Work Text:
Genre: sci-fi and fantasy
Keywords: Acanthus, Minimart, Red
Rated: Teenage
Author’s note: All the characters here are belong to God and their families. This story was written in Bahasa Indonesia, and it's my very first time writing again, after a very long time, and it’s because of GYUHAO!!! Please don't expect too much. Nonetheless, I hope you all can enjoy the ride!
Warning(!): -
This story was made for GyuHao FanDays Event 2021 – The Blooming Journey
-oOo-
Minghao menyadari Mingyu memiliki kebiasaan berbeda akhir-akhir ini. Salah satunya adalah kebiasaan makan sarapan lebih awal yang ia ketahui dari mangkok sereal yang baru dicuci, namun sudah tertata rapi di rak piring ketika ia mengunjungi apartemen Mingyu di pagi hari. Padahal biasanya Mingyu tidak akan sarapan sebelum jarum jam menunjukkan pukul delapan, karena ia susah bangun pagi dan selalu meluangkan waktunya untuk memasak berbagai hidangan, bukan hanya semangkuk sereal.
Kunjungan rutin ke apartemen Mingyu yang hanya terpisah beberapa lantai dari milik Minghao, adalah sekadar untuk mengecek apakah si jangkung masih hidup dan baik-baik saja. Salah satu amanah dari ayah Mingyu yang sempat tidak memberi izin kepada anak sulungnya untuk hidup sendiri, lantaran kadang terlalu asik bereksperimen dengan bahan-bahan untuk parfum buatannya, hingga lupa makan. Namun setelah diyakinkan bahwa akan ada Minghao yang dengan senang hati menjadi pelanggan masakan Mingyu, itu artinya ia akan membuat Mingyu rutin memasak dan otomatis makan bersamanya. Barulah kemudian Paman Kim mengizinkan sang anak membawa seluruh alat-alatnya pindah ke apartemen yang baru dibeli.
“Oh, sudah datang. Mau sarapan dulu? Aku bisa siapkan nasi goreng kalau kau mau,” sapa si pemilik rumah yang baru keluar dari kamar dengan handuk di kepala.
Minghao ingin segera menyambar handuk itu dan membantu Mingyu mengeringkan rambut, namun ia sedang memegang sebuah toples di tangan. Rasa ingin tahunya lebih mendesak dibanding rambut Mingyu yang baru setengah kering.
“Tidak ada orang yang menyimpan kelopak bunga di dalam toples, Gyu,” Minghao menimang-nimang toples kaca berisi kelopak bunga Flame Acanthus di tangannya. Masih segar, tampak cantik dengan warna merah menyala. “Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau siapa saja bebas menyimpan kelopak bunga di mana mereka mau, tapi ini tetap terlihat aneh. Damn Gyu, how could you keep these gorgeous red petals inside a freaking jar?!”
Selain mengamati kebiasaan sarapan lebih awal, Minghao juga beberapa kali melihat toples berisi kelopak bunga di apartemen Mingyu. Namun karena ia menganggap itu hanya dekorasi, atau mungkin salah satu bahan membuat parfum, maka ia memilih diam. Tetapi kali ini berbeda. Karena yang satu ini ia temukan di lemari penyimpanan makanan saat akan merampok sereal Mingyu. Maka semakin tumbuhlah rasa penasaran dalam kepalanya.
“Kau lupa aku keturuan Dionysus, sekaligus pembuat parfum, Hao?” Salah satu alis Mingyu terangkat bingung, sempat terlintas di pikirannya jika teman masa kecilnya sudah lupa asal muasal keluarga Mingyu. Well, dahulu kala, keturunan Dewa Anggur—Dionysus—hanya termasyhur dengan kemampuan mereka meracik minuman anggur terbaik di muka bumi. Namun seiring berjalannya waktu, keturunan dewa yang satu ini rupanya cukup terampil untuk melebarkan sayap ke bidang lain, salah satunya parfum, yang tidak perlu lagi ditanyakan kualitasnya.
“Tetap saja—”
“Sudah, kembalikan saja sini. Kalau itu sampai pecah, ayah akan menceramahiku karena membawa bahan yang kurang saat presentasi produk terbaru.” Mingyu mengambil toples dari tangan Minghao dengan gerakan lembut, tidak memaksa, namun Minghao melepaskan pegangannya pada benda tersebut dengan suka rela. Meski begitu, kedua manik cokelat terangnya mengikuti gerakan Mingyu saat ia kembali meletakkan setoples itu ke tempat semula, yaitu di lemari makanan. Dekat dengan kotak sereal kesukaan Mingyu.
Merasakan tatapan Minghao yang masih melekat pada toples kaca berisi kelopak bunga dan kotak serealnya, Mingyu mendengus pasrah sambil berkacak pinggang. “Aku harus membawanya besok pagi ke lab, Hao. Bisa lupa kubawa jika diletakkan di meja. Kalau berdekatan dengan sereal kan lebih mudah menemukannya.”
Syukurlah kali ini Minghao mengangguk tanda menerima kelakar Mingyu, karena ia ingat kalau kemampuan mengingat pemuda yang satu ini sangatlah buruk. Pengecualian bagi hal-hal terkait produk ciptaannya. Diam-diam Minghao bersyukur pria jangkung ini masih mengingatnya sebagai teman. Pengalaman terburuk dalam sejarah adalah ketika Mingyu lupa jika ia membawa mobil mewahnya ke bandara, dan baru ingat untuk membawa mobil malang itu pulang dari parkiran setelah dua bulan berlalu. Setelah membayar karcis parkir yang luar biasa mahal tentunya, karena parkiran bandara tidak memberi diskon spesial, bahkan untuk para keturunan dewa sekalipun.
“Bagaimana kalau aku sarapan sereal saja, kemudian nanti kita makan siang di luar?” Minghao menahan tangan Mingyu yang hendak menutup lemari makan miliknya, yang kemudian dibalas dengan tatapan masam dari si pemilik rumah.
“Aku punya ide lebih baik. Bantu keringkan rambutku dan akan kubuatkan sepiring nasi goreng dengan potongan daging.” Tanpa menunggu lagi, Mingyu memberikan handuk di kepalanya ke tangan Minghao yang kosong, “Rumor kalau keturunan Hades tidak boleh makan masakan berbahan daging paling enak buatan Kim Mingyu, tidak benar kan?”
Yang selanjutnya terjadi adalah handuk rambut Mingyu berubah menjadi senjata andalan Minghao atas lelucon basi yang diberikan padanya. Membuat Mingyu meminta ampun sampai hampir berlutut menyerah di dapur setelah teringat keturunan Hades yang satu ini kadang susah sekali memberi ampunan.
Berbeda dengan Keluarga Kim yang merupakan keturunan Dewa Dionysus, keluarga Xu adalah keturunan Dewa Hades. Mereka terkenal dalam bidang seni dan bisnis, termasuk salah satunya adalah Ayah Minghao yang bekerja sebagai kurator museum dan cukup disegani. Darah seni ayah dan ibunya menurun pada Minghao yang juga memiliki ketertarikan pada bidang seni lukis dan tari, namun untuk karir, rupanya ia lebih memilih mengasah kemampuan di bidang hitung-menghitung dan kini tengah menjalani kuliah akuntansi bisnis. Itu sebabnya Paman Kim seringkali merayu Minghao untuk mau bekerja di perusahaannya setelah ia lulus nanti. Sudah pasti obrolan santai tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan adu mulut antara ayah dan anak, karena Mingyu mengklaim ia sudah lebih dulu meminta Minghao untuk jadi akuntan pribadinya.
Kembali kepada dua cicit keturunan dewa-dewi ini, syukurlah mereka berhasil menyelesaikan sarapan tanpa baku hantam. Sebelum jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat, Minghao sudah selesai mencuci alat masak, piringnya, dan juga piring milik Mingyu yang ternyata turut tergoda dengan masakannya sendiri, jadi ia sarapan untuk kedua kalinya.
-oOo-
“Tidak mau menginap saja?” lengan Mingyu melingkari pinggang ramping yang ada di depannya. Menahan Minghao yang baru saja mengenakan kembali sepatunya dan tinggal 10 langkah dari pintu apartemen. Merasakan kehangatan di punggungnya, Minghao memilih menyandarkan diri pada dada bidang Mingyu, yang disambut dengan sangat antusias, terbukti dari makin eratnya kungkungan lengan di tubuhnya. Mereka baru pulang dari perburuan hadiah untuk ibu Minghao ketika langit gelap. Keduanya sempat mampir membeli makanan kecil di minimarket untuk dinikmati di taman sambil menikmati sunset.
Permintaan khusus dari Minghao karena jarang-jarang ia bisa berkeliaran di ruang terbuka dan bebas dari jadwal perkuliahan yang padat. Sebagai yang mempunyai waktu lebih fleksibel, Mingyu tidak punya alasan untuk menolak. Meski tidak melanjutkan ke perguruan tinggi seperti sang sahabat, Mingyu cukup disibukkan dengan rutinitasnya bolak-balik pusat kota ke ujung kota lain, untuk mengunjungi para petani bunga yang menjadi rekan bisnis ayahnya. Larut dalam obrolan dan suasana sore hari, tidak heran jika jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika mereka sampai di apartemen.
Minghao sudah lebih dahulu membersihkan diri, sementara Mingyu menyiapkan makan malam yang dibeli dalam perjalanan pulang. Setelah makan malam, Minghao menunggu sampai si tuan rumah selesai mandi sebelum berpamitan. Namun rupanya Kim Mingyu masih enggan melepaskannya pergi, meski mereka sudah menghabiskan waktu bersama seharian penuh.
“Aku ada tugas untuk besok, Gyu. Kalau tidak kukerjakan, bisa-bisa aku tidak bisa ikut ujian. Profesor mata kuliah ini cukup galak,” gumaman Minghao terdengar jelas, karena kini Mingyu mengistirahatkan kepalanya di pundak yang lebih muda.
Mingyu tentu merajuk, menolak percaya karena sahabatnya yang cerdas bukan main ini pasti bisa menyelesaikan tugas dalam lima—ah tidak, sepuluh menit saja. Bibirnya mengerucut lucu bersamaan dengan protes yang dilayangkan, “Jadi kau benar-benar kemari hanya untuk menculikku, kemudian menitipkan hadiah ibumu di sini??”
“Selain menculik putra kesayangan Paman Kim, aku juga sarapan, makan malam, dan mencuci piring, apa kau lupa?” Minghao memutar badannya, kini berhadapan langsung dengan wajah cemberut yang ingin ia abadikan dalam memori ponselnya. “Kau harusnya berterima kasih karena bebas dari satu tugas rumah hari ini.”
Namun belum sempat Mingyu merajuk lebih ganas, ia dikagetkan dengan Minghao yang mengendus sisi lehernya tiba-tiba.
“Hei, Gyu, kau punya sabun lain? Yang ini baunya beda dengan yang kugunakan tadi.”
“Hanya… hanya parfum baru. K-kau suka?” Mingyu merutuki kerongkongannya yang mendadak kering, sehingga membuatnya terbata-bata. Atau harusnya ia menyalahkan degup jantungnya yang mendadak jadi tidak beraturan?
“Mhm, baunya enak.” Minghao membalas dengan seadanya, karena ia begitu sibuk membaui sisi leher Mingyu. Bau parfumnya betul-betul menarik, menurut Minghao. Tanpa sadar, ia semakin mengeratkan diri pada Mingyu.
Mingyu senang-senang saja, namun di sisi lain, ia heran dengan respon yang didapat. ‘Enak? Hanya itu saja?’
Tapi demi memainkan peran, Mingyu segera melancarkan improvisasi terbaik yang bisa ia lakukan, “Aku mencoba bahan baru untuk parfum ini. Kalau kau suka, aku bisa buatkan satu untukmu.”
Mendengar tawaran tersebut, Minghao mengalihkan perhatian dan berhenti mengendus leher Mingyu seperti anak anjing, “Tapi bukankah aromanya akan berbeda, jika dipakai orang lain?”
“Kita, oh maaf, maksudku aku, aku punya banyak waktu untuk membuat yang sesuai dengan seleramu.” Saat mengatakannya, kedua manik Mingyu memancarkan sesuatu yang susah ditafsirkan oleh Minghao, entah itu harapan, kesedihan, keresahan? Terlalu banyak emosi yang dipancarkan dalam satu waktu.
“Ya, ya, ya, tentu. Kau punya selamanya untuk itu, Mingyu. Tenang saja, aku berencana untuk hidup dalam waktu yang lama di dekatmu.” Minghao memberi beberapa tepukan lembut diberikan di kedua pipi Mingyu, dengan harapan gestur sederhana ini dapat meredakan pancaran keresahan di sana.
Sementara itu, mata Mingyu melebar, dadanya berdegup lebih kencang setelah mendengar jawaban dari Minghao. Mungkin terdengar seperti kalimat biasa, namun hal itu serupa harapan bagi seorang Kim Mingyu.
“Baiklah, akan kurelakan kau pergi malam ini, calon akuntan perusahaanku,” sebuah cengiran lebar terpatri di wajah Mingyu, meski ia melepaskan pelukan pada pinggang yang kelewat nyaman untuk dipeluk dengan berat hati. Maniknya menatap milik Minghao, mencoba mencari celah untuk mendampingi teman baiknya pulang dengan selamat, “Kau yakin mau masuk ke lift sendirian? Tidak perlu kuantar?”
Tawaran tersebut tanpa ragu dijawab dengan anggukan dan gerakan balik badan secepat kilat, tanda bahwa Minghao sudah bulat tekad untuk pulang sendirian. Permintaan Mingyu untuk segera dikabari setelah sampai di rumah dibalas dengan gesture tangan ‘oke’, sebelum kemudian pintu apartemen menutup perlahan.
-oOo-
Mingyu sedang duduk di depan televisi dengan semangkuk kelopak bunga segar di pangkuan. Ia tidak sepenuhnya menonton apa yang ditampilkan di layar kaca, karena menunggu kabar dari seseorang. Ketika ponselnya berdenting menandakan sebuah pesan masuk dan berisi info yang ia tunggu, hatinya terasa lega. Minghao mengabari bahwa ia sudah rebahan di kasurnya dengan nyaman.
Tepat setelah layar ponselnya meredup, perut Mingyu berbunyi dengan keras, menandakan minta diisi. Namun ia tahu benar, bukan makanan yang sedang tubuhnya inginkan, melainkan kelopak-kelopak segar bunga Acanthus yang ada dipangkuannya. Sudah berbulan-bulan lebih hal ini terjadi padanya dan ia selalu dapat menyembunyikan dengan rapi. Namun semakin hari, kebutuhannya semakin mendesak, mungkin sejalan dengan perasaannya yang tumbuh semakin besar. Awalnya ia hanya perlu mengonsumsi 3 kelopak bunga Acanthus sehari. Namun kini, ia bisa mengonsumsi puluhan kelopak dalam sehari, dan sejujurnya kejadian pagi tadi memicu rasa takutnya muncul ke permukaan. Bagaimana jika ia tidak lagi dapat menyembunyikan apa yang terjadi dari Minghao? Apakah temannya akan memberi tatapan tidak suka, kemudian pergi meninggalkannya?
Pikiran-pikiran itu adalah salah satu pemicu tindakan impulsifnya untuk menyemprotkan parfum yang telah ia campur dengan love-potion sebelum Minghao pulang. Berharap ramuan terbarunya dapat bekerja pada teman baik yang kini diam-diam sudah berubah menjadi pujaan hati. Ia tidak mengharapkan efek ekstrim semacam membuat Minghao bertekuk lutut minta dicintai, melainkan sekadar melunakkan hati yang tampak sekeras batu.
“Rupanya ramuan yang membuat carut marut tali takdir pun tidak mampu membuatmu menyukaiku sebesar aku menyukaimu, Xu Minghao? Sebenarnya apa yang terjadi?”
Matanya memanas, hati Mingyu resah dan terasa terbakar saat pikiran tersebut terlintas di benaknya. Ia sungguh penasaran, bagaimana mungkin seseorang tidak terpengaruh sama sekali dengan love-potion buatannya. Apakah sudah ada orang lain yang diam-diam mengisi relung di dada sahabatnya? Jika iya, apa yang harus ia perbuat selain menahan rasa nyeri di dadanya sendiri?
Untuk saat ini, Mingyu tidak bisa apa-apa selain terus mengunyah kelopak-kelopak Acanthus. Bahkan ia dapat merasakan akan lebih banyak kelopak yang akan dikonsumsi malam ini, jika ia tidak ingin ditemukan pingsan kelaparan karena Hanahaki yang dideritanya.
Betul saja, hanya perlu beberapa menit untuk Mingyu menandaskan seisi mangkok dalam pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, ke arah televisi yang menunjukkan layar hitam. Ia melihat pantulan dirinya sendiri yang tampak kesepian, juga nelangsa. Rupanya tidak hanya mangkok di pangkuan yang kosong, hatinya pun terasa hampa. Seperti apartemen yang ditinggalinya. Penuh dengan barang, namun tidak ada kehangatan. Pikirannya penuh dengan Minghao, namun hatinya… hatinya bekerja sendirian menyayangi seseorang yang berarti baginya, tanpa ada balasan. Mungkin ia yang meminta terlalu banyak. Toh Minghao sudah begitu baik, mau berteman dengannya hingga usia mereka mencapai kepala dua, dan mungkin akan berlanjut hingga kepala tiga, empat, lima, dan seterusnya. Namun hari ini, rasanya Mingyu tidak lagi merasa itu semua cukup. Ia ingin perhatian lebih.
Sampai kapan?
Sampai kapan ia bisa menahan diri dan menyimpan semuanya sendirian?
-oOo-
Sementara itu, di waktu bersamaan, Minghao menatap layar ponselnya dengan gamang. Ia baru selesai melihat foto-foto yang ia dan Mingyu ambil dari perjalanan mereka, kemudian teringat kembali akan hal yang terjadi sebelum ia pergi dari apartemen Mingyu.
Ia berbohong tentang aroma parfum yang Mingyu pakai. Baunya tidak hanya enak, tapi juga membuat kepalanya sedikit pusing. Hanya sejenak, karena setelahnya rasa tidak nyaman itu sudah hilang seperti tidak pernah ada. Dan ia tentu saja familiar dengan aroma-aroma serupa. Bagaimana tidak? Keluarga Xu dan Keluarga Kim sangat dekat, bahkan sejak kecil, Minghao sudah sering bermain ke toko milik Paman Kim dan terkadang mencuri cium bau-bauan dari produk parfum yang mereka labeli ‘spesial’. Maka hanya butuh sepersekon untuk Minghao mengetahui bahwa Mingyu mengenakan sedikit love-potion sebelum membiarkannya pergi. Dan sejujurnya, Minghao berharap ramuan itu bisa bekerja padanya, sekali ini saja, ia tidak keberatan jika Mingyu yang melakukan hal itu kepadanya. Namun rupanya kutukan yang ia terima lebih kuat dari ramuan love-potion buatan keturunan Dionysus sekalipun.
Karena sudah dituliskan dalam takdir bahwa keturunan Hades, termasuk keluarga Xu, harus menanggung perbuatan leluhurnya di masa lalu, ketika Hades menculik Persephone dan memperistrinya, hal itu dianggap sebagai pelanggaran karena mengacaukan benang takdir. Maka seluruh keturunan Hades akan dilimpahi segala hal, kecuali rasa cinta. Hal itu pula yang mendorong ayah Minghao untuk bergantung pada love-potion buatan keluarga Kim, demi membuat sang balerina kelas dunia yang tidak mencintainya tetap tinggal dan membuat sebuah keluarga serupa sempurna, meski ia tahu sang anak akan mendapat kutukan yang sama dengannya. Yaitu tidak memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain.
Minghao beruntung karena meski tidak dapat mencintai orang lain, ia tidak memerlukan love-potion untuk membuat seseorang jatuh cinta kepadanya, seperti sang ayah. Namun ia tidak tahu bahwa di saat bersamaan, dirinya sedang membunuh sang sahabat pelan-pelan dengan ketidakmampuannya untuk jatuh cinta akibat kutukan yang diterima.
-Fin-
