnya juga boleh. Sesuain aja sama jadwal anak-anak”

Mata Yoongi yang masih terfokus pada Jimin langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia paham bahwa Seokjin akan kembali ke rumah, ke tempat asalnya, namun tetap saja, rasanya seperti tidak menyangka akan secepat ini. Didua bulan mereka mengenal satu sama lain, Yoongi sangat menikmati segala kebersamaan yang mereka lakukan. Adanya Seokjin di sekitarnya seolah mengisi ruang kosong yang sebelumnya tak pernah Ia sadari keberadaannya. Bertemu dengan Seokjin membuat Yoongi bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah Ia punya attachment issue atau apa sebenarnya? karena ketika mendengar tentang berita kepulangan Seokjin, seketika dirinya ingin menghentikan waktu saja dan menghabiskannya untuk memeluk pria berbibir tebal itu agar tidak pergi.

Namun tentu saja, semua itu tidak akan Ia lakukan. Di samping keinginannya tentang bayangan Seokjin agar tetap tinggal yang begitu besar, namun untung saja, kontrol diri terhadap perasaannya masih lebih besar dari keegoisannya yang makin hari makin konyol.

***

Setelah menempuh dua jam perjalanan, squad summer time, julukan yang diberikan Hoseok, memutuskan untuk beristirahat di rest area terdekat. Mereka duduk sambil menunggu Namjoon datang dengan beberapa kaleng soda dan camilan untuk mengganjal perut. Ketika mendapati Namjoon yang sudah berjalan mendekat ke arah mereka. Seokjin segera bangkit dari duduknya. Mengangkat kamera yang sedari tadi menggantung di lehernya.

Cheese

Kelima temannya itu serentak menghentikan kegiatan berebut camilan, kompak tersenyum begitu lebar, sampai Hoseok tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mengunci leher Yoongi hingga terjungkal kebelakang.

Click...

Saat itu juga Seokjin memencet tombol shutter, menangkap momen yang membuat mereka semua terbahak karena kini Hoseok dan Yoongi sama-sama terguling dari posisi duduknya.

four more to go

Mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi, destinasi yang tiba-tiba berubah dua hari sebelum keberangkatan membuat perjalanan mereka menempuh waktu yang cukup lama karena ketidak familieran jalan yang ditempuh.

Sebagai gantinya, mereka memutuskan untuk staycation di salah satu vila dengan harga miring yang Hoseok temukan di situs jejaring sosial. Bagusnya, semua orang setuju, namun masalahnya, tak ada yang pernah ke daerah sana.

Perjalanan yang harusnya ditempuh empat jam dengan mobil itu berakhir dengan enam jam perjalanan dengan google map yang suka memberi jalan alternatif berakhir dengan gang kecil yang bahkan Seokjin saja meragukan adanya sepeda motor yang bisa melaluinya. Disamping itu, mereka akhirnya datang dengan selamat. Yoongi yang bertugas menyetiri mereka di paruh kedua perjalanan setelah Tae, kini langsung tertidur lelap di sofa. Masih berbalutkan jaket dan topi yang kini jatuh ke lantai. Seokjin mendapati Yoongi sangat lucu saat tertidur, jika kata orang dirinya ini tidur seperti tersenyum, Yoongi ini kebalikannya, bibir tipisnya itu cemberut seolah ada seseorang yang mengusik kegiatannya dalam mimpi. Seokjin tersenyum, kemudian menangkap momen itu dengan kamera yang tak lepas dari lehernya semenjak berpamitan dengan Nenek dan Bibinya.

three more to go

Matahari yang tadinya membakar kulit, keberadaannya kian menurun ke arah barat, tenggelam, seakan dimakan oleh danau yang berada tak jauh dari vilanya berada. Cukup berjalan sekitar seratus meter dari tempatnya beristirahat. Danau yang tak mereka ketahui namanya itu memiliki luas permukaan sekitar 50km2. Seokjin yang tak begitu merasa lelah memilih menghabiskan sorenya di pinggiran danau, sambil membawa sekaleng soda yang tadi di beli Namjoon di rest area. Angin sepoi-sepoi menjadi tanda bahwa musim gugur akan segera datang, mengacaukan rambutnya yang cukup kering karena bleach dua minggu yang lalu. Untung saja, Tae datang membawa setoples hair mask yang katanya bagus untuk memperbaiki tekstur rambut yang rusak. Dering ponsel yang tiba-tiba itu mengusik lamunan acaknya, tak sadar Ia memutar bola matanya kesal. Namun langsung terganti seiring indra penglihatannya mendapati nama yang sangat familier, muncul memberikan beberapa pesan singkat di layar ponselnya.

Kookie:

17:23

I GOT IT!!!!!!!!!!!! JINNIE!!! I GOT IT!!!

17:24

I just opened my email then BOOM

image attachment

Mereka nerima porto folioku :(((((

aku nggak nyangka bakal secepet ini, wish you were here <3 I want to celebrate this with you

Me:

17:25

 I knew it, aku kan udah bilang mereka pasti nerima.

You deserve this, congrats bunny I will be back in 4 days, okay?

17:26

Just wait a little bit, I miss you so much

I’m sorry that I can’t be with you during your happy day like this:(

Kookie:

17:26

 OH NO!! don’t say sorry:(, it’s alright. I’ll wait

Enjoy your trip!!

Take care

Me:

17:27

Sure bunny, you too:)

Seokjin menggenggam ponselnya, tersenyum membayangkan betapa bahagianya Jungkook saat ini. Dua gigi kelinci yang selalu terlihat begitu lucu dengan kombinasi nose crunch khasnya adalah sesuatu yang sangat Seokjin rindukan. Namun lamunannya tak bertahan lama, pikiran tentang kebiasaan Jungkook selalu mengatakan semuanya baik-baik saja itu kerap mengusiknya. Ia tak bisa menghindari rasa bersalah yang tiba-tiba menghampirinya seperti yang dirasakan saat ini. Summer break yang harusnya hanya satu bulan dihabiskan di desa dan setelahnya di kota harus gagal karena Ia tidak tau bagaimana mengucap selamat tinggal saat semuanya terasa benar di sini. Teman-teman barunya, dan lingkungan hijau yang begitu indah membuatnya betah, dan Yoongi. Seseorang yang awalnya tak begitu Ia anggap menarik karena raut wajahnya yang dingin dan kikuk, kontras dengan Hoseok yang sangat ceria dan easy going. Namun siapa sangka malah seseorang itu memiliki senyum yang begitu menawan, juga luga, seperti ada kharismanya tersendiri. Dan Seokjin menyukai senyum itu, berikut dengan tawanya.

Big Seok!

Memang panjang umur sekali si Hoseok ini, baru saja dipikirkan saja, kini lengannya sudah merangkul bahu Seokjin sambil membawa sekaleng soda yang sama seperti miliknya.

“Ngapain lo disini sendirian? Si Yoongi nyariin tuh, katanya suruh bantuin masak. Anak-anak nyoba bantu malah stress dia, bikin ribet, tambah lama”

“Kenapa nggak lo aja coba?”

“Dih, gue kan panitia kebersihan ya! Nggak bisa masak, malas juga, nggak mau”

Seokjin hanya terkekeh melihat Hoseok yang selalu bisa meringankan setiap suasana yang ada. Seakan ada cahaya yang mengelilinginya di manapun tempatnya berpijak. Tangannya seketika langsung naik dan mengacak-acak rambut coklatnya, sangat mirip puppy.

Big Seok, love you

Gross, love you too, anyway

Lalu mereka terbahak bersama, bergandengan tangan seperti anak sekolah pertama yang akan pergi tamasya. Bagaimana Ia bisa meninggalkan orang-orang seperti ini tanpa rasa sedih dan kembali ke rutinitas kota yang sibuk. Setidaknya, Seokjin akan menikmati segala hal yang ada di summertime-nya ini selagi tersisa. Mengabaikan perasaan bersalahnya pada Jungkook dan pikirannya yang kian berteriak akan hal lain. Ia hanya ingin terbebas dari kebisingan kota dan menikmati apapun yang dapat dinikmati hari ini.

***

Meja makan telah penuh dengan berbagai hidangan sederhana yang siap mereka santap. Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam bersama Yoongi untuk mempersiapkan semuanya, kini satu persatu dari teman-temannya datang mengelilingi meja makan di samping rumah. Candaan dan pembicaraan yang tak jelas alurnya mulai terdengar, Seokjin tidak begitu banyak bertingkah hari ini. Bukan tidak semanga, Ia hanya terlalu hanyut menyaksikan ekspresi teman-temannya, mereka terkekeh, terbahak begitu keras sampai Jimin terjatuh dari kursi yang Ia duduki. Tae yang menyadarinya segera membantunya berdiri, Seokjin tersenyum. Summer seharusnya terasa panas, tapi malah kehangatan yang didapatnya di sini.

Bulan semakin naik, langit semakin menggelap. Semua sudah masuk ruangan mereka masing-masing, Jimin bersama Tae, Namjoon sendirian, mendapatkan kamar paling luas karena memenangkan games yang mereka adakan beberapa jam yang lalu. Sedangkan Seokjin harus bersama kedua teman pertamanya di sini, Hoseok dan Yoongi.

“Yoon, cheese

Telunjuk Seokjin menekan tombol shutter kameranya, menangkap momen di mana Yoongi mencoba mengangkat Hoseok yang tertidur, pingsan karena alkohol yang mereka konsumsi setelah makan malam. Yoongi terkejut dengan flash kameranya, menyilaukan wajahnya, matanya yang tergolong sipit itu kini hanya membentuk garis lurus, dengan alis tipisnya yang menyatu. Hoseok hanya bisa melenguh pelan sambil menendang pelan paha Yoongi dengan kakinya karena mengusik tidurnya. Yoongi memutar bola matanya kesal, Seokjin yang tingkah kedua bersahabat itu hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

two more to go

Seokjin mendekati figur Hoseok yang terlelap, lalu berbicara pelan ke Yoongi yang segera menyingkir dari dekat Hoseok. “Aku gendong Hoseok ke kamar, tolong beresin kalengnya ya Yoon?” yang diajak bicara hanya mengangguk pelan, segera memasukkan beberapa kaleng kosong ke dalam kresek putih bekas bungkus snack yang mereka bawa. Seokjin membopong tubuh Hoseok ke dalam kamar, meninggalkan Yoongi yang masih sibuk membersihkan ruang utama.

***

Matahari mulai naik, ketika membuka matanya, Seokjin mendapati pinggangnya yang dilingkari lengan Hoseok bak guling. Di samping Hoseok yang sekarang semakin mengeratkan pelukannya, matanya mendapati Yoongi yang tersenyum ke arah mereka. Ternyata Seokjin bukan satu-satunya morning person di sini. Yoongi bangkit dari tidurnya, berbisik. “Biarin aja, emang nggak bisa tidur tanpa guling dia”, Lalu dibalas dengan “Tapi panas, Yoon” Yoongi cekikikan, sebisa mungkin untuk tidak membuat kebisingan, karena sahabatnya yang masih berpetualangan di dunia mimpi itu sangat sensitif jika tidurnya terganggu.

Seokjin hanya bisa memandangi Yoongi yang kini berjalan ke arahnya, bingung akan apa yang dilakukannya. Tangan Yoongi yang ternyata sangat veiny itu melepaskan lengan Hoseok yang melingkari pinggangnya, matanya hanya bisa mengikuti apa yang Yoongi lakukan setelahnya. Jarak mereka begitu dekat, seakan Ia akan dipeluk dari belakang oleh dua orang. Yoongi mulai menjauh saat sudah berhasil melepaskan Hoseok dari tubuhnya, memberi hoseok bantal sebagai gantinya. Gummy smile itu muncul lagi, tersenyum ke arah Seokjin yang masih berbaring di samping Hoseok. Melihat Seokjin yang tak segera bangun dari posisi baringnya, tangan veiny miliknya itu diulurkan, bermaksud untuk membantu Seokjin bangkit, Seokjin segera mengaitkannya. Bangkit dan langsung meninggalkan Yoongi yang kebingungan dan Hoseok yang entah masih di dunia mana, Seokjin berjalan secepat mungkin keluar dari ruangan itu, dan mengunci diri di kamar mandi.

***

Namjoon sudah siap dengan backpacknya. Menggantung di lengan kanan yang terlihat tidak keberatan dengan apa isi yang ada di dalamnya. Yoongi dan Seokjin telah memasakkannya berbagai makanan yang dapat mereka santap diperjalanan. Kegiatan hari ini seharusnya mereka habiskan dengan mendaki puncak yang jaraknya tak jauh dari vila tempatnya berlibur, namun lagi-lagi, ada saja hal yang menghentikannya. Sebenarnya Jimin sudah melarangnya menyiapkan bekal makanan mereka hari ini, namun Seokjin merasa bersalah karena harus merusak suasana dengan mengerjakan request revisi dari clientnya yang tiba-tiba di liburan mereka dan Yoongi menyadari itu. Pria malang yang harus bekerja saat liburan itu tak henti-hentinya menyalahkan keteledorannya karena lupa menutup jasa illustration miliknya di media sosial. Kuliah di bidang bisnis dan manajemen tidak membuat Seokjin melupakan hobinya di bidang desain grafis, meskipun kadang memuakkan karena harus menghadapi client dengan berbagai sifat yang beragam, Ia terlihat menikmatinya.

“Kak, serius nggak bakal ikut?”

“Nggak deh Tae, kapan-kapan kan juga bisa. Lagian kasian client nya udah nungguin”

This is why I hate selfless person” Saut Jimin sambil memutar bola matanya, kesal. Sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Lo juga nggak ikut, Gi?” Tanya Hoseok

Ia langsung menggeleng, “Nggak deh, mau nyuci. Kayanya gue masih hangover dari kemarin. Dari pada di jalan malah muntah kan nggak lucu”

Yoongi tidak hangover, sama sekali tidak. Yoongi memang cukup banyak minum tadi malam, namun Ia tidak hangover seperti yang baru saja dia katakan. Bahkan sesaat baru saja bangun, Ia langsung membantu Seokjin mempersiapkan bekal untuk teman-temannya yang akan mendaki hari ini.

Jadi karena apa Ia memilih untuk tinggal di sini?

“Idih, sok rajin banget pake nyuci segala. Lagian ngapain sih Kak liburan malah nyuci baju. Nggak jelas banget, orang biasanya juga terima jadi di loundry” Protes Namjoon yang langsung dibalas dengan lemparan botol kosong air mineral yang baru saja diteguk pria yang merasa disinggung. Mereka semua tertawa. Melihat botol kosong itu tepat mengenai dahi Namjoon yang tak berponi.

“Udah lah, pengen berduaan mereka itu” celetuk Hoseok yang kini sudah memasukkan tas bawaannya ke dalam mobil.

“Nah itu tau, peka dikit dong Joon. Mau nyemangatin si ganteng kerja” Jawab Yoongi sambil meraih lengan kiri Seokjin mencoba mencairkan suasana. Hoseok yang sepertinya menyesal mengatakan itu hanya bisa memutar bola matanya sambil tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya. Diikuti dengan tiga orang lain dengan ekspresi yang menggelikan.

Gross, Gi!”

Anyway, semangat Big Seok! Ntar gue bawain oleh-oleh dari puncak, bye!

Mereka semua melambaikan tangan, Seokjin tersenyum membalasnya. Namun entah kenapa rasanya canggung sekali, sampai Ia sadar bahwa lengan kirinya masih berkait dengan lengan kanannya. Yoongi yang memulai, dan Yoongi yang salah tingkah sendiri.

“Yoon, aku ngerjain pesenan dulu ya” Pamit Seokjin sambil melepaskan diri dengan perlahan. Kembali ke dalam kamar dan fokus berkutat pada laptopnya. Yoongi mengangguk paham dan mencoba melupakan semua yang mengusiknya hari ini.

***

Yoongi terdiam di ruang utama, bingung harus melakukan apa. Sedikit menyesali keputusannya tadi karena sekarang suasana dalam vila yang lowong ini membuatnya sesak. Sudah empat jam Seokjin mengurung diri kamar, maksudnya fokus dalam pekerjaannya yang entah apa itu. Yoongi tidak tahan dengan perasaan tak nyaman ini, padahal biasanya hari-harinya berlangsung sangat menyenangkan saat Seokjin ada di sekitarnya. Kakinya berjalan pelan menuju kamar tempat Seokjin berada, dibukanya gagang pintu sepelan mungkin, meminimalisir suara yang mungkin akan keluar.

Matanya sudah siap dengan suasana canggung yang akan dihadapi. Tidak masalah, meskipun hanya menemani Seokjin yang fokus pada laptopnya, setidaknya dia tidak perlu menghabiskan waktu liburannya merenung sendirian di ruang utama. Namun yang benar saja, Ia malah mendapati Seokjin yang tertidur pulas di atas kursi. Laptopnya masih menyala, di laman kotak terkirim, sepertinya pekerjaannya sudah beres. Yoongi sedikit membungkukkan tubuhya, melihat Seokjin yang tertidur dengan pipi yang sangat menggemaskan. Ia mengedarkan pandangan, menemukan kamera polaroid milik Seokjin yang tergeletak di atas meja nakas dekat ranjang.

Dengan sangat hati-hati, ia mencoba menangkap momen Seokjin yang tertidur, tak lupa mematikan auto flash karena takut bahwa yang akan diabadikan momennya itu akan terbangun.

Click”

Setelah beberapa detik, kertas itu mulai muncul warnanya. Ini bukan kamera jadul yang harus ia tiupi untuk dapat gambar lebih cepat. Namun tetap saja, kebiasaan lama memang susah hilangnya. Ia kibaskan dengan pelan hasil jepretannya, dengan sesekali meniupinya dan sedikit menjauh dari tempat Seokjin berada.

“Yoon ...?”

“Eh” Yoongi langsung menoleh kaget, meletakkan kamera yang tadinya Ia pegang di atas nakas dan mengantongi hasil jepretannya. Seokjin terbangun, sepertinya belum sadar sepenuhnya. Yoongi hanya berharap semoga Ia tidak marah karena memfoto dan menggunakan barangnya tanpa ijin.

“Udah bangun?” Ia mencoba berbasa-basi, padahal sudah jelas kini pria yang jaraknya tak jauh darinya itu sedang mengucek mata merahnya yang masih menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar yang terang. Dan tentu saja hanya dibalas dengan gumaman. Seokjin keluar dari kamar mereka dan Hoseok. Yoongi yang penasaran kemana perginya pria itu hanya bisa mengekorinya dari belakang, dan langsung berhenti saat Seokjin memandangnya dengan ekspresi keheranan saat akan menutup pintu kamar mandi, mendapati Yoongi yang tepat di belakangnya dengan wajah yang kian memerah.

Oh sorry sorry, juga kebelet” alasannya sangat tak masuk akal, Ia bahkan belum banyak minum hari ini.

Seokjin hanya menggelengkan kepalanya, “Aku sebentar doang kok, mau cuci muka” Yoongi mengangguk.

Rasa malunya seakan melebihi puncak yang teman-temannya daki hari ini, hiperbola? memang. Membayangkan kejadian hampir masuk kamar mandi yang sama dengan Seokjin saja sudah membuatnya merinding dan berkeringat. Berdua di dalam vila yang luas ini saja sudah seperti hukuman untuk Yoongi apalagi kamar mandi dengan ukuran yang lima kali lebih kecil dari ruangan utama. Yoongi mencoba mengatur nafasnya, mengingat Ia harus menahan banyak perilaku spontannya yang mungkin berakhir dengan penyesalan atau rasa malu yang tak berkesudahan untuk beberapa jam ke depan.

Mata yang tak jelas fokusnya kemana itu kini langsung menoleh ke arah kamar mandi, saat mendengar suaranya pintu yang terbuka. Seokjin berjalan pelan dan duduk di sampingnya, mengambil jelly yang sejak tadi berada di atas meja.

“Katanya kebelet” Yoongi langsung membuang pandangannya tepat saat Seokjin menoleh ke arahnya.

“Udah pake kamar mandi satunya” Ia berbohong, sedari tadi tubuhnya terduduk di sini. Meratapi tingkah bodohnya sambil menunggu pria yang sejak tadi membuat degup jantungnya berpacu tak karuan. Seokjin manggut-manggut, mempercayai kebohongan bodohnya tanpa pikir panjang.

“Anak-anak kok belum balik ya? Padahal udah malem”

“Tadi Namjoon ngabarin, kemungkinanan bakal pulang sejaman lagi. Ban belakangnya pecah pas perjalanan pulang, nggak sengaja kena batu tajem” beberapa saat yang lalu Namjoon memang mengabari keadaan mereka, jika memang ada kendala saat pulang ke vila. Seokjin yang tadinya asyik memilih berbagai rasa jelly yang akan dimasukkan mulutnya itu, langsung menoleh, terbelalak kaget dengan apa yang baru saja Yoongi ucapkan.

Yoongi yang merasa tau mengenai apa yang akan pria di sampingnya ini tanyakan langsung menambahi, berniat untuk meringankan tension tak berwujud yang sedari tadi membatasi ruang gerak mereka berdua, “Mereka baik-baik aja kok, syukurnya pas ban-nya pecah emang deket bengkel. Tapi aku malah skeptis sama si tukang ban itu yang sengaja nyebar batu-batunya”

Kekehan kecil itu kembali lagi, belum selebar tawa yang biasanya, namun Yoongi jadi ikut tersenyum melihatnya.

“Ngawur! Pake konspirasi segala”

“Lagian serius banget, udah kaya bapak-bapak nunggu anaknya balik aja”

“Terlahir jadi orang baik dan ganteng susah emang, kekhawatiranku ini suka disalah artikan” Jawaban Seokjin ada benarnya, dengan tampang dan kepribadiannya seperti ini, banyak orang akan salah paham dengan perlakuannya ke orang lain. Yoongi adalah salah satu korbannya. Bukan dalam artian yang buruk, namun mungkin akan berakhir buruk untuk dirinya sendiri, karena sudah menafsirkan banyak sikap baik Seokjin menjadi sesuatu yang lebih.

Sebisa mungkin, Ia akan berlagak tak setuju dengan perkataanya, dengan dalih meringankan suasana, lagi, “Dih” dan lawan bicaranya itu tertawa, begitu lantang, seperti hari-hari sebelumnya. Yang berbeda adalah dirinya yang biasanya ikut tertawa, sekarang hanya bisa tersenyum sambil memandanginya dari samping. Mengagumi tawanya yang unik, matanya yang sebelumnya membulat karena kaget, kini ikut tersenyum, bak bulan sabit yang menghiasi langit malam. Giginya berjajar begitu rapi, bibir kecil namun tebalnya itu tertarik ke samping, membentuk lekungan yang begitu memanjakan setiap mata yang melihat.

Pantas saja Aphrodite tidak pernah terdengar semenjak Kim Seokjin ada, pasti insecure

“Jin cantik, cantik banget” Ucap Yoongi dengan lirih, tak tau bahwa jarak antara dirinya dan pria yang dimaksud itu sangat dekat. Bahkan nafasnya saja terdengar dengan sangat jelas.

Seokjin kaget, telinganya otomatis memerah, “Lah Yoon, mabuk kamu?”, entah mendapat kepercayaan diri dari mana Yoongi hanya membalas pertanyaan pria di sampingnya itu dengan gelengan. Membayangkan raga Seokjin yang beberapa hari ke depan akan jauh darinya mungkin menjadi pemicu tingkah implusif yang Ia lakukan saat ini.

Yoongi merapatkan jarak mereka, sedikit miring, untuk dapat melihat wajah Seokjin sepenuhnya. Diraihnya kedua tangan Seokjin yang masih menggengam bungkus jelly, tak selang setelahnya bungkus itu jatuh ke lantai, jelly berwarna-warni itu keluar dari bungkusnya dan tumpah berserakan. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang peduli dengan itu semua. Punggung tangan Seokjin itu sesekali diusapnya dengan ibu jarinya yang sedikit kasar. Pria di hadapannya itu hanya terdiam, menatap kedua tangannya yang ada dalam genggaman.

“Jin” yang dipanggil langsung mendangakkan pandangan, jantungnya melaju begitu cepat melihatnya, seolah habis digunakan untuk sprint beratus-ratus meter. Kadang Yoongi juga berpikir, apakah Seokjin juga merasakan sensasi seperti ini setiap berada di dekatnya. Kulit tangannya bisa merasakan kehangatan yang tersalurkan dari telapak tangan lawan bicaranya, berbanding terbalik dengan tangannya yang sangat dingin karena gugup.

I hope I can see you again on the next summer, I like you so much” seakan melupakan berbagai kebodohannya yang dilakukannya hari ini, mulutnya itu menyatakan perasaannya begitu saja, di dalam otaknya hanya penuh dengan Seokjin yang segera menghilang dari jangkauannya. Yoongi tidak ingin menyesal karena hanya bisa memendam perasaan yang kian menggerogotinya.

“Yoon…”

“Aku nggak tau kenapa bisa secepat ini, aku juga bingung, sorry. You feel so unreal and it just made me lose my mind every time I saw you close. I just can’t help it. Shit, Jin maaf banget kalau malah bikin nggak nyaman” Yoongi menunduk, mengacak-acak rambutnya sendiri. Tiba-tiba merasa bersalah karena membuat suasana menjadi canggung. Ia mendangak, ketika tangan Seokjin menepuk bahu kirinya, masih terdiam.

“Kamu nggak harus bales apa-apa kok. Aku cuma mau kamu tau aja. Nggak bakal ada yang berubah, aku akan selalu jadi temen kamu kapanpun kamu mau. Okay?” mencoba menenangkan Seokjin dengan mengusap lengan kanannya. Yoongi paham, pernyataannya ini memang terasa sangat mendadak dan mengejutkan pria yang kini hanya terdiam di hadapannya itu. Tak lama Seokjin mengangguk.

Seokjin mencoba mengatakan sesuatu, “Yoon … aku … sebenernya uh ...”, namun langsung Ia potong, “Kalo kamu belum siap ngomong sama aku secara langsung, bisa kok jelasin lebih lanjut via text atau yang lain. Just take your time, Jin” Yoongi menghela nafas tak kunjung beranjak dari tempatnya, mata yang tadinya fokus pada manik indah lawan bicaranya kini semakin turun dan mendapati pria di depannya itu menggigit bibir super lucunya itu karena gugup, “Jin, Can I kiss you?

Shit! Shit! Shit! Pertanyaan itu keluar dengan suara pelan namun tidak cukup pelan untuk lolos dari telinga Seokjin yang jaraknya bisa dihitung dengan penggaris yang dulu tak pernah absen menemani pensil dan penghapusnya dalam ransel saat ke sekolah.

Kontrol diri macam apa yang bahkan tidak bisa menghentikan pertanyaan anehnya itu. Ia sadar sudah membuat hubungan di antara mereka menjadi canggung seperti ini dan masih ditambah dengan permintaan konyolnya itu. Yoongi benar-benar ingin lari saja, menenggelamkan diri di danau dan berteriak sekencang-kencangnya.

“Uh… alright” Seokjin menjawab dengan sedikit canggung pertanyaan konyol yang Ia lontarkan, menghentikan sel-sel dalam kepalanya yang hampir saja meledak karena memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Namun, malah dibuat terkejut sendiri, tidak percaya dengan apa yang yang baru saja didengarnya, “…what?

You can kiss me, Yoongi” kalimat persetujuan itu keluar begitu saja dari bibir yang sedari tadi tak lepas dari pandangannya. Yoongi tidak menyia-nyiakan waktu lagi, menangkup wajah kecil Seokjin dengan kedua tangannya. Selangkah kemudian, Ia maju, menutup kedua matanya dan mulai memiringkan wajah, mengecup pelan bibir Seokjin yang dari awal hanya bisa Ia bayangkan bagaimana rasanya. Kini semua terasa begitu nyata, bibir Seokjin yang tebal dan lembab itu bersatu dengan miliknya yang jauh lebih tipis dan kering. Perutnya terasa aneh, seakan dipenuhi berbagai macam kupu-kupu yang beterbangan memaksa untuk keluar. Yoongi tersenyum dalam sela-sela ciuman mereka. Hanya berlangsung singkat, sepersekian detik setelahnya Yoongi menarik tubuhnya untuk menjauh. Sekarang Ia bahkan bisa merasakan berbagai rasa jelly yang sebelumnya sempat Seokjin makan.

Begitu membuka mata, Yoongi melihat Seokjin tersenyum begitu hangat, sama seperti pertama kali mereka bertemu di rumah Hoseok malam itu. Yoongi juga ikut tersenyum. Mungkin kecerobohan dan tindakannya yang gegabah hari ini tidak seburuk yang Ia pikirkan.

Mereka kini duduk berdampingan lagi, membuat sedikit jarak untuk bergerak. Kedua insan itu terlalu tenggelam dalam pikirannya masing-masing, sampai tak sadar bahwa ada seseorang di seberang yang sudah cukup lama memperhatikan mereka dan ikut tersenyum, turut bahagia.

Notes:

any feedback is welcome okay! anyway kalau mau mutualan di twitter just hit me up <33

twitter