Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-09-15
Words:
4,887
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
13
Bookmarks:
2
Hits:
133

Edelweiss Segara Anakan

Summary:

"Seluruh hidupku aku habiskan di Lombok. Resor dan segala isinya jadi pusat semestaku."
.
"Aku cuma pengen ngejagain kamu dan kamu bilang aku egois?"

Notes:

Disclaimer : cerita ini adalah versi SeongJoong dari ceritaku sebelumnya dengan judul yang sama.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hongjoong's siblings : Eunjung, Wooyoung, Jongho

Untuk Hongjoong , yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Pesisir Gili Asahan, tidak ada hal lain yang lebih menarik selain bertemu dengan turis-turis yang menginap di resor keluarganya. Hongjoong dengan senang hati mendengar berbagai cerita tentang tempat tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bertemu dan bercengkerama dengan tamu-tamu resornya di perjamuan makan malam yang rutin ia adakan di resornya.

Lima tahun lalu saat kepergian mendiang Ibunya, Hongjoong memilih kembali ke tanah kelahirannya. Hongjoong yang saat itu menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas di Jogjakarta memilih pulang. Mengurus resor peninggalan orangtuanya dan mengasuh adik-adiknya yang saat itu masing-masing berusia 17, 14 dan 10 tahun.

Lima tahun mengurus resor dan ketiga adiknya, tujuan hidup Hongjoong tidak terlepas dari kebahagiaan adik-adiknya. Pusat hidupnya hanya seputar resor dan adik-adiknya. Hongjoong sudah menyusun masa depannya dan adik-adiknya sedemikian rupa, selurus anak panah yang memelesat dari busurnya. Sampai Seonghwa , pria berusia 30 tahun, yang datang bagai angin yang mengubah gerak anak panah Hongjoong.

Seonghwa seperti kebanyakan tamu yang datang dan menginap di resor Hongjoong. Tidak ada yang istimewa, Seonghwa datang dengan pakaian khas pendaki, tas punggung yang menggelembung entah apa isinya, dan sepatu Gunung dengan lumpur mengering di kanan-kirinya . Yang membedakan Seonghwa dari tamu lainnya adalah fakta bahwa Seonghwa datang seorang diri, di mana biasanya tamu Hongjoong adalah rombongan turis atau keluarga.

Hongjoong pertama kali berbincang dengan Seonghwa saat makan malam, ia yang melihat Seonghwa sendiri memutuskan untuk mengajaknya berbicara. Tidak butuh lama untuk Seonghwa dan Hongjoong menjadi dekat. Keesokan paginya dan beberapa hari setelah itu Hongjoong dengan sukarela menjadi pemandu wisata bagi Seonghwa.

Pada hari pertama Hongjoong mengajaknya menyusuri pantai di sekitar resor. Melihat beberapa anak nelayan yang berenang-renang di laut tanpa pelampung, beberapa memilih bermain pasir. Hongjoong juga mengajak Seonghwa mencicipi makanan lokal khas Gili Asahan, dan mengakhiri hari mereka dengan meminum air kelapa yang dipetik langsung dari pohonnya sambil melihat matahari terbenam.

Hari berikutnya Hongjoong mengajak Seonghwa menyelam bersama empat orang turis dari Semarang. Hongjoong turut mengajak ketiga adiknya yang kebetulan libur sekolah hari itu. Rombongan ini menaiki kapal cepat menuju titik menyelam. Keempat turis, ketiga adiknya dan Seonghwa melompat ke beningnya air laut, mengikuti arahan instruktur selam. Hongjoong memilih tinggal di kapal, duduk di salah satu sisi kapal. Ia menatap hamparan laut di depannya, mendengarkan lenguhan burung camar yang sesekali melintas di atas kepalanya, menunggu yang lain selesai menyelam.

Hari terakhir Seonghwa di Gili Asahan, Hongjoong memutuskan mengajaknya menyeberang ke pulau sebelah. Membutuhkan setidaknya 30 menit menaiki kapal cepat untuk mencapai Gili Layar. Dua puluh enam tahun lebih menghabiskan hidup di sana, Hongjoong hafal setiap jengkal pulau-pulau di selatan Pulau Lombok ini. Banyak pantai indah yang ia temukan, yang tidak banyak turis ketahui. Dan kini ia membawa Seonghwa ke salah satu pantai paling indah yang ia temui. Pantai yang dikelilingi oleh tebing tebing tinggi, dan belasan deret pohon kelapa sepanjang pantai. Tebing yang menghadap ke barat, sempurna memberikan pemandangan senja paling indah yang pernah Hongjoong temui.

“Ini hari terakhir kamu di sini, besok aku antar ke Lombok.” Hongjoong menoleh ke arah pemuda di sebelahnya, yang tanpa berkedip menyaksikan detik-detik matahari ditelan laut.

“Nggak perlu. Kamu mau ninggalin resor cuma buat nganter tamu kaya aku?”

“Nggak ‘cuma’ tau. Kamu deket sama adek-adek aku. Mereka suka tuh kayanya sama kamu. Lagian udah lama juga aku nggak ajak mereka ke Mataram. Eunjung udah dari lama juga pengen ke kota, bosen liat air doang.”

“Aku dengan senang hati dianter sama kalian. Sedih juga ya aku harus pulang, tapi kerjaan aku di Jakarta ga bisa nunggu.”

Hongjoong mengalihkan pandangannya pada riak-riak air berwarna kemerahan yang memantulkan cahaya senja. Telinganya terbiasa dengan suara lenguh puluhan burung camar yang menyatu dengan debur ombak. Seonghwa di lain sisi mencuri pandang ke pemuda di sebelahnya, mengagumi indah wajahnya yang dihujani teduh cahaya matahari.

Hongjoong menolehkan wajahnya, mata keduanya kini bertemu. Hongjoong tidak mengerti bagaimana pria baru saja ia temui 4 hari lalu bisa membuat darahnya berdesir.

Delapan setengah detik. Delapan setengah detik kedua pasang mata anak manusia ini bertemu, dan di detik ke delapan setengah, saat sempurna matahari ditelan lautan keduanya sama-sama mengalihkan pandangannya. Hongjoong menatap pasir putih dan memainkannya, sedangkan Seonghwa menatap langit yang hampir sempurna gelap sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Ayo pulang, langitnya masih lumayan cerah. Semoga entah esok atau lusa kita bisa ketemu lagi,” ucap Hongjoong sambil berdiri, ia mulai berjalan ke arah kapal cepat yang tertambat di dermaga kecil.

“Aku bakal ke sini lagi. Aku janji,” balas Seonghwa setengah berteriak sebelum akhirnya menyusul Hongjoong ke kapal.


Seonghwa menepati janjinya, 3 bulan setelah kunjungannya ke Gili Asahan ia kembali. Kali ini dengan 2 orang temannya. Kunjungan kali ini lebih lama. Seonghwa menghabiskan 2 minggu waktu libur akhir tahunnya di Lombok. Berkeliling dari pulau ke pulau di selatan Pulau Lombok bahkan pergi sampai Gili Trawangan. Dan Seonghwa tetap berkunjung, untuk bulan-bulan berikutnya. Setidaknya dua bulan sekali Seonghwa akan menyempatkan diri berkunjung ke Gili Asahan.

Selama dua tahun Seonghwa bolak-balik Jakarta-Lombok untuk mengunjungi Hongjoong, yang kini resmi menjadi kekasihnya. Seonghwa juga membantu Hongjoong mengembangkan resornya. Beberapa bulan lagi Hongjoong akan meresmikan pembukaan lima belas bungalo yang ia bangun di Gili Trawangan.

Genap satu minggu Seonghwa menghabiskan waktunya di Gili Asahan untuk yang kesekian kali. Jika awalnya Seonghwa adalah satu dari belasan orang yang menjadi tamu resor Hongjoong, kini Seonghwa lebih mirip pemiliknya. Seonghwa akan menyambut rombongan turis yang datang, ikut menyiapkan makan malam dan membantu mengerjakan laporan keuangan resor. Bahkan hari ini ia akan mengantar satu rombongan turis dari Hong Kong untuk menyelam sendirian.

Hongjoong bisa sedikit bersantai, adik-adiknya sudah cukup dewasa untuk menentukan apa pilihan hidup mereka masing-masing. Meski Hongjoong masih sering dibuat Jongho pusing karena adek bungsunya ini terlampau bandel, Eunjung dan Wooyoung akan sigap membantu. Percaya atau tidak, Jongho lebih menurut kepada Seonghwa dibandingkan dirinya sendiri.

Seonghwa hadir bagai potongan puzzel yang melengkapi hidup Hongjoong. Menjadi anak sulung dan berperan sebagai ayah sekaligus ibu untuk adik-adiknya selama 7 tahun terakhir kadang membuat Hongjoong lelah. Hongjoong mendapatkan perhatian yang tidak pernah ia dapat selama 5 tahun terakhir ini. Hongjoong merasa senang ada Seonghwa yang mengkhawatirkannya, mengurusnya bahkan menjadi sandaran bagi Hongjoong ketika ia lelah dari segala rutinitasnya.

Hongjoong membantu Seonghwa menurunkan barang bawaan dari kapal. Hongjoong berjalan di belakang rombongan turis HongKong. Mencuri dengar percakapan mereka meski Hongjoong hanya mengerti tidak lebih dari lima puluh persen Sepertinya mereka puas melihat keindahan terumbu karang. Sampai di resor Wooyoung, adik kedua Hongjoong, mengantar rombongan turis HongKong kembali ke kamar mereka. Di meja resepsionis ada Jongho yang asyik bermain ponsel. Jongho baru berhenti menatap layar ponselnya saat Hongjoong memanggil namanya.

“Jongho, bantu kakak kembaliin ini ke tempat penyimpanan.”

“Iya. Oh iya, kak, kata Paman Kim makan malam hari ini di dalem resor aja. Nanti malem bakalan turun hujan,” kata Jongho sembari mengambil dua pasang fin dari tangan Hongjoong.

Jam di tangan Hongjoong menunjukan pukul 13.46 siang. Hongjoong mengalihkan pandangannya ke langit. Ada kumpulan awan di ujung barat laut. Sepertinya benar akan hujan. Angin dan ombak lebih kencang dari pagi hari tadi.

Hongjoong menghabiskan sisa siang harinya duduk di meja resepsionis. Seonghwa masih berada di kamarnya, bersama Jongho yang merengek meminta ditemani bermain game di laptopnya . Wooyoung berada di dapur, membantu staf resor menyiapkan makan malam untuk tamu.

Senja baru saja tiba. Langit semakin gelap. Ada kumpulan awan yang menyelimuti langit Gili Asahan. Mendung. Paman Kim benar, malam ini akan turun hujan. Mungkin musim penghujan akan segera tiba. Lampu-lampu resor mulai dinyalakan.

Pukul 19.30 hidangan siap. Menu malam ini adalah ikan bakar raksasa. Satu ikan bisa mencapai 2 kilo. Ada juga cumi bakar dan masakan khas Gili Asahan lainya. Seonghwa, Hongjoong, Wooyoung dan Jongho duduk di meja yang sama. Eunjung masih di Bali, menyelesaikan tugas akhir pendidikan strata 1. Hal ini membuat Eunjung jarang pulang ke Gili Asahan.

Makan malam kali ini berjalan normal. Ada kehangatan yang menyelimuti meski terdengar gemuruh Hongjoongtur tanda hujan di luar. Banyak gelak tawa dari turis yang datang. Menceritakan banyak hal. Tentang kampung halaman mereka. Tentang pengalamannya ke tempat-tempat lain.

Jongho juga bersemangat, ia mengeluh betapa kesalnya ia dengan tugas sekolah. Berharap Hongjoong mau menuruti keinginanya untuk tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Yang tentu saja dihadiahi lemparan tulang ikan dari Wooyoung dan Hongjoong. Seonghwa ikut tertawa, menanggapi lelucon yang Jongho lontarkan.

Wooyoung dan Jongho kembali ke kamar mereka usai meja dibereskan pelayan. Hongjoong masih harus mengurus beberapa hal. Seonghwa menyapa beberapa turis, mengucap selamat malam sebelum dia pamit untuk kembali ke kamarnya.

Air hujan membuncah menghantam atap resor. Hongjoong menatap pohon kelapa yang bergoyang diterpa angin dari balik jendela balkon kamarnya. Laut terlihat bergejolak ketika satu dua petir menyambar. Lalu diikuti gemuruh suara guntur.

Seonghwa mengetuk pintu kamar Hongjoong. Kepalanya menyembul di balik bingkai pintu.

“Aku boleh masuk?” Seonghwa tersenyum.

Hongjoong mendudukkan diri di kasur. Tanganya menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, “masuk aja.”

Seonghwa masuk dan menutup pintu kamar Hongjoong dengan menggunakan kakinya. Alih-alih langsung duduk, Seonghwa berdiri di depan Hongjoong. Kedua tangannya ia sembunyikan di belakang punggungnya. Seperti menyembunyikan sesuatu. Seonghwa tersenyum menatap Hongjoong.

“Apaaaaa???” Hongjoong menahan senyum melihat Seonghwa di depanya.

“Aku metik ini terakhir naik ke Rinjani.” Seonghwa mengeluarkan seikat bunga edelwis dari balik punggungnya.

“Aku keringin ini di atap resor. Cantik ga?”

“Ehmmmm ... ” “Cantik!”

Hongjoong meraih bunga edelweis dari tangan Seonghwa. Ada yang menggantung di ujung ranting bunga. Sebuah kalung. Kalung dengan tali hitam, bandulnya terbuat dari resin dengan bunga edelweis kering di dalamnya. Mata Hongjoong membulat. Ia menggenggam bandul kalung itu. Memperhatikanya lekat-lekat.

“Itu bunga yang pertama aku petik di Rinjani. Bunga Edelweis yang aku petik di Segara Anakan. Dua tahun lalu, waktu aku ke sini pertama kalinya.”

Seonghwa memasangkan kalung itu ke leher Hongjoong, dan sesaat setelah itu Hongjoong menghambur ke pelukan pemuda di hadapannya . Kakinya berjinjit agar bisa menyamai tinggi Seonghwa. Meskipun pada akhirnya dia hanya akan setinggi leher Seonghwa. Hongjoong menghujani Seonghwa dengan kecup-kecup kecil. Yang lebih tua hanya pasrah dengan kebiasaan Hongjoong yang sering menciumnya.

“Ehhh udah dulu. Aku mau ngomong sama kamu.”

Hongjoong melepaskan pelukannya . Menarik tangan Seonghwa agar ikut duduk di kasur. Keduanya kini duduk bersila berhadapan. Hujan kembali menderas walau sebelumnya tinggal gerimis kecil. Seonghwa mengambil tangan Hongjoong, memainkan jari jarinya.

“Aku mau kamu tinggal sama aku.”

Hongjoong otomatis menarik tangannya dari genggaman Seonghwa sesaat setelah mendengar pernyataan itu. Senyum yang tadi mengukir wajahnya hilang. Suara hujan di luar sana menjadi lebih keras di telinga Hongjoong. Hujan harusnya memberikan ketenangan. Tapi malam ini hujan membuat hati Hongjoong lebih gusar.

“Hongjoong ... ” Seonghwa memanggil dengan suara sangat kecil. Seonghwa sama gusarnya dengan Hongjoong. Ia takut dengan jawaban yang akan dilontarkan Hongjoong.

“Kita –” Seonghwa seketika memandang Hongjoong. “Kita udah bahas ini berapa kali? Dan jawaban aku sama. Aku gabisa.”

Seonghwa menghela napas kecewa. Ia kembali mengingat kejadian empat bulan lalu. Saat Seonghwa untuk kedua kalinya meminta Hongjoong tinggal bersamanya. Dan jawaban Hongjoong sama. Hongjoong tidak mau. Lebih tepatnya tidak bisa. Hongjoong terlalu menyayangi adiknya dan terlampau cinta dengan pesisir Gili Asahan. Hongjoong tidak bisa meninggalkan tempat ini.

“Kenapa?” Pertanyaan bodoh. Seonghwa jelas tahu alasanya, namun hanya kata 'kenapa' yang mampu ia keluarkan saat ini.

Hongjoong beranjak dari kasur. Ia berjalan menuju balkon. Membuka pintu kaca yang menghalangi lantai kamarnya basah karena hujan. Ia tidak mempedulikan hawa dingin yang tiba tiba menyelimuti tubuhnya. Hongjoong merasakan mata kakinya basah terkena percikan air hujan.

Seonghwa ikut beranjak dari kasur. Berdiri di samping Hongjoong. Merasakan angin bercampur tetesan hujan yang membelai rambutnya.

“Kamu masih nanya kenapa?” Hongjoong buka suara.

“Aku gapernah bisa ninggalin Gili Asahan. Bisa. Tapi gak jauh. Aku bisa pindah ke Mataram atau Gili Trawangan atau Gili Meno. Bahkan Bali. Tapi aku gabisa lebih jauh dari itu. Adik-adik aku masih butuh aku, Seonghwa.”

Seonghwa menggenggam bahu Hongjoong. Memaksa Hongjoong menghadap dirinya. Tangannya menggenggam pelan dagu Hongjoong, meminta yang lebih muda untuk menatapnya. Kedua tangan Seonghwa bertengger di pinggang Hongjoong. Membingkai pemuda kecil di depannya.

“Dan aku juga sudah pernah bilang ini, Joong. Aku nggak akan misahin kamu sama adik-adik kamu. Aku memang ngajak kamu tinggal bareng. Dengan adik-adik kamu. Kita bisa berlima bisa tinggal di Jakarta. Toh Eunjung bentar lagi juga lulus.”

Hongjoong melepaskan diri dari kungkungan Seonghwa.

“Nggak semudah itu, Hwa. Kamu ngga ngerti gimana susahnya buat ninggalin ini semua. Aku gak cuma mikirin adik aku, tapi resor aku? Lagian belum tentu juga adik aku setuju.”

“Kamu belum nanya adik-adik kamu?”

“A-aku, aku belum nemu waktu yang pas.” Suara Hongjoong tercekat.

Seonghwa memandang Hongjoong dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan. Ia merasakan lututnya melemas, dan pikirannya berkecamuk entah ke mana.

“Kamu belum nemu waktu atau emang gamau nyari waktu yang pas?”

“Kok kamu ngomongnya gitu?”

Seonghwa berbalik membelakangi Hongjoong. Kembali mendudukan dirinya di kasur. “Alasan apa lagi yang bisa ngejelasin tindakan kamu?” Seonghwa mengusap wajahnya kasar.

“Ya kan aku harus mikirin banyak hal dulu, Hwa. Aku gabisa dong ambil keputusan seenak aku, apalagi menyangkut adik aku.”

“Dengan gak nanyain ke adik kamu tentang ajakan aku gimana caranya kamu bisa ambil keputusan?”

“Aku bukan gamau nanya Seonghwa, dibilang aku belum nemu waktu yang pas.” Nada suara Hongjoong meninggi.

“Kapan?” Seonghwa bangkit dari duduknya. “Kapan waktu yang pas menurut kamu itu?”

Seonghwa mengepalkan tangannya erat. “Aku bisa aja dari kemarin nanya Jongho atau Wooyoung tentang ini. Tapi gak aku lakuin, karna aku ngehargain permintaan kamu buat ngomong ke mereka sendiri. Tapi sampe kapan sih? Aku juga butuh kepastian, Hongjoong, aku pengen ngejagain kamu dan adik-adik kamu.”

Mata Hongjoong mulai berkaca-kaca. Suaranya tercekat ketika mengucapkan kalimat berikutnya. “Kamu ngga akan ngerti posisi aku Seonghwa. Kamu juga gabisa egois kaya gini.”

“Aku egois?” Seonghwa menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan tak percaya.

“Demi Tuhan, Hongjoong. Demi seluruh semesta alam aku cinta sama kamu. Aku rela terbang Jakarta-Lombok hampir setiap bulan buat nemuin kamu. Aku mau lakuin apa aja yang kamu minta. Aku cuma minta kamu dan adik-adik kamu buat tinggal sama aku. Biar aku bisa jagain kamu. Dan kamu bilang aku egois???”

Suara Seonghwa meninggi, ia sudah setengah berteriak di akhir kalimatnya. Ada suara isakan tertahan yang Seonghwa yakin berasal dari Hongjoong. Seonghwa kembali mengusap wajahnya dengan kasar.

“Hongjoong, sayang.” Suara Seonghwa melunak. Disingkirkannya kedua tangan Hongjoong yang menutupi wajahnya.

“Aku sayang Hongjoong. Enggak. Aku cinta sama Hongjoong. Sekali lagi, demi Tuhan dan seluruh semesta alam aku cinta sama kamu. Tapi, Hongjoong, aku sendiri gak yakin cinta kamu sebesar itu.”

“Seonghwa ... ” Hongjoong memaksakan suara keluar dari mulutnya.

“Shhh ... . Dengerin aku bentar,” ucap Seonghwa yang dibalas anggukan pelan oleh Hongjoong.

“Aku cinta sama kamu. Tapi aku juga butuh kepastian buat masalah ini. Aku bakal nunggu keputusan kamu, tapi aku mohon pikirin ini baik-baik. Niat aku baik, Hongjoong, aku cuma mau jagain kamu. Atau mungkin kamu butuh waktu jauh dari aku. Tanpa komunikasi, biar kamu tau apa yang kamu mau.”

Tangis Hongjoong pecah. Didekapnya Seonghwa dengan kuat. Tangan Hongjoong meremas baju Seonghwa dengan kuat. Membenamkan kepalanya di dada Seonghwa sambil menangis.

“Ng-nggak. Nggak mau.”

“Aku pulang dua hari lagi, nan-”

“NGGAK, GAMAU. SEONGHWA JANGAN NINGGALIN AKU!” Pelukan Hongjoong makin erat.

Seonghwa melepaskan pelukan Hongjoong perlahan. Ia mengusap air mata dari pipi Hongjoong.

“Aku gak akan ninggalin kamu. Tapi aku harus pulang, ada kerjaan yang nunggu aku di Jakarta. Selama itu kita cari tau apa yang kita masing-masing mau. Aku ga mau kita berantem terus cuma karena masalah ini. Kita lanjutin obrolan ini nanti, waktu aku balik ke sini ya.”


Tiga bulan berlalu. Hongjoong berhasil meresmikan pembangunan lima belas bungalo di Gili Trawangan. Melebarkan bisnis resornya sampai barat laut pulau Lombok. Eunjung juga telah menyelesaikan pendidikannya, ia hanya perlu menunggu tanggal wisuda. Kini Eunjung membantu Hongjoong, bolak-balik Gili Asahan dan Gili Trawangan mengurus resor dan bungalo.

Pagi ini cerah. Sinar matahari mentelimuti seluruh Gili Asahan. Tidak terlihat setitik awan di langit. Wooyoung dan Jongho turun bersama rombongan turis dari Australia untuk menyelam. Paman Kim menurunkan jangkar. Membuat kapal tetap berada di tempatnya.

Hongjoong bergeser duduk di salah satu sisi kapal cepat. Mencelupkan kakinya ke air laut yang sejuk. Badannya ikut bergerak-gerak pelan mengikuti gerakan kapal. Eunjung ikut duduk di sebelahnya, membuat kapal sedikit condong ke sisi mereka. Namun masih cukup stabil agar kapal tidak terbalik.

“Ada yang mau aku obrolin sama Kakak.”

“Kamu ada masalah?”

“Bukan aku. Kakak yang ada masalah. Kakak berantem ya sama Kak Seonghwa?”

Kadang Hongjoong benci bagaimana pekanya Eunjung. Eunjung sangat perasa. Sebesar apa pun usaha Hongjoong untuk menyembunyikan perasaanya, Eunjung pasti tahu jika ada yang salah pada dirinya.

“Kok kamu bisa ngomong gitu?”

“Kakak banyak ngelamun . Dari dulu sih sebenernya. Semenjak Mama meninggal Kakak banyak ngalamun. Terus Kak Seonghwa juga ga dateng tuh ke pembukaan bungalo di Gili Trawangan. Padahal sesibuk apa pun Kak Seonghwa, dia bakalan nyempetin dateng.”

“Terus? Kamu nanyain ke Seonghwa ga kenapa dia ga dateng?” Hongjoong menggerak-gerakkan kakinya gusar.

“Nanya. Dia bilang sibuk. Kakak jujur deh ama aku. Kakak berantem ya sama Kak Seonghwa?”

“Nggak berantem. Cuma argumen kecil aja. Tapi aku sama Seonghwa baik-baik aja. Gaperlu kamu khawatir kaya gini.”

“Kakak sadar ga sih? Selama dua bulan ini aku lihat Kakak kacau banget? Tiga bulan kalau menurut Jongho sama Wooyoung juga.”

Hongjoong menatap adiknya sekilas, “Kacau gimana? Kakak cuma sibuk. Pembukaan bungalo bikin perhatian Kakak banyak tersita. Diluar itu, gaada masalah lain.” Hongjoong tetap mengelak.

Eunjung menghela napas panjang. Tangan kanannya meraih lengan Hongjoong. Menyenderkan kepalanya ke pundak yang lebih tua.

“Tau ga si, Kakak keliatan bahagia banget setelah Kakak kenal Kak Seonghwa. Kakak gapernah secerah itu semenjak Mama meninggal. Kakak selalu fokus ngurus aku, Wooyoung sama Jongho. Makanya aku seneng banget ada Kak Seonghwa, yang bisa ngurus Kakak. Terus tiga bulan ini aku ga pernah sekalipun liat Kakak telponan lagi sama Kak Seonghwa. Kakak juga jadi sering ngalamun. Kakak bahkan salah masukin laporan keuangan, dan itu kesalahan cukup fatal. Pasti ada sesuatu yang ganggu pikiran Kakak kan?”

Matahari mulai meninggi. Hongjoong menatap air laut di depannya. Air memantulkan cahaya matahari siang. Memberikan kilat-kilat kecil yang indah. Ada lima burung camar yang terbang di atas kepalanya. Membentuk formasi kecil.

“Kak. Kakak bisa cerita sama aku. Aku udah gede, udah 24 tahun. Aku udah ngerti urusan kaya gini. Aku cuma gamau Kakak sedih.”

“Seonghwa ngajak aku tinggal sama dia.”

Eunjung langsung duduk tegak. Matanya membulat menatap Hongjoong.

“Terus jawaban Kakak apa?”

“Ya Kakak tolak lah.”

Eunjung menampar punggung Hongjoong dengan keras. Membuat yang lebih tua hampir kehilangan keseimbangannya. Beruntung Hongjoong dengan cepat berpegangan pada pinggiran kapal.

“KENAPA DITOLAK IHHH!!” Eunjung berteriak gemas.

Hongjoong kemudian menceritakan permintaan Seonghwa, “Kakak gabisa ninggalin Lombok. Jakarta tu ga kaya di sini Eunjung. Gimana kalau kamu, Wooyoung atau Jongho gamau ikut sama Kakak. Atau kalaupun mau gimana kalau kamu, Wooyoung sama Jongho ga betah? Gimana kalau Kakak ga betah? Dua puluh sembilan tahun Kakak habisin waktu di sini. Lagian resor gimana? Siapa yang mau urus? Lagian Seonghwa juga egois. Kalau dia beneran cinta sama Kakak, harusnya dia yang pindah ke sini dong.”

Eunjung menggoyang-goyangkan tubuh Hongjoong dengan keras.

“AKU PENGEN GIGIT KAKAK IHHHHH!” Dan benar saja, Hongjoong mendapatkan satu gigitan di lengan kirinya.

“Kak, aku mau ngomong panjang. Jangan dipotong dulu. Janji?”

Hongjoong mengangguk mengiyakan permintaan adiknya.

“Kak Seonghwa tu cinta sama Kakak. Bucin banget asli. Ga salah dong kalau dia mau ada di deket Kakak. Kak Seonghwa engga egois, kalau dia egois dia maunya tinggal sama Kakak doang, gabakal mau ngajak aku, Wooyoung atau Jongho. Terus gimana Kakak bisa tau kalau kita gabakal betah di Jakarta?”

“Kalaupun Wooyoung sama Jongho nolak buat ikut ke Jakarta kan masih ada aku. Aku udah gede, aku bisa jagain Wooyoung sama Jongho. Mereka berdua juga udah bukan remaja bandel lagi. Yahh walaupun Jongho masi bandel banget. Soal resor, kan bisa Kakak manage dari Jakarta. Ke Lombok sebulan sekali buat ngecek segala macem.”

“Kakak paling bahagia kalau sama Kak Seonghwa. Dan kita semua tau. Kakak bisa berhenti buat ngorbanin segalanya buat kita. Sekarang aku sama adek-adek yang lain cuma mau liat Kakak bahagia. Kak, lihat deh perjuangan Kak Seonghwa.”

“Dia rela bolak balik Jakarta-Lombok buat nemuin Kakak. Investasi ratusan juta buat ngewujudin impian Kakak bangun bungalo di Gili Trawangan. Dan dari semua itu dia cuma minta kita tinggal sama dia buat ngejagain kita.”

“Coba Kakak hubungin Kak Seonghwa. Ajak obrol. Kakak renungin juga apa yang udah aku omongin tadi.”

Hongjoong mengelus kepala adiknya, “Iya. Nanti Kakak coba hubungin Kak Seonghwa.”

Pembicaraannya dengan Eunjung jelas membuka isi kepala Hongjoong. Bukan hanya tentang hubungannya dengan Seonghwa. Namun, juga tentang bagaimana dewasanya adiknya. Eunjung bukan lagi remaja serba tanggung yang menangis di malam hari merindukan mamanya . Ia kini menjadi gadis dewasa yang bahkan mampu membantu Hongjoong menyelesaikan masalahnya.


* “Kenapa nggak lu yang pindah aja?”*

Seonghwa menoleh ke sumber suara. Untuk kemudian meneguk habis cairan kuning dari gelasnya. Seonghwa kini berada di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit di Jakarta. Duduk dengan seorang temannya di sofa ruangan kantor miliknya.

“Ga bisa lah, Yun. Kerjaan gue di sini nuntut gue buat selalu ada. Gue bisa bolak balik Lombok-Jakarta, tapi gue gabisa seenak jidat pindah dan ninggalin tanggung jawab gue di sini. Lo tau kan, gue bolak-balik gini aja banyak kerjaan gue yang akhirnya numpuk.”

“Hahaha, Seonghwa lo juga kalo ngelepas ini perusahaan masi tetep bisa makan enak. Bungalo yang dibangun Hongjoong kan dari duit lo.”

“Duit bank yang gue pinjem,” koreksi Seonghwa.

Seonghwa menatap ke luar dinding kaca kantornya. Ribuan cahaya kota berpendar indah. Berkilap-kilap dipantulkan kaca-kaca gedung pencakar langit. Kemegahan pemandangan Jakarta di malam hari. Kota ini indah, kalau kalian mengesampingkan polusi dan macetnya jalanan.

“Tapi jujur deh, Hwa, kenapa si lu gamau pindah ke Lombok? Kerjaan lu di sini juga bisa dibawa ke Lombok kali. Tinggal terbang aja ke Jakarta pas ada meeting .”

Seonghwa memainkan es batu yang ada di gelasnya. Menyebabkan bunyi gemeletuk.

“Perusahaan ini perusahaan impian gue, Yun. Lo tau sendiri lah ya. Meski dibilang posisi gue udah tinggi, gue tetep gabisa seenaknya dong. Lagian Hongjoong lebih memungkinkan buat pindah. Resor bisa dikontrol dari sini. Adik-adiknya juga bisa dapet pendidikan terbaik di sini.”

Yunho mengisi kembali gelasnya dan gelas Seonghwa. Meneguk isinya sampai habis setengah. Ia mengikuti arah pandang Seonghwa. Kini sama sama menatap pemandangan malam kota Jakarta.

“Pernah ga sih lu mikir di posisi Hongjoong?”

“Maksudnya?”

Yunho meletakkan gelasnya di meja.

“Ya posisi Hongjoong. Lu cerita gimana Hongjoong ngegantiin posisi orang tuanya buat ngurus adik-adiknya. Hongjoong juga hampir ga pernah pergi dari Lombok seumur hidupnya. Terus lo ajakin ke Jakarta, gimana ga pusing tu anak?”

“Gue tau Hongjoong sesayang itu sama adik-adiknya Yunho. Kan gue ga minta dia ninggalin adiknya. Gue bakal bawa mereka tinggal sama gue. Gue masi bisa kok biayain mereka.”

Yunho tersenyum penuh arti.

“Seonghwa, kalo cuma masalah duit gue juga bisa kali kaya gitu.”

“Gue ga ngerti maksud lo sumpah.” Seonghwa meneguk minumannya kasar.

“Seonghwa, asal lu tau. Hongjoong gak cuma ngasilin duit biar dia sama adik-adiknya bisa hidup. Dia ngedidik adik-adiknya Seonghwa. Bener-bener ngambil alih peran Ayah sama Ibu buat adik-adiknya. Secinta apapun Hongjoong sama lu, prioritas utama dia masih adik-adiknya.”

“Lu juga pernah cerita, kalau resor dia sekarang tu peninggalan orang tuanya. Pernah ga si lu mikir, kenangan apa aja yang ada di resor itu? Gimana kuatnya ikatan Hongjoong sama Lombok dan resor itu?”

“Mungkin bagi lu resor dia cuma sumber penghasilan buat dia. Tapi buat Hongjoong, bisa jadi resor itu lebih berharga dari nyawanya sendiri. Kedengeran lebay emang, tapi bisa jadi gitu keadaanya.”

Seonghwa memijit pelipisnya. Kata-kata yang Yunho ucapkan membekas di hatinya. Seonghwa menjadi seribu kali merasa lebih bersalah. Terlebih ia mengabaikan panggilan dan pesan dari Hongjoong selama tiga bulan ini.

“Anjing, Yun. Kepala gue makin pening.”

“Sekarang mending lu gue anter pulang. Besok lu hubungin Hongjoong, lu bicarain semua ini sejelas-jelasnya.”


Hongjoong bingung. Perasaanya bercampur menjadi satu. Antara bahagia dan takut. Dua minggu yang lalu Seonghwa menghubunginya. Seonghwa bilang ada hal yang harus ia sampaikan. Tapi sebelum itu Seonghwa meminta Hongjoong untuk mempersiapkan fisiknya. Seonghwa ingin mengajak Hongjoong mendaki Gunung Rinjani. Dan Hongjoong mengiakan permintaan Seonghwa.

Hongjoong menunggu Seonghwa di bandara Lombok. Mengenakan kaos putih panjang dan celana training . Jaket tahan air yang baru saja ia beli diikatnya ke pinggang. Matanya sibuk menyapu seisi bandara. Menunggu Seonghwa dengan tidak sabar.

Sesaat setelah Hongjoong melihat Seonghwa datang ia langsung berlari menghampirinya. Hongjoong menabrakkan diri ke tubuh Seonghwa. Memeluknya dengan erat. Menghirup aroma tubuh Seonghwa sebanyak banyaknya. Seonghwa membalas pelukan Hongjoong. Mengecup pucuk kepala yang lebih muda.

“Tas kamu mana?” tanya Seonghwa. Matanya mengedar mencari tas Hongjoong.

“Di mobil. Nanti dianter Paman Kim sampe Basecamp Sembalun.”

Seonghwa berjalan di samping Hongjoong. Mereka bergabung dengan rombongan pendaki dari Semarang. Dari Basecamp Sembalun menuju Pos 1 melewati sabana berbukit yang luas. Membutuhkan setidaknya 1 sampai 2 jam sampai akhirnya mencapai Pos 1. Rombongan berhenti sebentar untuk melemaskan kaki. Perjalanan berlanjut ke Pos 2. Masih dalam kawasan sabana Gunung Rinjani. Pos 2 berada di ketinggian 1.500 mdpl dan dari sini terlihat laut dan sebagian kawasan Lombok Utara.

Seonghwa dan Hongjoong terus berjalan mengikuti rombongan ini. Mereka pada akhirnya mencapai Pos 3 saat matahari berada di atas kepala. Hongjoong membuka tasnya. Mengeluarkan bekal makan siang. Sandwich dengan telur dadar dan timun.

Setelah makan siang dan istirahat, perjalanan berlanjut menuju Pelawangan Sembalun. Membutuhkan setidaknya 3 jam untuk naik-turun bukit yang berkepanjangan. Sekitar pukul 16.30 rombongan akhirnya sampai di Pelawangan Sembalun.

Seonghwa membangun tenda di bibir kawah. Hongjoong ingin ikut membantu, namun dia sama sekali tidak mengerti bagaimana cara membangun tenda. Hongjoong memutuskan membuka tasnya. Mengeluarkan kompor kecil dan beberapa bungkus roti. Menyiapkan makan malam.

Beruntung musim hujan telah berlalu. Malam ini langit sangat cerah. Banyak bintang yang bertebaran. Ada pemandangan bimasakti yang terlihat sangat jelas. Terlukis megah di angkasa. Hongjoong tak bosan-bosanya menatap langit. Tidak memperdulikan lehernya yang mulai pegal.

“Cantik kan?” Seonghwa mendudukkan diri di samping Hongjoong. Menyerahkan segelas kopi panas.

“Hmm.” Hongjoong mengambil gelas dari tangan Seonghwa, kemudian menatap langit.

“Aku 29 tahun di Lombok, baru kali ini naik ke Rinjani. Kenapa gak dari dulu ya. Pas aku masih muda. Sekarang badan aku remuk banget rasanya.”

Seonghwa tertawa mendengar kalimat Hongjoong. “Tapi tetep woth it walaupun sakit semua. Pemandanganya indah.”

Hongjoong menyenderkan kepalanya ke bahu Seonghwa. Ikut memandang langit. Mendengarkan sayup-sayup pendaki lain yang masih berbincang dan beberapa suara hewan khas pegunungan.

Hongjoong terbangun sekitar jam 7 pagi. Ia ingat saat subuh Seonghwa membangunkanya. Mengajaknya melihat matahari terbit. Namun Hongjoong terlalu lelah dan mengantuk. Memutuskan untuk tidur lebih lama. Bau mie rebus menusuk hidung Hongjoong. Sepertinya mie rebus menjadi menu sarapan pagi ini.

Seonghwa dan Hongjoong beserta rombongan pendaki dari Semarang memutuskan turun ke danau sekitar pukul 10 siang. Setelah membereskan tenda dan hal lainya. Jalur ke bawah danau curam dan agak licin. Berkali-kali Hongjoong hampir terpeleset. Untungnya Seonghwa sigap membantu Hongjoong. Meski tas Seonghwa jauh lebih besar dari Hongjoong karena Seonghwa membawa tenda, Seonghwa tidak terlihat kesulitan sedikit pun .

Perlu waktu 2,5 jam untuk mencapai kaldera Gunung Rinjani ini. Danau yang berada di ketinggian tiga ribu meter. Gunung- Gunung dengan dinding bebatuan membingkai danau ini. Hongjoong mempercepat langkahnya. Mencelupkan tanganya ke air. Merasakan hangatnya air Segara Anakan.

Seonghwa dan Hongjoong menghabiskan sisa harinya dengan memancing di danau dan bercengkerama dengan pendaki lainya. Sayang sekali Seonghwa sama sekali tidak berhasil mendapatkan ikan. Sedangkan Hongjoong dengan mudahnya menangkap 4 ekor ikan sebesar telapak tangan. Mereka juga berpisah dengan rombongan pendaki dari Semarang yang sore tadi meninggalkan danau. Mereka naik ke tepi kawah Senaru.

Seonghwa menatap api unggun yang menyala tinggi. Api yang menjilat-jilat di udara memberikan kehangatan. Bintang-bintang kembali melukis langit Rinjani. Seonghwa menatap Hongjoong di sampingnya . Terlihat cantik diterpa cahaya api. Kemudian menatap hamparan danau di depannya.

“Hongjoong.”

Yang dipanggil menoleh cepat. Seonghwa masih memandang danau di depannya.

“Aku minta maaf. Buat semua ucapan aku kemarin. Dan kalau aku terkesan terlalu maksa kamu buat tinggal sama aku. Aku ngerti kok, Lombok dan segala isinya berarti banget buat kamu.”

Hongjoong terdiam cukup lama. Hanya ada suara jangkrik yang mengisi keheningan malam. Dan beberapa suara burung-burung malam yang ada.

“Kamu ga salah. Kamu bener. Aku mungkin terlalu egois. Aku ga liat seberapa besar pengorbanan kamu buat aku. Aku cuma mentingin diri aku sendiri.”

“Kamu ga salah, Hongjoong.”

Hongjoong tertawa lepas.

“Aduh ini nantinya jadi pada nyalahin diri sendiri. Yaudah kita berdua salah.”

Seonghwa ikut tertawa. Kini mencondongkan kepalanya ke arah Hongjoong. Meminta kecup di pipinya. Dan dengan senang hati Hongjoong lakukan.

“Seonghwa ... ”

“Hmmm?”

“Aku mau kok.”

Seonghwa menatap Hongjoong penuh tanda tanya.

“Aku mau tinggal sama kamu. Di Jakarta. Aku bakal ikut kamu.”

Seonghwa hampir tersedak liurnya sendiri saat mendengar penyataan Hongjoong.

“Hongjoong, kalau kamu nerima tawaran aku karena kamu takut aku ninggalin kamu. Enggak. Aku ga akan ninggalin kamu.”

Hongjoong menghela napas panjang. Tanganya meraih tas di dekatnya. Mengeluarkan seikat bunga edelweis dan menyerahkanya ke Seonghwa.

“Aku masih belum bisa lepas dari Lombok. Seluruh hidupku aku habiskan di Lombok, resor dan segala isinya jadi pusat semestaku, Seonghwa. Tapi kamu bener, aku nggak mau hidup adik-adik aku terpaku juga di Lombok. Aku mau mereka liat dunia. Aku udah pikirin ini baik-baik. Aku juga udah bicarain ini ke Eunjung, Wooyoung, sama Jongho . Dan mereka juga setuju. Mungkin kita gabisa langsung pindah. Masih banyak hal yang harus dibicarain dan diurus. Tapi kita bisa buat berkunjung. Tinggal 1-2 minggu dulu mungkin. ”

Seonghwa masih memperhatikan bunga edelweis di tangannya.

“Biasanya kan kamu yang bawain aku bunga ini. Nanti giliran aku yang bawain bunga edelweis ini buat kamu. Yaaa walaupun aku bakal nyuruh Jongho buat metikin bunga ini buat kamu.”

“Dan satu lagi. Aku cinta sama kamu Seonghwa.”

Seonghwa tersenyum mendengar perkataan Hongjoong. Meraih tangan Hongjoong. Menciumi buku-buku jari tangan Hongjoong.

“Makasih. Makasih Hongjoong. Demi Tuhan dan seluruh semesta alam aku cinta kamu.”

Hongjoong terlelap dalam pelukan Seonghwa malam ini. Dengan hati setenang air Segara Anakan. Memegang janji masa depannya dengan orang yang paling ia cintai.

Notes:

Penulis tidak pernah berkunjung ke Lombok, Gili Asahan maupun mendaki Gunung Rinjani. Jika terjadi kesalahan dalam mendeskripsikan tempat dimohon menghubungi penulis via DM Twitter @amarilycoris.

Dalam tulisan ini diceritakan tokoh memetik bunga edelweis di Gunung Rinjani. Hal ini hanya ditulis untuk kepentingan cerita. Perlu diketahui bahwa memetik bunga edelweis di Gunung Rinjani adalah TINDAK PIDANA. Larangan memetik Edelweis juga tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.