Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
NAMGI CUDDLE FEST
Stats:
Published:
2021-09-01
Words:
4,004
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
36
Bookmarks:
1
Hits:
306

Hold Each Other

Summary:

“Aku juga tak mau kehilangan dirimu, Joon-ah.”
Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu setengah jam yang menyesakkan, Namjoon menatap Yoongi, memburu mata yang menjadi sumber ketenangannya, dulu.
“Lalu kenapa, Hyung? Kenapa Hyung minta putus?”

Notes:

Prompt: 

"Don't" dan "Seesaw" adalah bagaimana cara Namjoon dan Yoongi menghadapi perpisahan mereka. Dimana Yoongi sudah bersiap untuk 'move on' dan menyimpan semua mimpi yang pernah mereka tulis dulu sebagai kenangan, sementara Namjoon masih berada di tempat di mana ia berusaha meyakinkan Yoongi untuk tetap tinggal di sisinya meskipun ia tau semua itu sia-sia.

Based on:
1. Seesaw
2. Don't

Note: Untuk alur ceritanya aku serahkan penuh kepada Author. Semangat ♡

Work Text:

“Kenapa?”

Kenapa? Percayalah, Yoongi pun sudah berkutat dengan pertanyaan itu selama berbulan-bulan. Sekarang, ketika mendengar pertanyaan itu dari Namjoon, Yoongi seperti dihadapkan pada dirinya lima bulan yang lalu.

“Hubungan kita sudah tidak sehat, Joon-ah.” Mau tak mau, suka tak suka, Yoongi harus mengatakannya. Menyakitkan memang, tapi ia tak punya pilihan.

Namjoon menangkupkan tangan ke wajah, membuat tarikan napas beratnya makin kentara. Orang yang paling disayangi Yoongi itu tampak lelah. Sangat. Di balik tangan yang menutupi wajahnya, ada kelelahan yang tergambar nyata lewat lingkaran gelap di bawah mata yang tak ditutupi concealer.

Butuh waktu agak lama hingga Namjoon akhirnya menurunkan tangan, memperlihatkan matanya yang memerah. Lelaki berambut abu-abu gelap itu jelas-jelas sedang berusaha menahan air mata. Setengah mati Yoongi menahan diri untuk tak berdiri dari duduknya dan memeluk Namjoon.

“Tak bisakah kita mencoba untuk mempertahankan hubungan kita, Hyung?”

Tahu bahwa suaranya akan pecah ketika menjawab pertanyaan Namjoon, Yoongi berdeham beberapa kali. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja kayu pun mengepal, berusaha untuk tampil setegar yang ia bisa.

“Joon-ah, apakah kau yakin? Apakah kau benar-benar ingin bertahan?”

Untuk kesekian kalinya, Namjoon menarik napas dalam-dalam. Mata cokelatnya mengarah pada pojok studio, tempat di mana tanaman bonsai yang diberikan Yoongi terletak. Sekali lihat pun kau akan tahu bahwa Namjoon merawatnya dengan sangat baik. Kuncup bunga mulai mengintip satu per satu, bersiap menyambut musim semi yang akan datang dua minggu lagi.

“Aku tak tahu apa yang kuinginkan, Hyung. Yang aku tahu hanyalah tak ingin kehilangan dirimu.”

Hati Yoongi mencelus mendengar jawaban Namjoon. Bagaimana tidak, ia pun memiliki ketakutan yang sama. Sebelum menjadi kekasih, Namjoon adalah sahabat terbaiknya, orang terdekat yang selalu ada di urutan teratas yang ingin Yoongi kabari ketika kebahagiaan hadir dalam hidupnya, sesederhana apa pun itu. Namjoon pulalah yang pertama kali ia beri tahu ketika kesedihan menghampirinya. Tentu saja kehilangan Namjoon adalah hal yang sama menakutkannya bagi Yoongi.

“Aku juga tak mau kehilangan dirimu, Joon-ah.”

Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu setengah jam yang menyesakkan, Namjoon menatap Yoongi, memburu mata yang menjadi sumber ketenangannya, dulu.

“Lalu kenapa, Hyung? Kenapa Hyung minta putus?”

Yoongi menundukkan kepala. Jemari panjang-kurusnya memainkan ujung kaus. Ada banyak hal yang berkecamuk di benaknya, tapi tak satu pun bisa ia suarakan. Percayakah Namjoon jika Yoongi berkata bahwa hatinya pun sama remuknya dengan Namjoon ketika ajakan putus itu keluar dari mulutnya? Percayakah Namjoon jika Yoongi melakukan ini semua untuk melindungi mereka berdua, menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan?

“Bisakah Hyung memberiku waktu untuk memikirkannya? Hubungan ini milik kita berdua, ‘kan? Kurasa, sudah seharusnya keputusan yang diambil pun tak hanya sepihak.”

Namjoon benar, keputusan untuk memulai dan mengakhiri hubungan tidak hanya berada di tangan Yoongi. Hubungan ini milik mereka berdua. Tak ada yang memimpin, tak ada yang mengikuti. Karenanya, Yoongi menganggukkan kepala. Tenggorokannya terlalu nyeri untuk sekadar mengeluarkan suara.

***

Mata Namjoon tertuju pada foto dirinya yang memeluk Yoongi dari belakang. Di foto itu, Yoongi tersenyum lebar, menampilkan gigi yang berderet rapi. Di sana, Namjoon tersenyum tak kalah lebar sambil menumpukan dagunya di pundak Yoongi. Lewat foto yang menampilkan Yoongi yang tenggelam dalam jaket hitam milik Namjoon itu, memori liburan mereka di Normandia memenuhi pikiran Namjoon.

“Tak bisakah kita tinggal di sini selamanya, Hyung?”

Pertanyaan itu diucapkan dengan suara yang lirih, menyerupai bisik.

“Tak adakah cara lain supaya kita tak saling menyakiti?”

Pertanyaan itu tenggelam di antara musik yang mengalun dari pengeras suara di studio Namjoon. Pikiran Namjoon terlalu penuh hingga tak menyisakan ruang baginya untuk menuliskan lirik untuk melodi yang dikirimkan Lee Yonghyun.

***

Normandia, tiga tahun sebelumnya.

“Namjoon-ah, ayo bangun,” kata Yoongi sambil menggoyangkan bahu Namjoon.

Setelah merampungkan serangkaian konser di Benua Eropa, akhirnya Bangtan bisa mendapatkan libur seminggu sebelum kembali melanjutkan pengerjaan album baru. Alih-alih menghabiskannya di studio seperti tahun-tahun sebelumnya, Namjoon dan Yoongi sepakat untuk menepi ke Normandia. Yoongi ingin mengistirahatkan diri dari ingar-bingar dunia, sementara Namjoon ingin berlibur ke tempat dengan udara segar dan pemandangan yang menyejukkan mata. Kota di pinggir utara Prancis itu menempati urutan teratas yang memenuhi kriteria mereka.

“Jam berapa sekarang?” tanya Namjoon yang masih enggan membuka mata.

“Sembilan.”

“Hyung, kenapa pagi sekali? Kita tak ada rencana pergi ke mana-mana, ‘kan?”

“Ada. Mengobrol dengan domba,” jawab Yoongi sekenanya.

Namjoon yang setengah bagian dari wajahnya masih menempel pada bantal pun tersenyum. Perlahan ia membuka mata dan mendapati Yoongi yang duduk di pinggir ranjang sambil balik menatap Namjoon.

“Aku punya ide yang lebih menggiurkan,” kata Namjoon dengan suara rendahnya yang serak. Perpaduan dari suara-baru-bangun-tidur dan akumulasi teriakan-teriakan akibat euforia konser terakhir mereka dua hari yang lalu.

“Apa?”

Namjoon mengedipkan mata sebelum meraih pinggang Yoongi, menggeser tubuhnya, lalu menarik Yoongi untuk ikut merebahkan diri. Meski sempat menggerutu, toh Yoongi tak menolak. Senyum puas mengembang di wajah Namjoon saat Yoongi menurut, ikut berbaring dengan posisi menghadap Namjoon.

“Dasar manja,” kata Yoongi yang direspons Namjoon dengan tawa.

Baby,” ujar Yoongi lagi. Matanya menatap Namjoon dengan hangat sementara jemarinya mengelus pipi Namjoon.

Your baby,” balas Namjoon sambil tersenyum, menampilkan lesung di pipinya.

My baby.” Yoongi membeo. Kali ini telunjuknya menyentuh lesung pipi Namjoon, memancing tawa dari lelaki yang menyandang status sebagai kekasihnya.

“Oh Tuhan, apa yang kau lakukan sampai aku bisa semabuk ini hanya dengan melihatmu di pagi hari, Hyung?”

“Dasar gombal,” ujar Yoongi sambil menepuk pelan pundak Namjoon. "Lagi pula sejak kapan kau percaya akan keberadaan Tuhan?"

"Hanya pada kesempatan tertentu seperti sekarang," jawab Namjoon seraya mengerlingkan mata.

"Gombal banget," kata Yoongi di sela kekehannya.

Namjoon tertawa, mendekatkan wajah mereka, lalu menggosokkan hidungnya pada hidung Yoongi. Keduanya tersenyum, menikmati afeksi yang jarang mereka nikmati di hari-hari biasa. Sekian detik berikutnya, Namjoon memberikan kecupan singkat di bibir Yoongi, membuat pipi putih kekasihnya menampilkan rona merah jambu yang menggemaskan.

You hate morning breath, so let me brush my teeth then I’ll kiss you slowly,” bisik Namjoon di telinga Yoongi. Kombinasi yang sukses membuat pipi Yoongi makin merona.

Ya, Kim Namjoon!” protes Yoongi yang hanya dibalas Namjoon dengan kekehan.

***

Merunut akar masalah yang menjadi penyebab Yoongi mengajak Namjoon untuk putus, adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Sebulan belakangan ini tak ada pertengkaran di antara mereka. Tadinya Namjoon mengira semuanya akan baik-baik saja. Tadinya ia kira ombak yang melanda hubungan mereka telah surut, tapi sepertinya ia salah. Ternyata sebulan ini tidak mereka jalani dalam ketenangan, melainkan kehampaan. Hubungan mereka berdua mendingin. Sangat dingin hingga pertanyaan dan pengingat yang biasa disampaikan justru membuat jengah. Pekerjaan yang tak pernah jadi penghalang sebelumnya, belakangan sering dikambinghitamkan. Dulu, selarut dan selelah apa pun, mereka akan pulang ke apartemen. Belakangan, studio dengan sofa yang tentu saja kalah empuk dengan tempat tidur sering menjadi pilihan yang lebih menggoda.

Joon-ah, hari ini aku bisa pulang cepat. Kau mau makan apa?

Nanti aku yang masak.

Namjoon kembali membaca pesan yang dikirim Yoongi kemarin. Rasa bersalah menyergapnya karena telah mengabaikan pesan itu. Semakin banyak pesan yang dibacanya, semakin nyeri hatinya. Baik Namjoon maupun Yoongi memang jarang menunjukkan afeksi lewat pesan, tapi ia tak menyangka komunikasi mereka sudah seburuk ini. Banyak pesan yang tak berbalas, baik dari dirinya maupun Yoongi.

Semakin ke atas, kepala Namjoon semakin pening. Pesan mereka didominasi pertengkaran yang diakhiri dengan salah satunya berhenti menanggapi. Bahkan untuk perkara remeh saja mereka bisa bertengkar. Sesederhana memindahkan buku dari tempatnya semula pun bisa memantik emosi.

Tangan Namjoon behenti pada percakapan yang menyebut seseorang dari masa lalu. Percayalah, Namjoon bukan tipe pencemburu. Tapi entah setan mana yang merasuki hingga ia mempertanyakan perasaan Yoongi. Semuanya memburuk ketika Yoongi ikut menyebutkan nama yang meninggalkan luka mendalam di hati Namjoon, dulu. Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi dengan hubungan mereka?

Keheningan mengisi studio. Berbeda dengan hari-hari biasanya, malam ini Namjoon tak ingin mendengarkan musik sama sekali. Bunyi-bunyian terasa sumbang di telinganya. Hanya helaan napas dalam yang mengisi. Hanya penyesalan

Apakah cinta itu sudah mati?

Mengapa cinta itu bisa mati?

Mungkinkah cinta itu hidup kembali?

Pertanyaan-pertanyaan bernada serupa muncul satu per satu tanpa bisa Namjoon tolak. Makin lama makin sesak. Ada rasa nyeri yang perlahan menyergap, membuat Namjoon makin terkungkung dalam kesedihan.

Dering ponsel yang tak kunjung berhenti adalah satu-satunya alasan Namjoon untuk menghalau pertanyaan yang terus membanjiri kepalanya. Jika bukan karena nama Yoongi yang tertera di sana, tentu Namjoon akan menolak panggilan itu lalu mematikan ponselnya.

“Ya, Hyung?” sapa Namjoon karena tak kunjung ada suara dari seberang.

“Sudah larut, Joon-ah. Pulang, ya? Kau butuh istirahat.”

Lidah Namjoon kelu. Di satu sisi, ia bersyukur karena Yoongi masih mencemaskannya. Sementara di sisi lain, Namjoon terheran-heran. Setelah menyampaikan keinginan untuk putus, bagaimana Yoongi masih punya energi untuk bertemu Namjoon? Tidakkah ia takut dibombardir pertanyaan lagi oleh Namjoon?

“Joon-ah.” Kembali, suara itu memanggil.

Serak yang didengar Namjoon jelas bukan serak yang biasa. Sama dengan Namjoon, Yoongi pasti sudah menangis. Sama dengan Namjoon, pasti banyak hal yang memenuhi pikiran Yoongi. Namjoon tersenyum miris. Sebesar ketakutan Yoongi mendapatkan pertanyaan-pertanyaan menuntut dari Namjoon, sebesar itu pula kekhawatirannya kepada Namjoon. Dan di dunia ini, tak ada orang yang lebih memahami Yoongi dibandingkan Namjoon.

“Iya, aku akan pulang sebentar lagi, Hyung,” kata Namjoon. “Istarahatlah lebih dulu. Hyung tidak perlu menungguku.”

Hening. Tak ada respons dari Yoongi. Menyadari dampak dari kalimatnya tadi, Namjoon pun merutuki diri sendiri. Mengapa ia harus menaburkan garam di atas luka yang masih menganga?

“Hati-hati di jalan, Joon-ah.”

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Yoongi sebelum mengakhiri sambungan telepon. Namjoon meletakkan ponsel, melipat kedua tangannya di atas meja, menumpukan keningnya di sana, lalu membiarkan air matanya jatuh satu per satu hingga menjadi isak tangis yang pilu.

***

Pelan-pelan, Namjoon membuka pintu kamar. Dari remang cahaya yang menerobos lewat tirai jendela apartemen, Namjoon melihat Yoongi yang tidur pulas di sisi kanan tempat tidur mereka. Karena tak ingin membangunkan Yoongi, Namjoon pun kembali menutup pintu. Alih-alih mandi di kamar mandi ruang tidur utama, Namjoon melangkah ke ruang penyimpanan baju, mengambil piyama dari tumpukan paling atas, lalu bergegas ke kamar mandi.

Berada di bawah kucuran shower yang mengalirkan air hangat, menggiring pikiran Namjoon kembali ke masa-masa awal Namjoon dan Yoongi memutuskan untuk tinggal bersama dan menjatuhkan pilihan pada apartemen milik Namjoon. Lebih mudah memindahkan barang-barang Yoongi yang ringkas dibanding berpot-pot tanaman dan buku-buku koleksi Namjoon.

Kelebatan kenangan tentang Yoongi yang protes, meminta Namjoon memindahkan koleksi plushie dari ruang tidur utama ke ruangan lain karena Yoongi merasa diawasi oleh mainan-mainan itu di malam hari, membuat Namjoon tersenyum. Keriuhan dapur ketika Yoongi mengajari Namjoon memasak nasi goreng kimchi adalah kenangan yang kemudian menyusul. Lagi, Namjoon tersenyum. Suara Eminem dan Kendrick Lamar yang mengisi apartemen, ditambah aroma kopi yang diseduh Yoongi adalah kombinasi yang menyambut pagi hari Namjoon selama mereka tinggal bersama. Kombinasi yang juga membuat Namjoon tersenyum. Sayangnya, senyum itu langsung luntur, berganti wajah murung ketika Namjoon kembali menjejak realita. Yoongi tak akan lagi menjadi bagian dari rutinitas paginya. Tidak setelah Namjoon siap untuk melepaskannya.

Namjoon tak tahu berapa lama waktu yang dihabiskannya di kamar mandi. Yang jelas ia bersyukur karena Yoongi masih pulas di tempat tidur ketika Namjoon membuka pintu kamar. Setelah menenangkan diri dengan teknik pernapasan yang telah dipraktikkannya bertahun-tahun, Namjoon melangkah ke tempat tidur, menyibak selimut, lalu berbaring tepat di sebelah Yoongi. Tangan kirinya melingkari pinggang Yoongi sementara kepalanya berada tepat di belakang kepala Yoongi.

“Joon-ah, kau sudah pulang?” tanya Yoongi.

Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Namjoon hanya bergumam sambil menganggukkan kepalanya.

“Tidurlah. Sekarang sudah larut,” kata Yoongi yang berusaha menahan kantuk.

Namjoon kembali mengangguk. Kali ini ia menggeser posisi tubuh hingga keningnya menempel di antara pundak dan leher Yoongi. Saat itulah air matanya mulai menetes.

***

Jam digital di pojok kanan layar komputer menunjukkan pukul 11:13 ketika Namjoon akhirnya meletakkan pulpen, menyerah untuk menuliskan lirik lagu yang akan menjadi proyek duet Yonghyun dan Namjoon. Sejak dua hari yang lalu, Namjoon tak bisa berpikir jernih. Hanya ada pertanyaan seputar hubungannya dengan Yoongi yang memenuhi kepalanya makin beranak-pinak, tapi jawaban yang melegakan tak kunjung datang.

Namjoon paling tak suka ketika tak bisa menyelesaikan pekerjaan karena masalah pribadi. Biasanya ia selalu punya cara untuk menyingkirkan masalahnya sejenak, lalu kembali memikirkannya kembali setelah menyelesaikan tanggung jawabnya. Namun kali ini berbeda. Tak ada kotak yang mampu menampung masalahnya dengan Yoongi. Tak ada ruang yang sanggup menyimpan karena ketika Namjoon mencoba membayangkan wujud masalah itu untuk disimpan dalam kotak seperti yang diajarkan terapisnya, masalah itu berwujud cair. Volumenya semakin bertambah hingga tak ada wadah yang muat. Tidak juga bunker yang biasa jadi tempat penyimpanan rahasia terdalamnya.

Suara ketukan di pintu studio membuat Namjoon akhirnya beranjak dari kursi yang didudukinya sejak jam delapan pagi, jauh lebih pagi dari jadwal biasanya. Hoseok dengan tentengan dua gelas kopi di tangan kanan dan kantung berisi roti lapis adalah pemandangan yang menyambut ketika Namjoon membuka pintu.

“Hei,” sapa Namjoon kikuk. “Masuklah.”

“Kau pasti belum makan, jadi kubawakan makanan untukmu,” kata Hoseok sambil berjalan ke sofa lalu meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya di atas meja kayu.

Tanpa perlu bertanya, Namjoon tahu kenapa Hoseok datang ke studionya dengan makanan. Siapa lagi kalau bukan Yoongi yang meminta Hoseok untuk melihat kondisi Namjoon dan memastikan lelaki berkaca mata tebal itu sudah makan dengan benar.

“Terima kasih,” kata Namjoon sambil menarik kursi yang tadi didudukinya ke dekat meja, mengambil posisi agar bisa berhadapan dengan Hoseok. Alasan lain Yoongi meminta Hoseok datang ke studio Namjoon tentu saja supaya ada orang yang bisa jadi pendengar yang baik bagi Namjoon.

Tak ada percakapan untuk sejenak. Keduanya sibuk mengunyah roti lapis dan menyeruput minuman masing-masing. Namjoon bersyukur karena Hoseok tak mendesak, tak melontarkan pertanyaan yang memancing Namjoon untuk bercerita. Ia tahu betul Hoseok memberi Namjoon waktu hingga siap bercerita.

Setelah menelan kunyahan terakhir roti lapis dan menyeruput ice americano-nya hingga hanya menyisakan sepertiga gelas, akhirnya Namjoon bicara.

“Kau tadi sempat mampir ke studio Yoongi Hyung?”

Hoseok mengangguk.

“Bagaimana keadaannya?”

“Sama mengenaskannya denganmu.”

Namjoon tertawa getir. Memangnya apa yang diharapkan? Meski Yoongi yang melontarkan ajakan untuk putus, bukan berarti lukanya lebih ringan daripada Namjoon, ‘kan?

“Apakah ia sudah makan?”

“Seokjin Hyung tadi membawakan roti lapis dan teh hangat untuknya. Ia berjanji akan memastikan Yoongi Hyung menghabiskan makanannya sebelum aku ke sini.”

Setidaknya ada orang yang menemani dan memastikan Yoongi makan. Meski tak bisa sepenuhnya membuat Namjoon lega, tapi hal itu cukup untuk membuatnya sedikit lebih tenang. Tadi pagi Namjoon merasa mereka sedang bermain daruma terguling. Yoongi bangun pagi sekali dan berusaha untuk bertindak dan bersuara sepelan mungkin. Sepertinya sengaja supaya Namjoon tidak terbangun. Sia-sia karena Namjoon sudah bangun setidaknya sejam sebelum Yoongi. Hanya saja Namjoon tak kuasa untuk bangun. Ia ingin berbaring di sebelah Yoongi selama mungkin.

“Hoseok-ah, apakah hubungan kami tak bisa lagi diselamatkan?” tanya Namjoon dengan suara parau.

“Hanya kalian yang tahu jawabannya,” jawab Hoseok seraya meletakkan gelasnya.

“Yoongi Hyung pasti sudah lama memikirkannya, kan?”

“Kau tahu Yoongi Hyung orang yang seperti apa.”

Namjoon menyandarkan kepala di sandaran kursi. Matanya tertuju pada langit-langit studio.

“Aku butuh waktu untuk memikirkan dan mencerna semuanya.”

“Tentu saja.”

Hoseok menghela napas sambil menatap Namjoon prihatin. Sahabatnya ini tak bisa menyembunyikan kekacauannya dengan baik jika sudah sendirian di studio. Di luar dari itu, baik Namjoon maupun Yoongi sudah terlatih untuk terlihat baik-baik saja. Namun, jika sudah di studio dan hanya ditemani orang-orang terdekat, topeng itu terlucuti sempurna.

“Aku tak tahu kapan aku siap, Hoseok-ah. Aku tahu aku hanya mengulur waktu dan itu sama sekali tidak sehat. Aku tahu bahwa lari dari masalah bukan solusi, tapi aku benar-benar belum bisa berpikir jernih.”

Melihat Namjoon yang merana seperti ini adalah hal yang memilukan bagi Hoseok. Ia tak sampai hati melihat sahabatnya seperti ini. Namun, ia tahu bahwa masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh Namjoon dan Yoongi. Campur tangan orang lain sama sekali tak diperlukan.

***

Pukul tiga dini hari dan Yoongi masih terjaga. Ia menyandarkan punggung pada dinding. Tangan Yoongi membelai rambut Namjoon sembari tak melepaskan tatapannya dari Namjoon yang tidur di sampingnya. Namjoon yang polos, Namjoon yang memikul tanggung jawab dan beban di pundaknya, Namjoon yang masih harus mendapatkan beban tambahan akibat permintaan Yoongi untuk berpisah.

“Maafkan aku, Namjoon-ah. Aku takt ahu apa lagi yang bisa kulakukan selain ini. Aku lebih baik kehilanganmu sebagai seorang kekasih daripada kehilanganmu sepenuhnya,” bisik Yoongi, masih sambil membelai rambut Namjoon.

“Jika kita tetap bertahan, pertengkaran itu akan terus terulang. Kita akan saling menyakiti lagi dan lagi. Aku ingin kita berpisah sebelum semuanya runtuh,” lanjut Yoongi. Tenggorokannya seperti tercekik saking kuatnya ia menahan tangis.

“Aku tak ingin kehilanganmu sepenuhnya, Namjoon-ah. Kau terlalu berharga untukku.”

Yoongi mulai menangis. Ia membiarkan air mata mengaliri kedua pipi tanpa buru-buru mengusapnya. Tidak, Yoongi tak perlu menghapusnya, tak perlu menutupi air matanya. Bukankah air mata adalah salah satu cara tubuh untuk memberitahu bahwa hal buruk baru saja terjadi di hidupmu? Kehilangan Namjoon sebagai kekasih adalah hal yang buruk, tetapi kehilangan Namjoon sepenuhnya tanpa bisa lagi memanggilnya sebagai seorang sahabt adalah hal yang terburuk.

***

Yoongi bangun dengan Namjoon yang melingkarkan lengan di pinggang Yoongi, mendekap Yoongi erat-erat seolah takut untuk ditinggalkan. Sinar matahari pagi menerobos sela-sela tirai dinding kaca apartemen yang mereka tinggali. Biasanya, Yoongi akan berbalik dari posisinya untuk menghadap Namjoon. Posisi Namjoon yang memunggungi arah matahari terbit memberikan efek hangat yang disukai Yoongi. Namun untuk pagi ini Yoongi memilih untuk tetap berbaring di posisinya.

“Maafkan aku sudah menahanmu karena keegoisanku, Hyung. Maafkan aku yang butuh waktu lama untuk melepaskanmu,” bisik Namjoon yang telah menyadari bahwa Yoongi sudah bangun.

“Harusnya aku tahu kau melakukannya untuk kebaikan kita. Harusnya aku sadar hubungan kita sudah tidak sehat. Maafkan aku yang telah keras kepala dan berusaha menahanmu. Maafkan aku yang terlalu lama berkutat dengan ketakutanku, Hyung. Maafkan aku,” bisik Namjoon seraya mempererat pelukanya kepada Yoongi.

Yoongi pun menggerakkan tangan kirinya untuk meraih tangan Namjoon. Jemarinya mengisi sela-sela jari Namjoon dan menggenggamnya erat-erat. Kali ini ia tak melawan tangisnya sama sekali. Kali ini, ia memilih untuk menangis bersama Namjoon, mengalirkan semua emosi yang selama ini ia tahan.

“Aku mencintaimu, Kim Namjoon. Dalam bentuk apa pun itu, cinta itu akan selalu ada untukmu,” kata Yoongi dengan suara parau.

“Aku juga mencintaimu, Hyung. Selalu,” balas Namjoon yang semakin membenamkan kepalanya di pundak Yoongi.

***

Aroma doenjang jjigae tercium begitu Namjoon membuka pintu kamar. Matanya menangkap sosok Yoongi yang sedang mencicipi sup kesukaannya. Pemandangan itu terlihat asing sekaligus familier di saat bersamaan. Asing karena beberapa bulan belakangan ini Namjoon tak pernah disambut pemandangan serupa, familier karena Yoongi yang pintar memasak sering berkutat di dapur untuk mencoba resep baru.

“Oh, kau sudah bangun?” tanya Yoongi yang telah menyadari keberadaan Namjoon di dapur.

“Iya. Baunya enak sekali.”

Senyum yang disunggingkan Yoongi barusan adalah senyum pertama yang dilihat Namjoon sejak beberapa hari terakhir. Senyum itu membuat Namjoon tahu bahwa ia tak akan menyesal telah menyetujui permintaan Yoongi. Namjoon tahu bahwa ia hanya membantu Yoongi untuk melepaskannya dari rantai yang menahan mereka selama ini.

“Kau cuci muka dulu sana. Nanti kita sarapan bersama,” kata Yoongi.

Namjoon beberapa tahun yang lalu akan menggerutu lalu berjalan untuk mengecup pipi Yoongi. Tindakan yang selalu menuai protes dari Yoongi yang tak suka bau mulut di pagi hari. Sementara Namjoon beberapa belakangan ini, tunggu, Namjoon dua bulan belakangan ini tak lagi mendapati Yoongi di dapur pagi-pagi. Namjoon dua bulan belakangan ini telah kehilangan sesuatu yang dulunya begitu ia sukai. Benar kata orang, sesuatu akan terasa berharga setelah kita kehilangan.

“Joon-ah,” panggil Yoongi.

“Ah iya, aku akan cuci muka. Hyung selesaikan saja masaknya. Nanti biar aku yang menyiapkan peralatan makan,” kata Namjoon yang dijawab Yoongi dengan anggukan dan seulas senyum.

Ketika berjalan ke kamar mandi, Namjoon menyadari bahwa langkahnya terasa lebih ringan dari kemarin. Dadanya tak lagi sesak, kepalanya tak terasa berat, pun pertanyaan-pertanyaan yang tempo hari berjejalan kini tak lagi memenuhi benaknya. Perlahan Namjoon bisa kembali bernapas. Lelaki yang mengenakan piyama biru muda itu semakin menyadari bahwa ia dan Yoongi bisa melewati masa-masa sulit ini setelah kembali ke meja makan dan menyantap sarapan bersama Yoongi yang duduk di hadapannya. Ada jarak di antara mereka, Namjoon tahu itu. Namun kali ini jarak itu tak lagi berupa jurang. Ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Mereka hanya butuh waktu untuk kembali menyeberanginya.

***

What colour are the waves, usually?

for they’re pure white when they break

Did you survive the drift ok?

Still as a pebble, could you stay?

Please turn on the moon

In my small chimney, could you stay?

Please don’t take away the name that only you know

I don’t need magic

I don’t need any old wildflower

Don’t be like this

Just, [stay] here

Suara khas Namjoon melantunkan lirik dalam lagu duetnya dengan eAeon. Lagu yang baru dirilis beberapa hari yang lalu itu mengiringi kafe di salah satu jalanan Hannam-dong, menemani Yoongi yang sedang duduk di salah satu sudut sambil membaca buku yang baru dibelinya minggu lalu. Buku yang langsung Yoongi tutup begitu Namjoon membawakan bagiannya.

Lirik itu jelas memuat cerita tentang mereka berdua, tentang hal-hal yang berkecamuk di pikiran Namjoon, tentang pertanyaan-pertanyaan yang murni timbul karena mencemaskan keadaan Yoongi.

Did you survive the drift ok?

Aku berhasil melewatinya berkat dirimu, Joon-ah. Ingin rasanya Yoongi menjawab langsung pertanyaan yang disampaikan Namjoon lewat lagu kolaborasinya.

Please don’t take away the name that only you know

Joon-ah, aku masih menyimpan kontakmu dengan panggilan sayang itu. Lagi, Yoongi menjawab dalam hati, disusul dengan bibirnya yang melafalkan “Moonie” setelahnya.

Satu tahun berlalu setelah Yoongi dan Namjoon memutuskan untuk berpisah. Satu tahun telah berlalu tanpa Namjoon di sisi Yoongi. Ketika Namjoon memberi tahu Yoongi tentang keinginannya untuk menepi ke Eropa, Yoongi memilih untuk mendukung keputusannya. Namjoon butuh ketenangan untuk pulih dari luka, begitu pula dengan Yoongi. Berada di tempat yang terus-terusan mengingatkan pada kenangan tentang seseorang yang sangat berarti dan pernah menjadi bagian dari hidup bukanlah hal yang mudah. Baik Namjoon maupun Yoongi sama-sama menyadarinya.

Ketika Namjoon menyampaikan keinginannya untuk pindah sejenak ke Eropa, Bang Shihyuk pun merestui. Entah karena telah menyadari situasi yang dihadapi Namjoon dan Yoongi saat itu, atau memang tulus mendukung keinginan Namjoon untuk mendalami musik. Tak berapa lama setelahnya, Yoongi memutuskan untuk tinggal di Australia selama tiga bulan, berdalih butuh waktu untuk menyelesaikan mixtape terbarunya. Permintaan yang juga langsung disetujui.

Dua bulan belakangan ini, Namjoon mulai mengirimkan foto-foto pantai dan pegunungan ke surel Yoongi. Kadang disertai catatan kecil berupa penggalan lirik, kadang cerita singkat tentang keseruannya tinggal di Norwegia. Terakhir, Yoongi mendapatkan surel dari Namjoon seminggu yang lalu. Foto ombak yang diambil di salah satu pantai di wilayah Sardinia disematkan di sana. Tak ketinggalan, sebuah ajakan untuk bertemu hari ini, di kafe dengan nuansa art deco yang kental.

“Kuharap aku tidak terlambat, Hyung.” Suara bariton yang dulu begitu akrab di telinga Yoongi itu pun kembali terdengar, memancing senyum di wajah Yoongi.

Yoongi mengetuk layar ponselnya, melihat jam digital yang menampilkan 3:00 pm di layar.

“Tepat waktu,” kata Yoongi setelahnya.

Namjoon pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Yoongi. Lesung pipinya menyembul begitu Namjoon tersenyum sambil menatap Yoongi. Sementara itu, tangannya sibuk merogoh tas selempang yang dibawanya.

“Bagaimana kabarmu, Joon-ah?”

“Sangat baik. Bagaimana denganmu, Hyung?”

“Aku juga baik,” jawan Yoongi yang tanpa sadar telah mempererat genggamannya pada cangkir di hadapannya.

“Ah ini dia,” ucap Namjoon bersemangat seraya mengeluarkan boneka kayu berbentuk kucing dan menyerahkannya kepada Yoongi. “Hadiah kecil untukmu, Hyung. Belum sehalus buatan pengrajin kayu, tapi setidaknya bentuknya masih menyerupai kucing.”

Yoongi tersenyum mendengarnya. Senyumnya makin lebar ketika menerima boneka kayu itu. Ibu jarinya menelusuri ukiran dari boneka sebesar kepalan tangan hasil karya Namjoon. Permukaannya halus, menunjukkan keluwesan pengrajinnya.

“Kau semakin sabar dan telaten saja,” komentar Yoongi.

Namjoon terkekeh sambil mengibaskan tangan di depan wajah.

“Bagian dari terapi, ya?” tanya Yoongi hati-hati.

Namjoon mengangguk.

“Omong-omong aku suka lagu duetmu dengan Yonghyun Hyung. Liriknya sangat cocok dengan aransemen yang dibuat Yonghyun Hyung.”

Kali ini Namjoon menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara matanya mengarah pada lukisan yang dipajang di dinding. Tentu saja Yoongi tahu bahwa lagu lirik itu ditulis berdasarkan kisah mereka, ditujukan secara spesifik padanya. Tak mungkin Yoongi tak memahami maksud yang ingin disampaikan Namjoon dalam setiap liriknya.

“Aku berhasil melewati masa-masa sulit itu berkat dirimu, Joon-ah,” kata Yoongi setelah berhasil mengumpulkan keberanian dalam dirinya. “Aku juga masih di sini.”

Namjoon mengerjapkan mata, berusaha memahami apa yang baru saja disampaikan Yoongi. Kalimat pertama jelas merupakan jawaban dari salah satu pertanyaan yang Namjoon sematkan di lagunya. Namun kalimat kedua, apa maksudnya?

“Mari kita mulai semuanya dari awal. Mari saling mengenal diri kita yang baru, Moonie,” ucap Yoongi.

Namjoon terpaku, memandang Yoongi dengan tatapan tak percaya. Tak ada janji yang tersemat di sana. Namun kesempatan jelas dibuka. Makanya Namjoon tersenyum hangat sambil menganggukkan kepalanya.

You know what people say? The best time for a new beginning is always now.

 

—fin