Actions

Work Header

Always Been Us

Summary:

and supposedly falling in love wasn't on Sunwoo's agenda that day nor encounter the charming Lee Jaehyun.

Work Text:

13 September 2016.

 

Dalam hidup Sunwoo, ia memegang prinsip bahwa tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin jika dibandingkan dengan hal yang lebih konyol ia akan lebih percaya bahwa hitler mati di Garut. Karena demi apapun, ia percaya proses jatuh cinta tidak mungkin datang semudah membalikkan telapak tangan.

Setidaknya itu yang ia bisa ia jabarkan bila dikaitkan melalui logika.

Tiga belas September, tepat pada ulang tahun Hyunjae saat ini. Sunwoo terus mengutuk Eric karena lelaki yang lebih muda darinya itu dengan kurang ajar menculik dirinya untuk hadir di pesta ulang tahun sepupunya itu. Padahal sudah jelas ia sangat membenci acara seperti ini. Hanya membuang-buang tenaga, dan toh ia tidak mengenal siapapun di sini.

Sunwoo tau bahwa Eric mempunyai sepupu. Tetapi selama dua tahun berteman dengan lelaki itu tidak pernah sekalipun ia melihat wujud sepupu yang dimaksud sang sahabat. Katanya sih gara-gara tinggal di luar kota dan tidak punya waktu untuk sekadar berkunjung. Mungkin pernah, tetapi Sunwoo tidak tau.

Saat itu di kepalanya hanya diisi dengan kalimat pulang, pulang, dan pulang. Berada di antara banyaknya kepala dengan rasa asing dalam diri tentu membuatnya sedikit tidak nyaman. Belum lagi Eric meninggalkannya dengan dalih mau ke toilet bentar, tetapi sudah setengah jam belum juga menampakkan batang hidungnya.

Sungguh. Kepalanya sudah sangat pusing dan hanya ingin bersantai di atas kasurnya dengan nyaman. Ia cukup tau diri mengingat betapa kerasnya Eric memohon dirinya untuk datang. Entah ada keajaiban dari mana pusing di kepalanya total menghilang saat melihat lelaki dengan balutan jas hitam rapih serta rambut cokelatnya yang sesekali ia sibak dengan santai: seolah-olah tidak akan ada orang yang jatuh pada pesonanya.

“Nu? Woy? Kesurupan ya lo?”

Sadar dengan presensi Eric, ia alihkan pandangannya sejenak sambil menatap sang sahabat bingung. “Sejak kapan lo disini?”

“Sejak lo liatin sepupu gue kayak ngeliat duit segepok.” Ada kekehan kecil yang terdengar pada saat ia berbicara.

“Dia sepupu lo?”

“Iya. Kenapa? Naksir, ya?”

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Sunwoo, ia mematahkan prinsipnya sendiri. Menyadari bahwa cara kerja cinta bukan melalui logika, tetapi dengan menyadari bahwa ada perasaan asing yang dibiarkan hidup untuk menggelitik dan mengisi tiap-tiap ruang kosong di dalam sana.

Sunwoo seratus persen dalam keadaan sadar karena ia belum pernah mencicip setetes alkohol-pun. Ada banyak lagi pertanyaan yang ingin ia tanyakan, tetapi gemuruh di dadanya sangat berisik. Melebihi lagu yang sedang diputar untuk merayakan bertambahnya umur Hyunjae. Melebihi tepuk tangan yang mengudara. Serta melebihi kembang api yang bersahutan sesudah rangkaian acara itu.

“Oh, ini temen lo yang susah diajak kesini, Ric?” tanya Hyunjae. Matanya menatap Sunwoo dengan senyuman tipis. Ini sudah pukul setengah dua belas malam dan Sunwoo masih terjebak dalam situasi ini. Situasi yang membuatnya bingung untuk berbuat apa.

Sang adik mengangguk, “dua hari ngebujuk tapi ujung-ujungnya gue kayak penculik.”

Hyunjae tertawa.

Sunwoo bersumpah demi apapun suara tawa Hyunjae terdengar seperti bapak-bapak. Biarpun demikian, tidak menarik kemungkinan bahwa ia juga menyukai bagaimana cara lelaki itu tertawa. Terdengar gila dan masuk akal disaat yang bersamaan.

Ini kayaknya semesta juga bingung gak, sih?

Momen ini bukan sesuatu yang menandakan bahwa ia akan berhenti untuk memuji lelaki itu. Belum. Sampai ketika dering teleponnya membuyarkan rentetan kalimat yang tertata dengan rapih: mendeskripsikan Hyunjae dari sisi yang terlihat.

Suara bunda yang meminta dirinya untuk pulanglah yang terdengar saat telepon itu tersambung. Maka dengan berat hati ia meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Tapi tau? yang ia dapatkan bukan hanya kata iya, boleh, dan hati-hati saja. Melainkan sebuah permohonan dari yang lebih tua untuk mengantarnya pulang. Entah tujuannya apa namun, bibirnya enggan untuk berkata tidak.

“Selamat ulang tahun, Kak. Sorry lupa ngucapin tadi,” lah, dia baru sadar.

Jalan menuju rumahnya sangat sepi dan bisa dipastikan bahwa hanya ada suara mobil Hyunjae yang tengah membelah jalanan di tengah malam. Sunwoo tidak bisa membayangkan kalau tadi Hyunjae tidak menawarkan mobilnya. “Makasih, ya. Dan maaf Eric maksa lo buat datang,”

“Eh, gapapa kok. Ternyata gak seburuk yang gue pikirin.” Lebih tepatnya, karena ada Hyunjae, malam ini terasa lebih menyenangkan.

“Emang lo pikir kayak gimana?”

“Mhmm.. berisik dan bikin pusing.”

Tapi kali ini yang bikin pusing lo, Hyunjae.

Hyunjae mengangguk-anggukkan kepalanya paham. “Eh,” yang lebih muda menoleh untuk mendengarkan kalimat selanjutnya, “gue boleh minta kado?”

“E-eh, maaf, gue gak bawa kado.. gimana dong....”

Menurut Hyunjae, raut wajah Sunwoo saat ini sangat lucu. Lebih lucu dari hal yang paling lucu sekalipun. Bagaimana tangan itu bertaut cemas dengan bibir bawahnya yang ia gigit. Lantas Hyunjae tertawa. Tanpa sadar tangan kirinya bergerak mengacak-acak gemas rambut Sunwoo yang tanpa sadar juga membuat jantung sang lawan bicara berdetak lebih cepat.

“Weekend nanti keliling Jakarta sama gue, mau?”

“Mau.”

Ia berani menjamin bahwa dirinya bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Lalu semesta dengan mudahnya menghadirkan rasa itu untuk berlabuh pada Hyunjae. Hari itu ia pun belajar bahwa perasaan datang dari hal yang paling sederhana namun, dengan cara yang luar biasa.

 

Masih ada waktu untuk Sunwoo membatalkan acaranya keliling Jakarta. Pasalnya ia sedang gugup setengah mati sampai-sampai harus bertanya kepada Yeriㅡ Kakak perempuannyaㅡ tentang apa saja yang harus dilakukan. Tentu saja itu disambut antusias sambil sesekali Yeri menggoda sang adik. Sedikit banyaknya ia bersyukur melihat adiknya sudah bisa merasakan jatuh cinta dan tidak melulu mengeluh perihal culture shocknya saat baru-baru ini memasuki dunia perkuliahan.

 

Belum sempat ia mengetik dengan rencana ingin membatalkannya, satu pesan masuk dari Hyunjae yang mengabari bahwa ia telah sampai. Mungkin ini akan terlihat sangat konyol karena memang kenyataannya Sunwoo tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini. Hidupnya monoton. Kalau kata Eric: belajar, belajar, tipes.

Sewaktu SMA tidak ada waktu bagi Sunwoo untuk mengejar hal seperti itu. Bisa dibilang Sunwoo buta mengenai cinta dan tetek bengeknya. Tetapi disinilah ia sekarang. Duduk di sebelah kursi kemudi dengan berbekal diri dan pengalaman kosongnya.

“Lo suka dengerin lagu lama juga?” tanya Sunwoo.

Lampu lalu lintas menyala merah membuat semua kendaraan berhenti untuk menunggu. Hyunjae lantas mengalihkan pandangannya ke arah Sunwoo, “suka, sih. Keinget aja dulu pas malem-malem sering dengerin lagu ini dari radio,” jawab Hyunjae dengan senyumnya.

Lelaki yang tadi bertanya hanya mengangguk-angguk, tetapi bibirnya meloloskan sebuah kalimat, “pasti lo dulu suka beli kaset kosong 60 atau 90 terus setiap hari minggu dengerin tangga lagu di radio buat ngerekam lagu-lagu hits waktu itu.”

Hyunjae tertawa. “Oh my God, i'm not that old??” mobilnya kembali berjalan beriringan dengan kekehan Sunwoo yang terdengar. “Tapi iya, tiap minggu gue gak pernah kelewatan buat dengerin tangga lagu, tapi gak direkam. Kadang gue tulis lirik lagunya tapi pas diliat lagi udah lupa nada aslinya gimana.”

Teringat saat dirinya masih menduduki bangku sekolah menengah akhir, sewaktu itu usianya menginjak lima belas tahun. Mendengarkan musik di malam hari melalui radio menjadi pilihan terbaik pada saat itu. Terkadang ia masih terjaga sampai jam satu pagi, karena biasanya pada jam tersebut suara penyiarannya semakin enak untuk didengar dan tanpa sadar membawanya terlelap.

“Terus pas nyanyi gimana?” si kecil terus bertanya penasaran.

“Ya.. gue kira-kira aja. Lo tau kan dulu tuh bisa request lagu atau ngirim curhatan kesana?”

Sunwoo menoleh dengan matanya yang membulat lucu, “jangan bilang lo pernah ngirim curhatan kesana terus nunggu dibacain?” anggukan dari Hyunjae membuatnya tak kuasa untuk menahan tawa gelinya. “serius pernah? terus sekarang gimana?”

“Pernah, tapi gatau deh sekarang orangnya udah kemana.”

Hyunjae bisa dibilang ya, nggak tua-tua amat. Usianya masih dua puluh satu tahun dan masih menyandang sebagai mahasiswa semester tujuh. Hanya terpaut dua tahun antara dirinya dan Sunwoo yang masih berada di semester awal.

“Kalau ngomongin kayak gini, kinda miss those old memories,” lelaki aries itu tersenyum simpul, “when everything was easier._”

“Emang sekarang gimana?”

“Pusiiiiiiing.”

Hyunjae menjawab dengan tawa khasnya yang mengudara. Sedikitnya ia berharap bahwa hari ini akan berjalan lebih lambat dari biasanya.

Kalau boleh dirangkum, kegiatan keduanya hari ini hanya mengelilingi kota Jakarta yang sepi di malam hari, mengajaknya pada diskusi perihal konspirasi alam semesta beserta isinya, menikmati dua mangkuk Ayam Kari beserta teh hangat di dalam tenda kecil yang terletak di pinggir jalan. Dan seharusnya jatuh cinta tidak ada dalam agenda hari ini.

 

13 september 2021

 

Jika ditanya perihal hari yang paling menyenangkan itu kapan, maka dengan lantang Sunwoo akan berkata hari ini. yang tidak perlu lagi ditanyakan alasannya apa: Hyunjae. Walaupun pada kenyataannya bibir itu enggan untuk mengaku jika dihadapkan dengan Hyunjae langsung.

Hari ulang tahun Hyunjae itu biasa saja, bahkan terlampau sederhana. Tetapi yang membuat tahun ini lebih special adalah status keduanya yang telah menjadi sepasang suami-suami.

Tidak ada pesta ulang tahun dan meriahnya petasan seperti lima tahun lalu. Dipikir-pikir, itu cukup konyol mengingat dulunya mereka dua orang asing yang tidak saling mengenal, tetapi memang semesta seperti sedang meledeknya. Meledek lelaki yang lima tahun lalu tidak percaya dengan adanya cinta pandangan pertama, malah berlanjut seperti kisah-kisah romansa muda dari buku yang pernah ia baca.

Banyak hal yang terjadi selepas pertemuan pertama dan kedua mereka untuk menghadirkan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hyunjae bisa jadi sosok yang menyenangkan dan menyebalkan di saat yang bersamaan. Pun dengan dirinya yang sudah tidak perlu memikirkan hal apa yang harus dilakukan jika bertemu Hyunjae.

Menyatukan dua kepala dan dua pemikiran yang beda tentu bukan perkara yang mudah. Hyunjae dan Sunwoo pernah sesekali bertengkar kecil: perihal lampu luar rumah yang lupa dimatikan oleh Hyunjae, atau Sunwoo yang luma malah memasukkan seledri ke dalam masakan padahal Hyunjae tidak suka, atau juga perdebatan antara siapa yang matiin keran air saat berangkat kerja, dan pulang-pulang kamar mandi dalam keadaan banjir.

Hadirnya Hyunjae ke dalam hidupnya seperti air yang dibutuhkan saat musim panas. Menyejukkan dan dipenuhi rasa syukur.

“Selamat ulang tahun, Hyunjae jelek kalau baru bangun tidur,” sapaannya dibalas dengan rengekan pelan.

Pagi-pagi sekali Sunwoo sudah berkutat dengan peralatan dapur untuk membuat kue ulang tahun dengan meminimalisir bunyi agar sang suami tidak terbangun. Namun, ya, namanya Hyunjae. Jika dibangunkan dengan panci atau diteriaki kebakaran-pun jika dirinya merasa tidurnya belum cukup ya tidak akan bangun.

Sunwoo menyimpan kue tersebut di atas nakas, lalu menggoyang-goyangkan tubuh Hyunjae agar terbangun. “Kak, kamu ultah, loh. Kok kayak orang nggak semangat hidup gini,” lelaki itu meletakkan kepalanya di atas kepala Hyunjae. Persetan dengan fakta bahwa Hyunjae belum mandi.

“Hmm..ㅡ A-ah Sunwoo jangan digigit dong,” yang lebih kecil iseng menggigit telinganya membuat Hyunjae sadar sepenuhnya.

“Ya makannya bangun! Aku bikin kue masa kamu gak mau nyobain sih,”

“Enak nggak?”

Hyunjae yang masih menyesuaikan diri itu langsung dihadiahi lemparan bantal oleh suami kecilnya. “Ngeledek mulu ah males.”

“Nggak ngeledek, sayangkuuu.. itu aku kan lagi nanya,” didorongnya belakang kepala Sunwoo mendekat untuk mengecup singkat pipi lelakinya saat melihat kue ulang tahun yang telah dibuat. “Makasih, ya, Sunwoo.”

Dengan senang hati ia akan menenggelamkan tubuh kecilnya untuk direngkuh oleh Hyunjae. Bila dijabarkan dengan kata, Hyunjae adalah personifikasi rumah yang sesungguhnya. Ini bukan tentang materi, tetapi dengan banyaknya cinta yang sudah ia beri. Tentang bagaimana tangan yang selalu terulur seakan khatam untuk memberi hangat. Atau tentang binar matanya yang bergelimang terang menyalurkan ketulusan.

Sunwoo kembali bersuara, “semoga dengan bertambahnya umur kamu, semuanya dilancarkan. Semoga nggak ada lagi acara nangis-nangis tengah malem karena project gagal. Semoga kebaikan selalu hidup berdampingan sama kamu. Semogaㅡ”

“ㅡ Semoga aku sama kamu bareng terus.” Hyunjae memotong dengan cengiran yang menjadi andalannya.

Belum. Belum cukup.

Masih banyak do'a yang ingin ia rapalkan melalui hembusan angin agar membawa semua harapannya mengudara biar dikabulkan oleh sang pencipta. Masih banyak harapan yang ingin ia katakan agar Hyunjae menjadi manusia yang dikelilingi dengan hal baik di dunia ini.

“Kamu nggak kerja hari ini?”

“Ada Kevin,”

“Yeee kasian anak orang kamu kasih tugas tambahan mulu.”

Hyunjae menggedikkan bahunya, “nanti malem mau jalan-jalan kayak lima tahun lalu nggak?” ia bertanya dengan tangan yang enggan terlepas dari pinggang yang lebih muda.

“Emang kamu nggak masuk angin nanti?”

Cubitan di hidung Sunwoo menjadi jawaban atas yang dipertanyakan, “aku masih dua puluh enam tahun, Sunwoo.”

“Dua puluh lima juga kalau pulang-pulang minta dipasangin koyo,” ia tak mau kalah.

“Yaudah jadinya mau atau gimanaaa cintaku?”

“Mau.”

Mungkin akan terlihat sangat konyol di mata sebagian orang karena sampai sekarang isi mobil Hyunjae masih sama. Masih terdengar lagu-lagu Paul Anka yang diputar menemani malam keduanya untuk kembali mengitari kota Jakarta di malam hari dengan segenap perasaan hangat.

Put your head on my shoulder
Whisper in my ear, baby
Words I want to hear, baby
Put your head on my shoulder

Konsep semua hal pasti ada hikmahnya baru ia rasakan saat ini. Memikirkan kemungkinan jika lima tahun lalu ia tidak datang ke acara itu, mungkin Sunwoo tidak akan pernah mengenal siapa itu Hyunjae dan apa itu cinta yang sesungguhnya. Ia akan berterima kasih pada Eric nanti.

Hyunjae selalu punya agenda menarik dalam memperhatikan sekitar. Bibirnya tidak hanya piawai dalam mengecup, tetapi juga piawai membuat Sunwoo tertawa terbahak-bahak berkat kalimat nyeleneh yang sering ia lontarkan. Seperti saat ini, Sunwoo melihat dari dalam mobil bahwa Hyunjae sedang memesan makanan untuknya, dan bapak-bapak pemilik warung tersebut tertawa, lalu dadah-dadah ke arahnya.

“Tadi bilang apa?” Tanya Sunwoo pada saat Hyunjae telah kembali duduk di kursi kemudinya.

Kresek putih itu ia simpan di atas dashboard mobilnya yang sedikit luas, sebelum menjawab, “gak bilang apa-apa. Cuma nyuruh nyapa aja soalnya dia rugi kalau belum liat kamu.”

Bahunya dipukul kecil. “Gak jelas.”

Mobilnya kembali berjalan dengan kecepatan sedang. Sudah bisa dipastikan mobilnya akan dipenuhi dengan wangi bumbu kacang dari sate yang tadi ia beli. Sunwoo sesekali menyuapi Hyunjae yang sedang menyetir. Sebenarnya, mereka tidak ada tujuan yang pasti ingin pergi kemana malam ini. Karena yang Hyunjae inginkan adalah menikmati waktu bersama Sunwoo walaupun harus berdiam diri selama dua jam juga ia senang. Asalkan harus dengan Sunwoo.

Hyunjae menunjuk pahanya. “Mau duduk disini?”

Entah Hyunjae membawa mobilnya kemana, tetapi pada saat Sunwoo melihat sekitar, sudah sangat sepi. “Boleh?” ia bertanya balik.

“Ya, boleh. Kan aku yang nawarin.”

Sunwoo duduk di pangkuannya. Memudahkan Hyunjae untuk memeluk pinggang ramping milik sang suami dan memberinya afeksi. “Makasih, Sunwoo,” ia bergumam di ceruk leher Sunwoo.

“Untuk?” hidungnya sesekali mengendus rahang Hyunjae.

“Makasih karena waktu itu mau datang ke acara ulang tahun yang dirayain kayak anak umur tujuh belas tahun,” ada kekehan yang terasa. “Waktu itu aku hopeless soalnya Eric bilang kamunya gamau datang mulu.”

“Bentar,” Sunwoo menjauhkan dirinya untuk membuat Hyunjae menengadah. “Jadi kamu yang minta aku datang?”

Tidak ada tiga detik untuk Hyunjae menyemburkan kembali sebuah tawa. Sementara yang dipangku masih mengernyit tidak mengerti. “Ya emang Eric mau mohon-mohon begitu kalau bukan aku yang nyuruh?”

“KOK AKU BARU TAUUUU!!”

“Ya, aku kira kamu udah ngeh.“

Melihat bibir itu mengerucut membuatnya tertarik untuk membawa kedua bibir mereka dalam sebuah ciuman lembut. Hyunjae mengeratkan pelukannya pada pinggang Sunwoo dan menariknya mendekat. Tangannya dibiarkan untuk membelai lembut sisi tubuh Sunwoo dengan bibir terpaut satu sama lain.

Setiap gesekan gigi Hyunjae di dalam mulutnya membuat Sunwoo semakin mengeratkan pegangannya pada kemeja putih sang suami. Membiarkan bibir atas dan bawahnya dimainkan oleh Hyunjae.

Setelah selesai membuatnya berantakan, ia beralih menurunkan sedikit badannya untuk memberi kecupan-kecupan kecil di leher Sunwoo dan disambut baik dengan cara menengadahkan kepalanya untuk memberi akses lebih.

“Boleh?”

“Boleh.”

Malam itu setidaknya Sunwoo menjadi hadiah terbaik untuk Hyunjae di setiap tahunnya.